Review The Revenant : On est tous de savages

 

written by @Picture_Play

“Terlihat ambisi Iñárritu membawa mitologi Glass ke tingkatan lebih tinggi dan kompleks, serta memperlihatkan kapabilitasnya sebagai seorang auteur. Sebuah usaha yang patut dihargai, meski tidak bisa dikatakan berhasil sepenuhnya. ”          




Papan bertuliskan kata-kata dalam bahasa Perancis “On est tous de savages”,  yang berarti “ kami semua liar”, itu tergantung di leher seorang lelaki Indian Pawnee. Lelaki penduduk asli tanah Amerika tersebut menemui ajal di tangan segerombolan penjelajah Perancis, tak lama setelah dia menjadi teman “senasib” Hugh Glass (diperankan Leonardo DiCaprio), pria malang yang sudah melalui proses tercabik, nyaris mati, dan “bangkit dari kubur”.

Dalam film The Revenant, bisa dikatakan bahwa sineas Alejandro Gonzales Iñárritu mendeklarasikan “on est tous de savages” sebagai tema sentral dan pondasi dasarnya. Semua elemen di film tersebut memang savages. Liar, baik para karakternya, alamnya, gagasannya, eksekusi ataupun ambisinya.

Iñárritu seolah menegaskan pandangannya bahwa—di film ini—manusia adalah mahluk dengan naluri primitif, dalam bentuk primordialnya, dengan prinsip : bertahan hidup dan menyerang. Bahwa manusia adalah mahluk quasi-bestial yang hanya bisa “diselamatkan” dengan menjalani metode “Revenant”, yaitu proses “bangkit dari kubur”  dan mengalami proses “kebangkitan” moral atau spiritual.

Itu yang barangkali Iñárritu gambarkan di film ini melalui roh mendiang istri Glass, yang menemuinya dalam mimpi dan halusinasi. Ia yang telah meninggalkan semua kefanaan duniawi, melangkah ke alam spiritual –entah ini sebuah metafora atau bukan—merupakan satu-satunya orang yang memiliki kebijakan dan rasa kemanusiaan.

The Revenant berkisah tentang seorang pria bernama Hugh Glass  yang tergabung dalam sebuah ekspedisi tim pedagang bulu hewan di tahun 1820-an, namun akhirnya bernasib naas  diserang oleh seekor beruang betina liar yang kemudian mencabik-cabik dirinya. Tubuh terkoyak, berlumuran darah, dan napas tinggal satu-dua, Glass kemudian ditemukan oleh rekan-rekan satu timnya dalam keadaan sekarat ditimpa mayat beruang betina berbobot ratusan kilogram.

Glass memang masih hidup, namun pemimpin ekspedisi, Capt. Andrew Harry (diperankan oleh Domnhall Gleeson), melihat peluang Glass lolos dari lubang maut sangatlah kecil. Harry lalu memutuskan untuk meninggalkan dua anggota tim untuk menemani Glass menyongsong sakaratul maut, sekaligus menguburkannya kelak dalam proses pemakaman Kristiani. Siapa yang bersedia melakukan tugas itu, akan diberi imbalan.

Jim Bridger (diperankan oleh aktor muda Inggris, Will Poulter) dan John Fitzgerald (diperankan dengan sangat baik oleh Tom Hardy), bersedia melakukan tugas tersebut. Namun, keduanya punya agenda tersendiri. Bridger—anggota muda yang naïf dan lugu—melakukannya demi kemanusiaan. Sedang Fitzgerald, melakukannya demi uang.

Mereka berdua mendapat tambahan tenaga, Hawk (diperankan oleh Forrest Goodluck), lelaki remaja berdarah keturunan Indian Pawnee, anak lelaki Glass. Hawk ingin menemani ayahnya, satu-satunya orang yang masih dimilikinya.

Tetapi, sabda alam memutuskan takdir berbeda untuk Glass. Alih-alih mati, dia justru menyaksikan tindakan khianat dari Fitzgerald yang membunuh Hawk, memanipulasi Bridge agar meninggalkannya dalam keadaan sekarat, dan terkubur dalam keadaan setengah hidup di tengah dinginnya salju musim dingin.

