Goethe-Institut Indonesia Invites Aspiring Indonesian Filmmakers to Make Short Films in Germany

“Mentored by Oscar-winning German filmmakers, Pepe Danquart and Bernd Schoch from University of Fine Arts Hamburg, this program is designed for young filmmakers to embark on a challenging journey to encounter a place and tell the story of this place in a short time.”




As part of the project “5 Islands, 5 Villages“, Goethe-Institut Indonesia and InDocs are calling for filmmakers to apply to a film program that allows five Indonesian filmmakers to spend three weeks in an appointed village in Germany to create a short film.

Mentored by Oscar-winning German filmmakers, Pepe Danquart and Bernd Schoch from University of Fine Arts Hamburg, this program is designed for young filmmakers to embark on a challenging journey to encounter a place and tell the story of this place in a short time.

Five German film students have completed this journey by visiting five Indonesian islands in 2016. The short films they created are very intriguing and daring.

It’s now our turn to take the chance and be bold!

The Process:

  1. Call for Applications: Download the application form here and submit completed application, your CV, photo, and links to previous works to indocs.workshop@gmail.com before 15 January 2017.
  2. The Selection process will be conducted by Goethe-Institut Jakarta, In-Docs, and University of Fine Arts Hamburg between January 15- 31, 2017.
  3. 15 pre-selected filmmakers will be announced on February 1, 2017. Fifteen filmmakers will have the opportunity to join a 3-day workshop with Pepe Danquart and Bernd Schoch at Goethe-Institut Jakarta in the last week of February.
  4. At the end of the workshop, five Indonesian filmmakers will be selected to join the second phase of the 5 Islands / 5 Villages program, which will consist of

– Preparation before traveling to Germany

– 3-week program in Germany (April-May 2017)

– Post-production in Indonesia (May-October 2017)

  1. The five Indonesian filmmakers will travel to Germany. Their first stop is Hamburg, to get some orientation at University of Fine Arts Hamburg and also receive filming equipment for the time of their stay. After that, each filmmaker will be accompanied by an English-speaking film student/fixer to their destination village. The filmmakers will live with a German family during their stay in the village for almost three weeks. The filmmakers will conduct their research and production of their short documentary film without any additional crew members. The topic, the story, the angle, the design, and the production of the short documentary will be decided on the spot by each filmmaker. The production also has to be completed within the filmmaker’s stay in the village, as he/she will not have another opportunity to re-visit the village.
  2. At the end of their stay in Germany, the selected five Indonesian filmmakers will join a public presentation along with the German filmmakers from the first project phase to show the 5 Islands films and to discuss the journey of “5 Islands,5 Villages”. They can express what is most surprising, most useful, most unexpected, and most exciting about the experience.
  3. The five filmmakers return to Indonesia and finish the postproduction of their short documentaries in Indonesia (until October 2017), with long-distance mentorship from Pepe Danquart and Bernd Schoch.
  4. The films will be shown in Indonesia together as “5 Islands, 5 Villages”.
  5. The films will be promoted in a festival circuit and then community screenings.
  6. A DVD Box will be made for this project, and it will be distributed non-commercially by Goethe Institute

If you are selected, Goethe-Institut Indonesia will cover the costs of travel to attend the workshop in Jakarta and the costs of travel and stay in Germany for the prescribed amount of time. Some dates are still to be decided, but once you apply, you are committed to attending all mandatory workshops, otherwise the selection is canceled.

This workshop is an opportunity for Indonesian filmmakers to cross boundaries; both physical location boundaries as well as aesthetics and forms. It is a way to explore what beyond what is currently imaginable. The film program also includes exercises and homework that have to be carried out by the filmmakers independently in their own homes before going to Germany.

We are looking for bold filmmakers who are open to new ideas, sensitive to culture differences, independent and committed to the time required to attend the workshops, to conduct the production, and to complete the films. English is the working language of the workshop and the production, so ability in writing and speaking in English is necessary.

The program mainly addresses filmmakers who already have completed one or two short films in any form, but have not yet completed feature-length works.



About The Projects and Partners

The open call is part of the project “5 Islands, 5 Villages” initiated by Goethe Institut and University of Fine Arts Hamburg, which explores different ways of viewing periphery and distance, time and temporality through the medium of documentary filmmaking. During a first phase, young filmmakers from the University of Fine Arts Hamburg immersed themselves in life on five different Indonesian islands, some of them very remote, in March 2016. They were accompanied by young cultural anthropologists from Universitas Indonesia. The second phase of the project, Indonesian filmmakers are invited to spend a short time living and working in different villages in Germany.

The Goethe-Institut is the Federal Republic of Germany’s cultural institute, active worldwide. We promote the study of German abroad and encourage international cultural exchange. More information on the work of Goethe Institut in Indonesia: www.goethe.de/indonesia

In-Docs creates breakthrough programs that will improve the capacity of Indonesian filmmakers, improves access for Indonesian audience to watch documentaries, and connects documentary films to strategic partners that help the films achieve strong impact in the society. www.in-docs.org

The University of Fine Arts Hamburg (Hochschule für bildende Künste HFBK) is the Hamburg state academy of higher artistic and scientific education. With its wide range of subjects, the HFBK offers the opportunity to study for interdisciplinary artistic and scientific qualifications. http://www.hfbk-hamburg.de

Advertisements

Bercermin Dari Sukses Komersil Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 (Bagian Pertama)

September 13, 2016

“Nostalgia tampaknya memang menjadi motor penggerak utama keberhasilan Warkop DKI Reborn dalam menarik minat penonton. Kata sifat tersebut dipadukan dengan keberhasilan strategi marketing Falcon Pictures dalam mempromosikan Warkop DKI Reborn, baik lewat above dan below the lines…”




Hari itu—Kamis, 8 September 2016—saya bergegas menuju sebuah bioskop, CBD Ciledug XXI. Jarak yang jauh dan kepadatan lalu lintas khas pinggiran kota perbatasan Jakarta Selatan dan Tangerang itu tak mengurungkan niat saya untuk pergi ke sana. Motivasi saya satu : menonton Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 ( baca ulasannya)di hari pertama perilisannya untuk khalayak.

Saya sendiri gemar berpindah-pindah lokasi bioskop untuk menonton film Indonesia. Salah satu lokasi favorit saya tentu saja Blok M Square XXI yang selama ini selalu digadang sebagai sentra penonton film nasional. Saya senang menonton film lokal di bioskop-bioskop yang menjadi target utama film nasional yang secara statistik mengatakan ceruk pasar film kita adalah masyarakat menengah ke bawah. Harga tiket yang lebih terjangkau di bioskop-bioskop tersebut yang menjadi alasan utama mereka menonton di sana.

Dua dekade terakhir saat bioskop-bioskop independen lenyap dari tata distribusi dan eksibisi film yang lalu malih rupa menjadi satu grup Cineplex milik korporasi dengan modal kuat, memang harus diakui mengubah pola pikir masyarakat kita dalam memandang film sebagai sarana hiburan masal. Penempatan bioskop-bioskop jejaring cineplex di berbagai pusat perbelanjaan pun turut menjadi salah satu faktor bagaimana bioskop yang pada masa lampau ramai didatangi oleh penonton kelas menengah ke bawah, kini dipandang sebagai kebutuhan tersier. Bukan lagi sekunder. Pertimbangannya tentu saja kondisi ekonomi. Bila dahulu menonton ke bioskop hanya “untuk menonton”, kini godaan untuk menguras kantong pun semakin besar. Penempatan bioskop-bioskop di pusat perbelanjaan membuat konsumen semakin tergoda untuk berbelanja, di luar tujuan utama mereka untuk menonton. Terlebih untuk mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Menonton film di bioskop dalam sebuah mall, berarti mereka harus melebihkan anggaran untuk kepentingan turunan lainnya. Semisal : si anak tetiba merengek minta jajan atau dibelikan sesuatu saat mereka melewati satu gerai; kebutuhan untuk plesir berkeliling seharian di mall yang bersangkutan sembari makan di restoran; hingga membayar tiket parkir yang dihitung per jam. Kita asumsikan satu keluarga kecil dengan satu anak. Harga tiket bioskop sebesar IDR 25 ribu. Kalikan tiga, maka pengeluaran untuk menonton saja sudah IDR 75 ribu. Belum lagi uang jajan dan alokasi dana “mendadak” seperti yang saya sebutkan tadi. Sekali jalan pergi ke bioskop,  maka paling sedikit uang IDR 150 ribu harus mereka siapkan. Bayangkan bila satu keluarga kecil dengan ayah sebagai pencari penghidupan utama hanya memiliki penghasilan setara UMR sebesar IDR 3 jutaan, di mana rata-rata anggaran masyarakat Indonesia untuk pengeluaran hiburan sebesar 15 hingga 20% dari total pemasukan. Anggaran untuk menonton di bioskop pun tentunya juga akhirnya amat diperhitungkan.

