Review Rudy Habibie : Eksploitasi. Manipulasi. Hagiografi

“Film ini bukanlah biopic. Film ini adalah hagiografi.”




Dalam {rudy habibie} Habibie & Ainun 2, sang tokoh protagonis utama menjadikan trifecta : fakta-masalah-solusi, sebagai pedoman hidup dan sekaligus mantera yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meminjam metodologi Rudy (Habibie) tersebut, saya mencoba menguraikan kenapa film ini dijual seolah sebagai sekuel, meskipun secara de facto adalah prekuel.

Fakta : Habibie dan Ainun adalah sebuah film biografi tentang kisah romansa antara Prof. DR. (HC ). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie ( Presiden Indonesia ke-3) dan mendiang Hasri Ainun Habibie, yang berhasil membukukan rekor penjualan  4,3 juta tiket di tahun 2012.

Masalah : Kisah di filmnya sudah berakhir setelah wafatnya Ibu Ainun. Bagaimana kemudian membawa cerita yang super menginspirasi Pak Habibie ke sebuah kelanjutan yang akan terus meraup pundi-pundi rupiah?

Solusi : Bawa kisahnya kembali saat Habibie menjalankan studi di Aachen, Jerman. Beri sentuhan estetika overdosis dan “hiper-sentimentil” dan cari kisah cinta di masa itu, lalu jadikan tokohnya sebagai “cap dagang” dan kembangkan menjadi waralaba.

Hasil :  Lebih dari satu juta tiket dalam dua pekan dan salah satu film biografi tokoh terkenal paling menyiksa dalam sejarah sinema.

Ya, menonton {rudy habibie} Habibie & Ainun 2 merupakan sebuah siksaan sinematis. Dalam durasi 2 jam 20 menit, film ini terasa lebih panjang. Seperti perjuangan keras Habibie sewaktu menempuh pendidikan di Jerman, saya pun berjuang keras untuk menuntaskan film ini hingga mid-credit-scenes, mengatasi kantuk dan kebosanan, serta menahan diri untuk tidak mengaktifkan telpon genggam saya di bioskop demi “mencari bantuan”. Di sela-sela adegan film, saya menyempatkan diri untuk mengamati sekitar 30 penonton lainnya yang berada di satu studio dengan saya. Sebagian besar mereka sibuk mengobrol satu sama lain, sembari mata mereka melihat ke layar. Mereka tampak menikmati waktu mereka, setidaknya itu asumsi saya. Ketika adegan berakhir, mereka bergegas keluar teater tanpa terlihat peduli dengan mid-credit-scenes ala film superhero Marvel yang banyak digembar-gemborkan dalam promosi film ini. Ketika keluar bioskop, saya menyempatkan diri membuka Twitter dan banyak puja-puji ditujukan kepada film ini. Saya berasumsi beberapa di antaranya datang dari penonton yang berada dalam satu studio dengan saya. Saya pikir mereka perlu mendapatkan penghargaan khusus atas “kekuatan” dan “ketabahan” yang sudah mereka tunjukkan.

Film ini bukanlah biopic. Film ini adalah hagiografi.

Rudy Habibie disutradarai oleh Hanung Bramantyo, salah satu sineas Indonesia yang saya sukai beberapa karyanya . Dia adalah sutradara yang tidak takut akan kontroversi dalam bercerita. Tengok saja filmnya seperti Perempuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya (salah satu film favorit saya yang juga diperankan oleh Reza Rahadian, pemeran Habibie). Hanung juga sutradara yang menghasilkan Sang Pencerah dan Sukarno, dua film biografi tentang tokoh penting republik ini di mana Hanung tak takut menyisipkan perspektif pribadinya (yang lagi-lagi) mengundang pergunjingan dan penentangan. Tapi, Hanung juga tak berpantang dalam menerima pekerjaan untuk mengarahkan “film pesanan” yang mengharuskannya tunduk mutlak di bawah kontrol sang pemilik uang. Contohnya, Ayat-Ayat Cinta (juga produksi MD Entertainment sama seperti Rudy).

