Review Captain America : Civil War – Polarisasi Dalam Semangat Rekonsiliasi

by @Picture_Play

May, 07 2016

“…mengingatkan kepada kisah tentang etika perang di film Eye in the Sky yang juga mengusung tema serupa, konsekuensi perang dan hubungannya dengan cabang hukum internasional, jus ad bellum dan jus in bello. Bahwasanya setiap kekuatan militer, apapun itu, perlu diatur untuk menghasilkan dampak minimum perang.”




Captain America : Civil War adalah film yang membuat kita melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil, berseru antusias dan mencapai tujuannya untuk menghibur.

Tidak hanya sebagai sebuah kelanjutan kisah pahlawan super dalam “semesta sinematis Marvel” (Marvel Cinematic Universe), Civil War juga bisa dipandang sebagai film yang berdiri sendiri, terlepas dari embel-embel branding adaptasi komik. Copot semua karakter pahlawan super yang ada di film ini dan gantikan dengan karakter fiktif lain, serta sedikit perubahan di sana-sini, maka kita masih akan bisa mendapatkan sebuah film bertema action political thriller yang sama bagusnya.

Civil War bisa dipandang seperti itu karena, meski dibangun dari sebuah high concept premise yang meminjam story-arc komik Marvel berjudul sama tentang dua kelompok superhero yang saling berseteru, namun inti inti dari cerita Civil War adalah lebih tentang sepasukan elit yang berada di bawah naungan sebuah negara ( dalam hal ini pseudo Amerika Serikat) yang memiliki kekuasaan dan kekuatan maha dahsyat, namun saat melaksanakan tugas yang sebenarnya mulia, mereka melakukan kesalahan fatal yang justru membuat akhirnya mereka dikecam. Buah dari kecaman tersebut, terjadi perbedaan sudut pandang di internal kelompok elit tersebut, yang kemudian berujung pada perselisihan dan perpecahan. Perpecahan tersebut kemudian membawa konflik menjadi lebih pelik, karena melibatkan egoisme, dendam pribadi,  persinggungan antar kepentingan politik, dan yang terpenting, rasa setiakawan.

Civil War diawali dengan sekuens pembuka yang menampilkan karakter James “ Bucky’ Buchanan ( peran yang dibawakan secara enigmatis dan misterius oleh Sebastian Stan) berlatar tahun 1991, saat ia diceritakan baru bangkit dari tidur panjang setelah beku selama berpuluh tahun dalam proses cryogenic. Bucky, sahabat kental Steve Rogers (diperankan dengan karismatik oleh Chris Evans) alias sang Captain America ini, ditemukan oleh otoritas Rusia yang kemudian menjadikannya sebagai alat pembunuh masal berdarah dingin yang amat mematikan dan kemudian dikenal sebagai Winter Soldier. Bucky lalu “diaktifkan” lewat sebuah metode hipnotis dan menjalani sebuah misi yang sepertinya amat penting. Adegan berganti dengan sang Winter Soldier mengejr sebuah mobil dan meledakkannya. Plot ini kemudian membawa penonton kepada sebuah twist dramatis jelang akhir film.

Sekuens pembuka itu menjadi jembatan yang menjelaskan dan menghubungkan Civil War dengan installment pertama Captain America : The First Avengers dan juga Captain America : Winter Soldier. Mengukuhkan posisi film ini sebagai sekuel, sekaligus sebagai plot device yang menjadi pemicu ketegangan bermotif dendam kesumat sebagai pengikat minat penonton untuk terus mengikuti setiap seri waralaba film adaptasi komik Marvel.

Di sinilah letak kepiawaian Disney dan Marvel dalam membangun semestanya. Setiap kejadian dirancang secara cermat dan koheren untuk kemudian disempilkan di film lain dalam sebuah hubungan aksi-reaksi. Tidak hanya sebagai gimmick dan trivia, tapi sebagai perekat kesinambungan antar cerita di semestanya.

Cerita lalu beralih ke masa “sekarang” di mana Captain America bersama Scarlet Witch (diperankan oleh aktris berbakat Elizabeth Olsen), superhero perempuan yang memiliki kekuatan magis dan telekinesis; dan Black Widow (diperankan oleh Scarlett Johansson), agen S.H.I.E.L.D yang terkadang memiliki kepribadian ambigu; serta Sam Wilson/Falcon (diperankan oleh Anthony Mackie), mantan anggota militer yang kini sudah malih rupa dalam kostum mekanis bersayap besinya, sedang bertugas memberangus sekelompok teroris di Lagos, Nigeria. Trio ini memang berhasil meringkus gembong teroris, namun dalam sebuah kejadian fatal saat ingin menyelamatkan sang Captain, Scarlet Witch secara tak sengaja meledakkan satu bangunan apartemen dan menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil.

