Ini Kisah Tiga Dara Review : Tak Ada Encore Untuk Film Ini

September 6, 2016

“…, penggunaan judul “Tiga Dara” tak pelak membuat versi modern kisah bertema matrilineal ini dibandingkan dengan versi Usmar Ismail. Dan penggunaan judul itu bagaikan kutukan. Enam puluh tahun berselang sejak dirilis pertama kali ke publik, versi klasiknya masih terasa amat superior dibandingkan versi modern.”




Ini Kisah Tiga Dara bukanlah remake film klasik Tiga Dara karya Usmar Ismail (baca ulasannya) yang kebetulan versi hasil restorasinya dirilis lebih dahulu. Seperti diklaim sutradara, Nia Dinata, filmnya lebih merupakan karya yang diinsiprasi oleh film rilisan 1956 tersebut.

Juga memakai konsep musikal yang kali ini lebih condong ke nuansa jazzy ala pertunjukan Broadway, Ini Kisah Tiga Dara mengambil beberapa elemen dan story-arc dari film klasiknya. Meski demikian, penggunaan judul “Tiga Dara” tak pelak membuat versi modern kisah bertema matrilineal ini dibandingkan dengan versi Usmar Ismail. Dan penggunaan judul itu bagaikan kutukan. Enam puluh tahun berselang sejak dirilis pertama kali ke publik, versi klasiknya masih terasa amat superior dibandingkan versi modern.

Konsep musikal di mana lagu-lagunya berisi lirik yang interwoven dengan penceritaan, malah menjadi bumerang bagi Ini Kisah Tiga Dara. Nyawa sebuah film dan pertunjukan musikal adalah lagu. Ironisnya, lagu-lagu dalam Ini Kisah Tiga Dara tidak memberikan nyawa yang dimaksud. Lagu-lagu orisinal di film ini tidak menginspirasi penonton untuk ikut berdendang. Bahkan membuat chorus lirik lagunya nyantol  di benak pun tidak. Liriknya seperti ditulis dalam bentuk terjemahan dari Bahasa Inggris. Tidak puitis dan tidak memiliki stanza. Seorang rekan blogger, Vincent Jose, lewat akun Twitter-nya menyebut bahwa lirik-lirik lagu orisinal di film ini memaksakan ketukan. Jadinya wagu dan tidak mengena.

Saya setuju.

Dalam Tiga Dara versi klasik, lagu-lagunya dalam susunan stanza yang puitis dan mengandung nilai sastra. Sesuai ketukan. Di Ini Tiga Dara, lirik-liriknya bagaikan dialog kasar yang dipaksakan menjadi lagu dan diisi oleh diksi yang dipenuhi konsonan yang jadinya membuat artikulasi terhambat dan membuat—dalam istilah anak muda kekinian—mati gaya. Permasalahan makin ditambah oleh pilihan beresiko Nia Dinata untuk memaksakan para pemeran utamanya menyanyikan setiap lagu-lagu di dalam film. Mereka sayangnya bukan penyanyi dengan latar pertunjukan panggung yang memang ditempa untuk berlakon dalam sebuah produksi musikal. Mereka bisa menyanyi, tentu saja, Terlebih Shanty Paredes adalah penyanyi pop yang telah melahirkan beberapa album. Namun, untuk bernyanyi dalam sebuah produksi musikal diperlukan kemampuan sang pelakon untuk memberikan dramatisasi dalam lagu yang dinyanyikan, lewat aksentuasi, keterampilan menginterpretasi dan memenggal bait lagu agar menghadirkan suatu emosi yang koheren dengan cerita. Di Ini Kisah Tiga Dara, lagu-lagu tersebut terasa hampa. Tanpa emosi, tanpa penjiwaan dan tanpa dramatisasi.

Entah kenapa, sound editing saat nomor musikal pun terdengar tak berpadu tempat sebagai latar. Terdengar jelas bahwa lagu-lagu yang  dinyanyikan, ditampilkan di layar lewat proses dubbing.

Masalah kedua adalah di koreografi yang dirancang oleh penari balet berbakat, Adella Fauzi. Koreografinya terkesan tidak selaras dengan ketukan lagu. Para pemainnya pun terlihat tidak menguasai dan menjiwai gerak tari. Bahkan di banyak adegan, para pemain utama terkesan terpaksa melakukan koreografi. Kamera pun tidak cair dalam menangkap pergerakan momentum tarinya. Saya menduga keterbatasan jumlah kamera yang menjadi masalah utamanya.

