Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 Review – “Tribute” Atau Eksploitasi Jenama?

September 10, 2016

“Warkop, dalam film-filmnya, selalu mengusung konsep low comedy.”




Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss selalu dipasarkan sebagai sebuah “tribute”. Sebuah penghormatan terhadap sebuah kelompok komedian yang terdiri dari Dono, Kasino dan Indro. Kelompok Warkop  memang selalu diasosiasikan dengan ketiga tokoh ini. Bersama-sama, mereka berhasil menetapkan diri mereka sebagai “raja” komedi layar lebar di era 80’an dan masih mempertahankan kepopuleran mereka hingga ke pertengahan 90’an . Bentang waktu hampir dua dekade dalam menjaga bentuk dan konsep komedi, lantas menjadikan “Warkop DKI” sebagai sebuah jenama. Sebagai sebuah merek dagang. Sebagai sebuah brand.

Oleh karena itu, saya lebih suka menyebut ulasan film ini sebagai sebuah “tribute” kepada Warkop pada masa keemasannya.

Warkop, dalam film-filmnya, selalu mengusung konsep low comedy. Suatu gaya komedi yang menggabungkan : celetukan-celetukan jenaka, namun kasar dan lugas (coarse language); komedi yang menertawakan penderitaan fisik (slapstick); dan farcical comedy, yaitu jenis komedi yang dengan sengaja melebih-lebihkan keadaan fisik atau karakteristik seseorang (beberapa orang) yang terperangkap dalam suatu sirkumtansi gila-gilaan yang tak terkendali. Gaya low comedy ini memang cocok untuk segmentasi market film Indonesia yang menyasar masyarakat ekonomi menengah ke bawah sebagai ceruk market utamanya. Selain film, Warkop pun menjual komedi mereka melalui kaset. Hanya saja pendekatan komedi berbeda mereka terapkan di medium audio itu. Di sana, Warkop memakai konsep high comedy yang menggunakan witty comedy (komedi intelektual) sebagai elemen utama yang memang lebih menyasar golongan muda yang memiliki selera lebih baik.

Komedi yang diusung trio ini dalam film-filmnya selalu bersifat “komedi bodoh” (dumb comedy) dan oleh karena itu film-film mereka pun tidak akan pernah digolongkan sebagai “masterpiece”. Hanya saja, Warkop pada masa keemasan mereka di era 80’an—dalam filmnya—tetap memperhatikan pentingnya dramaturgi dan pengadeganan saat menyajikan cerita. Mereka masih menggunakan setup dan mengajak penonton mencerna situasi yang mereka alami, sebelum penonton dipaparkan dengan komedi. Tidak ujug-ujug membombardir dengan lawakan tanpa henti. Memberikan variasi tempo yang berguna untuk mempertahankan mood penonton dalam mengikuti observational comedy dalam konsep low comedy mereka. Observational comedy adalah jenis komedi yang menertawakan beragam peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Jenis komedi ini butuh setup agar penonton mengenali topik yang dikomedikan, supaya terhubung. Seringkali pula mereka memasukan humor satire “nakal” yang menyentil isu politik. Itulah kenapa Warkop diidentikkan sebagai penyaji humor cerdas. Suatu pendekatan segar di era represif Orde Baru yang menabukan kebebasan beropini.

Sayang, kualitas candaan Warkop menurun drastis seiring lesunya bisnis perfilman nasional memasuki dekade 90’an. Humor mereka lalu hanya terbatas pada slapstick dalam rangkaian sketsa yang kerap menggunakan perempuan seksi sebagai daya tarik. Tak lagi memakai kaidah penceritaan, dramaturgi ataupun perajutan storytelling seperti karya layar lebar mereka di era 80’an.

“Dalam konteks Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1, seperti yang selalu diutarakan di setiap kegiatan promosi, “tribute” terhadap Warkop menyasar secara spesifik ke era keemasan grup komedian ini di era 80-an. Menelaah, menelisik dan melakukan napak tilas ke era tersebut—seperti yang saya lakukan di ulasan ini—lantas menjadi relevan dan kontekstual.”

