Athirah Review : Observasi Poetic Justice Tanpa Klimaks Emosional

September 29, 2016

Athirah adalah contoh terbaru dari film produksi Miles yang tidak berhasil menghadirkan “klimaks emosional”. Padahal kesempatan dan momentumnya tersedia. “




Miles Films sejauh ini belum pernah memproduksi film yang buruk. Hanya sekali mereka membuat film yang ‘gagal’, yaitu Pendekar Tongkat Emas (2014). Yang membuat film-film produksi Miles istimewa adalah karena mereka memiliki perhatian besar dalam tata artistik. Terhadap nilai estetika sebuah film. Mereka juga peduli untuk mengangkat kearifan lokal dalam setiap filmnya. Kegagalan Pendekar Tongkat Emas lebih disebabkan oleh kesalahan treatment, yaitu memperlakukan sebuah film martial art yang ditujukan sebagai film komersil menjadi lebih ke sebuah film artistik yang kehilangan daya magis pertarungannya.

Tetapi, akhir-akhir ini berbagai film produksi Miles tidak mampu menghadirkan sebuah “klimaks emosional”. Termasuk di Pendekar Tongkat Emas, Sekolah Rimba dan film blockbuster mereka tahun ini, AADC2. Ada emosi yang terputus, meski telah membangun momentum ke arah penghadiran emosi yang sebenarnya bisa membuat sukma kita tergugah. Yang membuat hilangnya daya magis.

Athirah adalah contoh terbaru dari film produksi Miles yang tidak berhasil menghadirkan “klimaks emosional”. Padahal kesempatan dan momentumnya tersedia. Hanya sayang, penyuntingan yang membuat emosinya seringkali terputus.

Ambil contoh saat karakter Ucu (panggilan kecil untuk wakil presiden Jusuf Kalla yang diperankan oleh Christoffer Nelwan) yang harus menghadapi situasi pelik saat dia harus mencari mobil untuk mengangkut Ibundanya, Athirah (diperankan dengan sangat kuat oleh Cut Mini) yang hendak melahirkan. Di adegan ini, Ucu dan adik-adiknya sangat panik. Ucu sebagai anak pria tertua harus menggantikan peran ayahnya. Akting Christoffer Nelwan sangat efektif di sini. Gerak kamera yang dinamis turut menciptakan kekalutan batin yang dia harus hadapi.

Ucu keluar rumah, berusaha menyetop mobil yang lewat untuk membantu mengangkut Ibunya ke rumah sakit. Sayang, penyuntingan kemudian beralih ke dissolve fade to black. Adegan ini semestinya bisa menghadirkan momen dramatis dan emosional. Saat Ucu yang menghantar Ibunya dalam perjalanan ke rumah sakit. Tapi sayang, emosinya terputus.

Amati juga di adegan saat Ucu dan Ibundanya sudah berada di rumah sakit. Momentum saat Ucu memegang tangan sang bunda sebenarnya juga memiliki kesempatan untuk menghadirkan tensi dramatis. Dialog antara ibu dan anak yang sempat menghantarkan rasa hangat di dada, serta genangan air mata yang siap tertumpah. Sayang seribu sayang, adegan ini hanya berlangsung kurang dari dua menit. Emosinya kembali terputus oleh penggunaan penyuntingan dissolve fade to black.

Dissolve fade to black adalah sebuah teknik penyuntingan yang menggunakan warna hitam pekat sebagai penghubung antar adegan atau sekuens. Cukup sering teknik ini digunakan di Athirah. Seolah menunjukkan ada memori atau ingatan yang hilang. Menjadikan keterikatan emosi antar adegan atau sekuens terputus.

Penyuntingan juga kerap mengalihkan emosi kita lewat shot ke berbagai objek dan peristiwa, di saat emosi kita mulai terbangun.

Athirah adalah sebuah kisah yang disusun berdasarkan kumpulan memori seorang anak dalam memandang hidup orang tuanya. Merupakan sebuah penghormatan terhadap asal usul, sebuah napak tilas sejarah seorang tokoh …”



KUMPULAN MEMORI

Memori.

Kata itu merupakan kunci dalam Athirah. Film ini sebenarnya bukanlah murni fibio (film biografi). Saya menggunakan “fibio’ sebagai sebuah pilihan kosakata untuk menghindari penggunaan penerjemahan ‘biopic’ menjadi “biopik’ yang semakin banyak digunakan di berbagai media. Sebuah pilihan penerjemahan yang menurut saya salah kaprah.