Padahal secara filmis, Ini Kisah Tiga Dara menawarkan suatu gagasan yang menarik. Memindahkan seting Jakarta tempo doeloe ke Maumere yang eksotis, naskahnya memberikan sebuah gagasan tentang ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dan bagaimana bila itu diterapkan akan tercipta sebuah kehidupan harmonis.

Maumere digambarkan dalam film ini sebagai representasi gagasan ideal Nia Dinata tentang bagaimana hidup bisa berjalan berdampingan meski berbeda keyakinan. Dalam beberapa shots, kamera memperlihatkan sosok perempuan berjilbab di pasar tradisional dan juga perempuan dalam busana kain tenun tradisional yang jelas disebut sebagai penganut Kristiani yang berdialog dengan Gendhis. Sepanjang film, kita diberitahu bahwa kehidupan di Maumere damai dan tentram, berbanding lurus dengan keelokan pemandangannya. Bahkan Gendhis tak perlu mengunci mobil, saking amannya.

Nia Dinata yang film-filmnya selalu dipenuhi oleh gagasan tentang feminisme dan kehidupan harmonis, kembali menghadirkan semangat tersebut di film ini.



KARAKTER KARIKATUR

Cerita Ini Kisah Tiga Dara bermula dari tiga pemudi: Gendhis (sebenarnya diperankan dengan amat baik oleh Shanty Paredes), putri sulung yang sudah berusia dewasa. Dia berprofesi sebagai chef utama di hotel butik milik keluarga yang dikelola oleh ayah mereka (diperankan oleh Ray Sahetapy); lalu ada Ella (diperankan dengan baik oleh Tara Basro, salah satu aktris generasi muda berbakat), si putri kedua yang berprofesi sebagai public relation di hotel yang sama. Ella tipikal gadis yang agresif dan ambisius. Sorot matanya tajam bak menghunjam jantung, senyumnya memukau dan mengandung misteri; terakhir ada Bebe (diperankan dengan penuh enerji dan antusiasme oleh aktris pendatang baru Tatyana Akman), putri bungsu yang mengajar Bahasa Inggris di salah satu kampung di Maumere. Bebe adalah penggambaran anak muda masa kini yang ekspresif dan ceria, serta tak segan mengekspresikan gejolak seksualitasnya dengan Erick (Richard Kyle), bule Amerika yang gemar travelling.

Bertiga mereka berada dalam sebuah taksi hendak menjemput sang Nenek (diperankan oleh Titiek Puspa) yang tinggal di Jakarta. Si Nenek ini ditampilkan secara karikatur dan, sayangnya, hanya berfungsi sebagai comic relief yang bertujuan untuk menertawakan prinsip hidupnya yang kolot. Dalam aspek ini, penggambaran karakter sang nenek berbeda dari apa yang ditampilkan oleh Fifi Young dalam versi klasik Usmar Ismail. Di versi 1956 itu, Nenek masih berfungsi sebagai rem moral atas cucu-cucunya. Sedangkan versi yang diperankan Titiek Puspa merupakan nenek “gaul” yang bahkan berceletuk, “Cus!” kepada cucu-cucunya. Sebuah ekspresi dalam bahasa pergaulan masa kini yang menggantikan fungsi kata. ”Ayok!”. Sungguh suatu penggambaran kontradiktif dari seorang nenek yang masih memandang bahwa, “Kalau perempuan terlalu pintar, laki-laki juga takut.”

Taksi yang ditumpangi oleh ketiga dara jelita tersebut sempat terhambat oleh keramaian yang disebabkan oleh sebuah resepsi pernikahan seorang warga. Karakter Gendhis milik Shanty Parede dengan sinis sempat berceletuk, “ Nikah kok ngerepotin orang lain dan bikin macet jalan”. Dari sini, kita diberi petunjuk bahwa Gendhis adalah orang yang memiliki pandangan sinis dalam memandang sebuah lembaga pernikahan. Nanti kita diberitahu bahwa Gendhis mengalami suatu trauma dari hubungan percintaannya di masa lalu.

Singkat kata, diboyonglah sang nenek ke Maumere. Sama seperti film klasiknya, Sang Nenek risau karena cucu sulungnya tak kunjung mendapat jodoh. Ia pun masih berprinsip bahwa adik-adik Gendhis tak boleh menikah mendahului sang kakak. Maka Nenek pun berusaha menjadi mak comblang.