Seperti Ayat-Ayat Cinta,  Rudy Habibie adalah film pesanan sang pemilik modal (dibaca: produser) MD Entertainment. Di film ini Hanung terlihat tidak berdaya menentang kehendak sang produser yang berambisi untuk membawa kisah Habibie menjadi sebuah perpanjangan bisnis. Meski didukung oleh para pekerja film dan pemeran berbakat, film ini tidak bisa diselamatkan. Rudy memiliki segala ciri khas film-film produksi MD Entertainment : terlampau menjual sentimentil berlebihan, estetika overdosis dan dramaturgi ala Bollywood yang jadi acuan utama. Ironis, karena meski tak bisa dipungkiri film-film mainstream Bollywood menjual air mata dan kisah romansa sebagai komoditas utama kepada penonton, mereka masih membuat film-film biografi yang benar-benar menginspirasi, melahirkan diskusi dan mengundang decak kagum. Itu karena Bollywood masih menghormati kisah hidup tokoh yang diceritakan. Sementara Rudy Habibie hanya mengeksploitasi dan terkesan memanipulasi tokohnya demi,  penjualan tiket.

“Di Rudy Habibie, tidak ada dinamika dan resonansi antar karakter. Yang ada hanyalah hubungan satu arah, dari karakter pendukung ke Habibie milik Reza. Hubungan dari para pemuja terhadap yang dipuja.”



EKSPLOITASI DAN MANIPULASI

Hadirnya kata-kata “eksploitasi” dan “manipulasi” bukan tanpa alasan. Dua kata kerja yang saling terkait ini terlihat jelas menjadi motif utama film.  Eksploitasi adalah upaya pendayagunaan sebuah subjek secara berlebihan. Dalam {rudy habibie} subjeknya jelas adalah Habibie, sedangkan bentuk eksploitasinya adalah eksploitasi sifat baik (divine personality).

Sebagai subjek utama penceritaan, wajar bila karakter Habibie hadir dalam 100 persen porsi penceritaan. Baik ketika ia masih kanak-kanak atau ketika ia sudah berwujud Reza Rahadian. Namun, masalahnya muncul saat filmnya memutuskan untuk memuja-memuja segala sifat baik Rudy Habibie, tanpa sedikit pun ada penentangan di dalam ceritanya. Habibie kecil yang secara luar biasa menggantikan ayahnya (diperankan oleh salah satu aktor berbakat, Donny Damara) yang wafat saat sedang sujud dalam shalat. Adegan ini secara “menyakitkan” dikoreografi sedemikian rupa yang berujung pada Habibie, ibu dan adik-adiknya meratapi wafatnya sang ayah dengan diiringi score yang “berlimpah-ruah”. Score yang lebih menyerupai sebuah  simfoni orkestra untuk mengiringi perayaan kegemilangan, daripada soneta untuk meratapi rasa kehilangan.

Eksploitasi karakter Habibie dan segala sifat baiknya, terus berlanjut tanpa henti. Kisah Rudy Habibie berada di rentang waktu saat ia pertama kali menempuh studi di Jerman setelah lulus dari Technische Hogeschool Bandoeng (Institut Teknologi Bandung). Lazimnya sebuah film yang ceritanya berlatar bangku sekolah, naskah yang ditulis Gina S. Noer dan Hanung memang memberi karakter-karakter pendukung, teman-teman seperkuliahan Habibie. Mulai dari Lim Keng Kie (diperankan oleh Ernest Prakasa), seorang keturunan Tionghoa dan teman SMA Habibie yang berfungsi layaknya side-kick; Peter Manumasa (diperankan oleh Panji Pragiwaksono), rekan sependidikan yang kemudian ikut mendirikan Persatuan Pelajar Indonesia cabang Aachen; Poltak Hasibuan (diperankan oleh komedian, BorisBokir), yang tak lebih sebagai comic relief; Ayu (diperankan oleh Indah Permata Sari), gadis keturunan ningrat keraton Solo Mangkunegaran yang bahkan membawa abdi-dalem saat studi ke Jerman untuk melayaninya. Mereka pemegang paspor biru, sebagai penerima beasiswa pemerintah. Habibie pemegang paspor hijau, sebagai mahasiswa mandiri. Tapi, kapabilitas mereka hanya sepersekian dari Habibie yang digambarkan amat superior. Mereka menduduki peringkat ratusan dalam hasil ujian, Habibie berada di peringkat dua. Mereka masih bisa berfoya-foya dan berpesta pora, sementara Habibie digambarkan hidup prihatin dan nelangsa.

