Cek Toko Sebelah Review: Rekonsiliasi Lewat Komedi

Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”.




Ada satu momen di Cek Toko Sebelah, film feature kedua karya penyutradaraan komika Ernest Prakasa setelah Ngenest (2015), yang berhasil membuat hati saya tertambat. Satu momentum yang berhasil menggugah pikiran saya bahkan setelah filmnya usai.

Momentum ini ada saat Koh Afuk (diperankan dengan sangat sangat baik oleh aktor berkebangsaan Malaysia, Chew Kin Wah, My Stupid Boss) bersender di kolom tiang toko kelontong Jaya Baru miliknya yang kini terlihat kosong. Koh Afuk yang sudah lanjut usia, berperawakan kecil dan rambutnya dipenuhi uban itu terlihat mendorong punggungnya sendiri ke kolom tiang. Ia menunjukkan kerapuhan. Matanya terlihat nanar dan gundah. Air dan raut mukanya nampak putus asa. Dia lalu perlahan terduduk dan kemudian menangis dengan diiringi soundtrack bergaya balada.

Adegan itu hanya beberapa detik saja, namun merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa yang telah kita saksikan di layar sebelumnya. Saya patah hati melihat adegan itu yang kemudian membuat saya teringat dengan ayahanda saya. Saya bisa merasakan kekecewaan beliau saat saya tidak mengindahkan harapannya, lewat karakter Koh Afuk. Saya ingin memeluk dia, menenangkannya dan berkata, “ Ayah, maafkan saya.”

Cek Toko Sebelah dijual sebagai film komedi. Judulnya sendiri merujuk pada frase yang menyatakan ekspresi pemilik toko yang menganjurkan calon pembelinya untuk membandingkan harga atau kualitas barang ke toko milik pesaing. Film ini memang menawarkan rangkaian humor, tetapi humor tersebut dipadupadankan dengan drama yang berhasil dieksekusi dengan baik. Menggabungkan antara komedi dan drama di dalam sebuah cerita adalah sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi dan film ini adalah contoh yang memadukannya dengan manis. Saya tertawa karena mayoritas gurauan di dalamnya, tetapi elemen drama di film inilah yang membuat cita rasanya pekat dan melekat.

Buktinya? Adegan yang saya ilustrasikan di atas.

Bila Ngenest diceritakan dari sudut pandang karakter Ernest—yang memulai narasi dengan voice over-, Cek Toko Sebelah mengajak kita melakukan observasi tanpa terasa ingin mengarahkan pemahaman kita.  Observasi terhadap keluarga Koh Afuk, pria paruh baya keturunan Tionghoa yang memiliki dua anak pria dewasa.

Mereka adalah Yohan (kemudian dipanggil Koh Yohan, diperankan dengan penuh sensitivitas oleh Dion Wiyoko), si anak tertua. Yohan merupakan suami dari Ayu (diperankan dengan pas oleh Adinia Wirasti, AADC). Si anak kedua dan sekaligus si bungsu, Erwin Surya (diperankan oleh Ernest Prakasa), yang belum menikah dan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, (diperankan oleh Gisella Anastasia).

Meski dua bersaudara kandung, ada semacam perbedaan kontras antara Yohan dan Erwin yang membuat mereka terpolarisasi dan polarisasi karakter dalam penulisan cerita merupakan sumber konflik.

Yohan adalah pemuda yang memiliki darah seni dalam tubuhnya. Dia menyukai fotografi, bahkan menjalankan hobinya itu sebagai profesi. Itu sebabnya Yohan terlihat serasi dengan istrinya yang memiliki bakat dalam seni patiseri. Ayu bahkan berhasrat untuk membuka kedai kue sendiri.

Sementara Erwin adalah tipikal pebisnis dengan karir cemerlang. Dia baru saja mendapat kesempatan untuk dipromosikan sebagai pemimpin wilayah Asia Tenggara dari kantor tempat dia bekerja. Kekasih Erwin pun punya karir tak kalah cemerlang.

Naskah Cek Toko Sebelah konsisten dalam menjaga perwatakan karakternya. Yohan yang nyeni memakai busana kasual dan bersahaja, gaya bicaranya santai, berambut agak panjang dan memelihara jenggot. Erwin berpenampilan klimis dan rapi jali; gaya bicaranya teratur dan sering berdialog dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan kualitas cita rasa internesyenel; sikapnya menunjukkan keteraturan dan rasa percaya diri.

Yohan adalah seseorang yang mewakili imej bad boy, sedangkan Erwin adalah perwakilan seorang poster boy.

Hingga suatu ketika kakak beradik ini kembali bersinggungan saat ayah mereka tiba-tiba jatuh sakit. Koh Afuk kemudian meminta Erwin untuk membantunya mengelola usaha toko kelontong, sebuah permintaan yang kemudian membuat Yohan—sebagai anak tertua– merasa disepelekan. Alasan Koh Afuk sebenarnya logis, karena Yohan dilihatnya belum bisa untuk memegang tanggung jawab.

Tapi kamu ngurus diri kamu aja belum bener”, begitu kata Koh Afuk kepada anak sulungnya.

