Cek Toko Sebelah Review: Rekonsiliasi Lewat Komedi

Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”.




Ada satu momen di Cek Toko Sebelah, film feature kedua karya penyutradaraan komika Ernest Prakasa setelah Ngenest (2015), yang berhasil membuat hati saya tertambat. Satu momentum yang berhasil menggugah pikiran saya bahkan setelah filmnya usai.

Momentum ini ada saat Koh Afuk (diperankan dengan sangat sangat baik oleh aktor berkebangsaan Malaysia, Chew Kin Wah, My Stupid Boss) bersender di kolom tiang toko kelontong Jaya Baru miliknya yang kini terlihat kosong. Koh Afuk yang sudah lanjut usia, berperawakan kecil dan rambutnya dipenuhi uban itu terlihat mendorong punggungnya sendiri ke kolom tiang. Ia menunjukkan kerapuhan. Matanya terlihat nanar dan gundah. Air dan raut mukanya nampak putus asa. Dia lalu perlahan terduduk dan kemudian menangis dengan diiringi soundtrack bergaya balada.

Adegan itu hanya beberapa detik saja, namun merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa yang telah kita saksikan di layar sebelumnya. Saya patah hati melihat adegan itu yang kemudian membuat saya teringat dengan ayahanda saya. Saya bisa merasakan kekecewaan beliau saat saya tidak mengindahkan harapannya, lewat karakter Koh Afuk. Saya ingin memeluk dia, menenangkannya dan berkata, “ Ayah, maafkan saya.”

Cek Toko Sebelah dijual sebagai film komedi. Judulnya sendiri merujuk pada frase yang menyatakan ekspresi pemilik toko yang menganjurkan calon pembelinya untuk membandingkan harga atau kualitas barang ke toko milik pesaing. Film ini memang menawarkan rangkaian humor, tetapi humor tersebut dipadupadankan dengan drama yang berhasil dieksekusi dengan baik. Menggabungkan antara komedi dan drama di dalam sebuah cerita adalah sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi dan film ini adalah contoh yang memadukannya dengan manis. Saya tertawa karena mayoritas gurauan di dalamnya, tetapi elemen drama di film inilah yang membuat cita rasanya pekat dan melekat.

Buktinya? Adegan yang saya ilustrasikan di atas.

Bila Ngenest diceritakan dari sudut pandang karakter Ernest—yang memulai narasi dengan voice over-, Cek Toko Sebelah mengajak kita melakukan observasi tanpa terasa ingin mengarahkan pemahaman kita.  Observasi terhadap keluarga Koh Afuk, pria paruh baya keturunan Tionghoa yang memiliki dua anak pria dewasa.

Mereka adalah Yohan (kemudian dipanggil Koh Yohan, diperankan dengan penuh sensitivitas oleh Dion Wiyoko), si anak tertua. Yohan merupakan suami dari Ayu (diperankan dengan pas oleh Adinia Wirasti, AADC). Si anak kedua dan sekaligus si bungsu, Erwin Surya (diperankan oleh Ernest Prakasa), yang belum menikah dan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, (diperankan oleh Gisella Anastasia).

Meski dua bersaudara kandung, ada semacam perbedaan kontras antara Yohan dan Erwin yang membuat mereka terpolarisasi dan polarisasi karakter dalam penulisan cerita merupakan sumber konflik.

Yohan adalah pemuda yang memiliki darah seni dalam tubuhnya. Dia menyukai fotografi, bahkan menjalankan hobinya itu sebagai profesi. Itu sebabnya Yohan terlihat serasi dengan istrinya yang memiliki bakat dalam seni patiseri. Ayu bahkan berhasrat untuk membuka kedai kue sendiri.

Sementara Erwin adalah tipikal pebisnis dengan karir cemerlang. Dia baru saja mendapat kesempatan untuk dipromosikan sebagai pemimpin wilayah Asia Tenggara dari kantor tempat dia bekerja. Kekasih Erwin pun punya karir tak kalah cemerlang.

Naskah Cek Toko Sebelah konsisten dalam menjaga perwatakan karakternya. Yohan yang nyeni memakai busana kasual dan bersahaja, gaya bicaranya santai, berambut agak panjang dan memelihara jenggot. Erwin berpenampilan klimis dan rapi jali; gaya bicaranya teratur dan sering berdialog dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan kualitas cita rasa internesyenel; sikapnya menunjukkan keteraturan dan rasa percaya diri.

Yohan adalah seseorang yang mewakili imej bad boy, sedangkan Erwin adalah perwakilan seorang poster boy.

Hingga suatu ketika kakak beradik ini kembali bersinggungan saat ayah mereka tiba-tiba jatuh sakit. Koh Afuk kemudian meminta Erwin untuk membantunya mengelola usaha toko kelontong, sebuah permintaan yang kemudian membuat Yohan—sebagai anak tertua– merasa disepelekan. Alasan Koh Afuk sebenarnya logis, karena Yohan dilihatnya belum bisa untuk memegang tanggung jawab.

Tapi kamu ngurus diri kamu aja belum bener”, begitu kata Koh Afuk kepada anak sulungnya.

Erwin sendiri memiliki konflik batin mendengar permintaan sang ayah. Karirnya sedang menanjak dan dia tak ingin melewatkan kesempatan yang dia peroleh. Lewat sebuah diskusi, Erwin lalu setuju membantu ayahnya mengelola toko, hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Di sinilah konflik sesungguhnya terjadi. Konflik yang melibatkan ego ayah dan anak; kejadian masa lalu; usaha seorang pengusaha pengembang real estate (diperankan secara komikal oleh Tora Sudiro) untuk membeli kawasan tempat toko Jaya Baru itu berada; dan, seperti judulnya, (sedikit) konflik dengan pemilik toko sebelah.

Pondasi utama Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah drama keluarga. Lawakan diberikan di sela-sela pembangunan dramatisasi konflik antara karakter utama, lewat berbagai celotehan, pelesetan dan dialog jenaka yang dilontarkan barisan para pemeran pendukung yang memang komedian. Mayoritas humor dalam film ini adalah bergaya observasi, jenis komedi yang berdasarkan kejadian sehari-hari atau fenomena budaya populer yang sedang atau sempat terjadi.

