Review Room: It is Only A Shed, But Full of Joy

written by @Picture_Play

3 Maret 2016

“Tremblay memainkan karakternya dengan cerdas, bernas, dan trengginas. Jikalau dia mendapat nominasi aktor pemeran utama terbaik Oscar, dijamin Leonardo DiCaprio tidak akan mendapat kesempatan.”




Menyaksikan Room, semakin menyadarkan kita bahwa para juri atau voters di mayoritas ajang penghargaan film telah berbuat tidak adil kepada Jacob Tremblay.

Bagaimana tidak? Di Room, aktor bocah yang baru berusia 10 tahun ini, memberikan kita salah satu akting paling intens dan dramatis dalam sejarah sinema. Akan tetapi, para juri di award bodies (terutama Oscar dan Golden Globe), enggan untuk memberikan apresiasi mereka kepada Tremblay.

Apakah karena Tremblay hanyalah seorang bocah kecil? Entahlah.

Padahal sebelumnya awards body seperti The Academy Awards, pernah memberikan anugerah akting tertinggi kepada para aktor bocah dengan bakat akting luar biasa. Anna Paquin  meraih Oscar untuk kategori aktris pembantu terbaik di usia 11 tahun pada 1992 lewat film The Piano . Dua dekade sebelumnya, Tatum O’Neal memperoleh penghargaan serupa saat berusia 10  tahun untuk aktingnya di film Paper Moon.

Tremblay–10 tahun–membuktikan kapasitasnya sebagai prodigy di bidang akting dalam Room, yang sebenarnya setara dengan Paquin ataupun O’Neal.

Bahkan lebih.

          Room memang mengajak penonton untuk menjadi pengamat peristiwa di film ini, akan tetapi sudut pandang ceritanya sendiri sebenarnya melalui perspektif karakter Tremblay. Ia  hadir di sepanjang durasi film, tidak seperti karakter Ma, yang sempat “hilang” di beberapa adegan. Karakter Tremblay sebenarnya karakter utama film, dengan demikian ia menanggung beban paling berat untuk meyakinkan penonton agar percaya dengan kisah yang diceritakan.

Dia adalah pusat gravitasi sesungguhnya di Room. Dialah sang aktor pemeran utama yang mampu menyedot perhatian kita semua, lewat perannya sebagai Jack. Tremblay memainkan karakternya dengan kepolosan anak kecil, namun memiliki kematangan pemikiran orang dewasa. Matanya menyorotkan rasa ingin tahu, sedih, ketakutan, dan kemarahan dengan kepiawaian bak seorang aktor profesional yang mendapat pelatihan panggung Broadway. Pelafasan dialognya kadang lantang, kadang manis, dan kadang penuh emosi. Ia memainkan sebuah karakter dengan bentang emosi luas, yang seolah diciptakan untuknya.

Tremblay memainkan karakternya dengan cerdas, bernas, dan trengginas. Jikalau dia mendapat nominasi aktor pemeran utama terbaik Oscar, dijamin Leonardo DiCaprio tidak akan mendapat kesempatan.

          Di film ini, karakter milik Tremblay hanyalah bocah berusia lima tahun. Meski demikian, ia telah melalui usia sangat mudanya dalam sebuah kondisi dan “dunia” tak biasa.

          Kita pertama kali mengenal “dunia”-nya melalui sudut pandang Jack. Mata Jack memperlihatkan kita ember, wastafel, dinding berwarna coklat tua, pinggiran tempat tidur, dan bayangan pudar sesosok wanita yang berbisik, namun dalam intonasi tegas dan singkat.

Kembalilah ke tidurmu,” ujar si bayangan wanita itu.

Kita kemudian tahu bahwa sosok bayangan wanita itu adalah Ma (aktris pemenang Oscar, Brie Larson), ibunda Jack.

Mereka tinggal, atau lebih tepatnya disekap  dalam sebuah ruang berukuran kira-kira 3,5 x 3,5 meter, yang mereka sebut sebagai The Room.

