Blair Witch Review : Sebuah Carbon-Copy Yang Membuat Frustrasi

Blair Witch lebih tepat disebut sebagai remake atau rekonstruksi film aslinya, karena secara struktur dan plot sama persis. Nyaris tak ada hal baru yang bisa membuat saya tetap terjaga dan tertarik untuk mengeksplorasi kisahnya. Film ini lantas terjebak pada pemilihan estetika found-footage dan nama besar film orisinalnya. Terjebak sebuah perangkap yang menimbulkan perasaan frustrasi saat menontonnya. Bukan perasaan takut.”




Suatu kondisi yang langka jika merasa mengantuk saat menonton sebuah film horor. Hal itu saya alami ketika menyaksikan Blair Witch, sekuel langsung dari The Blair Witch Project (1999).

Saya mengantuk karena merasa lelah mulai pertengahan film, saat saya tak menemukan satu hal baru dari penceritaan film ini. Blair Witch lebih tepat disebut sebagai remake atau rekonstruksi film aslinya, karena secara struktur dan plot sama persis. Nyaris tak ada hal baru yang bisa membuat saya tetap terjaga dan tertarik untuk mengeksplorasi kisahnya. Film ini lantas terjebak pada pemilihan estetika found-footage dan nama besar film orisinalnya. Terjebak sebuah perangkap yang menimbulkan perasaan frustrasi saat menontonnya. Bukan perasaan takut.

Perbedaan antara The Blair Witch Project dan Blair Witch hanyalah di : bujet produksi, penambahan jumlah karakter menjadi dua kali lipat dan teknologi kamera yang digunakan. Serta sedikit twist di akhir film.

Penghubung antara kedua film adalah karakter James (James Allen McCune), adik karakter Heather di film pertama. James masih kecil saat kejadian film pertama terjadi. Dia melihat footage yang memperlihatkan kakaknya berada di sebuah kondisi berbahaya melalui YouTube. Footage yang berasal dari rekaman kamera sang kakak dan rekan-rekannya ketika menelusuri mitos Blair Witch. Footage yang kemudian dimasukkan ke dalam narasi film sebagai plot device yang berfungsi sebagai motivasi James untuk kembali menelusuri tempat kejadian.

Kita digiring kepada suatu perspektif bahwa kisah dalam Blair Witch adalah sebuah “kisah nyata”. Lewat superimpose teks di awal film yang mengklaim bahwa kumpulan footage yang akan kita saksikan adalah hasil pengumpulan berbagai dokumentasi yang diambil secara langsung dan ditemukan di hutan bernama Black Hills, Maryland pada tanggal 15 Mei 2014. Lokasi yang sama tempat terjadinya tragedi di film pertama.

James lalu berhasil mengumpulkan tiga teman yang bersedia untuk ikut dalam ekspedisi berbahaya demi menemukan kebenaran dari mitos Blair Witch. Mereka adalah Lisa (Callie Hernandez), Ashley (Corbin Reid) dan Peter (Brandon Scott). Kwartet ini adalah penggambaran generasi muda millenial yang melek teknologi. Berbagai perlengkapan kamera termutakhir mereka siapkan untuk menjalankan misi. Mulai dari GoPro yang dilengkapi piranti GPS (global positioning system) yang bisa melacak keberadaan mereka; iPad yang juga bisa untuk merekam; kamera berkualitas high definition yang bisa dilekatkan di pepohonan; hingga drone berkamera yang bisa memberikan mereka pemandangan aerial dan bisa membantu mereka mengenali lokasi saat mereka mengalami disorientasi arah.

Naskah karya Simon Barrett (kolaborator setia sutradara Adam Wingard, seperti di You’re Next dan V/H/S) sebenarnya cerdas dalam memasukkan isu teknologi kekinian dalam ceritanya. Dengan menggambarkan para karakternya yang dilengkapi oleh pelbagai teknologi termutakhir itu, Blair Witch ingin menunjukkan bahwa kwartet tersebut tidak hanya sineas amatir yang tak gagap teknologi, melainkan juga bahwa mereka mempersiapkan diri dengan baik. Penggunaan kamera-kamera canggih itu juga berfungsi untuk menangkap kejadian secara lebih menyeluruh. Dari berbagai sudut pandang yang memungkinkan ceritanya bermain-main dengan perspektif.