Athirah adalah sebuah kisah yang disusun berdasarkan kumpulan memori seorang anak dalam memandang hidup orang tuanya. Merupakan sebuah penghormatan terhadap asal usul, sebuah napak tilas sejarah seorang tokoh untuk menghadirkan satu reka ulang atas sumber kekuatan moral yang membentuk kepribadiannya hingga saat ini. Memori seorang anak bernama Ucu yang menjadi narator dalam film ini. Tapi memang menyebut Athirah sebagai sebuah fibio juga benar. Film ini memiliki kaidah-kaidah yang memenuhi fungsinya sebagai sebuah fibio.

Dalam konteks Athirah sebagai sebuah fibio, saya memuji film ini. Karena ceritanya menghindari sebuah pengagungan. Menghindari jebakan untuk menghadirkan sebuah fibio menjadi sebuah hagiografi. Sebuah buku putih. Sebuah alat public relation. Seperti yang dilakukan oleh Rudy Habibie.

Athirah tidak malu untuk menghadirkan sebuah sisi kelam dari sejarah seorang tokoh. Tidak malu untuk mengakui jati diri yang sesungguhnya. Sebuah cerita pahit yang justru membentuk kepribadiannya di masa datang. Film ini memiliki keotentikan, kejujuran dan keberanian. Saya percaya dengan cerita yang disampaikan film ini.

Kita pertama kali mengenal Athirah dan suaminya, Haji Kalla (diperankan oleh seniman Sulawesi Selatan, Arman Dewarti) yang berada di sebuah truk tertutup terpal, saat mereka mengungsi dari Bone ke Makassar demi mencari kehidupan yang lebih layak di saat perang melawan pemberontakan kaum separatis berkecamuk, usai perang kemerdekaan.

Cut Mini dalam Athirah sekali lagi mengingatkan kita bahwa dirinya adalah seorang aktor drama yang kuat dan memiliki comic timing.  Cut membawakan karakternya sesuai kebutuhan. Subtil yang ditampilkan lewat perubahan ekspresi air mukanya.

Pasangan ini berhasil membangun bisnis dan kehidupan baru di Makassar. Rezeki mereka bukan hanya dari aspek materi, tetapi juga karena dikaruniai anak-anak yang sehat dan berbudi baik.

Hanya saja, selalu ada godaan berwujud: uang, wanita dan tahta.

Haji Kalla tak kuasa menolak godaan yang kedua. Dia beristri lagi. Tanpa sepengetahuan dan sepertujuan Athirah. Tragisnya, kabar bahwa suaminya telah mengambil istri muda justru diketahui Athirah dari gunjingan tetangga. Menghadirkan suatu pukulan batin teramat berat, bukan hanya bagi Athirah, tetapi juga kepada Ucu muda.

Namun, Athirah adalah seorang perempuan yang kuat dan tabah. Dia tidak digambarkan menangis dan meratap tersedu-sedu. Dia memilih untuk melanjutkan hidup demi anak-anaknya. Hanya ada dua tempat bagi Athirah untuk melepaskan gundah : 1) dengan ibunya (diperankan dengan sangat baik oleh Jajang C. Noer) ; dan 2) saat dia melantunkan ayat-ayat suci Al Quran di mana ia tak kuasa menahan tangis.

Unsur reliji memang kuat dihadirkan dalam Athirah, tetapi bukan sebagai pemicu sentimen banal. Melainkan lebih sebagai penggambaran sumber penghadiran norma-norma yang berlaku dalam sebuah keluarga dan masyarakat.

Bagaimana sang ayah yang tak absen membangunkan anak-anak mereka untuk menunaikan shalat Subuh. Sebuah ibadah yang—bahkan dalam Islam pun—diakui sebagai sebagai bentuk peribadatan paling berat. Karena harus terbangun dari tidur lelap untuk menyerukan Asma-Nya. Fungsi pengingat shalat ini kemudian digantikan oleh Athirah, saat sang ayah mulai kerap menghilang.

Keberanian Athirah dalam menghadirkan satire terhadap perilaku relijius karakternya pun kembali hadir dan patut dipuji. Yaitu lewat karakter ayah yang berfungsi sebagai imam dan pengingat shalat, justru merupakan pihak yang akhirnya mengabaikan keluarga. Juga saat Athirah mencoba berurusan dengan hal klenik (pergi ke ‘orang pintar’) sebagai upayanya agar sang suami tidak berpindah ke lain hati.

