Eye in the Sky Essay : Bukan Soal Benar Salah Perang

by @Picture_Play

April 24, 2016

If you like our writings, please share them through your social media accounts.

” Judulnya sendiri merujuk pada teknologi mutakhir peperangan (warfare) yang digunakan, yaitu pesawat pengintai tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dalam mengawasi pergerakan musuh….Dengan kecanggihan teknologi tersebut, para pengambil kebijakan perang memiliki kuasa bak Tuhan”




Eye in the Sky adalah sebuah film tentang peperangan. Layaknya kisah tentang perang, film ini juga mengusung suatu pernyataan anti-perang dan efeknya terhadap kemanusiaan. Akan tetapi, film yang screenplay-nya ditulis dengan cermat oleh Guy Hibbirt dan diarahkan dengan penuh sensitifitas oleh Gavin Hood (Tsotsi, Ender’s Game) ini bukanlah sebuah sajian audio-visual tentang perang konvensional. Tidak ada adegan antar pasukan yang saling bantai dan basmi di medan laga, seperti di Saving Private Ryan, misalnya. Seperti laiknya sebuah film tentang peperangan, Eye in the Sky juga memberikan ketegangan. Tetapi lebih kepada ketegangan logistik yang lahir dari adu argumentasi, upaya diplomasi dan negosiasi menembus batasan geopolitik dan posisi pemerintahan dalam mengambil keputusan apakah diperlukan untuk menjatuhkan rudal ke sasaran.

Judulnya sendiri merujuk pada teknologi mutakhir peperangan (warfare) yang digunakan, yaitu pesawat pengintai tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dalam mengawasi pergerakan musuh. Lebih dikenal dengan istilah populer, drone. Dalam film ini, bentuk drone bermacam rupa. Mulai dari pesawat tempur mini sejenis Reaper yang dilengkapi dengan rudal Predator dengan akurasi serangan mengagumkan; berbentuk burung mockingbird; hingga berbentuk kumbang dengan ukuran ekstra mini. Dengan kecanggihan teknologi tersebut, para pengambil kebijakan perang memiliki kuasa bak Tuhan. Mereka bisa melihat gerak-gerik musuh secara leluasa, dengan resiko ketahuan amat minimum. Begitu dirasa perlu, boom! Musuh bisa diluluhlantakkan dalam hitungan detik. Seperti saat Tuhan memusnahkan pasukan gajah milik Raja Abrahah yang ingin menghancurkan Mekah lewat pasukan burung ababil di dalam Kitab Suci.

Namun, yang membuat Eye in the Sky menjadi istimewa adalah bagaimana screenplay dan arahan Gavin Hood secara luar biasa unik mampu bekerja di berbagai lapisan, tidak hanya berkutat pada pemaparan prosedural dalam menentukan kebijakan yang berakhir pada pelabelan “salah” dan “benar”. Produk akhirnya membawa penonton kepada suatu pemahaman bahwa dalam memutuskan perang dan menyerang, tidak hanya dilandaskan pada cara melihat ideologi yang berseberangan. Bahwa dalam proses pengambil keputusan perang juga dilibatkan tindakan menimbang, mengukur, dan mengestimasi segala dampak psikologis agar kerusakan bisa diminimalisir. Bahwa para jenderal dan pemimpin negeri bukanlah Tuhan, juga bukanlah Iblis yang tak punya nurani, melainkan hanyalah manusia yang juga bisa merasakan getir.



 AKSI TUNGGAL, LINTAS GEOPOLITIK

Untuk menegaskan bahwa isu yang diusung dalam Eye in the Sky adalah sebuah permasalahan global, lokasi yang dipakai pun lintas negeri, menjadikan film ini sebuah suspense thriller mengenai sebuah aksi tunggal yang terjadi di Nairobi, Kenya; dikomandoi dari sebuah ruang bawah tanah di London, Inggris; pesawat drone berudalnya dikendalikan dari sebuah pangkalan militer di Nevada-Las Vegas, Amerika Serikat; bahkan melibatkan menteri luar negeri yang sedang bermain ping-pong di Beijing, Cina. Kesemuanya disunting secara berkelindan dalam teknik cross-cutting dan inter-cutting memberikan efek dinamis, ditambah penggunaan berbagai istilah dan akronim kemiliteran yang membuat penonton menyaksikan sambil meringis.