Erwin sendiri memiliki konflik batin mendengar permintaan sang ayah. Karirnya sedang menanjak dan dia tak ingin melewatkan kesempatan yang dia peroleh. Lewat sebuah diskusi, Erwin lalu setuju membantu ayahnya mengelola toko, hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Di sinilah konflik sesungguhnya terjadi. Konflik yang melibatkan ego ayah dan anak; kejadian masa lalu; usaha seorang pengusaha pengembang real estate (diperankan secara komikal oleh Tora Sudiro) untuk membeli kawasan tempat toko Jaya Baru itu berada; dan, seperti judulnya, (sedikit) konflik dengan pemilik toko sebelah.

Pondasi utama Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah drama keluarga. Lawakan diberikan di sela-sela pembangunan dramatisasi konflik antara karakter utama, lewat berbagai celotehan, pelesetan dan dialog jenaka yang dilontarkan barisan para pemeran pendukung yang memang komedian. Mayoritas humor dalam film ini adalah bergaya observasi, jenis komedi yang berdasarkan kejadian sehari-hari atau fenomena budaya populer yang sedang atau sempat terjadi.

Pilihan kreatif menjadikan fungsi para karakter di film ini pun terbagi dua: 1) para aktor utama untuk menjaga intensitas drama; 2) para pemeran pembantu dan figuran berperan untuk menghadirkan keriaan. Pola seperti ini bukan hal baru sebenarnya. Kelompok lawak legendaris Srimulat pun menerapkan pemetaan karakterisasi yang sama. Karakter seperti mendiang Ibu Jujuk dan Tarsan berfungsi menjaga tensi drama sehingga membuat mereka terlihat lebih serius, sementara para karakter pembantunya seperti Tessy atau Gogon (yang biasanya berperan sebagai pembantu, jongos, tetangga, teman atau antagonis) bertugas menghadirkan gelak tawa di mana karakter mereka memiliki penampilan fisik yang eksentrik atau nyeleneh. Sama seperti lakon yang dipentaskan Srimulat, para karakter penghadir tawa di Cek Toko Sebelah juga nyentrik. Ambil contoh saja karakter asisten toko yang tak bisa menyebut huruf ‘r’; si pemikir (oleh komika Dodit Mulyanto); si kemayu (diwakili oleh karakter bernama Karyo); hingga ke karakter Astri Welas (scene stealer di sini), bos dengan tata rias wajah menyolok dan kekontrasan karakterisasi. Sama pula seperti Srimulat, film ini juga memiliki karakter perempuan cantik dan seksi sebagai kembang gula.

Pilihan untuk “memisahkan” fungsi aktor-aktornya pula yang membuat Cek Toko Sebelah terlihat memiliki struktur seperti rangkaian fragmen sketsa humor. Hal tersebut adalah efek dari usaha pemberian “panggung” kepada para komika sebagai pemeran pembantu untuk melontarkan banyolan mereka dalam mekanisme penyampaian seorang stand up comedian. Hal itu sangat terasa, karena meski ada beberapa figur yang tidak saya kenali (seperti pemeran karakter dokter, misalnya), guyonan mereka khas. Ada setup, punchline dan tag.

Akan tetapi Cek Toko Sebelah relatif mampu menjaga keseimbangan antara dua fungsi tersebut hingga terasa melebur dan menyatu, karena kebanyakan materi lawakan ala stand up tersebut disampaikan lewat dialog. Lewat interaksi antar karakter. Pilihan penyuntingan pun amat membantu dalam memadukan dua fungsi tersebut terlihat luwes dan cair. Cesa David Lukmansyah, sebagai editor gambar, memakai teknik invisible editing, match cut dialogue atau L-cut. Dalam beberapa shot terasa pula ada pengaruh penyuntingan ala Edgar Wright yang memakai jump-cut (sebuah pilihan penyuntingan yang biasanya dipakai untuk menegaskan adegan aksi) dalam penekanan materi komedi. Meski, harus diakui pula, ada bagian penyuntingan yang tidak terasa mulus dalam melakukan transisi.

Ambil contoh saat adegan di mana Koh Afuk membagikan uang pesangon kepada karyawan tokonya. Cek Toko Sebelah menggunakan lagu soundtrack (yang di beberapa bagian terasa mendapat pengaruh dari John Mayer) dari The Overtunes dan GAC sebagai pemandu emosi. Dalam adegan itu, pemotongan adegan dan lagu menuju ke adegan berikut terasa terputus. Dan hal itu bisa saya temui di beberapa adegan lain. Tidak sampai mengganggu kontruksi cerita secara keseluruhan, tapi bagi saya, hal itu amat terasa.

Namun di sisi lain, Cek Toko Sebelah juga terasa memiliki efisiensi sebuah komedi situasi. Ada kejujuran dan kenyataan di kehidupan sehari-hari yang mengendap di lapisan bawah cerita. Hal itu hadir lewat cara dialog ditulis dan disampaikan, serta pembangunan atmosfer dalam dunia yang dibangun Ernest.  Saya akrab dengan komunitas Tionghoa dan bagaimana interaksi yang terjadi di toko kelontong yang mereka kelola. Jenis interaksi antara pegawai dan pemilik toko itu bisa saya kenali di film ini. Ada enerji keakraban yang masih terjaga oleh rasa saling hormat. Seperti layaknya sebuah keluarga yang sudah lama saling kenal.

