Cek Toko Sebelah Review: Rekonsiliasi Lewat Komedi

Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”.




Ada satu momen di Cek Toko Sebelah, film feature kedua karya penyutradaraan komika Ernest Prakasa setelah Ngenest (2015), yang berhasil membuat hati saya tertambat. Satu momentum yang berhasil menggugah pikiran saya bahkan setelah filmnya usai.

Momentum ini ada saat Koh Afuk (diperankan dengan sangat sangat baik oleh aktor berkebangsaan Malaysia, Chew Kin Wah, My Stupid Boss) bersender di kolom tiang toko kelontong Jaya Baru miliknya yang kini terlihat kosong. Koh Afuk yang sudah lanjut usia, berperawakan kecil dan rambutnya dipenuhi uban itu terlihat mendorong punggungnya sendiri ke kolom tiang. Ia menunjukkan kerapuhan. Matanya terlihat nanar dan gundah. Air dan raut mukanya nampak putus asa. Dia lalu perlahan terduduk dan kemudian menangis dengan diiringi soundtrack bergaya balada.

Adegan itu hanya beberapa detik saja, namun merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa yang telah kita saksikan di layar sebelumnya. Saya patah hati melihat adegan itu yang kemudian membuat saya teringat dengan ayahanda saya. Saya bisa merasakan kekecewaan beliau saat saya tidak mengindahkan harapannya, lewat karakter Koh Afuk. Saya ingin memeluk dia, menenangkannya dan berkata, “ Ayah, maafkan saya.”

Cek Toko Sebelah dijual sebagai film komedi. Judulnya sendiri merujuk pada frase yang menyatakan ekspresi pemilik toko yang menganjurkan calon pembelinya untuk membandingkan harga atau kualitas barang ke toko milik pesaing. Film ini memang menawarkan rangkaian humor, tetapi humor tersebut dipadupadankan dengan drama yang berhasil dieksekusi dengan baik. Menggabungkan antara komedi dan drama di dalam sebuah cerita adalah sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi dan film ini adalah contoh yang memadukannya dengan manis. Saya tertawa karena mayoritas gurauan di dalamnya, tetapi elemen drama di film inilah yang membuat cita rasanya pekat dan melekat.

Buktinya? Adegan yang saya ilustrasikan di atas.

Bila Ngenest diceritakan dari sudut pandang karakter Ernest—yang memulai narasi dengan voice over-, Cek Toko Sebelah mengajak kita melakukan observasi tanpa terasa ingin mengarahkan pemahaman kita.  Observasi terhadap keluarga Koh Afuk, pria paruh baya keturunan Tionghoa yang memiliki dua anak pria dewasa.

Mereka adalah Yohan (kemudian dipanggil Koh Yohan, diperankan dengan penuh sensitivitas oleh Dion Wiyoko), si anak tertua. Yohan merupakan suami dari Ayu (diperankan dengan pas oleh Adinia Wirasti, AADC). Si anak kedua dan sekaligus si bungsu, Erwin Surya (diperankan oleh Ernest Prakasa), yang belum menikah dan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, (diperankan oleh Gisella Anastasia).

Meski dua bersaudara kandung, ada semacam perbedaan kontras antara Yohan dan Erwin yang membuat mereka terpolarisasi dan polarisasi karakter dalam penulisan cerita merupakan sumber konflik.

Yohan adalah pemuda yang memiliki darah seni dalam tubuhnya. Dia menyukai fotografi, bahkan menjalankan hobinya itu sebagai profesi. Itu sebabnya Yohan terlihat serasi dengan istrinya yang memiliki bakat dalam seni patiseri. Ayu bahkan berhasrat untuk membuka kedai kue sendiri.

Sementara Erwin adalah tipikal pebisnis dengan karir cemerlang. Dia baru saja mendapat kesempatan untuk dipromosikan sebagai pemimpin wilayah Asia Tenggara dari kantor tempat dia bekerja. Kekasih Erwin pun punya karir tak kalah cemerlang.

Naskah Cek Toko Sebelah konsisten dalam menjaga perwatakan karakternya. Yohan yang nyeni memakai busana kasual dan bersahaja, gaya bicaranya santai, berambut agak panjang dan memelihara jenggot. Erwin berpenampilan klimis dan rapi jali; gaya bicaranya teratur dan sering berdialog dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan kualitas cita rasa internesyenel; sikapnya menunjukkan keteraturan dan rasa percaya diri.

Yohan adalah seseorang yang mewakili imej bad boy, sedangkan Erwin adalah perwakilan seorang poster boy.

Hingga suatu ketika kakak beradik ini kembali bersinggungan saat ayah mereka tiba-tiba jatuh sakit. Koh Afuk kemudian meminta Erwin untuk membantunya mengelola usaha toko kelontong, sebuah permintaan yang kemudian membuat Yohan—sebagai anak tertua– merasa disepelekan. Alasan Koh Afuk sebenarnya logis, karena Yohan dilihatnya belum bisa untuk memegang tanggung jawab.

Tapi kamu ngurus diri kamu aja belum bener”, begitu kata Koh Afuk kepada anak sulungnya.