 



NAPAK TILAS WARKOP 80’an, TRIBUTE SEBAGAI KATA KUNCI ANALISIS

Melakukan napak tilas dan analisis terhadap gaya komedi trio Warkop, berarti kita juga harus menelaah perwatakan karakter panggung mereka. Dono, Kasino dan Indro memang memiliki karakteristik yang khas.

Dono adalah The Brain, yang menjadi otak dari segala komedi Warkop. Karakternya selalu ditampilkan sebagai bulan-bulanan, mengeksplotasi tampilan fisiknya dan logat Jawa yang keluar dari suaranya. Lawakan muncul, karena Dono kerap ditampilkan sebagai karakter yang “nyeleneh”, udik dan norak. Karena tampilan fisiknya yang “menonjol” itulah, Dono selalu menjadi bintang utama di setiap film Warkop. Meski selalu jadi bahan candaan, Dono selalu di bawah naungan keberuntungan.

Itulah sebab mengapa orang-orang kerap menyebut film Warkop DKI sebagai “film Dono”. Karena di setiap film mereka, Dono yang menjadi pusat cerita.

Kasino, di sisi lain merupakan The Improvisation Machine. Dia pemuda yang selalu digambarkan sebagai sosok oportunis, namun seringkali sial. Lewat logat Banyumas-an atau “Jawa ngapak” (juga sering ditampilkan sebagai karakter Betawi), ciri khas Kasino terletak  pada kemampuannya mengeluarkan celetukan-celetukan tak terduga yang nyelekit, namun kocak. Dari mulutnya terlahir berbagai jargon unik yang kemudian menjadi bahasa slang. Seperti ‘rikiplik”, “Dasar nyomet lu”, “ Rumah segini gede ruangan tamu semua, di mana jambannya” dan banyak lagi.

Sementara Indro, lebih merupakan sosok penyeimbang. The Balancer yang mengatur dinamika humor antara Dono dan Kasino. Karakter Indro di film relatif lebih kalem dan lebih serius, serta lebih flamboyan. Lewat logat Bataknya (dan kadang lewat logat Banyumas), Indro menghadirkan sebuah kontradiksi dari stereotipe suku yang keras. Sosoknya yang lebih tinggi, kerap juga jadi bahan becandaan.

Mengapa saya mengupas sekilas napak tilas Warkop orisinal? Karena kata kunci “tribute”.

Tribute sendiri didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan yang membuktikan atau menegaskan suatu kualitas atau karakteristik yang sudah diakui khalayak.

Dalam konteks Warkop Reborn : Jangkrik Boss Part 1, seperti yang selalu diutarakan di setiap kegiatan promosi, “tribute” terhadap Warkop menyasar secara spesifik ke era keemasan grup komedian ini di era 80-an. Menelaah, menelisik dan melakukan napak tilas ke era tersebut—seperti yang saya lakukan di ulasan ini—lantas menjadi relevan dan kontekstual.



GESTURE “TRIBUTE” YANG SEMPAT BERHASIL

Dalam beberapa hal, gesture sebagai “tribute” memang terlihat dalam  film ini.

Gesture paling kentara tentu saja penampilan fisik para aktornya. Abimana Aryasetya (Catatan Harian si Boy, Haji Backpacker) tampil meyakinkan sebagai Dono. Menggunakan gigi palsu hingga terlihat tonggos dan body suit yang membuat perutnya menjadi buncit, Abimana memperlihatkan satu transformasi fisik paling meyakinkan dalam sejarah sinema Indonesia. Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga menyerupai Dono. Pun dengan suara dan perilakunya. Abimana adalah aktor drama berbakat yang memiliki comic timing, seperti yang diperlihatkannya di Catatan Harian Si Boy (2011). Di Jangkrik Boss, dia tak hanya meniru Dono, dia menjadi Dono. Lengkap dengan comedic timing-nya.