Pilihan kreatif menjadikan fungsi para karakter di film ini pun terbagi dua: 1) para aktor utama untuk menjaga intensitas drama; 2) para pemeran pembantu dan figuran berperan untuk menghadirkan keriaan. Pola seperti ini bukan hal baru sebenarnya. Kelompok lawak legendaris Srimulat pun menerapkan pemetaan karakterisasi yang sama. Karakter seperti mendiang Ibu Jujuk dan Tarsan berfungsi menjaga tensi drama sehingga membuat mereka terlihat lebih serius, sementara para karakter pembantunya seperti Tessy atau Gogon (yang biasanya berperan sebagai pembantu, jongos, tetangga, teman atau antagonis) bertugas menghadirkan gelak tawa di mana karakter mereka memiliki penampilan fisik yang eksentrik atau nyeleneh. Sama seperti lakon yang dipentaskan Srimulat, para karakter penghadir tawa di Cek Toko Sebelah juga nyentrik. Ambil contoh saja karakter asisten toko yang tak bisa menyebut huruf ‘r’; si pemikir (oleh komika Dodit Mulyanto); si kemayu (diwakili oleh karakter bernama Karyo); hingga ke karakter Astri Welas (scene stealer di sini), bos dengan tata rias wajah menyolok dan kekontrasan karakterisasi. Sama pula seperti Srimulat, film ini juga memiliki karakter perempuan cantik dan seksi sebagai kembang gula.

Pilihan untuk “memisahkan” fungsi aktor-aktornya pula yang membuat Cek Toko Sebelah terlihat memiliki struktur seperti rangkaian fragmen sketsa humor. Hal tersebut adalah efek dari usaha pemberian “panggung” kepada para komika sebagai pemeran pembantu untuk melontarkan banyolan mereka dalam mekanisme penyampaian seorang stand up comedian. Hal itu sangat terasa, karena meski ada beberapa figur yang tidak saya kenali (seperti pemeran karakter dokter, misalnya), guyonan mereka khas. Ada setup, punchline dan tag.

Akan tetapi Cek Toko Sebelah relatif mampu menjaga keseimbangan antara dua fungsi tersebut hingga terasa melebur dan menyatu, karena kebanyakan materi lawakan ala stand up tersebut disampaikan lewat dialog. Lewat interaksi antar karakter. Pilihan penyuntingan pun amat membantu dalam memadukan dua fungsi tersebut terlihat luwes dan cair. Cesa David Lukmansyah, sebagai editor gambar, memakai teknik invisible editing, match cut dialogue atau L-cut. Dalam beberapa shot terasa pula ada pengaruh penyuntingan ala Edgar Wright yang memakai jump-cut (sebuah pilihan penyuntingan yang biasanya dipakai untuk menegaskan adegan aksi) dalam penekanan materi komedi. Meski, harus diakui pula, ada bagian penyuntingan yang tidak terasa mulus dalam melakukan transisi.

Ambil contoh saat adegan di mana Koh Afuk membagikan uang pesangon kepada karyawan tokonya. Cek Toko Sebelah menggunakan lagu soundtrack (yang di beberapa bagian terasa mendapat pengaruh dari John Mayer) dari The Overtunes dan GAC sebagai pemandu emosi. Dalam adegan itu, pemotongan adegan dan lagu menuju ke adegan berikut terasa terputus. Dan hal itu bisa saya temui di beberapa adegan lain. Tidak sampai mengganggu kontruksi cerita secara keseluruhan, tapi bagi saya, hal itu amat terasa.

Namun di sisi lain, Cek Toko Sebelah juga terasa memiliki efisiensi sebuah komedi situasi. Ada kejujuran dan kenyataan di kehidupan sehari-hari yang mengendap di lapisan bawah cerita. Hal itu hadir lewat cara dialog ditulis dan disampaikan, serta pembangunan atmosfer dalam dunia yang dibangun Ernest.  Saya akrab dengan komunitas Tionghoa dan bagaimana interaksi yang terjadi di toko kelontong yang mereka kelola. Jenis interaksi antara pegawai dan pemilik toko itu bisa saya kenali di film ini. Ada enerji keakraban yang masih terjaga oleh rasa saling hormat. Seperti layaknya sebuah keluarga yang sudah lama saling kenal.

Di sinilah salah satu keistimewaan Cek Toko Sebelah. Kisah warga keturunan Tionghoa teramat sering diabaikan di berbagai film Indonesia. Yang banyak saya temui dalam berbagai film, kehadiran karakter Tionghoa hanyalah sebagai comic relief yang mengeksploitasi stereotipe ras. Seolah eksistensi mereka dipinggirkan. Seperti halnya Ngenest, Cek Toko Sebelah tidak malu dalam mengungkap jati diri ke-Tionghoa-an, tetapi tidak menonjolkan diri. Malah merangkul. Ada semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam cara film ini menyampaikan kisahnya. Karena terlepas dari ras dan suku, kisah yang ada dalam film ini bisa terjadi ke semua orang.

Hal itu dikarenakan kerangka drama yang menjadi kekuatan utama filmnya. Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”. Istimewanya, film ini tidak menafikan pelabelan itu, tetapi malah kemudian mengarahkan resolusi konfliknya lewat jalur komunikasi terbuka. Dan untuk mencapai semua itu, penghadiran berbagai karakter yang dihidupkan oleh aktor drama berhasil menyampaikannya.

Bisa dipahami bila ada pandangan bahwa karakter Ayu milik Adinia Wirasti disia-siakan dalam film ini. Padahal tidak. Adinia Wirasti sebenarnya merupakan kunci sentral dalam mengarahkan win-win solusi, meski dalam penghadiran yang sangat subtil dan halus.