Hal itu yang diungkapkan oleh Pak Imron (37), yang duduk di tepat di sebelah saya saat menonton Warkop DKI Reborn. Pak Imron yang tinggal cukup dekat dari CBD Ciledug XXI ini mengajak istri dan seorang anaknya, perempuan berumur 10 tahun. Menurut pengakuan beliau, dia dan keluarganya jarang menonton film di bioskop. Alasannya itu tadi, anggaran untuk leisure activity seperti ini sudah dipangkas demi kebutuhan sehari-hari. Warkop DKI Reborn adalah film kedua yang ditontonnya di bioskop tahun ini, selepas Rudy Habibie (baca ulasannya). Saya bertanya mengapa dia memutuskan untuk mengajak keluarganya dan mengeluarkan bujet untuk menonton Warkop DKI Reborn, jawabannya ternyata untuk bernostalgia dengan film-film Warkop yang menjadi bagian hidupnya di masa muda. Saat saya tanyakan lebih lanjut darimana dia mengetahui adanya film ini, jawabannya cukup mengejutkan dan tak saya sangka.

“Saya melihat novel grafis Warkop DKI Reborn dipajang di Gramedia. Sebelumnya, saya tidak mengetahui bahwa film ini bakal tayang. Dari situ saya memutuskan untuk menontonnya nanti di hari pertama. Itung-itung sekalian mengenang masa muda, “ begitu jawab Pak Imron.

Nostalgia tampaknya memang menjadi motor penggerak utama keberhasilan Warkop DKI Reborn dalam menarik minat penonton. Kata sifat tersebut dipadukan dengan keberhasilan strategi marketing Falcon Pictures dalam mempromosikan Warkop DKI Reborn, baik lewat above dan below the lines, hingga berhasil menciptakan rasa penasaran dan urgensi masyarakat untuk berbondong-bondong membeli tiket pertunjukkannya. Menciptakan suatu gerakan cultural event, di mana suatu prinsip bahwa, “Lu nggak gaul kalo nggak menonton film ini.”. Suatu gerakan yang memicu orang-orang untuk tidak ketinggalan topik pembicaraan di lingkaran pergaulan mereka.

Hasilnya memang terlihat jelas. Antrian mengular di depan loket penjualan tiket. Tak hanya satu baris, tetapi hingga empat baris antrian terlihat menyemut di masing-masing konter.

Saya mengobrol dengan salah satu ibu yang ikut dalam antrian di sebelah saya. Ibu ini mengaku mengetahui tentang Warkop DKI Reborn lewat tayangan televisi, khususnya tayangan infotainment. Dia bahkan tahu persis (lewat televisi) bagaimana di berbagai bioskop, tiket film ini sudah ludes tak bersisa. Informasi tersebut lantas membuat dia rela berdesakan untuk membeli tiket. Ibu ini tak hanya membeli tiket untuk dirinya sendiri. Terlihat di pojok lobi bioskop, beberapa ibu-ibu dan sekelompok anak menunggu dia mengantri, demi mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Ibu ini membeli tiket untuk pertunjukan keempat, yakni sekitar pukul 19:00. Padahal antrian yang saya ada di dalamnya adalah untuk pertunjukan di jam pertama. Dari beberapa penonton yang saya ajak mengobrol, hanya ada 2 pasang muda-mudi yang membeli tiket untuk film lain, yaitu Don’t Breathe.

Benar saja, tiket pertunjukan di jam pertama di bioskop itu pun sudah nyaris ludes. Saya beruntung, karena masih mendapatkan tempat duduk strategis di jam tayang pertama.

Histeria masa menyongsong Warkop DKI Reborn memang bukan main-main. Keberhasilan strategi marketing yang diorkestrasi dengan baik oleh Falcon Pictures berhasil menarik minat masyarakat lintas demografi. Tak hanya seusia Pak Imron atau ibu tadi—yang saya asumsikan memang terpapar film Warkop di zamannya–, melainkan hingga ke remaja, bahkan kanak-kanak.

Buktinya disampaikan oleh seorang ibu lainnya yang saya ajak mengobrol mengatakan bahwa dia mengantri karena dorongan anak-anaknya yang mendesak dia untuk mengajak mereka menontoni Warkop DKI Reborn. Di lain waktu, saya mengobrol dengan sekelompok remaja pria berseragam sekolah. Dari usianya, mereka tentu saja bukanlah generasi yang mengalami langsung lawakan Dono-Kasino-Indro. Dari hasil obrolan kami didapatkan informasi bahwa mereka mengikuti film-film mereka lewat keping VCD atau streaming di YouTube. Para remaja ini mengetahui informasi tentang Warkop DKI Reborn pun dari media internet dan jejaring sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan metode long-tail marketing di era internet juga berdaya ampuh dalam menjadikan karakter dalam film sebagai sebuah jenama dan membuatnya lestari.

Ramainya antrian untuk menonton Warkop DKI Reborn dan film-film nasional komersil lainnya, jelas mendatangkan kebahagiaan bagi pemilik bioskop dan karyawannya.

Seorang penjaga keamanan pintu masuk teater bioskop tempat saya menonton film itu menceritakan bagaimana gembiranya dia menyaksikan kerumunan penonton yang berjubel. Saat hari pertama dirilis, Warkop DKI Reborn hanya diputar di satu teater dengan kapasitas tempat duduk maksimal berjumlah 310. Di jam pertunjukan yang saya ikuti, semuanya ludes terjual. Bahkan hingga ke baris tempat duduk paling depan, yang umumnya dihindari karena tidak memberikan kenyamanan saat menonton.

“Capek, tapi senang, Dik. Rame kayak gini kan nggak setiap hari. Film-film tertentu saja yang diserbu penonton seperti ini. Lebaran kemarin, bioskop ini bahkan memecahkan rekor penonton terbanyak. Sehari bisa 6.500 penonton. Bahkan ngalahin Blok M. Square yang katanya jadi bioskop film Indonesia paling rame, “ demikian ujar penjaga bioskop yang sempat mengobrol dengan saya.

Antusiasme terhadap film nasional seperti yang dialami oleh Warkop DKI Reborn jelas suatu pengaruh amat positif bagi kelangsungan industri film yang melibatkan ribuan tenaga kerja. Dalam sebuah artikel yang dilansir oleh Tribun Jambi, okupansi penonton di jaringan bioskop Cinemaxx bahkan melonjak hingga 200 persen.

“Ramainya antrian untuk menonton Warkop DKI Reborn dan film-film nasional komersil lainnya, jelas mendatangkan kebahagiaan bagi pemilik bioskop dan karyawannya.”



FILM NASIONAL BERLANDASKAN KEKUATAN JENAMA DAN GENRE SPESIFIK

Bila kita amati, film-film nasional yang berhasil meraup angka penjualan tiket di atas satu juta tahun ini memang berlandaskan atas kekuatan jenama. Kekuatan sebuah brand. Tak melulu berlandaskan sebuah sentimen nostalgia.

Kalendar 2016 dibuka oleh keberhasilan Comic 8 : Kasino Kings Part 2 yang berhasil meraup penjualan tiket sebanyak 1.835.644 lembar (data dari situs filmindonesia.or.id). Film tersebut adalah kelanjutan dari Comic 8 : Kasino Kings Part 1 di tahun 2015 yang berhasil mengoleksi 1.211.820 lembar tiket. Bukan kebetulan bila dua film ini juga diproduksi oleh Falcon Pictures, perusahaan produksi di balik Warkop DKI Reborn.

Falcon juga berjaya lewat satu film lainnya yang mereka rilis tahun ini, My Stupid Boss arahan Upi, serta dibintangi oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Film tersebut sukses meraup 3.052.657 lembar tiket hingga akhir theatrical run-nya. Bila digabungkan, Falcon Pictures lewat film-filmnya (bersama Warkop DKI Reborn yang telah berhasil terjual lebih dari satu juta lembar tiket hanya dalam kurun waktu kurang dari lima hari sejak dirilis per 12 September 2016) berhasil menjadi pemegang market share film nasional terbesar sepanjang 2016. Tidak berlebihan bila pandangan tersebut muncul, karena Warkop DKI Reborn masih amat berpeluang terus menambah pemasukan tiket.

Bila diperhatikan lebih jauh, film-film Falcon tersebut ber-genre komedi. Dalam sebuah survei yang dirilis oleh departemen Litbang Kompas di tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 33,4 persen dari 687 responden menyebut bahwa komedi adalah genre film favorit mereka. Selebihnya sebanyak 28,4 persen dan 18,4 persen secara berturut-turut lebih memilih genre percintaan (romance) dan aksi (action). Menilik dari hasil survei tersebut, kesuksesan komersil film-film yang diproduksi Falcon Picture tahun ini dapatlah dimengerti.

