Pete’s Dragon Review : The Art of Letting Go

September 15, 2016

“Sentuhan estetika Malick dalam mengambil objek lebih berfungsi untuk membangkitkan rasa empati kita terhadap alam. Sebuah subteks yang secara implisit dilampirkan.”




Semacam kekuatan emosional yang bekerja seperti sihir muncul saat saya menyaksikan Pete’s Dragon, yang lebih tepat disebut sebagai adaptasi dari film musikal Disney berjudul sama dan dirilis pada tahun 1977.

Mata saya melihat sekumpulan gambar bergerak di layar; telinga saya mendengarkan musik yang mengiringi cerita; otak saya mencoba mencerna keduanya; lalu suatu keajaiban yang jarang terjadi muncul.

Air mata menetes perlahan membasahi pipi. Sesuatu yang tak terkendali.

Sihir dalam Pete’s Dragon hadir melalui perpaduan antara gambar-gambar  hasil tangkapan sinematografer Bojan Bazelli (China Girl, Hairspray), musik ciptaan Daniel Hart dan pengadeganan yang efektif oleh sutradara David Lowery (Ain’t Them Bodies Saint). Ketiga elemen penting penceritaan film tersebut bekerja dalam harmoni, selaras dan tidak saling meningkahi. Seperti ketika Anda berada di sebuah hutan permai yang masih perawan di mana Anda akan terpukau atas keindahan dan meresapi kekuatan di baliknya, di mana kehidupan alami dalam harmoni masih terjaga.

Kualitas puitis berdaya magis tersebut bahkan sudah terlihat dalam sekuens pembuka Pete’s Dragon.

Kamera lewat angle bird’s view memperlihatkan sebuah mobil bergerak di atas jalan raya yang membelah hamparan hutan luas. Di dalamnya ada seorang anak kecil berusia lima tahun bernama Pete (diperankan oleh Levi Alexander) yang duduk di kursi belakang sedang terbata-bata membaca sebuah cerita dalam buku berjudul Elliot Gets Lost, tentang petualangan seekor anak anjing bernama Elliot yang tersesat.

Pete bertanya apakah arti kata ‘petualangan’ itu. Kedua orang tuanya menjelaskan bahwa petualangan adalah hal yang sedang mereka alami sekarang. Saat mereka berada di alam terbuka yang berkilo-kilo meter dari pusat keramaian kota, dengan panduan bintang di angkasa. Sang ibu kemudian mengatakan bahwa Pete tak perlu takut, karena dia adalah anak lelaki paling pemberani yang pernah ia kenal.

Kejadian naas lalu terjadi.

Kekuatan alam dalam bentuk seekor rusa melintas tanpa terduga, membuat mobil yang Pete beserta kedua orangtuanya kendarai terbalik berguling-guling tanpa terkendali.

Di sinilah momen puitis itu terlihat, yang justru menyandingkan sebuah keheningan dan keindahan dengan tragedi. Dalam slow motion, Pete melihat benda-benda dalam mobil itu ikut terbalik. Matanya yang bundar dan polos melihatnya, Ada perasaan takjub, cemas dan takut bercampur aduk dalam ekspresinya saat mengalami suatu peristiwa yang tak ia kenal itu. Kita tahu bahwa ia sedang menghadapi bahaya kematian, tapi Pete belum mengetahui hal itu. Score musik yang didominasi oleh sentuhan tuts piano terdengar perlahan-lahan mengiringi momentum yang hanya berdurasi kurang dari 10 detik itu. Suasana tenang, tak berdosa dan marabahaya berpadu dengan indahnya. Suatu ironi dihadirkan. Hati saya tertawan dan sekaligus nelangsa menyaksikan adegan ini.

Suasana tenang dan tak berdosa adalah dua hal yang saya tekankan dalam menjelaskan kualitas  puitis film ini. Seiring dengan seting kota kecil fiktif tanpa nama yang dikelilingi oleh hutan sub-tropis lebat. Kamera arahan Bojan Bazeeli kerap menangkap dan menyajikan atmosfer ketenangan dan kepolosan di layar, serta mengajak kita meresapinya. Melihat pepohonan di hutan dan semburat cahaya mentari yang bersinar di sela-sela pucuknya, atau mengamati kegiatan warga kota kecil itu.