Adinia Wirasti, salah satu aktris berbakat dengan sensitifitas luar biasa, juga memiliki peran yang sama di AADC2 di mana karakternya menjadi penyeimbang dan sekaligus pemicu. Di Cek Toko Sebelah, karakternya ditampilkan sebagai sosok yang tenang dan dewasa. Tipikal karakter seorang sahabat yang selalu menjadi pilihan utama kita bila sedang ingin berbagi keluh kesah. Setiap line dialognya disampaikan dengan hati-hati dan diperkuat dengan bagaimana gesture tubuh dan muka, atau intonasi suaranya bekerja. Dia menjadi sandingan sepadan untuk karakter Koh Yohan. Lebih jauh, Ayu milik Adinia Wirasti berfungsi seperti oase.

Di sisi lain, karakter Koh Yohan milik Dion Wiyoko adalah penggambaran karakter anak tertua yang salah dimengerti. Dalam konteks ini, Dion Wiyoko bermain amat bagus. Saya bisa melihat bagaimana dia meredam antusiasme menggebu dari karakternya untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Interaksi antara Dion dan Chew Kin Wah sebagai ayahnya, terasa “menyakitkan”. Saat mereka bertukar dialog, ada ketegangan dalam keheningan yang suatu saat siap meledak. Saat momen itu tiba, kita bisa merasakan rasa sakit antar keduanya. Rasa sakit yang muncul akibat terlalu lama memendam gundah. Saat konklusi dan rekonsiliasi menemukan jalannya, saya juga sesak. Sesak akibat haru melihat keduanya bisa mengalahkan ego pribadi.

Naskah karya Ernest Prakasa (yang di credit disebutkan mendapat bantuan konsultasi dari Jenny Jusuf, Filosofi Kopi, Wonderful Life) seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya berhasil secara rapi menjaga pengembangan karakternya. Kita sebagai penonton diajak untuk mengupas, mengenali dan mengumpulkan kepingan informasi mengenai karakternya lewat dialog. Seperti halnya materi komedi stand up, Cek Toko Sebelah memang dipenuhi dengan dialog dan percakapan. Dan karena aspek itu pula, kemungkinan besar tidak dipahami oleh penonton asing atau yang tidak paham dengan dialog yang diucapkan, sehingga mengurangi sifat universalnya. Dalam satu momentum, saya melihat penghormatan terhadap gaya penuturan Quentin Tarantino dalam film ini.

Salah satu yang paling kentara adalah di adegan bermain kartu capsa yang melibatkan Koh Yohan dan tiga orang temannya: satu orang keturunan Tionghoa bertubuh kurus; satu karakter perwakilan dari bagian timur Indonesia; dan satu keturunan Tionghoa bertubuh gembul dan berambut mohawk bernama Aming yang selalu berteriak saat berkomunikasi dengan ibunya yang tak pernah diperlihatkan di layar. Seperti penggambaran hubungan antara karakter Howard Wolowitz dan ibunya di serial komedi The Big Bang Theory.

Dalam adegan itu, keempat karakter ini bermain kartu sembari mengobrol ngalor-ngidul tentang hal remeh temeh. Seperti obrolan mengenai perbedaan perspektif mereka tentang apakah tomat dan mentimun itu termasuk golongan buah atau sayur. Adegan ini berfungsi sebagai intermezzo, tetapi juga dipakai sebagai framing device untuk menjelaskan hubungan karakter Koh Yohan dengan keluarganya. Mengingatkan saya kepada dialog di film Tarantino, seperti percakapan mengenai lagu Like A Virgin milik Madonna di film Reservoir Dogs. Adegan main kartu ini sangatlah kocak dan jenaka, serta pengaturan mise-en-scene-nya bisa dieksekusi dengan sangat baik.

Cek Toko Sebelah sangat kentara memiliki peningkatan yang amat signifikan sebagai karya penyutradaraan feature kedua. Meski dalam beberapa momentum terlihat kekurangan stock shot (terasa dalam beberapa transisi yang sedikit kasar), Ernest terlihat semakin mampu dan percaya diri dalam mewujudkan visinya. Saya tidak berani berasumsi apakah film ini merupakan karya personal seorang Ernest, tetapi dari energi yang disampaikan jelas film ini adalah buah dari hasil observasi sebuah topik yang dekat dengan kehidupannya.

Yang saya apresiasi tinggi adalah bagaimana film ini menghadirkan konklusinya. Meski jalan menuju ke sana di third act memang komikal (biar bagaimanapun ini adalah film komedi), konklusi berhasil menghadirkan solusi terbaik bagi semua pihak yang memang menjadi elemen utama sebuah film hiburan untuk keluarga, namun bisa menghindari jebakan klise. Amat mengesankan bahwa film ini menjadikan tradisi ziarah makam sebagai sebuah medium napak tilas dan merenungi jati diri, untuk kemudian mencapai sebuah rekonsiliasi. Sebuah pilihan kreatif yang juga berhasil membuat saya terkesan di film komedi satire Finding Srimulat (2012).

Setiap keluarga memiliki masalah, tapi masalah tersebut akan bisa diselesaikan bila duduk dan mengobrol bersama. Menarik untuk melihat lagu tema serial televisi lawas “Keluarga Cemara” (yang menjadi salah satu gimmick komedi paling jenaka lewat karakter Astri Welas) sebagai semangat film ini. Bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga dan itu saya setujui.

Menggabungkan tawa dan drama, saya senang dengan keputusan saya untuk Cek Toko Sebelah.

(4/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Desember 28, 2016.

Running time: 104 minutes

A Starvision presentation

Executive producers: Riza Reza Servia, Mithu Nisar

Producers: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Line producer: Raymond Handaya

Director: Ernest Prakasa

Co-director: Adink Liwutang

Screenplay: Ernest Prakasa

Scenario consultant: Jenny Jusuf

Comedy consultant: Bene Dion Raja Gukguk

Story development: Meira Anastasia

Cinematography: Dicky R. Maland

Editor: Cesa David Lukmansyah

Sound designer: Khikmawat Santosa, Mohammad Ikhsan Sungkar

Art director: Windu Arifin

Sound recordist: Madunazka

OST by GAC, The Overtunes.

Casts: Dion Wiyoko, Chew Kin Wah, Ernest Prakasa, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti, Yeyen Lidya, Nino Fernandez, Kaesang Pangarep.

