Target Review: Komedi? Thriller? Tidak Kedua-duanya

“…Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.”




Target, film komedi ansambel terbaru yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika, mengikuti konsep film Hangout (baca ulasannya)—juga dari Raditya Dika—yang dirilis pada tahun 2016. Kedua film tersebut mengusung konsep “high concept comedy”, sebuah konsep dalam penceritaan yang lebih mengutamakan “plot” ketimbang mengedepankan pengembangan karakter. Kedua film Raditya Dika tersebut dibangun atas sebuah gagasan tentang “beberapa karakter yang terjebak bersama dalam sebuah situasi pelik yang memaksa mereka satu per satu harus menemui ajal”.

High concept comedy yang menggabungkan komedi dan thriller berhasil dieksekusi oleh Raditya dalam Hangout di mana menghasilkan sebuah film yang masih terasa memiliki “kedekatan personal” dengan dirinya, sementara di sisi lain dia bisa mengeksplorasi ranah sinematis baru. Hangout menjadi sebuah eksperimen yang menurut saya berhasil.

Lewat Target, Raditya Dika kembali berusaha mengulang formula yang sama di Hangout setelah sempat kembali kepada bentuk penceritaan yang lebih “konvensional” dan dekat dengan jenamanya sebagai sineas dan pencerita di The Guys (2017). Tetapi, sayang seribu sayang, Target membuktikan bahwa formula dan konsep boleh diulangi, namun hasil akhirnya tidak bisa menyamai.

Sama seperti Hangout, Target menceritakan tentang sembilan selebriti yang mengikuti sebuah undangan yang terkait satu proyek film. Bedanya, hanyalah medium undangan (di Hangout menggunakan surat, di Target menggunakan surel) dan juga sosok para selebriti yang dilibatkan.

Dalam Target, kesembilan pesohor itu adalah: Raditya Dika sendiri; Hifdzi, komika berbadan subur; Cinta Laura Kiehl, mantan Radit yang mencoba mengejar karir di Amerika; Ria Ricis, Youtuber idola anak muda; Samuel Rizal, aktor lawas “macho” yang bahkan menyempatkan diri latihan beban sembari menyetir mobil; Willy Dozan, aktor laga lawas yang kini “ngondek” dan mengubah namanya menjadi “Wince”; Romy Rafael, seorang ilusionis; Abdur Arsyad, juga seorang komika; dan Anggika Bolsteri, seorang perempuan muda cantik yang, sejujurnya, saya tidak mengenal siapa dia sebelum ini. (Perkembangan terkini, setelah mencari tahu melalui Google, saya baru tahu kalau Anggika ini adalah seorang aktris sinetron).

Kesembilan orang ini kemudian berkumpul di sebuah lokasi (yang sepertinya terpencil) dan kemudian terjebak pada sebuah permainan hidup dan mati ala film waralaba Saw, yang dipimpin oleh seorang gamemaster. Mereka harus melewati beberapa fase permainan, di antaranya melibatkan Russian Roulette dan tebak-tebakan konyol. Peraturannya sederhana, peserta yang meninggal secara otomatis akan habis perannya.

Seperti Hangout, Target juga melibatkan sebuah plot twist yang diungkapkan melalui metodologi “parlor scene”, sebuah teknik penceritaan yang umum ditemui di film ber-genre thriller whodunit. Sebuah teknik yang dipopulerkan di sinema lewat, salah satunya, film klasik arahan Alfred Hitchcock, Psycho.

Target dibuka dengan sosok korban selamat yang mengenakan perban di seluruh tubuhnya dan dia lalu menceritakan kejadian yang dialami kepada dua orang polisi (salah satunya diperankan oleh Ence Bagus), melalui teknik framing device yang menciptakan ilusi nested stories, yaitu cerita dalam cerita. Contoh yang baik dalam penggunaan teknik ini bisa ditemukan dalam volume kedelapan novel Neil Gaiman, The Sandman, yang berjudul World’s End yang juga mengisahkan sekelompok pelancong yang terjebak dalam sebuah penginapan dan lalu saling menceritakan sebuah kisah satu dengan yang lain.