Akan tetapi, di situlah Glass kemudian mendapatkan momen renaissance-nya. Seolah kerasukan setan dia tidak menyerah, bangkit, memutuskan untuk terus bernapas dan membalaskan dendam.

Konon Hugh Glass (sekali lagi diperankan oleh Leonardo DiCaprio)—benar-benar hidup di tahun 1820’an. Kisah luar biasanya tersiar melalui mulut ke mulut, dimuat dalam surat kabar hampir seabad kemudian, dan menjadi bagian dari literatur Amerika. Lantas dari generasi ke generasi kisah Hugh Glass dituangkan dalam berbagai buku, puisi, hingga sekarang film.

Hugh Glass dan ceritanya lantas menjadi mitos bagi bangsa Amerika yang sebenarnya tidak memiliki mitologi, seperti Yunani, bangsa Skandinavia, atau bangsa-bangsa di Asia. Layaknya mitos, tentu banyak penambahan dramatisasi di dalamnya, sesuai dengan interpretasi individu yang menceritakannya. Hal yang sama terjadi dalam The Revenant arahan Iñárritu, yang turut menulis naskahnya bersama Mark L. Smith, berdasarkan novel berjudul sama rilisan tahun 2002 karya Michael Punke.

Interpretasi Iñárritu membawa kisah Hugh Glass lebih dari sekadar mitologi heroisme tentang seseorang yang bertahan hidup melawan maut. Di tangan sutradara Meksiko tersebut, kisah Glass dibawa kepada sebuah kontemplasi mengenai spiritualisme dan tentang memaknai kekuatan alam. Terlihat ambisi Iñárritu membawa mitologi Glass ke tingkatan lebih tinggi dan kompleks, serta memperlihatkan kapabilitasnya sebagai seorang auteur. Sebuah usaha yang patut dihargai, meski tidak bisa dikatakan berhasil sepenuhnya.           

Iñárritu memang dikenal sebagai seorang sineas yang enggan dengan kelembaman dalam berkarya. Ia selalu ambisius, bahadur, dinamis, dan eksperimental. Akan tetapi The Revenant—seperti film-filmnya sebelum ini—cenderung hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Penonton awam mungkin akan mengikuti euforia ambisinya di layar bioskop, namun setelah film usai, ceritanya menguap begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam dan mereka enggan untuk menontonnya lagi setelah itu.

Iñárritu juga gemar memasukan unsur “brutal”dan kematian, serta memandang keduanya sebagai bagian tak terpisahkan dari pembabakan sejarah manusia sejak zaman purba.

Lihat saja metafora pertarungan anjing di film yang pertama kali melambungkan namanya di kancah internasional, Amores Perros. Lalu dilanjutkan dengan dua filmnya yang menjadi bagian Death Trilogy, 21 Grams dan Babel. Bahkan di karyanya yang paling aman, Birdman (or the Unexpected Virtue of Ignorance), Iñárritu memaparkan brutalnya dunia industri hiburan terhadap para pegiatnya.

Di The Revenant, Iñárritu menyandingkan kebrutalan dengan keindahan. Memadukan eksotisme spiritual nan puitis dan hal tersebut terpapar sejak awal film.

Hugh Glass (Leo) diperlihatkan bersama seorang wanita Indian Pawnee dan seorang anak kecil. Mereka terlihat tidur dengan damai dan tenang. Lalu diperlihatkan juga mereka bertiga layaknya sebuah keluarga kecil, menikmati sore yang damai di bawah lembayung senja. Ada suara berbisik terdengar. Suara Glass yang meminta anaknya tenang. Ada kekuatan meninabobokan di suara itu, namun juga ada nada yang mengisyaratkan marabahaya.

Tenang, Nak. Selama engkau mampu menarik nafas, berjuanglah…”

Tak butuh waktu lama, ketenangan dan kedamaian itu dirusak oleh sebuah kilas adegan kekacauan, maut dan kehancuran. Layar pun menjadi hitam, sebelum kemudian mempertontonkan aliran air jernih yang menyejukkan.

Opening sequence yang tak lebih dari 3 menit tersebut menetapkan mood film selanjutnya. Ada sentuhan Terence Malick di Tree of Life di sana. Wajar, karena sang pengarah kamera adalah Emmanuel “Chivo” Lubezki, yang juga menjadi sinematografer di Tree of Life.

