Review AADC2 : Cinta Datang Dalam Selimut Waralaba

by @Picture_Play

May 1, 2016

” Salah satu yang membuat AADC juga tak kalah istimewa hingga sekarang adalah bahwa film ini terasa memiliki ketulusan di dalamnya, sebagai surat cinta terhadap genre high-school drama tanpa terkesan ada pretensi. Kala itu film ini dibuat dengan semangat independen, tanpa beban, dan tanpa prasangka bahwa akan menjadi karya fenomenal”




Laiknya sebuah produk, film juga perlu ketepatan momentum marketing saat dirilis. Ada Apa Dengan Cinta (AADC) adalah salah satu contoh yang tepat.

Saat dirilis 14 tahun silam, AADC hadir di kala penonton tidak percaya dengan film Indonesia dan bisnis film waktu itu masih tertatih-tatih merangkak bangun dari tidur panjang. Filmnya menghapus kehausan penonton akan sebuah produk budaya pop yang dibuat dengan gairah, semangat, dan jawaban akan kondisi budaya waktu itu. Di tahun itu, kanal televisi musik luar negeri MTV masih berjaya menjadi acuan referensi budaya pop anak muda.

AADC hadir dalam ranah budaya pop yang dimaksud. Cerita asmara di bangku sekolah menengah atas memang selalu mendapat tempat. Film arahan Rudi Sudjarwo itu juga dihadirkan dan disajikan dalam koridor budaya pop seperti dalam film-film asmara berlatar bangku sekolah arahan sineas Amerika, John Hughes. Mengetengahkan cerita klise romantisme gadis remaja bertemu lelaki pujaan dalam sebuah sirkumstansi yang (biasanya) ideal : dua remaja dengan tampilan fisik elok rupawan. Konflik dalam film romansa bangku sekolah umumnya hadir lewat polarisasi dua karakter utama : satunya anak baik-baik, satunya gemar mendobrak peraturan; satunya populer, satunya tak terdeteksi radar; satunya anak hartawan, satunya mewakili kaum papa. Untuk menambah konflik semakin pelik, ditambahkan para secondary characters, teman-teman karakter utama yang seringkali berfungsi sebagai penasihat, sekaligus merunyamkan suasana. Dan seterusnya.

AADC  pun hadir dalam pakem serupa, yang kemudian melahirkan dua ikon anak muda bernama Rangga dan Cinta, mengisi kekosongan selepas pemujaan terhadap Galih dan Ratna, dua karakter ikonis dari film Gita Cinta Dari SMA di era 80’an. Lalu tambahkan lagu-lagu pop yang memperkuat cerita. Remaja pun kemudian meresponnya dengan gegap gempita.

Akan tetapi, meski tetap menawarkan kisah cinta polos dan naif masa remaja, AADC menjadi istimewa justru karena memiliki kesinisan dan kritik terhadap gaya hidup banal, hura-hura, dan superfisial mereka yang dihadirkan lewat karakter Rangga. Kegemarannya mendalami puisi adalah sikap kontradiktif terhadap para remaja kebanyakan yang ditampilkan oleh karakter Cinta dan rekan-rekannya, di mana mereka lebih menggemari untaian kalimat “puitis” dalam lagu bergenre pop, ketimbang sajak-sajak bernuansa lirih dan anarkis milik Chairil Anwar. Rangga ditampilkan sebagai sosok soliter yang gemar menyendiri dan memaknai arti hidup secara hakiki, sebuah bentuk ketegasan “prinsipil” dalam menjawab sikap solider Cinta dan rekan-rekan yang dipandangnya sebagai kesemuan. AADC kala itu menarik perhatian karena hadir sebagai  kisah romansa remaja yang memiliki kedewasaan dalam mewujudkan wacana. Solidaritas antar teman tidak hanya ditampilkan di permukaan, tetapi juga sebagai pemecah persoalan.