The Room ini tanpa sekat dan kedap suara. Semua peralatan penunjang kehidupan sehari-hari, seperti tempat tidur, bathtub, lemari pakaian, televisi, bahkan dapur, semuanya dapat dilihat dengan bablas. The Room layaknya sebuah petak kostan berharga murah, dengan perlengkapan mandi di dalam.

Hanya saja kostan petak masih jauh lebih baik daripada The Room.

The Room lebih menyerupai penjara, terutama bagi Ma. Di sana tidak ada kebebasan, tidak ada jendela, dan tidak bisa menentukan pilihan. Hanya ada jendela kaca di langit-langit The Room, yang memungkinkan Ma dan Jack memandang langit. Satu-satunya pintu penghubung ke dunia luar pun dipasangi kunci pengaman elektronik dengan kode rahasia, yang hanya diketahui oleh  Si Tua Nick ( diperankan oleh Sean Bridgers), sipir sekaligus “majikan” Ma.

Saat di mana kita pertama kali mengenal Jack dan Ma adalah hari ulang tahun kelima Jack. Lalu penonton diajak mengetahui informasi-informasi penting mengenai mereka. Ma ternyata diculik oleh Si Tua Nick saat ia berusia 18 tahun. Ia lalu disekap dan diperkosa, serta tidak pernah meninggalkan The Room sejak saat itu.

Si Tua Nick menjadikan Ma sebagai budak pelampiasan nafsu. Hingga kemudian Ma mengandung dan melahirkan Jack. Mereka berdua hidup dari “belas kasihan” Si Tua Nick, yang memberikan segala kebutuhan hidup di waktu Sunday Treat.

Di saat kita mengenal mereka, kita tahu bahwa Ma merawat dan mendidik Ma dengan baik, meski di dunia yang serba terbatas dan klaustrofobia. Jack tumbuh sebagai bocah yang cerdas dan punya rasa ingin tahu tinggi. Satu-satunya penghubung Jack dengan dunia luar adalah sebuah pesawat televisi tua, meski dengan gelombang penyiaran ala kadarnya. Jack selalu bertanya segala sesuatu yang dilihatnya kepada Ma, dan Ma menjawab rasa ingin tahu Jack dengan baik. Jack ingin mengetahui seperti apa dunia luar, sedangkan Ma ingin kembali merasakannya.

Hingga suatu ketika, Ma sadar bahwa momentum ulang tahun kelima Jack sebagai kesempatan baginya untuk meloloskan diri. Ma melihat kepintaran Jack adalah kunci baginya untuk meminta pertolongan dan terbebas dari The Room.

Ma pun lalu memutar akal dan “memanipulasi”  anaknya, agar mau bekerjasama. Mereka memang berhasil meraih kebebasan dunia luar.

Namun ternyata, dunia luar tidaklah lebih baik dari The Room.



The Room Sebagai Alegori Dari Rahim

Room adalah adaptasi novel populer karya penulis Irlandia, Emma Donoghue, yang sekaligus menjadi penulis naskahnya dan disutradarai oleh Lenny Abrahamson.  Itulah fakta dasarnya.

Tetapi di film ini ada jarak pemisah antara fakta dan kebenaran. Kebenarannya adalah bahwa film ini berhasil membuat kita memahami lebih dari apa yang kita ketahui mengenai  epistomologi, cinta, keluarga, hubungan ibu-anak, pengasuhan, dan bahkan tentang eksistensi kehidupan itu sendiri.

Memang berbagai sub-tema tersebut bisa membuat film ini akan terlalu hiruk pikuk, terlebih nyaris dua pertiga dari durasi dua jam film ini, penonton diperlihatkan kepada dua karakter ibu anak menghabiskan waktu mengobrol dalam The Room.

Lalu tentang apa sebenarnya Room ini?

Saya belum membaca novelnya, tetapi membaca filmnya sudah menjelaskan lebih dari cukup apa yang kita ingin ketahui, tanpa harus membaca materi asli. Mungkin karena faktor bahwa penulis novelnya menjadi penulis naskah, sehingga Donoghue tahu persis bagaimana membawa kisahnya ke medium yang kompleks. Meski tak semua penulis novel yang merangkap menulis naskah film adaptasi, mampu melakukannya.