Ada pula karakter bernama Illona Lanovska (diperankan oleh Chelsea Islan), gadis cantik keturunan Jerman-Polandia yang memiliki kenangan emosional dengan Indonesia. Di film ini, karakter Illona berfungsi sebagai deutoragonist. Sama seperti karakter-karakter pendukung lainnya, Illona adalah karakter satu dimensi. Hingga akhir film, saya meragukan bahwa Illona benar-benar ada karena begitu tidak meyakinkan penggambarannya.

Sekelompok karakter pendukung tersebut dihadirkan sebagai karakter satu dimensi yang berfungsi sebagai foil yang dalam narasi fiksi bertugas menonjolkan kualitas karakter lainnya, dalam hal ini adalah Habibie. Habibie yang jenius, Habibie yang bisa menghapal pesanan menu di kafetaria dalam sekejap, Habibie yang tampan dan menawan, Habibie yang modis. Habibie yang serba unggul di aspek ini dan itu. Habibie yang amat superior dibanding yang lain.

Rudy sama sekali tidak tertarik untuk mengembangkan salah satu karakter pendukung di film ini sebagai penyeimbang atau membuat karakter utamanya lebih manusiawi. Penempatan karakter-karakter pendukung di sebuah penceritaan salah satu tujuannya untuk membuat kisahnya membumi. Agar ceritanya terhubung dengan penonton.  Akan tetapi di Rudy Habibie, berbagai karakter pendukung ini hanya seperti pemandu sorak yang bertugas mengelu-elukan kedigdayaan sang karakter utama. Habibie mesti berada di bawah lampu sorot, sementara karakter lainnya hanya menjadi latar belakang yang bising.

Yang menarik untuk dikupas adalah bagaimana para karakter pendukung di Rudy digambarkan sedikit pun tidak bisa menyanggah Habibie. Dalam suatu forum diskusi yang mestinya menjadi ajang unjuk demokrasi kaum intelektual muda Indonesia yang menempuh pendidikan di negara maju, para karakter utama ini manut saja dengan segala keputusan Rudi. Dalam sebuah film yang baik, penonton akan merasakan hadirnya suatu dinamika dan resonansi antar karakter yang tercipta dari hubungan emosional di setiap adegan, di setiap dialog, atau di setiap frame.  Dinamika dan resonansi hadir akibat hubungan timbal balik dua arah antar karakter yang akan melahirkan energi dan energi tersebut akan tersampaikan kepada penonton. Energi yang membuat penonton percaya pada kisah yang diceritakan.

Di Rudy Habibie, tidak ada dinamika dan resonansi antar karakter. Yang ada hanyalah hubungan satu arah, dari karakter pendukung ke Habibie milik Reza. Hubungan dari para pemuja terhadap yang dipuja. Kealpaan dinamika dan resonansi antar karakter di film ini makin diperparah lewat buruknya dialog dan bagaimana dialog tersebut disampaikan oleh para aktor. Ada kesenjangan teramat besar antara para aktor seperti Reza Rahadian dan Donny Damara dengan aktor-aktor pendukung lain. Para aktor pemeran teman-teman kuliah Habibie di Aachen, misalnya. Mereka mengucapkan dialog bak menghafalkannya, bukan melafaskannya. Mereka tidak meyakinkan sebagai kaum intelektual muda dan terlihat jelas tidak mampu mengimbangi permainan akting Reza Rahadian. Apakah ini disengaja untuk menunjukkan superioritas karakter Habibie? Entahlah. Yang jelas apa yang saya lihat di layar begitu sulit untuk dinikmati.

Di Rudy Habibie ada karakter penentang. Namun, karakter tersebut dihadirkan lewat logika bercerita opera sabun atau sinetron, sebuah metode karakterisasi primitif, di mana hanya ada dua tipe karakter  : karakter jahat atau karakter hitam dengan karakter baik atau putih.

