snowden-movie-poster

Snowden Review & Analysis : Selamat Datang Kembali, Oliver Stone!

September 25, 2016

“Stone memberikan beberapa jawaban apa yang saya tanyakan; menghadirkan dimensi dan tekstur yang lebih berwarna terhadap subjek utama cerita yang amat mudah kita temui di era internet.”




Selamat datang kembali, Oliver Stone!

Itulah ekspresi yang langsung saya lontarkan seusai menonton Snowden, film terbaru karya Oliver Stone. Menyaksikan film itu, saya kembali melihat seorang Oliver Stone yang saya kenal lewat Born on the Fourth of July, JFK, Nixon dan W.. Seorang sineas sekaligus sejarawan yang mengenal dengan baik tokoh dan ceritanya. Seorang pencerita yang mampu menggugah kewaspadaan terhadap kekuasaan yang menggerus rasa kemanusiaan dan berselimut konspirasi. Seorang teman yang mengingatkan kita untuk terus berani mengungkapkan sebuah kebenaran. Seorang berjiwa patriot yang memiliki suatu kewastikaan dalam mengkritisi negara yang dicintainya.

Lewat Snowden, Stone berhasil menceritakan suatu sisi lain dari sebuah cerita yang telah banyak kita ketahui. Seperti yang dia lakukan di keempat film yang saya sebutkan di atas. Stone memberikan beberapa jawaban apa yang saya tanyakan; menghadirkan dimensi dan tekstur yang lebih berwarna terhadap subjek utama cerita yang amat mudah kita temui di era internet. Anda cukup meng-Google kisah Edward Snowden, seorang analis information and technology National Security Agency (NSA) yang kemudian menjadi seorang whistleblower saat dia menceritakan keburukan pemerintah Amerika Serikat yang memanfaatkan data pribadi jutaan warga dan penduduk negara lain, demi keuntungan negara adikuasa itu. Tujuan mengakses metadata itu bukan hanya demi melindungi warga dan mengantisipasi serangan teroris paska serangan 9 September, melainkan juga demi motif ekonomi dan kekuasaan.

Dalam film Terminal F/Chasing Edward  Snowden (2015)—film dokumenter berdurasi 58 menit yang bercerita mengenai Edward Snowden yang terkatung-katung di bandara Sheretmetyevo  sebelum mendapat suaka politik dari pemerintah Rusia–  pendiri Wikileaks, Julian Assenge, mengatakan bahwa dia kagum kepada Snowden. Assange kagum kepada pria yang waktu itu baru berusia 29 tahun dan sudah mencapai suatu posisi penting di sebuah instansi pemerintah paling berkuasa, namun berani melepaskan semuanya demi mengungkapkan suatu kebenaran.

Snowden memberi kita jawaban dari kekaguman Assange. Mengapa Snowden menerima sebuah pencapaian karir di usia yang masih amat muda. Mengapa dia mengambil resiko melepaskannya. Apa yang dia rasakan sewaktu mengambil keputusan yang bisa mengancam jiwanya.

Memang amat membantu bila Anda sudah terlebih dahulu menonton Terminal F/Chasing Edward Snowden ; menonton dokumenter pemenang Oscar, Citizenfour (2014); menonton dokumenter HBO-nya; atau membaca buku No Place To Hide, kisah tentang aksi whistleblower Snowden yang ditulis oleh Glenn Greenwald (dalam Snowden diperankan oleh Zachary Quinto), jurnalis Guardian yang menjadi salah satu orang pertama yang menulis kisah konspirasi mengerikan itu.; atau buku The Snowden Files karya Luke Harding yang menjadi landasan Stone dalam bercerita. Lewat berbagai materi tersebut, Anda akan bisa memahami urgensi kisah ini hingga difilmkan. Setidaknya, Anda akan lebih memahami istilah-istilah yang dipakai di film.

