A Monster Calls Review : Balada Dan Tragedi Untuk Orang-Orang Yang Tersisih.

October 14, 2016

“Di atas permukaan, A Monster Calls adalah sebuah film fantasi. Tetapi, esensi kisahnya sendiri adalah sebuah puisi balada untuk orang-orang yang terkucilkan. Sebuah puisi balada yang menuturkan satu tragedi. Juga merupakan sebuah obituari terhadap sosok ibu yang semestinya menemani seorang anak saat dia tumbuh dan berkembang.”




Ada sebuah scene di A Monster Calls yang menjadi salah satu adegan kunci emosional di film ini. Saat Conor O’Malley (diperankan oleh aktor muda pendatang baru Lewis MacDougal. Sangat sangat bagus di sini) menyaksikan film King Kong klasik (1933) bersama ibunya (diperankan dengan sangat brilian oleh aktris nomine Oscar, Felicity Jones, A Theory of Everything, Rogue One) yang sedang menderita sakit parah di sofa di ruang tamu.

Sekuens ikonis saat King Kong berdiri dengan jumawa menghadapi serbuan pesawat-pesawat di atas Empire State Building itu diselang-seling ke tatapan mata Con (panggilan Conor) yang mengikuti setiap detailnya dengan seksama. Mata Con terlihat kagum dan tertarik ke dalam adegan saat sang King Kong menyapu bersih setiap musuh.

Scene ini hadir setelah sebelumnya Con disiksa oleh rekan-rekan satu sekolahnya, karena dia berbeda. Karena Con terasing dan terkucil dari pergaulan. Con dan King Kong memiliki satu persamaan. Mereka adalah karakter yang salah dimengerti oleh lingkungannya. Mereka merupakan karakter yang mencoba memberontak terhadap perlakuan masyarakat di sekitar mereka.

Dari adegan Con menyaksikan King Kong itulah kita akan tahu darimana kata “monster” dalam judul filmnya berasal.

Di atas permukaan, A Monster Calls adalah sebuah film fantasi. Tetapi, esensi kisahnya sendiri adalah sebuah puisi balada untuk orang-orang yang terkucilkan. Sebuah puisi balada yang menuturkan satu tragedi. Juga merupakan sebuah obituari terhadap sosok ibu yang semestinya menemani seorang anak saat dia tumbuh dan berkembang. Sosok ibu yang semestinya menjadi tanah dan bumi yang subur bagi sebuah pohon yang masih muda. Tanah dan bumi yang sayangnya terserang penyakit sehingga humusnya berkurang, serta membuatnya tandus. Kering kerontang. Pohon berusia muda yang seharusnya mendapat asupan rohani dari ibu pertiwi (mother earth) itu lalu tumbuh tak terawat. Tumbuh memang, tapi gersang dari segi kejiwaan. Con adalah pohon muda itu. Pohon muda tak terurus yang akar-akarnya kemudian menjulur kesana kemari demi menemukan sumber esensi dan mata air yang bisa menghapus dahaganya.

“Film ini bukanlah sebuah film fantasi berbujet mahal biasa. Anda akan dibuat menjelajah setiap sajian visual, menanyakan apa maknanya dan lalu membuat Anda merenung hingga akhir kisahnya usai.”



Butuh Sensitivitas Dalam Mengurai Alegori Dan Semiotika

Menyaksikan A Monster Calls memang dibutuhkan suatu kepekaan nurani. Dibutuhkan sebuah sensitivitas dalam mengenali berbagai semiotika kehidupan dan alegori emosional yang tersembunyi dalam suguhan visual memukau. Film ini bukanlah sebuah film fantasi berbujet mahal biasa. Anda akan dibuat menjelajah setiap sajian visual, menanyakan apa maknanya dan lalu membuat Anda merenung hingga akhir kisahnya usai.

Conor adalah seorang anak tak beruntung. Ayahnya (diperankan oleh Toby Kebbell) meninggalkan dia saat masih kecil. Conor adalah produk dari hubungan gejolak jiwa muda. Saat kedua orangtuanya mengambil keputusan untuk mengejar ambisi masing-masing, Con lalu yang menjadi korban.

