Sully Review : Istimewa Bila Ditinjau Dari Perspektif Pemerintah Indonesia

September 16, 2016

“Dalam konteks proses investigasi kecelakaan pesawat yang dipiloti oleh Sully, menarik bila kita melihatnya sebagai kritik yang menohok pemerintah Indonesia”




Sully bukan hanya sekedar film bertema patriotisme yang mengusung semangat “The Star Spangled Banner” khas Amerika Serikat , tentang seorang pilot senior yang berhasil menyelamatkan ke-155 orang yang menjadi penumpang di pesawat yang dikemudikannya. Lebih dari itu, film ini merupakan sebuah kisah yang menyentil obsesi manusia umumnya yang selalu mencari sesosok pahlawan. Sully juga menyentil budaya kita yang tergila-gila dengan media. Tentang suatu perbuatan baik haruslah digembar-gemborkan melalui serangkaian kampanye public relation dan pencitraan diri lewat televisi, surat kabar dan majalah.

Satu hal lagi, Sully sekaligus mengkritik sikap paranoid dan penuh syak wasangka pemerintah Amerika Serikat yang selalu curiga. Tidak cukup sebuah perbuatan baik, karena segalanya harus dianalisis, diulas dan dicari kelemahannya. Meski proses itu dijalankan demi mencari fakta dan untuk menghindari kejadian sejenis yang bisa terulang di kemudian hari. Hanya saja dalam Sully, proses investigasi yang dilakukan terhadap pilot Chesly “Sully” Sullenberger (diperankan dengan karismatik oleh aktor kawakan, Tom Hanks), seolah memperlakukan dirinya sebagai tertuduh. Meski opini yang terbentuk di mata publik mengatakan bahwa dia adalah seorang pahlawan.

Dalam konteks proses investigasi kecelakaan pesawat yang dipiloti oleh Sully, menarik bila kita melihatnya sebagai kritik yang menohok pemerintah Indonesia. Pemerintah sebuah negara besar yang selama ini dikenal di mata penduduknya sendiri seringkali lamban dan lalai dalam melindungi warga negaranya, termasuk dalam melakukan investigasi kecelakaan pesawat maskapai penerbangan komersil yang kerap terjadi di negara ini. Setidaknya lewat Sully, pemerintah kita bisa melihat bagaimana suatu pemerintahan yang dibiayai oleh pajak warga negaranya bertindak melayani. Memberikan suatu proteksi terhadap pengguna transportasi umum.

“Clint Eastwood memberikan sentuhan paradigma aksi dalam film ini. Suatu hal yang bisa kita harapkan dari seorang sineas kawakan yang telah memberikan kita Unforgiven hingga Letters To Iwojima”



SENTUHAN PARADIGMA AKSI

Kisah dalam Sully berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh pesawat milik maskapai penerbangan komersil Amerika Serikat, US Airflight dengan kode penerbangan 1549 yang terpaksa harus menjalani pendaratan darurat di Sungai Hudson di New York pada saat musim dingin tanggal 15 Januari 2009. Kisah heroik yang kemudian dikenal sebagai “ Keajaiban di Atas Sungai Hudson” (Miracle on Hudson) itu sudah banyak didokumentasikan di berbagai artikel. Anda cukup meng-Google, maka ribuan data akan terpampang.

Itulah tantangan sutradara Clint Eastwood dalam menyampaikan suatu kisah yang sudah banyak didokumentasikan di era internet. Bagaimana dia bisa menyampaikan suatu sisi lain dari kisahnya. Maka disampaikanlah penceritaan lewat sudut pandang pilot yang mengendarai pesawat itu.

Sully bisa disebut sebagai sebuah film biografi, karena berdasarkan kisah yang disusun dan ikut ditulis sendiri oleh Chesly Sullenberg yang berjudul Highest Duty.