Erwin sendiri memiliki konflik batin mendengar permintaan sang ayah. Karirnya sedang menanjak dan dia tak ingin melewatkan kesempatan yang dia peroleh. Lewat sebuah diskusi, Erwin lalu setuju membantu ayahnya mengelola toko, hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Di sinilah konflik sesungguhnya terjadi. Konflik yang melibatkan ego ayah dan anak; kejadian masa lalu; usaha seorang pengusaha pengembang real estate (diperankan secara komikal oleh Tora Sudiro) untuk membeli kawasan tempat toko Jaya Baru itu berada; dan, seperti judulnya, (sedikit) konflik dengan pemilik toko sebelah.

Pondasi utama Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah drama keluarga. Lawakan diberikan di sela-sela pembangunan dramatisasi konflik antara karakter utama, lewat berbagai celotehan, pelesetan dan dialog jenaka yang dilontarkan barisan para pemeran pendukung yang memang komedian. Mayoritas humor dalam film ini adalah bergaya observasi, jenis komedi yang berdasarkan kejadian sehari-hari atau fenomena budaya populer yang sedang atau sempat terjadi.

Pilihan kreatif menjadikan fungsi para karakter di film ini pun terbagi dua: 1) para aktor utama untuk menjaga intensitas drama; 2) para pemeran pembantu dan figuran berperan untuk menghadirkan keriaan. Pola seperti ini bukan hal baru sebenarnya. Kelompok lawak legendaris Srimulat pun menerapkan pemetaan karakterisasi yang sama. Karakter seperti mendiang Ibu Jujuk dan Tarsan berfungsi menjaga tensi drama sehingga membuat mereka terlihat lebih serius, sementara para karakter pembantunya seperti Tessy atau Gogon (yang biasanya berperan sebagai pembantu, jongos, tetangga, teman atau antagonis) bertugas menghadirkan gelak tawa di mana karakter mereka memiliki penampilan fisik yang eksentrik atau nyeleneh. Sama seperti lakon yang dipentaskan Srimulat, para karakter penghadir tawa di Cek Toko Sebelah juga nyentrik. Ambil contoh saja karakter asisten toko yang tak bisa menyebut huruf ‘r’; si pemikir (oleh komika Dodit Mulyanto); si kemayu (diwakili oleh karakter bernama Karyo); hingga ke karakter Astri Welas (scene stealer di sini), bos dengan tata rias wajah menyolok dan kekontrasan karakterisasi. Sama pula seperti Srimulat, film ini juga memiliki karakter perempuan cantik dan seksi sebagai kembang gula.

Pilihan untuk “memisahkan” fungsi aktor-aktornya pula yang membuat Cek Toko Sebelah terlihat memiliki struktur seperti rangkaian fragmen sketsa humor. Hal tersebut adalah efek dari usaha pemberian “panggung” kepada para komika sebagai pemeran pembantu untuk melontarkan banyolan mereka dalam mekanisme penyampaian seorang stand up comedian. Hal itu sangat terasa, karena meski ada beberapa figur yang tidak saya kenali (seperti pemeran karakter dokter, misalnya), guyonan mereka khas. Ada setup, punchline dan tag.

Akan tetapi Cek Toko Sebelah relatif mampu menjaga keseimbangan antara dua fungsi tersebut hingga terasa melebur dan menyatu, karena kebanyakan materi lawakan ala stand up tersebut disampaikan lewat dialog. Lewat interaksi antar karakter. Pilihan penyuntingan pun amat membantu dalam memadukan dua fungsi tersebut terlihat luwes dan cair. Cesa David Lukmansyah, sebagai editor gambar, memakai teknik invisible editing, match cut dialogue atau L-cut. Dalam beberapa shot terasa pula ada pengaruh penyuntingan ala Edgar Wright yang memakai jump-cut (sebuah pilihan penyuntingan yang biasanya dipakai untuk menegaskan adegan aksi) dalam penekanan materi komedi. Meski, harus diakui pula, ada bagian penyuntingan yang tidak terasa mulus dalam melakukan transisi.

Ambil contoh saat adegan di mana Koh Afuk membagikan uang pesangon kepada karyawan tokonya. Cek Toko Sebelah menggunakan lagu soundtrack (yang di beberapa bagian terasa mendapat pengaruh dari John Mayer) dari The Overtunes dan GAC sebagai pemandu emosi. Dalam adegan itu, pemotongan adegan dan lagu menuju ke adegan berikut terasa terputus. Dan hal itu bisa saya temui di beberapa adegan lain. Tidak sampai mengganggu kontruksi cerita secara keseluruhan, tapi bagi saya, hal itu amat terasa.

Namun di sisi lain, Cek Toko Sebelah juga terasa memiliki efisiensi sebuah komedi situasi. Ada kejujuran dan kenyataan di kehidupan sehari-hari yang mengendap di lapisan bawah cerita. Hal itu hadir lewat cara dialog ditulis dan disampaikan, serta pembangunan atmosfer dalam dunia yang dibangun Ernest.  Saya akrab dengan komunitas Tionghoa dan bagaimana interaksi yang terjadi di toko kelontong yang mereka kelola. Jenis interaksi antara pegawai dan pemilik toko itu bisa saya kenali di film ini. Ada enerji keakraban yang masih terjaga oleh rasa saling hormat. Seperti layaknya sebuah keluarga yang sudah lama saling kenal.