Di sinilah salah satu keistimewaan Cek Toko Sebelah. Kisah warga keturunan Tionghoa teramat sering diabaikan di berbagai film Indonesia. Yang banyak saya temui dalam berbagai film, kehadiran karakter Tionghoa hanyalah sebagai comic relief yang mengeksploitasi stereotipe ras. Seolah eksistensi mereka dipinggirkan. Seperti halnya Ngenest, Cek Toko Sebelah tidak malu dalam mengungkap jati diri ke-Tionghoa-an, tetapi tidak menonjolkan diri. Malah merangkul. Ada semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam cara film ini menyampaikan kisahnya. Karena terlepas dari ras dan suku, kisah yang ada dalam film ini bisa terjadi ke semua orang.

Hal itu dikarenakan kerangka drama yang menjadi kekuatan utama filmnya. Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”. Istimewanya, film ini tidak menafikan pelabelan itu, tetapi malah kemudian mengarahkan resolusi konfliknya lewat jalur komunikasi terbuka. Dan untuk mencapai semua itu, penghadiran berbagai karakter yang dihidupkan oleh aktor drama berhasil menyampaikannya.

Bisa dipahami bila ada pandangan bahwa karakter Ayu milik Adinia Wirasti disia-siakan dalam film ini. Padahal tidak. Adinia Wirasti sebenarnya merupakan kunci sentral dalam mengarahkan win-win solusi, meski dalam penghadiran yang sangat subtil dan halus.

Adinia Wirasti, salah satu aktris berbakat dengan sensitifitas luar biasa, juga memiliki peran yang sama di AADC2 di mana karakternya menjadi penyeimbang dan sekaligus pemicu. Di Cek Toko Sebelah, karakternya ditampilkan sebagai sosok yang tenang dan dewasa. Tipikal karakter seorang sahabat yang selalu menjadi pilihan utama kita bila sedang ingin berbagi keluh kesah. Setiap line dialognya disampaikan dengan hati-hati dan diperkuat dengan bagaimana gesture tubuh dan muka, atau intonasi suaranya bekerja. Dia menjadi sandingan sepadan untuk karakter Koh Yohan. Lebih jauh, Ayu milik Adinia Wirasti berfungsi seperti oase.

Di sisi lain, karakter Koh Yohan milik Dion Wiyoko adalah penggambaran karakter anak tertua yang salah dimengerti. Dalam konteks ini, Dion Wiyoko bermain amat bagus. Saya bisa melihat bagaimana dia meredam antusiasme menggebu dari karakternya untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Interaksi antara Dion dan Chew Kin Wah sebagai ayahnya, terasa “menyakitkan”. Saat mereka bertukar dialog, ada ketegangan dalam keheningan yang suatu saat siap meledak. Saat momen itu tiba, kita bisa merasakan rasa sakit antar keduanya. Rasa sakit yang muncul akibat terlalu lama memendam gundah. Saat konklusi dan rekonsiliasi menemukan jalannya, saya juga sesak. Sesak akibat haru melihat keduanya bisa mengalahkan ego pribadi.

Naskah karya Ernest Prakasa (yang di credit disebutkan mendapat bantuan konsultasi dari Jenny Jusuf, Filosofi Kopi, Wonderful Life) seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya berhasil secara rapi menjaga pengembangan karakternya. Kita sebagai penonton diajak untuk mengupas, mengenali dan mengumpulkan kepingan informasi mengenai karakternya lewat dialog. Seperti halnya materi komedi stand up, Cek Toko Sebelah memang dipenuhi dengan dialog dan percakapan. Dan karena aspek itu pula, kemungkinan besar tidak dipahami oleh penonton asing atau yang tidak paham dengan dialog yang diucapkan, sehingga mengurangi sifat universalnya. Dalam satu momentum, saya melihat penghormatan terhadap gaya penuturan Quentin Tarantino dalam film ini.

Salah satu yang paling kentara adalah di adegan bermain kartu capsa yang melibatkan Koh Yohan dan tiga orang temannya: satu orang keturunan Tionghoa bertubuh kurus; satu karakter perwakilan dari bagian timur Indonesia; dan satu keturunan Tionghoa bertubuh gembul dan berambut mohawk bernama Aming yang selalu berteriak saat berkomunikasi dengan ibunya yang tak pernah diperlihatkan di layar. Seperti penggambaran hubungan antara karakter Howard Wolowitz dan ibunya di serial komedi The Big Bang Theory.

Dalam adegan itu, keempat karakter ini bermain kartu sembari mengobrol ngalor-ngidul tentang hal remeh temeh. Seperti obrolan mengenai perbedaan perspektif mereka tentang apakah tomat dan mentimun itu termasuk golongan buah atau sayur. Adegan ini berfungsi sebagai intermezzo, tetapi juga dipakai sebagai framing device untuk menjelaskan hubungan karakter Koh Yohan dengan keluarganya. Mengingatkan saya kepada dialog di film Tarantino, seperti percakapan mengenai lagu Like A Virgin milik Madonna di film Reservoir Dogs. Adegan main kartu ini sangatlah kocak dan jenaka, serta pengaturan mise-en-scene-nya bisa dieksekusi dengan sangat baik.

Cek Toko Sebelah sangat kentara memiliki peningkatan yang amat signifikan sebagai karya penyutradaraan feature kedua. Meski dalam beberapa momentum terlihat kekurangan stock shot (terasa dalam beberapa transisi yang sedikit kasar), Ernest terlihat semakin mampu dan percaya diri dalam mewujudkan visinya. Saya tidak berani berasumsi apakah film ini merupakan karya personal seorang Ernest, tetapi dari energi yang disampaikan jelas film ini adalah buah dari hasil observasi sebuah topik yang dekat dengan kehidupannya.