Di The Revenant. DiCaprio bisa jadi menjadi pemeran utama, demi menarik minat penonton. Akan tetapi. gambar-gambar hasil tangkapan kamera Chivo-lah yang menjadi bintang sesungguhnya.

Kamera Chivo tak bisa berada di posisi stagnant di sini. Terus bergerak secara dinamis mengikuti kemana cerita dan karakternya bergulir. Kadang kamera Chivo membawa penonton sebagai pengamat konflik, kadang menangkap dan menyajikan keindahan alam sekeliling, atau terkadang melihat dari sudut pandang Glass. Seperti saat dia hendak menyelamatkan diri dari kawanan suku Indian Arikara di pinggir sungai.

Chivo pun habis-habisan mengeksplorasi berbagai teknik dengan kameranya. Ia memakai gimmick faux one-long continuous shot seperti yang dilakukannya di Birdman. Memakai teknik German expressionist dan close-up untuk menangkap, serta meningkatkan tensi emosi di wajah pemain, atau seringkali mengambil keagungan alam melalui wide-shot.

Lewat kamera Chivo-lah, Iñárritu berhasil menggapai ambisinya menyampaikan kisah Glass ke sebuah tingkatan mitologi baru. Memberikan sentuhan puitis spiritualisme ke dalamnya.

Bekerjasama dengan penyunting gambar, Stephen Mirrione, Chivo menangkap keindahan alam, memperkayanya, dan menyajikannya sebagai kecantikan yang mengandung petaka. Bahwa di setiap keindahan ada maut menanti, namun manusia harus memaknainya.

Chivo memang mengamati dan mengeksplorasi alam. Ia kabarnya murni memakai pencahayaan alam dalam menangkap gambar, tidak mau merusaknya dengan tata cahaya buatan manusia. Hasilnya pun memang menggetarkan hati.

Lihat saja saat kameranya menangkap langit biru di atas hutan, sesaat setelah pertarungan brutal antara tim ekspedisi Hugh Glass dengan pasukan Indian Arikara. Atau keelokan cahaya mentari yang menembus tetesan salju di ranting pohon. Selalu ada pola bahwa Mirrione menampilkan keindahan hasil tangkapan kamera Chivo, setelah adegan yang mengaduk emosi penonton. Seolah berfungsi sebagai penyejuk mata, sebagai intermission, atau sebagai pengingat bahwa di balik kecantikan tersebut ada bahaya menanti.

Perhatikan pula di adegan ikonis saat induk beruang menyerang Hugh Glass secara brutal. Morrione enggan menggunakan teknik penyuntingan jump-cuts layaknya saat menyajikan pertarungan dahsyat di film aksi. Morrione memilih menyajikannya sebagai adegan tak terputus, mengamatinya dengan rasa ingin tahu tinggi, dan membuat penonton seolah menyaksikan film dokumenter tentang bagaimana bila seorang manusia menjadi mangsa binatang buas. Hal yang sama juga diterapkan di saat pertarungan finale, antara kepengecutan dan kehormatan; antara ketamakan dan keadigunaan; antara keculasan dan sifat kesatria, yang diwakili oleh karakter Fitzgerald dan Glass.

Sayangnya, keputusan Iñárritu memenuhi ambisinya membawa kisah Hugh Glass ke sebuah kontemplasi spritual, mengabaikan hak penonton untuk menikmati kisah (yang sebenarnya) sederhana ini sebagai sebuah sajian cerita yang enak untuk diikuti.

Seperti rumor bahwa Iñárritu memaksa kru dan pemerannya melalui “ujian ketahanan fisik dan mental”, The Revenant juga membuat penonton merasakannya. Seting lokasi yang bersalju dan muram, keputusan untuk menggunakan banyak transitional shots  dan adegan kilas balik, serta close-up ke wajah pemain dan objek tertentu, menjadikan film berdurasi 2,5 jam ini membosankan.

Menurunnya grafik cerita terjadi, terutama saat Glass memulai perjalanannya semenjak ia “bangkit dari kubur” demi membalas dendam. Bagi penonton yang sabar dan mengenal Iñárritu, pasti sudah mengantisipasi hal ini. Namun, penonton yang termakan materi marketing berupa trailer dengan pace cepat dan “menjual” Leonardo DiCaprio, akan sering melihat jam dan berharap film akan cepat kelar.

