Munafik Review : Tak Hanya Menakuti, Tapi Juga Tentang Penerimaan Diri

Munafik juga merupakan sebuah film lintas genre. Memadukan antara horor, thriller dan struktur whodunit. Tetapi pondasi dasarnya adalah drama. … Menjadikan filmnya kaya akan tekstur.”




Ada dua jenis teror dalam Munafik, film horor relijius produksi negeri jiran, Malaysia.

Pertama teror psikologis yang menghantui karakternya. Teror kedua berwujud gangguan mahluk supranatural. Kedua teror tersebut hadir secara tandem dan bekerja dengan beriringan, hingga pada suatu titik keduanya dipertemukan oleh satu garis merah melalui twist yang disajikan secara mulus.

Munafik juga merupakan sebuah film lintas genre. Memadukan antara horor, thriller dan struktur whodunit. Tetapi pondasi dasarnya adalah drama. Sebuah pondasi yang dibangun secara cermat dan kuat. Lewat pengadeganan yang efektif. Terdapat pula elemen romansa, sebuah elemen yang tidak hanya sebagai ornamen penghias narasi. Elemen romansa dalam Munafik menjadi sebuah koridor menuju suatu pembangunan konflik. Baik konflik batin ataupun fisik. Menjadikan filmnya kaya akan tekstur.

Kekayaan tekstur itulah yang kemudian membuat Munafik sebagai sebuah film yang istimewa. Tidak hanya sekadar film horor yang mengandalkan efek jump-scares. Saya diajak peduli dengan karakter-karakternya. Diajak ikut terlibat secara emosional. Saya tak hanya ingat dengan adegan menyeramkan di film ini. Lebih jauh, saya ingat dengan seluruh cerita film.

Film dibuka dengan sebuah shot yang menampilkan mata. Mata sebagai jendela hati. Mata yang tampak cemas dan ketakutan. Mata milik Adam (diperankan oleh sutradara, penyunting gambar dan sekaligus penulis naskah filmnya, Syamsul Yusof). Syamsul Yusof juga merupakan sineas di balik film horor reliji berjudul Khurafat (2011). Ciri khas Yusof dalam membangun atmosfer horornya lewat suara dan musik, kembali hadir dalam Munafik.

Kita kemudian mengetahui bahwa Adam baru saja mengalami sebuah kecelakaan. Mobilnya terbalik dan tak jauh dari posisinya, Adam melihat istrinya, Zulaikha (Zarina Zainordin), tergeletak bersimbah darah. Adam lalu menghampiri tubuh istrinya yang sudah sekarat itu. Lalu, Zulaikha menghembuskan napas terakhir selepas mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua kalimat Bahasa Arab dalam kitab suci Al-Qur’an yang harus diucapkan oleh seseorang bila ingin memeluk agama Islam. Dua kalimat yang mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dua kalimat yang juga menjadi pengantar saat seseorang hendak kembali ke hadapan-Nya.

Unsur relijius memang amat kental dalam Munafik. Adam sendiri nanti kita ketahui adalah seorang ustadz atau alim ulama muda terkemuka di kampungnya. Tingkat kesalehan dan ilmu agama Adam membuatnya memiliki kemampuan untuk mengusir kekuatan jahat, lewat praktik ruqyah (semacam kegiatan exorcism di budaya Barat). Praktik yang dipercaya bisa membersihkan diri dari pengaruh Iblis. Lewat pelantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an khusus.

Munafik menempatkan isu relijius sebagai ruh utama kisahnya. Membangun dunia dalam ceritanya bukan dalam sekularisme. Para karakter di film ini diikat dalam sebuah norma agama yang ketat. Para karakter perempuan memakai jilbab syar’i. Bukan jilbab fesyen moderen. Para prianya memakai songkok dan sarung, serta menegakkan shalat. Menjadikan kejahatan di ceritanya sebagai bentuk penyelewengan terhadap kaidah agama dan untuk menghukumnya juga lewat konsep keagamaan. Saya memuji konsistensi film ini dalam menyajikan ceritanya lewat kerangka pandangan relijius.