Advertisements

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 – “Tribute” Atau Eksploitasi Jenama?

“Warkop, dalam film-filmnya, selalu mengusung konsep low comedy.”




Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss selalu dipasarkan sebagai sebuah “tribute”. Sebuah penghormatan terhadap sebuah kelompok komedian yang terdiri dari Dono, Kasino dan Indro. Kelompok Warkop  memang selalu diasosiasikan dengan ketiga tokoh ini. Bersama-sama, mereka berhasil menetapkan diri mereka sebagai “raja” komedi layar lebar di era 80’an dan masih mempertahankan kepopuleran mereka hingga ke pertengahan 90’an . Bentang waktu hampir dua dekade dalam menjaga bentuk dan konsep komedi, lantas menjadikan “Warkop DKI” sebagai sebuah jenama. Sebagai sebuah merek dagang. Sebagai sebuah brand.

Oleh karena itu, saya lebih suka menyebut ulasan film ini sebagai sebuah “tribute” kepada Warkop pada masa keemasannya.

Warkop, dalam film-filmnya, selalu mengusung konsep low comedy. Suatu gaya komedi yang menggabungkan : celetukan-celetukan jenaka, namun kasar dan lugas (coarse language); komedi yang menertawakan penderitaan fisik (slapstick); dan farcical comedy, yaitu jenis komedi yang dengan sengaja melebih-lebihkan keadaan fisik atau karakteristik seseorang (beberapa orang) yang terperangkap dalam suatu sirkumtansi gila-gilaan yang tak terkendali. Gaya low comedy ini memang cocok untuk segmentasi market film Indonesia yang menyasar masyarakat ekonomi menengah ke bawah sebagai ceruk market utamanya. Selain film, Warkop pun menjual komedi mereka melalui kaset. Hanya saja pendekatan komedi berbeda mereka terapkan di medium audio itu. Di sana, Warkop memakai konsep high comedy yang menggunakan witty comedy (komedi intelektual) sebagai elemen utama yang memang lebih menyasar golongan muda yang memiliki selera lebih baik.

Komedi yang diusung trio ini dalam film-filmnya selalu bersifat “komedi bodoh” (dumb comedy) dan oleh karena itu film-film mereka pun tidak akan pernah digolongkan sebagai “masterpiece”. Hanya saja, Warkop pada masa keemasan mereka di era 80’an—dalam filmnya—tetap memperhatikan pentingnya dramaturgi dan pengadeganan saat menyajikan cerita. Mereka masih menggunakan setup dan mengajak penonton mencerna situasi yang mereka alami, sebelum penonton dipaparkan dengan komedi. Tidak ujug-ujug membombardir dengan lawakan tanpa henti. Memberikan variasi tempo yang berguna untuk mempertahankan mood penonton dalam mengikuti observational comedy dalam konsep low comedy mereka. Observational comedy adalah jenis komedi yang menertawakan beragam peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Jenis komedi ini butuh setup agar penonton mengenali topik yang dikomedikan, supaya terhubung. Seringkali pula mereka memasukan humor satire “nakal” yang menyentil isu politik. Itulah kenapa Warkop diidentikkan sebagai penyaji humor cerdas. Suatu pendekatan segar di era represif Orde Baru yang menabukan kebebasan beropini.

Sayang, kualitas candaan Warkop menurun drastis seiring lesunya bisnis perfilman nasional memasuki dekade 90’an. Humor mereka lalu hanya terbatas pada slapstick dalam rangkaian sketsa yang kerap menggunakan perempuan seksi sebagai daya tarik. Tak lagi memakai kaidah penceritaan, dramaturgi ataupun perajutan storytelling seperti karya layar lebar mereka di era 80’an.

“Dalam konteks Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1, seperti yang selalu diutarakan di setiap kegiatan promosi, “tribute” terhadap Warkop menyasar secara spesifik ke era keemasan grup komedian ini di era 80-an. Menelaah, menelisik dan melakukan napak tilas ke era tersebut—seperti yang saya lakukan di ulasan ini—lantas menjadi relevan dan kontekstual.”



NAPAK TILAS WARKOP 80’an, TRIBUTE SEBAGAI KATA KUNCI ANALISIS

Melakukan napak tilas dan analisis terhadap gaya komedi trio Warkop, berarti kita juga harus menelaah perwatakan karakter panggung mereka. Dono, Kasino dan Indro memang memiliki karakteristik yang khas.

Dono adalah The Brain, yang menjadi otak dari segala komedi Warkop. Karakternya selalu ditampilkan sebagai bulan-bulanan, mengeksplotasi tampilan fisiknya dan logat Jawa yang keluar dari suaranya. Lawakan muncul, karena Dono kerap ditampilkan sebagai karakter yang “nyeleneh”, udik dan norak. Karena tampilan fisiknya yang “menonjol” itulah, Dono selalu menjadi bintang utama di setiap film Warkop. Meski selalu jadi bahan candaan, Dono selalu di bawah naungan keberuntungan.

Itulah sebab mengapa orang-orang kerap menyebut film Warkop DKI sebagai “film Dono”. Karena di setiap film mereka, Dono yang menjadi pusat cerita.

Kasino, di sisi lain merupakan The Improvisation Machine. Dia pemuda yang selalu digambarkan sebagai sosok oportunis, namun seringkali sial. Lewat logat Banyumas-an atau “Jawa ngapak” (juga sering ditampilkan sebagai karakter Betawi), ciri khas Kasino terletak  pada kemampuannya mengeluarkan celetukan-celetukan tak terduga yang nyelekit, namun kocak. Dari mulutnya terlahir berbagai jargon unik yang kemudian menjadi bahasa slang. Seperti ‘rikiplik”, “Dasar nyomet lu”, “ Rumah segini gede ruangan tamu semua, di mana jambannya” dan banyak lagi.

Sementara Indro, lebih merupakan sosok penyeimbang. The Balancer yang mengatur dinamika humor antara Dono dan Kasino. Karakter Indro di film relatif lebih kalem dan lebih serius, serta lebih flamboyan. Lewat logat Bataknya (dan kadang lewat logat Banyumas), Indro menghadirkan sebuah kontradiksi dari stereotipe suku yang keras. Sosoknya yang lebih tinggi, kerap juga jadi bahan becandaan.