Yang saya apresiasi tinggi adalah bagaimana film ini menghadirkan konklusinya. Meski jalan menuju ke sana di third act memang komikal (biar bagaimanapun ini adalah film komedi), konklusi berhasil menghadirkan solusi terbaik bagi semua pihak yang memang menjadi elemen utama sebuah film hiburan untuk keluarga, namun bisa menghindari jebakan klise. Amat mengesankan bahwa film ini menjadikan tradisi ziarah makam sebagai sebuah medium napak tilas dan merenungi jati diri, untuk kemudian mencapai sebuah rekonsiliasi. Sebuah pilihan kreatif yang juga berhasil membuat saya terkesan di film komedi satire Finding Srimulat (2012).

Setiap keluarga memiliki masalah, tapi masalah tersebut akan bisa diselesaikan bila duduk dan mengobrol bersama. Menarik untuk melihat lagu tema serial televisi lawas “Keluarga Cemara” (yang menjadi salah satu gimmick komedi paling jenaka lewat karakter Astri Welas) sebagai semangat film ini. Bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga dan itu saya setujui.

Menggabungkan tawa dan drama, saya senang dengan keputusan saya untuk Cek Toko Sebelah.

(4/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Desember 28, 2016.

Running time: 104 minutes

A Starvision presentation

Executive producers: Riza Reza Servia, Mithu Nisar

Producers: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Line producer: Raymond Handaya

Director: Ernest Prakasa

Co-director: Adink Liwutang

Screenplay: Ernest Prakasa

Scenario consultant: Jenny Jusuf

Comedy consultant: Bene Dion Raja Gukguk

Story development: Meira Anastasia

Cinematography: Dicky R. Maland

Editor: Cesa David Lukmansyah

Sound designer: Khikmawat Santosa, Mohammad Ikhsan Sungkar

Art director: Windu Arifin

Sound recordist: Madunazka

OST by GAC, The Overtunes.

Casts: Dion Wiyoko, Chew Kin Wah, Ernest Prakasa, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti, Yeyen Lidya, Nino Fernandez, Kaesang Pangarep.

Advertisements

Review Rudy Habibie : Eksploitasi. Manipulasi. Hagiografi

“Film ini bukanlah biopic. Film ini adalah hagiografi.”




Dalam {rudy habibie} Habibie & Ainun 2, sang tokoh protagonis utama menjadikan trifecta : fakta-masalah-solusi, sebagai pedoman hidup dan sekaligus mantera yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meminjam metodologi Rudy (Habibie) tersebut, saya mencoba menguraikan kenapa film ini dijual seolah sebagai sekuel, meskipun secara de facto adalah prekuel.

Fakta : Habibie dan Ainun adalah sebuah film biografi tentang kisah romansa antara Prof. DR. (HC ). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie ( Presiden Indonesia ke-3) dan mendiang Hasri Ainun Habibie, yang berhasil membukukan rekor penjualan  4,3 juta tiket di tahun 2012.

Masalah : Kisah di filmnya sudah berakhir setelah wafatnya Ibu Ainun. Bagaimana kemudian membawa cerita yang super menginspirasi Pak Habibie ke sebuah kelanjutan yang akan terus meraup pundi-pundi rupiah?

Solusi : Bawa kisahnya kembali saat Habibie menjalankan studi di Aachen, Jerman. Beri sentuhan estetika overdosis dan “hiper-sentimentil” dan cari kisah cinta di masa itu, lalu jadikan tokohnya sebagai “cap dagang” dan kembangkan menjadi waralaba.

Hasil :  Lebih dari satu juta tiket dalam dua pekan dan salah satu film biografi tokoh terkenal paling menyiksa dalam sejarah sinema.

Ya, menonton {rudy habibie} Habibie & Ainun 2 merupakan sebuah siksaan sinematis. Dalam durasi 2 jam 20 menit, film ini terasa lebih panjang. Seperti perjuangan keras Habibie sewaktu menempuh pendidikan di Jerman, saya pun berjuang keras untuk menuntaskan film ini hingga mid-credit-scenes, mengatasi kantuk dan kebosanan, serta menahan diri untuk tidak mengaktifkan telpon genggam saya di bioskop demi “mencari bantuan”. Di sela-sela adegan film, saya menyempatkan diri untuk mengamati sekitar 30 penonton lainnya yang berada di satu studio dengan saya. Sebagian besar mereka sibuk mengobrol satu sama lain, sembari mata mereka melihat ke layar. Mereka tampak menikmati waktu mereka, setidaknya itu asumsi saya. Ketika adegan berakhir, mereka bergegas keluar teater tanpa terlihat peduli dengan mid-credit-scenes ala film superhero Marvel yang banyak digembar-gemborkan dalam promosi film ini. Ketika keluar bioskop, saya menyempatkan diri membuka Twitter dan banyak puja-puji ditujukan kepada film ini. Saya berasumsi beberapa di antaranya datang dari penonton yang berada dalam satu studio dengan saya. Saya pikir mereka perlu mendapatkan penghargaan khusus atas “kekuatan” dan “ketabahan” yang sudah mereka tunjukkan.

Film ini bukanlah biopic. Film ini adalah hagiografi.