Tetapi, persiapan diri yang dilakukan oleh para karakternya berbanding terbalik dengan kesiapan intelektual. Film ini lupa dalam memasukkan sudut pandang yang diambil dari kejadian pertama. Sampai akhir film, saya tidak pernah tahu apa yang membuat teman-teman James sampai mau bergabung dengan misi amat berbahaya itu. Mereka adalah pemuda yang memiliki akses informasi. Lalu mengapa mereka tidak terlihat mencari tahu dan riset tentang apa yang akan mereka hadapi? Padahal jelas-jelas apa yang sudah terjadi di film pertama sudah banyak didokumentasikan di internet. Salah satunya adalah footage Heather.

Film pertamanya menjadikan riset sebagai setup awal, sebelum Heather dan dua rekannya menelusuri jejak misteri mitos Blair Witch. Heather dan dua rekannya mewawancarai para penduduk Burkittsville yang hidup dengan mitos itu. Para penduduk yang tumbuh dengan mendengarkan berbagai cerita dan kabar burung mengerikan tentang mitos tersebut. Tetapi mereka tidak benar-benar mengalaminya secara langsung.

Setup itulah yang lantas membuat film pertamanya konsisten dan koheren dengan pilihan estetika faux-documentary. Membuat kita (kala itu) percaya dengan ilusi bahwa kisahnya seolah benar-benar nyata. Menampilkan sebuah ilusi cinema veritae yang kita yakini dan dipadukan dengan pemilihan aktor-aktor tak dikenal untuk makin mengaburkan batas antara ilusi dan realita.”



Tak Ada Setup Faux Documentary, Hilangnya Misteri

Setup itulah yang lantas membuat film pertamanya konsisten dan koheren dengan pilihan estetika faux-documentary. Membuat kita (kala itu) percaya dengan ilusi bahwa kisahnya seolah benar-benar nyata. Menampilkan sebuah ilusi cinema veritae yang kita yakini dan dipadukan dengan pemilihan aktor-aktor tak dikenal untuk makin mengaburkan batas antara ilusi dan realita.

Tak ada setup ala dokumenter di Blair Witch. Filmnya langsung dibuka dengan pengenalan karakter, terlihat jelas seperti film feature fiktif kebanyakan. Absennya setup tersebut pula yang lantas membuat para karakter di film ini tampak bodoh dan gegabah. Bukan terlihat sebagai para pemuda yang cerdas dan mawas teknologi.

Kwartet di atas lantas mendapat bala bantuan, yaitu dua orang pecandu mitos Blair Witch yang menemukan rekaman kaset DV kejadian di film pertama: Lane (Wes Robinson) dan gadis yang mirip dengan Naomi Watts bila rambutnya dicat ungu, Talia (Valorie Curry).

Kemudian kisahnya mengikuti secara total film pertama. Kelompok kecil berani mati ini masuk ke hutan, menemukan berbagai tanda aneh menyeramkan yang dibuat dari kayu dan ranting, dan kemudian satu per satu mereka menemui teror yang tak terlihat.

Sebuah film horor akan efektif bekerja menakuti kita bila menampilkan hal-hal yang natural, namun keberadaannya tak terjelaskan. Itulah yang lantas membuat Blair Witch Project masuk jajaran film horor terbaik yang pernah dibuat. Dipadupadankan dengan inovasi ala dokumenter yang membawa kita masuk ke dalam subjektivitas sang korban. Kita dibuat turut menjerit saat sosok teror yang tak tertangkap layar menyergap. Jeritan yang keluar dari mulut kita adalah sebuah reaksi spontan terhadap sebuah teror yang misterius. Yang tak terjelaskan.

Hilang sudah teror misterius di Blair Witch, karena kita sudah tahu apa yang akan terjadi. Kita pernah masuk ke dalam hutan yang menjadi lokasi dan juga pernah masuk ke dalam subjektivitas karakternya.

Hilangnya misteri menyeramkan tersebut semakin diperparah dengan ketidak konsistenan karakterisasi dan tidak punya interaksi yang signifikan satu sama lain.

