surat-cinta-untuk-kartini poster

Review Surat Cinta Untuk Kartini : Premise Menarik, Eksekusi Generik

Diulas oleh @Picture_Play

April 23, 2016

“Upaya mengenali Kartini lewat karakter fiktif juga memberikan filmmaker suatu poetic license, sebuah kebebasan artistik dalam upaya mengejawantahkan karakter dan kisah hidup Kartini, terbebas dari kungkungan aturan, nalar, atau fakta yang kerap menjadi kendala utama sineas negeri ini dalam memfilmkan kisah hidup seorang tokoh terkenal.”




Surat Cinta Untuk Kartini adalah sebuah film hypotethical biopic/alternate history yang mengusung suatu high-concept dan dibangun berdasarkan premis cerita menarik, serta menggelitik, “ bagaimana bila Kartini, tokoh perempuan paling populer dengan gagasan emansipasi yang tertuang dalam surat-suratnya, memiliki hubungan istimewa dengan tukang pos yang mengantar surat-suratnya?”. Lalu tambahkan sebuah pitching point bahwa yang memerankan karakter si tukang pos adalah Chicco Jerikho (A Copy of My Mind, Cahaya Dari Timur (Beta Maluku)), salah satu aktor paling diminati saat ini. Tentu akan banyak yang tertarik. Sesuaikan pula jadwal rilisnya dengan peringatan Hari Kartini di 21 April, untuk menambah gegap gempita dari aspek marketing.

Konsep dasar tersebut di atas memang, di atas kertas, mumpuni. Pendekatan narasi fiktif lewat penciptaan karakter si tukang pos, berpeluang menciptakan twist atau “memelintir” sejarah yang selama ini kita ketahui tentang Kartini. Memberi kesempatan kepada penonton dan bisnis perfilman Indonesia menyaksikan sebuah film berdasarkan tokoh nyata sejarah melihat kisah hidupnya lewat satu sudut pandang berbeda dari yang kita dapat sejauh ini. Kartini adalah tokoh yang begitu terkenal. Cari saja informasinya lewat mesin pencari Google, maka akan terpampang ribuan referensi mengenainya.

Upaya mengenali Kartini lewat karakter fiktif juga memberikan filmmaker suatu poetic license, sebuah kebebasan artistik dalam upaya mengejawantahkan karakter dan kisah hidup Kartini, terbebas dari kungkungan aturan, nalar, atau fakta yang kerap menjadi kendala utama sineas negeri ini dalam memfilmkan kisah hidup seorang tokoh terkenal. Tak bisa dipungkiri bahwa masalah utama dari pembuat film dalam membuat sebuah film biopic adalah gugatan dari ahli waris sang tokoh atau masayarakat pemuja tokoh tersebut. Rakyat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang menafikan interpretasi beda terhadap tokoh pujaanya, yang berakibat pada munculnya film-film biopic yang hanya berfungsi sebagai medium glorifikasi dan curriculum vitae audio-visual. Toh, semua hanyalah cerita fiksi.

Hanya saja, sebuah film dengan pendekatan fiksi pun mesti menjalankan fungsinya membangun dunia dan logika yang meyakinkan. Karakter fiksi yang disempilkan di Surat Cinta Untuk Kartini hendaknya mampu menawarkan sebuah gagasan dan pemahaman baru tentang Kartini yang tidak kita ketahui dari laman mesin pencari Google, tanpa menjadi upaya domestikasi karakter yang memiliki gagasan dan ambisi besar sepertinya.

Sayangnya, Surat Cinta Untuk Kartini gagal memenuhi fungsi tersebut. Dibangun di atas premis menarik, namun berujung pada eksekusi generik.



DICERITAKAN MELALUI METODE FRAMING DEVICE

Cerita Surat Cinta Untuk Kartini dimulai dari sebuah taman kanak-kanak di dunia modern. Seorang guru perempuan dalam kostum kebaya mencoba mengajak para anak didiknya untuk menyimak ceritanya mengenai Kartini. Tidaklah penting untuk menyantumkan nama karakter si guru perempuan, karena penampilan dan fungsinya di film ini, hanyalah sebagai pemanis dan tampil sekelebat saja. Bisa diasumsikan bahwa hari tersebut adalah tanggal 21 April, dilihat dari kostum si guru.

