REVIEW KUNG FU PANDA 3 : SKADOOSH! IN 3D

Written by @Picture_Play

12 Maret 2016

Sometimes we do the wrong things for the right reasons” – Mr. Ping




 

Mungkin karena memang kita sudah termakan sugesti bahwa panda adalah binatang yang lucu dan menggemaskan, hingga akhirnya kita menyukai waralaba film Kung Fu Panda. Mungkin juga karena kepiawaian para animator dalam menghadirkan kegembulan dan lingkar hitam mata jenaka sang panda yang membuat kita jatuh cinta pada filmnya. Tetapi, bila kita menelaah dengan logika, memang ada banyak aspek yang menjadikan Kung Fu Panda pantas untuk dipuja.

Saat pertama kali diluncurkan pada tahun 2008, Kung Fu Panda segera saja menjadi salah satu fabel produksi DreamWorks Animation yang paling impresif secara visual dan, hingga sekarang, tetap memberikan pengaruh penting pada dunia animasi modern. Ketika itu Kung Fu Panda  memberikan kesegaran di dunia animasi melalui desain visual menarik dan memanjakan penikmat film dengan suguhan warna-warni cemerlang yang berhasil membangun dunia mitologi Cina, serta memberikan sentuhan filosofis di dalamnya.

Delapan tahun berselang, Kung Fu Panda telah menjelma menjadi sebuah waralaba menguntungkan bagi DreamWorks. Di tahun 2011, Kung Fu Panda 2 dirilis dalam presentasi 3 dimensi yang inovatif dan kini sekuel kedua, Kung Fu Panda 3, kembali dihadirkan melalui format serupa.

Bagi sebagian orang yang mengikuti serial Kung Fu Panda dari awal, mungkin tidak akan terlalu terpukau dengan unsur teknis di sekuel keduanya ini. Meski format 3 dimensi yang ditawarkan memang pantas untuk membuat penonton merogeh kocek lebih dalam, tampilan visual secara keseluruhan nyaris tidak memberikan inovasi baru. Palette warna dan eksekusi desain grafisnya, tidak berbeda jauh dari dua seri terdahulunya, yang menggabungkan antara modernisasi grafis 3 dimensi dengan sentuhan tone komik ala Tiger Wong. Akan tetapi yang membuat serial Kung Fu Panda menjadi istimewa, bukanlah hanya terletak pada kekuatan visual, melainkan pada kemampuannya bercerita.

Kisah di setiap seri Kung Fu Panda selalu berlandaskan pada pertanyaan mendasar, “Siapakah saya sebenarnya?. Sebuah pertanyaan yang kemudian berlanjut kepada konsep tentang proses mengenali dan percaya pada kekuatan diri sendiri. Bagaimana bila kita berhasil mencapai tahapan tersebut, maka kita akan berhasil mencapai hasil yang jauh di luar pengharapan kita. Pertanyaan eksistensial dan konsep “stay true to who you really are” tersebut menjadi mantera yang selalu efektif menghipnotis penonton. Memang bukanlah sebuah konsep orisinal, tetapi cara filmmakers mengeksekusi hal tersebut di setiap film Kung Fu Panda berhasil mencapai hasil maksimal.



If you only do what you can do, you’ll never be more than you are now” – Master Shifu

Kung Fu Panda 3 dimulai dengan opening action sequence yang terjadi di “dunia spiritual”, di mana Oogway Si Master Penyu ( disuarakan dengan penuh kebijakan oleh Randall Duk-Kim) bertempur dengan Kai, seorang Master Banteng Ketaton (disuarakan oleh aktor pemenang Oscar, J.K Simmons), yang memiliki misi untuk menguasai semua tenaga chi (tenaga dalam) milik semua mahluk di alam semesta. Kai memang berhasil menaklukkan Oogway dan kembali ke dunia fana, akan tetapi keberhasilannya akan menjadi absolut bila ia berhasil mengambil chi milik sang Master yang sesungguhnya. Bisa ditebak bahwa sang master itu adalah Po (kembali disuarakan oleh Jack Black), panda gembul jenaka kesayangan kita semua.

Sementara itu Po sendiri sedang (kembali) menjalani krisis kepercayaan diri, yang bermula saat ia ditunjuk oleh Master Shifu (tetap disuarakan oleh Dustin Hoffmann) menjadi pengajar utama di padepokan kung fu Istana Giok, menyusul keinginan Shifu untuk segera pensiun dari dunia persilatan.

Po yang selalu santai dan ngebodor, tentu saja bukanlah kandidat pengajar yang baik. Ia mengawali “karirnya” sebagai seorang guru dengan membuat kekacauan saat melatih rekan-rekan sejawatnya; Tigress Si Master Harimau (disuarakan oleh Angelina Jolie); Mantis Si Master Belalang (disuarakan oleh Seth Rogen); Crane Si Master Bangau (disuarakan oleh David Cross); Viper Si Master Ular (disuarakan oleh Lucy Liu); dan Monkey Si Master Monyet (disuarakan oleh Jackie Chan).

Po tidak hanya mengalami krisis kepercayaan diri, melainkan juga krisis identitas saat tanpa diduga ayah kandungnya, Li Shan (disuarakan dengan jenaka oleh aktor nomine Oscar, Bryan Cranston), mendatangi dia.

Kemunculan Li Shan yang dibimbing oleh “pesan dari alam semesta”, lantas membawa Po menelusuri kembali jati dirinya ke kampung panda yang tersembunyi di pegunungan, sekaligus membuat Po memahami dirinya sendiri demi menjadi seorang Master Chi.

