The Nice Guys Review : Inherent Kiss Kiss Bang Bang

August 17, 2016

The Nice Guys adalah sebuah contoh film dark comedy bertema buddy-cop yang sudah amat langka ditemukan di era blockbuster modern. Kebanyakan film buddy-cop tidak didukung pembangunan atmosfer yang intim. Pembangunan atmosfer itulah yang membuat The Nice Guys menjadi sebuah sajian istimewa dan menjadikannya sebagai pencampuran antara Inherent Vice arahan Paul Thomas Anderson dan Kiss Kiss Bang Bang. Minus pendalaman character study




The Nice Guys memiliki segala hal yang saya harapkan dari Shane Black, sutradara/penulis/produser di balik seri Lethal Weapon hingga ke Iron Man 3. Elemen neo-noir; penghormatan kepada genre hard-boiled—di mana karakter utama berprofesi sebagai detektif dan memiliki attitude antihero–; dua orang yang memiliki kehidupan kacau dan kemudian terpaksa harus bermitra; berseting di Los Angeles; plot yang mengalir dan tak terduga;  adegan adu tembak yang brutal, namun jenaka dan mengejutkan ; dialog-dialog tajam, kocak dan cerdas; komedi fisik; referensi industri film dan budaya pop; hingga perayaan Natal.

The Nice Guys seperti versi yang lebih rapi dan terstruktur dari Kiss Kiss Bang Bang, film feature debut penyutradaraan Black. Seperti halnya Kiss Kiss Bang Bang, The Nice Guys bukanlah film yang langsung bisa dinikmati oleh semua orang. Terlebih bagi yang terbiasa menyaksikan film aksi buddy-cop modern yang mengutamakan efek, koreografi adegan laga ala Jackie Chan, atau sinematografi yang menjual wide-shot dan spectacle.

The Nice Guys tampil lebih sederhana, seperti film tahun 70’an ala Shaft atau French Connection. Palet warnanya didominasi oleh warna khakis, seperti Spotlight (2015); spesial efeknya minimalis ; dan adegan laganya bersifat praktis. Sama seperti Spotlight, film ini memiliki struktur seperti episode pilot sebuah tv-show. Tapi, keunggulan film ini terletak pada kekuatan naskah yang cerdas dan penyutradaraan yang luwes, serta sensitif. Saya menontonnya dua kali. Pertama saya menikmati kelucuan dan dinamika para aktor, serta ceritanya. Saat menonton untuk kedua kalinya, saya mengagumi betapa pekanya pengadeganan dan penyuntingan arahan Black.

Mari saya perkenalkan dua karakter utama di film ini. Atau mungkin lebih tepatnya mereka yang memperkenalkan diri mereka sendiri.

Jackson Healy (diperankan oleh Russell Crowe). Atau mungkin lebih tepat diberi nama belakang “healthy”, karena badannya yang “subur” mencerminkan pameo lama bahwa “badan subur itu sehat”. Duda berusia 50’an ini berprofesi sebagai tukang pukul yang menerima klien dari berbagai usia. Busana kerjanya merangkap sebagai pakaian sehari-hari, yaitu : celana jeans, sepatu sneakers dan blazer berbahan kulit imitasi berwarna biru cerulean metalik. Meski profesinya menuntut dia harus bersikap serius, tegas dan keras, Healy sebenarnya memiliki hati yang lembut dan sifat jujur. Dia tak minum alkohol. Healy lebih suka Yoohoo, minuman botol dengan rasa coklat.

Karakter kedua adalah Holland March (diperankan dengan sangat jenaka oleh Ryan Gosling). Duda beranak satu, perempuan berusia 13 tahun bernama Holly (diperankan oleh aktris remaja Australia, Angourie Rice), yang berprofesi sebagai detektif swasta bersertifikat. Secara fisik, March merupakan antitesis dari Healy. Dia muda, tampan, perlente, hip, mata duitan dan seringkali sok tahu. Indera penciumannya sudah tak berfungsi, setelah pernah ditembak di kepala, yang kemudian menyebabkan istrinya tewas. Tragedi itu membuat hidup March jadi kehilangan arah. Ia gemar mabuk, yang karenanya ia suka berbuat sembrono. Holly, anaknya, bahkan menyebut dia sebagai “ detektif terburuk di dunia”.

