crouching-tiger-hidden-dragon-2-sword-destiny-poster (1)

Review Crouching Tiger Hidden Dragon-Sword of Destiny : Curse of the Title

written by @Picture_Play

6 Maret 2016 

Sword of Destiny seperti menerima “kutukan”, karena menanggung nama dan reputasi besar Crouching Tiger, Hidden Dragon, sebagai sebuah brand yang diwariskan Ang Lee.”

 




Kisah Crouching Tiger Hidden Dragon : Sword of Destiny (untuk selanjutnya hanya akan disebut Sword of Destiny saja), berselang delapan belas tahun dari kejadian film pertamanya.

Setidaknya informasi ini yang diperoleh dari Yu Shu Lien (Michelle Yeoh), pendekar wanita yang sudah kita kenal di film arahan Ang Lee yang jadi prequel film ini.

Sword of Destiny dibuka dengan sequence yang diiringi oleh voice over Shu Lien, berfungsi sebagai kilas balik dan sekaligus memberitahu kita seperti apa dunia wu xia, sepeninggal Li Mu Bai ( diperankan oleh Chow Yun Fat di film tahun 2000).

Shu Lien bercerita bahwa ia masih menyendiri dan hidup solitude. Di tengah riuh rendah dunia persilatan, Shu Lien berharap bahwa eksistensinya tidak diindahkan dan dia bisa menikmati hidup. Tapi nama besarnya dan Pedang Takdir Hijau yang diamanatkan Li Mu Bai kepada dia, terlampau kesohor untuk tidak menarik perhatian pendekar lain.

Shu Lien sendiri menganggap nama besarnya, Li Mu Bai, dan  Takdir Hijau seperti pedang bermata dua. Di satu sisi bisa dipandang sebagai pujian, namun Shu Lien sendiri menganggapnya sebagai kutukan.

Sayangnya hal serupa terjadi pada film ini.

Sword of Destiny seperti menerima “kutukan”, karena menanggung nama dan reputasi besar Crouching Tiger, Hidden Dragon, sebagai sebuah brand yang diwariskan Ang Lee.

Crouching Tiger, Hidden Dragon milik Lee adalah sebuah karya seminal yang sudah mencapai status klasik. Film ini berhasil menembus batasan dan meraih pengakuan, baik itu dari segi estetika, komersial, dan kritik.

Saat dirilis pada tahun 2000, Crouching Tiger Hidden Dragon, mampu menaikkan derajat film wuxia dan martial art yang sebelum itu cenderung dianggap sebagai karya kelas B (B-class movies). Film ini juga mendobrak pakem film martial art yang jamak dipakai hingga saat itu, di mana Lee membuka hampir 15 menit adegan pertama dengan pengenalan karakter dan cerita, alih-alih dengan adegan bak-bik-buk baku hantam.

Hasil yang dicapai Lee lewat Crouching Tiger Hidden Dragon pun sudah terekam dalam sejarah. Film ini berhasil meraih 10 nominasi Oscar di tahun 2001, termasuk Best Picture dan Best Director, dan berhasil membawa pulang 4 piala. Film ini juga berhasil menjadi film berbahasa non-Inggris terlaris di pasar Amerika Utara, hingga saat ini. Kekuatan film ini juga mampu menginspirasi banyak sineas untuk membuat film martial art dengan pendekatan serupa.

Sejak itu, lahirlah berbagai film berlatar dunia wuxia yang diproduksi dengan pendekatan film artistik dan lalu memperoleh status sebagai karya klasik. Di antaranya adalah Hero arahan Zhang Yimou; The Grandmaster arahan Wong Kar Wai; atau yang terbaru The Assassins karya sutradara Hou Hsiao-Hsien.

Crouching Tiger, Hidden Dragon menjadi pionir sebuah film kung fu yang mengeksplorasi tema kemanusiaan dan cinta; menyajikannya dalam kearifan dan keeksotisan budaya Timur; dan mengeluarkan daya magis filosofis di balik pertarungan antar pendekar, ke penjuru dunia.

Ironisnya, Sword of Destiny justru menjadi antitesis prekuelnya. Film ini terlihat seperti B-class direct-to-home entertainment movie yang memanfaatkan brand Crouching Tiger, Hidden Dragon sebagai daya pikat komersial.

