Don’t Breathe Review & Analysis : Bermain-Main Dengan Perspektif dan Subteks

“Saya melihat apa yang dilakukan ketiga pemuda tersebut sebagai refleksi dari dekomposisi dan sekaligus kritik terhadap jargon “American Dreams”. “




Seperti film horor lainnya, judul Don’t Breathe menjelaskan apa yang akan Anda dapatkan saat menonton film ini. Sebuah sajian horor thriller tentang sebuah permainan kucing-kucingan berseting di dalam sebuah rumah saat malam hari yang mempermainkan perspektif Anda. Hanya saja permainan kucing-kucingan di sini bukan hanya soal siapa yang menangkap atau yang ditangkap. Permainan di film ini melibatkan kematian dan kebrutalan dalam durasi 1 jam 28 menit yang akan membuat napas Anda tercekat seolah berada di ruangan yang pengap.

Perspektif Anda bahkan sudah digiring ke dalam sebuah kekalutan sejak sekuens pembuka.

Lewat bird’s view kita diajak melihat sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota, di mana rumah-rumah berderet rapi diselingi pepohonan rindang. Jalanan beraspal terlihat membelah deretan perumahan.

Hari masih temaram dan sunyi senyap. Seperti saat subuh.

Kita melihat ada sebuah objek yang bergerak di kejauhan. Kamera lalu perlahan turun dan membawa kita melihat lebih jelas apakah objek tersebut. Ternyata sesosok pria sedang menyeret seorang gadis berambut pirang. Gadis itu terlihat tidak berdaya. Ada jejak berwarna hitam yang memanjang tertinggal di belakang sang gadis yang diseret.

Siapa dia? Siapa lelaki yang menyeretnya? Apa yang terjadi?

Lalu judul film muncul di layar. Kita terdiam. Mulut kita menganga. Kita tahu bahwa film ini akan menampilkan suatu kekejaman dan adegan berdarah-darah.



WUJUD DEKOMPOSISI “AMERICAN DREAM”

Suasana gelap subuh hari dan adegan kejam sudah lama terpatri dalam benak saya, serta meninggalkan trauma. Sejak adegan pembunuhan para jenderal di film G30S/PKI yang sempat saya tonton di masa kecil.

Bila Anda pernah menonton film thriller propaganda politik arahan Arifin C. Noer tersebut, maka Anda dapat membayangkan betapa efektifnya sekuens pembuka Don’t Breathe yang saya deskripsikan di atas.

Hanya saja Don’t Breathe bekerja secara lebih ringkas dan tanpa tedeng aling-aling. Meski film ini mengambil pembabakan yang agak berbeda dari kebanyakan film horor thriller klaustrofobia seperti Panic Room arahan David Fincher, misalnya. Kita justru pertama kali diajak berkenalan dengan para (terduga) kriminal. Sedangkan di Panic Room, kita diajak mengenal sang jagoan terlebih dahulu.

Mereka adalah dua orang pemuda dan satu pemudi penduduk Detroit.

Alex (diperankan oleh Dylan Minette), seorang pemuda berwajah simpatik. Dia menguasai teknologi pengamanan rumah elektronik yang membuatnya paham bagaimana mematikan alarm keamanan; lalu ada Money (diperankan Daniel Zovatto), pemuda tampan berwajah Hispanis dan berambut corn-row. Ada gurat kesadisan di wajah tampannya. Ia memiliki sifat praktis dan sesuai namanya, prioritas utamanya adalah uang; lalu ada dara bernama Rocky (diperankan dengan baik oleh Jane Levy), pacar Money. Gadis yang gemar menato tubuh, sebuah “hobi” sebagai pelarian dari masalah keluarganya. Tato terbarunya adalah berbentuk ladybug, jenis serangga yang kerap dianggap sebagai perlambang keberuntungan.

Bertiga mereka memiliki hobi, yaitu memasuki rumah tak berpenghuni yang dilengkapi sistem keamanan elektronik dan lalu mengambil barang-barang berharga di dalamnya. Seperti yang dilakukan Emma Watson dan kawanannya di film The Bling Ring arahan Sofia Coppola.