Lewat film Citizenfour, misalnya. Melalui berbagai footage asli yang diambil oleh sutradara Lara Poitras (di film arahan Stone diperankan oleh Melissa Leo), kita dibawa mengenal apa rahasia yang dibeberkan Snowden. Kita tahu bagaimana suara Snowden yang dalam, namun memiliki artikulasi jelas saat bicara dan menerangkan hal-hal pelik; wajah aslinya; atau sosoknya yang pendiam dan cerdas, tapi memiliki aura positif yang menular.

Di Snowden, kita dibawa mengenal lebih jauh sisi-sisi di luar apa yang ditangkap kamera Poitras dan estetika cinema veritae yang digunakannya. Kita dibawa menalar dan menelaah siapa dia, atau apa motivasinya.

“Generasi millennial dan pecandu internet awam memang merupakan target utama Snowden. Oliver Stone paham betul akan hal itu. Stone tidak berniat untuk menampilkan sebuah revisi sejarah.”



BIOPIC PENTING UNTUK GENERASI MILLENIAL

Snowden bermula bagaikan spin-off dari Citizenfour. Saat Edward Snowden pertama kali bertemu dengan Poitras dan Greenwald di lobi  Hotel Mira di Hong Kong, sebelum mereka mendokumentasikan pengungkapan rahasia yang teramat rahasia. Kamera menyorot kubus rubik yang dipegang Snowden. Mainan yang menjadi kegemaran, sekaligus jimat keberuntungan pria muda ini.

Sosok Snowden di film arahan Stone diperankan oleh Joseph Gordon Levitt (JGL- 500 Days of Summer, The Walk). JGL amat meyakinkan dalam perannya. Keputusan untuk mengkasting dia amatlah tepat. JGL merupakan aktor karakter muda yang terlampau sering tidak dianggap. Dia mungkin bukan seorang penganut method-acting yang belakangan justru mengalami peyorasi lewat pendalaman karakter yang berlebihan oleh seorang aktor. Cara berakting JGL lebih menyerupai Brad Pitt. Lebih membawa kita kepada sebuah observasi, ketimbang studi karakter. Dia punya pesona di layar, namun juga selalu berhasil memberikan kedalaman karakter di perannya. Sebagai Snowden, JGL sukses menghadirkan suara yang amat mirip dengannya. Menyampaikan hingga ke gesture kecil yang sungguh meyakinkan. Mewujudkan karakter seseorang yang awalnya penuh optimisme, menjadi seseorang yang mengidap sifat paranoid akut. JGL, lewat arahan Stone, juga bisa menampilkan sosok Snowden sebagai sosok manusia biasa. Hubungannya dengan para karakter lain, membuat dia terasa “dimanusiakan”. Tidak diagung-agungkan tanpa cela. JGL mungkin akan tidak mendapatkan nominasi awards atas perannya sebagai Snowden, karena dia membawakannya secara subtil dan halus. Tapi yang terpenting adalah dia membawakan perannya sesuai kebutuhan. Memberikan semangat jiwa muda dalam sebuah film biografi penting bagi generasi millennial.

Generasi millennial dan pecandu internet awam memang merupakan target utama Snowden. Oliver Stone paham betul akan hal itu. Stone tidak berniat untuk menampilkan sebuah revisi sejarah. Semua yang diceritakan di film ini bisa kita temui dengan mudah lewat berbagai sumber yang bisa Anda peroleh dengan sekali klik di aplikasi penjelajah internet. Stone tidak mengajak kita untuk melakukan sebuah studi karakter terhadap Snowden. Alih-alih, Stone mengajak kita untuk melakukan observasi. Membawa kita kepada sebuah perenungan atas isu penting yang sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Stone menjadikan Snowden sebagai sebuah film biografi dengan sentuhan kekinian. Sesuai dengan teknologi internet yang terus diremajakan dan diperbaharui. Snowden bukan sebuah film bertempo lambat dan dalam palette warna sephia seperti film-film biografi dia sebelum ini. Film ini dinamis, dengan penyuntingan yang memakai pendekatan genre thriller. Warna biru elektrik mendominasi film ini. Terkadang ada sentuhan warna keemasan saat kisah romansa antara Snowden dan kekasihnya ditampilkan. Menghadirkan perasaan hangat dan segar. Pewarnaan digital yang terang benderang dalam rasio cinemascope dihadirkan, lewat penggabungan penggunaan kamera analog dan digital yang berpadu rapi. Semangat kekinian juga terasa lewat pencantuman musik score bernuansa elektronik. Terkadang kita juga mendengar score dengan semangat patriotisme yang membuat adegan menjadi “naik” dan gegap gempita. Menjadikan Snowden sebagai film biografi Stone yang paling moderen, berjiwa muda, bercita rasa komersil dan ringan. Meskipun tema ceritanya amat pelik.

