Swiss Army Man Review : Mematut Hidup Lewat Kentut

September 27, 2016

Swiss Army Man memang sebuah film yang aneh. Absurd. Eklektik. Jenaka. Surealistis. Berjiwa hipster. Namun, seiring kita mengikuti kisahnya, film ini makin mengikat sukma dan menuntut perhatian kita. Karena di balik keanehan dan perilaku eklektiknya, film ini adalah sebuah kisah tentang persahabatan.”




Apakah Swiss Army Man merupakan semacam parodi dari Cast Away yang dibintangi oleh Tom Hanks?

Pemikiran itu sempat terlintas di benak saya sewaktu menonton film ini. Sebuah syak wasangka yang tak bisa dihindari saat film ini mulai bergulir.

Kita melihat seorang pria berusia 20-an. Terdampar di sebuah pulau terisolasi di lautan Pasifik. Dia sepertinya terdampar cukup lama karena kondisi tubuhnya yang sudah compang-camping, mengenakan kemeja flannel dan berewok lebat tak terurus tumbuh di wajah mudanya. Ekspresi mukanya tampak letih dan frustasi. Matanya lelah menatap hamparan samudra di hadapannya. Menatap, namun tak punya pengharapan.  Saat pertama kali kita mengenal karakter ini, dia mencoba bunuh diri dengan cara menggantung dirinya menggunakan seutas tali yang diikat di sebuah bukit karang di atasnya.

Pemuda ini bernama Hank Thompson (diperankan oleh aktor dengan bakat luar biasa, Paul Dano). Namanya seperti permainan kata anagram dari Tom Hanks, yang juga memerankan karakter pria yang terdampar di sebuah pulau di Cast Away. Kondisi yang dialami Hank dan kemiripan nama merekalah yang membuat saya berpikir bahwa film ini, awalnya, seperti lelucon terhadap film arahan Robert Zemeckis itu.

Usaha bunuh diri Hank gagal. Dia melihat sesosok tubuh tergeletak di atas pantai, diusik oleh deburan ombak. Dia menghampiri sesosok tubuh yang kulitnya sudah memucat bak mayat. Hank mengamati tubuh itu. Memeriksa kalau-kalau dia masih hidup. Ada suara bergemuruh terdengar dari dalam perutnya. Hank mendengarkan suara itu yang lama-lama semakin turun ke bagian bawah tubuh sosok misterius itu.

Lalu, suara kentut pun terdengar. Kita tertawa.

Tapi tidak dengan Hank. Dia masih merasa putus asa. Dia mencoba bunuh diri untuk kedua kalinya. Atau mungkin untuk kesekian kali. Kita tak pernah tahu, karena seperti sosok misterius yang tergeletak itu, eksistensi Hank terasa nihilistik. Kita diberi petunjuk lewat berbagai benda-benda yang mengambang di laut saat opening scenes. Benda-benda yang tampak seperti terburai dan terhempas setelah sebuah tragedi terjadi. Benda-benda yang ditulisi oleh kata-kata meminta pertolongan; kata-kata sebagai ungkapan frustrasi yang menyebut bahwa penulisnya tak ingin mati sendirian. Kata-kata yang kemudian kita percayai ditulis oleh Hank.

Usaha bunuh diri Hank kali ini kembali gagal. Kali ini karena dia seperti mendapatkan ilham. Memperoleh sebuah pencerahan dari sesosok tubuh misterius yang ia temukan. Sesosok tubuh yang kini mengeluarkan kentut tak terputus. “Angin kotor” yang makin lama makin besar, yang bahkan mampu menimbulkan riak di air laut. Hank menggumamkan sebuah lagu. Gumaman yang lalu berubah menjadi sebuah senandung. Senandung yang kemudian diiringi oleh musik score orkestrasi megah, menggantikan suara debur ombak yang awalnya menjadi musik utama. Hank bergegas menghampiri sesosok tubuh itu, menyeretnya masuk ke laut, dan lalu menungganginya bak banana boat. Kentut yang dikeluarkan oleh sosok tubuh misterius ini menjadi motor penggerak. Yang membawa keduanya membelah laut dan berhasil keluar dari pulau terpencil itu.



EKLEKTIK. JENAKA. SUREALIS

Terdengar aneh untuk sebuah film?.