Kecelakaan fatal tersebut lantas menjadi sorotan dunia dan mengundang kecaman para pemimpin negara. Terlebih sebelumnya para superhero anggota Avengers juga dianggap bertanggung jawab menimbulkan korban jiwa berjumlah masif di film The Avengers, The Avengers : Age of Ultron, dan bahkan di Captain America : Winter Soldier. Kejadian di Lagos membawa publik ke suatu pertanyaan politis, “ Apakah para superhero itu teman atau justru ancaman?”. Sebuah peristiwa yang membuat kita kembali memaknai ujar-ujar bijaksana dari Paman Ben di film Spider-Man arahan Sam Raimi, “ With a great power comes a great responsibility”.

Keputusan penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely dalam membawa Civil War konfliknya ke ranah politik membawa film ini ke suatu kedalaman dimensi tersendiri. Captain dan teman-teman bisa jadi tidak sengaja menimbulkan korban jiwa, tapi kita dibawa ke sebuah persepsi masuk akal dari kacamata orang awam bahwa sudah saatnya kekuatan para superhero yang memiliki kekuatan luar biasa perlu diatur oleh sebuah konvensi. Bahwa mereka bisa saja menyalahgunakan kekuatan mereka di suatu hari nanti dan menimbulkan kerusakan masal (collateral damage) tak terbayangkan. Isu politik ini lantas mengingatkan kepada kisah tentang etika perang di film Eye in the Sky yang juga mengusung tema serupa, konsekuensi perang dan hubungannya dengan cabang hukum internasional, jus ad bellum dan jus in bello. Bahwasanya setiap kekuatan militer, apapun itu, perlu diatur untuk menghasilkan dampak minimum perang.

Pertanyaan peluang dan konsekuensi penyalahgunaan kekuatan superhero juga sebenarnya dicuatkan dalam Batman v Superman : Dawn of Justice. Hanya saja, film tersebut menjadikannya hanya sebagai gimmick yang tidak diintegrasikan dengan baik dalam ceritanya. Berbeda dengan Civil War yang justru menjadikan isu tersebut sebagai salah satu pondasi konflik dan plot points. Perbedaan lain terletak dalam cara Disney/Marvel dan Warner/DC melakukan pendekatan terhadap karakter superhero mereka. Disney/Marvel memperlakukan mereka sebagai bagian dari manusia biasa, sementara Warner/DC membawa karakter superhero mereka laiknya dewa dalam mitologi Yunani Kuno. Sebuah perbedaan kontras yang berakhir pada positioning tegas.  Karakter Disney/Marvel lebih terkoneksi dengan penonton, hal yang gagal dilakukan oleh Warner/DC.

Tak hanya Scarlett Witch yang merasa bersalah dan terpukul. Di belahan dunia lain, Tony Stark alias Iron Man ( disangsikan akan ada yang bisa menggantikan Robert Downey Jr. untuk peran ini) –milyuner flamboyan dan arogan, tetapi dicintai semua orang—juga menanggung beban jiwa serupa. Saat menyampaikan sebuah presentasi layaknya mendiang Steve Jobs ketika menyampaikan produk Apple terbaru, ia dikonfrontasi oleh seorang wanita yang memintanya bertanggung jawab atas kejadian di negara fiktif Kosovia, di mana Stark dan tim Avengers dianggap menimbulkan kehancuran saat peristiwa di film Age of Ultron,