Di sinilah salah satu keistimewaan Cek Toko Sebelah. Kisah warga keturunan Tionghoa teramat sering diabaikan di berbagai film Indonesia. Yang banyak saya temui dalam berbagai film, kehadiran karakter Tionghoa hanyalah sebagai comic relief yang mengeksploitasi stereotipe ras. Seolah eksistensi mereka dipinggirkan. Seperti halnya Ngenest, Cek Toko Sebelah tidak malu dalam mengungkap jati diri ke-Tionghoa-an, tetapi tidak menonjolkan diri. Malah merangkul. Ada semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam cara film ini menyampaikan kisahnya. Karena terlepas dari ras dan suku, kisah yang ada dalam film ini bisa terjadi ke semua orang.

Hal itu dikarenakan kerangka drama yang menjadi kekuatan utama filmnya. Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”. Istimewanya, film ini tidak menafikan pelabelan itu, tetapi malah kemudian mengarahkan resolusi konfliknya lewat jalur komunikasi terbuka. Dan untuk mencapai semua itu, penghadiran berbagai karakter yang dihidupkan oleh aktor drama berhasil menyampaikannya.

Bisa dipahami bila ada pandangan bahwa karakter Ayu milik Adinia Wirasti disia-siakan dalam film ini. Padahal tidak. Adinia Wirasti sebenarnya merupakan kunci sentral dalam mengarahkan win-win solusi, meski dalam penghadiran yang sangat subtil dan halus.

Adinia Wirasti, salah satu aktris berbakat dengan sensitifitas luar biasa, juga memiliki peran yang sama di AADC2 di mana karakternya menjadi penyeimbang dan sekaligus pemicu. Di Cek Toko Sebelah, karakternya ditampilkan sebagai sosok yang tenang dan dewasa. Tipikal karakter seorang sahabat yang selalu menjadi pilihan utama kita bila sedang ingin berbagi keluh kesah. Setiap line dialognya disampaikan dengan hati-hati dan diperkuat dengan bagaimana gesture tubuh dan muka, atau intonasi suaranya bekerja. Dia menjadi sandingan sepadan untuk karakter Koh Yohan. Lebih jauh, Ayu milik Adinia Wirasti berfungsi seperti oase.

Di sisi lain, karakter Koh Yohan milik Dion Wiyoko adalah penggambaran karakter anak tertua yang salah dimengerti. Dalam konteks ini, Dion Wiyoko bermain amat bagus. Saya bisa melihat bagaimana dia meredam antusiasme menggebu dari karakternya untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Interaksi antara Dion dan Chew Kin Wah sebagai ayahnya, terasa “menyakitkan”. Saat mereka bertukar dialog, ada ketegangan dalam keheningan yang suatu saat siap meledak. Saat momen itu tiba, kita bisa merasakan rasa sakit antar keduanya. Rasa sakit yang muncul akibat terlalu lama memendam gundah. Saat konklusi dan rekonsiliasi menemukan jalannya, saya juga sesak. Sesak akibat haru melihat keduanya bisa mengalahkan ego pribadi.

Naskah karya Ernest Prakasa (yang di credit disebutkan mendapat bantuan konsultasi dari Jenny Jusuf, Filosofi Kopi, Wonderful Life) seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya berhasil secara rapi menjaga pengembangan karakternya. Kita sebagai penonton diajak untuk mengupas, mengenali dan mengumpulkan kepingan informasi mengenai karakternya lewat dialog. Seperti halnya materi komedi stand up, Cek Toko Sebelah memang dipenuhi dengan dialog dan percakapan. Dan karena aspek itu pula, kemungkinan besar tidak dipahami oleh penonton asing atau yang tidak paham dengan dialog yang diucapkan, sehingga mengurangi sifat universalnya. Dalam satu momentum, saya melihat penghormatan terhadap gaya penuturan Quentin Tarantino dalam film ini.

Salah satu yang paling kentara adalah di adegan bermain kartu capsa yang melibatkan Koh Yohan dan tiga orang temannya: satu orang keturunan Tionghoa bertubuh kurus; satu karakter perwakilan dari bagian timur Indonesia; dan satu keturunan Tionghoa bertubuh gembul dan berambut mohawk bernama Aming yang selalu berteriak saat berkomunikasi dengan ibunya yang tak pernah diperlihatkan di layar. Seperti penggambaran hubungan antara karakter Howard Wolowitz dan ibunya di serial komedi The Big Bang Theory.

Dalam adegan itu, keempat karakter ini bermain kartu sembari mengobrol ngalor-ngidul tentang hal remeh temeh. Seperti obrolan mengenai perbedaan perspektif mereka tentang apakah tomat dan mentimun itu termasuk golongan buah atau sayur. Adegan ini berfungsi sebagai intermezzo, tetapi juga dipakai sebagai framing device untuk menjelaskan hubungan karakter Koh Yohan dengan keluarganya. Mengingatkan saya kepada dialog di film Tarantino, seperti percakapan mengenai lagu Like A Virgin milik Madonna di film Reservoir Dogs. Adegan main kartu ini sangatlah kocak dan jenaka, serta pengaturan mise-en-scene-nya bisa dieksekusi dengan sangat baik.

