midnight_special_poster

Review Midnight Special : Cinta Itu Supranatural Dan Spesial

May 09, 2016

by @Picture_Play

If you like our writings, please share them trough your social media channels.

“…, Midnight Special adalah film yang lebih mengandalkan emosi, suatu elemen yang kerap disepelekan dalam film-film ber-genre sejenis, terutama yang dirilis akhir-akhir ini. Hal itulah yang membuat Midnight Special menjadi spesial, milik Nichols seorang.”




Di layar televisi ada sebuah berita tentang hilangnya seorang anak. Lewat pembaca berita kita hanya tahu bocah tersebut berjenis kelamin pria, berumur delapan tahun, berkulit putih, berambut coklat, bermata biru, bertinggi sekitar 142 sentimeter, dan berat sekitar 27 kilogram. Tak dilampirkan foto, kita hanya melihat foto terduga penculik, pria berusia 40-an Roy Tomlin ( diperankan aktor luar biasa berbakat, Michael Shannon yang selalu hadir dalam setiap film arahan Jeff Nichols). Berita kehilangan ini tampaknya gencar disiarkan di berbagai stasiun televisi dan kemudian mempengaruhi banyak orang.

Salah satunya adalah pria bernama Caleb Meyer ( diperankan dengan karismatik oleh Sam Sepherd), pimpinan tertinggi sebuah sekte keagamaan yang para pengikutnya hidup dalam sebuah kompleks perumahan, bertani dan berternak, berkulit putih, jemaat perempuannya memiliki rambut panjang dikepang dan dalam balutan busana konservatif seperti di era dalam serial televisi Little House on the Prairie. Merepresentasikan kefanatikan agama di daerah bagian selatan Amerika Serikat yang masih ada hingga sekarang.

Begitu pentingnya arti sang bocah hilang bagi Caleb, hingga ia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mendapatkan si anak dalam waktu empat hari. Akan tetapi, Caleb bukan satu-satunya yang memiliki kepentingan terhadap si anak hilang.

Agen rahasia FBI pun ingin menemukannya. Saat hari mulai beranjak malam, di bawah sinar oranye temaram sang surya yang hendak terbenam, satu pasukan mendobrak kompleks sekte pimpinan Caleb. Kompleks tempat pengikut sekte itu tinggal kemudian disebut dengan The Ranch. Di tengah sebuah misa, para pasukan elit FBI itu menerobos masuk, dan memerintahkan seluruh jemaat Caleb pindah ke sebuah kampus terdekat untuk diinterogasi.

Caleb pun menjadi obyek interogasi. Dalam percakapan yang mewakili golongan rasionalis dan relijius, seorang perwakilan National Security Agency (NSA), Paul Sevier (diperankan oleh Adam Driver, Star Wars; Force Awakens) bertanya kepada Caleb tentang bagaimana ia mendapatkan serangkaian nomor rahasia milik pemerintah, kode satelit yang semestinya tak bisa diretas. Sevier adalah perwakilan rasionalis, ia adalah analis komunikasi satelit yang melihat apa yang terjadi dari sudut pandang ilmuwan. Kita kemudian tahu bahwa itu adalah perbuatan Alton Meyer ( Jaeden Lieberher), sang bocah hilang yang tengah dicari-cari. Alton ternyata anak yang diadopsi Caleb dan dari penuturan sang ketua sekte, ia memiliki berbagai keistimewaan, sehingga sekte yang dipimpinnya menganggap bocah itu sebagai “utusan Tuhan”. Caleb merupakan perwakilan kaum relijius, ia membaca apa yang bisa dilakukan oleh sang bocah sebagai perpanjangan tangan Tuhan dan menjadikan dia sebagai simbol pengkultusan. Sevier dan rekan FBI-nya lalu mencecar Caleb dengan pertanyaan jika ia mengetahui keberadaan Alton, yang dijawab dengan,

“Kalian tidak tahu sedang berurusan dengan apa, bukan?”

“Sebagaimana di film-film Nichols sebelum ini, penonton mesti sabar merekat informasi demi informasi yang didapat untuk memperoleh sebuah gambar besar, karena Midnight Special merupakan sebuah produk penceritaan visual yang cerdas dan menghadirkan dialog dalam porsi minimalis “



KEKUATAN PENCERITAAN VISUAL, TIDAK CEREWET 

Midnight Special, arahan Jeff Nichols (Take Shelters, Mud), memang mengajak penonton untuk menelusuri misteri tentang apa dan siapa Alton Meyer, bocah spesial yang dicari-cari itu. Siapa dia? Atau lebih tepatnya apakah dia? Kenapa ia diculik? Apa yang sebenarnya terjadi?

