The Shallows Review : Ikuti Pakem, Tapi Dengan Subjektivitas

  • The Shallows menjadi bukti bahwa Collet-Serra bisa kembali menciptakan film yang berpotensi mendapat status cult sepert The Orphan. Film ini juga menjadi pembuktian bahwa dia adalah sineas yang piawai dalam membangun horor, ketegangan dan ketakutan. Sebuah film yang bisa menghadirkan kembali kata “fun” sebagai epitet sebenarnya dalam pengalaman sinematis.”



The Shallows adalah film feature teranyar arahan Jaume Collet-Serra, sineas yang melahirkan beberapa film aksi thriller seperti Unknown, Non Stop dan Run All Night. Dalam film-film tersebut, sineas Spanyol itu mengutamakan aksi tunggal seorang karakter pria (diperankan oleh Liam Neeson) mengatasi musuh-musuhnya.

The Shallows pun menghadirkan cerita tentang one-man show, namun kali ini objek utama dalam kisah yang disampaikan Collet-Serra adalah seorang perempuan dan karakter antagonisnya adalah hiu berjenis Great White  berukuran amat besar. Meski menawarkan sebuah cerita yang sudah berulang-ulang kali diangkat ke layar lebar, beruntung film ini tidak terjebak menjadi dangkal seperti judulnya.

Kisah dalam The Shallows berseting di sebuah laguna terpencil di salah satu sudut Meksiko. Layaknya sebuah film thriller suspense di dalam ruangan, kamera mengajak kita melakukan observasi tempat yang akan menampilkan teror mematikan ini. Laguna yang memiliki pantai landai berwarna coklat keemasan yang lembut dan bersih, serta dikelilingi oleh perbukitan karang yang ditumbuhi oleh vegetasi hijau yang rimbun dan permai. Air lautnya berwarna biru kehijauan yang amat jernih. Kita bisa melihat terumbu karang, ikan-ikan, lumba-lumba, beberapa batu karang yang menonjol di permukaan laut dan pelbagai spesies lainnya yang menunjukkan bahwa laguna ini menyediakan kehidupan berlimpah ruah bagi mahluk di dalamnya. Laguna ini juga menawarkan sesuatu yang dicari oleh para peselancar mana pun, ombak tinggi bergelung-gelung yang akan menantang adrenalin. Laguna ini tak memiliki nama dan menjadi semacam tempat rahasia, tapi sangat pantas untuk disebut sebagai representasi surga.

Keindahan layaknya surga itulah yang kemudian membawa Nancy Adams (diperankan dengan sangat baik oleh Nyonya Ryan Reynolds, Blake Lively) mengunjungi laguna ini. Perempuan muda yang berusia 20’an ini pertama kali kita lihat berada di sebuah mobil pick up tua membelah hutan lebat bersama warga asli yang tinggal di dekat laguna itu, Carlos (diperankan oleh Óscar Jaenada). Nancy menyebut laguna itu dengan “pantai sang ibunda” dan dari cara ia mengucapkannya, ada keterkaitan emosional antara Nancy, ibundanya dan laguna ini. Lewat eskpositoris cerdas dan efektif melalui telepon pintar milik Nancy, kita diberitahu mengapa alasannya.

Nancy adalah penggambaran anak muda masa kini, karena ia terlihat amat bergantung dengan telepon pintarnya. Lewat peranti elektronik itu kita diberitahu latar belakang Nancy dan hubungannya dengan ayah, serta adik perempuannya. Nancy ternyata adalah seorang mahasiswi kedokteran yang memutuskan berhenti kuliah selepas meninggalnya sang ibunda. Kita dibawa pada suatu asumsi bahwa Nancy merasa terpukul karena tak bisa menyelamatkan nyawa sang ibunda. Ia lebih memilih melarikan diri daripada mengikuti anjuran ayahnya untuk berjuang. Laguna ini adalah tempatnya melarikan diri, sekaligus menghubungkan kembali kenangannya terhadap sang ibunda tercinta.

Nancy memiliki keelokan fisik yang berbanding lurus dengan keindahan laguna. Bayangkan saja Blake Lively dengan bikini two pieces yang amat minim dan hanya menutupi sebagian kecil bagian vital tubuhnya. Kamera tanpa malu-malu mengajak kita mengeksplorasi tubuhnya saat ia mengganti busana atau bahkan saat ia menggigit sebuah apel. Lewat slow motion kita seolah diajak meresapi kecantikan ragawi perempuan muda ini. Dalam hati kita akan membatin tak rela jika nanti kemolekan Nancy akan dicabik-cabik oleh hiu ganas.