Cek Toko Sebelah sangat kentara memiliki peningkatan yang amat signifikan sebagai karya penyutradaraan feature kedua. Meski dalam beberapa momentum terlihat kekurangan stock shot (terasa dalam beberapa transisi yang sedikit kasar), Ernest terlihat semakin mampu dan percaya diri dalam mewujudkan visinya. Saya tidak berani berasumsi apakah film ini merupakan karya personal seorang Ernest, tetapi dari energi yang disampaikan jelas film ini adalah buah dari hasil observasi sebuah topik yang dekat dengan kehidupannya.

Yang saya apresiasi tinggi adalah bagaimana film ini menghadirkan konklusinya. Meski jalan menuju ke sana di third act memang komikal (biar bagaimanapun ini adalah film komedi), konklusi berhasil menghadirkan solusi terbaik bagi semua pihak yang memang menjadi elemen utama sebuah film hiburan untuk keluarga, namun bisa menghindari jebakan klise. Amat mengesankan bahwa film ini menjadikan tradisi ziarah makam sebagai sebuah medium napak tilas dan merenungi jati diri, untuk kemudian mencapai sebuah rekonsiliasi. Sebuah pilihan kreatif yang juga berhasil membuat saya terkesan di film komedi satire Finding Srimulat (2012).

Setiap keluarga memiliki masalah, tapi masalah tersebut akan bisa diselesaikan bila duduk dan mengobrol bersama. Menarik untuk melihat lagu tema serial televisi lawas “Keluarga Cemara” (yang menjadi salah satu gimmick komedi paling jenaka lewat karakter Astri Welas) sebagai semangat film ini. Bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga dan itu saya setujui.

Menggabungkan tawa dan drama, saya senang dengan keputusan saya untuk Cek Toko Sebelah.

(4/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Desember 28, 2016.

Running time: 104 minutes

A Starvision presentation

Executive producers: Riza Reza Servia, Mithu Nisar

Producers: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Line producer: Raymond Handaya

Director: Ernest Prakasa

Co-director: Adink Liwutang

Screenplay: Ernest Prakasa

Scenario consultant: Jenny Jusuf

Comedy consultant: Bene Dion Raja Gukguk

Story development: Meira Anastasia

Cinematography: Dicky R. Maland

Editor: Cesa David Lukmansyah

Sound designer: Khikmawat Santosa, Mohammad Ikhsan Sungkar

Art director: Windu Arifin

Sound recordist: Madunazka

OST by GAC, The Overtunes.

Casts: Dion Wiyoko, Chew Kin Wah, Ernest Prakasa, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti, Yeyen Lidya, Nino Fernandez, Kaesang Pangarep.

Advertisements

Review AADC2 : Cinta Datang Dalam Selimut Waralaba

by @Picture_Play

May 1, 2016

” Salah satu yang membuat AADC juga tak kalah istimewa hingga sekarang adalah bahwa film ini terasa memiliki ketulusan di dalamnya, sebagai surat cinta terhadap genre high-school drama tanpa terkesan ada pretensi. Kala itu film ini dibuat dengan semangat independen, tanpa beban, dan tanpa prasangka bahwa akan menjadi karya fenomenal”




Laiknya sebuah produk, film juga perlu ketepatan momentum marketing saat dirilis. Ada Apa Dengan Cinta (AADC) adalah salah satu contoh yang tepat.

Saat dirilis 14 tahun silam, AADC hadir di kala penonton tidak percaya dengan film Indonesia dan bisnis film waktu itu masih tertatih-tatih merangkak bangun dari tidur panjang. Filmnya menghapus kehausan penonton akan sebuah produk budaya pop yang dibuat dengan gairah, semangat, dan jawaban akan kondisi budaya waktu itu. Di tahun itu, kanal televisi musik luar negeri MTV masih berjaya menjadi acuan referensi budaya pop anak muda.

AADC hadir dalam ranah budaya pop yang dimaksud. Cerita asmara di bangku sekolah menengah atas memang selalu mendapat tempat. Film arahan Rudi Sudjarwo itu juga dihadirkan dan disajikan dalam koridor budaya pop seperti dalam film-film asmara berlatar bangku sekolah arahan sineas Amerika, John Hughes. Mengetengahkan cerita klise romantisme gadis remaja bertemu lelaki pujaan dalam sebuah sirkumstansi yang (biasanya) ideal : dua remaja dengan tampilan fisik elok rupawan. Konflik dalam film romansa bangku sekolah umumnya hadir lewat polarisasi dua karakter utama : satunya anak baik-baik, satunya gemar mendobrak peraturan; satunya populer, satunya tak terdeteksi radar; satunya anak hartawan, satunya mewakili kaum papa. Untuk menambah konflik semakin pelik, ditambahkan para secondary characters, teman-teman karakter utama yang seringkali berfungsi sebagai penasihat, sekaligus merunyamkan suasana. Dan seterusnya.

AADC  pun hadir dalam pakem serupa, yang kemudian melahirkan dua ikon anak muda bernama Rangga dan Cinta, mengisi kekosongan selepas pemujaan terhadap Galih dan Ratna, dua karakter ikonis dari film Gita Cinta Dari SMA di era 80’an. Lalu tambahkan lagu-lagu pop yang memperkuat cerita. Remaja pun kemudian meresponnya dengan gegap gempita.

