the-magnificent-seven-international-poster

The Magnificent Seven : Berdesing-desing Peluru Kosong

September 22, 2016

“Ada suatu kualitas yang menjadi elemen artistik dalam film western klasik yang hilang. Kualitas dalam situasi senyap dan tenang. Kualitas yang diperoleh saat tak ada musik latar bermain mengiringi film, di mana hanya ada suara angin bertiup; semak-semak kering yang bergerak tertiup angin…”




The Magnificent Seven versi 2016 adalah sebuah film meta-remake. Film ini adalah remake versi 1960 yang juga merupakan remake Seven Samurai arahan Akira Kurosawa.

Lebih dari limapuluh tahun berselang sejak kedua film orisinalnya ditayangkan. Sejak itu, template penceritaan tentang perekrutan berbagai orang yang sejatinya bukan pahlawan untuk membela kebenaran sudah teramat sering dipakai. Menjadikan ceritanya klise, basi dan usang. Diperlukan sebuah inovasi –baik teknik ataupun penceritaan—untuk memberikan sebuah penyegaran.

Penyegaran itu sebenarnya terlihat di The Magnificent Seven terbaru. Pakem ceritanya sama, tapi eksekusinya berbeda karena melibatkan tema pengorbanan. Mencoba menyentil dan membangkitkan rasa simpati kita sebagai penonton. Idealnya usai menonton, hati kita akan tergugah. Tapi, alih-alih tergugah, hati saya merasa hampa. Ceritanya lewat begitu saja.

Meski memakai atitude dan atribut film western (kuda, topi poncho, adegan tembak-tembakan di pemukiman yang memiliki saloon/bar, suku Indian, setting di daerah Southwest Amerika Serikat) dan juga diproduksi dengan baik , The Magnificent Seven arahan Antoine Fuqua terasa bukan seperti film western. Aksen dan gestur para karakter di film ini terasa amat modern dan kontemporer, bukan aksen daerah Southwest yang seperti orang sedang berbicara sambil berkumur-kumur.

Tapi faktor itu bukanlah yang utama.

Ada suatu kualitas yang menjadi elemen artistik dalam film western klasik yang hilang. Kualitas dalam situasi senyap dan tenang. Kualitas yang diperoleh saat tak ada musik latar bermain mengiringi film, di mana hanya ada suara angin bertiup; semak-semak kering yang bergerak tertiup angin; kamera yang statis menyorot alam sekeliling, saat para karakter di filmnya saling berhadapan dan bersiap untuk saling menembak; suasana hening yang mendebarkan saat penyuntingan berganti-ganti menyorot dalam ekstra close-up ke wajah pemain atau ke senjata yang siap diletuskan, tanpa diiringi musik. Kalaupun ada musik, akan terdengar lirih dan menyayat yang hadir lewat harmonika atau ocarina.

Kualitas senyap dan tenang, dalam The Magnificent Seven terbaru digantikan oleh lantunan score yang dominan dan nyaris tak terputus sepanjang durasi. Score yang sebenarnya megah hasil ciptaan mendiang James Horner (yang meninggal sewaktu proses, lalu kemudian diteruskan oleh Simon Franglen). Namun, score megah itu pun kemudian hanya lewat begitu saja. Tanpa ada kesan yang tertambat di benak. Hal itu karena score-nya pun tak diberi kesempatan banyak untuk bersinar, karena selalu ditingkahi oleh efek suara atau dialog. Score yang sayangnya juga amat mudah diprediksi, karena terlampau disesuaikan dengan kebutuhan momentum. Hanya aransemen moderen score legendaris milik Elmer Bernstein dari film klasiknya – kemudian dipakai di iklan rokok Marlboro—yang menjadi satu-satunya elemen paling diingat dalam film ini.  Bahkan di banyak adegan atau sekuens, musik lebih terasa sebagai penghormatan kepada Seven Samurai daripada ke The Magnificent Seven klasik, karena penggunaan shakuhachi (suling Jepang) yang kental.

