The BFG Review : Imajinasi Tanpa Pretensi

“Memang The BFG bukanlah karya terbaik Spielberg. Akan tetapi di tengah-tengah berjibunnya “film kanak-kanak” yang dibuat dengan sudut pandang orang dewasa dan kesinisan di dalamnya, The BFG adalah sebuah produk langka dan istimewa.”




Serahkan kepada para penulis Inggris untuk menceritakan berbagai kisah fantasi petualangan kanak-kanak yang indah, beruntaian kata-kata yang membentuk prosa dan membawa imajinasi kita menjelajah dunia yang mereka ciptakan, serta ikut berpetualang di dalamnya.

Sebut saja Enild Bylton, P.L Travers, C.S Lewis, Roald Dahl, hingga ke J.K Rowling.

Lalu serahkan kepada sineas yang memiliki antusiasme kanak-kanak, visi yang cemerlang dan kemampuan bercerita yang menimbulkan gairah seperti Steven Spielberg, untuk memindahkan imajinasi dan susunan prosa para pengarang tersebut ke bentuk sinema.

Maka kita akan mendapatkan sebuah film fantasi yang indah, polos dan menggugah seperti The BFG.

Suatu keberuntungan bahwasanya kisah di buku fantasi kanak-kanak yang dilengkapi ilustrasi gambar karya Roald Dahl tersebut ditangani oleh sineas sekelas Spielberg, yang telah memberikan beberapa film fantasi yang kemudian menjadi milestone. Close Encounter of the Third Kind, E.T, hingga ke Adventures of Tin Tin adalah portofolio yang tak bisa disanggah.

Memang The BFG bukanlah karya terbaik Spielberg. Akan tetapi di tengah-tengah berjibunnya “film kanak-kanak” yang dibuat dengan sudut pandang orang dewasa dan kesinisan di dalamnya, The BFG adalah sebuah produk langka dan istimewa yang menghadirkan sebuah kisah imajinasi tanpa pretensi.

The BFG bekerja dalam berbagai tingkatan: baik itu emosional dan teknis. Kekuatan emosional muncul dari cara Spielberg mengerjakan film ini dari sudut pandang kanak-kanak, bagaikan seorang ayah yang mendongeng cerita indah kepada anaknya dengan penuh kasih sayang.”



BEKERJA DI TINGKATAN EMOSIONAL DAN TEKNIS

The BFG bekerja dalam berbagai tingkatan: baik itu emosional dan teknis. Kekuatan emosional muncul dari cara Spielberg mengerjakan film ini dari sudut pandang kanak-kanak, bagaikan seorang ayah yang mendongeng cerita indah kepada anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia tak berniat untuk menambah-nambah detail penceritaan dan subteks melalui perspektif orang dewasa. Itulah yang membuat enerji film ini terasa amat optimistis, ceria, jenaka dan tanpa pretensi. Membawa kita kepada sebuah nostalgia saat masa kecil kita masih dipenuhi oleh imajinasi indah dalam memandang dunia.

Dari aspek teknis, The BFG bekerja lewat detail animasi dalam membangun dunia para raksasa dan kejelian Spielberg dalam memanfaatkan teknik motion-capture demi menghadirkan sosok para raksasa yang akurat sesuai visi yang dituturkan Roald Dahl dalam bukunya. Dipadukan dengan score orkestrasi karya John Williams (rekanan setia Spielberg) yang megah , berdaya magis dan memperkuat dramatisasi, tanpa terlalu bising meningkahi setiap adegan. Serta lensa kamera arahan Janusz Kaminski yang mengajak kita menjelajah dunia yang dibangun Spielberg dan menangkap setiap detail emosi yang ditampilkan antara raksasa baik hati dan Sophie, karakter utamanya.

The BFG memang sebuah film hasil kolaborasi yang berdaya magis.

Kita pertama kali diajak berkenalan dengan Sophie (diperankan oleh aktris cilik, Ruby Barnhill), seorang anak perempuan berpipi tembam dan berkacamata yang tinggal di sebuah panti asuhan. Sophie mengalami insomnia yang membuatnya kerap menjelajahi setiap sudut panti asuhan kala yang lain sedang tertidur lelap. Sophie membawa selimutnya sebagai persiapan untuk berkamuflase, kalau-kalau pengurus panti asuhan memergokinya. Adegan Sophie berkerudung selimutnya mengingatkan saya kepada sebuah adegan di film E.T.

Saya menduga terpilihnya Ruby Barnhill sebagai Sophie karena ia mengingatkan penonton kepada sosok Mara Wilson yang menjadi pemeran utama dalam film Mathilda (1996), adaptasi karya Roald Dahl yang disutradarai oleh Danny DeVito. Dia hadir sebagai anak yang tak gentar dan pemberani. Sorot matanya memperlihatkan keingintahuan dan antusiasme yang menular. Persis seperti saat Mara Wilson memerankan karakter Mathilda. Sebuah elemen nostalgia yang memang efektif membuat The BFG semakin bekerja.