Akan tetapi, meski tetap menawarkan kisah cinta polos dan naif masa remaja, AADC menjadi istimewa justru karena memiliki kesinisan dan kritik terhadap gaya hidup banal, hura-hura, dan superfisial mereka yang dihadirkan lewat karakter Rangga. Kegemarannya mendalami puisi adalah sikap kontradiktif terhadap para remaja kebanyakan yang ditampilkan oleh karakter Cinta dan rekan-rekannya, di mana mereka lebih menggemari untaian kalimat “puitis” dalam lagu bergenre pop, ketimbang sajak-sajak bernuansa lirih dan anarkis milik Chairil Anwar. Rangga ditampilkan sebagai sosok soliter yang gemar menyendiri dan memaknai arti hidup secara hakiki, sebuah bentuk ketegasan “prinsipil” dalam menjawab sikap solider Cinta dan rekan-rekan yang dipandangnya sebagai kesemuan. AADC kala itu menarik perhatian karena hadir sebagai  kisah romansa remaja yang memiliki kedewasaan dalam mewujudkan wacana. Solidaritas antar teman tidak hanya ditampilkan di permukaan, tetapi juga sebagai pemecah persoalan.

Salah satu yang membuat AADC juga tak kalah istimewa hingga sekarang adalah bahwa film ini terasa memiliki ketulusan di dalamnya, sebagai surat cinta terhadap genre high-school drama tanpa terkesan ada pretensi. Kala itu film ini dibuat dengan semangat independen, tanpa beban, dan tanpa prasangka bahwa akan menjadi karya fenomenal. Sebuah kondisi yang menghadirkan enerji dan daya pikat magis dalam setiap lini, dalam setiap dialog, dalam setiap adegan, dalam setiap lagu, dan dalam setiap bait-bait puisinya. Penonton pun terserap masuk ke dunia yang dibangun di film ini, menghayati setiap pelafalan ujar-ujar lakonnya dan kemudian hidup, tumbuh berkembang di sanubari mereka.

Daya magis yang menghipnotis dari AADC pun kemudian menerobos lintas waktu. Generasi asli yang menonton AADC  sekarang sudah dewasa dan beranak pinak, namun kisahnya masih mampu mengikat dan menawan remaja generasi setelahnya. Seolah tak lekang oleh waktu dan hakiki seperti bait-bait puisi milik Rangga. Soundtrack-nya masih dilantunkan dan setiap baris dialog masih diingat, bahkan mempengaruhi logat bahasa kekinian. Dibantu oleh teknologi internet, AADC dalam konsep long-tail marketing berkembang dari sebuah budaya pop yang lahir karena suatu “kebetulan”, menjadi sebuah artefak. Lebih jauh lagi menjadi sebuah brand atau merek dagang. Menjadi sebuah metominia baru, bila menyebut film percintaan remaja Indonesia, asosiasi akan terarah ke AADC dan turunannya. Termasuk nama Mira Lesmana dan Miles Films-nya, juga menjadi merek dagang jaminan film-film bermutu yang tidak digarap secara asal-asalan.

14 tahun berselang, kisah Rangga dan Cinta kembali dihadirkan lewat AADC2. Namun, kini dalam sebuah kondisi di mana ada tekanan pengharapan. Ekspektasi yang wajar muncul terhadap sebuah merek dagang yang kadung dicinta dan dipuja. Permasalahan pun muncul tak hanya sekadar menghadirkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mengemuka atas apa yang terjadi di kehidupan Rangga dan Cinta selepas  ratusan purnama, juga bagaimana sineas di baliknya memasukkan setiap elemen yang ada di film pertama, sebuah concern  utama dalam melanjutkan sebuah merek dagang.

Kondisi tersebut lantas menjadikan AADC2 memilih sebuah pendekatan yang lazim dilakukan di dalam sebuah film waralaba (franchise) produksi studio besar Hollywood, seperti Jurassic World atau Star Wars : The Force Awakens, yakni mempertahankan pelbagai elemen familiar bagi para pemujanya untuk menghadirkan nuansa nostalgia.

Bila ditinjau dari aspek itu, Miles Films berhasil mencapai tujuannya. AADC 2 terasa sebagai sebuah bentuk pelayanan terhadap para penggemar kisah film pertamanya (fans service). Akan tetapi, kisah Rangga dan Cinta adalah sebuah drama, bukanlah film aksi petualangan di dunia fantasi yang mengandalkan ragam memorabilia. Kekuatan kisahnya bertumpu pada karakter-karakter dan kisah melodrama percintaan, seperti pada film Mean Girls, My Big Fat Greek Wedding, atau waralaba Rocky yang baru-baru ini dihadirkan kembali lewat Creed. AADC bukanlah berseting di dunia fantasi. Karakter dan dunianya terasa nyata, yang menjadi aspek pengikat emosi penonton. Penonton ingin melepas rindu, sekaligus ingin mengetahui perkembangan psikologis para karakter di AADC selepas kejadian di film pertama.