          Gillian Flynn sukses melakukan itu di adaptasi novelnya, Gone Girl. Namun ada juga yang seperti Dewi Lestari,  gagal mengadaptasi novelnya sendiri–Perahu Kertas–hingga menjadi film romansa picisan tanpa makna.

          Film Room di satu pihak merupakan kisah tentang orang yang berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan yang tidak bersahabat. Tentang orang yang dipaksa untuk pindah dari zona nyamannya, ke suatu tempat yang jauh di bawah standar biasanya. Dalam film ini tempat itu berwujud The Room. Dalam kasus lain bisa berupa orang kota pindah ke desa, orang kaya yang jatuh miskin, atau orang bebas yang terpaksa masuk penjara.

          Ma adalah seorang gadis ceria remaja yang penuh ambisi dan cita-cita, sebelum dia diculik oleh Si Tua Nick. Masa remajanya hancur saat ia dipaksa “memindahkan” impiannya ke penjara bernama The Room. Di sana, Ma mesti beradaptasi, menjadi budak seksual Si Tua Nick, dan menuruti kemauannya demi bertahan hidup.

          Ma juga kemudian dipaksa untuk menerima peran barunya sebagai seorang ibu di The Room. Sesuatu yang tidak pernah diinginkannya begitu cepat, terlebih dalam keadaan di mana ia menjadi budak. Hadirnya Jack dalam kehidupan Ma, buah lelaki yang dibencinya, membuat dilema yang dihadapi Ma semakin kompleks.

          Di satu sisi, Ma mesti menerima kenyataan bahwa memang impiannya sudah hancur. Namun, di sisi lain kehadiran Jack justru menjadi penopang kekuatan baru baginya. Kehadiran Jack menjadi penyemangat dan teman Ma dalam menghabiskan waktu di The Room. Bahwa kehadiran Jack memicu timbulnya sebuah insting alami di diri Ma, insting seorang ibu yang ingin melindungi dan membesarkan anaknya.

          Hal tersebut terlihat jelas dari bagaimana Brie Larson memerankan Ma. Kamera kerap menyorot Brie dengan low angle close-up, menghadirkan perubahan mimik dan bahasa wajah sebagai Ma. Wajah yang penuh derita dan nestapa, wajah yang letih dan putus asa. Namun, matanya bersinar memancarkan kasih sayang saat melihat Jack, meskipun Jack melakukan tindakan yang mengesalkan.

          Di situlah kepiawaian Brie Larson yang membuat ia pantas diganjar Oscar untuk aktris terbaik. Dia menyampaikan berbagai pesan, hanya dengan permainan bahasa wajah dan mata. Sebuah kepiawaian akting yang melebihi dari tuntutan naskah. Bahwa Brie berhasil menciptakan karakter, bukan sekadar berakting menirukan mimik.

          Kepelikan hubungan antara Ma dan Jack lantas membawa penjelasan sesungguhnya mengenai pertautan emosional antara ibu-anak yang seringkali susah dijelaskan.

          Sejarawan seringkali menyebut hubungan antara ibu-anak sebagai sebuah “agency”, sebuah terminologi di mana dalam proses kelahiran, manusia merangkak keluar dari “ruang kecil” di dalam tubuh induknya, dengan didorong oleh keinginan kuat untuk melanjutkan hidup. Proses ini seringkali dipandang memiliki unsur sadistis, trauma, dan perasaan tak berdaya—terutama kepada ibunda.

          Tak berlebihan bila kemudian The Room bisa diterjemahkan sebagai alegori dari rahim itu sendiri. Atau dalam pewayangan disebut kawah candradimuka, tempat Gatot Kaca ditempa secara fisik, mental dan spiritual. The Room membuat Ma lebih mengenali kekuatan dan hidupnya, melalui sosok Jack. Sementara Jack menimba semua pengetahuan dasar mengenai hidup di The Room, sebelum akhirnya keduanya kembali ke dunia bebas.

          Ada alasan khusus mengapa meskipun berjenis kelamin lelaki, Jack diperlihatkan berambut panjang hingga ke punggung, seperti Ma.

