miss-peregrines-home-movie-poster

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children Review : Rumah Kosong Dengan Dekorasi Ala Tim Burton

October 5, 2016

Miss Peregrine memang menunjukkan jejak-jejak sinematis seorang Burton. … Jejak-jejak yang malah membawa saya kepada sebuah rumah yang kosong. Rumah dengan dekorasi dan ornamen milik Burton, sayangnya “rumahnya” secara keseluruhan bukanlah milik dia.”




Bisa dipahami bila Tim Burton tertarik untuk menyutradarai Miss Peregrine’s Home for Peculiar Childrens, upaya ekranisasi materi young-adult berjudul sama karya Ransom Riggs.

Kisah tentang seorang anak yang kikuk dan terasing dari pergaulan sosial adalah teritorinya. Tambahkan dengan berbagai karakter aneh, antisosial, dan hidup di sebuah dunia anakronis yang dibandingkan dengan lingkungan sekitar menjadi “makanan” kegemaran Burton. Padukan tema itu dengan cita rasa gothic dan estetika bergaya baroque yang di atas kertas akan menjadi sebuah suguhan visual yang lezat.

Miss Peregrine memang menunjukkan jejak-jejak sinematis seorang Burton. Mulai dari Edward Scissorhand, Sleepy Hollow hingga ke Dark Shadows. Akan tetapi, filmnya sendiri hanya memperlihatkan jejak. Jejak yang kemudian saya ikuti dengan riang gembira, tetapi tidak membawa saya kepada satu pengungkapan yang memuaskan. Jejak-jejak yang malah membawa saya kepada sebuah rumah yang kosong. Rumah dengan dekorasi dan ornamen milik Burton, sayangnya “rumahnya” secara keseluruhan bukanlah milik dia.

Rumah menjadi seting utama film ini. Bukan sembarang rumah, melainkan sebuah rumah khusus di sebuah lokasi terpencil di Welsh yang dikelola oleh Nona Peregrine (diperankan oleh Eva Green, Dark Shadows), perempuan cantik yang amat disiplin soal waktu, gemar menghisap rokok cangklong dan mengenakan busana bergaya gothic berwarna serba hitam. Dalam film ini, saya melihat sosok Nona Peregrine seperti perpaduan antara Professor Xavier (X-Men) dan Professor Minerva McGonagall (Harry Potter), serta berbalut sifat eksentrik Marry Poppins (Marry Poppins). Seperti halnya Professor McGonagall, Nona Peregrine juga seorang shape-shifter, seseorang yang memiliki kemampuan mengubah bentuk diri menjadi wujud hewan. Seperti namanya, sang nona cantik ini bisa berubah menjadi burung alap-alap kawah (dalam bahasa Latin disebut Falco Peregrinus).

Nona Peregrine “mengasuh” sekelompok anak dan remaja dengan kemampuan istimewa di rumah itu. Ada yang memiliki kekuatan fisik luar biasa dalam rupa anak berumur 5 tahun; ada yang mampu mengeluarkan api dari tangannya; ada yang kasat mata; memiliki kemampuan melayang dan mengeluarkan lebah dari mulutnya; ada yang matanya bisa berfungsi sebagai proyektor; yang memiliki kemampuan menumbuhkan segala jenis tanaman; hingga yang memiliki kebisaan untuk menciptakan berbagai mahluk aneh.

Nona Peregrine dan seluruh anak asuhnya memiliki satu tradisi, yaitu menjelang tengah malam mereka berkumpul di halaman rumah menyaksikan sejumlah pesawat tempur era Perang Dunia II menjatuhkan rudal tepat di atas rumah mereka. Sesuai dengan titelnya, Peculiar, tradisi yang sudah aneh ini semakin tak biasa karena Nona Peregrine mampu membalikkan waktu. Dia bisa me-reset perjalanan waktu, hingga kembali ke awal. Waktu di dunia luar bisa saja berjalan normal, tetapi di rumah sang nona perjalanan waktu terhenti di tanggal 23 September 1943. Waktu yang membeku, membuat para penghuni rumah itu tak termakan usia.

Tim Burton terlihat luwes dalam mengenalkan para penghuni rumah Nona Peregrine. Memberikan sentuhan kepribadian gothic yang dingin, janggal dan berjarak lewat pengarahan akting para aktor anak dan remaja yang berperan sebagai penghuni rumah sang nona. Mereka berpakaian dan bertingkah polah seperti anak-anak pada era tahun 40’an hasil rancangan Coleen Atwood (kolaborator setia Burton, salah satunya di Alice in Wonderland). Tetapi, cara mereka berbicara dan menggerakkan gesture sangatlah eksentrik.

Burton memang piawai dalam menghadirkan orang-orang berkarakter janggal dan eksentrik dalam setiap filmnya. Dia adalah seorang pencerita yang memiliki tendensi mengambil sisi gelap dan sifat sinisme dari sebuah cerita. Bukan dari sudut pandang mainstream yang terjebak dalam dikotomi hitam-putih. Burton merupakan sineas yang akan menceritakan kisah Putih Salju dalam selera sang nenek sihir. Lihat saja penceritaan versi Burton untuk kisah Charlie and the Chocolate Factory atau Frankenweenie, suatu penceritaan ulang kisah Frankenstein milik Marry Shelley lewat karakter anak-anak.