Film dibuka dengan menampilkan satu keluarga kecil di Nairobi yang sedang berada di halaman belakang rumah mereka yang tandus dan berdebu. Sang ibu yang mengenakan hijab sedang memanggang roti untuk dijual dan sang ayah sedang membuatkan sebuah hula-hoop untuk anak perempuannya yang cantik, Alia. Lalu kamera merangkak naik, membawa kita melihat lingkungan tempat tinggal mereka dalam establishing shot. Rumah dan desa mereka dikelilingi oleh tembok seperti tembok Berlin. Kemudian kita diberitahu bahwa tempat mereka tinggal dikuasai oleh separatis yang menerapkan hukum syariat Islam.

Lalu kita dibawa ke Inggris Raya. Waktu menunjukkan pukul 04:15 dinihari. Perempuan paruh baya berpangkat kolonel, Katherine Powell (diperankan dengan sangat brilian oleh aktris kawakan, Helen Mirren) terbangun dari peraduan di samping suaminya yang mendengkur. Ia lalu melihat sebuah video yang ditautkan di pesan elektronik yang ditujukan kepadanya. Ia melihat sebuah kekejaman, di mana seorang agennya dibunuh secara brutal oleh kelompok teroris Al- Shahab. Kamera mengajak kita melihat dan mempelajari ekspresi wajahnya yang memperlihatkan beragam rasa. Matanya terlihat nanar dan murka, namun garis matanya nampak berduka dan tak berdaya. Ia seorang alpha-female yang keras dan tegas, namun penonton bisa dibuatnya merasakan empati. Sebuah interpretasi reka rasa yang hanya bisa dihadirkan oleh aktris sekawakan Mirren yang sejalan dengan tujuan utama film, mengajak penonton untuk melihat dan mengamati, merasakan hidup dan mati, melalui lensa kamera yang diarahkan dengan mumpuni.

Apa yang dilihat oleh Kolonel Powell membuatnya harus segera bertugas kembali ke markas besarnya di daerah Northwood, Inggris. Di sebuah teritori di mana ia satu-satunya perempuan yang memegang kendali, di kelilingi para staf pria yang memanggilnya “ Ma’am” dengan hormat dan segan. Powell punya kekuasaan tak main-main, salah satunya memegang kendali langsung ke para pilot drone tempur yang bermarkas di Nevada, yang salah satunya diperankan dengan simpatik oleh Aaron Paul (serial televisi Breaking Bad).

Kolonel Powell sudah mengetahui target yang dicari. Salah satunya adalah pasangan suami-istri teroris asal Somalia, Abdullah Al Hady dan Ayesha Al Hady, yang sudah selama enam tahun terakhir menjadi buron mereka. Akan tetapi, status kewarganegaraan mereka membuat keadaan menjadi pelik. Dua di antara teroris adalah warga negara Amerika, sedangkan Ayesha berkewarganegaraan Inggris. Atasan Powell, Letnan Jenderal Frank Benson yang sangat sensitif akan isu politik bilateral dengan sekutu Inggris, meminta agar mereka ditangkap hidup-hidup. Perintah Let.Jend Benson jelas bahwa operasi ini adalah “operasi penangkapan, bukan pembunuhan”.

Let.Jend Frank Benson diperankan oleh mendiang Alan Rickman. Film ini adalah salah satu akting terakhirnya sebelum tutup usia tahun ini. Seperti dalam film-filmnya yang lain, Rickman tampil menghipnotis. Setiap dialognya diucapkan dalam artikulasi jelas dan pelan, namun lugas dan tegas. Dia membawakan karakternya dengan kedalaman dimensi, meski screen time-nya tidak sebanyak Mirren. Saat karakter Rickman muncul, layar menjadi miliknya seorang.