Para siswa yang masih kanak-kanak ini enggan untuk menurut. Salah satu alasan yang dikemukakan salah satu siswa amatlah masuk akal, “..ngapain sih cerita tentang Ibu Kartini? Di buku-buku sejarah juga banyak.”

Gagal menarik minat para siswa, upaya sang guru perempuan diselamatkan oleh sosok (yang diasumsikan sebagai salah satu pengajar di taman kanak-kanak itu) Chicco Jericho. Juga tidak penting mengingat nama karakternya di adegan ini. Ia lalu memutuskan untuk bercerita mengenai Kartini melalui sudut pandang tukang pos dan anak-anak tersebut herannya langsung menurut.

Maka dimulailah cerita sang pak guru, yang dalam film ini berfungsi sebagai framing device. Seperti saat Rose Tua bercerita mengenai kisah tenggelamnya kapal di Titanic arahan James Cameron.

Alkisah—menurut si bapak guru—dalam kurun waktu yang sama dengan Kartini (diperankan oleh Rania Putrisari) hidup, ada seorang tukang pos bernama Sarwadi (kembali diperankan oleh Chicco Jerikho, kali ini dalam tampilan retro) yang bertugas mengantarkan surat-surat di karasidenan Jepara, tempat Kartini tinggal. Mengapa disebutkan “Chicco Jerikho dalam tampilan retro”?. Karena penampilan Sarwadi dan seluruh casts dalam film ini hanyalah “dipoles” dan “diduplikasi” secara fisik untuk mendapatkan feel jadul. Hanya menjalankan fungsi mimetic, bukan diegetic. Itu pun busananya terlihat hanya replikasi, tidak menampilkan detail.

Sarwadi lalu digambarkan sebagai petugas pos yang berdedikasi tinggi. Dalam suatu montage diperlihatkan betapa semangatnya ia mengayuh sepedanya tanpa alas kaki menuju tempat kerjanya dan sesampainya ia di sana, ia disambut dengan antusias oleh bule Belanda yang kita asumsikan sebagai pimpinannya.

Dalam suatu kesempatan saat menghantarkan surat untuk Kartini di kediamannya, Sarwardi yang merupakan duda dengan satu anak perempuan berumur tujuh tahun ( lagi-lagi hingga akhir film saya gagal mengingat nama si anak karena karakternya hanyalah sempilan), ia melihat Kartini dan langusung mabuk kepayang. Kita kembali dibawa kepada satu asumsi bahwa Sarwadi tresno kepada Kartini karena tampilan fisiknya dan sayangnya kamera di film ini pun gagal dalam memberikan alasan sinematis dan dramatis kenapa tukang pos ini bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lalu, cerita pun berlanjut. Surat Cinta Untuk Kartini mencoba menghadirkan konflik lewat polarisasi karakter yang jamak ditemui di kisah romansa bertema pungguk merindukan bulan. Sarwadi rakyat jelata, sedangkan Kartini berdarah priyayi; Sarwadi hanyalah tukang pos berpengetahuan ala kadarnya, sedangkan Kartini adalah perempuan dengan cakrawala berpikir yang pernah mencicipi bangku sekolahan; Sarwadi duda tanpa pengharapan masa depan, sedang Kartini adalah bunga dengan harum semerbak yang jadi idaman.

Sarwadi lantas seperti hidup dalam ilusi angan-angan. Meski kerap dingatkan oleh para secondary characters di film ini agar ia kembali memijak bumi, Sarwadi kukuh dalam pendirian. Bisa ditebak akhir kisahnya, cukup Google saja informasi tentang Kartini dan Anda akan mendapatkan hasilnya.

“Di dalam penulisan cerita, tanpa adanya unsur discovery dan reversal, kisah yang disampaikan akan terasa datar tanpa emosi, hingga menjadi sekumpulan keping-keping informasi yang sekadar ditempelkan menjadi satu. Film ini pun berakhir seperti itu.”