Dalam konteks tersebut, AADC 2 terlihat gamang dalam memilih. Karakter utamanya yang kini sudah dewasa, seolah terperangkap dalam nostalgia yang dibangunnya sendiri. Bila dalam Before Trilogy arahan Richard Linklater, dua karakter utamanya : Jesse dan Celine, tumbuh dewasa—baik dalam bentuk fisik ataupun pola pikir—memaknai setiap peristiwa yang mereka lalui ke dalam setiap keputusan yang mereka ambil, Rangga dan Cinta lebih terasa sebagai pasangan impulsif yang berprinsip live in the moment. Dalam berbagai hal, memang terasa manusiawi. Namun, dalam AADC 2 kepolosan yang dihadirkan di film pertama sudah hilang, sedangkan cita rasa kedewasaan yang coba dihadirkan di sekuelnya terasa kontradiktif dengan keputusan akhir yang diambil.

 AADC 2 seolah bukan menghadirkan sebuah cerita, melainkan lebih terasa sebagai upaya mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan nostalgia manis dalam semangat waralaba bernilai ekonomi tinggi, sebagai bentuk pelayanan kepada para pemujanya. Konsekuensi yang kemudian muncul adalah memudarnya daya magis seperti yang kita dapat di film pertama.



HIPPIES ECONOMIC, SOFISTIKASI ARTISTIK

Empat belas tahun berselang sejak kejadian di film pertama, Cinta (kembali diperankan oleh aktris berparas cantik, Dian Sastrowardoyo) berkumpul di sebuah café dengan nuansa artistik bersama anggota geng-nya. Elemen artistik dan nyeni yang dulu memang telah dihadirkan di film pertama, kini dihadirkan dalam rupa yang lebih bergaya. Bahkan film ini diawali oleh animasi bergaya vector art yang sangat New York, menegaskan hal itu. Lihat pula berbagai pernak-pernik remeh-temeh, busana, hingga ke pemilihan lokasi. Pengarah artistik, Eros Eflin, berhasil membawa AADC 2  ke tahap sofistikasi.

Cinta masih seperti dulu, seorang alpha-female yang menjadi pemimpin dominan di kelompoknya. Hadir juga Mili (kembali diperankan oleh Sissy Priscilia), si lemot yang masih berfungsi sebagai pencair suasana ; Maura ( Titiek Kamal), si kenes yang dandy nan trendy yang masih ceplas-ceplos. Kini kita tahu bahwa ia adalah seorang hypochondriac ; Karmen ( tetap diperankan oleh aktris berbakat, Adinia Wirasti), mantan pebasket sekolah yang kini mencoba bangkit setelah dirundung berbagai masalah. Ada pula Mamet (Dennis Adhiswara), pria mantan penggemar Cinta yang kini sudah berstatus suami Mili. Mamet masih seperti dulu : konyol, kikuk, dan berfungsi sebagai comic relief.

Satu-satunya yang absen adalah Alya ( dahulu diperankan oleh Ladya Cheryl), gadis pendiam dan pemikir yang dalam suatu momen dijelaskan kenapa ia tak bisa lagi hadir. Di masa kini, fungsi Alya digantikan oleh Karmen yang karena telah melalui berbagai pahit getir hidup, justru yang menjadi paling dewasa dan mencuri simpati di film ini.

Hadir pula karakter baru, Trian ( diperankan oleh aktor karismatik, Ario Bayu), tunangan Cinta yang sayangnya hanya berfungsi sebagai red harring, menyia-nyiakan talenta aktingnya. Juga hadir Christian Sugiono, yang berfungsi sebagai trivia pemanis suasana.

Ajang reuni geng Cinta di café tersebut lalu berujung pada satu keputusan, berwisata ke Yogyakarta untuk menghadiri pembukaan sebuah galeri seni dan melepas penat dari hingar-bingar ibukota.

Sementara itu di belahan dunia lain, di New York, Rangga ( Nicholas Saputra, aktor yang selama ini sulit lepas dari bayang-bayang karakternya), masih bermuram durja. Ia masih seperti dulu, seorang pria penyendiri yang gemar melakukan observasi dan menuangkan kegundahannya lewat bait-bait sajak gubahannya. Lewat  head room camera shots, sutradara Riri Riza dan sinematografer Yadi Sugandi secara efektif menegaskan kesendirian Rangga dalam latar kota Big Apple yang sunyi dan sepi, bukan sebagai kota yang dikenal sibuk dalam hiruk pikuk aktivitas duniawi. Riri paham betul bagaimana menghadirkan pergolakan batin Rangga, dibarengi dengan narasi lirih sajak yang menggambarkan kegundahan pria ini di kota sebesar New York. Gambar yang disajikan di layar terasa puitis menghipnotis dan menjadi momen terbaik di film ini.

Rangga kini mengelola café di salah satu sudut kota New York. Kepiawaiannya dalam mengolah kata membuat ia menjadi salah satu kolumnis dan kontributor di berbagai majalah di sana. Rangga tampaknya menjadi salah satu pelaku hippies economic, yang sesuai dengan kepribadiannya : memuja kopi, hidup damai dalam soliter, dan mencari penghidupan lewat kemampuannya mengkreasikan kata-kata.

Akan tetapi, kedamaian Rangga rupanya masih terusik oleh peristiwa masa lampau yang membuatnya mengalami sebuah hal paling ditakuti oleh para penulis, writer’s block. Dalam suatu kejadian deus ex machina, dia ditemui oleh adik tirinya yang jauh-jauh datang ke New York,  memintanya kembali ke Indonesia untuk menemui ibunda yang merindunya setengah mati. Rangga yang ternyata masih memiliki amarah warisan masa lalu, sempat menolak. Namun, panggilan hati nurani akhirnya mengalahkan ego pribadinya.