Kolonel Powell dan Let.Jend Benson berada di kantor terpisah, namun mereka punya rencana yang sama. Rencananya adalah untuk menggunakan serangkaian drone yang terhubung dengan komunikasi satelit video, untuk mengawasi suami istri Al Hady dan komplotannya yang ditengarai berada di Nairobi. Jadi Powell bisa mengawasi gerak-gerik mereka di markasnya, Benson bisa menentukan langkah yang diperlukan karena ia juga bersama Menteri Pertahanan Inggris, serta para staf penasihat hukum dan politik.

Saat salah satu drone gagal masuk ke rumah persembunyian Al Hady dan komplotannya, Powell memerintahkan rekanan mereka di Nairobi, diperankan oleh Barkhad Abdi (aktor nomine Oscar lewat Captain Phillips, bermain sangat bagus di sini), untuk menggunakan drone berbentuk kumbang yang lebih leluasa mengintai.

Apa yang mereka temukan sangat mencengangkan. Komplotan Al Hady ternyata sedang mempersiapkan serangan bom bunuh diri yang diasumsikan akan menyasar sebuah pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung. Melihat gentingnya situasi, Powell memutuskan untuk mengubah rencana dari “menangkap” menjadi “membinasakan”. Pertimbangan Powell amatlah logis, lebih baik menghancurkan rencana mereka, ketimbang membuat puluhan orang binasa.

Keputusan Powell tidak lantas mendapat kata mufakat. Ia mesti mendapat persetujuan dari berbagai pejabat terkait dan mempertimbangkan segala efeknya. Saat persetujuan didapat, permasalahan baru muncul. Alia, sang gadis kecil penjual roti yang diperlihatkan di awal film, berada amat dekat dengan rumah komplotan teroris. Ia bisa menjadi korban, suatu hal yang tidak diperkenankan oleh Hukum Etika Perang Internasional. Maka Powell sekali lagi harus melakukan negosiasi, perhitungan ulang, dan diplomasi demi melegalkan tindakannya. Sebuah keputusan maha pelik, mengorbankan seorang gadis kecil tak bersalah seperti Alia atau membiarkan komplotan teroris membunuh puluhan jiwa lainnya.

Di sinilah ketegangan sesungguhnya terjadi.

“…yang membuat Eye in the Sky menjadi istimewa adalah bagaimana screenplay dan arahan Gavin Hood secara luar biasa unik mampu bekerja di berbagai lapisan, tidak hanya berkutat pada pemaparan prosedural dalam menentukan kebijakan yang berakhir pada pelabelan “salah” dan “benar””



JUS AD BELLUM & JUS IN BELLO, ELEMEN SUSPENSE THRILLER

Ketegangan utama di Eye in the Sky memang terletak pada dilema para karakter utamanya yang dihadapkan pada apa yang disebut “spektrum moralitas”. Bahwa keputusan yang akan mereka sepakati dan jalankan, dikat oleh sebuah etika peperangan yang diatur dalam hukum internasional. Tidak bisa hanya sekadar memikirkan satu sisi, melainkan banyak aspek.

Film ini mengajak penonton untuk memahami sebuah cabang hukum internasional yang disebut jus ad bellum dan jus in bello.

Jus ad bellum secara umum adalah hukum yang mendefinisikan alasan yang melegitimasi sebuah negara untuk mendeklarasikan perang atau memerangi pihak lain. Sebagaimana yang diatur dalam Karta Perserikatan Bangsa-Bangsa di Artikel Kedua, setiap negara anggota PBB harus mempertimbangkan segala aspek yang bisa mempengaruhi hubungan internasional sebelum memutuskan untuk menggunakan kekuatan militer mereka, dalam memerangi setiap ancaman. Terlebih ancaman yang dirasakan berada di sebuah negara yang secara politik bebas dan independen. Dalam Eye in the Sky jelas diperlihatkan kegamangan Kolonel Powel dan Let.Jen Benson saat mengetahui bahwa komplotan teroris Somalia hendak beraksi di Kenya, sebuah negara yang disebutkan sebagai negara bebas dalam menjalankan fungsi politik internasional.