Lane, si pemandu jalan, misalnya. Dia meneriakkan suatu peringatan tentang bagaimana mahluk yang mereka cari akan mengambil siapa pun menjadi korban, kala perjalanan mereka sudah dimulai. Sebuah peringatan yang malah terlihat konyol dan tak berguna, karena Lane sendiri malah ikut masuk ke dalam misi itu. Membuat saya langsung membatin kesal, “ Kemane otak lu, bro?”.

Wingard dan Barrett terlihat jelas meninggalkan kebiasaan dan kebisaan mereka dalam menciptakan karakter yang kita memiliki kepedulian terhadapnya. Seperti yang mereka lakukan di You’re Next, sebuah sajian teror klaustrofobia tounge-in-cheek berseting di rumah. Atau di The Guest, sebuah film thriller psikologi yang lalu berubah menjadi slasher bergaya John Carpenter. Para karakter di Blair Witch bahkan terlihat bodoh dan sembrono. Alih-alih peduli, saya malah mengucapkan syukur saat mereka satu per satu menjadi korban, karena kebodohan mereka. Alih-alih menimbulkan simpati, para karakter ini justru terlihat menyebalkan.

Penggunaan trik dan gimmick found-footage dalam film ini pun tak kalah terlihat menyebalkannya. Pada satu titik, saya malah melihat penggunaan berbagai kamera justru menegaskan sifat narsisme para karakternya. Bayangkan saja, di situasi marabahaya nan absurd yang semestinya bisa mereka antisipasi sebelumnya, sempat-sempatnya mereka menghidupkan kamera dan mendokumentasikan diri sendiri, serta kejadian yang mereka alami!

“Teknik found-footage akan bekerja secara efektif bilamana kamera hanya menunjukkan secara cukup apa yang mesti kita sebagai penonton lihat. Menyajikan sedikit cita rasa horor dan teror yang tak terlihat, tanpa mengulang setiap ketukan plot cerita dari film yang sudah ada.”



Hilangnya Efektivitas Found-Footage, Timbulnya “Kualitas” Gaduh

Teknik found-footage akan bekerja secara efektif bilamana kamera hanya menunjukkan secara cukup apa yang mesti kita sebagai penonton lihat. Menyajikan sedikit cita rasa horor dan teror yang tak terlihat, tanpa mengulang setiap ketukan plot cerita dari film yang sudah ada.

Found-footage yang baik juga akan membuat kita peduli dan percaya dengan karakternya. Itulah alasan yang membuat kita masih mau membuka mata dan mengikuti berbagai tragedi yang dialami para karakter di film orisinalnya. Terlepas dari karakter Heather yang nge-boss dan sok tahu yang membuat kita bisa membencinya, kita peduli dengan nasib dia. Kepribadian Heather yang sudah ditunjukkan di awal film orisinalnya, justru menjadi pemicu atau foil kekejaman mahluk yang menjadi objek kameranya.

Blair Witch justru bekerja secara kebalikan. Film ini berupaya terlihat pintar dan mawas diri, tapi justru terlihat bodoh dan malas. James memang adik Heather, tapi tidak ada satu kualitas yang sama antara mereka. Twist yang diperlihatkan di akhir film, terkesan hanya ditampilkan sebagai gimmick yang dipaksakan untuk menghadirkan sebuah shock-value. Sebuah shock-value yang seperti peringatan Lane. Kadung terlambat untuk membuat saya peduli dengan jalan ceritanya.

Salah satu kualitas yang membuat The Blair Witch Project kala itu mentereng adalah kualitas sunyi dan hening. Saat kita mendengar suara asing yang menegakkan bulu roma di kejauhan. Suara yang terdengar sayup yang makin lama makin jelas dan lalu dipadukan dengan suara desah napas penuh kecemasan para karakternya.