Ketiadaan “kualitas senyap dan tenang” itu yang juga kemudian berakibat amat fatal terhadap kualitas film secara keseluruhan. Akibat terlampau ramai, dari aspek suara dan gambar, kemudian membuat cerita, perwatakan karakter dan bahkan pengorbanan di film ini lewat begitu saja. Tak ada yang menempel di kepala. Tak ada kekuatan pesan yang bisa dibawa pulang.

“. Dalam sekuens pembuka, Bogue dan anak buahnya menyeruak masuk gereja. Di sana, Bogue melakukan intimidasi. Dalam pidatonya di mimbar gereja itu, dia berkata bahwa , “Negara ini telah lama menukar demokrasi dengan kapitalisme. Kapitalisme dengan Tuhan.” Bagi Bogue, keputusannya adalah absolute. Dia bukanlah demokrasi, melainkan tirani kapitalisme.”



KOMENTAR SOSIAL TENTANG KAPITALISME, DIVERSIFIKASI PERAN HANYA GIMMICK

Sebenarnya ada satu momentum yang cukup menghadirkan nuansa aksi western dalam film ini. Momen saat ketujuh jagoan kita yang dipimpin oleh Sam Chisolm (Denzel Washington) pertama kali memasuki kota kecil Rose Creek yang dikuasai oleh gerombolan anak buah Bartholomew Bogue (diperankan dengan perilaku seorang psikopat tulen oleh Peter Sarsgaard, In Education). Chisolm dan kawan-kawan memasuki kota secara dramatis yang diambil dari berbagai angle. Saat saling berhadapan dengan para musuh, mereka bercakap tanpa iringan musik. Sebelum tembak-tembakan terjadi, kamera silih berganti memperlihatkan ekspresi muka masing-masing aktor dalam close-up ekstrim dan dipadukan dengan cut-to-cut yang tajam dan cepat. Kita dibuat bertanya-tanya. Kita dibuat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, meskipun kita sudah tahu.

Sayang, momentum tersebut hanya terjadi dalam hitungan kurang dari dua menit dari durasi keseluruhan. Hanya sepersekian sehingga selanjutnya kita akan dengan gampang melupakan momentum itu.

Kota kecil Rose Creek memang menjadi latar belakang utama penceritaan. Berseting tahun 1879, suatu era selepas Perang Sipil di mana perburuan emas mewabah di mana-mana untuk memulihkan kekuatan ekonomi selepas perang.

Rose Creek bukanlah tipikal daerah gurun kering dengan kaktus sebagai vegetasi utama seperti di film western umumnya. Daerah terletak di lembah gunung yang subur di mana rerumputan tumbuh hijau, bunga beraneka warna dan sungai kecil mengalir di tepinya. Rose Creek tampak dinamis dan bersahabat, bukan sepi dan lengang seperti di film western pada umumnya.

Tapi, kesuburan dan keindahan Rose Creek bukanlah pangkal petaka. Daerah ini diperkirakan memiliki kandungan emas tinggi, sesuatu yang membuat Bogue tergoda menguasainya. Teror pun dilepaskan Bogue agar warga Rose Creek mau menjual tanah mereka dengan harga teramat murah. Dalam sekuens pembuka, Bogue dan anak buahnya menyeruak masuk gereja. Di sana, Bogue melakukan intimidasi. Dalam pidatonya di mimbar gereja itu, dia berkata bahwa , “Negara ini telah lama menukar demokrasi dengan kapitalisme. Kapitalisme dengan Tuhan.” Bagi Bogue, keputusannya adalah absolute. Dia bukanlah demokrasi, melainkan tirani kapitalisme.

Di sini Antoine Fuqua mencoba melontarkan sebuah komentar sosial tentang kapitalisme. Tentang bagaimana modal besar dan roda industri akan menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan hati nurani. Sebuah praktik yang makin sering kita jumpai di kehidupan moderen sebenarnya. Saat pemukiman rakyat kecil dan ruang terbuka hijau terpaksa harus diratakan dengan tanah dan berganti dengan berbagai pabrik atau kompleks pertokoan mewah. Kita tentu masih ingat akan kasus Lumpur Lapindo.