Karakter Panca (diperankan oleh Cornelio Sunny) dan teman-temannya adalah antagonis tulen di film ini. Mulai dari pengenalan pertama mereka di adegan kafetaria, saat Habibie milik Reza diharuskan menghapal menu mereka, kita sudah tahu bahwa Panca dan teman-teman adalah penjahatnya. Mimik muka dan gestur tubuh mereka secara gamblang menunjukkannya. Mereka menindas, melakukan tindak kekerasan, bahkan menodongkan senjata api. Hadirnya karakter-karakter ini hanyalah menegaskan bahwa Habibie adalah karakter suci dan selalu benar. Siapa pun yang menentang adalah karakter jahat. Konsep menggelikan dan ketinggalan zaman untuk sebuah film yang “diinspirasi” dari kisah nyata. Lebih konyol lagi, saat di akhir film konfrontasi antara Habibie dan Panca diselesaikan lewat rekonsiliasi kompromis yang tak terjelaskan.

Saya curiga bahwa Panca dan kawan-kawannya adalah karakter komposit (composite character), karakter yang diciptakan berdasarkan karakter nyata. Nama karakter komposit diubah untuk menghindari polemik dan tuntutan atas akurasi. Karakter komposit ini pernah dihadirkan di Habibie & Ainun, seorang pengusaha (diperankan sendiri oleh Hanung Bramantyo dan diduga merupakan penggambaran dari pengusaha Setiawan Djodi) yang digambarkan berusaha menyuap Habibie.

Berjibunnya upaya eksploitasi sifat baik di Rudy, tentu akhirnya menimbulkan suatu upaya manipulasi  yang bertujuan untuk meyakinkan. Sayangnya, upaya manipulasi tersebut juga tidak berhasil. Seorang rekan film blogger, Daniel Irawan, secara jelas lewat akun Twitter-nya menunjuk adegan yang melibatkan “kondom” sebagai  sebuah kesalahan fatal. Faktanya, menurut Daniel, kondom baru hadir di Indonesia pada tahun 1970-an, bukan di era Habibie kecil di tahun 1940’an. Dalam hal ini, saya percaya kepada Daniel yang memang berprofesi sebagai dokter dan “kesalahan kondom” itu hanyalah salah satu contoh dari beberapa keteledoran upaya manipulasi di film ini.

Apakah salah bila sebuah film melakukan manipulasi dan rekayasa? Jelas tidak. Semua film melakukannya. Bahkan film biopic terbaik tentang tokoh politik seperti Ghandi, Lincoln, atau Nixon melakukannya. Semua film biopic tentu memiliki poetic license, serta membutuhkan “rekayasa” dan “manipulasi” demi kebutuhan dramatisasi.

Permasalahannya adalah film-film biopic terbaik itu melakukannya demi menghadirkan suatu kisah yang manusiawi dan karakter otentik. Yang terhubung secara emosional dengan penonton. Sementara, Rudy Habibie melakukannya atas landasan kepentingan dagang dan demi mengembangkan karakternya sebagai waralaba. Sama sekali jauh dari nilai keotentikan.

Penggunaan teknik manipulasi dan eksploitasi memang lazim digunakan sebuah cap dagang atau brand. Mereka melakukannya agar cap dagang yang mereka jual tampil sempurna dan memikat pembeli, melalui pencitraan dalam berbagai medium marketing. Dalam bukunya yang berjudul Who’s Pulling Your Strings (2004), psikolog  Harriet Braiker mengungkapkan salah satu unsur manipulasi psikologi yang kerap digunakan oleh perusahaan demi mengembangkan salah satu brand mereka adalah dengan berbagai puja-puji terhadapnya. Rudy Habibie memiliki unsur tersebut.

Apakah saya anti film yang dikembangkan menjadi waralaba?  Tidak. Saya menyukai Star Wars, film-film adaptasi Marvel, ataupun DC. Mereka berkembang menjadi sebuah waralaba besar dan (beberapa) memorabilia mereka juga tak luput saya beli. Tapi, harap diingat, mereka berdasarkan kisah fantasi fiktif. Bukan berdasarkan kisah nyata seorang tokoh (bahkan negarawan) yang termaktub dalam pembabakan sejarah.