Sword of Destiny  hanyalah mengeksploitasi apa yang sudah dikerjakan Lee, serta terlihat sebagai film produksi sekumpulan sineas yang malas berinovasi.

Bila Anda pergi ke pusat penjualan DVD, kadang Anda melihat beberapa judul film yang menggunakan poster dan judul film terkenal untuk menarik pembeli. Padahal ketika diputar, film-film tersebut hanyalah imitasi murahan dari film terkenal yang namanya “dicomot” di cover.

Sword of Destiny terlihat seperti film itu.



Perbedaan  Paradigma

“Sword of Destiny terasa sebagai sebuah produk pabrikan yang tanpa emosi, tanpa jiwa, dan tidak memiliki determinasi. Film ini terasa seperti gabungan antara beberapa template dan formula, yang asal direkatkan menjadi satu.

 

Hal ini menyedihkan, karena Sword of Destiny sebenarnya diarahkan oleh veteran di industri film martial art, Yuen Wo Ping. Ironisnya Woo Ping adalah penata laga film Crouching Tiger Hidden Dragon arahan Ang Lee, yang salah satu aspek unggulnya disumbangkan oleh koreografi rekaan Woo Ping.

Woo Ping sendiri tak awam dengan status sebagai sutradara. Bila Anda gemar menonton film-film kung fu, judul-judul  seperti Tai Chi Master (1993) dan Iron Monkey (1993), adalah salah dua dari film-film yang ia menjadi sutradaranya.

Kedua film lawas Woo Ping itu memang tidak menjadi masterpiece seperti Crouching Tiger, Hidden Dragon. Tetapi masih menawarkan beberapa ide dan konsep penceritaan yang segar.

Di Sword of Destiny, Woo Ping terasa tidak memiliki kendali. Koreografi pertarungannya pun tidak terasa sebagai milik Woo Ping. Bila terdapat sebuah mesin yang mampu memproduksi film secara massal, film ini terasa sebagai produknya. Sang produser tinggal memasukkan bahan-bahan ke dalam mesin, lalu mesin yang mengolah dan memproses semua bahan tersebut, dan..voila! Sword of Destiny siap disajikan.

Analogi di atas memang tepat menggambarkan film ini. Sword of Destiny terasa sebagai sebuah produk pabrikan yang tanpa emosi, tanpa jiwa, dan tidak memiliki determinasi. Film ini terasa seperti gabungan antara beberapa template dan formula, yang asal direkatkan menjadi satu.

Sebenarnya bila mau obyektif, Sword of Destiny adalah sebuah film yang masih bisa dinikmati sebagai sajian no-brainer, pelepas penat. Akan tetapi, keputusan untuk memproklamirkan film ini memiliki hubungan dengan Crouching Tiger Hidden Dragon, lantas menggiring kerangka berpikir penonton untuk mengaitkan dan membandingkannya dengan film terdahulu.

Lebih celakanya lagi, Sword of Destiny tak sungkan untuk terang-terangan mengeksplotasi beberapa elemen dari film “sekuelnya”.

Michelle Yeoh adalah satu-satunya elemen di depan layar yang memiliki keterkaitan dengan Crouching Tiger Hidden Dragon. Di film ini karakter Shu Lien memutuskan untuk kembali ke Beijing, setelah bertahun-tahun berkelana selepas tewasnya Li Mu Bai, untuk melihat kondisi Pedang Takdir Hijau dan keluarga yang menjaganya.

Di tengah jalan, keretanya diserang oleh segerombolan orang bertopeng hitam, yang dikenali sebagai kelompok Teratai Barat, pimpinan pendekar aliran hitam  Hades Dai ( diperankan oleh Jason Scott Lee).

Di sinilah awal Shu Lien kembali terlibat intrik dunia persilatan yang masih tergoda oleh kedigdayaan Pedang Takdir Hijau. Shu Lien juga kemudian bertemu kembali dengan mantan tunangannya, Meng Shi Zao (diperankan oleh Donnie Yen), seorang pendekar yang berjuluk Serigala Tenang.

Meng adalah pria yang menjadi alasan mengapa Shu Lien dan Li Mu Bai dulu tidak bisa bersatu. Tentu, Shu Lien kaget bukan kepalang saat mengetahui pria yang dikiranya sudah tewas, kembali muncul di hadapannya.

Plot romansa pelik seperti di film pertama, kembali dimunculkan di sini, terasa hanyalah sebagai syarat agar film ini tampil meyakinkan sebagai sekuel Crouching Tiger Hidden Dragon.