Suatu malam, Sophie tak disangka diculik oleh raksasa baik hati (diperankan lewat teknik motion-capture oleh aktor pemenang Oscar, Mark Rylance). Sesuai dengan judul yang merupakan akronim dari “Big Friendly Giant”.

Raksasa yang dipanggil BFG ini memiliki wajah seperti orang tua. Keriput, bermuka lonjong panjang, berhidung panjang,  berambut panjang beruban yang kusut masai dan cambang tipis yang juga sudah memutih warnanya. Wajahnya memiliki gurat kebajikan, cahaya matanya menyiratkan kepolosan dan suaranya ceria yang dihadirkan lewat logat British  Mark Rylance yang hangat dan terkadang gugup. Rylance berhasil menghadirkan suatu enerji bersahabat dan meneduhkan lewat suaranya. Kita akan percaya bahwa BFG miliknya adalah pengganti sosok kakek yang baik hati.

BFG ini raksasa vegetarian. Dia hanya gemar memakan snozzcumber, sejenis mentimun yang memiliki bentuk seperti sayur pare. Buah yang hanya tumbuh di alam para raksasa ini memiliki cita rasa seperti kulit katak, ikan busuk dan kecoa bila digabungkan. Saat mengigitnya, snozzcumber akan mengeluarkan suara seperti gemeletuk yang timbul saat kita mengunyah es batu. Minuman kegemarannya adalah Frobscottle, minuman berwarna hijau yang gelembungnya bergerak ke dasar botol. Minuman ini menimbulkan efek buang angin yang begitu dahsyatnya, hingga mampu membuat tubuh Anda melayang. Efek buang angin itu disebut sebagai “whizzpoppers”.

Sophie lalu diculik oleh BFG dan dibawa negeri para raksasa. BFG berkata kepada Sophie bahwa dia harus bersamanya sepanjang hayat, karena Sophie sudah melihat sosoknya. Saat Sophie menolak BFG,  yang gemar mengumpulkan mimpi-mimpi berbagai warna dan menaruhnya dalam toples, memberi Sophie mimpi buruk di mana gadis kecil itu dimakan oleh raksasa jahat.

Raksasa jahat itu memang benar-benar ada. Mereka memiliki ukuran tubuh yang besar tinggi menjulang, bahkan BFG bukan apa-apanya dibanding mereka. Para raksasa jahat ini gemar menculik anak kecil dan memakannya. Para raksasa jahat itu melihat anak kecil sebagai penganan  dan menyebut mereka sebagai “beans”.

Ada sebuah sub-plot yang memperlihatkan bahwa BFG adalah sosok raksasa yang menjadi korban bully para raksasa lainnya. Seperti halnya Sophie, BFG sebenarnya merasa kesepian dan butuh teman. Kehadiran gadis kecil itu menjadi penyemangat BFG. Mereka bermain bersama, menjelajah negeri raksasa dan menangkap mimpi-mimpi bersama-sama.

“Biarkan jiwa kanak-kanak Anda meresapi dan menjelajah setiap sudut negeri dan kebaikan di dalamnya. Maka Anda akan mendapatkan suatu pengalaman yang membawa Anda ke masa kecil yang penuh imajinasi tak terbatas”



PERSAHABATAN, OPTIMISME DAN NILAI KEBAIKAN

The BFG memang berfokus pada hubungan dua teman beda spesies yang sama-sama kesepian. Di masing-masing karakter, mereka menemukan arti persahabatan yang tulus dan saling menyayangi. BFG yang hidup di alam liar tak pernah belajar bagaimana cara bertata karma atau mengucapkan kata-kata dalam tata bahasa yang baik. Sophie, di sisi lain, seperti menemukan sosok ayah atau kakek yang tak pernah ia miliki. Keduanya lalu saling melengkapi. Itulah arti dua sahabat sejati, bukan? Untuk saling melengkapi, saling menjaga dan saling mengigatkan.

Saat para raksasa jahat mencium keberadaan Sophie dan ingin memakannya, BFG dengan sigap berusaha menyembunyikannya. Saat Sophie melihat betapa BFG kerap dipermainkan oleh raksasa lainnya, dia berseru agar BFG melawan mereka. Bersama mereka lalu menyusun rencana, menghadap sang Ratu Inggris agar para raksasa jahat itu ditangkap dan diasingkan.

The BFG mengajak kita mengamati berbagai detail yang menjelaskan perkembangan hubungan persahabatan antara Sophie dan raksasa baik hati. Mengikuti percakapan keduanya yang bak dua sahabat lama.