Sebuah merek dagang bisa berkembang menjadi waralaba adalah karena citra merek dagang tersebut memiliki kelenturan atau fleksibilitas dalam  menyesuaikan diri . Untuk itu, sebuah merek dagang dirancang dan direkayasa secara khusus agar bisa menyesuaikan zaman, serta bila dalam film, kisahnya bisa dikondisikan. Berapa kali kita melihat kisah Spider-Man, Batman, Superman, X-Men, atau anggota Avengers difilmkan? Bagaimana film-film mereka bisa bertahan? Karena kisah mereka direkayasa, dimanipulasi, dan dikondisikan agar relevan.

Lalu apa jadinya bila tokoh politik, bahkan negarawan, dipaksa menjadi sebuah waralaba? Rudy Habibie adalah jawaban nyata untuk melihat bagaimana rusaknya satu kisah yang menjadi bagian sejarah diubah menjadi mesin uang dan mesin public relation.



‘WARALABA-ISASI” DAN DIPAKSA MENGINSPIRASI

Niatan dasar membawa kisah Rudy Habibie menjadi sebuah waralaba memang terpampang jelas. Segala sifat baik Habibie dikondisikan agar mencapai tujuannya untuk “menginspirasi”.

Anda pasti pernah menyaksikan sebuah video iklan dengan konsep penceritaan humanis yang (biasanya) mengharu biru? Thailand adalah jagonya dalam membuat iklan seperti ini. Rudy Habibie terasa seperti sekumpulan iklan-iklan “humanis” produksi Thailand tersebut. Dalam film ini, terlihat jelas pola penceritaannya. Habibie memiliki momentum kebahagiaan-Habibie menemui masalah-kilas balik ke masa kecil Habibie-Habibie bermunajat dan menunaikan ibadat-masalah memperoleh pemecahan. Begitu prosesnya berulang-ulang sepanjang durasi dan disajikan melalui konsep mosaic storytelling. Sebenarnya tak ada yang salah dengan metode mosaic storytelling ini. La Vie En Rose arahan Olivier Dahan pun melakukannya dan menjadi salah satu film biopic terbaik dalam sejarah sinema. Masalah dalam Rudy adalah bahwa setiap fragmen kehidupan disajikan secara centang perenang dan seringkali tak terasa terhubung secara emosional satu dengan lainnya, sehingga membuat film ini terasa amat melelahkan untuk ditonton. Efek lebih parah adalah saya tidak mempercayai kisah di Rudy Habibie, karena terkesan terlampau berlebihan dalam menyampaikan kisahnya.

Memang ironis, karena untuk film yang dikondisikan agar menginspirasi, Rudy Habibie jatuh menjadi membosankan dan melelahkan untuk ditonton. Selain karakter yang terlalu sempurna dan membuat penonton menjadi berjarak, kerja kamera dan penyuntingan juga sama sekali tak membantu.

Rudy Habibie banyak dihadirkan lewat medium shot to close up, sebuah metode penghadiran gambar yang (lagi-lagi) banyak dilakukan di sinetron. Metode ini nyaris memenuhi sepanjang durasi, nyaris tanpa disertai variasi lainnya, yang membuat menyaksikan film ini terasa melelahkan. Ada satu momentum yang penjadi penyegaran, di saat Habibie ingin pergi ke rumah Illona dan menaiki mobil sedan berwarna biru. Kamera mengikuti jalannya mobil melalui bird view angle, memperlihatkan mobil membelah jalanan yang diapit oleh barisan bangunan flat warna-warni. Sejenak mata dan pikiran menjadi segar.

Tapi, kepenatan kembali menghinggapi tatkala telinga kita dibombardir oleh score dan soundtrack yang menggelegar dan “overdosis”, serta penempatannya yang amat serampangan di sana-sini. Subtil, elegan dan bersahaja memang jauh dari imej film-film MD Entertainment, tapi apa yang saya dapatkan di Rudy Habibie sudah sulit untuk ditolerir.