Film bergenre komedi memang mendominasi daftar sepuluh besar film nasional terlaris sampai bulan kesembilan di kalendar 2016 berdasarkan data di filmindonesia.or.id. Ada lima film komedi, yaitu : My Stupid Boss (peringkat kedua), Koala Kumal (peringkat keempat, 1.863.541 tiket), Comic 8 Kasing Kings Part 2 (peringkat kelima), Talak 3 (peringkat kesembilan, 567.917 tiket) dan Modus (peringkat kesepuluh, 382.342 tiket).

Jumlah masuknya film ber-genre komedi di daftar sepuluh besar film nasional terlaris di tahun ini mengalami peningkatan. Di tahun 2015 terdapat empat film komedi dan satu tahun sebelumnya hanya ada tiga (dengan Comic 8 memuncaki).

Film ber-genre drama percintaan pun tahun ini diwakili oleh tiga film : Ada Apa Dengan Cinta 2 (baca ulasannya)(peringkat pertama, 3.665.509 tiket), ILY from 38.000 ft (peringkat keenam, 1.574.576 tiket) dan London Love Story (peringkat ketujuh, 1.124.876 tiket). Unsur kisah percintaan sebenarnya juga terdapat di berbagai film komedi tanah air, meski memang tidak dominan seperti film-film yang secara lugas menempatkannya dalam porsi terbesar penceritaan.

Bila ditelaah secara genre dan merujuk pada hasil survei litbang Kompas tadi ; komedi, percintaan dan aksi memang merupakan tiga jenis film yang selaras dengan tujuan utama film sebagai produk budaya masal sebagai sarana eskapisme. Bersama horor, ketiga genre tersebut sudah memberi penonton bayangan jelas akan apa yang mereka dapatkan saat membeli tiketnya. Dengan kata lain, ketiga genre itu sudah membentuk jenama mereka sendiri. Dalam sebuah film komedi, penonton tentu mengharapkan dapat melepas tawa sehabis beraktivitas sehari-hari. Lewat cerita romansa, penonton berharap dapat terbuai dengan kisah mengharu biru yang akan membawa mereka kepada sebuah ilusi yang indah-indah. Melalui film aksi, penonton dapat menyalurkan amarah dan ekspresi anarkis mereka lewat adegan-adegan bak-bik-buk dan destruktif yang umumnya didapat lewat genre ini. Di film horor, ketakutan dan paranoia menjadi komoditas utama.

“Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah karena film horor nasional sudah terlanjur identik dengan “film murahan”….Meski memang nilai intelektual sebuah karya seni (termasuk film) sedikit hubungannya dengan intelektualitas orang yang menikmatinya.”



HOROR TAK LAGI JADI PRIMADONA, MARKETING “MISTERI”

Menarik bila ditelisik bahwa film nasional bergenre horor tak satu pun menempati daftar film terlaris sejak tahun 2013. Terakhir film horor produksi nasional yang berhasil melakukannya adalah 308, arahan Jose Purnomo (produksi Soraya Intercine Films), dan film Taman Lawang arahan Aditya Gumay. Kedua film tersebut di tahun 2013 berturut-turut menduduki peringkat kesembilan dan keenam dalam sepuluh besar film terlaris di tahun itu dengan membukukan penjualan tiket, masing-masing, sebesar 358.507 dan 526.761 lembar tiket.

Taman Lawang pun tak murni horor. Film itu menyelipkan elemen komedi yang kental di dalamnya. Nama almarhum Olga Syahputra yang identik dengan lawakan dan memiliki basis penggemar kuat merupakan faktor utama tingginya angka penjualan, bila dibandingkan dengan ongkos produksi. Penonton tahu apa yang diharapkan dari jenama Olga Syahputra yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

Menarik memang bila dianalisis lebih lanjut mengapa film horor nasional tak lagi menduduki peringkat sepuluh besar film terlaris, digantikan oleh komedi. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah karena film horor nasional sudah terlanjur identik dengan “film murahan”. Hanya mengandalkan kisah horor supranatural dan elemen jump-scares yang seringkali malah sosok mistis yang menjadi karakter antagonis kelewat dieksploitasi, tanpa memperdulikan kekuatan penceritaan, elemen teknis dan production value. Film horor memang relatif lebih murah dalam ongkos produksi karena genre ini sudah kuat sebagai sebuah jenama dan memiliki segmen penonton sendiri, maka keuntungan pun diperoleh berlipat-lipat. Kemalasan dan jiwa pedagang kelontong para produser pun lantas membuat minat penonton terhadap film horor nasional mencapai titik nadir. Tak lagi mengindahkan kekuatan naskah, pengadeganan dan tata produksi. Fakta menunjukkan, tak lagi ada film horor selepas tahun 2013 yang masuk dalam daftar film terlaris. Mengindikasikan bahwa penonton sudah malas dan jenuh, serta tidak percaya dengan film horor nasional sebagai sebuah jenama.

Bergantilah minat para penonton film Indonesia ke film-film komedi.

Padahal rasa takut yang menjadi komoditas utama film horor itu bersifat universal. Beda dengan komedi yang bersifat subjektif. Orang-orang memiliki definisi yang sama terhadap rasa takut, yaitu dalam menghadapi sesuatu yang tidak mereka kenal atau memiliki wujud fisik menyeramkan. Komedi, di sisi lain, memiliki kaitan dengan budaya, intelektual dan cita rasa. Meski memang nilai intelektual sebuah karya seni (termasuk film) sedikit hubungannya dengan intelektualitas orang yang menikmatinya. Tapi latar belakang intelektualitas seseorang akan berpengaruh pada cara pandangnya terhadap sebuah materi komedi. Itu sebabnya, kebanyakan film-film komedi amat jarang dalam mencapai suatu konsensus kesepakatan yang universal. Kebanyakan film komedi memecah belah penonton : antara suka dan tidak.

Namun, yang hilang dari film horor nasional adalah unsur misteri. Suatu elemen yang semestinya diperhatikan dalam penyampaian cerita atau strategi marketing. Ironisnya, unsur misteri ini yang menjadi salah satu faktor yang membuat Warkop DKI Reborn menarik minat penonton.

Kita bisa tengok ke belakang saat pertama kali isu bahwa film tentang Warkop DKI akan diproduksi. Lewat internet berseliweran foto (yang lebih menyerupai sebuah konsep teaser poster) tampak punggung tiga orang dalam busana montir warna-warni yang di punggung mereka masing-masing bertuliskan “ Dono. Kasino. Indro” di sekitar bulan April atau Mei 2016. Bagi yang akrab dengan film-film Warkop, kostum montir warna-warni itu mengingatkan pada kostum serupa yang mereka gunakan di film IQ Jongkok (1981) di mana trio komedian itu berburu harta karun.

Tentu saja pelepasan teaser poster itu adalah bagian dari orkestrasi rencana marketing dan sebagai sebuah materi promosi awal yang memang ditujukan untuk “menggoda”, serta mengukur respon penonton. Rencana itu berhasil dan brilian. Dibantu oleh media buying yang dilakukan Falcon Pictures untuk memberitakan berbagai artikel terkait, strategi marketing itu berjalan mulus. Terlepas sentimen negatif atau positif yang dilepaskan ,orang-orang mulai bereaksi dan membicarakannya. Mereka lantas mencari tahu dan mengikuti segala pemberitaan terkait produksi film ini, terutama terkait siapa yang akan memerankan Dono-Kasino-Indro dan Falcon Pictures tinggal menjaga ritme dan tempo pemberitaan.

Sentimen negatif dan sikap skeptis memang mengiringi berbagai pemberitaan terkait Warkop DKI Reborn. Khususnya mengenai sutradara dan tentang keputusan “menghidupkan kembali” trio komedian ini ke layar lebar. Memang bukan hal yang mengagetkan bila sikap skeptis terhadap Anggy Umbara sebagai sutradara tercipta. Opini para penikmat film terhadap karya-karya feature-nya memang terpecah, di mana hal itu bisa terlihat lewat reaksi terhadap seri Comic 8 dan 3 Alif Lam Mim.

Reaksi negatif dan sikap skeptis terhadap Warkop DKI Reborn juga muncul dari penggemar berat trio komedian ini. Mayoritas mereka beranggapan bahwa sosok ketiganya tak tergantikan. Bagi mereka, Dono-Kasino-Indro ya Dono-Kasino-Indro. Suatu keputusan yang absolut dari para penggemar. Reaksi ini makin keras saat format penceritaan dan aktor-aktor yang memainkan ketiga tokoh tersebut sudah diumumkan. Beberapa rekan saya yang merupakan penggemar berat Warkop, bahkan sudah membulatkan tidak akan menonton film ini.

“Bagi saya Warkop ya Warkop. Seberapa hebat make-up dan efek untuk “melahirkan” mereka kembali di film, saya tidak akan menonton,” begitu ujar salah satu rekan yang menolak disebutkan namanya.