Saat mereka mendapatkan alasan untuk menyerang, mereka kembali dihadapkan pada satu jenis hukum baru yang disebut jus in bello. Berlawanan dengan jus ad bellum, jus in bello justru merupakan hukum yang mengatur dampak yang akan ditimbulkan setelah perang diluncurkan. Secara umum, jus in bello mengatur bagaimana perang tersebut mesti dilakukan, termasuk salah satunya menegaskan bahwa anak-anak dan warga sipil tak bersalah agar tidak menjadi korban, seperti yang termaktub dalam Konvensi Jenewa di tahun 1949.

Itu sebabnya saat mengetahui ada anak kecil yang berada di radius berbahaya pemboman, karakter yang diperankan oleh Aaron Paul mempertanyakan kembali titah Kolonel Powell, atasannya. Powell yang mengerti aturan jus in bello, lantas tidak menganggap bawahannya itu menentang garis komando. Ia justru meminta pertimbangan staf hukumnya segala saran terbaik agar Inggris dan Amerika Serikat tidak disalahkan atas serangan itu. Ditambah kekhawatiran Let.Jend Benson bahwa segala rekaman pembicaraan dan video aksi pengintaian, serta perencanaan penyerangan itu, bisa diunggah ke YouTube. Celetukan ini mengundang humor di tengah ketegangan yang berlangsung.

Segala teori tentang etika hukum perang tersebut akan terasa tidak organik bila ditangani oleh sutradara yang tidak sensitif. Gavin Hood berhasil mengeksekusinya dalam pengadeganan yang teliti dan dibangun dengan rapi.

Didukung dengan “amunisi” berupa aktor-aktor cakap, Gavin Hood sukses dalam menghadirkan dilema moralitas ke masing-masing karakternya.

Dalam satu adegan yang amat sekejap, Kolonel Powell milik Helen Mirren diperlihatkan memegang tasbih, saat ia gamang dalam berpikir dan menimbang. Tasbih atau rosario memiliki fungsi sebagai pengingat bagi umat Islam dan Kristiani saat mereka mengingat dan mengagungkan Asma Ilahi. Secara implisit, karakter Powell bukanlah seorang utilitarian sejati yang menghalalkan segala daya upaya agar tujuannya tercapai. Ia juga menyadari bahwa setiap keputusannya memiliki efek fatal terhadap mahluk ciptaan Tuhan.

Hood juga menampilkan perbedaan besar antara Inggris dan Amerika Serikat dalam memandang suatu persoalan. Meski merupakan negara bersekutu, mereka memiliki cara pandang berbeda. Dalam suatu adegan diperlihatkan bahwa menteri luar negeri Amerika langsung dengan tegas mengizinkan penyerangan, meski diberitahu ada potensi munculnya korban sipil. Di adegan lain, lewat tele-conference, seorang wanita staff ahli presiden Amerika Serikat ditampilkan menunjukan keberpihakan kapitalis. Dia berpendapat lebih baik mengorbankan satu anak-anak di daerah kumuh, ketimbang mengorbankan 80 jiwa lain di pusat perbelanjaan sebagai korban bom bunuh diri.

Sementara Inggris, digambarkan lebih berhati-hati dan mengutamakan aturan, serta etika.  Para pimpinan negeri ini diperlihatkan bak aristokrat sejati yang elegan dan terperinci. Bahkan salah satu staff ahli Inggris bernama Angela terang-terangan menolak rencana pemboman, jika ada satu anak tak berdosa menjadi korban.

Hood menggambarkan Amerika Serikat sebagai pihak yang taktis, sementara Inggris sebagai pihak yang strategis.

Secara filmis, Eye in the Sky terasa memiliki unsur suspense thriller, seperti yang ditemukan dalam film-film Alfred Hitchcock, meskipun sebenarnya film ini bergenre drama. Suspense hadir karena penonton tahu ada bom yang akan meledak dan akan ada rudal yang ditembakkan. Penanaman informasi yang cermat, membuat penonton diajak berpacu dengan waktu. Penonton dibuat geram yang akhirnya berteriak secara tak sadar kepada Alia, “ Cepatlah pergi dari situ! Berhentilah menjual roti! Ada bom yang akan meledak!”. Penonton diajak peduli dengan para karakternya.