Tetapi, komentar sosial yang coba dilontarkan Fuqua menjadi sebuah ironi tersendiri terhadap filmnya. The Magnificent Seven versi dia malah terlihat menjadi apa yang coba dikritiknya. Sebuah produk pabrikasi yang tanpa hati.

Saat penduduk Rose Creek menolak. Bogue pun menggila dan menghabisi banyak warga. Salah satu korbannya adalah suami Emma Cullen (Haley Bennett), seorang perempuan berambut merah yang memiliki tekad kuat. Tekad kuat itulah yang membuat ia berani keluar desa untuk mencari orang yang bisa dibayarnya untuk membasmi komplotan Bogue.

Awalnya Emma hanya bertemu dengan Chisolm, yang kemudia merekrut enam orang lainnya hingga jumlah mereka menjadi tujuh.

Dikepalai Chisolm, yang menyebut dirinya sebagai seorang “bintara tinggi dari pengadilan di Wichita, Kansas”. Sebenarnya dia adalah seorang bounty hunter, yang memburu para buronan demi mendapat uang. Chisolm adalah seorang pria karismatik yang akan membuat semua orang terdiam dan hanya fokus kepadanya, saat masuk sebuah ruangan. Chisolm adalah karakter yang paling kompleks di film ini. Dia memiliki agenda tersembunyi saat menyetujui permintaan Emma untuk membasmi komplotan Bogue. Denzel Washington memainkan karakter ini dengan sentuhan swagger kekinian, baik dari caranya berjalan, maupun dari caranya berbicara.

Orang kedua adalah Josh Faraday (Chris Pratt), seorang oportunis berdarah Irlandia (yang tentu saja) gemar minum. Dia memiliki keahlian mengelabui lawannya lewat trik kartu. Faraday ini flamboyan dan berwajah simpatik. Dari cara Pratt melakonkannya, karakter ini seperti pengulangan karakter milik Charles Bronson di Magnificent Seven klasik atau milik Toshiu Mifune di Seven Samurai. Ada semacam paradoks dari cara Pratt membawakan karakter Faraday ini. Paradoks yang sayangnya muncul akibat ketidakkonsistenan “tone” yang muncul. Pratt membawakannya dengan semangat yang sudah dia pernah tampilkan di Guardians of the Galaxy dan Jurassic World. Semangat dan humor yang muncul di awal hingga sepertiga film. Selepasnya, tiba-tiba dia menjadi lebih serius tanpa sebab yang pasti. Apakah karena Emma Cullen? Apakah karena kuda yang telah dijadikan jaminan oleh Chisolm? Entahlah. Daya tarik Pratt pun tak membantu terlalu banyak, karena ketidak konsistenan ‘tone’ itulah keberadaan Pratt justru sering tenggelam dibanding karakter lain yang lebih tegas.

Denzel Washington dan Chris Pratt adalah dua bintang paling besar dan ternama dari jajaran casts film ini. Wajar jika keduanya menempati porsi penceritaan terbesar (juga di poster). Kelima anggota kawanan lainnya lantas lebih menjadi one-note karakter yang perwatakannya lebih diwakili oleh penampilan fisik atau ras.

Ada Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke), seorang sniper rekan lama Chisolm semasa perang yang kini menghadapi semacam trauma. Trauma ini juga hanya menjadi semacam gimmick semata; lalu ada Billy Rocks (aktor Korea Selatan Byung Hun-lee, I Saw the Devil), tipikal karakter Asia yang irit bicara, namun banyak aksi. Dia ahlinya dalam memainkan pisau; Jack Horne (Vincent D’Onofrio, Full Metal Jacket), seorang pemburu berusia lanjut bertubuh besar dan gemuk, dengan jenggot tebal yang sudah beruban. D’Onofrio membuktikan dirinya sebagai salah satu aktor karakter yang amat berbakat. Dia menampilkan tekstur lewat suara high-pitch dan kepolosan dalam karakternya, meski informasi terkait latar belakang karakternya amatlah minim. D’Onofrio menyajikan sesuatu yang membuat kita tertarik dan peduli dengan karakternya.