Salah satu yang membuat AADC juga tak kalah istimewa hingga sekarang adalah bahwa film ini terasa memiliki ketulusan di dalamnya, sebagai surat cinta terhadap genre high-school drama tanpa terkesan ada pretensi. Kala itu film ini dibuat dengan semangat independen, tanpa beban, dan tanpa prasangka bahwa akan menjadi karya fenomenal. Sebuah kondisi yang menghadirkan enerji dan daya pikat magis dalam setiap lini, dalam setiap dialog, dalam setiap adegan, dalam setiap lagu, dan dalam setiap bait-bait puisinya. Penonton pun terserap masuk ke dunia yang dibangun di film ini, menghayati setiap pelafalan ujar-ujar lakonnya dan kemudian hidup, tumbuh berkembang di sanubari mereka.

Daya magis yang menghipnotis dari AADC pun kemudian menerobos lintas waktu. Generasi asli yang menonton AADC  sekarang sudah dewasa dan beranak pinak, namun kisahnya masih mampu mengikat dan menawan remaja generasi setelahnya. Seolah tak lekang oleh waktu dan hakiki seperti bait-bait puisi milik Rangga. Soundtrack-nya masih dilantunkan dan setiap baris dialog masih diingat, bahkan mempengaruhi logat bahasa kekinian. Dibantu oleh teknologi internet, AADC dalam konsep long-tail marketing berkembang menjadi dari sebuah budaya pop yang lahir dari suatu “kebetulan”, menjadi sebuah artefak. Lebih jauh lagi menjadi sebuah brand atau merek dagang. Menjadi sebuah metominia baru, bila menyebut film percintaan remaja Indonesia, asosiasi akan terarah ke AADC dan turunannya. Termasuk nama Mira Lesmana dan Miles Production-nya, juga menjadi merek dagang jaminan film-film bermutu yang tidak digarap secara asal-asalan.

14 tahun berselang, kisah Rangga dan Cinta kembali dihadirkan lewat AADC2. Namun, kini dalam sebuah kondisi di mana ada tekanan pengharapan. Ekspektasi yang wajar muncul terhadap sebuah merek dagang yang kadung dicinta dan dipuja. Permasalahan pun muncul tak hanya sekadar menghadirkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengemuka atas apa yang terjadi di kehidupan Rangga dan Cinta selepas  ratusan purnama, juga bagaimana sineas di baliknya memasukkan setiap elemen yang ada di film pertama, sebuah concern  utama dalam melanjutkan sebuah merek dagang.

Kondisi tersebut lantas menjadikan AADC2 memilih sebuah pendekatan yang lazim dilakukan di dalam sebuah film waralaba (franchise) produksi studio besar Hollywood, seperti Jurassic World atau Star Wars : The Force Awakens, yakni mempertahankan pelbagai elemen familiar bagi para pemujanya untuk menghadirkan nuansa nostalgia.

Dalam konteks tersebut, Miles Production berhasil melakukan fungsinya. AADC 2 terasa sebagai sebuah bentuk pelayanan terhadap para penggemar kisah film pertamanya (fans service). Akan tetapi, kisah Rangga dan Cinta adalah sebuah drama, bukanlah film aksi petualangan di dunia fantasi yang mengandalkan ragam memorabilia. Kekuatan kisahnya bertumpu pada karakter-karakter dan kisah melodrama percintaan, seperti pada film Mean Girls, My Big Fat Greek Wedding, atau waralaba Rocky yang baru-baru ini dihadirkan kembali lewat Creed. AADC bukanlah berseting di dunia fantasi. Karakter dan dunianya terasa nyata, yang menjadi aspek pengikat emosi penonton. Penonton ingin melepas rindu, sekaligus ingin mengetahui perkembangan psikologis para karakter di AADC selepas kejadian di film pertama.