Keberanian naskah yang ditulis oleh Salman Aristo dan Riri Riza dalam menghadirkan satire itu patut dipuji. Menunjukkan bahwa—sekali lagi—film ini tidak malu untuk mengakui sejarahnya. Keberanian itu juga membuat kita sebagai penonton, tidak menjadi pihak yang menghakimi tindakan para karakternya. Alih-alih, kita diajak untuk melakukan sebuah observasi. Merenungkan sebuah ironi dan tragedi.



FUNGSI OBSERVASI. BUKAN UNTUK MENGHAKIMI

Fungsi observasi juga dihadirkan lewat penggambaran karakter Ucu. Tidak sekali pun film ini menyebut Ucu sebagai Jusuf Kalla. Ucu ditampilkan sebagai seorang pengamat. Pengamat tragedi yang menimpa kedua orangtuanya dan—yang akhirnya—membuat saya percaya akan membentuk karakternya nanti. Peran karakter Ucu membuat kita tidak menjadi hakim moral. Beberapa kali Ucu dilibatkan dalam dialog, tetapi hanya dalam perannya sebagai anak tertua. Bahwa prahara keluarganya membawa suatu efek pada Ucu, memang iya. Yang menjadikannya lebih sebagai korban. Bukan untuk ikut campur.

Sebuah keputusan kreatif yang saya puji.

Sebagai sebuah film, Athirah memiliki kedalaman dalam hal teknis dan artistik. Kamera arahan Yadhi Sugandhi (12 Menit Untuk Selamanya, Sang Penari) kerap menghadirkan gambar dalam simetris, yang justru beberapa kali menghadirkan sebuah ironi lewat pengadeganan Riri Riza. Yang dipadukan dalam penghadiran palette warna kebiruan untuk menghadirkan nuansa syahdu dan romantis.

Dalam satu adegan, kamera menampilkan sosok Athirah dan suaminya dalam ruang tamu keluarga. Mereka hanya melontarkan sebaris-dua baris dialog. Hanya mengandalkan bahasa ekpresi wajah dan tubuh. Kamera menangkap adegan dan interior dalam simetri. Tetapi, pergolakan batin antar dua karakternya—terutama saat Athirah melepas suaminya melangkah keluar pintu—menghadirkan sebuah ironi yang kuat. Bahwa dalam gambar simetri yang dihadirkan, hubungan suami-istri ini justru mulai ‘miring’ dan goyah.

Terkadang pula para karakternya ditampilkan di pinggir frame. Menampilkan keterasingan dan kesepian para karakternya.

Athirah memang relatif minim dialog. Kamera lebih sering menangkap ekspresi wajah para karakter lewat medium to close up shots. Selaras dengan konsistensi film ini untuk mengajak kita sebagai penonton dalam melakukan observasi. Bukan untuk menghakimi.

Meski harus diakui alpanya mengambil gambar lewat wide shots atau aerial sedikit mengurangi production value film sebagai “tontonan laris”. Saya menduga keputusan tersebut terkait dengan pertimbangan bujet artistik, untuk menjaga atmosfer kota Makassar tahun 60’an. Saya beberapa kali mengunjungi Makassar. Saya mengenali lokasi-lokasi yang ada di film ini. Makassar, seperti kota-kota di Indonesia lainnya, mulai tergerus oleh modernisasi. Wujud keteledoran pemerintah kita dalam menjaga peninggalan arsitektur. Jika sineas kita ingin membuat sebuah film berseting periodic di suatu era masa lalu negeri ini, mereka haruslah membangun set. Dan untuk itu diperlukan bujet yang besar. Keputusan Athirah lantas bisa dimaklumi.

Cita rasa dan atmosfer Makassar era 60’an di Athirah diakali dengan penggunaan properti yang cermat dan detail oleh penata artistik, Eros Eflin. Lewat busana, furnitur, kendaraan, hingga pemilihan seting interior. Juga lewat pemilihan musik yang terdengar seperti melantun lewat piringan hitam atau jukebox, serta kearifan lokal lewat musik bernuansa etnis.

“…poetic justice yang bukan untuk menghakimi. Lebih kepada sebuah penggambaran bahwa setiap manusia memiliki khilaf dan cela, yang suatu saat nanti, akan mendapat pembalasan tak terduga.”



SUATU POETIC JUSTICE

Athirah disutradarai oleh Riri Riza, kolaborator setia Mira Lesmana. Film ini adalah karya Riri ke 12 bersama Miles Films. Gaya ‘Non-sinetron-sih’ dan kegemaran Riri dalam memasukan kearifan lokal dalam setiap karyanya yang memiliki cerita universal (termasuk film televisi, Pesan Dari Samudra), menemukan tempatnya di film ini. Riri juga masih memasukkan unsur humor situasional dalam film ini.

