Cek Toko Sebelah Review: Rekonsiliasi Lewat Komedi

Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”.




Ada satu momen di Cek Toko Sebelah, film feature kedua karya penyutradaraan komika Ernest Prakasa setelah Ngenest (2015), yang berhasil membuat hati saya tertambat. Satu momentum yang berhasil menggugah pikiran saya bahkan setelah filmnya usai.

Momentum ini ada saat Koh Afuk (diperankan dengan sangat sangat baik oleh aktor berkebangsaan Malaysia, Chew Kin Wah, My Stupid Boss) bersender di kolom tiang toko kelontong Jaya Baru miliknya yang kini terlihat kosong. Koh Afuk yang sudah lanjut usia, berperawakan kecil dan rambutnya dipenuhi uban itu terlihat mendorong punggungnya sendiri ke kolom tiang. Ia menunjukkan kerapuhan. Matanya terlihat nanar dan gundah. Air dan raut mukanya nampak putus asa. Dia lalu perlahan terduduk dan kemudian menangis dengan diiringi soundtrack bergaya balada.

Adegan itu hanya beberapa detik saja, namun merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa yang telah kita saksikan di layar sebelumnya. Saya patah hati melihat adegan itu yang kemudian membuat saya teringat dengan ayahanda saya. Saya bisa merasakan kekecewaan beliau saat saya tidak mengindahkan harapannya, lewat karakter Koh Afuk. Saya ingin memeluk dia, menenangkannya dan berkata, “ Ayah, maafkan saya.”

Cek Toko Sebelah dijual sebagai film komedi. Judulnya sendiri merujuk pada frase yang menyatakan ekspresi pemilik toko yang menganjurkan calon pembelinya untuk membandingkan harga atau kualitas barang ke toko milik pesaing. Film ini memang menawarkan rangkaian humor, tetapi humor tersebut dipadupadankan dengan drama yang berhasil dieksekusi dengan baik. Menggabungkan antara komedi dan drama di dalam sebuah cerita adalah sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi dan film ini adalah contoh yang memadukannya dengan manis. Saya tertawa karena mayoritas gurauan di dalamnya, tetapi elemen drama di film inilah yang membuat cita rasanya pekat dan melekat.

Buktinya? Adegan yang saya ilustrasikan di atas.

Bila Ngenest diceritakan dari sudut pandang karakter Ernest—yang memulai narasi dengan voice over-, Cek Toko Sebelah mengajak kita melakukan observasi tanpa terasa ingin mengarahkan pemahaman kita.  Observasi terhadap keluarga Koh Afuk, pria paruh baya keturunan Tionghoa yang memiliki dua anak pria dewasa.

Mereka adalah Yohan (kemudian dipanggil Koh Yohan, diperankan dengan penuh sensitivitas oleh Dion Wiyoko), si anak tertua. Yohan merupakan suami dari Ayu (diperankan dengan pas oleh Adinia Wirasti, AADC). Si anak kedua dan sekaligus si bungsu, Erwin Surya (diperankan oleh Ernest Prakasa), yang belum menikah dan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, (diperankan oleh Gisella Anastasia).

Meski dua bersaudara kandung, ada semacam perbedaan kontras antara Yohan dan Erwin yang membuat mereka terpolarisasi dan polarisasi karakter dalam penulisan cerita merupakan sumber konflik.

Yohan adalah pemuda yang memiliki darah seni dalam tubuhnya. Dia menyukai fotografi, bahkan menjalankan hobinya itu sebagai profesi. Itu sebabnya Yohan terlihat serasi dengan istrinya yang memiliki bakat dalam seni patiseri. Ayu bahkan berhasrat untuk membuka kedai kue sendiri.

Sementara Erwin adalah tipikal pebisnis dengan karir cemerlang. Dia baru saja mendapat kesempatan untuk dipromosikan sebagai pemimpin wilayah Asia Tenggara dari kantor tempat dia bekerja. Kekasih Erwin pun punya karir tak kalah cemerlang.