Jika diperhatikan dengan teliti, tidak ada cermin dalam The Room.  Mungkin disebabkan bahwa Si Tua Nick khawatir bila cermin bisa dipakai sebagai senjata melawannya.  Hal itu lantas membuat alasan Jack memiliki rambut panjang bisa dibaca sebagai refleksi Ma, ibundanya. Bahwa mereka memang memiliki ikatan kuat antara satu sama lain. Bahwa Ma bisa melihat diri Jack sebagai cerminan masa kecilnya, yang penuh impian, polos, dan punya masa depan. Sebuah alasan bagi Ma untuk terus memiliki pengharapan dan semangat hidup.



Room Sebagai Ungkapan Feminisme 

Room juga bisa dibaca sebagai bentuk ungkapan feminisme. Menonton Room membuat saya berpikir bahwa karakter Ma mewakili karakter perempuan Indonesia kebanyakan yang hanya mengandalkan suami atau pria sebagai sumber bertahan hidup. Bahwa di zaman modern seperti sekarang, masih banyak perempuan yang bergantung sepenuhnya kepada otoritas kaum Adam.

Hubungan antara Ma dan Si Tua Nick memang menyiratkan isu tersebut. Selama disekap, Ma mengembangkan kemampuan untuk bernegosiasi dengan Si Tua Nick, satu-satunya pihak yang menyediakan kebutuhan hidupnya dan Jack. Ma harus berhati-hati dan sopan ketika meminta sesuatu, bahkan harus bersyukur meski keinginannya tidak semua dipenuhi.

Si Tua Nick dengan jelas menunjukan otoritasnya terhadap Ma, sehingga dia bisa “menceramahi” perempuan malang itu.

“ Siapa coba yang bayar semua tagihan di sini?”, begitu ujar Si Nick Tua di salah satu adegan. Mengingatkan kita kepada hubungan satu arah suami-istri di sebuah rumah tangga tradisional, yang menuntut istri harus selalu nrimo, tidak boleh mengeluh, dan hanya boleh diam di rumah, di mana teritori perempuan hanyalah dapur-sumur-kasur. Sebuah hubungan yang menafikan demokrasi dan komunikasi dua arah. Room dengan jelas mengkritik hal ini.

Alegori tersebut kemudian bisa dimaknai lebih jauh lagi.

Dalam film Melancholia arahan Lars Von Trier yang dibintangi oleh Kirsten Dunst, sosok perempuan utama di sana digambarkan berjuang menghadapi depresi dalam kehidupan pernikahan. Sementara Room menggambarkan hal yang sama, tetapi lebih ke perasaan trauma yang diderita karakter perempuan utama.

Seperti halnya budak yang takut akan ancaman siksa dari majikannya, Ma dan Jack kemudian menciptakan “ruang” perlindungan di dalam The Room. Salah satunya adalah menjadikan lemari pakaian sebagai peraduan Jack di waktu malam, saat Si Tua Nick mengunjungi Ma.

Ma juga melarang keras Si Tua Nick menyentuh Jack atau berinteraksi dengannya. Sebagai penanda bahwa Jack adalah satu-satunya harta berharga Ma yang belum tersentuh penculiknya dan Ma tidak mau Jack ikut ternoda, sepertinya.



Room Sebagai Bentuk Suram dan Kelam Dari Dongeng Masa Kecil

Room bisa juga dibaca sebagai bentuk suram dan kelam dari dongeng yang kita kenal di masa kecil.

Opening sequence Room dibuka dengan voice over Jack, menceritakan kelahiran dirinya dengan kata pembuka “ once upon a time…”.

Analogi terhadap dongeng masa kecil semakin dipertegas sutradara Lenny Abrahamson, saat kamera menyorot buku dongeng seperti Alice in Wonderland. Atau saat Jack menyebut dirinya sebagai Samson, karakter fiksi yang kekuatannya terletak di rambut, atau dongeng mengenai Count of Monte Cristo yang memiliki elemen pembalasan dendam.

Hidup Ma memang bagaikan Alice, The Room adalah wonderland-nya, meskipun versi suram dan kelam. Jack yang lahir di The Room, memahami dunia luar melalui dongeng-dongeng yang dibacakan oleh ibunya. Bocah ini sudah teranjur percaya, bahwa dongeng adalah dunia yang hakiki. Bahwa The Room adalah dunia sebenarnya.

