Review Bangkit! : Naskah Dan Penyutradaraan Adalah Bencananya

“…sebuah film tentulah tidak bisa hanya mengandalkan efek visual dan desain produksi. Naskah dan penyutradaraan yang kuat dan cermat adalah pondasi utama. Tanpa keduanya, apalah arti menghabiskan bujet produksi besar untuk segala macam efek yang hasil akhirnya juga tidak membuat penonton ternganga?

Naskah dan penyutradaraan yang buruk. Dua elemen inilah yang merupakan “bencana” Bangkit!.”




Saat Bangkit! merilis trailer resmi pertamanya, mayoritas kekhawatiran penonton yang mencuat di berbagai kanal sosial media adalah efek visual komputer yang tidak meyakinkan. Seorang teman berkomentar bahwa CGI ( computer generated imagery) yang menampilkan serangan air bah yang menerjang Jakarta di trailer-nya terlihat tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya. “Terlalu cemen efeknya!”, demikian komentar sang teman.

Saya sepakat dalam beberapa hal. Saat melihat trailer-nya, saya langsung teringat dengan Baahubali : The Beginning (2015), proyek ambisius produksi Tollywood (salah satu pusat bisnis film di India). Meski berbeda genre, keduanya punya kemiripan. Sama-sama disajikan dalam palette komposisi warna amber & teal dan menampilkan efek air lewat teknik efek chroma- key yang tidak dieksekusi secara matang dan akhirnya tidak terlihat menyatu dengan objek yang direkayasa.

Tetapi saat menonton filmnya, masalah utama Bangkit! bukanlah di efek visual. Meski jauh dari kata memuaskan, efek visual (vfx), efek khusus atau efek praktis (sfx) dan desain produksinya menunjukkan bahwa tim di balik film ini sudah berupaya maksimal. Tentu, bujet produksi berpengaruh. Harap diingat, bahwa bujet produksi Bangkit! adalah IDR 10 milyar. Beberapa sumber mengatakan bujetnya di kisaran IDR 12 milyar. Bila dikonversikan ke dollar Amerika, kira-kira di kisaran US$ 760.000 –  US$923.000. Jauh lebih kecil bila dibandingkan film bertema bencana (disaster movies) produksi Hollywood yang akrab di penonton kita yang bujet produksinya puluhan juta dollar. Saya salut dengan kerja keras tim efek dan desain produksi Bangkit!.

Namun, sebuah film tentulah tidak bisa hanya mengandalkan efek visual dan desain produksi. Naskah dan penyutradaraan yang kuat dan cermat adalah pondasi utama. Tanpa keduanya, apalah arti menghabiskan bujet produksi besar untuk segala macam efek yang hasil akhirnya juga tidak membuat penonton ternganga?

Naskah dan penyutradaraan yang buruk. Dua elemen inilah yang merupakan “bencana” Bangkit!.



NASKAH DAN PENYUTRADARAAN YANG PORAK PORANDA

Film langsung dibuka dengan aksi. Sebuah bus berpenumpang terperosok dalam jurang, saat melewati jalanan aspal berkelok yang dibatasi oleh bukit dan ngarai bersemak. Semua penumpang tentu saja panik, lalu muncullah salah satu tokoh utama yang bernama Andri (diperankan oleh Vino G. Bastian). Andri mengenakan seragam berwarna oranye, sebab dia adalah anggota tim Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional. Ya, Chrommy Acronym). Dalam pengadeganan yang sangat de rigueur dan sudah jadi pakem film Hollywood, tentu saja adegan ini bermaksud membuat penonton tegang dan berseru tertahan, serta memperlihatkan sifat heroisme sang karakter protagonis.