Blair Witch justru melipatgandakan volume suara. Suara sayup-sayup menakutkan hanya sepersekian persen bila dibandingkan suara gaduh, ribut dan bising yang bak bekerja dalam tempo allegro. Cepat, berisik dan lalu mengganggu pendengaran. Bila pilihan ini disebut sebagai sebuah “kualitas” baru di kisahnya, maka saya menyebutnya sebagai sebuah kualitas yang buruk. Bahwa volume yang lebih besar dan lebih keras, bukanlah sinonim dengan lebih baik. Kegaduhan dan kebisingan yang timbul dari teriakan para karakter di film inilah yang menjadi satu-satunya alasan saya untuk terjaga. Kegaduhan dan kebisingan yang tak memberikan atmosfer teror baru. Kegaduhan dan kebisingan yang justru terdengar dan terlihat murahan. Bukan karena ingin mengikuti ceritanya. Cerita yang sudah tidak saya pedulikan, sebab saya sudah tahu apa yang akan terjadi.

The Blair Witch Project adalah sebuah film yang membawa standar film horor ke sebuah tahapan baru yang lebih tinggi. Sebuah film paling berpengaruh yang pernah dibuat di sejarah sinema. Salah satu film paling menguntungkan dalam sejarah industri film.

Pengaruhnya tidak hanya terhadap pengenalan dan penggunaan teknik found-footage yang akan diikuti oleh pelbagai film selepasnya. Seperti waralaba Paranormal Activity, hingga ke film superhero berjudul Chronicle.

The Blair Witch Project bahkan memberikan pengaruh kepada bagaimana industri film memasarkan produknya. Film itulah yang pertama kali memperkenalkan istilah “mystery box marketing” dan “viral marketing” di sebuah era saat teknologi internet belum merajalela seperti sekarang. Film itu menjadi sebuah contoh sempurna dalam mendefinisikan kata ‘inovasi’.

Blair Witch tidaklah menawarkan suatu inovasi. Melainkan hanya sebuah carbon-copy dari sebuah cetak biru.

Dalam beberapa momen, Blair Witch mencoba memberikan suatu kedalaman dalam mitologi yang coba dibangunnya kembali. Seperti saat ada semacam misteri paradoks waktu, tetapi kemudian lenyap begitu saja. Film ini juga mencoba menjadikan rumah pondok kayu sebagai jantung cerita. Sebuah rumah yang menjadi pemberhentian akhir cerita di film orisinalnya, yang justru menjadi puncak teror yang sesungguhnya. Mencoba menjadikannya sebagai sebuah labirin maut, yang ironisnya, tak ada satu pun sudut menyeramkan di dalamnya.

Sungguh ironis dan sekaligus tragis, bahwa kutukan sebenarnya yang kita temui di Blair Witch bukanlah sosok yang kita harapkan akan menghantui kita sekali lagi. Kutukan itu justru terletak pada teknik found-footage dan nama besar film orisinalnya.

Sebenarnya saya sudah menaruh pengharapan yang kecil terhadap film ini. Sebuah pengharapan bahwa film ini setidaknya akan memberi penjelasan dan kontinuitas apa efek yang ditinggalkan dari tragedi di film pertamanya terhadap masyarakat sekitar. Sebuah pengharapan bahwa tragedi di film pertamanya akan membuat orang lain membuka mata dan waspada. Dan teror yang kemudian timbul adalah akibat akumulasi efek psikologis dan emosional selepas film orisinalnya.

Sayang seribu sayang, sebuah pengharapan yang tinggal harapan.

Blair Witch hanya tertarik mengulang. Sebuah pengulangan seperti carbon-copy dari satu cetak biru yang tanpa inovasi, tanpa penjelasan. Sebuah carbon-copy yang membuat frustrasi.

(2/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on October 8, 2016.

Running time : 89 minutes

A Lionsgate presentation of a Lionsgate, Vertigo Entertainment, Room 101, Snoot Entertainment production. 

Producers : Roy Lee, Steven Schneider, Keith Calder, Jess Calder.

Executive producers : Jenny Hinkey, Daniel Myrick, Eduardo Sanchez, Gregg Hale.

Co-producers : Adam Wingard, Simon Barrett.

Director : Adam Wingard

Screenplay : Simon Barrett

Based on the original film The Blair Witch Project by Daniel Myrick, Eduardo Sanchez

Camera (color, HD) : Robby Baumgartner

Editor : Louis Cioffi.

Casts : James Allen McCune, Callie Hernandez, Corbin Reid, Brandon Scott, Wes Robinson, Valorie Curry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s