Keputusan Iñárritu “menjejalkan” berbagai isu lain, seperti kolonialisme, ketamakan, kearifan lokal budaya bangsa Indian, mistis, dan politik, membuat The Revenant terasa begitu hiruk pikuk.

Seperti sub-plot hilangnya gadis Indian suku Arikara yang kemudian membuat mereka membabi buta menyerang setiap kumpulan orang kulit putih, seperti tim ekspedisi Glass. Berbagai ornamen cerita tersebut lantas membuat The Revenant terasa memiliki struktur episodic, yang sebenarnya tidak terlalu banyak memberikan sumbangsih dalam memperkaya kisah perjalanan Glass.

Saat Glass sekarat setelah diserang oleh induk beruang, timnya mengkhawatirkan bagaimana mereka bisa menemukan jalan pulang ke pemukiman mereka, karena Glass adalah satu-satunya orang yang menguasai rute. Namun kemudian, Kapten Andrew Harry dan rombongannya berhasil kembali dengan selamat. Hal sama terjadi dengan pengenalan suku Indian Arikara, yang akhirnya, hanya bersinggungan singkat dengan kisah Glass.

Kisah di The Revenant sebenarnya serupa dengan dongeng bertahan hidup di dua film nomine Best Picture Oscar lainnya, Mad Max: Fury Road dan The Martian. Kedua judul film yang disebut belakangan, sama-sama menampilkan sesosok orang yang mesti bertahan hidup di tengah alam tak bersahabat.

Kesamaan lebih dalam terdapat antara Fury Road dan Revenant, karena karakter utama di kedua film ini harus berdamai dengan “hantu dari masa lalu”. Kedua film ini juga dijejali dengan isu lingkungan, alam, politik, dan spiritual. Keduanya juga sama-sama proyek ambisius. Tetapi, Fury Road lebih bisa dinikmati karena sutradara George Miller  memfokuskan diri pada cerita bagaimana karakternya bisa bertahan hidup dan menekankan pada gaya, serta struktur cerita straight forward. Miller tidak “membebani” penonton dengan berbagai transitional shots, yang membuat grafik cerita menurun. Miller menuturkan ceritanya tanpa tedeng aling-aling, sedangkan Iñárritu banyak membuat kiasan yang terkadang terkesan pretensius.



Saat Leonardo DiCaprio Menjadi Bintang Utama, Tom Hardy Justru Mencuri Perhatian

 DiCaprio boleh saja menjadi pemeran utama. Memikul sebagian besar tanggung jawab penyampaian cerita di bahunya. Namun, bukan tugas yang mudah saat ia harus “berhadapan” langsung dengan salah satu aktor terbaik saat ini, Tom Hardy.

Tom Hardy mengisi tahun lalu lewat serangkaian penampilan gemilang. Ia memukau penonton sebagai penjelajah kesepian di tengah kehancuran dunia di Mad Max Fury Road. Dia juga berhasil menduplikasi dirinya sebagai kembar criminal di Legend.

Selain kamera Chivo, Tom Hardy memang menjadi bintang kedua di The Revenant. Alih-alih DiCaprio.

Karakter Fitzgerald yang diperankan oleh Hardy akan dengan mudah menjadi karakter antagonis satu dimensi, bila di tangan aktor lain (kualitas sama akan didapatkan bila karakter ini diperankan oleh Michael Fassbender, salah satu aktor muda hebat lainnya). Tetapi  Hardy sanggup memberikan dimensi lebih ke karakter Fitzgerald, karakter alpa akan latar belakangnya, melalui gerak mata, gerak tubuh, bahkan ke gesture tubuh kecil, seperti saat ia menggaruk kepalanya yang ditumbuhi rambut berpotongan pitak di sana-sini.

Cara dia mengungkapkan pendapat, kita tahu ia adalah seorang provokator ulung. Cara dia mengintimidasi sekeliling, Hardy menunjukkan bahwa karakternya adalah alpha-male sebanding dengan karakter DiCaprio.