Itu sebabnya saat Ma menceritakan kejadian yang sebenarnya, Jack berteriak, “ the story is boring!”. Jack ingin cerita bahagia seperti dongeng yang selama ini dia dengar, bukan kenyataan yang sebenarnya menimpa mereka.

“Di “bagian pertama”, Abrahamson dengan piawai memaksimalkan penggunaan kamera di ruang sempit The Room. Kamera seringkali menggunakan lensa wide-screen justru untuk mengambil low-angle close up. Kamera juga silih berganti piawai mengambil gambar over-shoulders saat Ma dan Jack bercakap. Menampilkan komposisi yang efektif dan tepat guna.”



Dua Babak Room, Pilihan Sinematografi

Room dibagi atas dua bagian, dipisahkan oleh sequence bak film thriller, saat Jack dan Ma berhasil meloloskan diri.

“Bagian pertama” adalah saat Ma dan Jack berada di The Room, “bagian kedua” mengambil seting saat Ma dan Jack di dunia luar dan bertemu dengan orangtua Ma.

Banyak yang menilai, “bagian kedua” The Room kehilangan kemagisannya, justru saat intimasi karakter Ma dan Jack ada di dunia luar. Padahal sutradara Lenny Abarahamson sengaja menerapkan dua treatment berbeda.

Di “bagian pertama”, Abrahamson dengan piawai memaksimalkan penggunaan kamera di ruang sempit The Room. Kamera seringkali menggunakan lensa wide-screen justru untuk mengambil low-angle close up. Kamera juga silih berganti piawai mengambil gambar over-shoulders saat Ma dan Jack bercakap. Menampilkan komposisi yang efektif dan tepat guna.

Hal ini disengaja untuk menghadirkan kesan intimasi antara Ma dan Jack, bahwa kekuatan emosi antara mereka membuat ruang sempit The Room terasa besar, akibat keakraban mereka.

          Abrahamson juga sering memanfaatkan penggunaan elemen negative space di The Room, bukan untuk memberikan nuansa menakutkan di film horor, tetapi memberikan “nyawa” pada ruang itu. Menjadikan The Room sebagai karakter, alih-alih hanya sebagai benda.

          Sementara di “bagian kedua”, Abrahamson justru sengaja ingin menampilkan bahwa pertautan emosi antara Ma dan Jack berkurang, akibat adanya “sekat-sekat”. Sekat berupa orang tua Ma, sekat sesungguhnya di tempat tinggal baru mereka, hingga sekat psikologis setelah mereka berdua hidup di dunia nyata.

          Satu establishing shot yang memperlihatkan kompleks perumahan orang tua Ma, sebenarnya justru menunjukkan ketakutan Jack terhadap ruang terbuka yang baru baginya.

          Kompleks perumahan pinggiran kota itu terlihat dingin, sepi, dan berjarak satu sama lain. Suasana amat kontras yang dirasakan Jack di The Room, yang meskipun sempit, namun terasa hangat.

          Di dunia luar ini perspektif antara ibu dan anak, mulai berbeda.

          Jack merindukan perlindungan dan kehangatan Ma yang didapatkannya saat di The Room; sementara Ma justru berusaha menuruti egonya untuk kembali mendapatkan masa remajanya yang sempat hilang. Saat Ma melihat foto-foto masa sekolahnya, ada kepedihan di reaksi mukanya saat sadar bahwa impian masa remajanya kini sudah hancur. Sementara, ironisnya, kamar Ma masih sama seperti saat ia masih remaja.

          Kamar bercat merah jambu, dengan tempat tidur dan pernak-pernik khas remaja putri. Hati Ma hancur. Ia ingin kembali ke masa remajanya, namun kehadiran Jack membuatnya sadar bahwa dia sudah menjadi ibu, tanpa melalui proses alamiah.



Room is A shed, But Full of Joy

          Menonton Room mau tak mau mengingatkan kepada salah satu karya filosof ternama Yunani Kuno, Plato, yang berjudul The Allegory of the Cave.