Meski menyajikan kisah tentang orang-orang yang berjarak dari ikatan emosional masyarakat, Tim Burton selama ini masih mengajak penonton untuk terhubung secara emosional dengan mereka. Memberikan waktu untuk mencerna karakterisasi, motivasi atau cara mereka berinteraksi. Seperti waktu yang terhenti di rumah Nona Peregrine, emosi yang tulus dalam film ini juga turut terhenti. Hal itu dikarenakan Burton tidak mengajak kita sebagai penonton untuk terhubung dengan para karakter dan kejadian yang mereka alami. Setiap pemaparan peristiwa seperti berjalan tergesa-gesa dan terlalu hiruk pikuk dengan eksposisi yang hanya berfungsi sebagai gimmick. Yang membuat kita sebagai penonton disibukkan diri untuk mencerna apa yang terjadi. Begitu kita sudah sadar, momentum untuk merasakan empati dan emosi sudah lewat.

Ambil contoh saat setup di awal film yang kemudian membawa  Jake (Asa Butterfield, Ender’s Game) bertemu dengan Nona Peregrine dan anak asuhnya.

Jake adalah remaja tanggung yang tinggal di Florida yang kaya dengan sinar matahari. Jake yang bekerja sambilan di supermarket ini memiliki perilaku kikuk dan kerap menjadi bahan olok-olok. Salah satu sebabnya adalah Jake kelewat percaya cerita yang selalu disampaikan kakeknya, Abe (Terence Stamp) sejak dia masih kecil. Sebuah cerita tentang Nona Peregrine dan anak asuhnya yang dikejar-kejar oleh monster yang disebut hollowgast. Sejenis monster yang gemar memakan bola mata kaum peculiar.

Suatu hari, Jake yang pulang seusai bekerja di supermarket, mendapati rumah Abe dimasuki seseorang. Sang kakek yang ketakutan ditemukan Jake sudah dalam keadaan sekarat dan kemudian meninggal. Hingga sebulan kemudian selepas kejadian itu, Jake menerima kado dari almarhum kakeknya yaitu sebuah buku berjudul The Selected Works of Ralph Waldo Emerson. Di halaman muka buku itu terdapat tulisan tangan sang kakek yang membangkitkan semangat dan rasa keingintahuan Jake untuk menelusuri jejak Nona Peregrine.

Ditemani sang ayah (diperankan oleh Chris O’Dowd), Jake mengunjungi Welsh dan mencari keberadaan Nona Peregrine. Selain belajar mengenai konsep penerimaan diri dan kepahlawanan, Jake juga harus membantu Nona Peregrine dan anak-anak asuhnya untuk menghadapi Tuan Barron (Samuel L. Jackson) dan para hollowgast yang ingin menghancurkan time-loop Nona Peregrine.



Dekorasi Khas Tim Burton, Tapi Seperti Rumah Kosong

Dalam setup di awal film, Burton sejatinya hendak memperlihatkan hubungan emosional antara Jake dan Abe. Tetapi, saya tidak mendapatkan emosi itu. Karena pemaparan setup yang tergesa-gesa dan seperti diburu waktu durasi. Lewat penempatan setup itu pula, Burton mencoba menggiring kita untuk memandang kisah ini sebagai alegori dari perang dan monster adalah metafora dari Nazi.

Upaya Burton dalam menggiring cara pandang kita itu lantas terasa berpadu dengan mulus dengan cara bercerita film yang memakai pakem bertutur kisah young adult, bahwa nantinya karakter utama yang kikuk akan memiliki kisah romansa dengan karakter aneh lainnya. Menjadikan Miss Peregrine sebagai versi Burton dari Beautiful Creatures (2013). Perbedaan tone yang kontras itu pula yang lalu membuat filmnya terasa campur aduk antara diskusi serius tentang “monster di kehidupan nyata” dan sentimentil romansa. Sinisme khas Burton yang sempat muncul di awal film, lalu hilang seiring semangat romansa remaja mengambil alih.

Hilangnya kekuatan emosional dalam film ini juga disebabkan karena Burton dan naskah dari Jane Goldman (X-Men First Class, Kingsmen) tak benar-benar memanfaatkan para karakter peculiar anak asuh Nona Peregrine. Mereka memiliki nama: Emma, Enoch, Millard, Bronwyn dan Victor. Tetapi keberadaan mereka tidak disertai latar belakang, pengembangan karakter ataupun personalitas. Mereka muncul sebagai karakter nihilistik, yang lebih didefinisikan oleh kemampuan mereka. Kita akan mengingat setiap karakter dan kemampuannya, tetapi tidak dengan hubungan antar mereka. Karena film ini tidak mengajak kita untuk peduli atau bahkan sekadar menaruh rasa simpati. Miss Peregrine, ironisnya, justru membuat para karakter ini dikesampingkan. Seperti ketidaklaziman yang mereka miliki.