Film dengan pace pelan ini mengajak kita mencari tahu jawabanya, mengupas lapisan demi lapisan misteri dan menyediakan pertanyaan dengan telaten, lewat beberapa cuil eksposisi dalam dialog dan lebih banyak lewat pengungkapan ekspositoris dalam gambar yang menguraikan berbagai makna implisit. Penonton dibuat bertanya, lalu diberikan jawabannya. Dibuat bertanya lagi, kemudian jawabannya dihadirkan. Begitu seterusnya. Proses ini diiringi oleh score bernada monoton, namun melodius yang berfungsi sebagai penanda di adegan yang mengungkapkan sebuah informasi besar, menjadikan kita seperti menyantap truffle dari bahan coklat Belgia yang meleleh di lidah. Cita rasanya semakin lama semakin bertambah kaya dan kuat.

Sebagaimana di film-film Nichols sebelum ini, penonton mesti sabar merekat informasi demi informasi yang didapat untuk memperoleh sebuah gambar besar, karena Midnight Special merupakan sebuah produk penceritaan visual yang cerdas dan menghadirkan dialog dalam porsi minimalis. Film ini justru mengguncang jiwa di momen tenangnya, jadi bukan film yang cerewet mengumbar dialog. Hal ini karena Nichols percaya akan intelenjensia kita sebagai penonton, jadi dia tidak merasa perlu untuk “menceramahi” atau membeberkan setiap penjelasan secara terang-terangan di setiap peristiwa., bahkan hingga akhir film. Ia percaya kita bisa menelaah setiap interpretasi terbuka yang dipaparkan lensa kamera di layar lebar dan menerjemahkannya. Nichols adalah seorang visualis yang mengerti kekuatan gambar dalam sinema, namun visualisasinya memiliki makna yang dalam, bukan hanya sekadar visualisasi yang mengutamakan gaya seperti Zack Snyder atau (berdehem) Michael Bay.

Midnight Special adalah film feature keempat Nichols. Seperti di ketiga filmnya terdahulu, Nicholsyang juga selalu merangkap sebagai penulis screenplay, membangun ceritanya dengan latar pedesaan dan kota kecil di bagian Selatan Amerika Serikat, suatu teritori yang sepertinya ia benar-benar kuasai. Lansekap dalam film-filmnya menampilkan rawa, sabana, ilalang dan hutan dengan vegetasi perintis. Menghadirkan suatu atmosfer dan ilusi keterasingan yang kemudian berpengaruh dalam karakter-karakter ciptaannya.

Film pertama Nichols, Shotgun Stories (2007) adalah sebuah cerita tentang balas dendam di mana karakter-karakternya dipenuhi dengan firasat. Film ketiganya, Mud (2012), adalah sebuah kisah coming-of-age tentang dua orang remaja pria yang berinteraksi dengan seorang pelarian (diperankan oleh Matthew McConaughey), yang hidup di sebuah pulau terpencil di tengah-tengah Sungai Missisippi.

Midnight Special lebih mirip secara tema dengan film kedua Nichols, Take Shelter  (2011), karena mengetengahkan isu supranatural dan tentang karakter yang ingin melindungi orang yang dicintainya. Memakai elemen supranatural sebagai perantara untuk menjelaskan suatu hubungan cinta kasih yang seringkali menjadi misteri dan tak terdefinisikan.

Ya, Midnight Special menjadi spesial karena pondasi dasarnya adalah sebuah cerita tentang seorang ayah (dan sepasang orangtua) yang menyayangi anak dengan kebutuhan khusus (dibaca: kekuatan supranatural) dengan sepenuh jiwa. Meski hadir para karakter seperti Paul Sevier milik Adam Driver, seorang yang mewakili pemikiran rasional Barat dalam mengejawantahkan sebuah fenomena sehingga film ini memiliki elemen fiksi ilmiah, Midnight Special hingga akhir film menolak untuk memberikan sebuah konklusi tunggal. Nichols seolah berpendapat terkadang sebuah misteri harus tetap menjadi misteri. Ia memulangkan persepsi penonton untuk memaknai.



EKSPERIMENTAL, INOVASI, TIDAK MENGANDALKAN PLOT

Di Midnight Special, Nichols juga tetap bereksperimen. Ia adalah contoh seorang sineas cakap yang terus berinovasi. Inovasinya di sini adalah dengan mencoba menggunakan teknik crosscutting, sebuah teknik yang nyaris tak pernah ia gunakan di film-filmnya sebelum ini. Nichols dengan piawai mensaling-silangkan dua peristiwa yang terjadi dalam waktu bersamaan di lokasi berbeda. Teknik ini bertujuan untuk membangun tensi dan momentum, sekaligus alat untuk menciptakan suspensi. Lebih jauh lagi, crosscutting jamak digunakan dalam film-film aksi berbujet besar. Beberapa adegan dan plot points kunci baru akan terhubung di klimaks cerita, Wajar karena bujet Midnight Special jauh lebih besar dibanding tiga film Nichols sebelumnya bila digabungkan. Film ini juga menyediakan adegan kejar-kejaran mobil dan serangkaian efek visual mumpuni, yang meski dalam skala jauh lebih kecil daripada film-film superhero Disney/Marvel atau Warner/DC, efektif dalam menghadirkan atmosfer lebih koheren.