Rudy Habibie disutradarai oleh Hanung Bramantyo, salah satu sineas Indonesia yang saya sukai beberapa karyanya . Dia adalah sutradara yang tidak takut akan kontroversi dalam bercerita. Tengok saja filmnya seperti Perempuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya (salah satu film favorit saya yang juga diperankan oleh Reza Rahadian, pemeran Habibie). Hanung juga sutradara yang menghasilkan Sang Pencerah dan Sukarno, dua film biografi tentang tokoh penting republik ini di mana Hanung tak takut menyisipkan perspektif pribadinya (yang lagi-lagi) mengundang pergunjingan dan penentangan. Tapi, Hanung juga tak berpantang dalam menerima pekerjaan untuk mengarahkan “film pesanan” yang mengharuskannya tunduk mutlak di bawah kontrol sang pemilik uang. Contohnya, Ayat-Ayat Cinta (juga produksi MD Entertainment sama seperti Rudy).

Seperti Ayat-Ayat Cinta,  Rudy Habibie adalah film pesanan sang pemilik modal (dibaca: produser) MD Entertainment. Di film ini Hanung terlihat tidak berdaya menentang kehendak sang produser yang berambisi untuk membawa kisah Habibie menjadi sebuah perpanjangan bisnis. Meski didukung oleh para pekerja film dan pemeran berbakat, film ini tidak bisa diselamatkan. Rudy memiliki segala ciri khas film-film produksi MD Entertainment : terlampau menjual sentimentil berlebihan, estetika overdosis dan dramaturgi ala Bollywood yang jadi acuan utama. Ironis, karena meski tak bisa dipungkiri film-film mainstream Bollywood menjual air mata dan kisah romansa sebagai komoditas utama kepada penonton, mereka masih membuat film-film biografi yang benar-benar menginspirasi, melahirkan diskusi dan mengundang decak kagum. Itu karena Bollywood masih menghormati kisah hidup tokoh yang diceritakan. Sementara Rudy Habibie hanya mengeksploitasi dan terkesan memanipulasi tokohnya demi,  penjualan tiket.

“Di Rudy Habibie, tidak ada dinamika dan resonansi antar karakter. Yang ada hanyalah hubungan satu arah, dari karakter pendukung ke Habibie milik Reza. Hubungan dari para pemuja terhadap yang dipuja.”



EKSPLOITASI DAN MANIPULASI

Hadirnya kata-kata “eksploitasi” dan “manipulasi” bukan tanpa alasan. Dua kata kerja yang saling terkait ini terlihat jelas menjadi motif utama film.  Eksploitasi adalah upaya pendayagunaan sebuah subjek secara berlebihan. Dalam {rudy habibie} subjeknya jelas adalah Habibie, sedangkan bentuk eksploitasinya adalah eksploitasi sifat baik (divine personality).

Sebagai subjek utama penceritaan, wajar bila karakter Habibie hadir dalam 100 persen porsi penceritaan. Baik ketika ia masih kanak-kanak atau ketika ia sudah berwujud Reza Rahadian. Namun, masalahnya muncul saat filmnya memutuskan untuk memuja-memuja segala sifat baik Rudy Habibie, tanpa sedikit pun ada penentangan di dalam ceritanya. Habibie kecil yang secara luar biasa menggantikan ayahnya (diperankan oleh salah satu aktor berbakat, Donny Damara) yang wafat saat sedang sujud dalam shalat. Adegan ini secara “menyakitkan” dikoreografi sedemikian rupa yang berujung pada Habibie, ibu dan adik-adiknya meratapi wafatnya sang ayah dengan diiringi score yang “berlimpah-ruah”. Score yang lebih menyerupai sebuah  simfoni orkestra untuk mengiringi perayaan kegemilangan, daripada soneta untuk meratapi rasa kehilangan.

Eksploitasi karakter Habibie dan segala sifat baiknya, terus berlanjut tanpa henti. Kisah Rudy Habibie berada di rentang waktu saat ia pertama kali menempuh studi di Jerman setelah lulus dari Technische Hogeschool Bandoeng (Institut Teknologi Bandung). Lazimnya sebuah film yang ceritanya berlatar bangku sekolah, naskah yang ditulis Gina S. Noer dan Hanung memang memberi karakter-karakter pendukung, teman-teman seperkuliahan Habibie. Mulai dari Lim Keng Kie (diperankan oleh Ernest Prakasa), seorang keturunan Tionghoa dan teman SMA Habibie yang berfungsi layaknya side-kick; Peter Manumasa (diperankan oleh Panji Pragiwaksono), rekan sependidikan yang kemudian ikut mendirikan Persatuan Pelajar Indonesia cabang Aachen; Poltak Hasibuan (diperankan oleh komedian, BorisBokir), yang tak lebih sebagai comic relief; Ayu (diperankan oleh Indah Permata Sari), gadis keturunan ningrat keraton Solo Mangkunegaran yang bahkan membawa abdi-dalem saat studi ke Jerman untuk melayaninya. Mereka pemegang paspor biru, sebagai penerima beasiswa pemerintah. Habibie pemegang paspor hijau, sebagai mahasiswa mandiri. Tapi, kapabilitas mereka hanya sepersekian dari Habibie yang digambarkan amat superior. Mereka menduduki peringkat ratusan dalam hasil ujian, Habibie berada di peringkat dua. Mereka masih bisa berfoya-foya dan berpesta pora, sementara Habibie digambarkan hidup prihatin dan nelangsa.