Dalam konteks tersebut, AADC 2 terlihat gamang dalam memilih. Karakter utamanya yang kini sudah dewasa, seolah terperangkap dalam nostalgia yang dibangunnya sendiri. Bila dalam Before Trilogy arahan Richard Linklater, dua karakter utamanya : Jesse dan Celine, tumbuh dewasa—baik dalam bentuk fisik ataupun pola pikir—memaknai setiap peristiwa yang mereka lalui ke dalam setiap keputusan yang mereka ambil, Rangga dan Cinta lebih terasa sebagai pasangan impulsif yang berprinsip live in the moment. Dalam berbagai hal, memang terasa manusiawi. Namun, dalam AADC 2 kepolosan yang dihadirkan di film pertama sudah hilang, sedangkan cita rasa kedewasaan yang coba dihadirkan di sekuelnya terasa kontradiktif dengan keputusan akhir yang diambil.

AADC 2 seolah bukan menghadirkan sebuah cerita, melainkan lebih terasa sebagai upaya mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan nostalgia manis dalam semangat waralaba bernilai ekonomi tinggi, sebagai bentuk pelayanan kepada para pemujanya. Konsekuensinya adalah memudarnya daya magis seperti yang kita dapat di film pertama.



HIPPIES ECONOMIC, SOFISTIKASI ARTISTIK

Empat belas tahun berselang sejak kejadian di film pertama, Cinta (kembali diperankan oleh aktris berparas cantik, Dian Sastrowardoyo) berkumpul di sebuah café dengan nuansa artistik bersama anggota geng-nya. Elemen artistik dan nyeni yang dulu memang telah dihadirkan di film pertama, kini dihadirkan dalam rupa yang lebih bergaya. Lihat saja berbagai pernak-pernik remeh-temeh, busana, hingga ke pemilihan lokasi. Pengarah artistik, Eros Eflin, berhasil membuat AADC 2  ke tahapan sofistikasi.

Cinta masih seperti dulu, seorang alpha-female yang menjadi pemimpin dominan di kelompoknya. Hadir juga Mili (kembali diperankan oleh Sissy Priscilia), si lemot yang masih berfungsi sebagai pencair suasana ; Maura ( Titiek Kamal), si kenes yang dandy nan trendy yang masih ceplas-ceplos. Kini kita tahu bahwa ia adalah seorang hypochondriac ; Karmen ( tetap diperankan oleh aktris berbakat, Adinia Wirasti), mantan pebasket sekolah yang kini mencoba bangkit setelah dirundung berbagai masalah. Ada pula Mamet (Dennis Adhiswara), pria mantan penggemar Cinta yang kini sudah berstatus suami Mili. Mamet masih seperti dulu : konyol, kikuk, dan berfungsi sebagai comic relief.

Satu-satunya yang absen adalah Alya ( dahulu diperankan oleh Ladya Cheryl), gadis pendiam dan pemikir yang dalam suatu momen dijelaskan kenapa ia tak bisa lagi hadir. Di masa kini, fungsi Alya digantikan oleh Karmen yang karena telah melalui berbagai pahit getir hidup, justru yang menjadi paling dewasa dan mencuri simpati di film ini.

Hadir pula karakter baru, Trian ( diperankan oleh aktor karismatik, Ario Bayu), tunangan Cinta yang sayangnya hanya berfungsi sebagai red harring, menyia-nyiakan talenta aktingnya. Juga hadir Christian Sugiono, yang berfungsi sebagai trivia pemanis suasana.

Ajang reuni geng Cinta di café tersebut lalu berujung pada satu keputusan, berwisata ke Yogyakarta untuk menghadiri pembukaan sebuah galeri seni dan melepas penat.

Sementara itu di belahan dunia lain, di New York, Rangga ( Nicholas Saputra, aktor yang selama ini sulit lepas dari bayang-bayang karakternya), masih bermuram durja. Ia masih seperti dulu, seorang pria penyendiri yang gemar melakukan observasi dan menuangkan kegundahannya lewat bait-bait sajak gubahannya. Lewat  head room camera shots, sutradara Riri Riza dan sinematografer Yadi Sugandi secara efektif menegaskan kesendirian Rangga dalam latar kota Big Apple yang sunyi dan sepi, bukan sebagai kota yang dikenal sibuk dalam hiruk pikuk aktivitas duniawi. Riri paham betul bagaimana menghadirkan pergolakan batin Rangga, dibarengi dengan narasi lirih sajak yang menggambarkan kegundahan pria ini di kota sebesar New York. Gambar yang disajikan di layar terasa puitis menghipnotis dan menjadi momen terbaik di film ini.