Ada sebuah sentilan kepada generasi muda yang memutuskan untuk menikah muda dalam film ini. Sebuah sentilan yang akan membuat kaum muda memikirkan kembali keputusan untuk menikah dan membangun sebuah keluarga. Apakah secara emosional kita bisa memikul tanggung jawab? Apakah keputusan itu hanya berlandaskan gejolak jiwa muda yang masih menggebu-gebu? Atau merupakan sebuah keputusan yang lahir dari proses menimbang dan mengukur?

Con adalah contoh dari sebuah generasi yang lahir dari sebuah keputusan terburu-buru.

Jauh dari kasih sayang seorang ayah dan kelembutan seorang ibu yang harus berjuang melawan penyakit, Con lalu bak pohon muda yang kering. Dia gemar menyendiri. Satu-satunya tempat dia menumpahkan isi hati adalah lewat medium kertas yang ia penuhi dengan berbagai sketsa cat air. Sketsa yang mewakili kegundahan hatinya. Sketsa yang lahir saat dia menyaksikan penderitaan ibundanya yang berjuang melawan sakit.

Con yang masih teramat muda belumlah mengerti apa yang dirasakan oleh ibundanya. Dia hanya tahu sebagian kecil saja saat mendengar perbincangan ibunya dengan sang ayah. Atau lewat pembicaraan sang ibu dengan neneknya (diperankan oleh Sigourney Weaver). Con hanya bisa mengintip lewat celah pintu yang terbuka dan melihat bahwa sosok ibunya kini semakin lemah. Con masih dianggap terlalu kecil untuk mengetahui yang sebenarnya. Tapi orang dewasa tak pernah mengetahui bahwa kejadian itu membuat dia sebagai pihak yang paling menderita. Tak ada orang dewasa yang memahaminya. Tak ada orang dewasa yang mau meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan jeritannya.

Satu-satunya yang mau mengajaknya bicara adalah sesosok monster berwujud kayu yew (taxus baccata ) yang menjulang tinggi, bermata merah dan ronga-rongganya mengeluarkan cahaya merah menyala. Sesosok monster yang wujudnya seperti gabungan antara Groot, Ent di trilogi Lord of The Rings dan mahluk Swamp Thing di komik DC. Monster yang disuarakan oleh Liam Neeson ini selalu muncul saat Con memanggil dan sudah dihimpit amarah tak terkendali. Monster Yew ini lalu menceritakan tiga buah kisah. Saat ketiga kisah itu sudah selesai, Monster Yew mengharuskan Con menuturkan kisah keempat.

Kisah keempat yang hanya bisa diceritakan bila Con sudah mengerti apa yang dialaminya. Saat Con sudah bisa memaknai hidup dan jujur pada diri sendiri.

“Dalam beberapa aspek, cara kamera Oscar Faura bekerja dalam A Monster Calls mengingatkan saya kepada karya agung sineas Swedia, Ingmar Bergmann, yang dirilis pada tahun 1983, Fanny and Alexander.”



Pengaruh Ingmar Bergman

A Monster Calls merupakan ekranisasi buku berjudul sama yang naskahnya ditulis oleh Patrick Ness. Film ini tidak hanya mampu menghadirkan jiwa novelnya, tetapi memperkaya. Menambahkan dimensi dan keindahan puitis lewat kamera arahan Oscar Faura yang secara konsisten mengambil setiap gambar lewat low dan wide angle. Memberikan keindahan sinematis yang makin disempurnakan oleh pengarah rancangan produksi pemenang Oscar, Eugenio Caballero (Pan’s Labyrinth) lewat sentuhan bergaya gothic yang selaras dengan atmosfer kegelapan dan amarah dalam jiwa Con. Menghadirkan elemen mimpi dan dunia fantasi seperti dalam sebuah mimpi buruk. Meski lewat goretan warna pastel yang seperti dihadirkan oleh cat air, saat sekuens animasi membawa kita mendalami interaksi antara Con dan sang Monster Pohon Yew.