Stark baru tersadar akan konsekuensi kearoganannya di masa lampau. Selain bertanggung jawab atas tragedi Kosovia, dia juga merasa bersalah karena merasa sebagai pemicu timbulnya berbagai superhero yang berani tampil di depan publik. Stark memang orang pertama yang secara terang-terangan mengakui jati dirinya sebagai pahlawan super. Adegan ini lantas membawa penonton mengamati  trauma psikologi dan kompleksitas moral yang dialami Stark. Ego pribadinya terluka, sedangkan di sisi lain jiwanya yang sedang rapuh karena persoalan pribadi juga membuat ia mempertanyakan ulang keputusannya. Downey bermain sangat bagus di film ini. Terkadang kita dibuat sebal akan sikap songong-nya, namun di saat lain kita dibawa untuk berpihak dan berempati kepadanya. Sebuah dualitas yang secara sempurna dibawakan oleh Downey, terlebih saat kita dibawa ke twist akhir yang menuntutnya memperlihatkan emosi mentah dan amarah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa lalu membawa keteledoran yang dilakukan oleh anggota Avengers ke sebuah siding di Jenewa. Mereka  bersidang untuk menentukan sebuah konvensi yang akan mengatur wewenang para superhero dalam menggunakan kekuatannya. Mereka berpendapat bahwa superhero adalah aset dan ‘senjata” dunia yang perlu diakuisisi agar mereka tidak bertindak sebagai vigilante. Dalam sebuah pertemuan internal antar anggota Avengers, gagasan ini memecah mereka menjadi dua kubu.

Captain America beranggapan bahwa mereka tidak perlu “diakuisisi” oleh sebuah institusi bernuansa politik. Bahwa para superhero justru bisa menjalankan fungsi secara maksimal dalam kondisi independen. Sang CapAm bisa dilihat sebagai seorang penganut utilitarianisme dan libertarianisme. Benar, saat menjalankan tugas mereka, korban sipil kerap tak bisa dihindari, namun itu adalah konsekuensi yang mesti dipanggul bersama demi sebuah tujuan lebih besar. Captain America di sini lantas digambarkan sebagai representasi negara-negara adikuasa yang menganggap diri mereka sebagai “polisi dunia”. Argumennya memiliki pondasi logika kuat dan ia bersikukuh mempertahankannya. Keteguhan CapAm dalam membela prinsip dan tindakan para anggotanya kemudian membuat ia sebagai sosok pimpinan yang baik. Tak heran, bila ia mendapat dukungan penuh dan juga simpati penonton.

Sementara Tony Stark alias Iron-Man sepakat dengan ide “akuisisi”. Petunjuk bahwa ia sedang mengalami trauma, membuat keputusannya pun bisa dimaklumi. Ia setuju bahwa untuk meminimalisir korban di kegiatan selanjutnya, para superhero perlu untuk diatur dalam sebuah konvensi. Tony Stark lantas bisa dipandang sebagai seorang deontolog yang memandang bila kegiatan mereka menimbulkan korban jiwa dari pihak sipil, maka tindaknya mereka tak bisa dibenarkan. Akan tetapi, latar belakang Tony Stark sebagai seorang industrialis dan pengusaha, bisa dipandang bahwa ia juga sebagai seorang oportunis yang akan melipir pada suatu pihak bila kondisinya tak memungkinkan.

Masalah semakin rumit ketika sidang PBB di Jenewa berlangsung di mana Avengers diwakili oleh Black Widow, sebuah insiden terjadi. Bom meledak menewaskan pimpinan sidang, sekaligus seorang aktivis humanitarian perwakilan negara fiktif Wakanda, T’Chaka ( John Kani). Sialnya, Bucky alias Winter Solider tertangkap kamera dan segera dituduh sebagai biang kerok. Kejadian ini tidak hanya semakin memicu pertentangan terhadap Avengers, juga menimbulkan dendam amarah T’Challa ( Chadwick Boseman) yang ternyata juga seorang superhero berjuluk Black Panther.

Kerumitan semakin bertambah, saat CapAm tidak percaya bahwa Bucky adalah biangnya. Meski telah diperingatkan oleh Black Widow untuk tidak terlibat, rasa kesetiakawanan mendorong sang Captain untuk tidak mengindahkannya. Keputusan tersebut lantas membuat persoalan bertambah rumit lagi. CapAm lantas dituding telah bersekongkol dengan musuh dan ikut diburu. Meski instingnya kemudian terbukti benar, tindakan CapAm kadung membuat Avengers terpecah menjadi dua kutub.

Scarlett Witch, Hawk Eye (Jeremy Renner), Falcon, Ant-Man (si jenaka Paul Rudd), dan Sharon Carter (Emily Van Camp) memilih memihak CapAm.

Sementara Vision (Paul Bettany), Black Panther, Black Widow, dan War Machine (Don Cheadle) memutuskan mendukung Iron-Man. Kubu ini juga mendapat sokongan superhero favorit kita semua Spider-Man (Tom Holland), remaja tanggung yang mencuri perhatian kita semua lewat keluguan dan ceplas-ceplos-nya.