Sama seperti film klasiknya, jodoh Gendhis justru datang lewat sebuah insiden tabrakan. Kali ini bukan oleh skuter, melainkan oleh motor gede mahal bermerk Triumph yang dikendarai oleh Yudha (diperankan oleh Rio Dewanto). Yudha bukanlah pemuda klasik macam Toto milik Rendra Karno di film klasiknya. Yudha merupakan pengusaha yang memiliki jaringan hotel butik ternama dan merupakan penggambaran sosok macho masa kini. Badannya atletis, bergaya rambut high fade dengan rambut panjang di atasnya, tubuhnya dihiasi tato, dan kulitnya coklat akibat sering berjemur.

Seperti film klasiknya, Yudha tertarik dengan sifat ketus, mandiri dan sinis Gendhis. Apa daya, kemapanan dan pesona Yudha juga turut menarik perhatian Ella yang memang kerap bersaing dengan sang kakak. Padahal Ella memiliki pemuja rahasia, teman sedari kecil bernama Bima (diperankan oleh Reuben Elishama) yang sebenarnya tak kalah ganteng dan juga memilik tato di tubuhnya.

Sempat dekat dan juga menaruh hati, Gendhis justru melihat Yudha memiliki agenda tersembunyi terkait bisnis. Konflik pun terjadi antara Gendhis-Yudha-Ella-dan Bima.

Ada sedikit twist yang sebenarnya tidak memiliki arti signifikan terhadap cerita secara keseluruhan.

Ini Kisah Tiga Dara sebenarnya akan lebih bekerja bila tidak dipaksakan menjadi sebuah sajian musikal tulen. Dramatisasi dan penampilan para pemain, justru menonjol terlepas dari nomor musikalnya.”



VERSI HIPSTER DARI VERSI ORISINAL

Ini Kisah Tiga Dara sebenarnya akan lebih bekerja bila tidak dipaksakan menjadi sebuah sajian musikal tulen. Dramatisasi dan penampilan para pemain, justru menonjol terlepas dari nomor musikalnya.

Film ini juga menjadi bukti kepiawaian Nia Dinata dalam menciptakan dinamika yang baik antara para pemainnya. Menyaksikan para pemain berlakon dalam film ini, seperti melihat sekumpulan teman lama yang bertemu dan bercengkrama. Hubungan antar pemainnya terasa amat cair dan organik, sehingga membuat dialog yang seringkali kaku dan tidak natural, tersampaikan dengan baik. Seperti kawan lama yang sedang mengobrol.

Tengok saja dialog antara Yudha dan Gendhis saat mengobrol tentang filosofi dan pilihan hidup. Di tangan aktor kapiran dan di bawah arahan sutradara yang tak sensitif, dialog macam begini akan terasa konyol. Dalam satu adegan, obrolan antara Yudha dan Gendhis terasa seperti obrolan dua orang di sebuah kafe di New York, hanya saja seting berpindah ke sebuah warung kopi tradisional.

Kerja kamera juga membuktikan bahwa Nia Dinata memiliki selera artistik yang tinggi. Sinematografer Yudhi Datau kerap menangkap pemandangan indah dan eksotis, dengan menampilkan para karakternya di pinggir layar demi menonjolkan keindahan alam yang menjadi latar belakang.

Kamera Yudhi memang sering menangkap objek eksotis. Kain tenun, gereja kuno, hingga ke proses memasak. Pada satu poin, saya berpikir Nia Dinata akan mampu membuat sebuah film bertema kuliner yang bagus. Terlihat dari cara kamera menyorot proses memasak yang akan membuat Anda menelan air liur.

Keeksotisan dan selera berkelas juga ditunjukkan oleh bagaimana Eros Eflin sebagai perancang produksi membangun dunia dan hotel yang menjadi mayoritas seting cerita. Kain-kain tenun dan linen sutra disusun sedemikian rupa sebagai ornamen. Pilihan perabotan dapur dan pernak-pernik juga mendukung upaya membawa tampilan film ini menjadi sophisticated. Pun dengan pilihan busana yang dikenakan para dara yang menyesuaikan tuntutan zaman agar lebih praktis. Lewat berbagai wrap dresses dan gaun yang terkadang diselang-seling dengan kain tenun tradisional.

Tak mengherankan memang, karena Ini Kisah Tiga Dara adalah karya sineas yang selalu berhasil menampilkan penataan artistik menarik. Mulai dari Cau Bau Khan, Arisan hingga dokumenter batik, Batik Our Love Story.