Reaksi para penggemar Warkop garis keras itu bisa dimaklumi. Grup lawak tersebut memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Ada ikatan emosional yang sudah kuat terjalin antara Warkop dan para penggemar jenis ini. Hubungan mereka tak lagi antara sebuah jenama dengan konsumennya. Lebih dari itu karena sudah melibatkan rasa percaya.

Menumbuhkan rasa percaya di kalangan penggemar setia Warkop DKI memang menjadi tugas terberat Falcon Pictures. Dari segi usia, para penggemar tersebut sudah berusia matang, bahkan banyak di antara mereka yang sudah memiliki profesi dan status berpengaruh di masyarakat. Oleh sebab itu, maka  istilah komunikasi untuk memperhalus “penyajian kembali “ Warkop DKI ke layar lebar adalah sebagai upaya tribute. Sebuah penghormatan.

“Peremajaan jenama (brand rejuvenation) dan pelanjutannya (brand continuation) sebenarnya juga dilakukan oleh Ada Apa Dengan Cinta 2 produksi Miles Film. “



PEREMAJAAN JENAMA (BRAND REJUVENATION)

Padahal sebenarnya yang dilakukan oleh Falcon Pictures terhadap Warkop DKI adalah bentuk peremajaan jenama (brand rejuvenation), yaitu suatu proses memperbaharui tampilan dan rasa dari suatu merek, tanpa mengotak-atik pondasi utamanya. Peremajaan jenama ini kemudian berujung pada upaya melanjutkannya (brand continuation) ke target konsumen generasi baru. Hal yang wajar dalam bisnis apa pun, termasuk film. Terlebih Warkop DKI sebagai sebuah merek dagang, sudah lebih dari satu dekade “tertidur”.

Peremajaan jenama (brand rejuvenation) dan pelanjutannya (brand continuation) sebenarnya juga dilakukan oleh Ada Apa Dengan Cinta 2 produksi Miles Film. Warkop dan AADC sebagai punya kesamaan, yaitu : punya basis penggemar kuat, sama-sama menjadi bagian kultur populer dan sudah “tertidur” selama satu dekade lebih. Ketiga unsur tersebut pula yang berhasil membuat kedua filmnya menciptakan sentimentil nostalgia dan berimbas pada penjualan tiket yang tinggi.

Tapi ada hal penting yang membedakan keduanya, yaitu bagaimana para pemeran yang menghidupkan jenama kedua film itu melakukan personifikasi terhadap karakter mereka di film.

Memang karakter Cinta dan Rangga sudah terlampaui identik dengan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Kelekatan imej kedua karakter fiktif dengan kedua aktor itu pulalah yang membuat upaya pengembangan kisah AADC ke bentuk sinetron mengalami kegagalan. Hanya saja, setidaknya, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra mencoba berbagai peran lain selepas AADC pertama hingga kedua. Bentang waktu lebih dari satu dekade, sudah cukup bagi para penonton untuk menyadari bahwa karakter Cinta bukanlah diri sebenarnya Dian Sastro. Pun karakter Rangga bukanlah Nicholas Saputra yang sesungguhnya.

Karakter Dono-Kasino-Indro justru kebalikannya.

Mereka sudah identik dengan tiga anggota Warkop selama berpuluh-puluh tahun, menciptakan personifikasi abadi dan saklek atas orang-orang yang memainkannya. Para penggemar sudah kadung tak bisa memisahkan antara Drs. H. Wahyu Sardono yang seorang dosen dan akademisi dengan Dono di Warkop; tak bisa membedakan antara Drs. Kasino Hadiwibowo dengan karakter Kasino Warkop; serta tak dapat mengenali mana Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro dengan Indro Warkop yang kerap berlogak Batak dalam perannya.

Para penggemar kadung melihat trio Warkop dan karakter panggung mereka sebagai satu kesatuan sehari-hari. Mereka tak bisa membedakan antara mana yang “permainan karakter di film” dan “mana yang asli”. Karena mereka memang memainkan lakon yang sama selama berpuluh tahun, tanpa mencoba variasi lain, dan itulah yang dilihat masyarakat. Hal yang sama juga terjadi di banyak komedian dari grup, seperti Tessy atau Gogon Srimulat.

“Karena itulah kunci keberhasilan suatu produk seni seperti film terletak pada pondasi fundamental yang melibatkan rasa percaya (trust).”



PRODUK KESENIAN SEPERTI FILM BERLANDASKAN RASA PERCAYA (TRUST)

Maka tak mengherankan bila kemudian ada barisan penggemar fanatik Warkop yang kemudian menolak ide peremajaan jenama ini. Bagi mereka, bila ada upaya untuk memfilmkan Warkop yang paling layak adalah format film biografi. Padahal Warkop bukanlah soal almarhum Wahyu Sardono, almarhum Kasino Hadiwibowo dan Indrodjojo Kusumonegoro. Warkop sebagai jenama adalah tentang karakter panggung mereka dan bentuk lawakan yang mereka ciptakan. Itulah yang membuat upaya Falcon Pictures untuk “menghidupkan” mereka kembali, secara bisnis, amatlah masuk akal.

Upaya mengembangkan sebuah film menjadi satu jenama memang lebih kompleks dan tak sesederhana menciptakan suatu merek dagang di produk lain, seperti makanan atau elektronik. Dalam film dan produk kesenian lainnya, dilibatkan sebuah penceritaan (storytelling) yang melibatkan sisi kejiwaan dan emosional. Karena itulah kunci keberhasilan suatu produk seni seperti film terletak pada pondasi fundamental yang melibatkan rasa percaya (trust). Ketika kita membaca sebuah buku, mendengarkan album musik, atau duduk di ruangan gelap saat menonton sebuah film di bioskop, kita harus mempersiapkan diri untuk menyerahkan jiwa, emosi dan pemikiran demi masuk ke dunia yang dibangun oleh para insan kreatif yang menciptakannya. Menyerahkan diri kita kepada lantunan irama musik dan rangkaian cerita yang datang dari otak dan pemikiran orang lain yang tidak kita kenal secara personal. Saat kita menonton sebuah film, kita dalam sebuah situasi di mana kita akan memasrahkan dan bersiap untuk masuk ke sebuah ilusi berbentuk realita di layar, yang kita relatif tidak punya kuasa terhadap hasil akhirnya. Atau, setidaknya dalam konteks film yang sudah menjadi jenama seperti milik Warkop, kita mencoba memahami interpretasi orang lain atas sebuah bentuk sajian naratif yang kita sudah akrab.

Sebagai sebuah produk, film juga memiliki keterbatasan dalam hal bentang waktu (window of exhibition). Terlebih di era digital di mana proses produksi menjadi relatif lebih cepat yang membuat lahirnya film-film baru dalam satu pekan di bioskop menjadi lebih banyak. Saat ini sebuah film rata-rata hanya bertahan di bioskop dalam kurun waktu selama dua hingga tiga pekan. Unsur kepercayaan yang kemudian membuat penonton akhirnya memutuskan untuk membeli tiket sebuah film. Mereka akan menyaksikan kisah yang mereka kenal dan merasa tertarik terhadapnya. Untuk itulah suatu upaya promosi dan marketing yang efektif, serta seringkali masif, ke semua lini dan target market menjadi amat penting. Masalah yang kemudian timbul adalah mahalnya biaya promosi dan marketing tadi. Seorang produser tentunya memiliki perhitungan tersendiri dalam menilai potensi komersil sebuah film yang diproduksinya. Oleh karena itu, maka tak mengherankan, bila produser yang ingin agar filmnya mencapai nilai balik investasi (return of investment) cenderung lebih suka memproduksi film-film yang sudah memiliki basis penggemar kuat atau sudah menjadi sebuah jenama.

Itulah sebabnya praktik yang disebut remake, reboot, sekuel, adaptasi buku atau materi yang sudah dirilis sebelumnya menjadi suatu keniscayaan. Hal Itu karena, paling tidak, tim marketing  lebih menghemat tenaga dan biaya dalam upaya mereka memperkenalkan sebuah film. Tinggal bagaimana mereka memilih materi awal yang tepat dalam memulai sebuah kampanye promosi untuk menciptakan rasa penasaran. Seperti yang terjadi dalam Warkop DKI Reborn atau AADC 2.

*Art-icle(s) ini akan berlanjut ke bagian kedua yang akan membahas lebih lanjut mengenai apa yang membuat film-film seperti Warkop DKI Reborn bisa meraih pencapaian komersil, beberapa contoh nostalgia yang gagal,  apa pengaruhnya terhadap industri secara keseluruhan dan pentingnya resensi (kritik film) terhadap keseimbangan di industrinya.