Naskah Cek Toko Sebelah konsisten dalam menjaga perwatakan karakternya. Yohan yang nyeni memakai busana kasual dan bersahaja, gaya bicaranya santai, berambut agak panjang dan memelihara jenggot. Erwin berpenampilan klimis dan rapi jali; gaya bicaranya teratur dan sering berdialog dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan kualitas cita rasa internesyenel; sikapnya menunjukkan keteraturan dan rasa percaya diri.

Yohan adalah seseorang yang mewakili imej bad boy, sedangkan Erwin adalah perwakilan seorang poster boy.

Hingga suatu ketika kakak beradik ini kembali bersinggungan saat ayah mereka tiba-tiba jatuh sakit. Koh Afuk kemudian meminta Erwin untuk membantunya mengelola usaha toko kelontong, sebuah permintaan yang kemudian membuat Yohan—sebagai anak tertua– merasa disepelekan. Alasan Koh Afuk sebenarnya logis, karena Yohan dilihatnya belum bisa untuk memegang tanggung jawab.

Tapi kamu ngurus diri kamu aja belum bener”, begitu kata Koh Afuk kepada anak sulungnya.

Erwin sendiri memiliki konflik batin mendengar permintaan sang ayah. Karirnya sedang menanjak dan dia tak ingin melewatkan kesempatan yang dia peroleh. Lewat sebuah diskusi, Erwin lalu setuju membantu ayahnya mengelola toko, hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Di sinilah konflik sesungguhnya terjadi. Konflik yang melibatkan ego ayah dan anak; kejadian masa lalu; usaha seorang pengusaha pengembang real estate (diperankan secara komikal oleh Tora Sudiro) untuk membeli kawasan tempat toko Jaya Baru itu berada; dan, seperti judulnya, (sedikit) konflik dengan pemilik toko sebelah.

Pondasi utama Cek Toko Sebelah sebenarnya adalah drama keluarga. Lawakan diberikan di sela-sela pembangunan dramatisasi konflik antara karakter utama, lewat berbagai celotehan, pelesetan dan dialog jenaka yang dilontarkan barisan para pemeran pendukung yang memang komedian. Mayoritas humor dalam film ini adalah bergaya observasi, jenis komedi yang berdasarkan kejadian sehari-hari atau fenomena budaya populer yang sedang atau sempat terjadi.

Pilihan kreatif menjadikan fungsi para karakter di film ini pun terbagi dua: 1) para aktor utama untuk menjaga intensitas drama; 2) para pemeran pembantu dan figuran berperan untuk menghadirkan keriaan. Pola seperti ini bukan hal baru sebenarnya. Kelompok lawak legendaris Srimulat pun menerapkan pemetaan karakterisasi yang sama. Karakter seperti mendiang Ibu Jujuk dan Tarsan berfungsi menjaga tensi drama sehingga membuat mereka terlihat lebih serius, sementara para karakter pembantunya seperti Tessy atau Gogon (yang biasanya berperan sebagai pembantu, jongos, tetangga, teman atau antagonis) bertugas menghadirkan gelak tawa di mana karakter mereka memiliki penampilan fisik yang eksentrik atau nyeleneh. Sama seperti lakon yang dipentaskan Srimulat, para karakter penghadir tawa di Cek Toko Sebelah juga nyentrik. Ambil contoh saja karakter asisten toko yang tak bisa menyebut huruf ‘r’; si pemikir (oleh komika Dodit Mulyanto); si kemayu (diwakili oleh karakter bernama Karyo); hingga ke karakter Astri Welas (scene stealer di sini), bos dengan tata rias wajah menyolok dan kekontrasan karakterisasi. Sama pula seperti Srimulat, film ini juga memiliki karakter perempuan cantik dan seksi sebagai kembang gula.