Keputusan Stone dalam menyajikan Snowden dalam semangat kekinian memang amat dimengerti. Cerita tentang peretasan data internet saat ini sudah amat berubah sejak film Jerman, Who Am I? No System is Safe (2014) dan serial televisi, Mr. Robot, diterima dengan sangat baik oleh penikmat film. Stone seolah tidak ingin mengulangi kesalahan Michael Mann dalam BlackHat (2015), sebuah thriller bertema peretasan yang ditampilkan dalam cita rasa film era 80’an. Stone juga terlihat tidak terlalu bernafsu dalam menampilkan detail teknis ilmu komputer yang njelimet. Berbagai istilah terkait teknologi ditampilkan sesuai porsi, untuk menghadirkan korelasi dengan dunia dan konflik yang dialami tokoh utama. Toh, bila Anda tertarik mempelajari lebih lanjut, Anda bisa meng-Google.

Kisah Snowden disampaikan lewat alur campuran, secara tandem menggabungkan antara kisahnya di masa lampau dan masa saat dia bertemu dengan para jurnalis untuk membagi rahasianya. Kedua alur itu terjalin dengan mulus. Dengan kisah romansa sebagai garis tengah, berlatar waktu berjarak hampir satu dekade saat Snowden meninggalkan latihan militer di angkatan darat, hingga tahun 2013 saat dia mengungkapkan rahasia pemerintah Amerika Serikat.

Kita diajak mengenal Snowden di masa mudanya, saat dia secara antusias mengikuti program wajib militer. Mengingatkan akan karakter Ron Kovic milik Tom Cruise di film arahan Stone yang berjudul Born on the Fourth of July. Beberapa shots kamera saat pelatihan pun mengingatkan saya terhadap film itu. Menampilkan sebuah jiwa muda yang masih memandang semangat patriotisme secara tulus. Niat untuk membela negara tanpa ada agenda tersembunyi.

Sial, Snowden mengalami suatu kecelakaan yang membuat tulangnya retak dan dia harus meninjau ulang perjalanan karirnya. Untungnya, Snowden memiliki otak yang encer. Dia menguasai berbagai bahasa pemrograman, sebagaimana kemampuannya menguasai bahasa asing. Termasuk bahasa isyarat.

Snowden lalu mendaftar masuk Central Intelligence Agency (CIA) dan, karena otak encernya, ia diterima. Dia tak bersikap menjilat saat diwawancari oleh petinggi CIA, Corbin O’Brian (diperankan dengan penuh otoritas yang mengintimidasi oleh Rhys Ifans). Dia jujur saat berkata keinginannya untuk masuk CIA supaya dirinya terlihat “keren”.

Hubungan antara Corbin dan Snowden digambarkan sebagai hubungan antara mentor dan murid di film ini. Corbin melihat Snowden sebagai murid dan anak muda yang amat berbakat. Snowden melihat Corbin sebagai tempat untuk meminta nasihat terkait pekerjaan. Sampai akhirnya, Snowden memilih jalannya sendiri.

Karakter Corbin milik Rhys Ifans sebenarnya bisa digali lebih lanjut. Stone sebenarnya bisa menghadirkan Corbin sebagai sosok antagonis tulen berbahaya, seperti saat dia menciptakan karakter Gordon Gekko milik Michael Douglas di Wall Street, misalnya. Sayangnya, memang, Corbin tidak dieksplorasi lebih jauh di film ini. Ada satu momentum yang sebenarnya menggambarkan Corbin sebagai antagonis, yaitu saat dia melakukan pembicaraan via satelit dengan Snowden. Corbin jelas memberitahu bahwa dia sampai mengakses laptop pribadi milik kekasih Snowden. Sungguh disayangkan, karena Stone lebih memilih untuk “menahan” karakter ini.