Cara kamera bekerja itu memberikan kesan ada pengaruh Terence Malick—seorang sineas yang selalu mengajak kita merenungi alam di setiap karyanya—dalam film ini. Suatu hal yang tak mengherankan sebenarnya, karena Lowery (sang sutradara) juga meminjam gaya estetika Malick dalam filmnya, Ain’t Them Bodies Saint. Namun, Lowery sadar bahwa Pete’s Dragon adalah sebuah film bertujuan komersil untuk keluarga, bukan film artistik. Sentuhan estetika Malick dalam mengambil objek lebih berfungsi untuk membangkitkan rasa empati kita terhadap alam. Sebuah subteks yang secara implisit dilampirkan.

Estetika itu semakin diperkuat oleh hadirnya musik dan score yang seringkali lirih dan syahdu. Jikapun ada aransemen orkestrasi megah, itu ditempatkan untuk memperkuat adegan dramatis dan dimunculkan lewat tempo andante. Tenang dan mengalir. Sering juga kita dengar ilustrasi musik dan lagu bergaya folk dan country, dengan penekanan melodi lewat gesekan biola dan petikan gitar yang makin memperkuat atmosfer sebuah kota kecil di pseudo-Amerika. Seringkali pula kita hanya mendengar suara alam. Gemerisik daun-daun di pepohonan yang tertiup angin, suara derik serangga yang menjadi latar percakapan, suara hewan-hewan, atau dengusan napas Elliot Si Naga. Anda akan menghargai setiap detailnya. Bersama-sama dengan setiap adegan yang muncul di layar, mereka menimbulkan rasa hangat yang terasa di dada.



KEHARMONISAN

Pete’s Dragon merupakan kisah fantasi petualangan Pete—bocah kecil yang saya sertakan dalam ilustrasi sebelumnya—selepas tragedi yang menimpa dia dan orangtuanya. Seekor naga berukuran sedang, berwarna hijau dan berbulu lembut menemukannya. Perilaku naga ini lebih menyerupai anjing jinak yang bersahabat. Ia menggonggong, gemar bermain kejar-kejaran, berkecipak di aliran sungai kecil dan bahkan mengendus. Hanya saja naga ini memiliki sayap dan bisa tak kasat mata saat bertemu dengan manusia. Di satu adegan yang membekas di ingatan, Pete sengaja terjun dari sebuah tebing tinggi dan lalu dibawa terbang oleh Elliot si Naga. Lewat adegan ini kita tahu bahwa mereka sering melakukannya dan hubungan batin mereka sudah diikat oleh rasa saling percaya.

Oleh Pete (kini diperankan oleh aktor anak, Oakes Fegley), naga jinak ini diberi nama Elliot, seperti nama anjing di buku cerita yang dibacanya. Hubungan antara Pete dan Elliot lebih dari sekadar sahabat. Elliot adalah pengasuh dan penjaga Pete, sedangkan Pete adalah penenang jiwa bagi Elliot.

Elliot Si Naga dalam filmnya ditampilkan dalam teknik computer generated imagery (CGI), tapi saat di layar kita percaya bahwa ia nyata dan menyatu dengan dunianya. Pun kita percaya dengan hubungannya dengan Pete. Elliot bukan sekadar mahluk rekaan, tapi sudah menjadi sebuah karakter. Saat kamera memperlihatkan matanya, kita yakin bahwa Elliot mememiliki jiwa dan sanubari.

Saya memandang Elliot Si Naga juga sebagai personifikasi dari alam dan hutan. Dia adalah misteri yang terkandung di dalamnya. Dia adalah simbol keharmonisan.

Kehadiran Elliot sudah menjadi semacam legenda di kota kecil dekat hutan tempat naga ini berdiam. Setidaknya lewat penuturan seorang pria tua bernama Tuan Meacham (diperankan oleh aktor legendaris, Robert Redford) yang gemar bercerita kepada anak-anak di kota itu, bahwa dahulu ia pernah melihatnya.

Anak-anak itu percaya, tetapi tidak putri kandung Tuan Meacham, Grace Meacham (diperankan dengan penuh kelembutan oleh Bryce Dallas Howard, Jurassic World). Alasan Grace logis. Profesinya sebagai jagawana membuatnya kerap keluar masuk hutan, tapi tak sekalipun bertemu naga.

Robert Redford dan Bryce Dallas Howard bermain sesuai kebutuhan di film ini. Karakter mereka dengan para aktor lainnya (termasuk Karl Urban dan West Bentley), terlihat seperti penduduk di kota kecil. Interaksi mereka terlihat intim dan seperti satu keluarga yang saling mengenal. Dialog yang mereka ucapkan jelas dan lugas, di mana Anda akan mengerti setiap kata yang mereka ucapkan.