Masalahnya adegan pembuka ini gagal melakukannya. Adegan ini tidak memiliki stock shots memadai yang bisa memperlihatkan kepada kita lingkungan sekitar jurang. Kita tidak diberikan perspektif bahwa bus berada di jurang  terjal yang meyakinkan kita bahwa karakter-karakternya berjuang dengan maut. Bahkan adegan ini sempat “kecolongan” karena di salah satu shot, bus ternyata tidak terlalu jauh dari jalan raya dan berada di tempat yang terlihat landai. Sampai akhir film, saya pun mempertanyakan urgensi dan pentingnya sekuens pembuka ini. Apakah untuk memperkenalkan karakter Andri, seorang anggota Basarnas yang berdedikasi terhadap pekerjaan? Bila demikian tujuannya, maka sekuens ini tidak efektif  karena nantinya informasi tersebut diulang-ulang dalam filmnya. Apakah untuk memperkenalkan adegan aksi? Itu pun tidak berhasil. Tadinya saya mengira jatuhnya bus ke jurang tersebut adalah tanda awal dari bencana besar di film. Ternyata sama sekali tidak berhubungan. Sekali lagi tidak efektif.

Mengapa saya begitu cerewet terhadap sekuens pembuka? Karena  setup sangat penting dalam film ber-genre bencana seperti Bangkit!. Saya selalu melihat bahwa film bertema bencana alam memiliki kesamaan dengan film ber-genre suspensi horor dalam ruangan. Penanaman informasi terkait konflik utama film sangat penting. Penonton diberi informasi agar mereka bisa mereka-reka lingkungan dan psikologis karakter, yang mana hal tersebut akan menciptakan ilusi batasan dan akhirnya akan menghadirkan suspensi. Seperti halnya dalam film horror suspense, film bertema bencana seringkali membuat penonton lebih tahu dari para karakter di filmnya. Hal tersebut membuat penonton kemudian geram dan kesal, saat karakter di film tidak melakukan apa yang menurut penonton seharusnya dilakukan.

Bangkit! memang memiliki segala macam bahan dasar yang jamak didapati di film ber-genre bencana: kepala keluarga (dan calon kepala keluarga) yang terlalu passionate dengan karirnya; istri (dan calon istri) yang merasa ditelantarkan; Pemerintah atau orang berwenang yang tidak becus menangani bencana;  Peristiwa tragis untuk menciptakan ketegangan emosional dan psikologis; hingga karakter utama yang harus menyelamatkan banyak orang meski mengadu nyawa. Tidak ada masalah sebenarnya dengan penggunaan bahan-bahan dasar dan mengulangnya dalam formula atau struktur yang sama.

Andri, anggota Basarnas yang sudah muncul di sekuens pembuka, bukan satu-satunya karakter protagonis di sini. Ada pula karakter Arifin (diperankan oleh Deva Mahenra), pegawai Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Bila Andri sudah beristri (dengan malas penulis naskah memberi nama istrinya Indri, diperankan oleh Putri Ayudya) dan memiliki dua orang anak, Arifin masih berstatus bujangan yang akan menikah dengan dokter muda bernama Denanda (diperankan oleh aktris penuh energi, Acha Sepriasa). Mereka berempat ini yang akan sibuk pontang-panting kesana- kemari menyelamatkan (diri) dan Jakarta.

Naskah karya Anggoro Sarontoro tampaknya berusaha menampilkan kemajemukan penduduk Jakarta lewat potret dua pasangan ini. Keluarga pasangan Andri-Indri digambarkan beragama Islam, sementara pasangan Arifin-Denanda penganut Kristiani.  Dua karakter pria protagonis di film ini  pertama kali dipertemukan di layar saat Arifin terjebak luapan banjir di parkir bawah tanah di sebuah mall, saat mengambil cincin pernikahan dan hendak menuju gereja. Tentu saja, Andri dan rekan-rekan Basarnasnya tiba tepat waktu dan berhasil menyelamatkan Arifin.

Di sekuens ini ketidakmampuan naskah dan sutradara membangun logika bercerita kembali terlihat. Arifin yang sudah kepayahan terendam air dalam durasi cukup lama, dengan cepat bisa pulih dan bisa menemui kekasihnya di lokasi berbeda (yang saya asumsikan cukup jauh karena tidak terpengaruh dengan banjir di mall tersebut) tanpa terlihat perlu mendapat bantuan medis? Bahkan sesaat ia diselamatkan, Arifin terlihat segar bugar tanpa terlihat sebagai orang yang hampir tewas tenggelam?