Swiss Army Man memang sebuah film yang aneh. Absurd. Eklektik. Jenaka. Surealistis. Berjiwa hipster. Namun, seiring kita mengikuti kisahnya, film ini makin mengikat sukma dan menuntut perhatian kita. Karena di balik keanehan dan perilaku eklektiknya, film ini adalah sebuah kisah tentang persahabatan. Sebuah kontemplasi tentang eksistensi. Tentang karakter yang terkucil dan terasing dari masyarakat. Tentang seseorang yang mendamba sebuah cinta dan kasih sayang, namun terlalu jauh untuk menggapainya. Tentang hidup dan harapan. Dan anehnya, kentut di film ini memegang peranan penting dalam penceritaan. Bukan hanya sebagai alat untuk memicu guyonan. Seiring cerita berjalan, saya sadar bahwa film ini bukanlah parodi Cast Away. Sebuah film yang manis dan indah yang memiliki lapisan alegori dan metafora perjalanan karakternya dalam menemukan kehidupan baru, melangkah keluar dari kungkungan benteng solitude. Sebuah film yang berhasil menjaga keseimbangan antara keabsurdan dan ketulusan.

Sosok yang ditemui Hank itu memang seonggok mayat, yang kemudian dinamainya Manny (diperankan oleh si Harry Potter, Daniel Radcliffe). Terbebas dari pulau terpencil, mereka kini berada di sebuah hutan lebat di mana banyak sampah-sampah berserakan. Saya lalu melihat eksistensi Hank dan Manny seperti sampah-sampah yang dibuang sembarangan di hutan itu. Hank, dengan kecanggungan dan kekikukannya, menyerupai “sampah” yang tak diinginkan oleh kumpulannya. Sedangkan Manny adalah “sampah” yang sudah terbuang dari siklus kehidupan dunia.

Manny ternyata sesosok “mayat hidup”. Dia sudah tak ingat jati diri dan masa lalunya, tapi masih bisa memberikan respon. Bahkan berbicara. Saat Hank menggumamkan lagu ninabobo yang biasa ia dengar dari ibunya semasa kecil, Manny menirukannya. Saat Hank menggumamkan theme song Jurassic Park karya John Williams, Manny pun bisa mengulanginya.

Hank dan Manny lalu menjalin sebuah persahabatan yang surealis. Hank mengajari Manny banyak hal. Mereka lalu terlibat percakapan yang membahas banyak hal. Tentang kehidupan, tentang cinta, tentang ereksi, masturbasi, hingga  ‘Law of diminishing return’ di aspek ekonomi mikro.

Ada satu momen kunci di sini. Saat Hank mengajarkan Manny tentang pengertian sampah lewat teknik montase. Hank mengatakan bahwa sampah adalah definisi untuk barang-barang yang sudah tak dibutuhkan; barang-barang yang sudah rusak; yang sudah usang dan tua. Bersamaan dengan penekanan kata “usang dan tua’. kamera lalu memperlihatkan kita sebuah Injil bersampul hitam. Sebuah momentum satire yang kocak tercipta, tapi ada sentilan di dalamnya.

Hank lalu merekreasikan cerita anak-anak Everyone Poops. Bahwa semua orang dan mahluk membuang kotoran yang merupakan hasil dekomposisi proses metabolisme tubuh. Sebuah hasil akhir yang kemudian dianggap sampah dan menjijikkan. Sama seperti kentut.

Dalam Swiss Army Man, kotoran dan kentut menjadi sebuah satire tersendiri. Bagaimana sebuah “produksi” natural tubuh yang merupakan kodrat alami titah Tuhan, sering kita anggap sebagai suatu kenistaan. Padahal kotoran dan kentut adalah sahabat. Sahabat dan anugerah yang secara tak sadar amat kita butuhkan. Saya teringat akan seorang tetangga yang tidak bisa buang angin dan buang air besar dalam kurun waktu cukup lama. Dia akhirnya menderita sakit dan kemudian meninggal. Padahal, dia kaya raya. Tetangga saya itu—secara harfiah—bisa membeli apapun. Tapi, Tuhan menakdirkan dia tak bisa membeli kentut dan buang air besar. Tetangga saya itu tak bisa membeli dua ‘sahabat’ yang baru disadari amat penting. Karakter Manny sendiri bisa dipandang sebagai personifikasi ‘kentut’ dan “kotoran manusia’. Manny kini sesosok mayat. Yang semestinya ditanam dan dibuang, seperti kotoran.