Hanya saja mereka menjadikan hobi itu juga sebagai pekerjaan, untuk mendapatkan easy money. Namun, mereka masih punya kode etik. Tak mengambil uang tunai dan jumlah nominal barang yang diambil tak lebih dari 10 ribu dollar.

Saya melihat apa yang dilakukan ketiga pemuda tersebut sebagai refleksi dari dekomposisi dan sekaligus kritik terhadap jargon “American Dream”. Para generasi muda yang berpikiran praktis seperti kegemaran mereka memakan makanan cepat saji, mencoba hidup layak di sebuah negara super kapitalis di mana uang merupakan sinonim dari kebahagiaan. Yang ironisnya untuk mencapai jargon  American Dream itu, tak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Ketiga pemuda itu adalah contohnya. Mereka tampaknya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Untuk mencapai impian, tindakan praktis membobol rumah seperti merupakan satu-satunya pilihan.

Tiga karakter utama Don’t Breathe ini sekaligus penggambaran kasip sebuah obsesi dari para filmmaker Amerika dalam melakukan glorifikasi dan sikap permisif terhadap perbuatan kriminal. Sejak film Bonnie and Clyde, hingga Wolf of Wall Street. Perbuatan tak terpuji merebut hak orang lain digambarkan lewat sikap glamor dan keren. Alasan lain mereka melakukannya adalah karena ingin memacu tantangan adrenalin. Latar belakang himpitan ekonomi dan kehidupan sulit dijadikan alasan. Hal tersebut gamblang terlihat di akhir film.

Hingga akhirnya Alex, Rocky dan Money menemukan target baru, seorang lelaki baya tunanetra veteran perang Teluk yang tinggal seorang diri. Hanya ditemani seekor anjing penjaga. Kabar angin berhembus bahwa pensiunan tentara itu mendapat uang sengketa sebesar 300 ribu dollar, sebagai ganti rugi insiden tabrakan yang merenggut nyawa anak putrinya. Lelaki tua tunanetra, tinggal sendirian dan punya uang. Seperti sebuah target yang gampang ditaklukkan.

Lelaki itu ditampilkan tanpa nama dan diperankan oleh Stephen Lang, aktor senior yang dikenal lewat perannya sebagai Kolonel Miles Quaritch di film Avatar. Ada sebab mengapa aktor teater yang memiliki tampilan fisik berotot dan mengintimidasi seperti Lang memerankan karakter tersebut. Dia bukanlah pria tunanetra kebanyakan yang lemah tak berdaya. Hilangnya indera penglihatan ditutupi dengan indera penciuman tajam, kepekaan dalam mengenal lingkungan dan kemampuan bela diri mumpuni. Di balik gerak-gerik yang bersahaja, tersembunyi sesosok monster menakutkan dan berbahaya.

Kali ini ketiga pemuda itu tertimpa sial. Bukan hanya sial, melainkan menghadapi kematian. Lelaki tua tunanetra itu menolak untuk menyerah. Rumah itu adalah teritorinya dan dengan sigap, ia memegang kendali.

Selanjutnya yang terjadi adalah permainan kucing-kucingan maut, di mana lelaki tua tunanetra itu berubah seperti Stick di Daredevil dan ketiga pemuda itu adalah mainannya.

“Idiot plot” lazim ditemui dalam film thriller psikologis dalam ruang sempit, seperti Wait Until Dark (1967) yang dibintangi oleh Audrey Hepburn dan, sekali lagi, Panic Room



IDIOT PLOT, MEMAINKAN PERSPEKTIF

Don’t Breathe adalah film yang ceritanya berlandaskan pada apa yang disebut dengan “idiot plot”, plot cerita yang menampilkan satu atau lebih karakter yang bertindak ceroboh dan kita—sebagai penonton—akan berseru geram, “Duh, alangkah bodohnya!”. Hal itu karena, menurut logika kita, kejadian yang membuat para karakter terperangkap di dalamnya bisa dengan mudah diatasi bila mereka tidak terlalu ceroboh atau tamak. Tapi tentu saja kecerobohan itu akan memperpanjang konflik lewat rubber plot, karena kalau tidak, screen story akan dengan cepat usai dalam hitungan menit. Dan kita sebagai penonton tidak akan terhibur.