TANPA UNSUR DISCOVERY, TANPA REVERSAL

Sekali lagi, tidak masalah dengan pendekatan fiksi seperti yang diterapkan oleh Surat Cinta Untuk Kartini. Hanya saja, selama durasi film, tidak ada kedalaman informasi baru tentang Kartini yang bisa kita dapatkan. Film ini lantas mentok pada premisnya sendiri dan berakhir pada sebuah kisah klise percintaan bertepuk sebelah tangan. Perlu ditekankan bahwa penuturan klise pun tidak menjadi masalah, selama ada sebuah discovery atau penemuan baru yang memberikan kita sebuah pendalaman sudut pandang.  Tidak pula ada unsur reversal atau pembalikan yang sebenarnya berpeluang muncul dari penggunaan karakter fiktif Sarwadi yang melihat sosok Kartini dari kacamata orang awam. Semua pemaparan informasi di film ini sudah kita ketahui semua. Di dalam penulisan cerita, tanpa adanya unsur discovery dan reversal, kisah yang disampaikan akan terasa datar tanpa emosi, hingga menjadi sekumpulan keping-keping informasi yang sekadar ditempelkan menjadi satu. Film ini pun berakhir seperti itu.

Hal ini pun diperburuk dengan gagalnya penulis naskah dalam menggunakan profesi Sarwadi sebagai tukang pos pengantar surat Kartini, sebagai pemicu timbulnya dialog bernas yang mengungkapkan gagasan cerdas perempuan tersebut. Tak sekalipun diperlihatkan bahwa Kartini kerap mengirimkan surat dan melakukan kegiatan korespondensi melalui Sarwadi. Padahal, kita ketahui Kartini gemar berinteraksi lewat surat menyurat dengan rekan-rekannya yang lalu melahirkan berbagai gagasan yang melampaui zamannya. Dari kumpulan surat yang diterbitkan oleh J.H. Abendanon lewat buku Door Duisternis Tot Licht (diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang), salah satu sahabat pena Kartini, saja ada 87 surat. Bisa dibayangkan seringnya frekuensi berkirim surat yang dilakukan Kartini, tapi ironisnya Surat Cinta Untuk Kartini menafikan hal itu. Pekerjaan Sarwadi sebagai tukang pos yang sebenarnya memiliki fungsi krusial, hanya menjadi aksesori pemanis premis.

Dialog yang tercipta antara Sarwadi dan Kartini hanyalah tercipta lewat pertemuan keduanya, yang dieksekusi sebagai pendekatan seorang jejaka terhadap gadis pujaanya. Dialog-dialog pun terjadi secara sepihak, karena Sarwadi tidaklah mampu mengimbangi keintelektualan Kartini. Gagasan Kartini pun lantas hanya lahir dari ujar-ujar semata, tanpa lewat tindakan bahkan gesture. Sepertinya penulis naskah mencari berbagai informasi trivia tentang Kartini melalui mesin pencari Google dan kemudian memasukkannya ke dialog dan adegan. Tanpa kedalaman, hanya menjadi serangkaian platitude.

Kartini di sepanjang film digambarkan sebagai penjunjung kesetaraan. “ Panggil aku dengan Kartini saja” begitu pintanya agar lawan bicaranya menanggalkan atribut kebangsawanan. Tetapi di lain adegan yang berada di luar wilayah keraton, Kartini duduk di atas ayunan, sedangkan para dayangnya duduk nggelepor di bawah. Sebuah penggambaran yang kontradiktif dari apa yang digembar-gemborkan.

Sebuah kisah fiktif tetaplah harus ditunjang oleh pembangunan dunia yang meyakinkan. Sayangnya, aspek penting itu juga diabaikan di film ini. Dunia dalam  Surat Cinta Untuk Kartini terasa amatlah kekinian. Saya menduga desainer produksi kesulitan mencari set lokasi yang menunjang unsur jadul yang dibutuhkan sebuah film berlatar periodik seperti film ini. Hanya saja sutradara Alzhar “Kinoi” Lubis juga gagal dalam mengarahkan para pemainnya untuk tampil dalam jiwa yang sesuai dengan atmosfer awal abad ke-21 seperti yang dituntut cerita.