(by @Picture_Play)

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 : Hit And Miss Teaser, Sinopsis Resmi

Falcon Pictures  beberapa jam lalu merilis teaser trailer salah satu film andalan mereka, Warkop Reborn : Jangkrik Boss! (baca review dan analisis kami di sini).  Proyek yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Comic 8 series, 3 : Alif Lam Mim) ini memang mengundang perhatian penikmat film, sejak  concept photo yang memperlihatkan tampak punggung tiga orang dalam balutan kostum pekerja warna-warni dengan tulisan Dono-Kasino-Indro , beredar di berbagai platform online pada April  2016 lalu.

Sejak itu pembicaraan mengenai proyek film ini terus bergulir dan menjadi buah bibir. Dengan memakai pola yang menyerupai mystery box marketing, pihak Falcon Picture perlahan-lahan merilis secuil demi secuil informasi.  Sempat terjadi “kebocoran” foto para aktor yang diyakini sebagai pemeran ketiga legenda komedi anggota asli Warkop DKI yang membuat pembicaraan makin hangat, ditanggapi dengan “iya-iya-nggak” oleh pihak Falcon.

Awal Juni lalu, akhirnya Falcon Picture mengkonfirmasi bahwa Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro yang memerankan secara berturut-turut karakter Dono, Kasino dan Indro, melalui teaser poster bergaya karikatur yang mewakili era 80-an, masa kejayaan trio pelawak tersebut.

Teaser trailer yang dirilis nyaris satu bulan setelah teaser poster-nya, kembali memberikan kita informasi tambahan. Bahwa Warkop Reborn dimaksudkan sebagai nostalgia.

Hal tersebut jelas ditampilkan.  Abimana, Vino dan Tora dalam perannya masing-masing, mengenakan kostum polisi patrol lalu lintas , CHIPS, membuka teaser berdurasi 3 menit ini.

Elemen nostalgia semakin kentara, saat ketiga aktor bersama dengan Indro (satu-satunya anggota asli Warkop DKI yang masih hidup), menyenandungkan theme-song ikonis berjudul Warung Kopi dalam gaya mengamen di pinggir jalan.

Sekuens mengamen tersebut kemudian berkelindan dengan berbagai cuplikan adegan yang merekonstruksi adegan dan celotehan terkenal dari setiap film populer Warkop DKI.

Tidak hanya CHIPS, parodi serial drama televisi era 80-an yang dibintangi Erick Estrada, yang kemudian menelurkan jargon “Jangkrik Boss!” dan menjadi sub judul Warkop Reborn saja yang direkonstruksi. Juga sederet judul-judul film terkenal trio komedian tersebut, mulai dari Dongkrak Antik (1982), Sama juga Bohong (1986), Salah Masuk (1992), Tahu Diri Dong (1984), Setan Kredit (1981), IQ Jongkok (1981), Maju Kena Mundur Kena (1983), hingga Gengsi Dong (1980).

Konsep teaser yang diusung Anggy Umbara ini, kemudian membuatnya terasa seperti video musik. Terasa segar, tapi kemudian terasa terlalu panjang untuk sebuah teaser trailer.

Suasana emosional sebagai tribut sebenarnya sudah didapatkan, tatkala ketiga aktor pemeran anggota Warkop DKI bersama Indro, menembangkan theme-song Warung Kopi. Kredit khusus pemberi suasana emosional, patut pula diberikan kepada Abimana Aryasatya, salah satu aktor berbakat Indonesia yang kerap terlupakan, karena secara fisik, gestur, dan suara amat menyerupai mendiang Dono.

Akan tetapi, elemen tribut dan nostalgia ini sejujurnya justru terasa kontradiktif dengan berbagai adegan rekonstruksi yang menampilkan tiga aktor pemeran utama dan semestinya bisa menunjukkan kemampuan komedi mereka.  Jika saja teaser trailer ini memakai potongan dari film-film asli Warkop DKI, maka fungsinya sebagai pembangkit nostalgia dan sekaligus jembatan untuk memperkenalkan aktor-aktor barunya, akan lebih efektif dan lebih mampu membangkitkan suasana haru.

Kendala untuk menampilkan potongan-potongan film asli WARKOP DKI tentu saja bisa disebabkan oleh masalah copyright. Meski memang konsekuensinya adalah teaser trailer Warkop Reborn terasa hambar. Tak bisa dipungkiri bila kita mendengar Warkop DKI, maka pikiran akan kita mengasosiasikannya ke adegan slapstick pengocok perut, sesuatu yang justru tak dihadirkan di teaser-nya.

EKSLUSIF : PLOT DAN SINOPSIS RESMI WARKOP REBORN : JANGKRIK BOSS!! PART 1.

Teaser trailer yang dirilis ini adalah materi marketing promosi dari Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 . Falcon Pictures sepertinya berusaha mengulang pola yang pernah mereka terapkan di film Comic 8 : Casino King yang dipecah menjadi dua bagian dan berhasil meraup penjualan total tiket lebih dari 3 juta lembar bila digabungkan.

Dari sebuah sumber, didapatkan informasi bahwa sinopsis Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 adalah tentang Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) yang merupakan anggota satuan polisi khusus, CHIPS. Suatu ketika mereka melakukan kelalaian sewaktu melaksanakan tugas, yang kemudian mengakibatkan kekacauan dan membuat mereka bertiga harus menanggung seluruh kerugian. Saat bingung mencari uang untuk membayar kerugian, mereka bertiga mendapatkan sebuah petunjuk ke lokasi yang dipercaya tersimpan harta karun. Trio jenaka yang sedang ketiban sial ini kemudian memutuskan untuk mencari harta karun, demi membayar  semua hutang.

Dikatakan pula bahwa plot dan premise Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 dan Part 2 adalah gabungan antara tiga film ikonis Warkop, yaitu CHIPS, IQ Jongkok, dan Setan Kredit.

Proses syuting untuk Part 1 dan Part 2 dilaksanakan sekaligus dan memakan waktu selama 35 hari. Naskahnya ditulis oleh Anggy Umbara, Andy Awwe Wijaya dan Bene Dion Rajagukguk. Anggy Umbara merangkap sebagai sutradara, sementara film ini merupakan debut bagi Andy dan Bene sebagai penulis naskah film layar lebar.

Film ini juga turut dibintangi oleh Hannah Al Rashid, Agus Kuncoro dan aktris asal Malaysia, Fazura.

Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 rencananya akan tayang pada 8 September 2016, sementara belum diketahui jadwal tayang Part 2-nya.

 

Bagaimana menurut kalian teaser trailer Warkop Reborn : Jangkrik Boss! ? Silahkan untuk berkomentar dan berdiskusi di seksi komentar di bawah ini.

 

 

 

 

SPOTLIGHT: Mungkinkah Indonesia Memiliki Film Seperti Ini?

“Ada sebuah pertanyaan mengemuka di benak saya setelah menonton Spotlight. Mungkinkah perfilman tanah air memproduksi sebuah film seperti Spotlight?

Atau lebih tepatnya, Mampukah?”




Euforia gegap gempita perayaan Oscar 2016 memang sudah berakhir. Orang-orang di jejaring sosial online sudah berhenti membicarakan bagaimana gembiranya mereka melihat Leonardo DiCaprio akhirnya meraih Oscar. Tapi ada satu film yang terus menimbulkan efek berantai hingga saat ini. Sebuah film yang, ironisnya sampai sekarang, masih banyak yang mempertanyakan mengapa bisa memenangkan Oscar sebagai film terbaik.

Film itu adalah Spotlight.

Bisa dimaklumi mengapa banyak penikmat film (bahkan ada filmmaker) yang mempertanyakan keabsahan dan kapasitas Spotlight sebagai film terbaik Oscar. Film ini bukanlah film yang jor-joran secara visual. Bukan pula film dengan adegan termehek-temek berderai air mata, teriakan yang mengeluarkan seluruh otot leher dan mata melotot penuh amarah. Tapi, Spotlight adalah film dengan craftsmanship luar biasa dan sangat terencana. Anda bisa membaca argumen saya di resensi dan analisis.

Argumen saya tentu bukanlah kebenaran hakiki dan absolut yang tidak bisa diperdebatkan. Tapi, bila menilik berbagai efek berantai yang ditimbulkan Spotlight, terutama paska kemenangannya di Oscar, Anda yang masih ragu harus mengakui bahwa efek seperti ini hanya bisa dibuat oleh sebuah great film.

Usai pengumumannya sebagai film terbaik Oscar, beberapa korban kasus pelecehan pedofilia angkat bicara ke media. Bahkan beberapa karakter nyata yang digambarkan di Spotlight pun akhirnya berani unjuk suara, membenarkan penggambaran di film tersebut, setelah bungkam selama bertahun-tahun.

Spotlight berhasil menggugah hati nurani seseorang seusai menontonnya. Hal tersebut dikarenakan bahwa film ini terasa otentik dan genuine, meskipun merupakan dramatisasi dan interpretasi filmmaker berdasarkan rangkaian artikel investigasi yang diterbitkan koran The Boston Globe dalam rubrik khusus Spotlight di awal tahun 2002.