Dia lalu kembali ke Indonesia dengan tujuan menemui sang ibunda, sekaligus mengumpulkan puing-puing kisah silam sebelum terlanjur kasip, serta menebus kesalahannya demi menghadirkan jawaban atas misteri yang diciptakannya selama ini kepada salah satu orang penting dalam hidupnya, Cinta.

” AADC 2 seolah bukan menghadirkan sebuah cerita, melainkan lebih terasa sebagai upaya mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan nostalgia manis dalam semangat waralaba bernilai ekonomi tinggi, sebagai bentuk pelayanan kepada para pemujanya. Konsekuensinya adalah memudarnya daya magis seperti yang kita dapat di film pertama.”



SENTIMENTIL NOSTALGIA BERNILAI EKONOMI TINGGI

Dalam banyak aspek, AADC2 memang kentara sebagai film yang dirancang sebagai sajian bernilai ekonomi tinggi dengan sentimentil nostalgia sebagai motor penggeraknya, sekaligus pengembangan sebuah merek dagang. Penempatan berbagai elemen dari film AADC jelas terlihat, mulai dari adegan geng Cinta di mobil bersama Mamet; penempatan soundtracks di berbagai momen penting; hingga ke momen dramatis ikonis di bandara yang di film ini diberi sedikit twist, semua kembali dihadirkan. Film ini juga tahu persis bagaimana membangun antusiasme penonton sebelum mempertemukan kedua karakter utama di dalam satu frame. Penonton pun berseru karenanya.

Hal tersebut bisa dimengerti, karena naskah AADC2 turut ditulis oleh Mira Lesmana yang juga merangkap tugas sebagai produser. Mira paham bagaimana memasukkan berbagai kejadian yang dianggapnya “komersial” dan mempertemukan antara kepentingan artistik penceritaan, keinginan penggemar, serta tuntutan sponsor. Tidak heran bila kejelian Mira dalam mengolah semua materi yang menjual akan disambut dengan hingar-bingar. Buktinya, antrean penonton mengular di berbagai bioskop.

Keputusan untuk memindahkan seting lokasi utama dari Jakarta  ke Yogyakarta pun bisa dipahami. Selain syuting di Yogyakarta lebih murah dari sisi produksi dan kepentingan logistik, Jakarta juga terlalu pengap akan nuansa nostalgia yang akan mempengaruhi psikologis dua karakter utamanya dalam mengambil keputusan. Yogyakarta seyogyanya menjadi tempat yang “netral”, mendukung karakternya untuk berpikir lebih jernih dan logis. Hal yang selaras dengan tujuan Cinta dan kawan-kawan pergi ke kota ini sebagai kegiatan eskapisme.

Yogyakarta dengan atmosfer budaya yang kental, juga bisa dilihat sebagai padanan sebanding dengan New York yang juga artistik dan romantis. Keeksotisan Yogya dieksploitasi habis-habisan di film ini. Penonton dibawa menjelajah ke berbagai sudut kota, menikmati berbagai interaksi budaya, dan kehangatannya. Dalam satu shot diperlihatkan Rangga terlihat menikmati kedekatan emosional dengan kota ini, di mana ia melihat dari kameranya mbok penjual penganan tradisional di pinggir jalan. Menegaskan sudut pandang film ini dalam melihat Yogya dari mata kaum urban perkotaan dan bergaya hidup modern sebagai tempat yang eksotis.

Di sisi lain, kekuatan kota Yogya juga ironisnya tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap perkembangan dua karakter utamanya. Seting kota ini hanya sebagai tempelan.

Yogya yang semestinya berfungsi sebagai tempat “netral”, juga dipertanyakan dalam adegan penting di saat Rangga dan Cinta berjalan-jalan sembari mengobrol mengulang romansa mereka. Dalam berbagai scenes yang mengingatkan akan Before Sunset, kedua karakter utama mengeksplorasi apa yang sudah mereka lewatkan selama ini. Bila dalam Before Sunset percakapan Jesse-Celine dihadirkan lewat long takes, di AADC2 percakapan keduanya dihadirkan dalam struktur episodik, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Meski chemistry keduanya tetap hadir, namun sekuensnya terasa tidak mengalir. Terlebih di beberapa bagian terlihat tidak sinkronnya penyuntingan gambar dan suara. Naskah pun terlihat berpihak kepada Rangga dengan segala alasannya. Cinta yang dominan pun manut saja, terlihat sebagai karakter dewasa yang masih terperangkap dalam jiwa remaja yang hanya menuruti gejolak jiwa. Ditambah dialog yang tidak cukup meyakinkan untuk terlontar dari dua karakter dewasa berpendidikan yang  memiliki selera tinggi.

Kesan tempelan juga terasa betul di motivasi Rangga untuk menemui ibundanya. Padahal, bagian ini memiliki potensi kekuatan emosional tak kalah dari aspek romantisnya. Begitu pun puisi-puisi yang kini ditulis oleh Aan Mansyur, kini terasa kehilangan daya magisnya. Bila di film pertama fungsi puisi-puisi Rangga adalah sebagai penambat, di AADC2 fungsinya hanya sebagai pra-syarat.