Menggabungkan cerita horor dengan konsep agama sebenarnya bukan hal baru. Film-film produksi Indonesia di era 70 dan 80’an melakukannya. Seperti film Pengabdi Setan atau beberapa film horor yang dibintangi mendiang Suzana. Film horor Amerika pun sering mengusung konsep serupa. The Exorcist hingga ke Conjuring. Tetapi film-film tersebut menjaikan ceritanya dalam sebuah dunia sekular, di mana memandang bahwa moralitas tidak perlu berlandaskan norma agama. Karakter relijius lantas hanya digambarkan sebagai pahlawan pengusir Iblis. Tidak terlampau memiliki arti signifikan kepada karakter lainnya untuk merenungi bahwa selama ini mereka bukan pemeluk agama yang taat.

Munafik justru menjadikan karakter relijiusnya sebagai karakter sentral. Kita diajak merunut cerita lewat sudut pandang Adam. Sebagai karakter utama, Adam tak lantas ditampilkan sebagai sosok yang putih seratus persen. Dia juga manusia biasa yang kadar keimanannya bisa naik dan turun.

Adam ternyata belum ikhlas menerima tragedi yang menimpanya. Saat menunaikan shalat di mesjid, dia sering berkonsultasi dengan guru agamanya. Berkeluh kesah menumpahkan beban di dada. Bayang-bayang kematian istrinya masih menghantui rasa bersalah Adam. Dia bahkan mempertanyakan mengapa Tuhan memberikan cobaan amat berat kepadanya. Suatu pertanyaan yang sudah melenceng dari konsep ajaran Islam untuk selalu berbaik sangka (husnudzon) atas segala takdir dari-Nya.

Di sisi lain cerita, kita berkenalan dengan Maria (diperankan dengan sangat baik oleh Nabilah Huda). Maria adalah seorang dara yang memiliki masalah dengan ibu tirinya, Zeti ( Sabrina Ali), yang usianya tak terpaut jauh dengan Maria.

Maria semakin lama menunjukkan sikap yang janggal. Dia kerap membaca berbagai buku mengenai Iblis dan juga ayat-ayat Al-Qur’an terkait itu. Sikap Maria yang semakin anti-sosial tak hanya membuat bingung ayah dan ibu tirinya, juga mengundang pertanyaan Fazli (Pekin Ibrahim), pria yang mencintai Maria.

Tak butuh lama bagi kita untuk mengetahui bahwa Maria sudah kemasukan jin jahat. Jin yang memiliki kekuatan teramat kuat. Keluarga Maria lantas meminta bantuan Adam untuk mengusir jin jahat itu.

Terlibatnya Adam lantas membawa konflik menjadi lebih dalam. Melibatkan rasa cemburu, amarah dengan diri sendiri, dan proses penelusuran tentang siapa yang menjadi sumber petaka, serta apa hubungannya dengan masalah pribadi Adam.

“Yusof sebagai sutradara dan Maidin tahu bagaimana menghadirkan sebuah cerita horor yang dilapisi misteri. Mereka tahu kapan harus menghadirkan sosok sang Iblis, kapan harus “menyembunyikannya”. Mereka juga mengerti kapan menghadirkan negative space untuk mengoptimalkan efek jump-scares.  “



Penitikberatan Pada Paradigma Drama

Atmosfer horor dalam Munafik dibangun lewat efek praktis (practical effect), tata rias, gerak kamera dan musik. Musiknya terdengar jelas mendapat pengaruh dari film-film horor klasik seperti The Exorcist atau The Shining. Beberapa kali terdengar efek suara biola yang digesek secara kencang dalam musiknya. Dihadirkan lewat crescendo yang semakin lama semakin kuat untuk membangun ketegangan. Ada pula sentuhan musik bernada lembut dan syahdu saat adegan dramanya hadir. Penempatannya yang tepat silih berganti, membantu mengatur mood penonton. Musik terdengar nyaris di sepanjang durasi. Terkadang memang terdengar berlebihan, karena ikut meningkahi dialog yang sebenarnya akan lebih kuat bila musik ditiadakan. Efek suara dalam film ini pun efisien dalam menghadirkan teror. Lewat suara derik lantai kayu yang dipijak, bola yang dipantulkan, kaca pecah atau suara kelebatan sosok yang lewat.