Dalam satu momen wawancara dan tes psikologi, Snowden muda diberi satu pertanyaan strategis, “ Do you believe that United States is the greatest country in the world?”. Pertanyaan yang diajukan sembari semacam alat pendeteksi kebohongan ditempelkan ke syaraf Snowden, yang mampu menilai apakah dia berkata jujur atau tidak, yang hasilnya ditampilkan lewat grafis.

Momen ini amat menarik dan berhasil menempel di memori saya. Sebuah momen yang menunjukkan kesungguhan, kepolosan dan jiwa bela negara yang masih murni dari Snowden muda. Tes ini kembali diberikan di film. Saat Snowden sudah mengerti kebohongan dan manipulasi yang dilakukan oleh pemerintah federal Amerika Serikat. Momen ini memperlihatkan proses pendewasaan dan pencerahan Snowden, sekaligus mulai lunturnya rasa bangga sebagai seorang warga negara yang pemerintahnya justru berbuat curang.

Karir Snowden cepat sekali menanjak. Itu karena dia mampu berpikir strategis, taktis dan cerdas. Saat dia mulai meniti karir, Snowden pun bertemu dengan seorang gadis cerdas yang hobi fotografi, Lindsay Mills (diperankan dengan pas oleh Shailene Woodley).

Stone menggambarkan hubungan antara Snowden dan Mills, seperti hubungan romansa yang bak sahabat. Mereka lebih dari sekadar sepasang kekasih muda yang sedang mabuk kepayang. Mereka digambarkan sebagai pasangan dengan kedewasaan sikap. Saling mendukung satu sama lain. Wajar bila nanti ada penilaian bahwa chemistry mereka tak lebur, karena seperti ada jarak di antara mereka. Tapi, itulah yang diinginkan oleh Stone. Snowden dan Mills adalah dua pemuda dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. Yang sudah memandang hubungan asmara dalam tingkatan “menerima satu sama lain”. Ada cemburu dan konflik, tapi lebih disebabkan kesalahpahaman yang timbul akibat jiwa Snowden yang mulai terkikis oleh sifat manipulasi di tempatnya bekerja. Kisah romansa antara Snowden-Mills lantas dijadikan frame penceritaan oleh Stone, untuk menggambarkan proses lunturnya sifat polos dan optimisme dalam diri Snowden. Karakter Mills milik Woodley lebih sebagai kontrol. Seperti yang diperlihatkan karakter milik Jennifer Connolly di A Beautiful Mind terhadap karakter milik Russell Crowe.

Rasa kecintaan dan bangga Snowden kepada Amerika Serikat mulai tergerus saat dia menemukan fakta bahwa begitu mudahnya berbagai metadata informasi teknologi dikumpulkan dan digunakan oleh NSA (National Security Agency) untuk memata-matai setiap warga negara. Berdasarkan peraturan hukum federal, semestinya data-data tersebut baru bisa diakses bila agensi federal mendapat persetujuan dari pengadilan. Bahkan, Snowden menemukan data bahwa warga negara asing pun bisa dimiliki datanya oleh pemerintah Amerika Serikat, tanpa perlu melewati prosedur yang sudah ditetapkan oleh Foreign Intelligence Surveillance Court (FISA Court)—sebuah institusi hukum yang mengatur tindak mata-mata terhadap pihak asing demi keamanan negara–.

Snowden kemudian sadar bahwa dia tidak bisa berdiam diri. Hati nuraninya menjerit. Lalu, dia mengambil keputusan yang kita kemudian sudah ketahui. Menghubungi satu sutradara dokumenter dan dua orang jurnalis terpercaya untuk merilis kecurangan yang telah dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat ke publik.

“Menjadikan film ini tidak seberani Nixon atau W. di mana Stone tak segan memberi sentuhan intepretasinya dalam karakter utama.”