Contoh lain dari penggunaan framing device yang baik dan tepat guna dalam medium film adalah kisah wuxia yang dirilis tahun 2002, Hero, arahan Zhang Yimou.

Dalam Target penggunaan teknik framing device berfungsi sebagai interrogative frame di mana kisahnya dituturkan oleh salah satu aktor penting dalam kisahnya. Penggunaan teknik tersebut dalam kisah whodunit memiliki resiko karena, sesuai namanya, framing device berperan untuk mengarahkan kisah yang dituturkan agar sesuai dengan yang diharapkan oleh si penutur. Bila tidak memiliki setup yang dibangun secara cermat, maka teknik ini bisa memutus keterikatan pembaca (atau dalam Target, penonton) dengan cerita yang dituturkan. Lebih krusial, penonton akan dengan mudah mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya.

Dalam Target, framing device sayangnya menceritakan sebuah cerita justru bukan dari perspektif si penutur, melainkan dari sudut pandang Raditya Dika sebagai aktor utama dalam film. Keputusan artistik ini kemudian mengurangi suspension of disbelief yang sebenarnya menjadi tujuan utama kisah ini dituturkan karena bagaimana mungkin si tokoh menceritakan hal yang sejatinya tidak dia alami? Bayangkan skenarionya bila si penutur justru Raditya Dika sendiri, maka suspension of disbelief akan lebih bisa tercipta dan terjaga.

Bisa dimengerti bila keputusan melakukan framing device melalui salah satu karakter bertujuan untuk membuat ceritanya lebih efektif dan menimbulkan rasa penasaran penonton. Bagi yang awam akan teknik penceritaan, tentu saja detail ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang memahami, keputusan yang diambil oleh Raditya Dika dalam Target akan membuat twist yang dia coba bangun akan sangat mudah tertebak bahkan sejak sepertiga durasi film baru berjalan.

Seperti halnya Hangout, plot Target juga dibangun dari berbagai referensi film. Bila di Hangout, Raditya Dika menggunakan film This Is The End sebagai template (juga diulas dalam ulasan), maka untuk Target digunakan berbagai referensi film thriller di mana karakternya terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan mereka berkompetisi satu sama lain dalam sebuah permainan hidup-mati yang diatur oleh seorang gamemaster. Template ini bisa ditemukan dalam berbagai film seperti Battle Royale, The Hunger Games hingga ke Saw.

Namun saat menyaksikan Target ada satu judul film yang secara otomatis muncul dalam pikiran karena film ini menggunakan beat by beat plot utama kisahnya secara mirip. Mulai dari setting lokasi, penggunaan plot device, penyusunan konflik hingga jenis permainannya, meskipun memang ada beberapa modifikasi sesuai kebutuhan Target sebagai film komedi.

Film tersebut adalah sebuah film indie thriller berjudul Breathing Room, sebuah film rilisan tahun 2008 yang disutradarai oleh John Suits dan Gabriel Cowan. Dalam film tersebut juga menampilkan sejumlah karakter (13 karakter) yang tak saling kenal satu sama lain yang menemukan diri mereka terjebak dalam sebuah ruangan dan lalu harus mengikuti sebuah permainan mematikan di bawah arahan seorang gamemaster. Kemiripan antara Target dan Breathing Room tak bisa dielakkan karena desain lokasi yang mirip, penggunaan teknik pencahayaan yang juga mirip dan plot device berupa kalung yang memiliki aliran listrik di dalamnya. Bila Anda menyaksikan Breathing Room, maka Anda akan dengan mudah menebak siapa pelaku di Target karena juga memiliki pola penyusunan dan penggunaan konflik yang sangat mirip. Bahkan hingga ke karakter fisik sang pelaku.

Terlepas dari referensi film yang dipakai, Target menjadi kurang bisa dinikmati juga karena pilihan Raditya Dika menggunakan dialog dan caranya mengumpulkan berbagai karakternya ke dalam posisi yang menuntut mereka akhirnya harus bersama.