Dalam beberapa aspek, cara kamera Oscar Faura bekerja dalam A Monster Calls mengingatkan saya kepada karya agung sineas Swedia, Ingmar Bergmann, yang dirilis pada tahun 1983, Fanny and Alexander. Film Bergman itu juga menghadirkan satu karakter yang menciptakan dunia magis dalam pikirannya. Sama seperti A Monster Calls, film itu juga berbicara tentang teror eksistensi dari perspektif seorang anak. Sama seperti Ingmar Bergman yang dalam film-filmnya, memiliki obsesi tersendiri untuk mengupas berbagai peristiwa penting lewat celah pintu yang terbuka. Seperti Con yang hanya memiliki pengetahuan parsial tentang konflik orang dewasa dengan mengintip dan mencuri dengar.

Memang naskah karya Ness dan pengarahan jenius J.A. Bayona (The Orphanage, The Impossible) sedari frame awal film menceritakan kisahnya dari sudut pandang Con. Membawa kita mengikuti tragedi seorang anak yang terasing dan terkucilkan lewat kamera Oscar Faura.

Oscar kerap menyorot benda-benda sepele dalam film ini. Seperti ujung pensil. Atau jam tangan digital di pergelangan tangan kiri Con dan jam dinding kayu analog berusia ratusan tahun di ruang tamu rumah milik neneknya.

Berbagai shot “remeh temeh” itu bukannya tidak memiliki arti. Bukan hanya sekadar ingin menangkap momen demi suatu ambisi dalam menghadirkan nuansa artistik yang banal dan sekadar artsy fartsy.

Extra close-up shots ke pensil yang digerakkan oleh tangan Con saat dia menggambar berbagai objek, misalnya. Pensil yang terbuat dari kayu itu saya lihat sebagai alegori dari jiwa Con. Jiwa satu pohon muda kering kerontang yang bergerak secara abstrak. Sebuah pergerakan tanpa arah karena terombang-ambing oleh duka nestapa yang tak bisa diungkapkan. Pensil adalah sebuah alat yang terbuat dari kayu. Yang hanya bisa bergerak dan berfungsi di tangan seseorang yang memiliki imajinasi. Sama seperti karakter Con. Pensil dan imajinasi adalah satu-satunya sahabat Con. Tanpa keduanya, Con mungkin tak bisa bertahan lama.

Di lain pihak, jam tangan digital dan jam besar analog yang menghiasi ruang tamu rumah nenek Con menjadi alegori, sekaligus satire tersendiri.

Dalam sebuah adegan, karakter sang nenek milik Sigourney Weaver bercerita bahwa jam analog berumur lebih dari seratus tahun itu memberikan akurasi waktu yang tak bisa ditandingi oleh jam moderen manapun. Sebuah jam kuno yang akan tetap hidup bila terus diputar oleh manusia. Bukan bekerja dengan baterai. Jam yang kerangkanya terbuat dari kayu pohon yang tumbuh di atas bumi pertiwi.

Di satu sisi, saya melihat jam kayu itu adalah metafora dari kehidupan di rumah tempat tinggal Con. Sebuah benda antik yang telah memberikan informasi waktu secara akurat selama beberapa generasi. Sebuah benda yang telah menemani akar kehidupan Con selama ini. Sebuah benda bernilai seni yang terbuat dari kayu kering. Sama keringnya dengan kehidupan di dalam keluarga Con.

Dalam satu adegan, Con menghancurkan jam tersebut saat amarahnya sudah memuncak. Karena dia melihatnya sebagai personifikasi sang nenek yang kolot dan teratur. Sang nenek yang sebenarnya menyayangi Con dengan caranya sendiri. Ketiadaan komunikasi yang kemudian membuat hubungan emosional mereka terputus. Con diwakili oleh jam tangan digital, sedang sang nenek diwakili oleh jam tangan analog.

Di sisi lain, saya juga melihat jam tangan analog dan jam tangan digital adalah sebuah sentilan Bayona terhadap teknologi filmmaking analog dan digital. Persepsi saya itu beralasan saat seusai Con mengumpulkan puing-puing jam kayu analog yang telah dihancurkannya, kamera menyorot secara khusus jam tangan digital Con. Seolah mewakili pendapat pribadi Bayona tentang teknologi filmmaking analog akan tak tergantikan secara artistik oleh teknologi digital.