Tetapi, film ini cenderung menampilkan antusiasme dalam memandang keeksotisan Maumere lewat sudut pandang kaum urban. Para karakter di film ini seolah berada di dunia dan kelas terpisah dengan seting tempatnya berpijak. Tak ada interaksi konkret antara cerita yang disajikan dengan para penduduk lokal. Interaksi yang dilakukan Gendhis di pasar tradisional adalah hubungan antara pembeli dan penjual. Interaksi antara Bebe dan anak muridnya yang ditampilkan sekilas adalah hubungan antara filantropis kota dan para penduduk lokal yang menafikan emosi sebenarnya. Yudha? Karakternya pun sudah terlepas secara emosional dengan Maumere sejak lama. Dia datang sebagai turis, bukan penduduk lokal. Mungkin alangkah baiknya bila karakter Yudha memang merupakan pemuda asli Maumere. Dengan begitu, interaksi antara cerita, karakter dan seting akan lebih bermakna.

Alpanya korelasi kontekstual antara seting Maumere dan cerita menjadikan film ini tak lebih sebagai versi hipster dari versi orisinal Tiga Dara. Hanya memandang lokasinya sebagai lokasi eksotis, tempat plesir dan gaya hidup snobisme.



TAK MEMUNCULKAN MINAT UNTUK MENGUCAPKAN “ENCORE!”

Bila Tiga Dara versi klasik mengadopsi pemikiran Barat dengan pendekatan kebijakan lokal, Ini Kisah Tiga Dara terlihat memindahkan karakter dan budaya Barat ke alam Maumere hanya sebagai latar.

Hal ini digambarkan lewat betapa tolerannya film ini dengan pilihan romansa karakter Bebe. Tak segan karakter ini bercumbu dengan panasnya meski tahu ada sang nenek yang menyaksikan. Apakah ini memang benar penggambaran anak muda masa kini?

Bila demikian, maka alasan menampilkan sang nenek sebagai sosok yang mengerjakan ritual keagamaan menjadi hanya tempelan. Dalam suatu adegan diperlihatkan sang nenek yang masih tertidur di peraduan, terdapat hamparan sajadah. Tanda bahwa sang nenek usai menunaikan shalat. Bila dimasukkannya shot ini sebagai suatu elemen penting dalam penceritaan, mestinya sang nenek akan menerapkan suatu aturan tegas terhadap Bebe. Ini tidak. Bebe dan pilihan seksualitasnya malah terkesan menertawakan sis relijius sang nenek yang seharusnya bisa menghadirkan konflik lebih jauh. Yang terjadi adalah Ini Kisah Tiga Dara menggampangkan peluang konflik yang lebih koheren, demi berfokus pada penyelesaian klise seperti pada versi aslinya.

Sungguh disayangkan.

Ending film memperlihatkan seluruh pemain berada dalam satu frame, selepas nomor klasik “Tiga Dara” dari versi film klasiknya. Hal yang lazim dilakukan di sebuah pertunjukkan panggung musikal di mana seluruh pemain tampil di atas panggung dan melakukan salute kepada seluruh penonton.

Bila sebuah pertunjukan musikal berhasil memikat penonton, maka akan seruan, “Encore!”. Sebuah ekspresi dalam Bahasa Perancis yang meminta tim produksi membawakan satu atau dua nomor musikal tambahan.

Tapi, tidak ada keinginan untuk mengucapkan, “Encore!” untuk Ini Kisah Tiga Dara.

Sebuah film dengan produksi desain memikat dan para pemain berbakat yang sayangnya hanya numpang lewat. Begitu credit title bergulir di layar, tak satupun nomor musikal yang menempel di ingatan.

Keberhasilan film ini hanyalah terletak pada kemampuannya untuk membuat kita berkunjung ke Maumere. Dengan ditemani barisan soundtrack versi asli atau yang dilantunkan oleh Bonita dan kawan-kawan di versi albumnya.

Bukan yang dinyanyikan di layar lebar.

(2/5)

Reviewed at CBD Ciledug XXI, September 3, 2016.

A Kalyana Shira Films and SA Films presentation

Executive producers : Gerry Simbolon, Alex Sihar, Rizka F. Akbar

Co-executive producer : Yoki P. Soufyan

Producer : Nia Dinata

Co-Producer : Melissa Karim

Directed by Nia Dinata

Screenplay : Nia Dinata, Lucky Kuswandi

Director of photography : Yudhi Datau

Production Designer : Eros Eflin

Music : Aghi Narottama, Bemby Gusti

Editor : Aline Jusria

Costume : Tania Soerapto

Make-up : Stella Gracia

Dance choreography : Adella Fauzi

Sound : Khikmawan Santosa, Indrasetno Vyantrata

Casts : Shanty Paredes, Tara Basro, Tatyana Akman, Titiek Puspa, Rio Dewanto, Reuben Elishama, Richard Kyle, Ray Sahetaypy, Cut Mini, Joko Anwar (cameo)

 

 

 

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s