Sekuens pembuka adalah titik kunci yang akhirnya mempertemukan March dan Healy. Sebuah mobil yang sedang melaju kencang di malam hari, terbang dan menghantam sebuah rumah hingga berantakan. Pengemudinya ternyata adalah Misty Mountains, seorang aktris porno ternama, yang kemudian tewas tergeletak tanpa busana (dalam pose yang masih menggoda). Sekuens ini mengingatkan saya kepada adegan di Kiss Kiss Bang Bang, di mana sebuah mobil melayang ke dalam danau yang menjadi titik mula  karakter Harry Lockhart (diperankan oleh Robert Downey Jr.) dan Gay Perry (diperankan oleh Val Kilmer) terlibat sebuah kasus konspirasi.

Tewasnya Misty lalu menggiring kedua anti-hero kita untuk bersinggung dengan seorang perempuan muda bernama Amelia (diperankan oleh Margaret Qually), seorang hipster yang gencar melakukan kampanye anti polusi udara. Awalnya March dan Healy bekerja berlawanan. March yang dipekerjakan oleh bibi Misty, mencari Amelia karena diyakini mengetahui informasi terkait hilangnya aktris porno itu ; sedangkan Healy justru disewa oleh Amelia untuk menghajar orang-orang yang mengikutinya.

Setelah sempat saling pukul, March dan Healy sepakat untuk bekerjasama mencari Amelia. Penelusuran keduanya membawa ke sebuah penemuan mengejutkan bahwa ternyata Amelia mengerjakan sebuah film “esksperimental” bersama sang aktris porno. Bukan sembarang film eksperimental, karena plot film tersebut mengandung sebuah pernyataan protes politik terkait isu lingkungan. Targetnya adalah memutar film tersebut di sebuah acara besar dan diliput media. Sebuah plot device yang juga terdapat di Kiss Kiss Bang Bang. Bedanya, di film debut penyutradaraan Black itu, film fiktifnya hanya berfungsi sebagai McGuffin.

Saat menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh produser film porno ternama, Sid Chattuck, kedua jagoan kita menyadari bahwa satu persatu orang yang terlibat dalam film “eksperimental” tersebut mati dibunuh. Keduanya, disertai oleh anak perempuan March, tidak hanya bertujuan menemukan Amelia. Tetapi juga mengungkap siapa yang berada di balik misteri konspirasi ini.

“…banyak momen di The Nice Guys terlihat lebih mengandalkan pengarahan berdasarkan visi sutradara, ketimbang pengarahan berdasarkan naskah.”



LEBIH MERUPAKAN PENGARAHAN BERDASARKAN VISI SUTRADARA

Ada satu adegan di awal film, saat karakter March milik Gosling menemui calon kliennya, seorang wanita lanjut usia. Wanita itu meminta March untuk mencari suaminya yang menghilang. Saat March menanyai kronologis hilangnya sang suami, kamera lalu cut to sebuah pot abu jenasah yang tertera nama suami si calon klien. March lalu bertanya kapan wanita lanjut usia tersebut menyadari bahwa suaminya hilang. Lalu dia menjawab dengan percaya diri, “ Sesudah upacara pemakaman.” Saya tertawa terbahak-bahak menyaksikan adegan ini.

Komedi  di The Nice Guys memang lahir dari perpaduan antara humor verbal dan visual. Dialog lewat naskah yang cerdas mampu disampaikan secara pas oleh para aktor, kamera berhasil menangkap momen dan penyuntingan berhasil menggabungkannya. Ini adalah salah satu bukti bahwa Black melakukan tugasnya sebagai sutradara dengan amat baik. Dan adegan yang saya gambarkan di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak humor yang bertaburan di sepanjang durasi film.