Juga dihadirkan karakter muda, Snow Vase (diperankan oleh Natasha Liu Bordizzo, cukup punya star quality dan bisa jadi akan menjadi bintang masa depan), yang mengingatkan akan karakter Jen milik Zhang Zi Yi di film pertama. Snow Vase adalah pendekar perempuan muda ambisius yang memiliki agenda tersendiri dengan Pedang Takdir Hijau.

Lalu ada pula karakter pria muda bernama, Wei Fang (diperankan oleh aktor dari serial Glee, Harry Shum Jr.), yang mengingatkan kita akan karakter Lo Si Awan Hitam milik Chang Chen.

Snow Vase dan Wei Fang ini kemudian terikat sebuah hubungan emosional, saat keduanya hendak mencuri Pedang Takdir Hijau. Belakangan ternyata diketahui hubungan mereka lebih pelik dari sekadar hubungan romansa.

Bersama-sama, keempat karakter tua-muda ini kemudian harus menghadapi Hades Dai yang berusaha menguasai dunia persilatan dan merebut Pedang Takdir Hijau, sekaligus menuntaskan urusan lama mereka dengan pimpinan gerombolan Teratai Barat itu.

Yang membuat Crouching Tiger Hidden Dragon menjadi berbeda hingga sekarang adalah karena pilihan Ang Lee saat itu untuk membesut sebuah film martial art dalam paradigma drama.

Ang Lee yang memang dikenal piawai membesut drama tentang hubungan antar manusia dalam lingkungan represif dan hubungan cinta pelik. Lihat saja penggunaan paradigma yang sama, saat Lee membesut film adaptasi komik Hulk (salah satu film favorit saya, tak peduli banyak orang mencibirnya).

Ang Lee yang saat itu tak pernah menggarap film martial art, memilih memprioritaskan eksplorasi drama hubungan antar manusia dan konflik batinnya, ketimbang menyajikan cerita pertarungan hidup dan mati dalam Crouching Tiger Hidden Dragon.

Itu sebabnya, Lee berhasil membawa film kung fu arahannya itu menjadi istimewa dan berhasil menyentuh banyak orang. Adegan pertarungan dilihat Lee sebagai medium bagi para karakter pendekar di filmnya berkomunikasi dan mengenal satu sama lain, bukan sebagai alat membunuh. Itu sebabnya pertarungan di Crouching Tiger Hidden Dragon terlihat seperti sebuah tarian, sebagai sebuah ekspresi diri.  Inti dasar dari film Lee adalah hubungan cinta antar para karakternya.

Sementara Yuen Woo Ping menggarap Sword of Destiny dalam paradigma film aksi martial art. Sehingga tidak heran, bila adegan pertarungan lebih diprioritaskan dan ditampilkan sebagai senjata, dalam kapasitasnya untuk bertahan hidup.

Bisa dimaklumi juga sebenarnya ketika berbagai elemen Crouching Tiger Hidden Dragon yang coba dihadirkan kembali di Sword of Destiny, gagal mengulang daya magisnya. Drama dan konflik antar karakter tak bisa berkembang dengan baik, hanya sekadar tempelan di sela-sela pertarungan.

Paradigma film aksi yang dipilih oleh Yuen Woo Ping (dan terutama para produser), juga akhirnya membuat mengapa naskah adaptasi garapan John Fusco, terasa memiliki pendekatan dan template western (serta superhero), ketimbang sebuah film aksi berlatar budaya Asia.

Naskahnya terasa melempem dan seolah merupakan hasil buatan aplikasi penulisan naskah. Dan jelas Fusco melihat Sword of Destiny dengan pendekatan film western.

Sword of Destiny memang terasa seperti film yang dibuat oleh sineas Barat. Pembabakan yang kaku, ditambah dengan cut to cut tajam dan tegas khas film western. Berbeda dengan sinematografi film tahun 2000-nya, di mana kamera lebih berfungsi sebagai pengamat dan mengeksplorasi keindahan adegan laga.

Nuansa kental film western dalam Sword of Destiny, makin kentara saat adegan di kedai makan yang melibatkan karakter Serigala Tenang. Di sini, Serigala terlibat adegan perkelahian dengan gerombolan pendekar perusuh, setelah membaca maklumat perekrutan anggota untuk melindungi Pedang Takdir Hijau yang disebarkan Shu Lien.