Rangga kini mengelola café di salah satu sudut kota New York. Kepiawaiannya dalam mengolah kata membuat ia menjadi salah satu kolumnis dan kontributor di berbagai majalah di sana. Rangga tampaknya menjadi salah satu pelaku hippies economic, yang sesuai dengan kepribadiannya : memuja kopi, hidup damai dalam soliter, dan mencari penghidupan lewat kemampuannya mengkreasikan kata-kata.

Akan tetapi, kedamaian Rangga rupanya masih terusik oleh peristiwa masa lampau yang membuatnya mengalami sebuah hal paling ditakuti oleh para penulis, writer’s block. Dalam suatu kejadian deus ex machina, dia ditemui oleh adik tirinya yang jauh-jauh datang ke New York,  memintanya kembali ke Indonesia untuk menemui ibunda yang merindunya setengah mati. Rangga yang ternyata masih memiliki amarah warisan masa lalu, sempat menolak. Namun, panggilan hati nurani akhirnya mengalahkan ego pribadinya.

Dia lalu kembali ke Indonesia dengan tujuan menemui sang ibunda, sekaligus mengumpulkan puing-puing kisah silam sebelum terlanjur kasip, serta menebus kesalahannya demi menghadirkan jawaban atas misteri yang diciptakannya selama ini kepada salah satu orang penting dalam hidupnya, Cinta.

” AADC 2 seolah bukan menghadirkan sebuah cerita, melainkan lebih terasa sebagai upaya mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan nostalgia manis dalam semangat waralaba bernilai ekonomi tinggi, sebagai bentuk pelayanan kepada para pemujanya. Konsekuensinya adalah memudarnya daya magis seperti yang kita dapat di film pertama.”



SENTIMENTIL NOSTALGIA BERNILAI EKONOMI TINGGI

Dalam banyak aspek, AADC2 memang kentara sebagai film yang dirancang sebagai sajian bernilai ekonomi tinggi dengan sentimentil nostalgia sebagai motor penggeraknya, sekaligus pengembangan sebuah merek dagang. Penempatan berbagai elemen dari film AADC jelas terlihat, mulai dari adegan geng Cinta di mobil bersama Mamet; penempatan soundtracks di berbagai momen penting; hingga ke momen dramatis ikonis di bandara yang di film ini diberi sedikit twist, semua kembali dihadirkan. Film ini juga tahu persis bagaimana membangun antusiasme penonton sebelum mempertemukan kedua karakter utama di dalam satu frame. Penonton pun berseru karenanya.

Hal tersebut bisa dimengerti, karena naskah AADC2 turut ditulis oleh Mira Lesmana yang juga merangkap tugas sebagai produser. Mira paham bagaimana memasukkan berbagai kejadian yang dianggapnya “komersial” dan mempertemukan antara kepentingan artistik penceritaan, keinginan penggemar, serta tuntutan sponsor. Tidak heran bila kejelian Mira dalam mengolah semua materi yang menjual akan disambut dengan hingar-bingar. Buktinya, antrean penonton mengular di berbagai bioskop.

Keputusan untuk memindahkan seting lokasi utama dari Jakarta  ke Yogyakarta pun bisa dipahami. Selain syuting di Yogyakarta lebih murah dari sisi produksi dan kepentingan logistik, Jakarta juga terlalu pengap akan nuansa nostalgia yang akan mempengaruhi psikologis dua karakter utamanya dalam mengambil keputusan. Yogyakarta semestinya menjadi tempat yang “netral”, mendukung karakternya untuk berpikir lebih jernih dan logis. Hal yang selaras dengan tujuan Cinta dan kawan-kawan pergi ke kota ini sebagai kegiatan eskapisme.