Dalam Hangout, Raditya Dika membangun kisahnya dengan membiarkan kita sebagai penonton merasakan proses mereka bersama sebelum akhirnya berada dalam sebuah posisi di mana mereka harus curiga satu sama lain. Hangout berhasil karena proses itu cukup lama dan mereka juga kenal satu sama lainnya, sembari menyisipkan satu konflik yang bisa meyakinkan kita sebagai penonton bahwa mereka bisa terpecah belah. Dalam hal ini konflik pribadi antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun sehingga plot twist yang disajikan (meskipun tertebak) masih bisa diterima karena tujuan filmnya sebagai komedi. Twist pun terasa relevan dan koheren dengan pembangunan cerita.

Dalam Target, Raditya Dika sebenarnya mencoba formula yang sama. Kita diberi tahu bahwa ada konflik pribadi di masa lalu antara dirinya dan Cinta Laura. Kita juga diberi gambaran interaksi antara Dika dengan beberapa karakter lain, seperti Romi Rafael, Hifzi dan juga Samuel Rizal. Pun ada adegan di mana Willy Dozan sebagai aktor senior yang menasihati Raditya Dika, mengingatkan akan adegan saat Mathias Muchus menasihati dirinya di Hangout.

Masalahnya adalah ketidakkonsistenan penanaman informasi tersebut. Target semestinya merupakan kisah di mana para karakternya sama sekali tidak mengenal satu sama lain dan sudah saling mencurigai dari awal. Sementara pilihan pembangunan karakter dan konflik di Target memperlihatkan bahwa mereka saling mengolok satu sama lain dan hal ini mengindikasikan bahwa mereka setidaknya sudah saling memaklumi masing-masing karakter.

Baiklah, bila kemudian selama menjalani proses permainan, para karakter di Target terserang rasa cemas dan panik yang kemudian membuat mereka harus memikirkan ego dan keselamatan masing-masing. Namun, mereka kemudian digambarkan begitu cepat untuk saling memaafkan dan memaklumi setiap kesalahan yang dilakukan salah satu karakter sehingga mereka kemudian cepat kembali bersama. Hal ini menyebabkan ketegangan tak benar-benar bisa dibangun. Target juga tidak benar-benar memiliki konflik yang membuat kita benar-benar terhubung dengan problematika yang ada. Dalam Hangout, misalnya, konflik antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun disebabkan oleh pertemanan yang merasa dikhianati. Konflik krusial yang juga meminjam pembangunan tensi di film This Is The End-nya Seth Rogen, di mana pertemanan Seth Rogen dan Jay Baruchel dirusak oleh keinginan Seth untuk diterima di kalangan teman selebritinya. Sebuah konflik yang kemudian bisa terhubung ke penonton karena sebagian besar orang pernah mengalami hal itu, perasaan dikhianati oleh teman karib.

Sementara di Target, tidak benar-benar ada konflik yang cukup kuat untuk membuat kita percaya bahwa masalah tersebut akan membuat para karakternya terpecah belah. Konflik antara Raditya Dika dan Cinta Laura lebih dikarenakan masalah asmara yang kemudian juga diklarifikasi di tengah situasi pelik. Sebuah konflik yang tidak membuat penonton benar-benar terhubung.

Penanaman informasi dan konflik menjadi penting untuk membuat motif dan twist yang dihadirkan tidak terkesan dipaksakan. Tidak telitinya menanamkan informasi dan konflik itulah yang kemudian membuat adanya pemaksaan motif dan twist di film Target.

Bayangkan bila skenarionya diubah menjadi adegan dibuka dengan Raditya Dika dan rekan-rekannya terbangun dalam kondisi yang nihilisme, di mana mereka menemukan diri mereka berada dalam ruangan tersebut tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu pengenalan karakter dibangun melalui berbagai eksposisi yang menjelaskan kisah mereka masing-masing sebagai upaya menjalin kedekatan satu sama lain atas dasar senasib sepenanggungan. Hal ini memang beresiko akan membuat film akan berjalan dengan lebih pelan, tetapi akan membuat penonton lebih mudah mengobservasi kejadian dan mengembangkan syak wasangka. Keputusan itu juga akan membantu membuat dialog antarkarakter menjadi lebih mengalir dan juga berpotensi menciptakan guyonan yang lebih koheren.