Midnight Special juga bukanlah film yang mengandalkan plot, dan jikapun ada, plotnya pun sebenarnya sudah usang karena memang sudah sering digunakan dalam berbagai film sci-fi fantasy, seperti Close Encounter of the Third Kind ( Steven Spielberg, 1977) atau Starman (John Carpenter, 1984), dua film yang disebut Nichols sebagai inspirasi.

Alih-alih, Midnight Special adalah film yang lebih mengandalkan emosi, suatu elemen yang kerap disepelekan dalam film-film ber-genre sejenis, terutama yang dirilis akhir-akhir ini. Penitikberatan pada elemen emosional itu pula yang membuat penonton mesti menggunakan kepekaan emosi saat menonton film ini dalam mencermati berbagai alegori dan metafora yang ditempatkan secara halus, yang kemudian membuatnya unik. Hal itulah yang membuat Midnight Special menjadi spesial, milik Nichols seorang.

Atmosfer emosi, suspensi, dan misteri sudah dibangun Nichols bahkan sejak di awal film. Suara pembaca berita televisi membaca berita hilangnya Alton Meyer terdengar, sebelum akhirnya kita diperlihatkan sebuah ruangan kamar motel yang gelap. Di luar, suasana sudah mulai malam, dan penghuni kamar motel itu memulai aktivitasnya. Ada dua pria dewasa, Roy Tomlin dan Lucas (diperankan dengan sangat baik oleh Joel Edgerton dalam logat bagian Selatan Amerika Serikat yang terdengar seperti sedang berkumur-kumur). Mereka bergegas membuka semua selubung dari kardus yang menutupi semua jendela dan ventilasi kamar. Roy dan Lucas, yang ternyata saling mengenal, kemudian membangunkan Alton yang sedang duduk membaca komik menggunakan pencahayaan senter, di balik selimut  yang membungkusnya.

Roy Tomlin ternyata ayah Alton. Tujuan Roy dan Lucas adalah membawa bocah lelaki itu menemui sang ibu—istri Roy—yang diperankan dengan luar biasa oleh Kristen Dunst. Sang ibu ternyata bukanlah tujuan akhir perjalanan mereka, karena Alton harus berada di sebuah tempat di mana ia seharusnya berada.

Perjalanan ayah-ibu- anak dan rekannya ini harus dilakukan sesegera mungkin. Selain memiliki tenggat waktu, Alton tak bisa berinteraksi dengan matahari di siang hari.  Matanya yang kerap berpendar dan mengeluarkan selasar sinar, harus ditutup oleh kacamata renang. Tantangan semakin besar, karena kelompok kecil ini diburu oleh agen federal dan pengikut sekte keagamaan “The Ranch”. Dalam perjalanan, kita mengetahui berbagai peristiwa magis yang ditimbulkan oleh Alton, sang bocah spesial.

Menarik untuk melihat bahwa perjalanan yang para karakter dewasa di film ini lakukan adalah sebuah alegori dari bentuk pengasuhan terhadap seorang anak berkebutuhan khusus. Karakter Shannon, Dunst, dan Edgerton adalah representasi orang tua yang percaya terhadap pilihan sang anak dan mendukungnya meski aral rintangan menghadang. Mereka rela mengorbankan diri –secara fisik dan emosional—agar sang anak mencapai cita-citanya.

Apa yang memotivasi mereka jelas dan lugas, meski Nichols lebih banyak menghadirkan berbagai close-up shots yang menyorot secara dekat perubahan air muka, gesture, dan perubahan emosional para pemainnya.

Hasilnya memang suatu ikatan emosional yang indah dan menggugah jiwa, hadir lewat kekuatan akting para pemainnya. Dalam satu adegan, karakter Roy milik Shannon memandang Alton dalam ekspresi seribu bahasa. Matanya menyiratkan kerinduan dan keengganan saat melepas anaknya,meski garis mukanya tetap menunjukkan ketangguhan hasil tempaan hidup yang sulit.

Alton meminta ayahnya, “ You don’t have to worry about me,”. Roy memandang lekat sang anak sembari berkata, “  I like worrying about you”. Sebuah permainan akting yang subtle, namun menggetarkan hati.