Vino G. Bastian (3 Nafas Likas, Bangkit!) pun tak kalah meyakinkan. Dia berhasil menampilkan apa yang menjadi ciri khas Kasino. Celetukan-celetukan dalam logat Banyumas-an, seperti saat dia mengucap kata, “Tulung”. Comic timing-nya terkadang tepat, terkadang berlebihan. Kesan berlebihan itu dikarenakan porsi Vino lebih dominan dibanding dua rekannya. Dalam Jangkrik Boss Part 1, Kasino yang diperankan oleh Vino terlihat sebagai karakter utama. Bukan Dono, seperti di film-film Warkop pada umumnya.

Peran Tora Sudiro (Arisan, Juara) yang relatif lebih aman dibanding dua rekannya. Tepat seperti karakter Indro yang memang lebih kalem, yang membuat peran Tora tidak menonjol. “Aman”-nya peran Tora, juga disebabkan oleh munculnya Indro asli yang dalam film ini berfungsi layaknya “pendamping” atau mentor. Indro kerap muncul dalam berbagai karakter nyentrik, mulai sebagai malaikat dan setan pendamping, hingga “arwah” dalam rupa Minion.

Gestur ”tribute” juga dihadirkan lewat busana, palette warna dan lagu-lagu bernuansa 80’an, seperti lagu “Mamayukero, “Burung Kakatua”, hingga theme song Warung Kopi”. Pada beberapa momen, berbagai gesture tersebut berhasil menimbulkan sentimentil nostalgia. Hingga ciri khas Anggy Umbara sebagai sutradara mengambil alih yang, ironisnya, membuat Jangkrik Boss Part 1 lebih terasa sebagai merekonstruksi film-film Warkop di era 90’an. Tanpa memperhatikan pengadegan dan dramaturgi.

Sentimentil nostalgia sebenarnya berhasil ditampilkan sejak adegan pembuka sampai sepuluh atau 15 menit sejak adegan pembuka digulirkan.

Adegan pembuka pembacaan berita di televisi yang dilakukan oleh Indro, satu-satunya anggota Warkop yang masih hidup. Meniru adegan pembuka di film Setan Kredit (1981).

Awalnya, adegan ini efektif membangkitkan sentimental nostalgia. Indro yang ditampilkan secara karikatur, mengulang perannya yang di film tahun 1981 sebagai pembaca ramalan cuaca. Hanya saja Jangkrik Boss Part 1 adalah film arahan Anggy Umbara, sineas yang gemar menggunakan satu gimmick berulang-ulang hingga terasa over-dosis. Komedi plesetan one-liner pembacaan berita ini harus diulang tiga kali, hingga hilanglah efektivitasnya. Terlalu panjang karena Indro melakukannya seorang diri. Dalam Setan Kredit, pembacaan berita dilakukan oleh ketiga anggota Warkop secara bergantian. Berfungsi sebagai pengenalan karakter.

Jangkrik Boss Part 1 memakai plot dan story-arc tiga film Warkop di era 80’an : Setan Kredit, CHIPS (1982) dan IQ Jongkok (1981).

Pengenalan karakter anggota Warkop di film ini ditampilkan melalui plot CHIPS, di mana mereka menjadi anggota program kepolisian yang bernama “ Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial”. Ketiga anggota Warkop diperkenalkan melalui aktivitas mereka sebagai korps CHIPS yang berujung pada tindakan ceroboh. Pengenalan ini berhasil memicu nostalgia. Kita tersenyum, tertawa dan mengenali bahwa mereka adalah Warkop yang kita kenal.

Dono, Kasino dan Indro bukanlah cerminan korps yang ideal, tentu saja. Kecerobohan dan kekikukan mereka malah membuat CHIPS merugi. Dalam satu momen, kita diperkenalkan kembali dengan jargon “Jangkrik Boss”, sebuah kode yang terlahir kala Kasino memergoki atasan mereka Pak Juned (ditampilkan secara over-acting dan teatrikal oleh Ence Bagus) sedang bermesraan dengan seorang perempuan seksi mata duitan (lewat cameo Nikita Mirzani).