Hardy bahkan mengundang empati, saat ia mengungkapkan sedikit latar belakang terkait ayahnya, yang menganggap bahwa Tuhan bisa berbentuk seekor tupai. Saat pertarungan final, ia masih mampu memprovokasi Glass, dan justru mengundang simpati. Di tangan Hardy, karakter Fitzgerald lebih dari sekedar karakter pengecut dan pengkhianat.

Sebaliknya, DICaprio seolah memiliki jarak antara ia dan karakternya. Dia boleh jadi bergelut melawan beruang; berteriak dan menggeram saat dia dalam kesakitan dan menyaksikan pengkhianatan; tersiksa oleh dinginnya salju; atau bahkan memakan ikan dan liver mentah. Akan tetapi, penampilan DICaprio lebih terlihat sebagai penampilan yang dipicu oleh rintangan cuaca dan geografis. Di tangannya, Glass lebih terlihat sebagai orang yang sekadar menjalankan kewajiban, agar cepat selesai dari penderitaan. DiCaprio terlihat lebih berusaha menampilkan mimik, tapi tidak melebur ke jiwa Glass.

Jarak yang diperlihatkan DiCaprio ke karakternya, jelas terlihat tatkala dia bersama aktor Forrest Goodluck, yang menjadi anaknya. Saat berdampingan, DiCaprio tidak terlihat memiliki tautan emosi antara ayah dan anak dengan karakter Goodluck. Lebih terlihat sebagai seorang dewasa kulit putih yang melihat eksotisme seorang remaja Indian. Tak terasa kesan melindungi seorang ayah kepada anak, hal yang semestinya diperlihatkan DiCaprio. Terlebih, saat motivasi Glass membalaskan dendam timbul karena ia melihat anak angkatnya itu dibunuh di depan matanya.

Di atas semua itu, DiCaprio di The Revenant masih terasa sebagai Leonardo DiCaprio. Bukan sebagai karakter Glass.

Menarik untuk dilihat bahwa sebenarnya DiCaprio mampu melebur di karakter yang menuntut dia lebih subtle dan membumi. Bukan karakter extravaganza seperti Hugh Glass. Lihat penampilannya di Blood Diamond dan Shutter Island. Di dua film tersebut, DiCaprio menjadi karakternya. Bukan sebagai Leonardo DiCaprio.



Alegori Spiritual dan Reliji.

Terlepas dari kelemahannya, The Revenant sebenarnya memang merupakan alegori spiritual dan agama. Pilihan Iñárritu untuk menambahkan suku Indian di film ini bisa dimengerti, karena mungkin latar belakangnya di Meksiko membuat ia sering bersentuhan dengan budaya Indian, tema kematian, dan mistis.

Suku Indian sebagai penduduk asli tanah Amerika, sering digambarkan sebagai sosok penjaga alam. Kearifan mereka dalam membaca, mengenali, dan memanfaatkan tanda-tanda alam telah dikenal selama ribuan tahun. Sosok kulit putih, sebagai pendatang, kerap dituding sebagai perusak, dan lebih mengutamakan pemikiran logis, ketimbang menggunakan pemahaman spiritual.

Pilihan menjadikan Glass sebagai sosok Caucasian yang bersinggungan secara emosional dengan spiritualisme Indian, menjadikannya sebagai sosok protagonis yang punya alasan dan motif spiritual.

Iñárritu juga memakai berbagai alegori Kristiani ke dalam filmnya. Istilah “Revenant” sendiri mengingatkan akan Yesus Kristus yang berhasil bangkit dan membawa pencerahan, karena Glass di film ini memang secara harfiah benar-benar dikubur dan kemudian bangkit.

Ada juga alegori terhadap pembaptisan, saat Glass memutuskan menenggelamkan diri ke sungai, saat dikejar oleh pasukan Indian Arikara. Ia lalu kembali bangkit dan menjadi sosok yang lebih segar.

Setelahnya Glass kembali “dikubur” oleh seorang lelaki Indian Pawnee yang akhirnya digantung oleh tim penjelajah Perancis. Sang lelaki Indian itu “mengubur” Glass untuk menyembuhkan luka-lukanya yang sudah membusuk dan terkena infeksi, serta mendirikan “makam” untuknya. Glass kemudian kembali muncul sebagai seseorang yang lebih sehat dan segar, sebuah contoh nyata lain dari alegori Kebangkitan Kristus.