Kamera arahan Rahimi Maidin pun efektif dalam mendukung atmosfer horor yang dihadirkan. Sering mengambil objek lewat angle medium to close-up yang menangkap ekspresi para aktor. Kekuatan tata rias sering ditonjolkan oleh Mahidin. Seperti perubahan wajah Maria saat dirasuki Iblis atau efek luka.

Dalam satu adegan kunci saat Adam dan satu rekannya mencoba mengusir jin jahat dari tubuh Maria, kamera Maidin bergerak secara dinamis. Menampilkan interaksi dari berbagai sudut pandang, memberikan kita pengetahuan tentang batasan ruang yang menjadi tempat praktik pengusiran arwah. Kadang kamera Maidin  bergoyang demi menghadirkan intensitas. Dipadukan oleh teknik penyuntingan jump-cut, gambar tangkapan Maidin menjadi teror tersendiri.

Yusof sebagai sutradara dan Maidin tahu bagaimana menghadirkan sebuah cerita horor yang dilapisi misteri. Mereka tahu kapan harus menghadirkan sosok sang Iblis, kapan harus “menyembunyikannya”. Mereka juga mengerti kapan menghadirkan negative space untuk mengoptimalkan efek jump-scares.  Sekuens pengusiran arwah jahat yang saya sebutkan di atas, kemudian menjadi salah satu sekuens terbaik di film horor yang pernah saya tonton. Salah satunya adalah The Wailing, horor produksi Korea Selatan yang juga dirilis tahun ini.

Naskah karya Yusof yang menitikberatkan pada aspek drama, memiliki lapisan. Lapisan yang semakin cerita di filmnya melangkah jauh, semakin dikupas. Naskah yang kuat dan banyak dipenuhi dialog-dialog tentang agama. Saya tidak melihat berbagai dialog dalam film ini sebagai sebuah alat dakwah yang membuat kita merasa diceramahi. Dialog-dialog tersebut justru saya lihat amat relevan dan koheren dengan dunia relijius yang dihadirkan. Kita akan merasa diceramahi bila dialog tentang nilai-nilai keagamaannya melenceng dari konteks penceritaan. Saya tidak merasa diceramahi dalam film ini. Saya lebih merasa sedang menerima nasihat dari seorang teman.

Naskah Yusof juga cermat dalam membagi lakon. Setiap karakter diberikan ruang untuk menyampaikan kisahnya. Ada memang satu porsi di mana Fazli yang sedang tertekan akibat memikirkan Maria, naik darah dan menyerang rekan kerjanya, bisa dipandang tak perlu dimasukkan. Tetapi bila kita kembalikan lagi konteks adegan kepada konsep “iblis hadir dalam setiap diri manusia”, adegan itu terasa kontekstual. Karakteristik Fazli yang pemberang pun terlihat konsisten.

Munafik memang tak hanya menghadirkan cerita tentang perlawanan terhadap jin yang merasuki Maria. Film ini memiliki subteks bahwa kejahatan layaknya iblis bisa timbul di setiap manusia. Lewat amarah, iri dengki, atau ketamakan. Saya memuji penghadiran subteks tersebut yang membuat kisahnya tak hanya sekadar “hitam” melawan “putih”. Setiap karakter utama memiliki cela tersendiri. Bahkan termasuk Adam, sang ustadz. Kekompleksan karakter dalam naskah Yusof juga berfungsi menghadirkan sebuah misteri tersendiri. Kita akan menebak siapa penjahat sesungguhnya dalam film ini. Karena setiap karakter memiliki motif yang amat membantu dalam menghadirkan twist.