Di sisi lain, kamera arahan Yadi Sugandhi juga efektif dalam menangkap keeksotisan berbagai tempat di Yogya, seringkali dalam sajian panoramik. Beberapa kali ia menghadirkan berbagai transitional shots menangkap berbagai objek untuk memberikan sentuhan puitis, seperti matahari senja berwarna  oranye atau permainan boneka tangan, yang memberikan sentuhan pribadi Riri Riza seperti yang ditampilkannya di Atambua 390. Tapi, Yadi dan Riri tak lupa dalam menangkap emosi karakternya lewat kamera. Dalam dua adegan, diperlihatkan bagaimana kedekatan jiwa antara Cinta-tunangannya dan antara Cinta-Rangga. Di satu shot saat menonton sebuah pertunjukan seni, Cinta menikmatinya, sementara Trian tetap asyik dengan telepon genggamnya. Di shot lain, Cinta dan Rangga sama-sama melebur saat menyaksikan pertunjukan seni di Yogya. Shot-shot tersebut memberikan pernyataan implisit kedekatan jiwa antar karakternya. Di shot lain, kamera Yadi berhasil menghadirkan kekikukan dan kecanggungan dua karakter yang lama tidak bertemu.

Bila dalam AADC chemistry antara anggota geng Cinta begitu terasa dan persahabatan mereka justru terkesan dewasa, di AADC2 kedekatan mereka terkesan hanya basa-basi pemanis semata. Jika di AADC keputusan Cinta lahir lewat diskusi sehat dengan para sahabatnya, maka kini keputusannya hanya sepihak. Di satu sisi, hal ini dapat dimengerti karena semakin bertambah umur, seseorang justru memilih menjaga jarak agar tidak dinilai ikut campur masalah orang lain. Dalam suatu percakapan antara Karmen dan Cinta, hal itu dicuatkan. Namun di sisi lain, hal tersebut bertolak belakang dari keputusan awal Cinta dan teman-teman untuk kembali membina kerekatan hubungan mereka. Pemikiran tersebut kemudian lantas membuat Cinta mengambil keputusan secara impulsif bak gadis remaja, bukan sebagai wanita dewasa.



PENGEMBANGAN MEREK DAGANG, DAYA MAGIS YANG HILANG

AADC 2 memang lantas lebih bisa dimaknai sebagai penghormatan (homage) kepada film pertamanya. Keputusan untuk membesut film ini dengan pendekatan pengembangan sebuah merek dagang dengan nilai jual nostalgia pun bisa dimengerti. AADC adalah satu-satunya brand film Indonesia terkuat saat ini yang dimiliki oleh Miles Films. Tidak sampai terkesan eksploitatif, karena para sineasnya tetap menghadirkan berbagai penyegaran di dalamnya.

Sebagai penghormatan dan pengembangan sebuah brand, membuat AADC 2 kehilangan kesinisan dan kritik seperti yang ada di film pertamanya. Film ini terkesan berkompromi dengan berbagai hal, seperti Cinta yang berkompromi dengan Rangga. Bila dianalogikan dengan lagu, AADC2 hadir bak cover version film pertamanya. Ada penyegaran, tetapi tetap tidak bisa mengulang daya magis versi orisinil.

Saat ulasan film ini dibuat, AADC 2 telah mengumpulkan 700 ribu tiket hanya dalam kurun waktu 3 hari saja. Sebuah rekor baru yang tentu akan terus bertambah. Bukti bahwa aspek nostalgia dari sebuah film yang telah menjadi merek dagang ternama, efisien dalam menarik minat penonton. Dari segi industri, film Indonesia memang membutuhkan konten yang bisa menarik masa seperti ini. Penonton ingin mengulang sensasinya dan mengikuti kelanjutan misteri yang dihadirkan film pertama, meski akhirnya tidak menawarkan cita rasa yang sama. AADC 2 kemudian menjadi film generik percintaan yang mengajak kita untuk mengikuti hati nurani, seperti Runaway Bride, misalnya.

Upaya pengembangan sebuah merek dagang jualah yang membuat film ini memakai judul AADC2. Meski judul Ada Apa Dengan Rangga atau Terjebak Nostalgia akan lebih sesuai dengan kisah yang disajikan.

(3/5)

Reviewed at Blok M Square XXI, April 28, 2016
by @Picture_Play

Produced by : Miles Films, Legacy Pictures, Tanakhir Films, Studio E, Printerous

Executive Producers : Robert Ronny, James S. Entong, B. Toto Prasentyanto

Co-Executive Producers : Bimo Setiawan, Niken Rachmad, Arifin Sjaichuddin

Producer : Mira Lesmana

Associate Producer : Mandy Marahimin

Director : Riri Riza

Screenplay : Prima Rusdi, Mira Lesmana

Cinematographer : Yadi Sugandi

Editor : Waluyo Ichwandiardono

Sound Designer : Satrio Budiono

Sound Recordist : Sutrisno

Music Director : Melly Goeslaw, Anto Hoed

Art Director : Eros Eflin

Stylist : Chitra Subijakto

Hair & Make Up : Jerry Octavianusc

Casts : Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, Titi Kamal, Sissy Prescillia, Dennis Adhiswara, Ario Bayu, Christian Sugiono, Sarita Thaib, Dimi Cindyastira.

Poetry written by Aan Mansyur