Apakah film ini tidak memiliki keunggulan?  Penampilan Reza Rahadian dan Donny Damara masih menyelamatkan film ini. Mereka berdua membuktikan diri sebagai dua aktor paling terkemuka yang selalu bisa tampil bagus di film apa pun. Reza masih melakukan pendekatan fisikal, belum ke tahap eksistensial, di film ini. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Saya pernah menyaksikan bagaimana Habibie asli menyampaikan kuliah dengan bersemangat dan antusias, yang hal tersebut disampaikan melalui sinar matanya. Reza mampu menyampaikan energi tersebut.

Ada satu momen di mana Reza sebagai Habibie menangis di kotak telepon umum, saat menelpon ibundanya (diperankan oleh Dian Nitami), di mana ia merasa telah menyia-nyiakan pengorbanan ibunya. Momen ini adalah yang terbaik yang bisa disampaikan oleh filmnya. Momen di mana Reza memperlihatkan kerapuhan, memperlihatkan sisi manusiawi. Sayangnya, momentum ini akhirnya dirusak oleh momen glorifikasi lainnya.

Ambisi “waralaba-isasi” memang yang merusak Rudy Habibie. Kisah dari seorang tokoh negarawan yang pernah memimpin negeri ini dan tercatat di sejarah sebagai orang dengan kegemilangan pikiran yang diakui dunia Barat. Tapi, sejarah tidak memberikan kedalaman psikologi dan perspektif tidaklah sama dengan kecerdasan pikiran. Untuk sebuah film tentang orang yang memiliki kecerdasan pikiran, Rudy Habibie penuh dengan kebanalan manipulasi tak termaafkan.

Sebenarnya masalah serupa hadir di Habibie & Ainun. Namun, film tersebut setidaknya masih konsisten untuk menyematkan “brand” kisah romansa mengharu-biru. Sementara, Rudy Habibie terlalu sibuk menyematkan berbagai atribut. Habibie yang jenius, Habibie yang jenaka, Habibie yang disukai gadis, Habibie yang patriotis, Habibie yang ini, Habibie yang itu.

Di akhir film, terdengar suara dari voice over Habibie yang berkata, “ Perjalanan ini masih panjang. Saya tidak akan menyerah..”

Tentu dengan pemampangan judul Habibie & Ainun 3 sebelum opening sequence, “waralaba” ini akan dipaksakan untuk berusia panjang. Apakah Anda mau menjadi bagiannya? Kalau saya jelas tidak.

Lalu bagaimana dengan fakta bahwa Rudy Habibie telah ditonton oleh jutaan orang, berdasarkan indikator penjualan tiket? Jawabannya : film laris tidaklah selalu sama dengan film bagus. Jika film laris adalah sinonim dari film “bagus”, maka film-film Adam Sandler, Michael Bay dan Rolland Emmerich sudah menjadi langganan penerima Best Picture Oscar.

(1/5)

Reviewed at Blok M Square XXI , July 2, 2016

Produced by : MD Entertainment

Executive Producer : Dhamoo Punjabi

Co-executive Producer : Sys NS

Producer : Manooj Punjabi

Associate Producer : Dian Sasmita Hendrayadi

Co Producer : Zairan Zain, Karan Mahtani

Directed by : Hanung Bramantyo

Screenplay : Gina S. Noer, Hanung Bramantyo

Based on book : Rudy by Gina S. Noer

Original Story : B.J Habibie

Cinematographer : Ipung Rachmat Syaiful

Music : Tya Subiyakto Satrio, Khrisna Purna

Editor : Wawan Wibowo

Sound Designer : Satrio Budiono

Casts : Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa, Indah Permatasari, Pandji Pragiwaksono, BorisBokir, Dian Nitami, Donny Damara, Millane Fernandez, Cornelio Sunny, Leroy Osmani, Timo Scheunemann, Verdi Solaiman, Julia Alexandra, Bagas Luhur Pribadi, GPH Paundrakarna,

10 Comments

  1. Sangat sinisisasi dan beresonansi ya bung tulisannya. Kalau saya membacanya anda seperti pemilik rumah produksi film lain atau mungkin tokoh politik “pesanan” jg ya

    Liked by 1 person

    Reply

  2. Seperti halnya sebuah film yang bisa dimaknai apapun oleh penontonnya, begitu film tersebut dirilis ke publik, maka hak Anda untuk menilai ulasan saya terhadap Rudy Habibie. Tapi, asumsi dan kecurigaan Anda bahwa tulisan saya adalah sebagai produk “sinisisasi” karena saya “pemilik rumah produksi film lain” atau “tokoh politik pesanan”, maka saya bisa berkata bahwa Anda salah.