          Dalam ujar-ujar klasik tersebut, diceritakan tentang orang-orang yang terbelenggu di dalam sebuah gua gelap gulita, tak tersentuh peradaban luar. Mereka hanya melihat bayangan dari orang-orang yang lalu lalang melintasi gua tempat mereka tinggal. Bayangan-bayangan hitam dua dimensi tersebut adalah satu-satunya informasi yang mereka ketahui mengenai dunia luar, bahwa hanya bayanganlah isi dunia ini.

          Suatu hari, salah satu dari mereka berhasil meloloskan diri dari gua. Dan dia terkejut saat melihat bahwa dunia sebenarnya adalah tiga dimensi, penuh warna, bentuk, suara, dan bebauan. Ia lalu kembali ke gua dan menceritakan penemuan itu ke teman-temannya, namun mereka tak mau percaya.

          Bagi Jack, televisi dan dongeng yang ia baca selama di The Room, sama dengan bayangan dua dimensi yang orang gua dalam cerita Plato temukan. Dia melihat orang, hewan, tumbuhan, dan tempat di televisi sebagai obyek dua dimensi. Sama seperti kartun Dora the Explorer yang ditontonnya.

          Bagi Jack, selama ini satu-satunya dunia yang ia kenal hanyalah sebatas The Room. Makanya, saat Ma menceritakan hal sebenarnya, Jack menolak untuk percaya. Sama seperti orang-orang gua di cerita Plato.

          Semua orang tua di dunia mengarang cerita atau melalui medium dongeng, saat memberitahukan anak mereka mengenai hidup. Sebelum, akhirnya sang anak mencapai usia yang pantas untuk mengetahui hal sebenarnya.

          Ma pun melakukannya.

          Hanya saja Ma tidak sama dengan orang yang berhasil meloloskan diri dari gua dalam cerita Plato. Dia tidak melulu tinggal di gua atau The Room seperti Jack. Ma sudah tahu seperti apa dunia sebelumnya, atau setidaknya dunia yang dikenalnya saat remaja.

Bagi Ma, dunia luar tetaplah sama seperti saat ia tinggalkan. Setidaknya ia berharap demikian. Sehingga, saat ia menemui fakta bahwa dunia luar telah berubah, ibu-bapaknya sudah bercerai, teman-temannya sudah memiliki karir dan pindah dari lingkungannya, Ma tidak terima dan frustasi.

          Ia mengharapkan dunia masih sama seperti masa remajanya, saat ia kembali. Ia harus menerima keadaan bahwa dunia tidak lagi seideal yang ia bayangkan dulu.

          Saat Jack melihat dunia luar dengan pengharapan dan rasa ingin tahu, Ma melihat dunia yang sama dengan rasa nestapa dan putus asa.

          Itu sebabnya Jack lalu mengajak Ma untuk menengok kembali The Room, karena meskipun penuh kepedihan, tempat itu adalah asal mereka.

          Keputusan mereka mengunjungi The Room seperti tradisi mengunjungi makam orang tua atau kampung halaman. Upaya napak tilas ke jati diri sebenarnya, sebagai pengingat ke masa-masa bahagia di masa kecil.

          Momen saat Jack mengucapkan selamat tinggal kepada lemari, kepada wastafel, dan terakhir kepada The Room adalah simbol bahwa ia telah siap menyongsong kehidupan barunya.

          Begitu pula Ma. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada The Room, ruang yang memberinya siksa derita, tetapi juga menganugerahinya cinta.

          The Room is only a shed, but full of joy.

(4/5)

@Picture_Play

 

in theaters (XXI group)

Running times : 118 minutes

Accolades : Oscar Best Actress in A Leading Role for Bre Larson at the 88th Academy Awards, etc

Distributed in Indonesia by Omega

Production Company : Element Pictures, No Trace Camping, Film4

Directed by : Lenny Abrahamson

Produced by : Ed Guiney, David Gross

Screenplay by : Emma Donoghue

Based on : Room (novel), by Emma Donoghue

Starring : Jacon Tremblay, Brie Larson, Joan Allen, Sean Bridges, William H. Macy.

Music by : Stephen Rennicks

Cinematography : David Cohen

Edited by : Nathan Nugent.

 

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s