Bila di Crouching Tiger Hidden Dragon adegan perkelahian ikonis di restoran antara karakter Zhang Zi Yi dengan para pendekar adalah bentuk selebrasi dan kebebasan, maka di Sword of Destiny adegan perkelahian di kedai makan diturunkan tingkatannya, baik dalam hal produksi desain, artistik, ataupun fungsi.

Di Sword of Destiny adegan kedai makan lebih berfungsi sebagai perekrutan ansambel, layaknya formula yang layak ditemui di film western. Serigala Tenang bertemu dengan beberapa pendekar yang sepaham dengannya, lalu kamera menyorot satu per satu para pendekar ini sebagai setup pengenalan karakter baru. Terlebih kemudian diperlihatkan Serigala Tenang dan kumpulan barunya menunggangi kuda beriringan, dengan establishing shot. Khas film western.

Hal ini semakin menegaskan perbedaan treatment dan eksekusi antara Sword of Destiny dan Crouching Tiger Hidden Dragon. Film pertama lebih menyoroti polemik yang ditimbulkan Pedang Takdir Hijau ke dunia persilatan, sementara film kedua lebih mengangkat efek pedang itu kepada karakter manusia.



Pilihan Teknis Semakin Membuat Film Ini Sebagai B-Movie

Berbagai pilihan teknis lain, juga punya andil besar dalam membawa Sword of Destiny terlihat sebagai sajian B-movie.

Pilihan paling kentara adalah penggunaan teknologi digital yang terlampau banyak., termasuk dalam hal pewarnaan. Hal ini dimengerti, karena treatment digital merupakan cara paling singkat dan murah untuk “mengangkat” sebuah film. Tetapi, penggunaan teknologi digital di Sword of Destiny memperlihatkan bahwa film ini dikejar target untuk cepat tayang di momentum Tahun Baru Cina. Terlihat tanpa perencanaan matang di pra-produksi dan hanya meniru template film lain.

Pewarnaan digital di Sword of Destiny menjadikan film ini tampil dalam palette oranye (atau amber) dan biru. Dalam istilah coloring, dikenal sebagai orange and teal composition,di mana warna oranye atau amber umumnya menjadi warna para karakter, serta biru menjadi warna lingkungan sekeliling atau langit.

Komposisi warna seperti ini jamak ditemukan di film-film blockbuster, yang mengandalkan manipulasi efek digital dan CGI. Salah satu fungsinya adalah untuk “menyamarkan” benda-benda atau hasil rekayasa digital. Tidak heran bila komposisi warna orange and teal, sering ditemui dalam film-film seperti Transformers, Battleships, atau bahkan Mad Max Fury Road.

Komposisi warna tersebut juga menjadikan sebuah film memiliki atmosfer industrial, yang mengusung tema kehancuran. Komposisi warna serupa juga membuat film memiliki unsur fantasi, seperti yang bisa dilihat dalam trilogi Lord of the Rings atau The Hobbits.

Penggunaan komposisi warna itu di Sword of Destiny yang juga kemudian membuat penonton akan melihat kemiripan film ini dengan Lord of the Rings. Pilihan para sineas di balik Sword of Destiny terlihat lebih sebagai pilihan murah dan praktis, dalam upaya mengangkat film ini terlihat sebagai film “mahal”. Apa daya, malah justru terlihat murah.

Kesan murahan pun makin terlihat ketika background hasil sentuhan CGI  yang tidak menyatu dengan lingkungan sekeliling. Seperti terlihat pada digitalisasi seting kota Beijing atau menara markas Teratai Barat.

Digitalisasi film ini juga memperlihatkan penggunaan soap opera effect yang semakin membuatnya terlihat sebagai drama fantasi berbujet murah untuk konsumsi televisi.

Martial art movies memang merupakan film fantasi. Namun, Crouching Tiger Hidden Dragon menyajikannya dengan sentuhan realis. Lee dikenal memaksimalkan seting dan properti nyata dalam film itu. Polesan CGI hanya digunakan saat menghapus kawat penggantung yang digunakan para aktornya di adegan melayang. Bahkan saat adegan ikonis perkelahian di atas hutan bambu, Lee benar-benar “menggantung” para aktornya.