BERLAPIS METAFORA

Swiss Army Man memang memberikan kita lapisan metafora. Tapi sesungguhnya, kisah di film ini adalah tentang Hank Thompson. Mengenai kisah seorang pemuda yang kikuk dalam menempatkan dirinya. Paul Dano, seperti biasa, bermain amat bagus di sini.

Paul Dano merupakan salah satu aktor muda yang paling cemerlang di setiap penampilannya. Seperti Hank karakternya, Dano pun kerap “disingkirkan” oleh industri film. Seorang aktor dengan bakat luar biasa yang tak diindahkan.

Hank adalah tipikal karakter yang memang cenderung selalu dimainkan oleh Dano. Sama seperti perannya di Love and Mercy (penampilan terbaiknya), There Will Be Blood, Little Miss Sunshine, hingga ke peran kecil di Prisoners. Dano selalu berhasil memberikan kedalaman dimensi dan tekstur dalam setiap perannya. Bahkan lewat gesture paling sederhana. Setiap Dano tampil di layar, perhatian kita tertuju kepada karakternya. Kita tak bisa melepaskan pandangan dan lalu melakukan observasi. Seperti yang dilakukannya di film ini. Saat dia membentangkan tangan dan berteriak bahagia selepas lolos dari pulau terpencil, Dano melakukan hal yang tak kita lihat di aktor lain. Saat mata puppy dog-nya merenung dan sedih, kita turut tertarik ke dalamnya. Bahkan ketika dia berjalan terhuyung-huyung, dia melakukannya dengan pendekatan distingtif.

Ada satu momen tak terlupakan dari penampilan Dano di film ini. Saat dia berhasil menemukan sinyal ponsel dan lalu mendapati ada pesan dari ayahnya yang mengucapkan selamat ulang tahun. Sebelumnya, kita diberi tahu bahwa hubungan Hank dan ayahnya tidaklah berjalan mulus. Ekspresi Dano begitu menyentuh dalam adegan itu. Ekspresi seorang anak yang merindu perhatian orangtua, mata yang berkaca-kaca dan tergugah, tapi Dano memilih untuk menahannya. Sebuah reka rasa dari salah seorang aktor karakter paling brilian dalam sinema moderen.

Kualitas Dano diimbangi oleh permainan Daniel Radcliffe. Si Harry Potter ini menampilkan sebuah permainan komedi “dead-pan” secara harfiah. Sebagai mayat, Radcliffe tampil dingin dan polos. Serta jenaka. Karakter Manny miliknya menjadi penyeimbang karakter Hank yang gundah gulana. Interaksi mereka terlihat manis dan menyenangkan, yang kemudian banyak melahirkan momen komedi brilian. Saat mereka beradu argumentasi, kita turut merasakan getirnya. Adegan saat mereka terlihat akan berpisah satu sama lain (yang melibatkan seekor beruang ala The Revenant), kita akan turut berseru agar mereka tak berpisah. Tapi, tetap saja, kita masih merasakan geli dan ingin tertawa.

Swiss Army Man adalah naskah dan karya penyutradaraan debut dari duo yang dikenal dengan julukan “ The Daniels”, yaitu Daniel Scheinert dan Daniel Kwan. Sebelumnya, mereka dikenal sebagai sutradara video musik dan iklan. Saya tidak akrab dengan karya mereka sebelum ini. Tapi, Swiss Army Man membuktikan bahwa mereka memiliki bakat bercerita yang tidak main-main. Pengadeganan mereka detail dan kuat; visi mereka ‘aneh’, namun cemerlang; pilihan lagu mereka unik dan menyengat. Latar belakang duo sutradara ini sebagai sutradara video musik bisa dilihat jejaknya lewat banyaknya penggunaan teknik montase dalam menjahit gambar-gambarnya. Tapi montase yang mereka gunakan terlihat inovatif, karena diberikan kekuatan penceritaan lewat pengambilan gambar dari angle unik. Montase yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga bercerita.

Ada sentuhan Michel Gondry dalam sinematografi film ini. Juga Terence Malick dan Spike Jonze. Ada adegan di mana Hank dan Manny tercebur dalam sebuah sungai dalam, di mana mereka kemudian berusaha saling menolong. Mengingatkan saya kepada adegan bawah air di film Adaptation (2002) dan Tree of Life (2011). Adegan yang diambil secara indah dan puitis. Seperti visualisasi sebuah mimpi. Mimpi yang indah dan sekaligus mengerikan. Plot cerita yang melibatkan mayat juga mengingatkan saya kepada film Weekend at Bernie’s (1989).