Kamera Oscar Faura memang menghadirkan kedalaman puitis sebuah sajian visual. Ada satu momentum saat Con yang sudah letih tertidur di bawah pohon, lalu secara perlahan kamera meninggalkannya. Menunjukkan bahwa Con menemukan “rumah yang sebenarnya” di pohon yew itu. Atau saat Con bersama neneknya berada di dalam mobil, hendak menuju rumah sakit untuk menengok sang ibu. Perjalanan mereka terhenti di perlintasan kereta api. Menunjukkan bahwa terkadang kita mesti memberikan waktu kepada satu kejadian yang lewat di hadapan, agar kita bisa sejenak meresapi makna hidup. Con dan neneknya lalu berbincang dalam sebuah situasi emosional. Mereka kembali saling berkenalan satu sama lain. Mengenali satu sisi masing-masing yang selama ini dihalang sebuah praduga. Betapa indah dan dramatisnnya shot ini.

Keindahan A Mosnter Calls juga hadir karena kepiawaian dan kejelian Bayona dalam mengatur ritme film. Menghadirkan variasi pace, tone dan visual. Ambil contoh saat Con belajar mengenai kerasnya realita hidup saat dia kehilangan orang yang disayangi, palette warna dan visual filmnya meninggalkan animasi bak cat air ke sebuah realita. Sebuah realita yang sebenarnya dalam pikiran Con masih seperti mimpi buruk, di mana tanah tempatnya berpijak terbelah dan benda-benda di sekelilingnya luluh lantak.

Visual tersebut amatlah kontras bila dibandingkan saat Monster Pohon Yew masih mengajari Con tentang konsep hidup lewat tiga kisah yang diceritakannya. Sebuah kisah yang menghadirkan raja-raja dan apoteker, di mana sang monster mengajari Con bahwa hidup tak melulu dibagi dalam dikotomi “hitam-putih”, “jahat-baik”. Tiga kisah tersebut dihadirkan dalam tiga segmen animasi berwarna pastel dengan desain bergaya gothic yang “menyeramkan”. Membangun sebuah dongeng tentang tragedi yang masih selaras dengan semangat “bermain-main” seorang anak. Bukan dalam gaya animasi Disney yang ceria. Sesuai dengan pelajaran dari sang monster bahwa dalam hidup, batasan antara kebaikan dan kejahatan seringkali kabur.

Tak ada yang benar-benar baik atau benar-benar jahat. Kebanyakan orang berada di garis batas antara keduanya, “ demikian ujar sang monster yang disuarakan dengan wibawa penuh otoritas oleh Liam Neeson.

Liam Neeson adalah salah satu bukti bahwa A Monster Calls ditopang oleh kemampuan akting para pemerannya. Hanya suara Neeson yang hadir, fisiknya sudah digantikan oleh animasi. Tapi suara Neeson yang khas sudah amat mengintimidasi. Benar-benar menghidupkan sang Monster Pohon Yew yang menjadi teman, sekaligus guru.

Felicity Jones memang tampil sebagai karakter minor di film ini. Namun saat dia tampil di layar, dia berhasil menghadirkan sebuah karakter yang tersiksa oleh sakit dan masih ingin menampilkan semangat hidup demi sang anak. Jones berhasil menghadirkan seorang ibu yang lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan enerjinya bertambah kuat justru saat dia tak ada di layar.

Resonansi emosional itu memang tercipta karena dinamika Jones dengan Lewis MacDougal sebagai Con. Lewis secara luar biasa berhasil menghidupkan karakternya yang memiliki kompleksitas emosi sebagai seorang anak yang haus kasih sayang, tapi tak bisa mendapatkannya. Kita bisa merasakan sakit yang dialami Con. Lewis bahkan mampu memindahkan rasa sakit milik karakter Jones melalui wajahnya. Momen saat Con hendak melepas sang ibu, membuat dada saya sesak karena himpitan emosi. Emosi yang akhirnya bisa saya lepaskan melalui air mata yang tertumpah deras. Emosi yang masih saya rasakan bahkan setelah filmnya usai.