Ada pula karakter bernama Illona Lanovska (diperankan oleh Chelsea Islan), gadis cantik keturunan Jerman-Polandia yang memiliki kenangan emosional dengan Indonesia. Di film ini, karakter Illona berfungsi sebagai deutoragonist. Sama seperti karakter-karakter pendukung lainnya, Illona adalah karakter satu dimensi. Hingga akhir film, saya meragukan bahwa Illona benar-benar ada karena begitu tidak meyakinkan penggambarannya.

Sekelompok karakter pendukung tersebut dihadirkan sebagai karakter satu dimensi yang berfungsi sebagai foil yang dalam narasi fiksi bertugas menonjolkan kualitas karakter lainnya, dalam hal ini adalah Habibie. Habibie yang jenius, Habibie yang bisa menghapal pesanan menu di kafetaria dalam sekejap, Habibie yang tampan dan menawan, Habibie yang modis. Habibie yang serba unggul di aspek ini dan itu. Habibie yang amat superior dibanding yang lain.

Rudy sama sekali tidak tertarik untuk mengembangkan salah satu karakter pendukung di film ini sebagai penyeimbang atau membuat karakter utamanya lebih manusiawi. Penempatan karakter-karakter pendukung di sebuah penceritaan salah satu tujuannya untuk membuat kisahnya membumi. Agar ceritanya terhubung dengan penonton.  Akan tetapi di Rudy Habibie, berbagai karakter pendukung ini hanya seperti pemandu sorak yang bertugas mengelu-elukan kedigdayaan sang karakter utama. Habibie mesti berada di bawah lampu sorot, sementara karakter lainnya hanya menjadi latar belakang yang bising.

Yang menarik untuk dikupas adalah bagaimana para karakter pendukung di Rudy digambarkan sedikit pun tidak bisa menyanggah Habibie. Dalam suatu forum diskusi yang mestinya menjadi ajang unjuk demokrasi kaum intelektual muda Indonesia yang menempuh pendidikan di negara maju, para karakter utama ini manut saja dengan segala keputusan Rudi. Dalam sebuah film yang baik, penonton akan merasakan hadirnya suatu dinamika dan resonansi antar karakter yang tercipta dari hubungan emosional di setiap adegan, di setiap dialog, atau di setiap frame.  Dinamika dan resonansi hadir akibat hubungan timbal balik dua arah antar karakter yang akan melahirkan energi dan energi tersebut akan tersampaikan kepada penonton. Energi yang membuat penonton percaya pada kisah yang diceritakan.

Di Rudy Habibie, tidak ada dinamika dan resonansi antar karakter. Yang ada hanyalah hubungan satu arah, dari karakter pendukung ke Habibie milik Reza. Hubungan dari para pemuja terhadap yang dipuja. Kealpaan dinamika dan resonansi antar karakter di film ini makin diperparah lewat buruknya dialog dan bagaimana dialog tersebut disampaikan oleh para aktor. Ada kesenjangan teramat besar antara para aktor seperti Reza Rahadian dan Donny Damara dengan aktor-aktor pendukung lain. Para aktor pemeran teman-teman kuliah Habibie di Aachen, misalnya. Mereka mengucapkan dialog bak menghafalkannya, bukan melafaskannya. Mereka tidak meyakinkan sebagai kaum intelektual muda dan terlihat jelas tidak mampu mengimbangi permainan akting Reza Rahadian. Apakah ini disengaja untuk menunjukkan superioritas karakter Habibie? Entahlah. Yang jelas apa yang saya lihat di layar begitu sulit untuk dinikmati.

Di Rudy Habibie ada karakter penentang. Namun, karakter tersebut dihadirkan lewat logika bercerita opera sabun atau sinetron, sebuah metode karakterisasi primitif, di mana hanya ada dua tipe karakter  : karakter jahat atau karakter hitam dengan karakter baik atau putih.

Karakter Panca (diperankan oleh Cornelio Sunny) dan teman-temannya adalah antagonis tulen di film ini. Mulai dari pengenalan pertama mereka di adegan kafetaria, saat Habibie milik Reza diharuskan menghapal menu mereka, kita sudah tahu bahwa Panca dan teman-teman adalah penjahatnya. Mimik muka dan gestur tubuh mereka secara gamblang menunjukkannya. Mereka menindas, melakukan tindak kekerasan, bahkan menodongkan senjata api. Hadirnya karakter-karakter ini hanyalah menegaskan bahwa Habibie adalah karakter suci dan selalu benar. Siapa pun yang menentang adalah karakter jahat. Konsep menggelikan dan ketinggalan zaman untuk sebuah film yang “diinspirasi” dari kisah nyata. Lebih konyol lagi, saat di akhir film konfrontasi antara Habibie dan Panca diselesaikan lewat rekonsiliasi kompromis yang tak terjelaskan.

Saya curiga bahwa Panca dan kawan-kawannya adalah karakter komposit (composite character), karakter yang diciptakan berdasarkan karakter nyata. Nama karakter komposit diubah untuk menghindari polemik dan tuntutan atas akurasi. Karakter komposit ini pernah dihadirkan di Habibie & Ainun, seorang pengusaha (diperankan sendiri oleh Hanung Bramantyo dan diduga merupakan penggambaran dari pengusaha Setiawan Djodi) yang digambarkan berusaha menyuap Habibie.