Andri kemudian kembali ke keluarganya dan dalam sekejap banjir bandang sudah menyerbu rumahnya. Untuk mengambil simpati penonton Bangkit! mencoba salah satu teknik paling sering digunakan, yaitu “menewaskan” salah satu karakternya yang dalam hal ini anak perempuan Andri. Dalam suatu momentum di mana istri Andri ingin menyelamatkan anaknya, pengadeganan dari sutradara Rako Prijanto kembali menunjukkan kelemahan. Dalam adegan tersebut, Indri (istri Andri) justru terlihat sembrono dan tidak berusaha maksimal menyelamatkan anaknya. Menarik tangan seseorang yang hendak jatuh dalam posisi berdiri ketimbang menekukkan sendi lutut untuk menambah keseimbangan? Tidak terlihat orang yang  berusaha keras di mata saya.

Rako Prijanto memang sutradara yang gemar menonjolkan visual artistik di berbagai filmnya. Dalam Ungu Violet, ada sebuah adegan pengambilan gambar foto model (Dian Sastrowardoyo) yang sangat high-end fesyen. Dalam Sang Kiai, Rako juga jor-joran dalam membangun set. Pun dalam 3 Nafas Likas (film terbaiknya sejauh ini), Rako juga terkesan ambisius dan menghadirkan set-pieces, serta efek visual ambisius. Tapi, film-film Rako selalu sepi akan emosi dalam bercerita dan kerap menghadirkan “lompatan logika bertutur”. Hal sama terjadi di Bangkit!

Banjir besar kadung menyerang seluruh pelosok Jakarta. Dalam setiap film tentang bencana, selalu ada karakter yang digambarkan tidak percaya akan berbagai indikasi datangnya bahaya. Dalam Bangkit! karakter tersebut diwakili oleh Ferry Salim, atasan Arifin di BMKG. Dalam sebuah dialog memperdebatkan penyebab bencana, Arifin dan atasannya mengucapkan segala teori. Mulai dari “awan CU, “ Awan CB”, “badai trasilano” dan sebagainya. Kembali penyutradaraan menunjukkan titik lemahnya di sini. Saat para aktor beradu paparan saintifik, mereka terlihat jelas bingung dan tidak menguasai bahasa yang mereka lontarkan. Mereka terdengar seperti Vicky Prasetyo yang sedang mengucapkan serangkaian bahasa ilmiah canggih, tapi sama sekali tidak ada artinya. Kesalahan seperti ini umumnya terjadi, bila sutradara tidak bisa menyampaikan gagasan pengadeganan kepada para aktor di filmnya. Para aktor dibiarkan mengintepretasikan sendiri, yang karena masa reading amat singkat, jadinya dialog saintifik terdengar amat konyol.

Bangkit! juga memberikan karakter template lainnya di film ber-genre bencana yaitu orang yang mengungkapkan suatu teori, namun justru dianggap tak waras. Karakter tersebut di film ini dihadirkan lewat  lakon seorang profesor yang diperankan oleh Yayu Unru. Karakternya berteori bahwa ada terowongan besar di bawah tanah kota Jakarta peninggalan Belanda yang menghubungkan antara Museum Fatahillah, Mesjid Istiqlal dan berakhir ke laut di Tanjung Priok.  Informasi ini sebenarnya sudah sering menjadi urban legend di kalangan pecinta sejarah. Terowongan inilah kemudian yang, menurut logika naskah, menjadi penyelamat Jakarta dari banjir. Para karakter utama lalu fokus berusaha menemukan terowongan ini.

Permasalahan logika lagi-lagi terkendala di sini, karena sekali lagi, film ini tidak pernah memberitahu kita informasi sebelum ide menemukan terowongan ini disepakati. Seberapa besar volume banjir yang menyerang Jakarta? Seberapa besar terowongan kuno itu mampu menampung kelebihan volume air? Darimana asal banjir tersebut? Di film ini juga digambarkan banjir bukan satu-satunya bencana yang menimpa. Ada gempa bumi dahsyat ( kita tidak tahu penyebabnya apa dan berapa skala Richter) yang menyebabkan jalan layang dan gedung-gedung hancur, serta jalanan terbelah. Apakah penemuan terowongan mampu mengatasi masalah gempa? Dengan gempa sebesar itu, mengapa para karakter di film ini tidak khawatir bila terowongan tersebut ikut hancur?