Naskah adaptasi Sully yang ditulis oleh Todd Komarnicki, berfokus pada proses investigasi yang dilakukan oleh Badan Keamanan Transportasi Nasional (National Transportation Safety Board, NTSB) Amerika Serikat terhadap Sully dan co-pilot-nya, Jeff Skiles (diperankan dalam porsi minimal oleh Aaron Eckhart). Filmnya kerap menyajikan Sully yang mengalami déjà-vu dan mimpi buruk selepas kecelakaan naas itu. Film ini juga memakai alur campuran, menggabungkan kilas balik yang memperlihatkan masa lalu Sully dan bagaimana perjalanan karirnya selama empatpuluh tahun sebagai pilot, serta saat dia harus menghadapi tekanan publik yang terlanjur mengelu-elukan dan memperlakukannya bak seorang selebritis.

Dalam Sully, kita diperlihatkan sebuah penggambarn kasip tentang bagaimana paranoidnya Amerika Serikat selepas tragedi 9/11 yang menghancurkan landmark Twin Tower. NTSB digambarkan sebagai representasi pemerintah Amerika Serikat yang tidak mau menerima begitu saja informasi bahwa kecelakaan pesawat yang dipiloti oleh Sully terjadi akibat burung yang sedang melakukan migrasi, menabrak baling-baling pesawat dan mengakibatkan hancurnya mesin. NTSB juga tidak percaya begitu saja alasan Sully bahwa pendaratan darurat di Sungai Hudson yang dilakukannya adalah satu-satunya pilihan masuk akal kala itu. Sully yang di film digambarkan sebagai individu dengan pembawaan tenang dan logis (karena pengalamannya selama empatpuluh tahun sebagai pilot), lantas digambarkan sebagai korban dan tertuduh. Sementara NTSB adalah pihak antagonis.

NTSB kekeuh dan ngotot bahwa secara teori, Sully bisa mendaratkan pesawatnya di bandara terdekat. Alasan pihak NTSB didukung oleh serangkaian hasil analisis para pakar penerbangan, kejiwaan dan unggas. Mereka bahkan melakukan uji simulasi penerbangan untuk memperkuat alasan mereka. Di sini “perang” terhadap kemampuan seorang manusia yang diadu oleh teknologi mutakhir terjadi. Namun, NTSB lupa bahwa simulasi itu adalah sebuah teknologi yang hanya bekerja berdasarkan program. Bukan manusia yang memiliki akal, emosi dan daya nalar dalam menyikapi suatu kejadian. NTSB melihat kecelakaan pesawat itu berpotensi disebabkan oleh kesalahan prosedur dan human error; sementara Sully khawatir bahwa sikap ngotot dan paranoid NTSB akan mempengaruhi reputasi yang telah dibangunnya selama empat dasawarsa. Yang nantinya, keputusan salah dari NTSB bisa berimbas pada pemutusan lisensinya sebagai pilot dan berujung pada dipecatnya dia tanpa pesangon.

Clint Eastwood memberikan sentuhan paradigma aksi dalam film ini. Suatu hal yang bisa kita harapkan dari seorang sineas kawakan yang telah memberikan kita Unforgiven hingga Letters To Iwojima. Kegemaran Eastwood dalam mengetengahkan sosok patriot dengan nilai-nilai kepahlawanan ala Amerika Serikat juga bisa dilihat dari film-filmnya seperti J. Edgar hingga ke American Sniper. Dalam film-film tersebut, Eastwood menggali tema kemanusiaan dan menghadirkan dilema moralitas para karakter utamanya. Suatu hal yang menjadi kekuatan utama gaya penyutradaraan Eastwood.

Sully mengingatkan saya dengan Flight (2012), arahan Robert Zemeckis dan dibintangi oleh Denzel Washington.”