Yogyakarta dengan atmosfer budaya yang kental, juga bisa dilihat sebagai padanan sebanding dengan New York yang juga artistik dan romantis. Keeksotisan Yogya dieksploitasi habis-habisan di film ini. Penonton dibawa menjelajah ke berbagai sudut kota, menikmati berbagai interaksi budaya, dan kehangatannya. Dalam satu shot diperlihatkan Rangga terlihat menikmati kedekatan emosional dengan kota ini, di mana ia melihat dari kameranya mbok penjual penganan tradisional di pinggir jalan. Menegaskan sudut pandang film ini dalam melihat Yogya dari mata kaum urban perkotaan dan bergaya hidup modern sebagai tempat yang eksotis.

Di sisi lain, kekuatan kota Yogya juga ironisnya tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap perkembangan dua karakter utamanya. Seting kota ini hanya sebagai tempelan.

Yogya yang semestinya berfungsi sebagai tempat “netral”, juga dipertanyakan dalam adegan penting di saat Rangga dan Cinta berjalan-jalan sembari mengobrol mengulang romansa mereka. Dalam berbagai scenes yang mengingatkan akan Before Sunset, kedua karakter utama mengeksplorasi apa yang sudah mereka lewatkan selama ini. Bila dalam Before Sunset percakapan Jesse-Celine dihadirkan lewat long takes, di AADC2 percakapan keduanya dihadirkan dalam struktur episodik, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Meski chemistry keduanya tetap hadir, namun sekuensnya terasa tidak mengalir. Terlebih di beberapa bagian terlihat tidak sinkronnya penyuntingan gambar dan suara. Naskah pun terlihat berpihak kepada Rangga dengan segala alasannya. Cinta yang dominan pun manut saja, terlihat sebagai karakter dewasa yang masih terperangkap dalam jiwa remaja yang hanya menuruti gejolak jiwa. Ditambah dialog yang tidak cukup meyakinkan untuk terlontar dari dua karakter dewasa berpendidikan yang  memiliki selera tinggi.

Kesan tempelan juga terasa betul di motivasi Rangga untuk menemui ibundanya. Padahal, bagian ini memiliki potensi kekuatan emosional tak kalah dari aspek romantisnya. Begitu pun puisi-puisi yang kini ditulis oleh Aan Mansyur, kini terasa kehilangan daya magisnya. Bila di film pertama fungsi puisi-puisi Rangga adalah sebagai penambat, di AADC2 fungsinya hanya sebagai pra-syarat.

Di sisi lain, kamera arahan Yadi Sugandhi juga efektif dalam menangkap keeksotisan berbagai tempat di Yogya, seringkali dalam sajian panoramik. Beberapa kali ia menghadirkan berbagai transitional shots menangkap berbagai objek untuk memberikan sentuhan puitis, seperti matahari senja berwarna  oranye atau permainan boneka tangan, yang memberikan sentuhan pribadi Riri Riza seperti yang ditampilkannya di Atambua 390. Tapi, Yadi dan Riri tak lupa dalam menangkap emosi karakternya lewat kamera. Dalam dua adegan, diperlihatkan bagaimana kedekatan jiwa antara Cinta-tunangannya dan antara Cinta-Rangga. Di satu shot saat menonton sebuah pertunjukan seni, Cinta menikmatinya, sementara Trian tetap asyik dengan telepon genggamnya. Di shot lain, Cinta dan Rangga sama-sama melebur saat menyaksikan pertunjukan seni di Yogya. Shot-shot tersebut memberikan pernyataan implisit kedekatan jiwa antar karakternya. Di shot lain, kamera Yadi berhasil menghadirkan kekikukan dan kecanggungan dua karakter yang lama tidak bertemu.