Chicco Jerikho sebagai Sarwadi terasa amat kekinian. Dari caranya berbicara, bergerak, dan memproduksi gestur amatlah modern. Bahkan sikap impulsif, romantis, dan ekspresifnya bukanlah sesuatu yang lazim ditemukan di pria yang hidup di era tersebut. Ada kontradiksi kelakuan dan kepribadian karakter Sarwadi dengan peletakan karakteristiknya sebagai tukang pos dengan pola pikir ndeso, yang digambarkan di awal film. Bagaimana mungkin pria seperti Sarwadi mampu memiliki perilaku layaknya pria berpendidikan modern?

Citra modern pun diperlihatkan Rania Putrisari sebagai Kartini, lewat gestur dan bahasa tubuhnya. Ia terkesan hanya meniru mimik perempuan desa Jawa yang biasa ditampilkan di film-film Indonesia kebanyakan. Cara bicaranya dihalus-haluskan, dipelan-pelankan, dan ditambahkan sedikit penekanan logat Jawa medhok di beberapa bagian. Tapi, selebihnya amat terkesan modern. Tidak terasa sebagai Kartini dengan segala kompleksitasnya yang kita rasakan di berbagai surat tulisannya.

Chicco dan Rania saya yakin adalah para aktor berbakat. Mereka hanya kebingungan dalam menunaikan interpretasi karakternya, karena sutradara tidak memiliki visi jelas dalam mengarahkan mereka. Semua terlihat de riguer, berdasarkan template. Hal sama terjadi ke aktor-aktor pendukung lainnya. Semua terasa begitu modern.

Kecenderungan untuk melakukan hal de riguer pun terlihat di berbagai pengadeganan lain di film ini. Adegan romantis di pasar tradisional, adegan mengajar di alam terbuka, semuanya de riguer. Seolah berdasarkan pola yang sudah diadopsi di berbagai film romansa berseting periodik, yang mengerucutkan pada suatu pertanyaan, “bagaimana mungkin dua manusia dengan strata bertolak belakang sering melakukan pertemuan intens, tanpa memicu pergunjingan masyarakat di era itu?”. Penentangan yang terjadi hanyalah di tingkatan secondary characters, lewat karakter Mujur (diperankan oleh Ence Bagus) dan mbok-mbok abdi dalem yang semuanya berfungsi sebagai comic relief.

Kamera arahan Muhammad Firdaus pun hanya memenuhi fungsi estetika, menangkap lansekap dan pemandangan indah, demi meningkatkan production value. Saya menduga kamera yang dipakai adalah sejenih Arri Alexa, yang lewat pewarnaan digital, memang berhasil menghadirkan nuansa romansa. Gambarnya terang, tajam, dan cantik. Akan tetapi, kamera Firdaus gagal dalam menyajikan kedalaman cerita dan menangkap detail emosi yang menggugah jiwa.

Ilustrasi musik karya Aghi Narottama dan Bembi Gusti sudah secara maksimal menghadirkan atmosfer dramatis Surat Cinta Untuk Kartini. Musik duo ilustrator kawakan ini terdengar megah dan berhasil membangun nuansa romansa, mengagungkan masa lalu dengan pendekatan orkestrasi. Hanya saja, kembali saya menduga, sutradara tidak memiliki visi kuat dalam menentukan musiknya. Di beberapa adegan, terasa tidak sinkron, terasa (sekali lagi) by template.

Keputusan kreatif yang paling dipertanyakan justru berada di titik awal film. Penggunaan framing device di film ini berfungsi sebagai setup yang menggiring perspektif penonton bahwa kisah yang diceritakan adalah fiktif. Hanya saja apakah tepat guna bila menceritakan sebuah kisah romansa orang dewasa pelik seperti di film ini kepada siswa taman kanak-kanak?



PENONTON SUDAH MALAS MENCARI TAHU & PEDULI

Kartini yang kita kenal sejauh ini hanyalah lewat tulisan-tulisan di suratnya, yang memuat berbagai gagasan, kegelisahan, dan keluh kesahnya yang lebih besar dan berumur panjang lebih dari hidup Kartini itu sendiri. Tulisan-tulisan yang mengundang interpretasi terbuka terhadap kepribadiannya.

