Call of Heroes Review : Proses Memanggil Jiwa Kepahlawanan

September 22, 2016

Call of Heroes menjadi sebuah film hiburan bernilai ekonomi tinggi yang saat usai menontonnya kita mengerti apa itu arti ‘pahlawan” yang sesungguhnya, arti solidaritas, persaudaraan dan budi pekerti luhur.”




Ada dua film dengan premis dan tema serupa yang sedang tayang di jaringan bioskop Indonesia pekan ini, yaitu Call of Heroes dan The Magnificent Seven (baca ulasannya)

Kedua film ini sama-sama menuturkan kisah klasik tentang pertempuran yang dilakukan tujuh orang dalam membela sebuah wilayah yang hendak diduduki oleh sekelompok orang berwatak jahat. Kedua film ini pun sama –sama film aksi yang banyak dipengaruhi oleh film klasik seperti Seven Samurai, The Magnificent Seven (1960) dan western karya sutradara Sergio Leonne.

Yang membedakan kedua film itu adalah dari segi bujet produksi, jenis aksi yang dipertontonkan (Call of Heroes adalah film laga wuxia, sedang The Magnificent Seven merupakan film cowboy penuh tembak-tembakan), dan negara yang memproduksi.

Tapi, perbedaan paling kentara adalah hasil akhir keduanya. Call of Heroes menjadi sebuah film hiburan bernilai ekonomi tinggi yang saat usai menontonnya kita mengerti apa itu arti ‘pahlawan” yang sesungguhnya, arti solidaritas, persaudaraan dan budi pekerti luhur; sedang The Magnificent Seven berakhir menjadi sebuah tayangan bernilai ekonomi tinggi yang kosong melompong. Hampa, tanpa esensi.

Call of Heroes yang disutradarai oleh Benny Chan (Who Am I?, New Police Story) sebenarnya bukan merupakan kisah tentang sekelompok anti-hero yang kemudian malih fungsi menjadi pahlawan. Hanya ada satu yang bisa disebut anti-hero dalam film ini, yaitu Ma Fung (diperankan dengan sangat baik oleh Eddie Peng, Rise of A Legend ). Dia adalah tipikal karakter yang mengingatkan kita pada karakter Kikuchiyo yang diperankan oleh Toshio Mifune di Seven Samurai. Dia flamboyant, slenge’an , urakan, gemar mabuk dan tidur di sembarang tepat, serta sembarang waktu. Versi Eddie Peng, diberi sedikit sentuhan karakter Kenshin Himura dari manga Samurai-X, dimana karakternya adalah seorang pensiunan tentara penjaga tuan tanah yang sudah muak dengan perilaku korup para saudagar. Ma Fung adalah seorang pengembara yang tak memiliki arah tujuan dalam hidupnya. Kemana ia menuju, ditentukan oleh kemana kudanya bergerak.

Kita pertama kali mengenal Ma Fung di sebuah kedai di siang hari, saat Fung berhasil membuat babak belur sekelompok preman. Di sana ia lalu bertemu dengan seorang guru perempuan bernama Bai Ling (Zhang Suying), yang kabur dari desanya dengan membawa sejumlah anak-anak saat seorang anak pejabat militer menghabisi penduduk di sana. Bai Ling yang terpukau oleh keahlian kung-fu Ma Fung, meminta ia menemani perjalanannya ke Kota Pucheng. Sayangnya, Ma Fung menolak.

Tapi takdir rupanya memang mempertemukan Ma Fung ke panggilan jiwanya lewat sosok Bai Ling.

Di kota Pucheng mereka kembali bertemu. Tapi, kali ini sudah ada anak pejabat militer jahat yang membasmi desa tempat tinggal Bai Ling, Cho Siu-lun (diperankan dengan atitude penjahat psikopat oleh Louis Koo) yang mengenakan baju serba putih, rapi dan klimis. Tapi, Cho Siu-lun tak seputih warna baju yang dikenakannya. Hatinya hitam dan membunuh adalah hobinya.