Berjibunnya upaya eksploitasi sifat baik di Rudy, tentu akhirnya menimbulkan suatu upaya manipulasi  yang bertujuan untuk meyakinkan. Sayangnya, upaya manipulasi tersebut juga tidak berhasil. Seorang rekan film blogger, Daniel Irawan, secara jelas lewat akun Twitter-nya menunjuk adegan yang melibatkan “kondom” sebagai  sebuah kesalahan fatal. Faktanya, menurut Daniel, kondom baru hadir di Indonesia pada tahun 1970-an, bukan di era Habibie kecil di tahun 1940’an. Dalam hal ini, saya percaya kepada Daniel yang memang berprofesi sebagai dokter dan “kesalahan kondom” itu hanyalah salah satu contoh dari beberapa keteledoran upaya manipulasi di film ini.

Apakah salah bila sebuah film melakukan manipulasi dan rekayasa? Jelas tidak. Semua film melakukannya. Bahkan film biopic terbaik tentang tokoh politik seperti Ghandi, Lincoln, atau Nixon melakukannya. Semua film biopic tentu memiliki poetic license, serta membutuhkan “rekayasa” dan “manipulasi” demi kebutuhan dramatisasi.

Permasalahannya adalah film-film biopic terbaik itu melakukannya demi menghadirkan suatu kisah yang manusiawi dan karakter otentik. Yang terhubung secara emosional dengan penonton. Sementara, Rudy Habibie melakukannya atas landasan kepentingan dagang dan demi mengembangkan karakternya sebagai waralaba. Sama sekali jauh dari nilai keotentikan.

Penggunaan teknik manipulasi dan eksploitasi memang lazim digunakan sebuah cap dagang atau brand. Mereka melakukannya agar cap dagang yang mereka jual tampil sempurna dan memikat pembeli, melalui pencitraan dalam berbagai medium marketing. Dalam bukunya yang berjudul Who’s Pulling Your Strings (2004), psikolog  Harriet Braiker mengungkapkan salah satu unsur manipulasi psikologi yang kerap digunakan oleh perusahaan demi mengembangkan salah satu brand mereka adalah dengan berbagai puja-puji terhadapnya. Rudy Habibie memiliki unsur tersebut.

Apakah saya anti film yang dikembangkan menjadi waralaba?  Tidak. Saya menyukai Star Wars, film-film adaptasi Marvel, ataupun DC. Mereka berkembang menjadi sebuah waralaba besar dan (beberapa) memorabilia mereka juga tak luput saya beli. Tapi, harap diingat, mereka berdasarkan kisah fantasi fiktif. Bukan berdasarkan kisah nyata seorang tokoh (bahkan negarawan) yang termaktub dalam pembabakan sejarah.

Sebuah merek dagang bisa berkembang menjadi waralaba adalah karena citra merek dagang tersebut memiliki kelenturan atau fleksibilitas dalam  menyesuaikan diri . Untuk itu, sebuah merek dagang dirancang dan direkayasa secara khusus agar bisa menyesuaikan zaman, serta bila dalam film, kisahnya bisa dikondisikan. Berapa kali kita melihat kisah Spider-Man, Batman, Superman, X-Men, atau anggota Avengers difilmkan? Bagaimana film-film mereka bisa bertahan? Karena kisah mereka direkayasa, dimanipulasi, dan dikondisikan agar relevan.

Lalu apa jadinya bila tokoh politik, bahkan negarawan, dipaksa menjadi sebuah waralaba? Rudy Habibie adalah jawaban nyata untuk melihat bagaimana rusaknya satu kisah yang menjadi bagian sejarah diubah menjadi mesin uang dan mesin public relation.



‘WARALABA-ISASI” DAN DIPAKSA MENGINSPIRASI

Niatan dasar membawa kisah Rudy Habibie menjadi sebuah waralaba memang terpampang jelas. Segala sifat baik Habibie dikondisikan agar mencapai tujuannya untuk “menginspirasi”.

Anda pasti pernah menyaksikan sebuah video iklan dengan konsep penceritaan humanis yang (biasanya) mengharu biru? Thailand adalah jagonya dalam membuat iklan seperti ini. Rudy Habibie terasa seperti sekumpulan iklan-iklan “humanis” produksi Thailand tersebut. Dalam film ini, terlihat jelas pola penceritaannya. Habibie memiliki momentum kebahagiaan-Habibie menemui masalah-kilas balik ke masa kecil Habibie-Habibie bermunajat dan menunaikan ibadat-masalah memperoleh pemecahan. Begitu prosesnya berulang-ulang sepanjang durasi dan disajikan melalui konsep mosaic storytelling. Sebenarnya tak ada yang salah dengan metode mosaic storytelling ini. La Vie En Rose arahan Olivier Dahan pun melakukannya dan menjadi salah satu film biopic terbaik dalam sejarah sinema. Masalah dalam Rudy adalah bahwa setiap fragmen kehidupan disajikan secara centang perenang dan seringkali tak terasa terhubung secara emosional satu dengan lainnya, sehingga membuat film ini terasa amat melelahkan untuk ditonton. Efek lebih parah adalah saya tidak mempercayai kisah di Rudy Habibie, karena terkesan terlampau berlebihan dalam menyampaikan kisahnya.