Ironisnya, kebesaran ide Kartini selama beberapa dekade telah diartikan menyempit. Bahwa emansipasinya hanya diartikan sebagai sosok yang mengidamkan kesetaraan pendidikan. Bahkan di era Orde Baru, pencanangan Hari Kartini dimanfaatkan sebagai pemakluman upaya domestikasi perempuan lewat organisasi Dharma Wanita. Menggiring nama Kartini sebagai sebuah brand, perempuan berbusana kebaya tradisional yang mengenakan sanggul. Di hari Kartini, berbondong-bondong perempuan Indonesia mengantre di salon-salon kecantikan, memermak diri mereka demi kepentingan seremonial semata.

Surat Cinta Untuk Kartini dengan premis dasar menarik, sayangnya berakhir pada pemaknaan sempit itu. Tidak ada hal terbarukan pada gagasannya. Hal ini disampaikan secara blak-blakan  di akhir film. Anak perempuan Sarwadi malih rupa berdandan ala Kartini dan ada cameo Acha Sepriasa dalam tata rias modern dan mengenakan kebaya mengajar di tepi pantai meneruskan tradisi Kartini.

Padahal Kartini lebih dari itu. Ia adalah sosok perempuan pemikir yang memuja feminisme ala Barat, tetapi juga memaknai fungsi kodratnya sebagai perempuan bertradisi Timur.

Dalam satu suratnya, Kartini menulis, “ Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap bahwa masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal indah dalam masyarakat Ibu terdapat hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban,” ( Surat Kartini kepada Ny. E. Abendanon, 27 Oktober 1902).

Ada satu adegan yang sebenarnya menarik untuk ditelaah. Saat Kartini berdialog dengan dua orang Belanda, satu meneer dan satunya gadis di tepi pantai. Kartini digambarkan berkomunikasi lewat bahasa Indonesia, sementara dua orang Belanda tersebut menggunakan bahasa Belanda. Sebuah metafora dari gagasan sang sutradara yang menegaskan bahwa Kartini memilih berada di peradabannya, di kulturnya. Meski ia mampu berbahasa Belanda (dalam satu adegan lain diperlihatkan Kartini membaca artikel koran berahasa Belanda), ia pantang mengubah jati diri dan perilaku asal dirinya.

“Kita tidak bisa merubah asal kita, tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita “, begitu ujar Kartini kepada Sarwadi.

Ah, seandainya sutradara tetap berada pada gagasan tersebut, Surat Cinta Untuk Kartini tidak akan menjadi sebuah selebrasi romantisme banal semata. Sayangnya, tidak. Bahkan judul film ini hanya menjadi ujar-ujar, pelengkap materi marketing yang disesuaikan dengan momentum perayaan seremonial.

Di akhir film, penonton sempat digoda oleh sebuah petunjuk kecil dari buku sketsa yang dibawa oleh karakter guru yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Dimaksudkan ingin menimbulkan teori dan perdebatan, apakah Sarwadi hanyalah rekaan sang guru ataukah memang “kisah nyata” yang tidak termaktub dalam sejarah.

Sejatinya, bila film ini berhasil dieksekusi secara tepat guna, penonton akan mencari di Google tentang Sarwadi. Sayang seribu sayang, seusai filmnya berakhir, penonton sudah malas dan tidak peduli untuk mencari tahu.

 

(2,5/5)

By @Picture_Play

In Theaters

Produksi : MNC Pictures

Exec producer : Affandi abdul Rachman

Producer : Toha Essa, Rina Harahap

Produser kreatif : Lukman Sardi

Produser pelaksana : deni dirmansyah

Produser paska produksi : Roland XP

Sutradara: Alzhar “Kinoi” Lubis

Ide cerita : Toha Essa, Fatmaningsih Bustamar

Penulis naskah : Vera Varidia, Toha Essa, Fatmaningsih Bustamar

Dibintangi oleh : Chicco Jerikho, Rania Putrisari, Ence Bagus, Doni Damara, Ayu Dyah Pasha, Acha Sepriasa (cameo)

Penata kamera :  Muhammad Firdaus
Penyunting gambar : Yogi Krispatama

Penata peran : Muhammad Verio Syeban

Penata suara : Khikmawan Santosa

Penata musik = Aghi Narottama- Bemby Gusti

Penata busana : Gemaillagea Gerintiana

Penata rias: Gunawan Saraghi

Penata artistik : Fauzi