“Idiot plot” lazim ditemui dalam film thriller psikologis dalam ruang sempit, seperti Wait Until Dark (1967) yang dibintangi oleh Audrey Hepburn dan, sekali lagi, Panic Room. Don’t Breathe memiliki plot yang mirip dengan Wait Until Dark. Karakter Lang adalah versi macho dan sadistis dari Susy Hendrix milik Audrey Hepburn.

Dalam Don’t Breathe, kita pun menemukan perilaku idiot dari karakter-karakternya. Ada momen saat karakter Alex dan Rocky sebenarnya bisa saj lolos dari marabahaya dengan keluar dari rumah itu. Alih-alih lari, mereka malah memilih kembali.

Kebutaan yang dialami oleh karakter Lang pun sebenarnya merupakan plot device, sebagai pemicu ketegangan. Ada kesan bahwa peralihan dari karakter Lang yang tak berdaya menjadi berbahaya terlampau cepat ditampilkan. Satu momen karakter Lang terlihat meraba-raba apa yang sedang terjadi, selang beberapa menit dia berubah menjadi alpha-male tangguh.

Akan tetapi peralihan perspektif yang cepat itulah yang justru membuat cerita yang naskahnya ditulis oleh sutradara Fede Alvarez (remake Evil Dead) dan Rodo Sayagues menjadi superior dan efektif. Ditambah dengan penyutradaraan cermat dan pengadeganan penuh presisi yang terkesan sebagai sajian komik panel; bagaimana sinematografer Pedro Luque menangkap dan menyajikan imej. Menampilkan selasar, lorong dan sudut-sudut rumah ; penyuntingan gambar menjahit dan memadukan gambar-gambar lewat penyuntingan quick cuts, montage dan obstructive. Ada momen di mana sudut-sudut rumah disajikan dalam kontinuitas tak terputus yang menampilkan ilusi keterbatasan ruang menciptakan tempo crescendo yang terus naik sebelum masuk momen tenang; serta sound editing yang menghadirkan desah napas orang yang sedang cemas menghadapi maut dan ditingkahi dengan modulasi pilihan efek suara.

Efektivitas Don’t Breathe lahir karena film ini tidak mau berlama-lama membuat penonton terpaku pada premise sederhananya. Kurang dari limabelas menit sejak cerita bergulir, kita sudah masuk dalam rumah yang menjadi arena permainan.

Film ini juga tidak mau terjebak dalam sub-plot yang berjibun. Semuanya ditampilkan dalam takaran yang cukup, serta menambahinya dengan twist. Bekerja dalam estetika minimalis, sutradar Fede Alvarez paham bahwa tensi dan suspensi akan bekerja secara maksimal dengan mencampuradukkan ekspektasi dan perspektif penonton. Alih-alih menghadirkan suksesi tanpa putus dari serangkaian jump-scares, Fede menyelipkan sirkumstansi momen tenang yang terasa koheren dengan dunia yang diciptakannya.

Meski demikian, Don’t Breathe bukannya tanpa cela.

Ada kesan bahwa upaya menghadirkan dilema moralitas di film ini sedikit kebablasan. Dalam twist (yang tidak akan diceritakan secara rinci), motivasi karakter Lang dtampilkan seolah untuk memenuhi ambisi Hollywood dalam menyajikan “keseimbangan keadilan dan karma”. Terlihat sebagai upaya memaklumi kejahatan yang dilakukan oleh ketiga karakter pemuda utama. Pun dalam ending-nya. Selaras dengan obsesi sineas Hollywood untuk melakukan glorifikasi atas tindak kriminalitas.