Kehadiran Cho Siu-lun sontak menimbulkan kegegeran di Kota Pucheng, setelah melakukan pembunuhan sadis. Kesadisannya lantas membuat sang kapten penjaga desa, Yang Kenan (diperankan dengan amat karismatik, tenang dan kebapakan oleh Sean Lau Ching-wan) turun tangan hendak mengeksekusi Cho Siu-lun. Yang Kenan adalah generasi ketiga Klan Yang sebagai penjaga Pucheng. Dia jago kung-fu, senjatanya berupa cambuk yang terbuat dari logam lentur yang amat mematikan. Kenan memiliki seorang istri, Chow So-so (Yuan Quan) yang berparas lembut dan berkaki pincang, namun tak kalah tangguhnya dalam bertarung.

Kapten Yang Kenan tak mengetahui bahwa Cho Siu-lun adalah anak seorang pembesar militer. Jati diri pria sadis ini baru diketahui saat kolonelnya, Zhang Yi (Jacky Wu Jing), merangsek kota Pucheng dengan diiringi oleh satu batalyon tentara bersenjata lengkap. Kolonel Zhang Yi memaksa Kapten Yang Kenan untuk melepas atasannya, namun Yang menolak. Koloner Zhang lalu memberikan satu ultimatum, bila dalam satu hari atasannya tak dirilis, maka dia dan pasukannya akan meluluhlantakkan kota itu.

Di sinilah konflik sebenarnya terjadi.

Konflik yang melibatkan kecemasan penduduk Kota Pucheng yang tak ingin mati sia-sia karena sadar bahwa kekuatan militer tak bisa mereka tandingi; konflik batin yang melibatkan Kapten Yang Kenan antara memilih meneruskan warisan dan harga diri leluhurnya sebagai penjaga kota; juga konflik yang timbul akibat pengkhianatan dan sifat ingin cari aman sendiri dari sekelompok penduduk.

Berbagai konflik yang kemudian memanggil para pahlawan sejati untuk membela hak dan martabat manusia, serta memerangi kebatilan.

“Film ini tahu kapan harus dinamis, kapan harus tenang. Keputusan sutradara menggunakan paradigma drama yang seimbang dengan aksi, membuat Call of Heroes menjadi istimewa.”



KONFLIK DALAM “MEMANGGIL” JIWA KEPAHLAWANAN

Penghadiran berbagai konflik itulah yang membuat Call of Heroes yang naskahnya ditulis secara keroyokan oleh Benni Chan, Doug Wong, Tam Wai-ching, Tim Tong  dan Chen I-chueh menjadi istimewa. Menghadirkan rasa simpati dan menggugah sisi emosional dari kisah yang sebenarnya sudah terlampau sering dituturkan. Waktu satu malam menjadi sebuah perimeter yang cukup bagi para karakter di film ini untuk menimbang keputusan. Sebuah keputusan yang tak bisa diambil secara sepihak oleh Kapten Yang Kenan, karena melibatkan ratusan jiwa.

Para penduduk Kota Pucheng adalah para rakyat jelata yang hanya ingin hidup. Sedangkan Kapten Yang tahu betul bahwa keputusan apapun yang akan mereka ambil, ujung-ujungnya masih akan berakibat fatal.  Kapten Yang bagaikan makan buah simalakama. Meski dia hanya menjalankan tugas dan bukan berdasarkan dendam, dia mengerti bahwa para penduduk yang ia lindungi memiliki pandangan yang jauh lebih sederhana. Kapten Yang pun harus bersikap demokratis, suara terbanyak yang menjadi vox-populi. Sebuah sub-plot yang mengingatkan saya kepada film High Noon (1952), Seven Samurai dan The Magnificent Seven.

Dalam satu adegan, dilema simalakama yang dialami oleh Kapten Yang mampu ditampilkan Benny Chan dan sinematografer Pakie Chan dengan amat baik dan menyentuh.