Sebagai sebuah film feature, tentu banyak penafsiran dari filmmaker yang kemudian memicu pertanyaan mengenai tingkat keakuratan kisahnya terhadap kejadian aslinya. Namun yang membuat Spotlight terasa otentik dan genuine adalah keputusan sutradara Tom McCarthy untuk menggarap kisahnya dengan sederhana, bersahaja dan dalam treatment yang tepat. Keputusan tersebut lantas membuat Spotlight terasa seperti sebuah rekonstruksi proses investigasi aslinya. Film ini berhasil meyakinkan penonton untuk percaya terhadap kisahnya. Bahwa film ini berhasil mencapai sebuah tujuan yang sejatinya mesti dicapai oleh semua film—tak masalah apapun genre-nya—untuk membuat penonton believe in the story.

Ada sebuah pertanyaan mengemuka di benak saya setelah menonton Spotlight. Mungkinkah perfilman tanah air memproduksi sebuah film seperti Spotlight?

Atau lebih tepatnya, Mampukah?



Kendala Teknis, Sistem dan Bujet

Secara teknis dan teori, film seperti Spotlight amat mungkin untuk dibuat oleh sineas tanah air. Spotlight adalah sebuah film drama, sebuah teritori yang masih mendapatkan porsi terbesar di bisnis perfilman Indonesia. Data statistik mengungkapkan bahwa sebanyak 52,68% dari total 3.595 film yang diproduksi di Indonesia dari era 1930’an hingga sekarang adalah ber-genre drama. Bahkan dua di antara tiga film yang mendapat Piala Antemas ( penghargaan untuk film Indonesia yang mampu meraih ticket admissions satu juta ke atas) adalah film ber-genre drama; Surga Yang Tak Dirindukan (produksi MD Entertainment) dan Single.

Dari aspek teknis, Spotlight juga adalah tipikal film yang tidak menuntut penggunaan elemen teknis extravaganza atau efek khusus mahal. Film ini amat bersahaja dari segi teknis dan sinematografi. Spotlight juga tidak membangun set. Syuting dilakukan di kantor asli Boston Globe, serta outdoor di wilayah perkotaan di wilayah Boston dan Kanada. Meski memang pertanyaan lebih krusial terkait persiapan dan perencanaan matang dalam tahapan pra-produksi, yang harus jujur diakui, membutuhkan energi dan bujet besar.

Sutradara Tom McCarthy dan timnya membutuhkan waktu 4 tahun hanya untuk riset dalam upaya mereka mengumpulkan detail informasi dan melakukan rekonstruksi proses investigasi tim Spotlight. Setelah itu dibutuhkan beberapa tahun lagi untuk menulis naskah dan menentukan treatment yang tepat. Hasilnya memang tidak bisa dipungkiri. Meski tidak didukung oleh ambisi pencapaian sinematis, film ini berhasil menyampaikan hasil kerja keras mereka lewat detail dan presisi.

Dalam hal persiapan pra-produksi inilah kendala terbesar bagi Indonesia untuk memiliki film seperti Spotlight. Bukan rahasia lagi, bila mayoritas film Indonesia dikerjakan dalam timeline produksi serba mepet. Riset biasanya hanya dilakukan hanya dalam waktu 2-4 bulan, itupun seringkali termasuk tahapan pra-produksi. Riset detail dan mendalam memang membutuhkan komitmen, kerja keras dan dana tak sedikit. Dengan rata-rata biaya produksi sebuah film drama Indonesia di kisaran antara 2-5 miliar rupiah (sekitar 150 ribu-400 ribu US dollar), dana untuk riset hanyalah maksimum di kisaran 5-10% dari total bujet produksi. Kalaupun sebuah film drama memiliki bujet lebih dari 5 miliar, produser film Indonesia lebih memilih untuk melakukan syuting di luar negeri yang menawarkan lansekap dan pemandangan “mewah” demi kepentingan sinematografi. Pilihan melakukan syuting di luar negeri memang lebih seksi dan masuk akal dari segi pertimbangan komersial. Scenery dan kondisi outdoor di luar negeri yang terjaga baik, akan bisa meningkatkan production value. Jauh lebih ekonomis ketimbang mengalokasikan dana untuk riset seperti yang dibutuhkan di film seperti Spotlight.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa meskipun Spotlight adalah salah satu film produksi Hollywood yang paling tidak glamor, film ini merupakan simbol kekuatan dan kedigdayaan industri film Amerika Serikat. Bayangkan saja, bujet untuk Spotlight adalah 15 juta dollar, beratus kali lipat dari film drama produksi Indonesia. Untuk memproduksi film seperti ini memang dibutuhkan niat baik dan tekad kuat, serta perhitungan bisnis dan marketing cermat. Dengan perputaran uang di bisnis film Amerika Serikat yang mencapai ratusan triliun per tahun, bujet yang dihabiskan untuk memproduksi Spotlight seperti “uang receh” bagi studio besar. Dalam sebuah industri yang sudah establish seperti Hollywood, setidaknya dibutuhkan 5-6 film yang bisa meraup pundi-pundi di atas 400 juta dollar demi membuat satu film seperti Spotlight. Karena, bahkan di Amerika pun, film seperti Spotlight bukanlah film yang ditujukan untuk meraup marjin laba fantastis.

Tapi terkait bujet produksi, harap diingat pula bahwa cost pembuatan di Asia dan Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan di Amerika atau Kanada. Sebagai perbandingan bujet 15 juta dollar yang dihabiskan oleh Spotlight, bisa dipakai untuk membuat sebuah film epik seperti Crouching Tiger, Hidden Dragon arahan Ang Lee (tentu belum dihitung laju inflasi). Dari perspektif tersebut, tentunya untuk membuat film seperti Spotlight di Indonesia akan membutuhkan bujet jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan bila dibuat di Amerika.

Spotlight dan film-film “kecil” sejenisnya, bisa dibuat karena industri film Amerika sudah terbangun baik secara sistematis, dari hulu ke hilir. Sistem distribusi dan mekanisme awards season yang baik, menjadikan Spotlight mempunyai marketnya sendiri, meskipun niche market. Itu sebabnya Spotlight memulai kiprahnya di berbagai festival film dan terus membangun hype-nya dari sana. Puncaknya adalah saat film ini meraih Best Picture Oscar (sebuah ajang penghargaan film paling prestisius di dunia), ticket sales-nya pun melonjak tajam, termasuk di pasar internasional seperti Indonesia. Harus jujur diakui, berapa banyak dari kita yang tertarik menonton Spotlight sebelum film ini memenangkan Oscar? Kalau pun ada, yang tertarik adalah yang benar-benar merupakan penikmat film sejati.



Perfilman Indonesia Sebenarnya Akrab Dengan Tema Jurnalisme

Lalu pertanyaan selanjutnya mengemuka, bagaimana dari segi SDM filmmaker Indonesia?

Film yang murni berfokus tentang jurnalisme di Indonesia memang belum pernah diproduksi. Kalaupun ada film yang menyinggung tentang jurnalis, hanyalah mengetengahkan kehidupan jurnalis sebagai tempelan dan digambarkan dalam stereotipe wartawan yang ada di benak masyarakat awam.

Wartawan sebagai sosok yang kumal dan dekil, gaya hidup serampangan, hidup di kostan atau dengan gaji pas-pasan. Sosok wartawan biasanya dihadirkan sebagai karakter dalam film-film bertema komedi atau drama percintaan dan oedipal romance seperti di film Secangkir Kopi Pahit (1985) arahan Teguh Karya, di mana wartawan umumnya merupakan karakter seorang pria dan digambarkan sebagai karakter edgy dan eksentrik.

Karakter wartawan hadir di film-film seperti Kejar Daku Kau Kutangkap (1988) atau film klasik bertema spionase yang dibintangi oleh almarhum Dicky Zulkarnaen yang berjudul Senja di Pulo Putih (Penghancuran Sarang Sindikat) rilisan tahun 1978. Sosok wartawan perempuan pernah juga dihadirkan lewat sosok Tamara Blezyinski di film Issue  (2004) atau Laura Basuki di film Republik Twitter (2012) yang sayangnya tidak didasarkan pada riset mendalam mengenai kehidupan jurnalistik dan masih pada tahapan superficial. Serta masih ada beberapa judul film lain yang memiliki karakter wartawan di dalamnya.

Kesemua film yang disebutkan itu, hanya menampilkan elemen jurnalisme sebagai ornamen cerita. Bukan inti cerita. Memang pernah ada satu tayangan yang memiliki porsi besar dalam menceritakan kehidupan jurnalis investigasi, yaitu miniseri berjudul Dunia Tanpa Koma (DTK) yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan naskahnya ditulis oleh wartawan Tempo/penulis, Leila S. Chudori, yang sempat tayang di salah satu televisi swasta di sekitar pertengahan era 2000’an. Sayangnya miniseri tersebut tidak mendapat respon (rating) baik dan harus dihentikan. Tapi, hakikatnya, belum pernah film feature dengan fokus jurnalisme investigasi di Indonesia. Terlebih sebuah film tentang jurnalisme berdasarkan hasil jurnalisme investigasi.