Sebagus-bagusnya naskah dan konsep, tidak akan tampil maksimal bila tak didukung pengadeganan kuat. Yusof bisa membuat para aktornya memberikan penampilan maksimal.

Sorotan dan pujian khusus saya berikan kepada Nabilah Huda sebagai Maria. Saat dirasuki jin, dia tampil amat menakutkan. Tak hanya lewat tata rias, melainkan juga lewat aktingnya. Saat “normal”, Nabilah Huda mampu memperlihatkan keambiguan karakter. Matanya ikut berbicara, bukan hanya gerak fisiknya.

Yusof juga memperlihatkan kekuatan aktingnya. Dia memiliki sensitivitas dramatis dalam memerankan karakter Adam. Seorang pemuka agama yang dilanda dilema pribadi.

“Saya melihat potensi film ini untuk disepelekan karena konsep relijiusnya. Amat salah untuk menyepelekan film ini. Karena saya berani mengatakan bahwa Munafik adalah salah satu film horor terbaik yang pernah saya tonton, justru karena keberaniannya untuk konsisten dalam menjaga unsur relijiusnya.”



Sifat Universal Lewat Pendekatan Reliji dan Kultur Lokal

Keistimewaan Munafik semakin paripurna karena kisahnya menampilkan sebuah subteks tentang konsep penerimaan diri. Konsep ikhlas dan seni merelakan yang telah pergi. Sebuah konsep spiritual yang indah di balik sebuah kisah horor. Sebuah konsep yang diceritakan lewat kearifan lokal, namun terasa universal.

Sifat universal Munafik yang menambah keistimewaannya.

Saya melihat potensi film ini untuk disepelekan karena konsep relijiusnya. Amat salah untuk menyepelekan film ini. Karena saya berani mengatakan bahwa Munafik adalah salah satu film horor terbaik yang pernah saya tonton, justru karena keberaniannya untuk konsisten dalam menjaga unsur relijiusnya.

Tentu saja saya tetap memiliki komplain. Komplain terhadap penghadiran pewarnaan digital yang sedikit mengurangi nilai sinematis filmnya. Juga komplain saya terhadap penyelipan lagu bergaya hip-hop di credit title yang merusak kesan selepas menonton filmnya.

Munafik adalah sebuah terminologi dalam Islam yang merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama, tetapi hati mereka mengingkarinya. Sebuah kata bersifat universal yang bisa juga disematkan kepada mereka yang tak mengakui hakikat mereka sendiri.

Kemunafikan bisa muncul karena tidak menjalankan konsep ikhlas  menerima apa yang telah digariskan kepada kita. Konsep yang menjadi subteks utama film.

Betapa indahnya sebuah film horor yang bisa menyandingkan antara tragedi, ketakutan dan perenungan spiritual. Itulah keistimewaan kualitas Munafik yang di masa mendatang akan menjadi sebuah film klasik dan akan menjadi artefak penting dalam sejarah sinema Asia.

(4/5)

Reviewed at CGV Blitz Grand Indonesia on October 5, 2016

Running time : 94 minutes

A Skop Production presentation (Malaysia)

Distributed for Indonesia market by MD Picture

Executive producers : Fetty Ismail, Salmah Ismail

Producer : Datuk Yusof Haslam

Director : Syamsul Yusof

Assistants director : Jafar Adami, Iskandar, Vibeishwaran

Screenplay : Syamsul Yusof

Story by Syamsul Yusof

Camera : Rahimi Maidin

Editor : Syamsul Yusof

Art director : Faizal Yusof, Musa Muhamad

Music : Sky Productions, BD Productions

Special effect make up : JLo Touch

Casts : Syamsul Yusof, Nabilah Huda, Sabrina Ali, Zarina Zainordin, Ruzlan Abdullah, A. Galak, Dato’ Rahim Razali, Fizz Fairuz, Pekin Ibrahim.

Dialogues in Malaysia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s