Sebab lain yang membuat saya tidak bisa menikmati Target sebagai sebuah film adalah cara dialog disampaikan dalam film ini. Dalam Hangout, dialog antarkarakter terasa lebih mengalir. Dialog dalam Target terasa seperti kumpulan materi stand-up komedi yang tidak terhubung satu sama lain yang membuat dialog antarkarakter kerap kali terasa terputus.  Dalam Hangout, This Is The End, atau Superbad, misalnya, dialog lahir karena reaksi atas sebuah situasi atau dialog karakter lain. Punchline diselipkan di antaranya yang kemudian membuat humor menjadi segar. Hal ini tidak terasa di Target, di mana dialognya terasa terdiri atas sekumpulan materi one-liners berbagai topik yang acak tanpa disertai transisi yang membuat dialog antar karakter menjadi tidak alamiah seperti yang terjadi kepada sekelompok orang yang sedang merasakan situasi yang sama. Saat menonton Target, amatlah terasa bahwa terdapat cutting antar dialog. Masalah ini juga kemudian merembet kepada pace film secara keseluruhan. Terasa jelas pemotongan di beberapa adegan krusial yang membuat filmnya terasa “melompat”. Kesan “melompat” ini juga terjadi di adegan laga antara Samuel Rizal dan Arsyad. Jelas terasa ada beberapa pemotongan yang menyebabkan koreografi pertarungan oleh Yayan Ruhian menjadi janggal dan terputus. Tetapi hal ini bisa dimaklumi karena pertarungan ini memang didesain sebagai adegan komedi.

Memang ada beberapa humor yang bisa memancing tawa di Target. Mayoritas humor tersebut datang dari pencantuman referensi dan humor fisik. Di sinilah karakter seperti Hifdzi, Ria Ricis dan Cinta Laura menjadi menonjol. Hifzi beberapa kali menampilkan komedi fisik dan situasi yang tepat sasaran. Hifdzi pun menunjukkan bahwa dirinya memiliki bakat untuk bermain dalam film dramatis. Ada semacam kesan yang kuat bahwa humor yang dibangun Hifdzi datang dari ironi.

Sementara Ria Ricis menghadirkan komedi yang memang disengajakan untuk mengolok dirinya sendiri sebagai seorang YouTuber yang kerap bertingkah “jayus” dan “garing”. Keterkaitan seseorang terhadap sebuah humor memang dipengaruhi oleh referensi, tetapi Ria Ricis juga membuktikan bahwa dirinya tak sungkan bertingkah konyol sesuai konteks cerita. Sedangkan Cinta Laura mampu memperlihatkan dirinya sebagai seorang aktor yang berdedikasi. Dia kabarnya melakukan semua adegan laga dalam film ini seorang diri dan menolak untuk memakai stunt-in. Terlepas dari kabar tersebut, Cinta memiliki pesona dan kemampuan untuk meyakinkan penonton bahwa dia memang melakukan semua adegan itu sendiri. Lelucon yang melibatkan dialek dan logat “bule”-nya juga masih efektif, setidaknya, mengguratkan senyuman.

Target menjadi film Raditya Dika yang paling ambisius perihal desain produksi. Pemilihan warna dan set lokasi yang dibangun cermat menambah nilai tersendiri, ditambah dengan kerja kamera efisien arahan Muhammad Firdaus. Saya juga suka pilihan musik elektronik oleh Andhika Triyadi dalam film ini. Musik dalam opening sequence yang dirancang seperti sekuens pembuka film-film thriller klasik era 60’an juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Akan tetapi Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller dengan plot twist serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.

(2,5/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Friday, June 15th, 2018

Running time: 93 minutes

A Soraya Intercine presentation

Executive producer: Ram Soraya

Producer: Sunil Soraya

Co-producer: Rocky Soraya

Director: Raditya Dika

Screenplay: Raditya Dika

Director of photography: Muhammad Firdaus

Editor: Sastha Sunu

Art: Rico Marpaung

Music: Andhika Triyadi

Sound Editing: Khikmawan Santosa

Action choreographer: Yayan Ruhiyan

Casts: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan,  Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Rommy Rafael, Anggika Bolsterli, Ence Bagus.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s