The Shallows berdurasi 87 menit atau kurang dari satu setengah jam, minim dialog dan mengutamakan rangkaian gambar untuk menyampaikan cerita. Bayangkan betapa ringkasnya naskah Anthony Jaswinski yang menjadi pondasi film ini. Perkenalan yang saya deskripsikan di empat paragraf di atas merupakan setup yang memakan waktu tak lebih dari 10 menit durasi awal film. Kita diajak mengenali lansekap dari berbagai angle tempat terjadinya teror agar kita bisa mereka jarak dan mengira-ngira kemana harus berlindung. Kita diajak mengenali siapa Nancy agar timbu rasa peduli. Dengan durasi keseluruhan lebih sedikit dari umumnya film, efektifitas, efisiensi dan kejelian sutradara dalam membangun suspensi yang dibutuhkan  oleh film seperti ini memang menjadi syarat wajib. Collet-Serra berhasil memadupadankan itu.

Tak lama setelah Nancy berselancar, ia bertemu dengan dua peselancar lokal yang menjelaskan bahwa ada periode di mana air laut menjadi surut secara drastis sehingga batu karang yang terdapat beberapa ratus meter dari bibir pantai akan timbul ke permukaan dan menyerupai sebuah pulau kecil. Nancy kemudian menemukan bangkai ikan paus berukuran raksasa dengan tubuh dan daging yang terkoyak dalam menandakan bahwa mamalia laut malang itu diserang oleh pemangsa tak kalah besarnya. Adegan ini mengingatkan saya kepada The Reef (Australia, 2010), di mana kelima karakter utamanya menemukan bangkai penyu raksasa yang sudah dimangsa, sebelum akhirnya mereka diserang oleh hiu White Shark.

Terluka parah di bagian kaki, Nancy sempat menggunakan bangkai paus itu sebagai tempatnya berpijak. Namun, itu tak lama. Sang hiu ganas ternyata pintar untuk menyeretnya ke laut lebih dalam. Plot kini berfokus bagaimana cara Nancy untuk bertahan dan mencapai bibir pantai, meski harus berhadapan dengan hiu ganas yang sepertinya terobsesi mengincarnya.



PAKEM “JAWS”, ADA SUBJEKTIVITAS

The Shallows memakai pakem dari pionir film horor hiu karya Stephen Spielberg, Jaws, untuk membangun ketegangan. Kamera secara lincah membawa kita berganti-ganti perspektif yang membentuk suatu dinamika. Kadang melihat dari sudut pandang Nancy, kadang kita dibawa ke bawah permukaan air, kadang kita melihat keseluruhan laguna dari udara, atau bahkan dari sudut pandang kamera GoPro. Nyaris tak pernah meninggalkan Nancy. Dinamika ini semakin terbantu dengan penyuntingan yang halus dan berhasil menjaga tempo agar alur cerita mengalir yang akhirnya membuat penonton hanyut, mengepalkan tangan dan berseru tertahan karena tegang. Ditambah score seperti yang terdengar sangat Hitchock-ian gubahan Marco Beltrami dan sound design yang mempertinggi tensi. Hal ini bisa dicapai karena kecerdasan sutradaranya membangun dramatisasi dan mewujudkan visi dari naskah yang terbatas.

Contohnya ada satu momentum saat Nancy yang berselancar mengendarai ombak tinggi, sementara di balik gulungan air berwarna biru jernih itu kita melihat bayangan hiu mengintai.

Blake Lively bermain amat bagus di film ini. Alumni serial Gossip Girl tersebut sebenarnya merupakan salah satu aktris muda berbakat yang, sayangnya, kerap hanya menjadi objek penderita di banyak film. Lihat saja di Savage karya Oliver Stone atau The Town arahan Ben Affleck. Mungkin karena garis wajahnya yang lembut, senyumnya yang manis dan sinar matanya yang menyiratkan keteduhan. Apa yang dimiliki Lively juga membuatnya cocok untuk bermain di film-film dramatis. Seperti Age of Adeline atau peran terbaiknya sejauh ini di film The Private Lives of Pippa Lee.

Kualitas dramatis itulah yang lantas membuat tampilnya Lively sebagai Nancy di The Shallows terasa menyegarkan dan kontradiktif. Dalam film, ia mampu bertransformasi dari imej gadis manis di awal film menjadi perempuan yang mesti berjuang agar tak mati. Ada satu momen di mana Nancy mencoba menghentikan pendarahan di pahanya dengan menggunakan pengetahuan paramedis yang didapatnya di bangku kuliah. Momen di mana ia berteriak menahan pedih dan sakit, saat ia harus memasangkan sobekan busana selancarnya untuk menambal luka menganga. Kita dibuat turut merasakan pedihnya, kita dibuat menanggung sakitnya.