Lee juga menggunakan palette warna natural kala itu, meski memang saat proses coloring, warna ditingkatkan beberapa kali. Tetapi, tidak mengurangi kesan alami dan organiknya. Keunggulan lainnya adalah saat itu Lee menggunakan kamera seluloid, bukan digital, yang makin memberikan kedalaman puitis dalam karyanya.

Lee juga merekam kebanyakan suara para aktor di Crouching Tiger Hidden Dragon di lokasi syuting. Ada beberapa dialog di film itu yang terdengar bergema, seperti saat adegan di warehouse milik Shu Lien. Hal itu semakin memberikan kesan alamiah di film itu.

Sementara Sword of Destiny, justru menggunakan dubbing. Pemilihan kalimat-kalimat bahasa Inggrisnya juga terdengar canggung dan kaku, seperti merupakan terjemahan kasar dari kalimat-kalimat bahasa Mandarin dari materi aslinya.



Crouching Tiger Hidden Dragon – Sword of Destiny : The Curse of the Title

Seperti halnya Crouching Tiger Hidden Dragon, Sword of Destiny juga diangkat dari pentalogi klasik, Bangau Besi (Crane-Iron) karya Wang Dulu.

Sword of Destiny sebenarnya diangkat dari karya kelima atau terakhir Wang, yang berjudul Satria Besi, Bejana Perak ( Iron Knight, Silver Vase). Ceritanya memang menampilkan karakter yang di film ini dialihnamakan menjadi Snow Vase.

Seandainya saja para produser film ini menggunakan judul Iron Knight, Snow Vase, maka komparasi pelak antara film ini dengan Crouching Tiger Hidden Dragon masih akan bisa dihindari. Penonton tidak akan merasa ditipu, pengamat film pun masih akan menghargai film ini sebagai sajian ringan film kung fu yang terpisah dari masterpiece milik Lee.

Namun, produser lebih tertarik untuk memanipulasi dan mengeruk keuntungan dari brand yang telah dibesarkan oleh Ang Lee. Sebuah tindakan yang justru menghancurkan potensi marketing film.

Patut dipertanyakan keputusan untuk menayangkan film ini dalam format IMAX. Meskipun di beberapa scene film ini menyajikan keindahan alam melalui wide-shot, tetapi kebanyakan frame dalam film ini disajikan lewat pengambilan medium close up, terutama saat adegan pertarungan, untuk mengakali pengambilan gambar secara luas yang bisa berakibat pembengkakan biaya di keperluan artistik.

Bila Anda tertarik menonton Sword of Destiny, lebih baik Anda menontonnya melalui jalur resmi di situs streaming atau video on demand resmi, Netflix, karena format inilah yang sebenarnya paling sesuai untuk film ini.

Enambelas tahun sejak pertama kali dirilis, Crouching Tiger Hidden Dragon masih sering diputar di salah satu televisi swasta di Indonesia. Meskipun sudah berpindah format penayangan ke layar lebih kecil, keagungan film tersebut masih terasa. Sementara, Sword of Destiny yang dipaksakan untuk tayang di layar lebar, tetap akan terasa sebuah tayangan untuk layar kecil.

Beban berat yang ditanggung Sword of Destiny akibat pencantuman embel-embel Crouching Tiger Hidden Dragon, membuat semestinya film ini memiliki satu sub judul tambahan.

Crouching Tiger Hidden Dragon – Sword of Destiny: The Curse of the Title.

(2/5)

Now playing in selected theaters, IMAX, and via subscribed streaming or video on demand service on Netflix.

Running time : 89 minutes (plus another 10 minutes for credit titles)

Directed by Yuen Wo-Ping

Screenplay by John Fusco

Based on Crane Iron Pentalogy by Wang Du Lin

Produced by Charlie Ngu Yen & Peter Berg

Executive Producers : Harvey Weinstein, Morten Tyldum, Ron Burkle,Ted Sarandos, Pauline Fischer, Sarah Bowen, Jay Sun, La Peikang, Bob Weinstein, Anthony w.f Gong, David C. Glasser, Sarah Aubrey, Ralph Winter, David Thwaites, Jeff Betancourt

Director of photography : Newton Thomas Sigel, A.S.C

Production Designer : Grant Major

Edited by : Jeff Betancourt

Visual Effect Supervisor : Mark Stetson, VES

Costume Designer : Ngila Dickson

Music by : Shigeru Umebayashi

Colorist : Peter Doyle

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s