Kapten Yang Kenan berdiri di alun-alun kota bersama para anak buahnya. Ia bersikeras bahwa keputusan untuk mengeksekusi Choi Siu-lun adalah jalan keluar terbaik. Lalu satu per satu, puluhan warga berlutut memohon dan meratap pada Kapten Yang agar menuruti ultimatum militer. Memohon agar mereka bisa melanjutkan kehidupan di tempat yang menjadi tanah kelahiran. Kamera lalu silih berganti mengambil ekspresi gamang sang Kapten dan ratapan memohon para warga. Adegan ini amat kuat dan efektif. Salah satu momen terbaik dalam filmnya.

Kamera arahan Pakie Chan memang mampu menyeimbangkan antara kebutuhan dalam menangkap momentum aksi dan drama. Lewat penyuntingan yang mengalir, momentum berhasil dibangun dan diorkestrasi. Film ini tahu kapan harus dinamis, kapan harus tenang. Keputusan sutradara menggunakan paradigma drama yang seimbang dengan aksi, membuat Call of Heroes menjadi istimewa.

Kepelikan yang dialami oleh Kapten Yang Kenan juga muncul lewat serangkaian pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat dan penduduk lain. Situasi ini memang sengaja dirancang untuk menghadirkan adegan aksi pertarungan yang lebih banyak. Namanya saja sebuah film aksi wuxia. Meski memang melahirkan suatu sentilan satir tentang kepengecutan dan sikap lemah rakyat jelata dalam menghadapi sebuah kekuasaan, pada satu sisi keputusan itu membuat berbagai kejadian di film ini terlampau padat untuk terjadi dalam satu malam saja.

Namun, begitu masuk adegan aksi, kesan terlalu padat itu akan lenyap. Kamera menangkap secara detail adegan laga yang dirancang oleh aktor veteran, Samo Hung (juga menjadi cameo di film ini). Adegan tarungnya mengingatkan kembali pada masa kejayaan film-film wuxia produksi Hong Kong di era 90’an. Terkadang artistik dan seperti sebuah tarian, terkadang taktis dan mematikan. Kamera secara jeli menangkap detail pertarungan tangan kosong atau dengan senjata. Kita bisa tahu kapan kematian akan datang dan kapan sang jagoan akan menang.

Koreografi aksi ini turut dibantu oleh pembangunan properti yang inovatif. Seperti pada saat pertarungan antara Kapten Yang di atas sebuah jembatan, di mana di kiri kanannya dipasang kandang kayu berjejer yang dilengkapi dengan tonggak-tonggak tajam. Atau saat pertarungan antara Ma Fu dan Kolonel Zhang Yi di atas ratusan kendi yang disusun menyerupai piramida. Memberikan sentuhan artistik di balik marabahaya. Memberikan keindahan yang melenakan mata, namun sekaligus membuat kita siaga.

Penggunaan dan pembangunan properti, serta set pieces dalam Call of Heroes membuat nilai produksi (production value) dalam film ini menjadi mahal. Meski memang tidak seartistik Crouching Tiger Hidden Dragon atau Hero, karena memang film ini lebih ditujukan sebagai produk hiburan. Ada penggunaan computer generated imagery (CGI), tapi tidak banyak dan melebur dengan dunia yang dibangun. Berpadu serasi dengan palette warna dominan kelabu yang digunakan dalam color grading. Terkadang ditampilkan lewat hitam-putih saat adegan kilas balik.



LEBIH “WESTERN” DARI REMAKE THE MAGNIFICENT SEVEN

Menarik bila disimak bahwa Call of Heroes justru lebih terasa sebagai film western dibandingkan dengan remake The Magnificent Seven. Pengadeganan Benny Chan memakai kaidah film western klasik yang terlihat dari bagaimana para aktor menggerakkan gestur atau mengendarai kuda. Elemen western yang kental juga tampak dari penyuntingan dan musik. Gambar seringkali melakukan cut-to-cut tajam antara serangkaian close-up shots, yang memperlihatkan suatu kontradiksi motif antara karakter jahat dan baik. Musik seringkali menampilkan gaya Ennio Morricon, seorang komposer yang sering bekerjasama dengan sutradara Sergio Leone. Kita sering mendengar suara dari alat musik bernama ocarina, sejenis alat musik tiup yang menimbulkan nada syahdu dan tajam menyayat, seperti yang sering dipergunakan di film-film western.