“KURANG BERANI”-NYA OLIVER STONE

Perlu adanya revelation, sebuah pengungkapan hal baru agar cerita yang sudah diketahui publik seperti milik Snowden tetap memberikan informasi faktual agar filmnya tetap menimbulkan ketertarikan penonton untuk mengikuti.

Stone sadar akan hal itu.

Revelation dihadirkan seolah sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang timbul setelah kita menyaksikan film dokumenter, khususnya Citizenfour. Kita diberi penggambaran bagaimana kondisi keuangan Snowden, sehingga (di film dokumenternya) dia bisa terlihat tenang, tanpa memikirkan kondisi finansial. Kita juga diberitahu bagaimana Snowden memiliki akses terhadap berbagai informasi rahasia penting dan cara dia meloloskannya. Adegan Snowden mengambil informasi, disajikan dalam pendekatan thriller spionase yang akan membuat hati kita deg-degan.

Kita juga diberi tahu drama yang terjadi di balik penulisan artikel dari info milik Snowden oleh dua jurnalis Guardian dan Washington Post. Seperti saat Ewen MacAskill (diperankan oleh aktor senior Tom Wilkinson, Sense and Sensibility)—jurnalis Washington Post—berdebat dengan editornya. Atau saat Glenn Greenwald milik Zachary Quinto mesti adu pendapat sengit dengan kepala redaksinya, agar artikel pertama Snowden diterbitkan.

Stone menjadikan drama di balik layar itu sebagai sebuah cerminan jurnalisme yang seharusnya. Tentang bagaimana sebuah surat kabar bereputasi ternama bertindak dalam menyikapi sumber berita potensial. Ada sentuhan ala Spotlight dan All President’s Men di sini. Sebuah satire terhadap dunia jurnalistik yang di era internet, semakin mengesampingkan kaidah dan etika. Penampilan detail-detail itu juga membuat Snowden terasa sebagai “sebuah film tentang pembuatan film dokumenter” Citizenfour.

Stone juga menghadirkan sebuah detail yang mengkritik penggunaan pesawat drone oleh militer yang kebablasan. Mentang-mentang negara adikuasa. Mengingatkan kita kepada kejadian pemboman oleh pesawat drone di Aleppo, Syria, yang baru-baru ini terjadi. Juga yang disentil dalam film Eye in the Sky (baca ulasannya).

Berbagai revelation tersebut memberikan kita kepada sebuah pemahaman komprehensif atas betapa berbahayanya penggunaan data rahasia yang diselewengkan oleh pemerintah super power seperti Amerika Serikat. Bahwa tindakan korup ini memiliki efek lintas disiplin.

Tetapi, Stone juga luput dalam berbagai detail.

Penyakit Snowden (tak akan diungkapkan di ulasan ini), misalnya. Ada kesan bahwa Stone memasukkan fakta ini hanya sebagai obligasi untuk menimbulkan “efek kejut” dan simpati. Itu, karena informasi itu tidaklah memiliki fungsi terlalu signifikan terhadap konflik secara keseluruhan. Hanya untuk menghadirkan efek dramatis.

Pun, tidak dijelaskan secara detail alasan Snowden dalam memilih Guardian dan Washington Post sebagai media utama dia dalam membeberkan rahasia. Bukan media terkemuka lain, seperti New York Times atau Wall Street Journal yang juga sama-sama dikenal sebagai media kredibel. Mungkin, Stone beranggapan detail tersebut bisa ditemukan penonton. Akan tetapi, detail tersebut sebenarnya penting bagi penonton yang tidak mengikuti kisahnya dan luputnya informasi itu memang berimbas pada relatif tipisnya penggambaran motivasi dia sebenarnya. Pun luput dicantumkan hubungan antara Snowden dan keluarganya yang sama sekali tidak disentuh. Menjadikan film ini tidak seberani Nixon atau W. di mana Stone tak segan memberi sentuhan intepretasinya dalam karakter utama.