Mengapa saya mengupas sekilas napak tilas Warkop orisinal? Karena kata kunci “tribute”.

Tribute sendiri didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan yang membuktikan atau menegaskan suatu kualitas atau karakteristik yang sudah diakui khalayak.

Dalam konteks Warkop Reborn : Jangkrik Boss Part 1, seperti yang selalu diutarakan di setiap kegiatan promosi, “tribute” terhadap Warkop menyasar secara spesifik ke era keemasan grup komedian ini di era 80-an. Menelaah, menelisik dan melakukan napak tilas ke era tersebut—seperti yang saya lakukan di ulasan ini—lantas menjadi relevan dan kontekstual.



GESTURE “TRIBUTE” YANG SEMPAT BERHASIL

Dalam beberapa hal, gesture sebagai “tribute” memang terlihat dalam  film ini.

Gesture paling kentara tentu saja penampilan fisik para aktornya. Abimana Aryasetya (Catatan Harian si Boy, Haji Backpacker) tampil meyakinkan sebagai Dono. Menggunakan gigi palsu hingga terlihat tonggos dan body suit yang membuat perutnya menjadi buncit, Abimana memperlihatkan satu transformasi fisik paling meyakinkan dalam sejarah sinema Indonesia. Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga menyerupai Dono. Pun dengan suara dan perilakunya. Abimana adalah aktor drama berbakat yang memiliki comic timing, seperti yang diperlihatkannya di Catatan Harian Si Boy (2011). Di Jangkrik Boss, dia tak hanya meniru Dono, dia menjadi Dono. Lengkap dengan comedic timing-nya.

Vino G. Bastian (3 Nafas Likas, Bangkit!) pun tak kalah meyakinkan. Dia berhasil menampilkan apa yang menjadi ciri khas Kasino. Celetukan-celetukan dalam logat Banyumas-an, seperti saat dia mengucap kata, “Tulung”. Comic timing-nya terkadang tepat, terkadang berlebihan. Kesan berlebihan itu dikarenakan porsi Vino lebih dominan dibanding dua rekannya. Dalam Jangkrik Boss Part 1, Kasino yang diperankan oleh Vino terlihat sebagai karakter utama. Bukan Dono, seperti di film-film Warkop pada umumnya.

Peran Tora Sudiro (Arisan, Juara) yang relatif lebih aman dibanding dua rekannya. Tepat seperti karakter Indro yang memang lebih kalem, yang membuat peran Tora tidak menonjol. “Aman”-nya peran Tora, juga disebabkan oleh munculnya Indro asli yang dalam film ini berfungsi layaknya “pendamping” atau mentor. Indro kerap muncul dalam berbagai karakter nyentrik, mulai sebagai malaikat dan setan pendamping, hingga “arwah” dalam rupa Minion.

Gestur ”tribute” juga dihadirkan lewat busana, palette warna dan lagu-lagu bernuansa 80’an, seperti lagu “Mamayukero, “Burung Kakatua”, hingga theme song Warung Kopi”. Pada beberapa momen, berbagai gesture tersebut berhasil menimbulkan sentimentil nostalgia. Hingga ciri khas Anggy Umbara sebagai sutradara mengambil alih yang, ironisnya, membuat Jangkrik Boss Part 1 lebih terasa sebagai merekonstruksi film-film Warkop di era 90’an. Tanpa memperhatikan pengadegan dan dramaturgi.

Sentimentil nostalgia sebenarnya berhasil ditampilkan sejak adegan pembuka sampai sepuluh atau 15 menit sejak adegan pembuka digulirkan.

Adegan pembuka pembacaan berita di televisi yang dilakukan oleh Indro, satu-satunya anggota Warkop yang masih hidup. Meniru adegan pembuka di film Setan Kredit (1981).

Awalnya, adegan ini efektif membangkitkan sentimental nostalgia. Indro yang ditampilkan secara karikatur, mengulang perannya yang di film tahun 1981 sebagai pembaca ramalan cuaca. Hanya saja Jangkrik Boss Part 1 adalah film arahan Anggy Umbara, sineas yang gemar menggunakan satu gimmick berulang-ulang hingga terasa over-dosis. Komedi plesetan one-liner pembacaan berita ini harus diulang tiga kali, hingga hilanglah efektivitasnya. Terlalu panjang karena Indro melakukannya seorang diri. Dalam Setan Kredit, pembacaan berita dilakukan oleh ketiga anggota Warkop secara bergantian. Berfungsi sebagai pengenalan karakter.

Jangkrik Boss Part 1 memakai plot dan story-arc tiga film Warkop di era 80’an : Setan Kredit, CHIPS (1982) dan IQ Jongkok (1981).

Pengenalan karakter anggota Warkop di film ini ditampilkan melalui plot CHIPS, di mana mereka menjadi anggota program kepolisian yang bernama “ Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial”. Ketiga anggota Warkop diperkenalkan melalui aktivitas mereka sebagai korps CHIPS yang berujung pada tindakan ceroboh. Pengenalan ini berhasil memicu nostalgia. Kita tersenyum, tertawa dan mengenali bahwa mereka adalah Warkop yang kita kenal.

Dono, Kasino dan Indro bukanlah cerminan korps yang ideal, tentu saja. Kecerobohan dan kekikukan mereka malah membuat CHIPS merugi. Dalam satu momen, kita diperkenalkan kembali dengan jargon “Jangkrik Boss”, sebuah kode yang terlahir kala Kasino memergoki atasan mereka Pak Juned (ditampilkan secara over-acting dan teatrikal oleh Ence Bagus) sedang bermesraan dengan seorang perempuan seksi mata duitan (lewat cameo Nikita Mirzani).

Sub-plot tersebut memang meminjam CHIPS. Peran Ence Bagus dalam film 80’annya diperankan oleh almarhum Panji Anom. Sama-sama berkacamata dan tidak bisa mengucapkan konsonan “r”. Bedanya, Panji Anom tidak membawakan perannya secara berlebihan.