Bila dalam AADC chemistry antara anggota geng Cinta begitu terasa dan persahabatan mereka justru terkesan dewasa, di AADC2 kedekatan mereka terkesan hanya basa-basi pemanis semata. Jika di AADC keputusan Cinta lahir lewat diskusi sehat dengan para sahabatnya, maka kini keputusannya hanya sepihak. Di satu sisi, hal ini dapat dimengerti karena semakin bertambah umur, seseorang justru memilih menjaga jarak agar tidak dinilai ikut campur masalah orang lain. Dalam suatu percakapan antara Karmen dan Cinta, hal itu dicuatkan. Namun di sisi lain, hal tersebut bertolak belakang dari keputusan awal Cinta dan teman-teman untuk kembali membina kerekatan hubungan mereka. Pemikiran tersebut kemudian lantas membuat Cinta mengambil keputusan secara impulsif bak gadis remaja, bukan sebagai wanita dewasa.



PENGEMBANGAN MEREK DAGANG, DAYA MAGIS YANG HILANG

AADC 2 memang lantas lebih bisa dimaknai sebagai penghormatan (homage) kepada film pertamanya. Keputusan untuk membesut film ini dengan pendekatan pengembangan sebuah merek dagang dengan nilai jual nostalgia pun bisa dimengerti. AADC adalah satu-satunya brand film Indonesia terkuat saat ini yang dimiliki oleh Miles Films. Tidak sampai terkesan eksploitatif, karena para sineasnya tetap menghadirkan berbagai penyegaran di dalamnya.

Sebagai penghormatan dan pengembangan sebuah brand, membuat AADC 2 kehilangan kesinisan dan kritik seperti yang ada di film pertamanya. Film ini terkesan berkompromi dengan berbagai hal, seperti Cinta yang berkompromi dengan Rangga. Bila dianalogikan dengan lagu, AADC2 hadir bak cover version film pertamanya. Ada penyegaran, tetapi tetap tidak bisa mengulang daya magis versi orisinil.

Saat ulasan film ini dibuat, AADC 2 telah mengumpulkan 700 ribu tiket hanya dalam kurun waktu 3 hari saja. Sebuah rekor baru yang tentu akan terus bertambah. Bukti bahwa aspek nostalgia dari sebuah film yang telah menjadi merek dagang ternama, efisien dalam menarik minat penonton. Dari segi industri, film Indonesia memang membutuhkan konten yang bisa menarik masa seperti ini. Penonton ingin mengulang sensasinya dan mengikuti kelanjutan misteri yang dihadirkan film pertama, meski akhirnya tidak menawarkan cita rasa yang sama. AADC 2 kemudian menjadi film generik percintaan yang mengajak kita untuk mengikuti hati nurani, seperti Runaway Bride, misalnya.

Upaya pengembangan sebuah merek dagang jualah yang membuat film ini memakai judul AADC2. Meski judul Ada Apa Dengan Rangga atau Terjebak Nostalgia akan lebih sesuai dengan kisah yang yang disajikan.

(3/5)

Reviewed at Blok M Square XXI, April 28, 2016
by @Picture_Play

Produced by : Miles Films, Legacy Pictures, Tanakhir Films, Studio E, Printerous

Executive Producers : Robert Ronny, James S. Entong, B. Toto Prasentyanto

Co-Executive Producers : Bimo Setiawan, Niken Rachmad, Arifin Sjaichuddin

Producer : Mira Lesmana

Associate Producer : Mandy Marahimin

Director : Riri Riza

Screenplay : Prima Rusdi, Mira Lesmana

Cinematographer : Yadi Sugandi

Editor : Waluyo Ichwandiardono

Sound Designer : Satrio Budiono

Sound Recordist : Sutrisno

Music Director : Melly Goeslaw, Anto Hoed

Art Director : Eros Eflin

Stylist : Chitra Subijakto

Hair & Make Up : Jerry Octavianusc

Casts : Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, Titi Kamal, Sissy Prescillia, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, Christian Sugiono, Sarita Thaib, Dimi Cindyastira.

Poetry written by Aan Mansyur

Advertisements