Musik yang diaransemen oleh Andy Hull dan Robert McDowell dari Manchester Orchestra, memperkuat elemen bak mimpi itu. Melodius dan menggugah hati, sekaligus mengiris. Lagu yang sering digumamkan oleh Hank, menjadi penanda setiap keajaiban yang dilakukan oleh Manny. Lagu yang menjadi penghubung emosional antara Hank dan ibundanya.

Terkadang Swiss Army Man tidak selalu berhasil mengikat kita seperti yang diinginkan. Ambisi untuk menghadirkan semangat “carpe diem” terkadang membuat emosi kita berjarak. Terlebih saat Hank berhasil bertemu dengan perempuan yang dipujanya secara rahasia (diperankan dalam porsi sebagai cameo oleh Mary Elizabeth Winstead, 10 Cloverfield Lane). Saat saya berada di bagian ini, saya bereaksi seperti seorang anak yang diberi twist dalam dongeng yang saya dengar dari orangtua. Menurunkan kekuatan dramatisasi yang telah dibangun. Tapi saya mengerti. Film ini hendak mengajarkan kita bahwa sebuah mimpi haruslah berakhir, saat kita terbangun dan kembali pada realita. Bahwa setiap mimpi tidaklah harus berakhir bahagia. Dan kita haruslah menerima.



MEMATUT HIDUP LEWAT KENTUT

Judul Swiss Army Man merujuk pada fungsi karakter Manny di film ini. Saat Hank mampu membangkitkan emosinya—lewat sampul depan majalah Sports Illustrated, foto gadis cantik, atau cerita percintaan—Manny bisa melakukan hal tak terduga yang bisa membantu Hank menemukan jalan pulang. Seperti pisau Swiss Army. Hank bisa memotong kayu; kepalanya bisa dipakai sebagai pemukul; membuat api; hingga melontarkan benda-benda lewat mulutnya.

Film ini memang seperti mimpi. Dengan balutan sifat elektik dan segala keanehannya. Dipadu dengan excremental comedy. The Daniels mampu memperlihatkan komitmen dan menjaga visi mereka dalam menghadirkan mimpi itu kepada kita. Yang berhasil membawa kita kepada sebuah perenungan.

Seperti mimpi yang kita alami di waktu tidur, mimpi itu pun harus berakhir. Dimulai dengan kentut, film ini pun diakhiri dengan kentut. Kentut yang harus dilepaskan agar perut kita tidak menjadi kembung dan sakit. Kentut yang harus dilepaskan agar kita menjadi lega dan sehat. Seperti Hank dan Manny yang melepaskan kentut dengan terbuka, tak peduli bahwa orang di sekitarnya akan mencium baunya. Kentut yang merupakan anugerah. Suatu pelepasan yang membuat kita bahagia.

Amat jarang film yang menjadikan kentut sebagai sarana untuk merenungi kehidupan. Swiss Army Man adalah film yang berhasil membuat kita mematut hidup lewat anugerah yang kerap dianggap suatu hal yang nista. Anugerah yang diberi nama, kentut.

(4/5)

Swiss Army Man is now available to be streamed in legal stream and VOD sites. Netflix is one of them.

Running time : 96 minutes

Producers : Jonathan Wang, Lawrence Inglee, Miranda Bailey, Amanda Marshall, Eyal Rimmon, Lauren Mann

Executive producers : Gideon Tadmor, William Olsson, Jim Kaufman.

Directed and written by Daniel Scheinert, Daniel Kwan.

Camera (color) : Larkin Seiple

Editor : Matthew Hannam

Music : Andy Hull, Robert Mcdowell

Production designer : Jason Kisarday

Art director : David Duarte

Visual effects coordinator : Kyle Gilbertson

Visual effects supervisor : Eduardo ‘Alvin’ Cruz

Casts : Paul Dano, Daniel Radcliffe, Mary Elizabeth Winstead, Antonia Ribero, Timothy Eulich, Richard Gross, Marika Casteel, Andy Hull, Aaron Marshall, Shane Caruth.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s