    Saya praktisi marketing yang kebetulan suka menonton, mengamati dan menulis tentang film. Saya murni mengulas Rudy Habibie dari aspek marketing (dalam hal ini pembentukan brand/franchise) dan pengaruhnya dalam storytelling. Saya hanya berusaha menulis secara jujur apa yang saya ketahui, saya rasakan dan saya rasa mengganggu dalam film ini. Bisa Anda baca dalam tulisan saya, bahwa saya sudah mencantumkan beberapa landasan dalam penulisan skrip, pembentukan karakter dan pembangunan brand. Apa yang saya tulis di ulasan ini adalah hasil dari saya mengikuti film-filmnya Hanung dan film-film produksi MD Entertainment. Semua yang saya tulis amatlah beralasan dan mempunya landasan.

    Tapi, bisa dimengerti kecurigaan Anda. Di tengah para penulis “kritik film” dan “pengamat politik” yang mengungkapkan pendapat mereka, tetapi mereka bersembunyi di balik sebuah agenda, Anda punya hak untuk menuding saya.

    Sejauh ini, ulasan saya telah dibaca oleh lebih dari dua ribu kali. Sebuah impresi yang cukup mengagetkan bagi saya yang jumlah pengikut Twitter-nya baru 500-an. Beberapa dari mereka me-mention, menuliskan e-mail, atau mengirim pesan ke watsapp bahwa ulasan saya tentang Rudy Habibie membuka mata mereka dan mereka merasa sepakat dengan ulasan saya.

    Ulasan saya ini hanya sepersekian persen dari sekian banyak ulasan Rudy Habibie yang isinya hanya memuji, menuliskan sinopsis, atau terkesan tidak enak karena kenal dengan filmmaker-nya, atau tidak enak karena yang diceritakan di film ini adalah tokoh besar. Itulah yang menghambat perkembangan kritik film di Indonesia, karena semuanya serba sungkan.

    Sekali lagi, saya perlu tegaskan bahwa saya tidak memiliki kepentingan atau agenda tersembunyi lewat ulasan ini. Saya hanya penonton yang membayar tiket di bioskop, menonton film yang saya ingin tonton dan menuliskan ulasan sesuai apa yang saya rasakan dan ketahui. Saya tidak kenal filmmaker dan tidak pula anti dengan tokoh politik yang diceritakan.

    Coba Anda baca tulisan saya lagi. Ada pujian untuk beberapa aspek di film ini dan juga kekaguman saya terhadap tokoh yang diceritakan di film ini. Hal itu saya lakukan, karena saya selalu berusaha proporsional. Saya tidak suka film ini, karena menurut saya memang film ini tidak bagus. Anda juga bisa membaca semua ulasan saya tentang film lainnya dan Anda bisa merenungkan kembali tudingan Anda itu. Semua ulasan saya tentang film adalah opini jujur saya tentang film-film yang saya tonton. Kalau suka, saya bilang suka. Kalau jelek, saya bilang jelek.

    Terima kasih sudah membaca ulasan saya dan memberikan komentar. Saya suka tanggapannya, karena inilah semestinya sebuah kritik atau diskusi film bermula dan bermuara.

    Like

    Reply

  3. Dibayar brpa anda untuk menjelek jelekan film ini?? Anda emang sudah bisa buat film Indonesia yg berkualitas dan Sukses sperti film Rudy ?? Saya tidak terima dgn review anda ttg film ini terlalu Spoiler!!!