Penceritaan naskah The Nice Guys yang turut ditulis Black bersama Anthony Bagarozzi terasa mengalir dan dipenuhi elemen tak terduga. Hal ini sejalan dengan peletakan karakterisasi dua tokoh utamanya, penyelidik  amatir yang bekerja tanpa rencana. Keberhasilan March dan Healy bukan karena hasil analisis yang cerdas, melainkan lebih karena mekanisme deus ex machina. Ada satu adegan di mana March yang sedang mabuk berdiri di sebuah balkon di pesta milik produser film porno, berusaha menarik perhatian seorang gadis yang mengenakan busana Pocahontas. March meminta sang gadis pura-pura menembaknya dan March kemudian pura-pura jatuh. Karena over acting dan ditambah sedang mabuk, March justru jatuh berguling-guling dari balkon dan bertemu dengan sang produser yang telah menjadi mayat.

Sifat slenge’an yang dihadirkan di gaya penuturan naskah The Nice Guys juga selaras dengan napas era 70’an yang psychedelic. Ya, naskah film ini memang dipenuhi berbagai referensi budaya pop dan film yang menjadikan Los Angeles sebagai seting cerita. Mulai dari aktor/penari Mikhail Baryshnikov, serial televisi popular di tahun tersebut, hingga ke hadirnya aktris Kim Basinger. Kim juga pernah berakting bersama Russell Crowe di film neo-noir dengan seting Los Angeles, L. A. Confidential.

Atmosfer era 70’an bahkan ditampilkan sejak dari font Pump Trilline (yang juga dipakai oleh PicturePlay ^=^) hingga ke penggunaan lokasi yang menampilkan bangunan dengan arsitektur beraliran Brutalis, sebuah gerakan yang populer di era 50 hingga 70’an. Tapi film ini juga menghadirkan suatu anakronistik, saat lagu September milik Wind, Earth and Fire dan Get Down on It milik Kool and the Gang dihadirkan. Kedua lagu tersebut, berturut-turut, barulah hadir di tahun 1978 dan 1981. Sedangkan film berseting di tahun 1977.

The Nice Guys memang bertumpu sepenuhnya kepada Russell Crowe dan Ryan Gosling dalam menciptakan sebuah dinamika yang asyik dan kocak, meski keduanya bukanlah spesialis aktor komedi. Interaksi mereka terasa organik sebagai dua orang dengan karakter berbeda yang akhirnya mesti bekerjasama. Crowe, menjalankan fungsinya sebagai tough guy yang cenderung saklek. Komedi karakternya hadir lewat momen canggung dan Crowe amat bagus dalam hal itu. Sementara, Gosling lebih flamboyan. Dia melakukan impresi aktor bisu dan melakukan adegan slapstick dengan gesture yang tepat. Gosling juga bermain lepas dan tak khawatir untuk berteriak dalam pitch tinggi seperti perempuan.  Di antara chaos yang hadir di antara keduanya, Angourie Rice berfungsi sebagai penyeimbang sebagai karakter Holly.

Shane Black jeli dalam konsistensi karakterisasi dua karakter utamanya, bahkan melalui detail kecil lewat busana. Healy milik Crowe yang cenderung kaku, hanya memiliki satu kostum yang sama. Sementara, March milik Gosling yang lebih berjiwa muda dan dinamis, diperlihatkan kerap berganti busana.