Untuk membantu trio Dono-Kasino-Indro menanggulangi kasus pembegalan, Bos Juned memberikan mereka bantuan lewat karakter perempuan seksi peranakan Perancis bernama Sophie (diperankan oleh Hannah Al Rasyid, Modus Anomali). Momen nostalgia kembali muncul, karena penampilan fisik Hannah mengingatkan kita kepada aktris Meriem Bellina yang juga kerap muncul di film-film Warkop. Hannah tidak asing dengan konsep komedi sketsa, karena ia pernah tampil di program televisi serupa. Kemunculan Hannah dan Nikita kembali mengulang tradisi film-film Warkop dalam menghadirkan karakter perempuan cantik dan seksi. Sebagai pemanis.

Terlibat hutang akibat merugikan CHIPS dan terlibat kredit, Dono-Kasino-Indro lantas berupaya untuk mencari uang. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan korban tabrak lari (cameo Bene Dionisius Rajagukguk, komika sekaligus salah satu penulis naskah filmnya) yang memberi mereka sebuah peta harta karun.

Ketiga jagoan kita ini, bersama Sophie, lalu melanjutkan petualangan mereka hingga ke Kuala Lumpur.

“Hanya saja Jangkrik Boss Part 1 adalah film arahan Anggy Umbara, sineas yang gemar menggunakan satu gimmick berulang-ulang hingga terasa over-dosis”



OVER-DOSIS KHAS SUTRADARA

Sebenarnya tak ada story dalam Jangkrik Boss Part 1. Film ini murni storytelling yang tersusun dari serangkaian sketsa yang menggabungkan kepingan-kepingan elemen nostalgia dan pelesetan (spoof) dari awal hingga akhir. Sebenarnya tak masalah. Film-film Warkop di 80’an melakukannya. Pun dengan komedi konyol di era tersebut seperti Airplane (1980) ataupun  The Naked Gun (1988) yang dibintangi Leslie Nielsen.

Hanya saja dalam film-film yang saya sebut, masih tahu kapan harus berhenti melawak dan kapan harus memulai. Komedi mereka masih diiringi oleh drama. Dalam film-film itu, komedi slapstick muncul di tengah-tengah adegan dan momen yang serius, menghasilkan momen tak terduga di tengah situasi yang kita kenal.

Lawakan dalam film-film yang saya sebut berada dalam suatu konsep tunggal. IQ Jongkok dan CHIPS, misalnya, memparodikan berbagai kejadian yang terkait dalam perburuan harta karun dan kegiatan Warkop sebagai anggota CHIPS. Airplane, di sisi lain, menjadikan hal-hal terkait penerbangan komersial sebagai sumber guyonan.

Keputusan Jangkrik Boss menggunakan mash-up tiga plot film Warkop berimbas pada ramainya lawakan. Ditambah keputusan Anggy Umbara dalam menghilangkan banyak setup menuju komedi.. seperti yang ditampilkannya dalam seri Comic 8. Hasilnya menjadi begitu hiruk pikuk dan berlebihan. Anda akan tertawa bila guyonan dihadirkan dalam tempo yang terjaga. Sebaliknya, guyonan yang terlalu dibombardir akan membuat Anda jenuh.

Keputusan Anggy amatlah disayangkan, karena beberapa materi komedi yang dihadirkan dalam gaya observational sebenarnya berhasil bekerja.

Ambil contoh, guyonan tilang kendaraan bermotor saat Indro milik Tora Sudiro memergoki seorang pengendara (cameo komika Bintang Timur) menerobos area verboden. Atau saat Dono milik Abimana bersaing membeli tisu di perhentian lampu merah. Juga saat trio Warkop berkunjung ke Pakde Slamet (cameo Tarsan Srimulat), untuk meminjam uang. Kesemua momen itu efektif dalam menghasilkan gelak tawa karena kita diberikan kesempatan mencerna dan mengikuti setup ke lawakannya. Ada sentuhan drama di dalamnya, seperti film-film Warkop era 80’an.

Akan tetapi selepas itu, guyonan mulai lepas kendali. Membombardir di mayoritas adegan dan sekuens. Penonton mulai jenuh dan lelah. Ditambah kesan pamer Anggy Umbara , seperti yang diperlihatkan di film 3 Alif Lam Mim, dalam menggunakan efek spesial yang justru mengurangi kadar lawakannya. Seperti saat adegan humor janggal “pergantian wajah” antara cameo Hengky Solaeman dan Inggrid Widjanarko.

Kejenuhan juga timbul dari keputusan pengambilan gambar yang didominasi oleh medium dan close-up shots, menghasilkan gambar-gambar padat yang kebanyakan tidak disertai variasi lain. Di awal-awal film, sebenarnya variasi itu ditampilkan. Polanya dapat dikenali lewat serangkaian komedi sketsa yang diselingi dengan kemunculan berbagai footage kegiatan warga Jakarta sehari-hari. Lalu muncul penyuntingan transisi bergaya “iris” (teknik penyuntingan di mana ada lingkaran yang menutup seperti selaput mata atau iris kamera), sebelum kita masuk ke rangkaian sketsa lainnya.

Sayangnya, variasi itu dihilangkan oleh Anggy Umbara saat film memasuki pertengah durasi. Kita jadi jenuh, akibat humor dan atribut yang membombardir.

Rumor beredar bahwa Warkop Reborn : Jangkrik Boss awalnya hanya ditujukan untuk satu film saja. Lalu, tersiar kabar bahwa Falcon Pictures memutuskan untuk memecahnya menjadi dua bagian. Mengikuti tradisi Comic 8 : Kasino King yang juga dipecah. Pemecahan film menjadi dua seperti Kill Bill atau Harry Potter : Deathly Hallows bisa dimaklumi karena materi yang memang berlimpah dan tak cukup disajikan lewat satu film saja. Dalam kasus Jangkrik Boss, kemudian bisa dipahami mengapa ritmenya menjadi porak-poranda. Demi memperpanjang durasi film, tim filmmaker terpaksa harus melakukan tambal sulam melakukan penyesuaian yang ujungnya berimbas kepada penyampaian cerita. Saya menduga penyelipan berbagai footage kegiatan sehari-hari warga Jakarta adalah sebagai upaya untuk memperpanjang durasi. Tak heran, bila kemudian variasi itu pun hanya ditempelkan sekadarnya saja.