KRITIK SOSIAL LEWAT SUBTEKS

Sebuah film yang berhasil menghadirkan kesan kuat adalah film yang mampu menampilkan subteks secara subtil dalam lapisan ceritanya.

Saya melihat Don’t Breathe memiliki komentar sosial yang mengkritisi pandangan dan gaya politik Amerika Serikat. Saat saya melemparkan isu ini di akun Twitter @PicturePlay, seorang pembaca dengan sigap membaca bahwa karakter milik Stephen Lang adalah representasi pemerintah Amerika Serikat yang selalu menyimpan rahasia berbahaya, di balik pencitraan diri sebagai karakter yang bersahaja.

Saya setuju.

Karakter Stephen Lang adalah sosok pahlawan, sekaligus korban di mata publik. Khalayak menilainya dari permukaan, tanpa tahu bahwa ada suatu kejahatan yang disembunyikannya. Mewakili apa yang selama ini saya percayai dari citra yang dibangun Amerika Serikat.

Tak hanya itu. Saya melihat karakter Alex, Money dan Rocky mewakili karakter Amerika yang cenderung memanfaatkan alibi untuk menghadirkan sebuah justifikasi positif atas kejahatan yang dilakukan. Mereka juga mewakili perilaku egosentris pribadi Barat yang diwakili Amerika Serikat dalam mendobrak suatu tatanan kehidupan, tanpa menghormati si empunya rumah.

Apakah saya terlalu over-analisis? Tergantung Anda memandangnya.

Namun sebagai produk budaya populer, Don’t Breathe sepadan dengan uang yang Anda keluarkan untuk membeli tiketnya. Film ini memberi pengalaman sinematis yang akan memuat napas Anda tercekat dan menjerit di tempat duduk. Tak berlebihan bila menyebut film ini sebagai salah satu horror thriller terbaik yang menetapkan sebuah standar tinggi untuk dilewati.

(4/5)

Reviewed at CBD Ciledug XXI, September 2, 2016.

A Screen Gems release of a Screen Gems, Stage 6 presentation, in association with Ghost House Pictures. 

Producer :  Sam Raimi, Rob Tapert, Fede Alvarez

Executive producers : Nathan Kahane, Joe Drake, Erin Westernman, J.R. Young, Mathew Hart

Co-producers : Kelli Konop, Rodo Sayagues

Director : Fede Alvarez

Screenplay : Fede Alvarez, Rodo Sayagues

Camera (color, widescreen, HD) : Pedro Luque

Editors ; Eric L. Beason, Louise Ford, Gardner Gould

Music : Roque Banos

Production designer : Naaman Marshall

Art director : Adrien Asztalos

Set decorator : Zsuzsa Mihalek

Sound : Csaba Major

Casts : Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, Stephen Lang, Emma Bercovici, Franciska Torocsik, Christian Zagia, Katia Bokor, Sergej Onopko.

Advertisements

2 Comments

  1. […] Saya mengobrol dengan salah satu ibu yang ikut dalam antrian di sebelah saya. Ibu ini mengaku mengetahui tentang Warkop DKI Reborn lewat tayangan televisi, khususnya tayangan infotainment. Dia bahkan tahu persis (lewat televisi) bagaimana di berbagai bioskop, tiket film ini sudah ludes tak bersisa. Informasi tersebut lantas membuat dia rela berdesakan untuk membeli tiket. Ibu ini tak hanya membeli tiket untuk dirinya sendiri. Terlihat di pojok lobi bioskop, beberapa ibu-ibu dan sekelompok anak menunggu dia mengantri, demi mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Ibu ini membeli tiket untuk pertunjukan keempat, yakni sekitar pukul 19:00. Padahal antrian yang saya ada di dalamnya adalah untuk pertunjukan di jam pertama. Dari beberapa penonton yang saya ajak mengobrol, hanya ada 2 pasang muda-mudi yang membeli tiket untuk film lain, yaitu Don’t Breathe. […]

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s