Sub-plot tersebut memang meminjam CHIPS. Peran Ence Bagus dalam film 80’annya diperankan oleh almarhum Panji Anom. Sama-sama berkacamata dan tidak bisa mengucapkan konsonan “r”. Bedanya, Panji Anom tidak membawakan perannya secara berlebihan.

Untuk membantu trio Dono-Kasino-Indro menanggulangi kasus pembegalan, Bos Juned memberikan mereka bantuan lewat karakter perempuan seksi peranakan Perancis bernama Sophie (diperankan oleh Hannah Al Rasyid, Modus Anomali). Momen nostalgia kembali muncul, karena penampilan fisik Hannah mengingatkan kita kepada aktris Meriem Bellina yang juga kerap muncul di film-film Warkop. Hannah tidak asing dengan konsep komedi sketsa, karena ia pernah tampil di program televisi serupa. Kemunculan Hannah dan Nikita kembali mengulang tradisi film-film Warkop dalam menghadirkan karakter perempuan cantik dan seksi. Sebagai pemanis.

Terlibat hutang akibat merugikan CHIPS dan terlibat kredit, Dono-Kasino-Indro lantas berupaya untuk mencari uang. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan korban tabrak lari (cameo Bene Dionisius Rajagukguk, komika sekaligus salah satu penulis naskah filmnya) yang memberi mereka sebuah peta harta karun.

Ketiga jagoan kita ini, bersama Sophie, lalu melanjutkan petualangan mereka hingga ke Kuala Lumpur.

“Hanya saja Jangkrik Boss Part 1 adalah film arahan Anggy Umbara, sineas yang gemar menggunakan satu gimmick berulang-ulang hingga terasa over-dosis”



OVER-DOSIS KHAS SUTRADARA

Sebenarnya tak ada story dalam Jangkrik Boss Part 1. Film ini murni storytelling yang tersusun dari serangkaian sketsa yang menggabungkan kepingan-kepingan elemen nostalgia dan pelesetan (spoof) dari awal hingga akhir. Sebenarnya tak masalah. Film-film Warkop di 80’an melakukannya. Pun dengan komedi konyol di era tersebut seperti Airplane (1980) ataupun  The Naked Gun (1988) yang dibintangi Leslie Nielsen.

Hanya saja dalam film-film yang saya sebut, masih tahu kapan harus berhenti melawak dan kapan harus memulai. Komedi mereka masih diiringi oleh drama. Dalam film-film itu, komedi slapstick muncul di tengah-tengah adegan dan momen yang serius, menghasilkan momen tak terduga di tengah situasi yang kita kenal.

Lawakan dalam film-film yang saya sebut berada dalam suatu konsep tunggal. IQ Jongkok dan CHIPS, misalnya, memparodikan berbagai kejadian yang terkait dalam perburuan harta karun dan kegiatan Warkop sebagai anggota CHIPS. Airplane, di sisi lain, menjadikan hal-hal terkait penerbangan komersial sebagai sumber guyonan.

Keputusan Jangkrik Boss menggunakan mash-up tiga plot film Warkop berimbas pada ramainya lawakan. Ditambah keputusan Anggy Umbara dalam menghilangkan banyak setup menuju komedi.. seperti yang ditampilkannya dalam seri Comic 8. Hasilnya menjadi begitu hiruk pikuk dan berlebihan. Anda akan tertawa bila guyonan dihadirkan dalam tempo yang terjaga. Sebaliknya, guyonan yang terlalu dibombardir akan membuat Anda jenuh.

Keputusan Anggy amatlah disayangkan, karena beberapa materi komedi yang dihadirkan dalam gaya observational sebenarnya berhasil bekerja.