Momen tersebut yang sempat menawarkan apa yang sering hilang dari film-film teror hiu lainnya, yaitu subjektivitas. Film ini memberitahu kita apa yang dirasakan dan dipikirkan dalam benak Nancy yang sedang menghadapi perjuangan hidup dan mati, melawan mahluk ganas yang berada di daerah kekuasaannya. Itulah fungsi setup di awal film, di mana kita sempat diajak mengetahui latar belakang Nancy dan bagaimana keterkaitan emosional antara dia, ayahnya, adiknya, ibundanya dan laguna ini. Kita diajak untuk menyelami efek ancaman yang dialaminya ke kejiwaannya. Bahwa ini adalah saat di mana Nancy tidak boleh menyerah dan harus berjuang mengatasi rasa takutnya. Bahwa dia kali ini harus selamat, tidak seperti sang ibunda.

Walau hanya menyentuh permukaan, tapi momen tersebut cukup mengisi bobot film ini. Meski bila naskah memberikan eksposisi dan kisah kilas balik inspiratif yang lebih menggali sisi emosional Nancy terhadap masa lalu, karakter ini akan menjadi seperti karakter milik Sandra Bullock di Gravity.

Tapi, The Shallows juga luput memberikan objektivitas dalam membangun kisahnya supaya rasional. Kisah Nancy dalam berupaya luput dari maut dalam film berlangsung selama kurang lebih sehari semalam. Meski Nancy mengerti pengetahuan paramedis, tak mungkin bila ia tetap terlihat relatif bugar meski kehilangan darah lewat luka yang menganga. Hiu adalah seekor binatang buas yang memiliki susunan gigi tajam berlapis layaknya gigi sepeda. Mustahil juga bila seseorang diserang di dalam laut, hanya meninggalkan luka sobek. Tapi, tentu saja menafikan objektivitas itu untuk membuat Nancy bertahan hidup. Toh, ini film Hollywood yang mengharuskan tokohnya hidup untuk memberikan optimisme bagi penonton.

The Shallows menjadi bukti bahwa Collet-Serra bisa kembali menciptakan film yang berpotensi mendapat status cult sepert The Orphan. Film ini juga menjadi pembuktian bahwa dia adalah sineas yang piawai dalam menmbangun horor, ketegangan dan ketakutan. Film ini juga bisa menghadirkan kembali kata “fun” sebagai epitet sebenarnya dalam pengalaman sinematis. Karena definisi “fun” dalam sinema akhir-akhir ini sering menimbulkan perdebatan, khususnya yang ditimbulkan oleh Suicide Squad baru-baru ini.

The Shallows tentu tidak bisa mengungguli Jaws, karya agung dari Spielberg. Tapi film ini berada di tingkatan The Reef , film apik lainnya tentang teror hiu di lautan.

Ada satu hal lain yang tak terlupakan dari film ini, yaitu camar laut yang berfungsi layaknya bola voli, sebagai teman imajiner Tom Hanks di Cast Away. Jangan heran bila nanti akan muncul kecintaan spesifik terhadap camar laut, seperti kecintaan penikmat film laga terhadap Steven Seagal, selepas menonton The Shallows.

(3/5)

Reviewed at Plaza Senayan XXI, August 11, 2016.

Running time : 87 minutes

Production : Columbia Pictures, Weimaraner Republic Pictures, Ombra Films.

Distributed in Indonesia by Sony Pictures Indonesia

Produced by Lynn Harris, Mattie Leshem.

Executive producers : Doug Merrifield, Jaume Collet-Serra

Director : Jaume Collet-Serra

Screenplay : Anthony Jaswinski

Camera (color, widescreen) : Flavio Labiano

Editor : Joel Negron

Music : Marco Beltrami

Production designer : Hugh Bateup

Art Director : Nathan Blanco Fouraux

Sound (Dolby Digital) : Paul Brincat

Sound Designers : Tobias Poppe, Brandon Jones

Visual effects supervisor : Scott E. Anderson

Visual effects producer : Diana Stulic Ibanez

Visual effects : Important Looking Pirates, Digital Sandbox, Scanline VFX, Soho VFX, Notorius VFX Australia, MELS, Hammerhead Prods, Lola VFX, MPC, Spin VFX,  Mammal Studios, Oblique FX, Legend FX,.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s