Riri, sebagai putra asli Makassar, terlihat jelas amat menguasai subjek penceritaan. Riri secara bernas dan trengginas menangkap setiap elemen kultural. Lewat tari-tarian, adat pernikahan, alam, kain tradisional hingga ke kuliner. Riri kerap menghadirkan elemen kultural tersebut dalam montase, yang di beberapa momentum terasa sebagai sebuah promosi wisata. Seperti saat proses penenunan kain, atau interaksi antara Athirah dan para ibu. Penggunaan montase yang menghadirkan struktur episodik yang—sayangnya—sering membuat keterikatan emosional terputus.

Riri menampilkan makanan sebagai alat pemersatu antar karakter. Kamera kerapkali menyorot secara khusus makanan, seperti pepes ikan berbungkus daun pisang atau palumara ( makanan berkuah khas Makassar seperti gulai ikan). Kamera pun kerap menghadirkan para karakternya berinteraksi melalui makanan dan di meja makan. Menunjukkan interaksi antar manusia, di mana kita akan tahu bila ada karakter yang hilang dalam acara makan bersama. Makan bersama yang di awal film (termasuk dalam sekuens pembuka berwarna hitam putih) menampilkan kegembiraan dan kebersamaan, tetapi seiring cerita berjalan, berubah menjadi kehampaan dan kekosongan.

Riri menghadirkan suatu poetic justice yang indah dalam film ini. Tentang suatu hukum keadilan yang tidak akan saya ceritakan detailnya. Tetapi, sekali lagi, poetic justice yang bukan untuk menghakimi. Lebih kepada sebuah penggambaran bahwa setiap manusia memiliki khilaf dan cela, yang suatu saat nanti akan mendapatkan “balasan dan pelajaran” lewat peristiwa tak terduga.

Athirah berarti ‘keharuman perempuan’. Judulnya bisa dipandang sebagai suatu ekspresi feminisme di tengah sistem patrilineal yang kerap menafikan fungsi perempuan. Athirah dan Ibunya adalah dua sosok kunci dalam film ini. Dua sosok yang justru menjadi penyelamat karakter pria yang mestinya menjadi pelindung.

Ada nuansa romansa yang dihadirkan saat Ucu bertemu kekasih pujaannya, Idah (diperankan saat remaja oleh Indah Permatasari dan Tika Bravani saat dewasa). Nuansa romansa yang dihadirkan agar meraih simpati penonton muda. Akan tetapi harus diakui, pemasukan unsur romansa di sini tidak memiliki arti signifikan. Hanya sebagai pemanis. Bahkan di adegan jelang akhir, unsur romansa justru merusak pembangunan setup yang dibangun Riri dalam menghadirkan sebuah konklusi tentang kisah perempuan hebat. Kisah seorang perempuan bernama Athirah.

Athirah merupakan sebuah film fibio dan tribut kepada Ibu. Cukup kuat untuk membuat Anda akan teringat oleh sosok ibu. Tapi tidak teramat kuat untuk membuat Anda tertegun, membuat mata Anda basah dan berlari ke rumah untuk memeluk ibu Anda. Karena itu tadi, banyak emosi yang terputus.

Film ini hanya membawa Anda kepada sebuah observasi dan perenungan atas satu poetic justice. Terkadang bagi beberapa orang, sebuah perenungan sudah cukup, bila Anda menindaklanjuti perenungan itu kepada sebuah tindakan. Seperti yang dilakukan oleh Ucu.

(3/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on September 29, 2016

A Miles Films presentation

Producer : Mira Lesmana

Co-Executive producers : Imelda Yusuf, Marah Laut C. Noer

Line producer : B. Toha Prasetyanto

Director : Riri Riza

Screenplay : Salman Aristo, Riri Riza

Based on the book by Alberthiene Endah

Cinematography : Yadi Sugandi

Art Director : Eros Eflin

Editor : W. Ichwandiardono

Music, written and composed by Juang Manyala

Sound : Satrio Budiono, Sutrisno

Costume : Chitra Subyakto

Make up : Jerry Octavianus

Casts : Cut Mini, Jajang C. Noer, Christoffer Nelwan, Arman Dewarti, Tika Bravani, Indah Permatasari, Andrew Parinussa, Nino Prabowo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s