Ambil contoh, guyonan tilang kendaraan bermotor saat Indro milik Tora Sudiro memergoki seorang pengendara (cameo komika Bintang Timur) menerobos area verboden. Atau saat Dono milik Abimana bersaing membeli tisu di perhentian lampu merah. Juga saat trio Warkop berkunjung ke Pakde Slamet (cameo Tarsan Srimulat), untuk meminjam uang. Kesemua momen itu efektif dalam menghasilkan gelak tawa karena kita diberikan kesempatan mencerna dan mengikuti setup ke lawakannya. Ada sentuhan drama di dalamnya, seperti film-film Warkop era 80’an.

Akan tetapi selepas itu, guyonan mulai lepas kendali. Membombardir di mayoritas adegan dan sekuens. Penonton mulai jenuh dan lelah. Ditambah kesan pamer Anggy Umbara , seperti yang diperlihatkan di film 3 Alif Lam Mim, dalam menggunakan efek spesial yang justru mengurangi kadar lawakannya. Seperti saat adegan humor janggal “pergantian wajah” antara cameo Hengky Solaeman dan Inggrid Widjanarko.

Kejenuhan juga timbul dari keputusan pengambilan gambar yang didominasi oleh medium dan close-up shots, menghasilkan gambar-gambar padat yang kebanyakan tidak disertai variasi lain. Di awal-awal film, sebenarnya variasi itu ditampilkan. Polanya dapat dikenali lewat serangkaian komedi sketsa yang diselingi dengan kemunculan berbagai footage kegiatan warga Jakarta sehari-hari. Lalu muncul penyuntingan transisi bergaya “iris” (teknik penyuntingan di mana ada lingkaran yang menutup seperti selaput mata atau iris kamera), sebelum kita masuk ke rangkaian sketsa lainnya.

Sayangnya, variasi itu dihilangkan oleh Anggy Umbara saat film memasuki pertengah durasi. Kita jadi jenuh, akibat humor dan atribut yang membombardir.

Rumor beredar bahwa Warkop Reborn : Jangkrik Boss awalnya hanya ditujukan untuk satu film saja. Lalu, tersiar kabar bahwa Falcon Pictures memutuskan untuk memecahnya menjadi dua bagian. Mengikuti tradisi Comic 8 : Kasino King yang juga dipecah. Pemecahan film menjadi dua seperti Kill Bill atau Harry Potter : Deathly Hallows bisa dimaklumi karena materi yang memang berlimpah dan tak cukup disajikan lewat satu film saja. Dalam kasus Jangkrik Boss, kemudian bisa dipahami mengapa ritmenya menjadi porak-poranda. Demi memperpanjang durasi film, tim filmmaker terpaksa harus melakukan tambal sulam melakukan penyesuaian yang ujungnya berimbas kepada penyampaian cerita. Saya menduga penyelipan berbagai footage kegiatan sehari-hari warga Jakarta adalah sebagai upaya untuk memperpanjang durasi. Tak heran, bila kemudian variasi itu pun hanya ditempelkan sekadarnya saja.

Lantas tak heran pula bila adegan cliffhanger menuju Jangkrik Boss Part 2 juga terlihat kasar dan dipaksakan.

Sebuah tribute akan berhasil bila elemen-elemen penghormatan yang digunakan dihadirkan sesuai porsi. Bila dihadirkan secara berlebihan, kesan eksploitasi yang akhirnya muncul.

Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 tampil melenceng dari fungsi awalnya, sebagai tribute terhadap film-film keemasan Warkop di era 80’an. Yang hadir, justru film-film mereka di era 90’an.

“Kekuatan jenama Warkop bisa dilihat bagaimana tim marketing film menggunakannya untuk menarik minat penonton. Menciptakan suatu cultural event yang mendorong urgensi penonton untuk berbondong menonton filmnya di pemutaran hari pertama.”



TRIBUTE” ATAU EKSPLOITASI JENAMA?