Jika mau jujur, versi novelnya sendiri—meski memiliki gaya penulisan yang asyik dibaca—juga tidaklah kaya akan karakter. Namun saat membacanya, saya masih peduli terhadap masing-masing karakter peculiar-nya.

Seperti halnya para peculiar, filmnya juga menyia-nyiakan beragam aktor ternama di sini. Penyia-nyiaan talenta aktor yang paling parah dialami oleh Judi Dench. Dia hanya muncul di tiga adegan yang kemudian hilang begitu saja.

Eva Green seperti dihadirkan untuk menggantikan Helena Bonham-Carter. Saya tak bisa menepis pemikiran bahwa peran Nona Peregrine adalah karakter yang akan diberikan kekayaan tekstur emosi oleh Helena. Eva Green menampilkan suatu kedigdayaan dan keanggunan seorang aristokrat. Meski tampil bagus, tapi ada “elemen surealis” yang hilang dari penampilannya.

Asa Butterfield di sini tidaklah memberikan suatu kedalaman seperti yang pernah ia tunjukkan di Ender’s Game atau The Boy in Stripped Pajama. Aktor muda berbakat ini bahkan tidak memberikan suatu penampilan yang menginspirasi, sebagai karakter kikuk yang kemudian menjadi pahlawan.

Sementara Samuel L. Jackson memerankan karakter antagonis yang gemar dengan penilaian bahwa penampilan yang dilebih-lebihkan adalah sebuah penampilan yang bagus. Jackson terjebak pada sebuah reka rasa komikal yang sudah menjadi klise di cerita anak-anak. Untungnya, Jackson masih memberikan sentuhan komedi remaja.

Sentuhan komedi yang membantu Miss Peregrine. Komedi khas Burton yang timbul dari tindakan dan ujaran para karakter anehnya.

Kesampingkan elemen teknis penceritaan, film ini berhasil menampilkan efek visual yang memukau. Seperti saat Emma meniup gelembung air di bawah laut. Atau saat adegan pertarungan puncak yang berseting di sebuah taman hiburan yang ramai pengunjung dengan ditingkahi oleh score musik bergaya EDM (electronic dance music). Adegan pertarungan ini kocak dan seru. Di satu sisi seperti parodi adegan pertempuran film klasik Jason and The Argonauts, lewat pemunculan pasukan tengkorak. Juga membuat saya berpikir adegan laga ini turut diinspirasi oleh Force Majeure, film black-comedy produksi Swedia.

Musik adalah elemen lain yang terasa hilang dalam Miss Peregrine. Dalam film ini Burton tidak bekerjasama dengan Danny Elfman, kolaborator setianya selama lebih dari tiga dasawarsa. Musik, yang kali ini diciptakan oleh duo Michael Higgam dan Matthew Margeson, lebih terasa sebagai pelengkap. Bukan pengisi jiwa film. Hilang sudah ciri khas film-film Burton–di mana Elfman sebagai komposernya—yang selalu diisi oleh elemen musik waltz. Musik di Miss Peregrine tidaklah buruk, tapi cepat terlupakan. Selain itu, musiknya juga tidak bisa menghadirkan sifat quirky, elemen satire dan memperkuat atmosfer gothic di filmnya.

Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children memang memperlihatkan jejak-jejak sinematis Burton. Tampilan visual memang miliki Burton, tetapi tidak jiwanya. Film ini lebih menyerupai Dark Shadows dalam cita rasa Beautiful Creatures. Burton masih memperlihatkan kemampuan untuk menghadirkan rasa “ketidaknyamanan” dalam setiap gambarnya. Ketidaknyamanan dalam artian positif. Seperti yang diperlihatkan saat kamera menyorot tumpukan mata berdarah yang dimakan oleh Tuan Barron dan para hollowgast. Atau saat dua mainan ciptaan Enoch saling menikam.

Film ini seperti rumah dengan sentuhan dekorasi dari Tim Burton. Rumah yang hanya terdiri dari satu petak ruangan yang kosong melompong. Yang diisi sedikit tawa yang menggema dan memantul karena hanya terdiri dari dinding-dinding kosong. Tanpa ruangan lain yang bisa dieksplorasi. Tanpa kejutan dan misteri yang harus ditemukan.

(2,5/5)

Reviewed at Plaza Senayan XXI on September 1, 2016

Running time : 127 minutes

A 20th Century Fox release and presentation, in association with TSG Entertainment, of a Chernin Entertainment. 

Producers: Peter Chernin, Jenno Topping

 Executive producers: Derek Frey, Katterli Frauenfelder, Nigel Gostelow, Ivana Lombardi.

Director: Tim Burton

Screenplay : Jane Goldman

Based on the novel of the same title by Ransom Riggs

Camera (color): Bruno Delbonnel.

Editor: Chris Lebenzon.

Casts : Eva Green, Asa Butterfield, Chris O’Dowd, Allison Janney, Rupert Everett, Terence Stamp, Ella Purnell, Judi Dench, Samuel L. Jackson, Kim Dickens, O-Lan Jones, Finlay MacMillan, Lauren McCrostie, Georgia Pemberton, Milo Parker, Pixie Davies, Hayden Keeler-Stone, Cameron King, Raffiella Chapman.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s