Iñárritu juga menaruh isu keseimbangan alam secara amat serius ke dalam film ini. Contoh nyata adalah lambang spiral yang ditorehkan karakter Bridger (Will Poulter) ke wadah minumannya. Kamera Chivo secara jelas dan gamblang menyorot lambang ini dua kali, saat Bridger meninggalkan wadah minuman di “makam” Glass, serta saat Glass secara tak sengaja meninggalkannya setelah mencuri kuda dari kawanan penjelajah Perancis.

“Spiral” tersebut adalah lambang dari World Phanteist Movement yang dalam salah satu ajarannya meyakini bahwa semua hal, energi, dan kehidupan adalah sebuah kesatuan yang saling terhubung dan manusia menjadi bagian tak terpisahkan darinya. Bahwa manusia adalah bagian integral dari alam.

Keyakinan tersebut beberapa kali diperlihatkan oleh Iñárritu.

Pertama saat Glass diperlihatkan memakai bulu dan kulit beruang yang sudah nyaris membunuhnya. Memperlihatkan sebuah koneksi rantai energi bahwa Glass justru mendapatkan manfaat dari mahluk yang beberapa saat sebelumnya hampir mengirim Glass kea lam barzah.

Kedua saat Glass menggunakan kudanya yang mati, untuk melindungi dirinya dari hypothermia. Ia membelah perut sang kuda, mengeluarkan isinya, lalu bergelung di dalamnya. Glass memanfaatkan lemak dan panas tubuh sang kuda, untuk menyelamatkannya dari ancaman kematian. Sebuah contoh nyata dari koneksi rantai energi dan implementasi keyakinan World Phanteist Movement.

Konsep antara alam dan manusia dalam The Revenant pun bisa diterima dalam ajaran Islam. Dalam Al Quran, manusia disebut sebanayak 8 kali sebagai Bani Adam, dan diciptakan melalui proses penyatuan antara kehendak Ilhi dan alam, serta tersusun dari komponen-komponen, seperti;  tanah (QS Ar Rahman [55]:14), saripati yang tersaring dari tanah, tanah kering yang terbakar, tanah liat kering yang berasal dari lumpur, air dan Roh. Elemen-elemen tersebut juga terdapat di film ini.

The Revenant dengan segala kompleksitas yang dijejalkan ke dalamnya, lebih terasa seperti sebuah film arthouse berbujet mahal tentang kisah klasik mengenai perjuangan bertahan hidup. Terlepas dari struktur cerita yang tidak menjadikan film  ini sebagai tontonan semua orang, Revenant (bersama Mad Max Fury Road)  membuktikan bahwa ambisi menjadikan sebuah film sebagai sarana seni dan kebebasan berekspresi, adalah syarat hakiki untuk menjamin keberagaman di industri film mainstream yang kian lama kian monoton lewat cerita daur ulang dan kenyamanan status quo invasi film adaptasi komik.

The Revenant memang film yang penting, tapi bila mengingat bahwa eksekusinya yang relatif sulit dipahami oleh semua orang, menjadikan film ini bukan yang terbaik.

Karena film terbaik semestinya adalah mampu menceritakan sebuah gagasan besar yang mampu menyatukan banyak orang. Bukan film ambisius yang setelah usai, tidak meninggalkan kesan mendalam.

(3/5)

Twitter : @Picture_Play

Still in theaters

Running time : 156 minutes

Distributed by : 20th Century Fox

Production Company  : New Regency Pictures, Anonymous Content, M Productions, Appian Way, Regency Enterprises, RetPac Entertainment

Directed by : Alejandro Gonzales Inarritu

Produced by : Arnon Milchan, Steve Golin, Alejandro Gonzales Inarritu, Mary Parent, Keith Redmon,    James W. Skotchdopole

Screenplay by : Mark L. Smith, Alejandro Gonzales Inarritu

Starring  : Leonardo DiCaprio, Tom Hardy, Domnhall Gleeson, Will Poulter

Music by : Ryuichi  Sakamoto, Alva Noto

Cinematography by : Emmanuel “Chivo” Lubezki

Edited by  : Stephen Mirrione

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s