Kesan “kurang berani’-nya Stone, juga terlihat dari alpanya dia dalam menggambarkan reaksi sesungguhnya pemerintah Amerika Serikat dalam menanggapi pembelotan Snowden. Kita sempat diberitahu bahwa ada dua orang agen federal yang menyambangi rumah Snowden dan pacarnya di Hawaii. Tapi, itu lebih terlihat sebagai penggambaran detail yang hanya diceritakan di dokumenter Citizenfour. Bandingkan dengan pembeberan berani Stone di JFK atau Nixon, saat pemerintah digambarkan dengan lebih lugas berupaya “mengakhiri” karir kedua presidennya.

Detail lain yang luput adalah momen dramatis saat Snowden hendak meninggalkan Hong Kong dan menuju Rusia. Sebuah detail yang bisa menambah ketegangan, yang di film dokumenter Terminal F/Chasing Edward Snowden tak terlampau detail dijelaskan dramatisasinya.

Tapi bila bicara dramatisasi secara keseluruhan, Stone berhasil menghadirkannya lewat sinematografi Anthony Dod Martle (Rush, Our Kind of Traitor). Bekerja dalam menghadirkan gambar-gambar indah yang digabungkan dengan footage hasil rekaman televise atau CCTV. Menghadirkan nuansa cinema veritae dan membangkitkan agitasi dalam diri Snowden, serta kita sebagai penonton.

Ada satu momentum indah, saat Snowden yang sedang tertidur di peraduannya, lalu siluet berwarna dalam latar keemasan muncul di tirai jendela. Momen saat Snowden bermimpi tentang masa depan hubungannya dengan Lindsay, sang kekasih. Momen ini menghadirkan unsur puitis.

Di lain adegan, Anthony Dod Martle secara brilian menghadirkan ketegangan antara Snowden dan Lindsay. Saat mereka beradu argumen secara sengit di sebuah apartemen di Jepang. Lindsay yang mulai curiga bahwa segala datanya diakses, menjerit kepada Snowden mengapa dia dimatai-matai. Mengapa mereka tak bisa seintim dulu. Lalu di sela-sela pertengkaran, kamera mengambil pengadeganan dari sudut pandang orang luar. Memperlihatkan keduanya seolah sedang diintai. Momen ini secara cerdas menggambarkan bahwa bahkan kedua tokoh utama cerita ikut diawasi oleh sebuah kekuatan besar. Bahwa tak seorang pun bisa luput dari pengintaian.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Stone memang tidak menghadirkan Snowden sebagai sebuah studi karakter atas seorang Edward Snowden, karakter enigmatis yang punya peran penting dalam pembabakan sejarah kontemporer. Sosok yang dianggap pahlawan oleh orang lain, tapi justru dianggap sebagai penjahat dan pengkhianat oleh negara yang dicintainya.

Stone memang lebih berfokus kepada isu yang ingin disampaikan. Bahwa privasi menjadi suatu konsep abstrak di era kecanggihan teknologi. Isu yang amat relevan seiring dengan polemik perusahaan teknologi informasi raksasa seperti Facebook yang bisa mengetahui segala informasi penggunannya, atau seperti Google yang disinyalir hendak memata-matai negara lewat ‘balon Google-nya’. Tentu kita masih ingat, bagaimana data-data dan nomor telepon pribadi kita bisa bocor ke sindikat “Mama dan Papa minta pulsa”. Atau nomor rekening bank yang bisa dimiliki oleh kawanan penjahat.

Snowden mengingatkan  kita akan pentingnya menjaga privasi. Di saat setiap kata yang kita masukkan ke berbagai jejaring sosial atau saat menjelajah internet, mewakili identitas dan kepribadian kita. Film ini mengajak kita untuk selalu waspada. Untuk selalu bersikap kritis kepada semua pihak, terutama pemerintah, supaya kita merasa aman.

Film ini juga tentang seorang yang berjiwa patriot dan ingin mengabdi kepada negara, justru akhirnya memiliki sikap apatis kepada negaranya. Mengajarkan kita bahwa sikap patriotis tidaklah mesti secara mutlak mengikuti keinginan politikus dan pejabat pemerintah. Kita tetap diharuskan menjaga sifat kritis. Seperti yang diucapkan oleh karakter Hank Forrester (diperankan dengan sangat baik oleh Nicolas Cage).