Memang ironis, karena untuk film yang dikondisikan agar menginspirasi, Rudy Habibie jatuh menjadi membosankan dan melelahkan untuk ditonton. Selain karakter yang terlalu sempurna dan membuat penonton menjadi berjarak, kerja kamera dan penyuntingan juga sama sekali tak membantu.

Rudy Habibie banyak dihadirkan lewat medium shot to close up, sebuah metode penghadiran gambar yang (lagi-lagi) banyak dilakukan di sinetron. Metode ini nyaris memenuhi sepanjang durasi, nyaris tanpa disertai variasi lainnya, yang membuat menyaksikan film ini terasa melelahkan. Ada satu momentum yang penjadi penyegaran, di saat Habibie ingin pergi ke rumah Illona dan menaiki mobil sedan berwarna biru. Kamera mengikuti jalannya mobil melalui bird view angle, memperlihatkan mobil membelah jalanan yang diapit oleh barisan bangunan flat warna-warni. Sejenak mata dan pikiran menjadi segar.

Tapi, kepenatan kembali menghinggapi tatkala telinga kita dibombardir oleh score dan soundtrack yang menggelegar dan “overdosis”, serta penempatannya yang amat serampangan di sana-sini. Subtil, elegan, dan bersahaja memang jauh dari imej film-film MD Entertainment, tapi apa yang saya dapatkan di Rudy Habibie sudah sulit untuk ditolerir.

Apakah film ini tidak memiliki keunggulan?  Penampilan Reza Rahadian dan Donny Damara masih menyelamatkan film ini. Mereka berdua membuktikan diri sebagai dua aktor paling terkemuka yang selalu bisa tampil bagus di film apa pun. Reza masih melakukan pendekatan fisikal, belum ke tahap eksistensial, di film ini. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Saya pernah menyaksikan bagaimana Habibie asli menyampaikan kuliah dengan bersemangat dan antusias, yang hal tersebut disampaikan melalui sinar matanya. Reza mampu menyampaikan energi tersebut.

Ada satu momen di mana Reza sebagai Habibie menangis di kotak telepon umum, saat menelpon ibundanya (diperankan oleh Dian Nitami), di mana ia merasa telah menyia-nyiakan pengorbanan ibunya. Momen ini adalah yang terbaik yang bisa disampaikan oleh filmnya. Momen di mana Reza memperlihatkan kerapuhan, memperlihatkan sisi manusiawi. Sayangnya, momentum ini akhirnya dirusak oleh momen glorifikasi lainnya.

Ambisi “waralaba-isasi” memang yang merusak Rudy Habibie. Kisah dari seorang tokoh negarawan yang pernah memimpin negeri ini dan tercatat di sejarah sebagai orang dengan kegemilangan pikiran yang diakui dunia Barat. Tapi, sejarah tidak memberikan kedalaman psikologi dan perspektif tidaklah sama dengan kecerdasan pikiran. Untuk sebuah film tentang orang yang memiliki kecerdasan pikiran, Rudy Habibie penuh dengan kebanalan manipulasi tak termaafkan.

Sebenarnya masalah serupa hadir di Habibie & Ainun. Namun, film tersebut setidaknya masih konsisten untuk menyematkan “brand” kisah romansa mengharu-biru. Sementara, Rudy Habibie terlalu sibuk menyematkan berbagai atribut. Habibie yang jenius, Habibie yang jenaka, Habibie yang disukai gadis, Habibie yang patriotis, Habibie yang ini, Habibie yang itu.

Di akhir film, terdengar suara dari voice over Habibie yang berkata, “ Perjalanan ini masih panjang. Saya tidak akan menyerah..”

Tentu dengan pemampangan judul Habibie & Ainun 3 sebelum opening sequence, “waralaba” ini akan dipaksakan untuk berusia panjang. Apakah Anda mau menjadi bagiannya? Kalau saya jelas tidak.

Lalu bagaimana dengan fakta bahwa Rudy Habibie telah ditonton oleh jutaan orang, berdasarkan indikator penjualan tiket? Jawabannya : film laris tidaklah selalu sama dengan film bagus. Jika film laris adalah sinonim dari film “bagus”, maka film-film Adam Sandler, Michael Bay dan Rolland Emmerich sudah menjadi langganan penerima Best Picture Oscar.

(1/5)

Reviewed at Blok M Square XXI , July 2, 2016

Produced by : MD Entertainment

Executive Producer : Dhamoo Punjabi

Co-executive Producer : Sys NS

Producer : Manooj Punjabi

Associate Producer : Dian Sasmita Hendrayadi

Co Producer : Zairan Zain, Karan Mahtani

Directed by : Hanung Bramantyo

Screenplay : Gina S. Noer, Hanung Bramantyo

Based on book : Rudy by Gina S. Noer

Original Story : B.J Habibie

Cinematographer : Ipung Rachmat Syaiful

Music : Tya Subiyakto Satrio, Khrisna Purna

Editor : Wawan Wibowo

Sound Designer : Satrio Budiono

Casts : Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa, Indah Permatasari, Pandji Pragiwaksono, BorisBokir, Dian Nitami, Donny Damara, Millane Fernandez, Cornelio Sunny, Leroy Osmani, Timo Scheunemann, Verdi Solaiman, Julia Alexandra, Bagas Luhur Pribadi, GPH Paundrakarna,