BUKAN SOAL “BENAR” ATAU “SALAH”, BERPIHAK KEPADA RAKYAT KECIL

Eye in the Sky adalah contoh sebuah film yang memiliki tantangan kompleks bila ditinjau dari aspek filosofis. Karena film ini tidak bermaksud menenjukan keberpihakan antara mana yang “salah”dan mana yang “benar”. Mengilustrasikan sebuah kondisi kompleks tanpa kebiasan. Karena segala keputusan diambil dengan logika, pemikiran, dan pertimbangan. Bahkan karakter yang diperankan oleh Hellen Mirren, lebih mengutamakan logika ketimbang perasaan. Sebuah kontradiksi dari stereotipe karakter perempuan kebanyakan. Dalam satu adegan, karakter staff ahli bernama Angela mencela keputusan yang akhirnya memutuskan untuk membom kelompok Al Shahab, meski menimbulkan korban anak-anak tak bersalah.

“Menurutku hal ini memalukan. Semua dilakukan hanya untuk mengamankan kursimu, “ ujar Angela yang matanya merah dan basah berlinangan air mata kepada Let.Jend. Benson milik mendiang Alan Rickman.

Benson lalu menjawab dengan tegas, namun bisa kita dengar menahan kepedihan yang sama, “ Jangan pernah mengatakan kepada seorang tentara, bahwa dia tidak tahu apa akibat yang ditimbukan oleh perang, “.

Sebuah kalimat yang bisa menjadi menggurui, namun tidak di tangan seorang sekaliber Alan Rickman. Dia menjawabnya dengan elegan dan berwibawa, namun ada kegetiran di dalamnya.

Gavin Hood memang tidak menunjukkan mana yang salah dan benar lewat Eye in the Sky. Tapi, jelas dia berpihak kepada korban perang. Reaksi karakter Angela, karakter Aaron Paul, dan rasa bersalah Powell, serta Benson menjadi buktinya.

Keberpihakan terhadap korban perang juga diperlihatkan Hood dalam tingkatan berbeda di Ender’s Game. Di film itu, karakter Ender milik Asa Butterfield juga menampilkan reaksi yang sama, setelah memusnahkan planet yang tadinya dipropagandakan sebagai tempat berdiamnya musuh.

Eye in the Sky akan mendapat hasil maksimal, meninggalkan penonton dalam ambiguitas moral dan interpretasi terbuka. Sayangnya, Hood memilih untuk memperlihatkan montage di mana Alia bermain hula-hoop dalam gerakan slow-motion. Bagi Hood, Alia adalah simbol ketidakberdayaan masyarakat negara miskin yang nasibnya ditentukan oleh negara-negara kaya adikuasa.

Sebuah pernyataan sikap yang patut dipuji, meski bila ditiadakan, efek yang dihasilkan filmnya akan jauh lebih besar. Meski tidak disangkal, Eye in the Sky adalah salah satu contoh film bertema perang terbaik dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

(4/5)                

By @Picture_Play 

Reviewed at Blok M Plasa 21 cinema chains, April 20, 2016.

Running time : 102 minutes

Production : Entertainment One Pictures (UK) in association with Raindog Films.

Distributed in Indonesia by Amero, a subsidiary of 21 Groups.

Produced by Ged Doherty, Colin Firth, David Lancaster

Executive producers : Xavier Marchand, Benedict Carver, Anna Sheehan, Claudia Bluemhuber, Guy Hibbert, Stephen Wright

Directed by : Gavin Hood

Screenplay : Guy Hibbert

Camera (color) : Haris Zambarloukus

Editor : Megan Gill

Music : Paul Hepker, Mark Killian

Production designer : Johnny Breedt

Art director : Graeme Cowie

Set Decorator : Fred du Preez

Costume designer : Rury Filipe

Starred by : Helen Mirren, Alan Rickman, Barkhad Abdi, Aaron Paul, Iain Glenn, Richard McCabe, Jeremy Northam, Phoebe Fox

 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s