Lantas tak heran pula bila adegan cliffhanger menuju Jangkrik Boss Part 2 juga terlihat kasar dan dipaksakan.

Sebuah tribute akan berhasil bila elemen-elemen penghormatan yang digunakan dihadirkan sesuai porsi. Bila dihadirkan secara berlebihan, kesan eksploitasi yang akhirnya muncul.

Warkop Reborn : Jangkrik Boss Part 1 tampil melenceng dari fungsi awalnya, sebagai tribute terhadap film-film keemasan Warkop di era 80’an. Yang hadir, justru film-film mereka di era 90’an.

“Kekuatan jenama Warkop bisa dilihat bagaimana tim marketing film menggunakannya untuk menarik minat penonton. Menciptakan suatu cultural event yang mendorong urgensi penonton untuk berbondong menonton filmnya di pemutaran hari pertama.”



TRIBUTE” ATAU EKSPLOITASI JENAMA?

Warkop sebagai sebuah jenama memang sudah lintas generasi. Saya sempat mewawancarai berbagai penonton lintas demografi, sebelum menyaksikan film ini. Sekelompok anak muda berusia belasan—yang bahkan belum lahir saat Warkop berada di puncak kejayaannya—terlihat mengantri di kerumunan pembeli tiket. Mereka mengatakan bahwa mereka akrab dengan Warkop lewat VCD atau penayangan ulang film mereka di televisi. Beberapa penonton berusia dewasa yang memang sempat menyaksikan film Warkop di layar lebar, tertarik menonton Jangkrik Boss Part 1 sebagai nostalgia. Sayangnya, para penonton ini (yang kebetulan duduk di dekat saya) terlihat jenuh saat filmnya mulai membombardir humor.

Kekuatan jenama Warkop bisa dilihat bagaimana tim marketing film menggunakannya untuk menarik minat penonton. Menciptakan suatu cultural event yang mendorong urgensi penonton untuk berbondong menonton filmnya di pemutaran hari pertama. Penontonnya lintas demografi, bahkan menarik minat para pengunjung yang berkata mereka hanya mengunjungi bioskop beberapa bulan sekali.

Tapi, keluhan seorang bapak yang duduk di sebelah saya bahwa, “filmnya kok jayus, ya?” bisa jadi perenungan. Dia dan keluarganya hadir untuk mencecap manisnya nostalgia kenangan manisnya bersama Warkop era 80’an. Bukan yang mereka lihat di layar sekarang.

Nampaknya komedi yang dihadirkan Jangkrik Boss Part 1 akan berhasil di generasi kekinian, yang akrab dengan komedi stand-up. Mayoritas materi humor ala stand-up comedian memang sengaja dihadirkan untuk mengakomodir penonton generasi muda, yang menerima film seri Comic 8 milik Anggy Umbara. Story-arc ditentukan, guyonan bergaya komika dimasukkan ke dalamnya.

Bila itu tujuan utama, maka Jangkrik Boss Part 1 bukanlah murni sebuah tribute. Meski beberapa gesture penghormatan dihadirkan, secara keseluruhan film ini dapat dipandang sebagai sebuah eksplotasi jenama. Pemanfaatan merek dagang Warkop yang melegenda.

Di tahun 2013, saya menyaksikan sebuah film berjudul Finding Srimulat arahan Charles Gozali. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian tersebut sayangnya tidak laku di pasaran. Film tersebut merupakan sebuah tribute dan penghormatan yang baik terhadap grup lawak legendaris, Srimulat. Menggabungkan antara pandangan generasi masa kini terhadap Srimulat, getir kehidupan mereka dan mampu menangkap jiwa lawakannya. Semua itu terjadi karena Finding Srimulat memakai paradigma drama. Guyonan khas Srimulat dimasukkan kedalamnya dan menjadi koheren. Bukan sebuah film yang sempurna, namun sebagai tribute film itu berhasil melakukannya.

Saya serahkan kepada Anda untuk menilai, apakah Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 sebagai tribute atau eksploitasi jenama?

(2/5)

Catatan : edisi ulasan sebelumnya telah salah menulis lakon  istri Hengky Solaeman sebagai Titik Qadarsih. Yang benar adalah Inggrid Widjanarko. Kesalahan telah diperbaiki. Terimakasih untuk @ejha_rawk atas koreksinya.

Reviewed at CBD Ciledug XXI September 8, 2016

A Falcon Pictures presentation

Executive producer : Indro Warkop, H.B Naveen, Dallas Sinaga

Producer : Frederica

Line producer : Dewi Soemartojo

Director : Anggy Umbara

Script : Andy Awwe Wijaya, Bene Dion Rajagukguk, Anggy Umbara

Director of photography : Yunus Pasolang

Editor : Bounty Umbara, Wawan Wibisono

Sound recordist : Yarri

Sound designer : Khikmawan Santosa

Music : Andhika Triyadi

Visual effect : Epic Fx Studios

Art director : Ade Gimbal

Comedy coach : Arie Keriting

Casts : Abimana Aryasetya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Hannah Al Rasyid, Ence Bagus

Cameo : Tarsan Srimulat, Hengky Solaeman, Inggrid Widjanarko, Agus Kuncoro Adi, Nikita Mirzani, Bintang Timur, Mongol, Arie Tulang, Bene Dion Rajagukguk, etc.

Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 : Hit And Miss Teaser, Sinopsis Resmi

Falcon Pictures  beberapa jam lalu merilis teaser trailer salah satu film andalan mereka, Warkop Reborn : Jangkrik Boss! (baca review dan analisis kami di sini).  Proyek yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Comic 8 series, 3 : Alif Lam Mim) ini memang mengundang perhatian penikmat film, sejak  concept photo yang memperlihatkan tampak punggung tiga orang dalam balutan kostum pekerja warna-warni dengan tulisan Dono-Kasino-Indro , beredar di berbagai platform online pada April  2016 lalu.