Naskah Bangkit! begitu porak-porandanya, seperti efek bencana di film ini. Ide dan gagasan di film ini begitu ambisius, liar dan sporadis dibandingkan dengan bujet produksi yang tersedia. Cara bercerita dan logika naskah film ini amat melompat kesana-kemari, seperti seorang anak yang bercerita dengan amat antusiasnya, sehingga setiap ada gagasan baru akan langsung dimasukkan ke dalam naskah. “Oh! Mari kita masukkan banjir!”. “ Mari kita masukkan gempa!”, atau, “Oh, mari kita masukkan adegan di mana karakternya akan berlari menaiki atap mobil untuk menyelamatkan seseorang”.

Naskah film ini begitu sibuk untuk berusaha menciptakan adegan ikonis dan memasukkan efek visual agar menarik kesan penonton , serta menampilkan imej bahwa ini film mahal. Tapi, melupakan pembangunan informasi dan struktur, serta memperhatikan pace.

Kesan untuk memamerkan efek visual (yang tidak terlalu memukau), juga membuat kamera (lagi-lagi) melupakan pentingnya perspektif. Dalam suatu sekuens di mana sebuah jalan layang hancur dan mobil karakter utama berada di bawahnya, kamera terlampau fokus dengan kehancuran dan melupakan mobilnya. Akibatnya, adegan ini justru berakhir konyol dan tidak meyakinkan. Kita tidak peduli apakah orang-orang di mobil tersebut selamat atau tidak, karena fokus utama kamera hanyalah memperlihatkan efek.

Logika bercerita yang melompat-lompat tersebut salah satunya disebabkan karena penonton tidak diberikan pengetahuan topografi dan keadaan geografis, sehingga kita tidak bisa merasakan suspensi. Bahkan lebih parah, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa bencana seperti ini tidak bisa diprediksi oleh BMKG sebelumnya? Kenapa mereka tidak melakukan rapat koordinasi dengan Basarnas sebelum mengambil tindakan? Bagaimana bisa bencana yang menimpa Jakarta yang merupakan ibukota negara dan pusat perputaran uang terbesar di Indonesia diselamatkan secara amatir?

Dalam penulisan naskah jika para karakter di film lebih tahu daripada penonton, maka hal itu akan menjadi sebuah misteri yang menarik. Bila penonton lebih tahu daripada karakter, maka akan menimbulkan suspensi dan ketegangan. Tapi, Bangkit! bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Penonton yang sama tidak tahunya, menjadi frustrasi. Film ini juga hadir seperti sekumpulan montase, yang mana hal itu juga tidak membantu sama sekali dalam menghadirkan ketegangan. Montase umumnya dipakai untuk menghadirkan informasi, tetapi di film ini informasi itu pun tidak berguna.

Bangkit! seperti sebuah studi kasus bernilai belasan milyar. Bahwa sebelum memutuskan untuk menjalankan sebuah proyek film ambisius, pastikan naskahnya kuat dan masuk akal, serta sutradaranya memiliki visi yang kuat.”



COGNITIVE ESTRANGEMENT DAN PRIORITAS NASKAH

Film ber-genre bencana seperti Bangkit!, San Andreas, atau 2012 memang diuntungkan oleh suspension of disbelief yang berujung pada sikap cognitive estrangement penonton, suatu sikap yang lahir akan kurangnya pengetahuan penonton akan “trik” dan manipulasi pengetahuan di filmnya atau ketidakpedulian penonton akan kebenaran suatu logika. Tapi, suspension of disbelief akan hadir bila sebuah film menanamkan informasi-informasi yang memancing sugesti penonton untuk mempercayai cerita di filmnya. Anda akan percaya sebuah sulap yang menunjukkan bahwa seekor kelinci bisa hadir dari sebuah topi kosong, bila sebelumnya sang pesulap meyakinkan bahwa topi itu benar-benar kosong, bukan?