Masih ada lagi Vasquez (Manuel Garcia-Rulfo), seorang buronan asal Meksiko; dan terakhir Red Harvest (Martin Sensmeier), berasal dari suku Indian Comanche yang selalu menghiasi wajahnya dengan riasan warna-warni. Dia piawai dalam memanah. Nama ‘Red Harvest’ juga membuat saya berpikir sebagai bentuk penghormatan kepada film Kurosawa lainnya, Yojimbo (1961). ‘Red Harvest’ adalah judul novel klasik karya Dashiel Hammett, yang disebut sebagai inspirasi Kurosawa sewaktu membuat Yojimbo.

Para aktor dan karakter di The Magnificent Seven versi baru ini lebih berwarna dan diversifikasi. Sebuah keputusan untuk mengakomodir tuntutan agar film-film Hollywood lebih banyak mempekerjakan aktor non-Kaukasia. Hanya saja, keputusan tersebut juga menjadikan film ini terasa anakronis bila dibandingkan dengan seting waktu cerita.

Pertanyaan juga kemudian timbul adalah terkait motivasi para karakter untuk setuju bergabung dalam tim penyongsong maut ini. Harus diakui, bahkan hingga zaman sekarang, persamaan ras dan etnis akan memiliki keterkaitan emosional dan kultural ketika seseorang memutuskan untuk membantu pihak yang belum dikenal. Sedangkan dalam The Magnificent Seven batasan kultural itu tidaklah dibahas secara cukup untuk membuat kita sebagai penonton menerima logika berpikir para karakternya saat memutuskan bergabung dalam tim. Keberagaman yang bisa menjadi sumber konflik baru, justru jadi disederhanakan lewat template film klasiknya.

Film Magnificent Seven tahun 1960 pun sering dikritik karena begitu gampang para karakter di dalamnya membentuk satu tim. Tapi, film itu tak menampilkan karakter multikultural. Dan proses perekrutannya pun memakai proses. Tidak langsung setuju seperti versi moderen. Sudut pandang itulah yang lantas membuat diversifikasi karakter dalam Magnificent Seven moderen hanyalah terkesan sebagai “pembenaran politis”. Agar tidak dikecam sebagai gerakan “whitewashing”.

Minimnya  proses interaksi dalam perekrutan seperti yang ditampilkan dalam film aksinya pula yang membuat interaksi antar karakternya menjadi canggung. Tak melebur. Tidak terlihat sebagai sekumpulan karakter yang akan mau berkorban satu demi lainnya. Hanya karakter milik Ethan Hawke dan Byung Hun-lee yang memiliki interaksi yang kita percayai. Itu karena sedari awal keduanya diperlihatkan sebagai sahabat karib.

“…gereja sebagai sumber awal konflik dan sekaligus titik akhir konflik.”



GEREJA SEBAGAI SIMBOL

The Magnificent Seven versi moderen ini membuat saya merasakan pentingnya momen dramatis dalam adegan aksi, seperti efek slow-motion. Suatu efek yang tidak hanya berfungsi sebagai penekanan suatu gerakan aksi, tetapi juga untuk membuat kita bernapas dan meresapi detail aksinya. Tak ada slow-motion dalam film ini. Sama seperti hampir alpanya “kualitas senyap dan tenang”. Ritme film ini sangat dinamis dan kinetis. Juga sangat straightforward, termasuk dalam menyajikan adegan aksinya. Seperti tak terlihat niatan Fuqua untuk menangkap dan memperihatkan adegan aksi dalam detail.

Itulah yang membuat adegan aksinya pun terkesan generik dan mudah terlupakan. Lebih menyerupai pertempuran di The Avengers daripada film western.

Shot kamera arahan Mauro Fiore (Training Day, juga arahan Fuqua) lebih banyak dihadirkan dalam estetika fesyen, ketimbang sinematis. Menyajikan lansekap, momen indah dan tembakan, yang sayang seringkali luput menyampaikan cerita. Juga luput dalam menghadirkan konflik internal antar karakter yang sebenarnya terdapat di lapisan cerita. Fiore menggunakan kamera widescreen Panavision 35 mm yang memang membuktikan komitmen film ini sebagai penghormatan film klasiknya, yang kemudian membuat film ini harus ditonton di layar lebar.