    Like

    Reply

    1. Kalau sekiranya saya dibayar untuk menulis sebuah ulasan film, maka saya akan kaya raya. Saya tidak dibayar untuk menulis ulasan ini, saya justru mengeluarkan uang untuk membeli tiket bioskop. Saya juga bukan jurnalis yang diberi akomodasi untuk menonton dan menulis ulasan film oleh perusahaan media tempat mereka bekerja.

      Komentar Anda membuat saya makin yakin bahwa di Indonesia yang namanya apresiasi sebuah karya seni hanyalah berwujud memuji membabi buta, mengelu-elukan dan berlindung di balik label ” cintailah karya anak bangsa”. Padahal apresiasi terhadap sebuah karya seni, termasuk film, juga bisa berupa kritik. Dan di Indonesia, kritik sudah kadung mengalami peyorasi, yang selalu diartikan “menjelek-jelekan”. Menurut saya yang saya tulis adalah argumen, bukan menjelek-jelekkan. Plus pertanyaan Anda, ” Anda memang sudah bisa buat film Indonesia yang berkualitas dan sukses sperti film Rudy” sudah kelewat kasip yang selalu tertuju bagi setiap ulasan negatif atas film Indonesia. Pertanyan Anda itu membuat saya jadi paham kenapa nyaris tidak ada kritikus film yang handal di Indonesia. Ketika Anda mengkritik sebuah kebijakan pemerintah yang merugikan Anda (misalnya kenaikan BBM) apakah Anda juga bisa menggantikan posisi pemerintah dalam menjalankan fungsinya?

      Meski saya bukanlah kritikus film profesional (yang dibayar oleh media, bukan oleh production house saingan ya ^-^), saya perlu memberitahu Anda bahwa kritik adalah salah satu mata rantai bisnis hiburan. Kritik berfungsi sebagai penyeimbang, pengingat dan kontrol. Kritik film ya fungsinya berjalan atas bisnis film. Penyeimbang, pengingat dan kontrol terhadap apa? Salah satu dari sekian banyak fungsi kritik film adalah kontrol terhadap nilai estetika seni di film. Film sebagai medium tutur yang paling efektif dalam mempengaruhi banyak orang. Kalau tidak dikontrol dan diberi masukan lewat kritik, maka film-film yang dibuat dengan sembarangan akan merajalela dan akhirnya penonton jadi malas nonton film. Jadi kritikus film profesional tidak memiliki kewajiban untuk membuat film. Karena pekerjaan mereka ya mengulas film. Saya harap Anda jadi punya sedikit gambaran.

      Sekali lagi saya perlu ingatkan bahwa saya bukan kritikus film profesional. Saya penonton biasa yang membeli tiket dan menulis apa yang ada di pikiran saya tentang film yang saya tonton.

      Tapi Anda punya hak untuk menilai bahwa saya “menjelek-jelekkan” film ini. Seperti saya yang punya hak untuk menulis ulasan bahwa saya tidak menyukai film ini. Karena saya membeli tiket.

      Ngomong-ngomong, saya bingung dengan tudingan bahwa ulasan film saya sebagai “spoiler”. Karena bahkan sinopsis film ini pun tidak saya tulis. Tapi, terima kasih sudah membaca dan menulis komentar. Karena interaksi seperti inilah yang menjadi awal lahirnya budaya kritik, mengulas dan berdiskusi soal film.

      Like

      Reply

  4. iya bung film2 buatan hanung dan MD hanya bagian dari timbunan sampah film indonesia. eksekutif film indonesia yg kaya raya memang tidak memiliki taste, dan sutradara indonesia juga mayoritas tdk memiliki integritas yang jelas.

    Like

    Reply

  5. kritik yang kuat dan memikat.. sudah lama gak nemu kritik seperti yang anda lakukan. Semoga anda makin keras lagi. Supaya mereka yang pada mabok itu terbangun. Tulisan kritik anda seperti adzan subuh yang membangunkan.

    Like

    Reply

    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog PICturePlay. Kritik itu tanda cinta, meski memang tidak banyak yang bisa menerima sebuah kritik film. Tetapi, kami sendiri tidak memproklamirkan diri sebagai “kritikus film”. Kami hanya orang yang gemar film dan melihat medium film sebagai playground kami. 🙂

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s