Sampai akhirnya Grace bertemu dengan Pete di hutan, lewat suatu kebetulan.

Natalie (diperankan oleh Oona Laurence), anak perempuan Jack (tunangan Grace yang diperankan oleh Wes Bentley), memergoki Pete yang sedang mengamati kegiatan penebangan kayu oleh perusahaan milik ayah Natalie itu. Selepas insiden yang mengakibatkan Natalie jatuh dari pohon tempat Pete tinggal, Grace menemukan Pete dan membawanya ke kota.

Pete yang mengalami gegar budaya karena selama ini hidup di hutan hanya bersama Elliot Si Naga, berupaya kabur kembali ke hutan. Grace berhasil menemukan Pete kembali dan lalu dari sana, bocah lelaki malang itu mulai mengenal arti sebuah keluarga yang sebenarnya.

Konflik bermula dari sini. Saat keberadaan Elliot Si Naga sudah diketahui penduduk kota;  dan saat hubungan antara Pete dan Elliot yang berbeda spesies ini mulai dipertanyakan.



THE ART OF LETTING GO

Kisah dalam Pete’s Dragon memang akan mengingatkan kita pada kisah film The Jungle Book atau The BFG , dua film keluarga apik lainnya yang juga dirilis tahun ini. Kisah yang memberikan kita optimisme dan pengharapan bahwa segala sesuatu akan bisa mencapai jalan keluar. Dalam bentuk berbeda, saya menemukan hal yang sama di Midnight Special.

Akan tetapi yang membuat film ini istimewa adalah kisahnya tentang dua karakter polos yang terpisah dari keluarganya dan kemudian menjalin persahabatan layaknya dua saudara.

Dalam satu adegan yang juga tak bisa saya lupakan, Pete dan Elliot si Naga duduk di atas tebing sambil menyaksikan bintang-bintang di langit. Ada kerinduan dari cara Elliot si Naga melihat bintang itu dan dari cara suaranya menggeram. Kerinduan juga diperlihakan oleh Pete, saat dia membaca kembali buku yang dimilikinya. Kerinduan mereka sama, kerinduan atas hadirnya keluarga.

Namun, ada yang membuat Pete’s Dragon lebih istimewa.  Yaitu bahwa film ini juga tentang dua karakter yang harus saling merelakan kepergian satu sama lain. Bahwa suatu saat mereka harus bergerak maju dan memilih jalan sendiri-sendiri, demi kebaikan masing-masing. Sebuah pesan bahwa dibutuhkan kekuatan dan keberanian khusus untuk melepaskan apa yang kita sayangi dan membuat kita nyaman, untuk suatu hal yang lebih baik.

Tentang “the art of letting go”.

Sebuah subteks yang juga bisa ditemui di film-film Terence Malick, yang memang menginspirasi Lowery sebagai sutradara.

Di satu sisi, keputusan tersebut membuat saya lega dan menjadikan film ini tak hanya asal menghadirkan semangat “happily ever after”, seperti film Disney lainnya. Namun, di sisi lain hal tersebut akan membuat Anda patah hati, karena Anda sudah terlanjur jatuh cinta pada hubungan Pete dan Elliot.

Saya memberi Pete’s Dragon 4,5 dari 5 bintang. Sebuah penilaian yang belum pernah  saya lakukan sebelumnya. Biasanya saya selalu memberi penilaian bulat, tidak disertai pecahan.

Kekurangan film ini terletak pada disia-siakannya beberapa karakter yang berpotensi lebih memicu konflik, seperti yang diperankan oleh Karl Urban. Kekurangan itu akan mengurangi satu poin, Tetapi saya kemudian menambahkan setengah karena film ini telah berhasil membuat saya meneteskan air mata.

Air mata haru karena bisa kembali merasakan sebuah pengalaman sinematis emosional seperti ini. Juga air mata penuh pengharapan agar film-film seperti ini terus dibuat lagi dan lagi.

(4,5/5)

Reviewed at Plaza Senayan XXI on September 14, 2016

Running Time : 103 minutes

A Walt Disney Studios Motion Pictures Presentation.

Producer : Jim Whitaker

Executive Producer : Barrie M. Osborne

Co-producer : Adam Borba

Director : David Lowery

Writers : David Lowery, Toby Halbrooks

Based on a screenplay by Malcolm Marmorstein

Camera (widescreen, color) : Bojan Bazelli

Editor : Lisa Zeno Churgin

Casts : Bryce Dallas Howards, Oakes Fegley, Wes Bentley, Karl Urban, Oona Laurence, Robert Redford.

 

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s