Penghormatan kepada film klasiknya juga ditampilkan lewat shot yang memperlihatkan siluet iringan kuda melewati sabana dengan dilatari sinar mentari; atau adegan “tepuk tangan” yang di film klasiknya dilakukan oleh karakter milik Yul Brynner dan Horst Buchholz, yang di versi modern digantikan oleh permainan kartu dari karakter milik Chris Pratt.

Ada satu hal menarik sebenarnya dari film ini. Yaitu keputusan Fuqua untuk menjadikan gereja sebagai sumber awal konflik dan sekaligus titik akhir konflik. Antoine Fuqua memang gemar memasukkan simbol reliji dalam filmnya, termasuk tema antara dosa dan pembalasannya. Seperti dalam film The Training Day atau The Equalizer. Gereja di Magnificent Seven miliknya seolah sebagai sumber gravitasi. Tempat pembalasan karma dan penebusan dosa.

Dalam satu shot yang memiliki komposisi unik dan indah. Saat gereja satu-satunya di Rose Creek terbakar. Gereja berwarna putih itu terlihat terbungkus warna merah api yang membara. Kamera lalu mengambil momen itu sedemikian rupa, lewat high-angle, memperlihatkan letak gereja yang persis di kelilingi oleh bangunan-bangunan. Secara simbolis, saya melihatnya sebagai awal dari bencana. Juga awal dari sebuah kebangkitan dan kelahiran kembali.

Alasan terbesar yang pasti akan merespon kritik dan ulasan komprehensif terhadap The Magnificent Seven versi terbaru adalah bahwa “film ini toh hanya film hiburan. Janganlah dianggap serius”.

Saya tak pungkiri bahwa film ini memang ditujukan sebagai film komersil. Hal sama yang juga kita temui di film klasiknya tahun 1960. Saya juga tak tertutup akan adanya inovasi dan penyegaran terhadap sebuah karya klasik. Asal tetap ada kekuatan emosional di dalamnya.

Akan tetapi, The Magnificent Seven ini terasa hampa tanpa makna. Seperti desing peluru-peluru kosong yang tak meninggalkan bekas. Bahkan untuk sebuah film western, film ini tidak terasa seperti film western.

Ada masalah “tone” dalam film ini. Ingin menampilkan sebuah kisah western revisionis dan progresif, namun justru terjebak pada eksekusi klise. Ingin bermain-main dengan perspektif moralitas, namun justru mengacuhkannya. Bahkan untuk dianggap sekadar film aksi, film ini tanpa inovasi. Yang membuat film ini amat mudah dilupakan.

Yang menarik adalah –bersamaan film ini dirilis di bioskop Indonesia—produksi Hong Kong yang berjudul Call Of Heroes (baca ulasannya) justru terasa lebih western dari film ini. Film itu juga lebih berkesan di benak saya, karena menawarkan inovasi dalam karakterisasi dan penceritaan, di balik template yang serupa.

Ironi yang dimunculkan kedua film itu memang lantas membuktikan bahwa kualitas film tak pandang bujet dan kewarganegaraan. Film yang baik dan berkesan, ya tetaplah sebuah film yang baik dan berkesan.

Tapi, The Magnificent Seven moderen bukanlah film yang meninggalkan kesan.

(2,5/5)

Reviewed at IMAX Gandaria City XXI on September 21, 2016

Running time : 128 minutes

Distributed in Indonesia by Sony Pictures Indonesia

A Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer release of an LStar Capital, Village Roadshow Pictures, Pin High Prods., Escape Artists production

Producers: Roger Birnbaum, Rodd Black

Executive producers: Antoine Fuqua, Bruce Berman, Walter Mirisch, Ben Waisbren

Director: Antoine Fuqua

Screenplay: Nic Pizzolatto, Richard Wenk

 Camera (color, widescreen): Mauro Fiore. Editor: John Refoua

Music : James Horner, Simon Franglen

Casts : Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Peter Sarsgaard, Vincent D’Onofrio, Byung-hun Lee, Manuel Garcia-Rulfo, Martin Sensmeier.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s