 “Pemerintah Amerika Serikat yang digambarkan sebagai “Atlas”, seorang raksasa Titan yang memanggul dunia di atas bahunya. Sebuah alegori dan metafora yang memang menggambarkan ambisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya pemegang supremasi kekuasaan tertinggi dunia. “



PERSONIFIKASI NOVEL KLASIK ATLAS SHRUGGED

Menarik untuk ditelaah dan disimak pada saat Snowden diwawancarai oleh pejabat CIA. Sewaktu ditanya tentang apa yang mempengaruhi tingkat intelektualitasnya, Snowden menjawab berbagai referensi.

Joseph Campbell, ‘Star Wars’, ‘Thoreau’ dan Ayn Rand,” begitu jawabnya.

Sang pewawancara lalu mengutip satu kalimat dari novel Atlas Shrugged, novel yang ditulis oleh Ayn Rand dan dirilis pada tahun 1957.

One man can stop the motor of the world,”. Satu orang bisa menghentikan pergerakan dunia.

Kutipan dan novel Ayn Rand itu merupakan alegori tersendiri bagi kisah Snowden. Kisah yang menceritakan Amerika Serikat di seting distopia, di mana pemerintah dan pengusaha industrialis menerapkan berbagai peraturan agresif yang akhirnya justru menimbulkan pemberontakan dan kehancuran pemerintah itu sendiri. Pemerintah Amerika Serikat yang digambarkan sebagai “Atlas”, seorang raksasa Titan yang memanggul dunia di atas bahunya. Sebuah alegori dan metafora yang memang menggambarkan ambisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya pemegang supremasi kekuasaan tertinggi dunia. Yang, untuk mencapai hal itu, segala daya upaya kemudian dihalalkan. Kutipan kata tersebut di atas adalah personifikasi sifat intrinsik Snowden, yang mendambakan “kebebasan” dan “kemandirian” sebagai hak semua orang. Tak pandang bangsa. Tak pandang ras. Tak pandang warna kulit.

Hal itulah, terlepas dari segala kealpaan dan kurangnya ambisi Stone untuk menyamai film-film masterpiece-nya, yang membuat Snowden tetap terasa istimewa.

Film ini menyampaikan suatu hal yang memiliki urgensi untuk direnungi, di balik kemasannya sebagai film biografi arahan Stone yang paling ringan dan ditujukan sebagai hiburan.

Menunjukkan bahwa seorang Oliver Stone belumlah kehilangan sentuhannya. Yang membuat saya bersemangat dan bergairah mengucapkan,

“Selamat datang kembali, Oliver Stone!”.

(4/5)

Reviewed at Planet Hollywood XXI on September 24, 2016 in Midnight Program.

Running time : 134 minutes

Imported and distributed for Indonesia by PT. Prima Cinema Multimedia

An Open Road Films release of an Endgame Entertainment, Wild Bunch, KrautPack Entertainment, Onda Entertainment Vendian Entertainment production

Producers: Moritz Borman, Eric Kopeloff, Philip Schulz-Deyle, Fernando Sulichin. 

Executive producers: Max Arvelaiz, Michael Bassick, Douglas Hansen, José Ibáñez, Peter Lawson, Serge Lobo, Bahman Naraghi, Tom Ortenberg, James Stern, Christopher Woodrow.

Director: Oliver Stone

Screenplay: Oliver Stone and Kieran Fitzgerald. 

Based on the book The Snowden Files, authored by Luke Harding

Camera (color, widescreen): Anthony Dod Mantle. 

Editors: Alex Marquez, Lee Percy.

Casts : Joseph Gordon-Levitt, Shailene Woodley, Rhys Ifans, Nicolas Cage, Melissa Leo, Zachary Quinto, Tom Wilkinson, Joely Richardson, Timothy Olyphant, Scott Eastwood, Ben Schnetzer.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s