TAK ADA DILEMA MORALITAS, PENGGAMBARAN REALISTIS

Sayangnya, dilema moralitas itu hilang di Sully. Malah tak ada dilema itu di film ini. Masalah terbesar memang karena film ini diceritakan lewat sudut pandang Sullenberg, yang menjadi objek utama cerita dan investigasi. Itu pula yang mengakibatkan NTSB tampil sebagai antagonis. Kita tahu dia tak bersalah dan menjalankan tugasnya dengan baik. Dia bukan pemabuk, dia seorang family man yang menjunjung tinggi etika. Dia menelepon istrinya begitu selamat dari kecelakaan dan dia bahkan tidak tertarik saat perempuan muda cantik yang menjadi penggemarnya, berusaha memberikan gesture “penghormatan” kepadanya. Intinya dia seorang pria baik-baik. Dan harap diingat sekali lagi, sumber cerita di Sully adalah buku yang ditulis sang pilot asli, sehingga perspektif NTSB sebagai antagonis murni berasal darinya yang mengakibatkan kita sebagai penontondar awal sudah melakukan keberpihakan.

Sully mengingatkan saya dengan Flight (2012), arahan Robert Zemeckis dan dibintangi oleh Denzel Washington. Dalam film itu, karakter yang dibintangi oleh Denzel adalah seorang pilot yang gemar mabuk dan “fly”, memiliki dilema moralitas yang sesungguhnya. Meski dia berhasil meminimalisir korban saat pesawatnya mengalami kecelakaan, secara hukum dia bersalah. Hal itulah yang membuat karakternya menarik, karena mengungkap sisi gelap dari seorang pahlawan. Investigasi yang dijalaninya kemudian benar-benar menjadi konflik dan sumber ketegangan dramatis yang sesungguhnya.

Ketegangan dramatis dalam Sully, justru hadir dalam koridor film aksi. Saat Sully meningat masa lalu sebagai pilot pesawat tempur dan, terutama, saat penggambaran mendaratnya pesawat yang ia kendarai di atas Sungai Hudson. Ketegangan turut dibantu dengan melibatkan sikap empati kita lewat setup berupa serangkaian adegan yang memperlihatkan para penumpang sebelum menaiki pesawat. Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang baik, seperti Sully, yang membuat kita tidak rela mereka mengalami kejadian naas.

Momen menjelang mendaratnya pesawat di sungai, dieksekusi dengan baik oleh Eastwood. Baik, bukan hebat. Eastwood memang piawai dalam mengarahkan adegan perkelahian, seperti yang diperlihatkannya di Million Dollar Baby. Tapi, membangun aksi lewat pemanfaatan efek bukanlah teritorinya. Masalahnya kita sudah melihat adegan jatuhnya pesawat yang lebih mengesankan. Seperti di Fearless (1993), Alive (1993), hingga The Dark Knight Rises (2012). Efek menegangkan di adegan jatuhnya pesawat di Sully, mungkin akan lebih terasa bagi Anda yang tidak mengetahui kisah sebenarnya. Karena tidak mengetahui bagaimana kisah sebenarnya akan berakhir.

Meski demikian, Sully menawarkan suatu penggambaran realistis dan (mungkin) akurat tentang penggambaran prosedur yang dilakukan oleh awak kru pesawat dalam memberikan instruksi. Tentang bagaimana kita harus bereaksi bila menghadapi situasi seperti itu. Penggambaran itu dibantu oleh kerja kamera yang secara jeli menangkap setiap momen penyelamatan dan reaksi para penumpang. Menonton film ini di layar IMAX akan membuat Anda akan lebih merasakan efeknya. Tetapi sekali lagi, pengalaman sinematis di sekuens ini terasa hambar dan biasa. Karena kita sudah pernah menyaksikan yang lebih dahsyat sebelumnya.



TOM HANKS MENYELAMATKAN

Sully memang amat ditopang oleh penampilan Tom Hanks sebagai tokoh utama. Hanks adalah contoh dari (amat sedikit) aktor yang mampu memberikan kedalaman tekstur akting di karakter yang sebenarnya biasa saja seperti ini. Hanks memiliki karisma dan kualitas yang membuat kita percaya bahwa ia adalah seorang family man. Gesture humor masih ditampilkannya di beberapa adegan. Seperti saat ia berdialog dengan karakter milik Aaron Eckhart saat mereka ingin makan di sebuah restoran steak. Suatu penampilan dengan kualitas seorang thespian dari Hanks yang menyelamatkan filmnya dari kualitas generik.