Sejak itu pembicaraan mengenai proyek film ini terus bergulir dan menjadi buah bibir. Dengan memakai pola yang menyerupai mystery box marketing, pihak Falcon Picture perlahan-lahan merilis secuil demi secuil informasi.  Sempat terjadi “kebocoran” foto para aktor yang diyakini sebagai pemeran ketiga legenda komedi anggota asli Warkop DKI yang membuat pembicaraan makin hangat, ditanggapi dengan “iya-iya-nggak” oleh pihak Falcon.

Awal Juni lalu, akhirnya Falcon Picture mengkonfirmasi bahwa Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro yang memerankan secara berturut-turut karakter Dono, Kasino dan Indro, melalui teaser poster bergaya karikatur yang mewakili era 80-an, masa kejayaan trio pelawak tersebut.

Teaser trailer yang dirilis nyaris satu bulan setelah teaser poster-nya, kembali memberikan kita informasi tambahan. Bahwa Warkop Reborn dimaksudkan sebagai nostalgia.

Hal tersebut jelas ditampilkan.  Abimana, Vino dan Tora dalam perannya masing-masing, mengenakan kostum polisi patrol lalu lintas , CHIPS, membuka teaser berdurasi 3 menit ini.

Elemen nostalgia semakin kentara, saat ketiga aktor bersama dengan Indro (satu-satunya anggota asli Warkop DKI yang masih hidup), menyenandungkan theme-song ikonis berjudul Warung Kopi dalam gaya mengamen di pinggir jalan.

Sekuens mengamen tersebut kemudian berkelindan dengan berbagai cuplikan adegan yang merekonstruksi adegan dan celotehan terkenal dari setiap film populer Warkop DKI.

Tidak hanya CHIPS, parodi serial drama televisi era 80-an yang dibintangi Erick Estrada, yang kemudian menelurkan jargon “Jangkrik Boss!” dan menjadi sub judul Warkop Reborn saja yang direkonstruksi. Juga sederet judul-judul film terkenal trio komedian tersebut, mulai dari Dongkrak Antik (1982), Sama juga Bohong (1986), Salah Masuk (1992), Tahu Diri Dong (1984), Setan Kredit (1981), IQ Jongkok (1981), Maju Kena Mundur Kena (1983), hingga Gengsi Dong (1980).

Konsep teaser yang diusung Anggy Umbara ini, kemudian membuatnya terasa seperti video musik. Terasa segar, tapi kemudian terasa terlalu panjang untuk sebuah teaser trailer.

Suasana emosional sebagai tribut sebenarnya sudah didapatkan, tatkala ketiga aktor pemeran anggota Warkop DKI bersama Indro, menembangkan theme-song Warung Kopi. Kredit khusus pemberi suasana emosional, patut pula diberikan kepada Abimana Aryasatya, salah satu aktor berbakat Indonesia yang kerap terlupakan, karena secara fisik, gestur, dan suara amat menyerupai mendiang Dono.

Akan tetapi, elemen tribut dan nostalgia ini sejujurnya justru terasa kontradiktif dengan berbagai adegan rekonstruksi yang menampilkan tiga aktor pemeran utama dan semestinya bisa menunjukkan kemampuan komedi mereka.  Jika saja teaser trailer ini memakai potongan dari film-film asli Warkop DKI, maka fungsinya sebagai pembangkit nostalgia dan sekaligus jembatan untuk memperkenalkan aktor-aktor barunya, akan lebih efektif dan lebih mampu membangkitkan suasana haru.

Kendala untuk menampilkan potongan-potongan film asli WARKOP DKI tentu saja bisa disebabkan oleh masalah copyright. Meski memang konsekuensinya adalah teaser trailer Warkop Reborn terasa hambar. Tak bisa dipungkiri bila kita mendengar Warkop DKI, maka pikiran akan kita mengasosiasikannya ke adegan slapstick pengocok perut, sesuatu yang justru tak dihadirkan di teaser-nya.

EKSLUSIF : PLOT DAN SINOPSIS RESMI WARKOP REBORN : JANGKRIK BOSS!! PART 1.

Teaser trailer yang dirilis ini adalah materi marketing promosi dari Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 . Falcon Pictures sepertinya berusaha mengulang pola yang pernah mereka terapkan di film Comic 8 : Casino King yang dipecah menjadi dua bagian dan berhasil meraup penjualan total tiket lebih dari 3 juta lembar bila digabungkan.

Dari sebuah sumber, didapatkan informasi bahwa sinopsis Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 adalah tentang Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) yang merupakan anggota satuan polisi khusus, CHIPS. Suatu ketika mereka melakukan kelalaian sewaktu melaksanakan tugas, yang kemudian mengakibatkan kekacauan dan membuat mereka bertiga harus menanggung seluruh kerugian. Saat bingung mencari uang untuk membayar kerugian, mereka bertiga mendapatkan sebuah petunjuk ke lokasi yang dipercaya tersimpan harta karun. Trio jenaka yang sedang ketiban sial ini kemudian memutuskan untuk mencari harta karun, demi membayar  semua hutang.

Dikatakan pula bahwa plot dan premise Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 dan Part 2 adalah gabungan antara tiga film ikonis Warkop, yaitu CHIPS, IQ Jongkok, dan Setan Kredit.

Proses syuting untuk Part 1 dan Part 2 dilaksanakan sekaligus dan memakan waktu selama 35 hari. Naskahnya ditulis oleh Anggy Umbara, Andy Awwe Wijaya dan Bene Dion Rajagukguk. Anggy Umbara merangkap sebagai sutradara, sementara film ini merupakan debut bagi Andy dan Bene sebagai penulis naskah film layar lebar.

Film ini juga turut dibintangi oleh Hannah Al Rashid, Agus Kuncoro dan aktris asal Malaysia, Fazura.

Warkop Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 rencananya akan tayang pada 8 September 2016, sementara belum diketahui jadwal tayang Part 2-nya.

 

Bagaimana menurut kalian teaser trailer Warkop Reborn : Jangkrik Boss! ? Silahkan untuk berkomentar dan berdiskusi di seksi komentar di bawah ini.