Berbagai referensi di atas menunjukkan bahwa filmmaker Indonesia sebenarnya tidak “anti” dalam mengerjakan film berlatar dunia jurnalistik. Meski dengan kondisi perfilman Indonesia beberapa tahun belakangan yang membuat saya bertanya-tanya tentang adakah penulis naskah dan produser film Indonesia yang memiliki niat baik, tekad kuat, dan kapabilitas untuk membuat sebuah film tentang jurnalisme yang mengupas sebuah isu lokal, namun bisa diterima secara universal tanpa memandang batasan geografis dan geopolitis.

Tetapi jelas salah satu kendala terbesar bagi film seperti Spotlight untuk dibuat di Indonesia adalah perhitungan bisnis dan return of investment.

“…apakah media di Indonesia sendiri memiliki bahan komprehensif untuk diangkat menjadi sebuah film seperti Spotlight? Atau pertanyaan lebih mengerucut lainnya, apakah media punya keberanian untuk memaparkannya?”



Apakah Jurnalisme di Indonesia Sudah Mendukung? Kebebasan Dan Independensi Pers Dipertanyakan

Hal tersebut sebenarnya ironis, mengingat banyak kasus dan kejadian besar di Indonesia yang berpotensi untuk diangkat sebagai obyek penceritaan di film tentang jurnalisme.

Kasus-kasus korupsi yang melibatkan para pejabat dan petinggi partai  yang terus menyita perhatian publik selama berpuluh-puluh tahun adalah materi bagus. Bila berpatokan dari peluang market, sebenarnya film jurnalisme yang menyorot investigasi dalam menguak skandal korupsi akan merebut perhatian penikmat film. Lihat saja secara statistik mengenai pembicaraan yang mendominasi di berbagai jejaring sosial, topik mengenai skandal politik selalu menjadi trending. Ditambah, media-media di Indonesia gencar melakukan pemberitaan dalam skala masif tentang berbagai skandal politik tersebut. Bayangkan saja bagaimana mungkin penonton film tidak tertarik untuk menyaksikan sebuah cerita mengenai bagaimana proses jurnalistik dalam melakukan investigasi terkait kasus korupsi Hambalang hingga bisa sampai mengemuka; atau bagaimana kasus tentang korupsi yang melibatkan Gubernur Sumatera Utara bisa menyeret para petinggi partai; atau bagaimana koruptor kakap Eddy Tansil bisa lolos ke luar negeri, seperti yang pernah dilaporkan di Majalah Gatra di era 90’an.

Bila menilik kasus yang diangkat di film Spotlight mengenai kasus pelecehan seksual berskala masif atau tindak kekerasan terhadap anak-anak, Indonesia pun memiliki kasus serupa dan menjadi headlines selama berpekan-pekan.

Spotlight meskipun spesifik mengangkat kasus pedofilia sistematis yang terjadi di Keuskupan Agung Boston, sebenarnya lebih merupakan selebrasi atas keberanian media untuk mengangkat sebuah kasus berskala nasional. Bahwa keputusan media untuk membuka pemikiran pembaca sebenarnya bersifat universal dan bisa dilakukan dalam segala tindak kejahatan terorganisir apa pun.

Berangkat dari pemikiran tersebut, kemudian satu pertanyaan mengemuka, apakah media di Indonesia sendiri memiliki bahan komprehensif untuk diangkat menjadi sebuah film seperti Spotlight? Atau pertanyaan lebih mengerucut lainnya, apakah media punya keberanian untuk memaparkannya?

Semalam saya membaca sebuah tulisan yang menggemparkan di blog milik Hans David , seorang jurnalis dari koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post. Dalam tulisan yang berjudul, “ Spotlight dan Jurnalisme Kekerasan Seksual” tersebut, Hans secara gamblang dan terang-terangan menyebut bahwa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, ternyata mendapat “perlindungan” dari tokoh media. Hans bahkan menyebut ada upaya untuk “menyensor” kasus pelecehan seksual tersebut, dengan dugaan, untuk melindungi nama baik sebuah institusi komunitas seni.

Tulisan di blog tersebut semakin memperbesar keraguan saya akan kemungkinan film seperti Spotlight bisa diproduksi di Indonesia. Bagaimana bisa seorang tokoh pegiat media berusaha menutupi dan menyensor sebuah kebenaran yang sebenarnya menjadi komoditas utama bisnisnya?

Apa yang dipaparkan dalam tulisan di blog tersebut, lantas mengingatkan pada upaya Keuskupan Agung Boston dalam menutupi kasus pastur pedofilia di film Spotlight demi melindungi citra baik gereja. Salah satu upaya gereja melalui karakter Kardinal Law (diperankan oleh Len Cariou) adalah dengan mengajak editor in chief baru Boston Globe, Marty Baron (diperankan oleh Liev Schrieber), untuk “duduk berdampingan dan bergandengan tangan” dengan pihak gereja dalam menutupi kasus pastur pelaku pedofil. Jawaban Marty halus, tetapi tegas. Bahwa dia berpikir sebaiknya dua institusi, Boston Globe dan Keuskupan Boston, berada di posisi masing-masing dan menjalankan tugasnya secara terpisah.

Bila apa yang dituliskan di blog Hans David adalah sebuah kebenaran, maka sebuah ironi dan sekaligus tragedi, bahwa media yang seharusnya menjadi corong dan garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran justru melakukan keberpihakan. Bahkan keberpihakan terhadap seseorang yang terbukti melakukan tindak kejahatan.

Sebenarnya bukan rahasia umum bahwa media di Indonesia tidak menjalankan fungsi yang seharusnya. Media-media di Indonesia seringkali menjadi alat propaganda dan “penyerang” kepada pihak yang tidak berada di sisi yang sama dengan mereka.

Bukti paling segar terjadi saat penangkapan bos perusahaan properti Agung Podomoro Group, yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat lewat asisten pribadinya, memberikan uang rasuah kepada salah seorang anggota DPRD DKI Jakarta, M. Sanusi. Saat media sudah terang-terangan menyebut jatidiri bos Podomoro Group, Metro TV justru masih menyebut dengan menggunakan nama alias. Sementara televisi berita nasional tersebut menyebut nama M. Sanusi secara gamblang. Bukan rahasia pula bahwa Podomoro Group gencar memasang iklan, bahkan membeli slot siar di setiap pagi akhir pekan, di Metro TV. Apakah dengan demikian maka beralasan bagi stasiun televisi untuk kehilangan sisi obyektifitasnya? Apakah nama M. Sanusi disebut karena dia berasal dari Partai Gerindra? Partai yang berseberangan dengan Partai Nasional Demokrat yang dipimpin pemilik Metro TV?

Spotlight dan All President’s Men merupakan contoh sempurna bagaimana film tentang jurnalisme investigasi bisa tercipta karena adanya keberanian para jurnalis dan media dalam mengungkapkan fakta pahit dan menyakitkan. Bagaimana media tidak berpihak kepada satu kelompok. Bahwa upaya mereka mengangkat kisahnya, murni karena urgensi yang dimiliki kisah tersebut.

Kedua film tersebut lahir dari karya jurnalistik yang memenangkan ajang paling bergengsi di bisnis media, Pulitzer.

Pulitzer, seperti halnya Oscar di industri perfilman, sudah memiliki sejarah panjang dan menjadi tolok ukur paling terpercaya akan karya terbaik di bidang jurnalistik. Bertolak belakang dengan Indonesia, di mana sampai sekarang Piala Citra masih belum menjadi lambang supremasi perfilman nasional, sementara bidang jurnalisme belum memiliki Pulitzer-nya.

Penghargaan seperti Pulitzer dan Oscar penting untuk mengukur sejauh mana industri terkait menjaga komitmen pegiatnya terhadap profesi yang dijalani. Dengan konsistensi dan standar tinggi, serta ditunjang oleh sosialisasi terus menerus, ajang penghargaan seperti yang disebutkan tersebut tidak hanya menjadi gengsi dan prestise. Tetapi juga penjaga kualitas karya dan pengingat untuk terus mengerjakan yang terbaik, serta tetap pada koridor yang disepakati.

Dua asosiasi kewartawanan Indonesia, AJI dan PWI, memang memberikan penghargaan untuk karya jurnalistik. Tapi, sayangnya tidak ditunjang oleh sosialisasi gencar ke segala lapisan, penerapan standar tinggi dan mekanisme seperti Pulitzer. Akibatnya, boro-boro menjadi prestise, berapa banyak masyarakat yang tahu bahwa di Indonesia ada penghargaan untuk karya jurnalistik?