Percakapan dan interaksi antara Sophie dan BFG memang kunci utama yang tak ingin dirusak oleh Spielberg. Kamera dan penyuntingan selalu menampilkan keduanya di sepanjang durasi film, baik lewat efek Kuleshov maupun menampilkan keduanya dalam satu frame. Membuat kita sebagai penonton percaya bahwa hubungan keduanya di layar adalah nyata.

Bahkan di sekuens aksi, Spielberg emoh untuk memutus interaksi keduanya. Dia tak tertarik menampilkan jump cuts demi menghadirkan kekalutan suasana dalam pertarungan, seperti di adegan aksi kebanyakan. Kamera kerap mengambil adegan lewat long takes dan dari jarak jauh. Membiarkan  kita menyaksikan tiap karakter bergerak menampilkan gesture, bagaimana mereka bergerak, mencoba menangkap sebuah objek, bersembunyi, atau mencoba melarikan diri.

Kalaupun ada close-up shots, hal itu digunakan untuk menangkap detail emosi atau saat menampilkan adegan komedi. Ya, The BFG menawarkan banyak humor. Saat BFG berkamuflase setiap saat ada orang dewasa hendak memergokinya, saat dia masuk ke istana sang ratu dan menghancurkan lampu kristal, atau lewat dialog-dialog canggung yang menghadirkan beragam punch-lines. Humor kentut pun dihadirkan, tapi tanpa melewati batas dan memang mengakomodir gaya humor quirky Roald Dahl di bukunya. Jenis humor khas Inggris yang jenaka dan elegan.

The BFG adalah sebuah hasil dari gaya filmmaking blockbuster anak-anak klasik. Suatu gaya yang awal tahun ini sempat kita saksikan kembali lewat The Jungle BookTak ada twist di film ini, bagi Anda yang tergila-gila dengan suatu pemaparan tak terduga sebagai efek kejut. Pun tak ada inovasi terbaru dalam hal teknis ataupun penceritaan, seperti yang pernah ditampilkan oleh Spielberg di Jaws, Jurassic Park, bahkan ke ke Adventures of Tin-Tin. Semua ditampilkan secara mengalir tanpa ambisi untuk terlihat “wah” dan membiarkan Anda hanyut dalam setiap detail yang disajikan.

Bagi beberapa penonton, The BFG mungkin akan terasa membosankan karena alpanya “kejutan” dan inovasi. Tapi sesungguhnya film ini adalah sebuah selebrasi akan kekuatan storytelling dan imajinasi. Tentang keoptimisan dan nilai-nilai kebaikan murni yang sudah semakin sering ditinggalkan di mayoritas film untuk konsumsi anak-anak.

Biarkan jiwa kanak-kanak Anda meresapi dan menjelajah setiap sudut negeri dan kebaikan di dalamnya. Maka Anda akan mendapatkan suatu pengalaman yang membawa Anda ke masa kecil yang penuh imajinasi tak terbatas. Seperti saat Anda di waktu kecil memandang horison, pelangi dan langit yang bertabur bintang, sembari membayangkan apa yang ada di sana.

Oh iya! Satu lagi. Sempatkan menonton The BFG di layar paling lebar dan mampu memberikan pengalaman sinematis paling imersif, serta tata suara paling mumpuni. Ini sebenarnya bukan merupakan saran, tapi sebuah keharusan.

(4/5)

Now playing in IMAX 3D, Sphere-X, 3D and 2D

Distributed in Indonesia by Walt Disney Indonesia

A Walt Disney Studios release of a Disney, Amblin Entertainment, Reliance Entertainment presentation, in association with Walden Media, of a Kennedy/Marshall Co

Executive producers :Kathleen Kennedy, John Madden, Kristie Macosco Krieger, Michael Siegel

 Producers : Steven Spielberg, Frank Marshall, Sam Mercer.

Co-producer : Adam Somner

Director : Steven Spielberg

Screenplay : Melissa Mathison, based on the book by Roald Dahl

Cinematographer : Janusz Kaminski

Editor : Michael Kahn

Music : John Williams

Production designer : Rick Carter, Robert Stromberg

Casts : Mark Rylance, Ruby Barnhill, Penelope Wilton, Jermaine Clement, Rebecca Hall, Rafe Spall, Bill Hader.

Advertisements

3 Comments

  1. Cepet banget review-nya, Kak? Hahahaa.. 😀

    Film begini memang bikin semangat. Menyentuh sisi anak-anak yang ada dalam diri setiap orang namun lama tertutupi debu realita. So fun.. 🙂

    Like

    Reply

  2. Aku minggu kemarin sempat nonton The BFG bersama banyak banget anak-anak dan orangtuanya yang memenuhi satu studio. Seru. Beneran bikin imajinasi masa kecilku balik lagi. Apalagi penggambaran kakek BFG nya yang baik hati.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s