Keistimewaan Midnight Special memang disokong oleh kecakapan akting para pemainnya. Kristen Dunst, misalnya. Sepintas kita akan mengira bahwa aktris Melancholia ini hanyalah secondary character. Kita salah. Meski memiliki screen-time sedikit, Dunst berhasil menampakkan kegelisahan dan kesedihan seorang ibu dalam melepas anaknya. Dalam satu adegan puncak, Dunst secara brilian menyampaikan emosi tangis bahagia yang menjadi katarsis dan hanya bisa dihadirkan oleh aktor sekaliber dirinya. Sungguh indah dan menyentuh.

Midnight Special juga didukung oleh sinematografi arahan Adam Stone (selalu bekerja di setiap film Nichols) dan komposer, David Wingo. Adam Stone sukses dalam menangkap keindahan natural alam dan memperkayanya, memberikan sentuhan seni lewat semburat sinar mentari. Lensa kamera arahan Stone juga efisien dalam memaksimalkan gelapnya malam, serta mengakomodasi kegemaran Nichols dalam memainkan ruang visual hampa yang akhirnya melahirkan permainan komposisi dan perbedaan kontras yang secara efektif menciptakan suspensi.

Komposisi Wingo memperkuat suspense itu lewat score piano monoton, namun melodious, seperti yang kerap ditemui di film-film tahun 80’an. Penempatannya yang cermat di setiap adegan penting, membuat musiknya seperti theme song. Usai menonton film, kita akan mendapati diri kita sendiri tak sadar menggumamkan dan melantunkannya.

“Interpretasi terbuka yang disuguhkan Nichols menyasar pada suatu pemahaman, bahwa ada optimisme dalam setiap akhir perjalanan.”



CINTA ITU SUPRANATURAL DAN SPESIAL

Bisa dimaklumi bila nanti ada beberapa penonton yang akan mempertanyakan klimaks cerita. Di satu sisi revelation ( tentu tidak akan diceritakan di ulasan ini ) di akhir film menjawab pertanyaan menggiring penonton sejak awal film, akan tetapi di sisi lain justru menyisakan berbagai pertanyaan tambahan yang tak terjawab.

Tetapi bila boleh disarankan, di situlah keistimewaan film ini. Interpretasi terbuka yang disuguhkan Nichols menyasar pada suatu pemahaman, bahwa ada optimisme dalam setiap akhir perjalanan. Bahwa ketika kita berjuang untuk seseorang yang kita cinta dan percayai sepenuh hati, hasilnya tak akan sia-sia. Kita harus percaya bahwa akan ada masa depan gilang gemilang penuh cahaya yang menanti di akhir sebuah terowongan. Sebuah masa depan yang indah dan megah. Bahwa cinta itu bersifat supranatural dan spesial.

Pesan optimis yang diusung oleh Nichols di Midnight Special mengingatkan kita juga akan film arahan Brad Bird  keluaran Disney, Tomorrowland. Bedanya, film terakhir menjadi produk generik.

Midnight Special di berbagai aspek sangat Spielberg-esque. Hanya saja film ini amatlah Jeff Nichols. Menyandingkan ironi dan keambiguan antara film indie arthouse dan blockbuster. Kekuatan penceritaan visual Nichols akan membuat setiap adegan akan selalu terbayang-bayang, bahkan usai kita menontonnya.

Sebuah kisah indah yang spesial. Saking spesialnya, akan membuat kita rela untuk menikmati kisahnya lagi dan lagi. Kita akan selalu menemukan jawaban baru di setiap saat kita mengunjunginya kembali. Bahwa Midnight Special adalah sebuah film yang hebat, itu sudah pasti.

(5/5)

By @Picture_Play

Reviewed at Djakarta Theater XXI midnight show program, May 07, 2016

Will be released for regular screening in Indonesia started on May 11, 2016

Production : A Warner Bros. release and presentation, in association with Faliro House Prods. of a Tri-State Pictures production

Distributed in Indonesia by : Warner Bros Indonesia

Produced by Sarah Green, Brian Kavanaugh-Jones. Executive producer, Glen Basner, Hans Graffunder, Christos V. Konstantakopoulos.

Directed, written by Jeff Nichols.

Camera (color, widescreen) :  Adam Stone

Editor : Julie Monroe

Music : David Wingo

Production designer : Chad Keith

Art director :  Austin Gorg

Set decorator : Adam Willis

Costume designer : Erin Benach

Sound (Dolby Digital) : Pud Cusack

Special effects coordinator : John McLeod

Visual effects producer : Eric A. Kohler

Visual effects : Hydraulx

Starred by : Michael Shannon, Joel Edgerton, Kirsten Dunst, Jaeden Lieberher, Adam Driver, Sam Shepard, Bill Camp, Scott Haze, Sean Bridgers, Dana Gourrier.

 

 

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s