Penulis naskah Jonathan Aibel dan Glenn Berger, bersama duo sutradara Alessandro Carloni dan Jennifer Yuh, berhasil membuat Kun Fu Panda 3 menjadi sebuah film yang mengundang gelak tawa, namun tetap konsisten pada pondasi ajaran moral di dalamnya. Mereka berhasil menyeimbangkan antara adegan humor, aksi dan drama, sehingga menjadikan film ini memiliki pace yang enak untuk dituruti.

Salah satu kekuatan lain dari serial Kung Fu Panda memang terletak pada kemampuannya mengolah dan mengeksusi humor slapstick dengan presisi yang tepat. Jenis humor slapstick di Kung Fu Panda memang sudah sering ditemui di film-film produksi Hong Kong, seperti Once Upon A Time in China milik Jet Lee, film-film Jackie Chan, film-film berlatar kung fu milik Bo Bo Ho, hingga ke komedi ala Stephen Chow, di mana humor muncul akibat bertolak belakangnya sikap dan perilaku sebuah karakter dengan stereotipe fisiknya. Akan tetapi di setiap film Kung Fu Panda, formula tersebut dipadupadankan dengan sentuhan attitude swagger a la Amerika di setiap karakternya, serta berbagai referensi budaya populer.

Kung Fu Panda 3 memang mengambil beberapa elemen dari produk budaya pop, seperti serial animasi Dragon Ball. Adegan saat seluruh penduduk kampung panda memberikan energi chi mereka demi menolong Po saat bertempur dengan Kai di alam spiritual, mengingatkan kita kepada salah satu episode Dragon Ball, ketika Son Go Ku memperoleh bantuan energi dari seluruh penduduk Bumi saat ia melawan musuh berat. Plot saat warga kampung panda mau berjuang bahu membahu melawan Kai di bawah arahan Po, mengingatkan kita kepada plot serupa yang terdapat di film klasik Akira Kurosawa, Seven Samurai.

Memang tidak ada hal orisinil dalam Kung Fu Panda 3, tetapi sekali lagi, filmmakers  dan para pengisi suara di film ini berhasil meramu dan mengeksekusinya secara tepat guna. Seperti Po, mereka terkesan sadar betul dengan potensi dan kekuatan film ini, serta kemudian bersenang-senang saat mengerjakannya. Unsur bersenang-senang inilah yang membuat Kung Fu Panda menjadi salah satu film komedi yang baik.

Sebuah film komedi yang baik adalah bila memakai hati dalam penyampaiannya. Seperti dua seri sebelumnya, Kung Fu Panda 3 memberikan ruang bagi penonton untuk berseru, “Oooh!”, lewat adegan dan dialog dramatis. Di film ini konflik antara dua ayah Po, Tuan Ping Si Angsa (tetap disuarakan oleh James Hong)—ayah angkat Po—dan Li Shan, berhasil menghadirkan suasana haru. Hubungan dan konflik antara ayah dan anak yang dieksekusi dengan baik, memang selalu berhasil membuat hati mencelos. Meski harus diakui, dialog-dialog di film ini tidaklah memiliki efek sekuat di film pertamanya, yang memang masih menjadi yang terbaik.

Keputusan Kung Fu Panda 3 untuk setia pada pakem pertarungan antara hitam dan putih; antara kejahatan dan kebaikan; memang akan mengena pada penonton anak-anak. Perbedaan desain antara karakter jahat dan baik pun sangat jelas. Karakter baik memiliki kelembutan di mata, sementara karakter jahat ditampilkan memiliki sorot mata tajam dan berbahaya. Meski demikian, film ini juga berhasil menjerat hati penonton dewasa lewat humor, desain visual, dan karakter menggemaskannya.

Ada satu lagi pelajaran dari Kung Fu Panda 3 (dan dua film pendahulunya), yang mesti disampaikan penonton dewasa kepada anak, adik, keponakan, ataupun penonton kanak-kanak lainnya. Bahwa Po mengajarkan kita untuk selalu bersenang-senang dan passionate  terhadap apapun yang kita kerjakan, dengan demikian kita menjadi tanpa pamrih dalam mengerjakan suatu hal dan hasilnya akan jauh di luar dugaan. Po juga selalu memberitahu kita bahwa keberhasilannya dalam menangani suatu persoalan, juga tidak lepas dari bantuan dan kerjasama orang sekitar. Bahwa semangat gotong royong dan kekeluargaan akan selalu membuat segala masalah menjadi lebih mudah untuk diatasi.

Sebuah pelajaran yang bisa diambil, sembari bersenang-senang di alam eskapisme sinema, bukan?

Skadoosh!!

(4/5)

Highly recommended to watch Kung Fu Panda 3 in theaters with 3D format and Barco Auro sound system.

Now playing in theaters

Running times: 95 minutes

Distributed by : 20th Century Fox

Production Company : DreamWorks Animation SKG,

Produced by : Melissa Cobb, p.g.a

Written by : Jonathan Aibel, Glenn Berger

Directed by : Alessandro Carloni, Jennifer Yuh

Executive producers : Mike Micthell, Guillermo del Toro, La Peikang, Li Ruigang

Voiced by : Jack Black as Po, Angelina Jolie as Tigress, Dustin Hoffman as Master Shifu, Jackie Chan as Monkey, Seth Rogen as Mantis, Lucy Liu as Viper, David Cross as Crane, James Hong as Mr. Ping, Bryan Cranston as Mr. Li Shan, Kate Hudson as Mei Mei a.k.a the ribbon dancer panda, J.K Simmons as Kai.

Co producer : Jeff Hermann, Jonathan Aibel, Glenn Berger

Music : Hans Zimmer

Editor : Claire Knight, ACE

Production Designer : Raymond Zibach

Visual Effect Supervisor : Mark Edwards

Head of character animation : Dan Wagner

Head of Story : Phillip Craven

Head of Layout : Damon O’Beirne

Character Design : Nico Marlet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s