Ada satu momentum di mana Hanks memperlihatkan kualitas dramatisnya. Momen saat ia tercenung memikirkan apa yang akan menimpanya, sementara sekerumunan orang mengelu-elukannya. Tetapi, penampilan Hanks di Sully bukanlah penampilan terbaiknya. Karena memang karakter yang ia perankan tidaklah benar-benar menantangnya. Kita sudah melihat penampilan Hanks yang lebih superior di Forrest Gump dan Cast Away.

Hanks memang praktis bermain seorang diri. Karakter lainnya benar-benar secara harfiah menjadi  penyokong, atau bahkan foil. Penceritaan dari perspektif Sully juga yang membuat talenta seperti Aaron Eckhart dan aktris kawakan Laura Linney hanya menjadi ornamen. Linney, yang memberikan performa luar biasa di Mystic River (juga arahan Eastwood), di film ini hanya menjadi ibu rumah tangga yang gemar mengeluh dan menangis. Amat disayangkan memang.

Meski demikian, Eastwood setidaknya berhasil menyajikan suatu interaksi humanis antara karakter Tom Hanks dan para aktor pendukung. Interaksi yang membuat kita setidaknya percaya bahwa dia adalah seorang manusia biasa, yang tak gemar menjadi sorotan publik. Interaksi tersebut pula yang berhasil menghindarkan Sully menjadi sebuah film hagiografi, seperti Rudy Habibie (baca ulasannya).

Sully memang sayangnya bukan menjadi karya hebat dari Eastwood. Dalam satu titik, film ini lebih berfungsi sebagai surat cinta dia kepada kota New York. Kota yang dia gambarkan dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai etnis dan ras yang peduli dan sigap membantu sesama. Sebuah bentuk kepedulian yang memang tumbuh paska tragedi 9/11.

Bentuk surat cinta itu jelas terlihat dari bagaimana kamera menyajikan lansekap kota itu dan dari score yang kental akan nuansa jazz, aliran musik yang kerap ditampilkan sebagai salah satu identitas Apel Besar itu. Meski sebenarnya, reaksi kepedulian yang sama juga akan muncul di tempat lain bila menemui suatu tragedi serupa. Kita tentu masih mengingat jelas bagaimana solidaritas warga Jakarta terbentuk sewaktu terjadinya bencana banjir besar dan teror bom Sarinah.

Sully memang bukanlah sebuah film yang istimewa dari Eastwood dan Hanks.

Tapi bila kita membawa apa yang kita saksikan di film ini kepada konteks pemerintah Indonesia, film ini akan terasa spesial dan menohok. Menohok dan menyentil pemerintah supaya meniru apa yang dilakukan NTSB dan pemerintahan Amerika Serikat, dalam upaya mereka melindungi warga negaranya.

Karena apa yang menimpa maskapai US Airways 1549 tersebut amat mungkin terjadi di penerbangan kita.

(3/5)

Reviewed at IMAX Gandaria City September 9, 2016

Running time : 96 minutes

Distributed by Warner Bros. Indonesia

A Warner Bros. Pictures presentation in association with Village Roadshow Pictures, of a Malpaso production

Producers: Clint Eastwood, Frank Marshall, Allyn Stewart, Tim Moore

Executive Producers : Steven Mnuchin, Kipp Nelson, Bruce Berman. Co-produers: Jessica Meier, Kristina Rivera

Director : Clint Eastwood

Screenplay : Todd Komarnicki

Based on the book “Highest Duty” by Chesly “Sully” Sullenberg and Jeffrey Zaslow

Camera (color, IMAX) : Tom Stern

Editor : Blu Murray

Music : Christian Jacob, The Tierney Sutton Band

Casts : Tom Hanks, Aaron Eckhart, Laura Linney, Valerie Mahaffey, Delphi Harrington, Mike O’Malley, Jamey Sheridan, Anna Gunn, Holt McCallany, Ahmed Lucan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s