“…keistimewaan Civil War adalah bagaimana sineas di baliknya menghadirkan perpecahan bukan karena keputusan emosional tak berlogika. Para superhero tetaplah ditampilkan sebagai orang-orang yang terikat persahabatan, meski kemudian terpaksa tak bisa lagi bersama karena suatu keputusan prinsipil”



PERBEDAAN IDEOLOGI, NASIONALISASI, DAN SEMANGAT REKONSILIASI

Captain America : Civil War memang hiruk pikuk dijejali begitu banyak karakter dan plot points, yang dalam kasus Batman v Superman : Dawn of Justice gagal dieksekusi dan diberi porsi yang berimbang untuk penonton menelaahnya. Dalam aspek ini, Civil War memang diuntungkan dari kejelian Disney/Marvel dalam memupuk perlahan perkembangan berbagai karakter superhero milik mereka dalam film-film terdahulu, hingga penonton sudah akrab dengan beberapa karakter utama.

Akan tetapi hebatnya, sutradara Russo Brothers dan penulis naskah juga member ruang bagi para karakter baru untuk ikut “bersinar”. Kita diajak mengenal Black Panther dan Spider-Man yang kemudian membuat kita peduli dengan mereka. Dalam film ini, kita lantas diperlihatkan bahwa Black Panther juga memiliki karakter sebagai pemimpin. Sementara, Peter Parker alias Spidey diperkenalkan lewat sebuah introduksi kocak yang membuat kita jatuh hati padanya. Bukan hal mudah untuk membagi porsi begitu banyak karakter penting dan member mereka ruang dalam screen time yang terbatas. Hal ini membuat Civil War bahkan melampaui film The Avengers arahan Joss Whedon rilisan tahun 2011.

Karakter superhero komik sebenarnya serupa dengan karakter pendekar di film wuxia. Mereka didefinisikan oleh kekuatan yang dimiliki, diwakili oleh penamaan yang tegas. Namun, di sini penulis naskah tidak lupa memberi sentuhan humanisme di setiap pembentukan karakter sehingga tidak terjebak menjadi satu dimensi. Setiap perkembangan karakter dijaga dengan baik, motivasinya dibangun dengan jelas menurut nalar.

Sebagai sebuah film aksi fantasi, Civil War juga menawarkan set-pieces dan adegan laga mumpuni. Sekuens kejar-kejaran antara CapAm-Winter Soldier-Black Panther adalah salah satu adegan aksi terbaik dalam sejarah sinema. Sekuens ini dibangun secara intens dan lewat arahan lensa kamera yang dinamis. Kabarnya sutradara John Wick, duo Chad Stahelski dan David Leitch, khusus menggarap adegan aksi di film ini. Tak heran bisa hasilnya pun mengagumkan, karena John Wick adalah salah satu film dengan koreografi aksi terbaik dalam satu dekade terakhir.

Seperti film-film Disney/Marvel sebelum ini, Civil War juga dibubuhi humor lewat serangkaian one-liners yang menjadi punch lines efektif dalam mengocok perut. Spider-man milik Tom Holland lantas menjadi juaranya di sini, karena begitu setia dengan penggambaran di komiknya. Tom Holland berhasil menghadirkan Spidey remaja yang kikuk, cerdas, tangkas, sekaligus menggemaskan, serta seringkali starstruck saat melihat superhero yang diidolakannya. Dalam berbagai aksi, Spidey di sini kerap melontarkan celotehan jenaka yang membuat kita akhirnya tak sabar menunggu aksi si penebar jaring di film solonya mendatang. Adegan saat Tony Stark merekrut Spidey menjadi paling diingat dalam film ini.

Kita juga diajak berempati kepada karakter musuh utama para superhero di Civil War, yang hadir dalam sosok Helmut Zemo, diperankan oleh salah satu aktor muda paling berbakat saat ini, Daniel Bruhl. Zemo kemudian diketahui sebagai aktivis di Sokovia yang menaruh dendam kepada Avengers yang telah menghancurkan kotanya. Zemo tidak memiliki kekuatan super, ia hanya seorang pengatur strategi handal yang dipicu oleh amarah. Bruhl, seperti biasa, tampil prima. Matanya menyerikan kecerdasan, sekaligus duka.