Yang juga menjadikan Call of Heroes bukan sekadar film wuxia blockbuster adalah dinamika interaksi para aktor di dalamnya, yang menggabungkan antara aktor laga dan aktor laga. Benny Chan terlihat tahu betul bagaimana memadukan mereka dan tahu bagaimana memberi porsi pengadeganan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Kemampuan dramatis yang mampu dipanggul oleh Sean Lau Ching-wan, karena memang karakter Kapten Yang Kenan memiliki porsi terbesar dalam penceritaan.

Ada hubungan antar saudara seperguruan dari karakter milik Eddie Peng dan Jacky Wu Jing. Sebuah sub-plot yang diselipkan secara pas, serta mampu membuat kita peduli dengan karakter mereka lewat dilema moralitas antara memilih hubungan persahabatan layaknya saudara dan keputusan rasional.

Yang menarik adalah keputusan naskah untuk tetap menjaga karakter Ma Fung milik Eddie Peng tetap sebagai orang luar hingga menjelang adegan puncak. Dia melihat, mengamati dan membiarkan warga Kota Pucheng berdiskusi atau berdialog antar mereka. Untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Sebuah keputusan tepat hingga membuat film ini bukan hanya sekadar film tentang orang-orang yang memiliki keahlian bela diri dan lantas menjadi pahlawan. Lebih jauh lagi, film ini tentang bagaimana membangkitkan jiwa kepahlawanan dari setiap penduduk Kota Pucheng agar bangkit dan membela hak mereka. Bahwa mereka butuh pemicu, itu memang benar. Pemicu yang hadir lewat proses yang natural dan organik. Para pendekar hanya membantu, selebihnya nasib mereka bergantung sepenuhnya pada keputusan yang para penduduk ambil.

Hal itulah yang membuat Call of Heroes bukan hanya sekedar film aksi hiburan. Film ini akan menjadi salah satu film klasik di masa depan. Sifat kepahlawanan ada di diri setiap orang. Hanya tinggal bagaimana cara “memanggilnya”.

(4/5)

Reviewed at XXI Plaza Senayan September 21, 2016.

Running time : 119 minutes

Imported and distributed for Indonesia release by P.T Teguh Bakti Mandiri

Production : (Hong Kong-China) A Universe Entertainment (in Hong Kong), Bona Film Group Co. (in China), Well Go USA (in U.S.) release of a Universe Entertainment presentation and production, in association with Bona Film Group Co., Sun Entertainment Culture, iQiyi Motion Pictures, Yinming Culture Communication Co., Long Motion Pictures, Alpha Pictures (Beijing) Co., CL Motion Pictures, Beijing Monster Pictures Co., Zhejiang Viewguide Film Co. (International sales: Universe Entertainment , Hong Kong.)

Producers: Benny Chan, Alvin Lam.

Executive producer: Daneil Lam

Co-executive producers: Yu Dong, Alvin Chau, Ben Yuan, Cai Dongqing, Liang Wei.

Director: Benny Chan

Screenplay: Chan, Doug Wong, Tam Wai-chin, Tim Tong, Chien Ichueh

Camera (color, B&W, widescreen, Screen X, HD) : Pakie Chan

Editor: Yau Chi-wai.

Music : Wong Kin-wai

Casts : Sean Lau Ching-wan, Louis Koo, Eddie Peng, Yuan Quan, Jacky Wu Jing, Jiang Shuying, Liu Kai-chi, Philip Keung, Berg Ng Ting-yip, Sammy Hung, Shi Yanneng.

Dialogues in Cantonese

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s