Artikel investigasi luar biasa seperti yang diangkat dalam film Spotlight, lahir karena adanya penghargaan seperti Pulitzer. Bahwa para jurnalis dan pegiat media tahu bahwa bila mereka menulis artikel investigasi seperti itu, karya mereka akan dihargai. Lihat betapa bangganya poster film Spotlight mencantumkan bahwa film ini berdasarkan artikel investigasi pemenang Pulitzer. Bahwa prestise tersebut yang menjadi daya tarik, menjadi daya jual, serta menjanjikan sebuah konten bagus yang digarap maksimal.

Terlalu kompleks memang bila kita berbicara mengenai kemungkinan adanya penghargaan seperti Pulitzer di Indonesia. Saya pun tidak memiliki kompetensi untuk membahasnya. Tetapi, dalam konteks ke pertanyaan mengenai kemungkinan film seperti Spotlight untuk dibuat di Indonesia, kita perlu satu materi dasar paling penting yaitu karya jurnalistik yang menjadi landasan ceritanya.

Dalam mengembangkan sebuah artikel panjang investigasi yang komprehensif, dibutuhkan dana dan waktu yang tidak sedikit. Seperti halnya riset dan proses pra-produksi di pembuatan film, mengerjakan sebuah artikel panjang investigasi adalah sebuah investasi besar jangka panjang. Butuh editor in chief dengan cakupan pemikiran jauh ke depan untuk bisa mewujudkannya dan mendukung pekerjaan ini. Dengan tingkat kesejahteraan mayoritas wartawan di bawah rata-rata, sulit untuk mendapatkan sebuah karya investigasi panjang yang diterbitkan dalam bentuk artikel. Alasan paling sering ditemukan dari para redaktur dan pemimpin media untuk tidak memproduksi artikel semacam ini adalah, “ tidak ada yang mau membacanya?” atau , “ pembaca di Indonesia tidak menyukai artikel-artikel panjang”.

Sebuah pendapat yang umumnya berdasarkan asumsi. Lihat saja artikel panjang yang ditulis oleh Hans di blog-nya. Dia menunjukkan lewat akun Twitter pribadinya bahwa tulisan mengenai Spotlight-nya mendapat views puluhan ribu orang hanya dalam kurun waktu dua hari. Ini membuktikan bahwa pembaca punya minat membaca sebuah tulisan yang dibuat dengan terencana dan mengenai isu sensitif. Tulisan itu hanya berbentuk opini di platform online.Bayangkan apa yang terjadi bila format tulisan panjang dituangkan dalam media cetak ternama , seperti yang dilakukan oleh Boston Globe, maka dapat meningkatkan penjualan oplah ataupun pembelian edisi digitalnya, serta menimbulkan efek lebih besar.

Apa yang dituliskan Hans lewat blog-nya semakin mengemukakan keprihatinan akan posisi media dan pegiatnya di Tanah Air. Kebanyakan media di Indonesia, menurut pengamatan saya dari kacamata orang awam, tidak sungkan-sungkan untuk menyatakan keberpihakannya kepada salah satu pihak. Bahkan meskipun pihak tersebut sudah tidak mendapat simpati masyarakat. (knock..knock TV One)

Media kebanyakan tidak sungkan-sungkan untuk mendukung satu partai tertentu (atau partai kroco-nya) dan menyerang pihak lain. Asas paling mendasar jurnalistik untuk tidak memihak dan obyektif pun menjadi tak ada lagi. Sulit dibedakan mana berita yang murni demi menyuarakan kebenaran, mana yang memiliki agenda tersembunyi.

Media nasional kini kerap menjadi alat untuk menyuarakan kepentingan kelompok tertentu. Dengan demikian, media menjadi lupa akan fungsi utamanya untuk memberitakan kebenaran informasi.

Praktek serupa bahkan terjadi hingga ke ranah desk hiburan. Banyak jurnalis yang menerima “jale” (istilah untuk amplop berisi uang yang diberikan kepada jurnalis setiap mereka meliput event tertentu), dari penyelenggara kegiatan agar acaranya diliput. Sehingga tidak heran bila minim sekali Anda menemukan artikel hiburan dan film yang mengupas sebuah berita secara bernas. Boro-boro resensi atau ulasan film yang komprehensif dan memiliki wacana jelas.

Contoh di atas hanyalah merupakan contoh kecil dari sekian banyak praktek tidak terpuji dari pelaku media dan jurnalis Tanah Air. Di saat reformasi yang semestinya menjamin kebebasan pers untuk bersuara, media justru terberangus oleh tindakan para pegiatnya sendiri. Memang masih ada jurnalis yang menjunjung tinggi kaidah dan kode etik jurnalistik, namun jumlahnya semakin langka, seperti jumlah Harimau Sumatera di habitat aslinya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reporter Sans Frontier (RSF)sebuah lembaga yang berkedudukan di Perancis dan rutin menerbitkan hasil penelitian melalui kebebasan pers sejak tahun 2002– disebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-138 dari 180 negara dalam hal kebebasan pers. Sungguh sebuah fakta menyedihkan, bahwa kebebasan pers di Indonesia bahkan jauh lebih rendah dari indeks kebebasan pers di Timor Leste, yang baru berumur 16 tahun dan dahulu menjadi bagian dari kedaulatan Indonesia. Lebih menyedihkan lagi kebebasan pers di Indonesia tidak jauh lebih baik dari saat negeri ini diperintah oleh rezim Orde Baru yang menafikan kebebasan pers dan merosot jauh bila dibandingkan awal era reformasi. Di awal era reformasi, peringkat kebebasan pers di Indonesia bahkan sempat berada di posisi ke-57.

Komposisi penilaian yang dilakukan oleh RSF dalam menentukan indeks kebebasan pers adalah kebebasan untuk menyiarkan informasi. Diikuti dengan ada tidaknya tekanan oleh aparat birokrasi sipil dan militer; lalu hukum suatu negara apakah melindungi atau justru mengancam kebebasan pers; terakhir adalah tindak kekerasan terhadap pers. (dikutip dari hukumonline.com).

Menjadi ironis dan tragedi, saat berbagai contoh kasus yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa pegiat dan pemilik media sendiri yang melanggar kebebasan dan independensi jurnalistik. Bahwa pelaku medialah yang justru memberangus apa yang seharusnya mereka junjung tinggi.

Dalam film Spotlight secara implisit ditunjukkan bahwa bisnis jurnalisme akan digerus oleh kemajuan teknologi informatika dan internet. Hal ini juga ditulis dalam sebuah artikel di Huffington Post yang berjudul, ” Journalism isn’t Dying. It is being Murdered”. Tragisnya, jurnalisme di Indonesia tidak hanya perlahan dibunuh oleh kemajuan teknologi, melainkan juga oleh pegiatnya sendiri.

Dengan demikian pertanyaan apakah mungkin film seperti Spotlight diproduksi di Indonesia? Jawabannya jauh panggang daripada api.

Bahkan Amerika butuh waktu 75 tahun untuk memberikan anugerah tertinggi perfilman Oscar kepada film jurnalisme. Sebelum Spotlight, tak pernah satupun film jurnalisme yang memenangkan film terbaik Oscar. Bahkan di tahun 1976 saat ada dua film hebat tentang jurnalisme, All President’s Men dan Network.

Sementara Indonesia mungkin masih butuh satu atau dua dekade lagi agar film seperti Spotlight bisa dibuat untuk pertama kalinya. Menunggu bisnis perfilman Indonesia memiliki waktu, tenaga, dan kapasitas dalam membuatnya. Juga menunggu hingga dunia jurnalistik di Indonesia menjalankan fungsi yang sebenarnya.

Ingat, Spotlight merupakan sebuah artefak dan pencapaian monumental yang menggambarkan sebuah kebebasan berekspresi dari konteks seni dan kebebasan mengeluarkan pendapat dari konteks jurnalistik. Film ini adalah simbol bahwa baik bisnis media dan hiburan mereka telah mencapai sebuah titik kulminasi yang menggambarkan peradaban mereka.

Sungguh menyedihkan bila sebuah negeri yang sering diklaim menjunjung tinggi norma, martabat dan ahlak budaya timur yang tinggi seperti Indonesia justru dikalahkan oleh negara yang sering dituding tak memiliki moral.

Dan lagipula, masa tidak ada jurnalis di Indonesia yang ingin profesinya dipuja, diagungkan, dan diberi penghormatan tertinggi dalam medium film seperti yang terjadi di Spotlight?

By @Picture_Play

Disclaimer : sekali lagi opini ini tidak bersifat absolut, sangat terbuka untuk forum diskusi.

Tulisan ini sudah mengalami revisi. Sebelumnya ada kesalahan penulisan ” pemilik Metro TV adalah pemimpin Partai Demokrat”. Seharusnya Partai Nasional Demokrat.

Juga kesalahan penulisan tersangka korupsi Mohammad Husni, sudah diganti menjadi M. Sanusi.

Terima kasih atas koreksinya