A Monster Calls menghadirkan emosi yang jauh lebih kuat karena lahir dari suatu akumulasi. Saya bisa merasakan pahitnya hidup Con. Rasa terasingnya dia dari lingkungan. Amarah dan putus asanya. Akumulasi emosi tersebut kemudian tak tertahankan lagi di akhir film.”



Puisi Tentang Balada Dan Tragedi Saat Kita Merasa Tersisih

Emosi memang pernah saya rasakan seusai menonton Pete’s Dragon. Tapi masih sebuah emosi yang kemudian masih bisa saya atur, karena momen itu hadir di awal film.

A Monster Calls menghadirkan emosi yang jauh lebih kuat karena lahir dari suatu akumulasi. Saya bisa merasakan pahitnya hidup Con. Rasa terasingnya dia dari lingkungan. Amarah dan putus asanya. Akumulasi emosi tersebut kemudian tak tertahankan lagi di akhir film. Saya merasa bagian dari cerita. Saya merasa menjadi bagian perjalanan hidup Con. Kisah hidup Con yang saya yakin masih terus membayangi.

Kisah hidup Con memang bisa saya alami. Bisa pula Anda alami. Kita semua pernah merasakan putus asa teramat berat yang kita tak tahu dengan siapa kita bisa berbagi. Saat semua orang tak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesah kita. Saat itulah kita hanya bisa berbagi dengan diri kita sendiri. Dengan imajinasi yang kita miliki. Dengan satu-satunya yang bisa menerima kita apa adanya.

Bayona memang piawai dalam memasukkan sebuah cerita tentang kehidupan yang keras dalam bingkai sebuah teror dan horor. Seperti yang dia lakukan di Orphanage dan The Impossible. Teror dan horor yang bisa kita temui di kehidupan sehari-hari. Teror dan horor yang harus berani kita hadapi di kehidupan nyata.

A Monster Calls adalah sebuah karya agung dari Bayona. Sebuah masterpiece ekspresionis yang menghibur, tragis dan membuat kita patah hati. Score-nya yang melodius pun akan menjadi sebuah theme-song moderen bagi orang-orang yang tersisihkan seperti Con.

Con bukan satu-satunya orang yang tersisih dalam A Monster Calls. Ibu, nenek, dan ayahnya juga tersisih dari orang yang disayangi. Ibu Con tersisih karena penyakitnya; sang nenek tersisih karena sikap dinginnya; dan ayahnya tersisih karena ambisinya. Rasa tersisih yang kemudian membuat mereka menampilkan “monster” di masing-masing diri mereka.

Ya. Monster dalam film ini adalah sebuah alegori dari sisi gelap kita sebagai manusia. Setiap kita memiliki monster yang akan terbangun bila kita panggil. Tapi kita bisa mengendalikan monster itu. Kita bisa mengajaknya berdiskusi dan berdialog. Kita bisa mengajaknya membuat sebuah puisi. Puisi tentang balada dan tragedi saat kita merasa tersisih.

(5/5)

Reviewed at Gandaria XXI on October 13, 2016

Running time : 108 minutes

 A Focus Features release and presentation, in association with Participant Media, River Road Entertainment, of an Apaches Entertainment, Telecino Cinema, A Monster Calls AIE, La Trini production.

Executive producers : Patrick Ness, Jeff Skoll, Bill Pohlad, Jonathan King, Mitch Horwits, Patrick Wachsberger, Énrique López-Lavigne, Ghislain Barrois, Álvaro Augustin.

Producer : Belén Atienza.

Director : J.A. Bayona

Screenplay : Patrick Ness

Based on the same novel by Patrick Ness

Original idea : Siobhan Dowd

Camera (color, widescreen) : Oscar Faura

Editors : Bernat Vilaplana, Jaume Marti

Music : Fernando Velasquez

Production designer : Eugenio Caballero

Animation sequence director : Adrián García

Casts : Lewis MacDougall, Felicity Jones, Sigourney Weaver, Liam Neeson, Toby Kebbell, Ben Moor, James Melville, Oliver Steer, Dominic Boyle, Jennifer Lim, Geraldine Chaplin.

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s