Warkop sebagai sebuah jenama memang sudah lintas generasi. Saya sempat mewawancarai berbagai penonton lintas demografi, sebelum menyaksikan film ini. Sekelompok anak muda berusia belasan—yang bahkan belum lahir saat Warkop berada di puncak kejayaannya—terlihat mengantri di kerumunan pembeli tiket. Mereka mengatakan bahwa mereka akrab dengan Warkop lewat VCD atau penayangan ulang film mereka di televisi. Beberapa penonton berusia dewasa yang memang sempat menyaksikan film Warkop di layar lebar, tertarik menonton Jangkrik Boss Part 1 sebagai nostalgia. Sayangnya, para penonton ini (yang kebetulan duduk di dekat saya) terlihat jenuh saat filmnya mulai membombardir humor.

Kekuatan jenama Warkop bisa dilihat bagaimana tim marketing film menggunakannya untuk menarik minat penonton. Menciptakan suatu cultural event yang mendorong urgensi penonton untuk berbondong menonton filmnya di pemutaran hari pertama. Penontonnya lintas demografi, bahkan menarik minat para pengunjung yang berkata mereka hanya mengunjungi bioskop beberapa bulan sekali.

Tapi, keluhan seorang bapak yang duduk di sebelah saya bahwa, “filmnya kok jayus, ya?” bisa jadi perenungan. Dia dan keluarganya hadir untuk mencecap manisnya nostalgia kenangan manisnya bersama Warkop era 80’an. Bukan yang mereka lihat di layar sekarang.

Nampaknya komedi yang dihadirkan Jangkrik Boss Part 1 akan berhasil di generasi kekinian, yang akrab dengan komedi stand-up. Mayoritas materi humor ala stand-up comedian memang sengaja dihadirkan untuk mengakomodir penonton generasi muda, yang menerima film seri Comic 8 milik Anggy Umbara. Story-arc ditentukan, guyonan bergaya komika dimasukkan ke dalamnya.

Bila itu tujuan utama, maka Jangkrik Boss Part 1 bukanlah murni sebuah tribute. Meski beberapa gesture penghormatan dihadirkan, secara keseluruhan film ini dapat dipandang sebagai sebuah eksplotasi jenama. Pemanfaatan merek dagang Warkop yang melegenda.

Di tahun 2013, saya menyaksikan sebuah film berjudul Finding Srimulat arahan Charles Gozali. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian tersebut sayangnya tidak laku di pasaran. Film tersebut merupakan sebuah tribute dan penghormatan yang baik terhadap grup lawak legendaris, Srimulat. Menggabungkan antara pandangan generasi masa kini terhadap Srimulat, getir kehidupan mereka dan mampu menangkap jiwa lawakannya. Semua itu terjadi karena Finding Srimulat memakai paradigma drama. Guyonan khas Srimulat dimasukkan kedalamnya dan menjadi koheren. Bukan sebuah film yang sempurna, namun sebagai tribute film itu berhasil melakukannya.

Saya serahkan kepada Anda untuk menilai, apakah Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 sebagai tribute atau eksploitasi jenama?

(2/5)

Catatan : edisi ulasan sebelumnya telah salah menulis lakon  istri Hengky Solaeman sebagai Titik Qadarsih. Yang benar adalah Inggrid Widjanarko. Kesalahan telah diperbaiki.

Reviewed at CBD Ciledug XXI September 8, 2016

A Falcon Pictures presentation

Executive producer : Indro Warkop, H.B Naveen, Dallas Sinaga

Producer : Frederica

Line producer : Dewi Soemartojo

Director : Anggy Umbara

Script : Andy Awwe Wijaya, Bene Dion Rajagukguk, Anggy Umbara

Director of photography : Yunus Pasolang

Editor : Bounty Umbara, Wawan Wibisono

Sound recordist : Yarri

Sound designer : Khikmawan Santosa

Music : Andhika Triyadi

Visual effect : Epic Fx Studios

Art director : Ade Gimbal

Comedy coach : Arie Keriting

Casts : Abimana Aryasetya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Hannah Al Rasyid, Ence Bagus

Cameo : Tarsan Srimulat, Hengky Solaeman, Inggrid Widjanarko, Agus Kuncoro Adi, Nikita Mirzani, Bintang Timur, Mongol, Arie Tulang, Bene Dion Rajagukguk, etc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s