Terlepas dari berbagai elemen yang menunjang sebagai film blockbuster, keistimewaan Civil War adalah bagaimana sineas di baliknya menghadirkan perpecahan bukan karena keputusan emosional tak berlogika. Para superhero tetaplah ditampilkan sebagai orang-orang yang terikat persahabatan, meski kemudian terpaksa tak bisa lagi bersama karena suatu keputusan prinsipil. Pertarungan mereka bukan karena ingin saling menghabisi, tetapi lebih pada keinginan untuk mencegah sahabat mereka untuk tidak bertindak konyol. Ada rasa kepedulian di balik egoisme pribadi mereka yang akhirnya di akhir film berujung pada suatu kesempatan untuk melakukan rekonsiliasi.

Saat kita menyaksikan film produksi Disney/Marvel, wajar bila kita dibawa pada suatu pertanyaan. “apakah kita murni menyukai filmnya, atau kita mengagumi rencana bisnis cermat studio ini?”. Pertanyaan yang sama juga mencuat saat menyaksikan Civil War. Seperti film-film Disney/Marvel sebelum ini, Civil War juga tidak hanya berfungsi sebagai medium penceritaan, tetapi juga sebagai teaser untuk film berikutnya. Sebuah pola yang lazim ditemukan dalam serial televisi, karena dasarnya sama, menyajikan momen cliffhanger sebagai pengikat penonton untuk setia menyaksikan setiap episode. Akan tetapi yang membuat Civil War istimewa, sekali lagi, adalah film ini bukan hanya sekumpulan gimmick. Memang gimmick tersebar di sana-sini, namun bisa dijahit secara asyik dan menyenangkan.

Civil War lebih tepat disebut sebagai Avengers versi lebih “kecil”, minus Thor, Hulk, dan pimpinan S.H.I.E.L.D. Nick Fury. Absennya Fury juga membuat isu politik yang diusung film ini menjadi sedikit memicu tanda tanya. Dalam semesta Marvel, S.H.I.E.L.D adalah wadah yang amat politis dan memiliki fungsi vital, karena langsung dibentuk oleh pemerintah Amerika Serikat dalam mengumpulkan pelbagai superhero. “Ketidakhadiran” organisasi tersebut di Civil War memicu pertanyaan, “ Bagaimana bisa Nick Fury tidak hadir dalam sebuah kondisi genting yang diciptakannya?”. Aspek tersebut lantas tetaplah membuat Winter Soldier sebagai yang terbaik dalam semesta Marvel, sebagai film yang meletakkan pondasi kuat mengenai pertanyaan, “ Bisakah para superhero diakuisisi dan dinasionalisasi?”.

By @Picture_Play

Reviewed at IMAX Gandaria City in 3D, April 27 2016

Running Time : 146 minutes

A Walt Disney Studios/Marvel Studio presentation

Produced by : Kevin Feige

Executive producers : Louis D’Esposito, Victoria Alonso, Stan Lee, Patricia Whitcher, Nate Moore

Co-producers : Mitch Bell, Christoph Fisser, Henning Molfenter, Charlie Woebcken

Directors : Anthony Russo, Joe Russo

Screenplay : Christopher Markus, Stephen McFeely

Camera : Technicolor, Panavision Wide, Arri Alexa Digital 2D 6k for IMAX

Cinematographer : Trent Opaloch

Editors : Jeffrey Ford, Matthew Schmidt

Music : Henry Jackman

Music Supervisor : Dave Jordan

Production designer : Owen Paterson

Supervising art director : Greg Berry

Art directors : David E. Scott, Greg Hooper

Costume designer : Judianna Makovsky

Sound (Dolby Atmos, Dolby Digital) : Manfred Banach

Visual effect & animation : Industrial Light & Magic, Method Studios

Visual effects : Trixter Film, Rise Visual Effect Studios, Double Negative, Luma Pictures, Lola VFX, Cantina, Sarofsky, Animal Logic, Crafty Apes, Image Engine Design, Technicolor VFX, Capital T, Exceptional Minds

Starring : Chris Evans, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Sebastian Stan, Anthony Mackie, Don Cheadle, Jeremy Renner, Chadwick Boseman, Paul Bettany, Elizabeth Olsen, Paul Rudd, Emily VanCamp, Tom Holland, Frank Grillo, William Hurt, Daniel Bruhl. (English, Russian dialogue)

Advertisements