Akan tetapi, interaksi dan dinamika asyik antar karakter tidak akan hadir bila sutradara tidak jeli dan sensitif dalam menangkap momentum. Film seperti The Nice Guys adalah film yang tidak akan memiliki enerji bila diarahkan oleh sutradara yang tak paham materinya. Pemahaman itu dibutuhkan karena saat syuting film seperti ini, improvisasi terhadap mengalirnya suasana di lokasi sangat penting. Namun, improvisasi tersebut masih harus dikawal agar tidak terlalu melenceng dari naskah. Untuk itu, sutradara yang visioner dan mampu mengarahkan dengan jelas di lokasi amatlah penting. Hal tersebut menjadikan banyak momen di The Nice Guys terlihat lebih mengandalkan pengarahan berdasarkan visi sutradara, ketimbang pengarahan berdasarkan naskah.

Pengarahan Black yang cermat dapat terlihat pula dari bagaimana dia mengatur peletakan properti, pergerakan kamera dan koreografi aksi antara kedua karakter utama. Salah satu contohnya bisa dilihat dalam adegan awal di saat karakter Crowe menyambangi karakter Gosling di rumahnya dan kemudian memukulnya, terlihat jelas bahwa adegan ini adalah hasil dari kejelian. Kamera kerap memberikan ruang kosong di pinggir sebelah kanan layar, saat Russel & Crowe berada dalam satu frame. Hal tersebut memberikan ilusi bahwa dua karakter yang mereka perankan adalah karakter terasing dan pecundang. Selepas shot itu, kamera dengan lincah berpindah-pindah melakukan close-up untuk memberikan interaksi dinamis.



GILA, URAKAN, JENAKA DAN SERU

The Nice Guys adalah sebuah contoh film dark comedy bertema buddy-cop yang sudah amat langka ditemukan di era blockbuster modern. Kebanyakan film buddy-cop tidak didukung pembangunan atmosfer yang intim. Pembangunan atmosfer itulah yang membuat The Nice Guys menjadi sebuah sajian istimewa dan menjadikannya sebagai pencampuran antara Inherent Vice arahan Paul Thomas Anderson dan Kiss Kiss Bang Bang. Minus pendalaman character study.

Hanya ada satu hal yang membuat film ini terasa kurang lepas dan “gila”, yaitu keinginan untuk menjadikannya memiliki sebuah pedoman moral untuk menjadikan judulnya relavan. Kesan itu muncul saat Holly meminta Healy untuk tidak menjadi pembunuh, karena tidak ada pembangunan narasi menuju ke pemikiran tersebut.

Lalu ada satu adegan di kolam renang milik March, saat Healy bercerita tentang masa lalunya. Terdapat satu ketidak sinkronan penyuntingan suara dan gambar, yang berujung pada pengucapan satu line secara berulang dan beruntun, serta ketidaksesuaian antara gerak mulut Healy dan dialog yang diucapkannya.

Selebihnya The Nice Guys memberikan kita semua yang bisa diharapkan dari sebuah film blockbuster musim panas. Gila, urakan, jenaka, dan seru. Saya mendambakan untuk bertemu karakter-karakter utamanya di film selanjutnya.

Tidak seperti tulisan “tato” yang terdapat di punggung tangan kanan karakter March milik Gosling, “ You will never be happy 🙂. Menyaksikan film ini lebih dari cukup untuk memberikan kita perasaan “happy” :).

(4/5)

Reviewed at Gandaria City XXI. Now Playing in theaters

Distributed in Indonesia by Warner Bros Indonesia

Running Time : 116 minutes

Warner Bros, Joel Silver, Waypoint Entertainment, RatPac-Dune Entertainment.

Produced by Joel Silver

Executive producers : Anthony Bagarozzi, Ken Kao, Michael J. Malone, Hal Sadoff. Co-producers, Aaron Auch, Ethan Erwin.

Director : Shane Black

Screenplay : Shane Black, Anthony Bagarozzi

Camera (color), Philippe Rousselot

Editor : Joel Negron

Music : David Buckley, John Ottman

Production designer : Richard Bridgland

Art director : David Utley

Costume designer : Kym Barrett

Sound :  Peter J. Devlin

Sound designer : James Harrison

Casts : Russell Crowe, Ryan Gosling, Matt Bomer, Kim Basinger, Angourie Rice.

Advertisements