Bangkit! tidak memiliki upaya untuk meyakinkan penonton, meski telah mengeluarkan uang banyak untuk menghadirkan berbagai trik. Ini akibat sutradara dan naskah tidak punya visi kuat akan dibawa kemana film ini. Bagi mereka, pamer efek adalah segalanya.

Karakterisasi pun tidak konsisten dalam film ini. Satu-satunya yang konsisten adalah karakter Andri milik Vino. Saat Vino tampil di layar, saya percaya apa yang diucapkan dan dilakukannya. Saya bersimpati kepada karakternya. Vino memiliki kualitas bintang, karena saat ia muncul di layar, ia berhasil menampilkan karisma seorang pemimpin dan sekaligus aura mengayomi seorang ayah. Di film, saya percaya bahwa dia adalah orang yang bisa menyelamatkan banyak jiwa dari bencana.

Pujian pun patut dialamatkan ke desainer produksi, penata artistik dan tim efek praktis (sfx). Mereka jelas sudah bekerja keras menghadirkan hasil maksimal dalam kendala bujet relatif terbatas dan sutradara, serta naskah, yang tidak memiliki visi jelas.

Saya berandai-andai bila Bangkit! dengan bujet yang ada lebih menyempitkan fokus penceritaan menjadi satu keluarga yang berusaha menyelamatkan diri dari banjir 5 tahunan yang sering menimpa Jakarta. Ceritanya akan lebih nyata, lebih terhubung dengan penonton dan efeknya akan lebih maksimal. Seperti apa yang dilakukan di film Bølgen atau The Wave, film produksi Norwegia tahun 2015. Film tersebut berhasil memanfaatkan segala macam hal klise di film bencana dan berhasil menjadi salah satu film bencana terbaik. Film itu tidak berambisi menjadi besar dan pamer efek seperti Hollywood. Filmmaker-nya hanya berfokus pada penceritaan, pembangunan dramatisasi dan informasi film, serta memperhatikan pace dan struktur.

Bangkit! seperti sebuah studi kasus bernilai belasan milyar. Bahwa sebelum memutuskan untuk menjalankan sebuah proyek film ambisius, pastikan naskahnya kuat dan masuk akal, serta sutradaranya memiliki visi yang kuat.

Saya setuju dengan anggapan bahwa keadaan market film Indonesia yang masih fluktuatif, memerlukan film-film yang mengandalkan spectacle dan premis high-concept. Tetapi, sebagai komoditas yang menjadikan cerita sebagai senjata utama, naskah yang bagus tetap prioritas utama.

Kita perlu kembali mengingat sejarah sinema  bahwa dengan bujet produksi yang lebih kecil dari Bangkit!, Gareth Edwards bisa melahirkan sebuah film berjudul Monsters yang kemudian banyak dipuji karena keefektifan dan kreativitasnya dalam bercerita. Bukan sekadar meluapkan ambisi dan ego semata.

(2/5)

Reviewed at Blok M Square XXI, July 28, 2016

Surya Nation, Kaninga Pictures, Oreima Pictures

Executive producer : Willawati,  Dani Rahadian

Producer : Reza Hidayat

Co – producer : Giovanni Rahmadeva, M. Shahriza Rijadi

Production Partner : Wirya Witoelar , Wisnu Hadi

Post Production Manager : Andi Manoppo

Directed by : Rako Prijanto

Director of Photography : Hani Pradigya

Screenplay : Anggoro Santoro

Costume : Gea Gemala Geriantiana

Sound : Muhammad Yusuf Patawari

Art Director : Frans XR Paat

VfX : Raiyan Laksamana

Sfx : Watcharachai Panicshuk

Sound designed : Khikmawan SANTOSA

Music scoring : Aghi Narottama

Editor : Wawan I. Wibowo  , Lilik Subagyo

Make up : Gunawan Saragih

Casts : Vino G Bastian, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Putri Ayudya, Yayu Unru, Yasamin Jasmen, Adriyan Bima, Donny Damara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s