Pilihan untuk “memisahkan” fungsi aktor-aktornya pula yang membuat Cek Toko Sebelah terlihat memiliki struktur seperti rangkaian fragmen sketsa humor. Hal tersebut adalah efek dari usaha pemberian “panggung” kepada para komika sebagai pemeran pembantu untuk melontarkan banyolan mereka dalam mekanisme penyampaian seorang stand up comedian. Hal itu sangat terasa, karena meski ada beberapa figur yang tidak saya kenali (seperti pemeran karakter dokter, misalnya), guyonan mereka khas. Ada setup, punchline dan tag.

Akan tetapi Cek Toko Sebelah relatif mampu menjaga keseimbangan antara dua fungsi tersebut hingga terasa melebur dan menyatu, karena kebanyakan materi lawakan ala stand up tersebut disampaikan lewat dialog. Lewat interaksi antar karakter. Pilihan penyuntingan pun amat membantu dalam memadukan dua fungsi tersebut terlihat luwes dan cair. Cesa David Lukmansyah, sebagai editor gambar, memakai teknik invisible editing, match cut dialogue atau L-cut. Dalam beberapa shot terasa pula ada pengaruh penyuntingan ala Edgar Wright yang memakai jump-cut (sebuah pilihan penyuntingan yang biasanya dipakai untuk menegaskan adegan aksi) dalam penekanan materi komedi. Meski, harus diakui pula, ada bagian penyuntingan yang tidak terasa mulus dalam melakukan transisi.

Ambil contoh saat adegan di mana Koh Afuk membagikan uang pesangon kepada karyawan tokonya. Cek Toko Sebelah menggunakan lagu soundtrack (yang di beberapa bagian terasa mendapat pengaruh dari John Mayer) dari The Overtunes dan GAC sebagai pemandu emosi. Dalam adegan itu, pemotongan adegan dan lagu menuju ke adegan berikut terasa terputus. Dan hal itu bisa saya temui di beberapa adegan lain. Tidak sampai mengganggu kontruksi cerita secara keseluruhan, tapi bagi saya, hal itu amat terasa.

Namun di sisi lain, Cek Toko Sebelah juga terasa memiliki efisiensi sebuah komedi situasi. Ada kejujuran dan kenyataan di kehidupan sehari-hari yang mengendap di lapisan bawah cerita. Hal itu hadir lewat cara dialog ditulis dan disampaikan, serta pembangunan atmosfer dalam dunia yang dibangun Ernest.  Saya akrab dengan komunitas Tionghoa dan bagaimana interaksi yang terjadi di toko kelontong yang mereka kelola. Jenis interaksi antara pegawai dan pemilik toko itu bisa saya kenali di film ini. Ada enerji keakraban yang masih terjaga oleh rasa saling hormat. Seperti layaknya sebuah keluarga yang sudah lama saling kenal.

Di sinilah salah satu keistimewaan Cek Toko Sebelah. Kisah warga keturunan Tionghoa teramat sering diabaikan di berbagai film Indonesia. Yang banyak saya temui dalam berbagai film, kehadiran karakter Tionghoa hanyalah sebagai comic relief yang mengeksploitasi stereotipe ras. Seolah eksistensi mereka dipinggirkan. Seperti halnya Ngenest, Cek Toko Sebelah tidak malu dalam mengungkap jati diri ke-Tionghoa-an, tetapi tidak menonjolkan diri. Malah merangkul. Ada semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam cara film ini menyampaikan kisahnya. Karena terlepas dari ras dan suku, kisah yang ada dalam film ini bisa terjadi ke semua orang.

Hal itu dikarenakan kerangka drama yang menjadi kekuatan utama filmnya. Cek Toko Sebelah adalah kisah tentang menghormati pilihan hidup dan memiliki sebuah gagasan kuat mengenai bagaimana sebuah potensi konflik horisontal dan internal bisa dihindari bila kita mau saling terbuka, membuka ruang dialog dan melepaskan egoisme pribadi. Gagasan tersebut disampaikan lewat bingkai sebuah keluarga Tionghoa yang memiliki kepala keluarga dengan pandangan hidup kolot yang dalam kehidupan sehari-hari terlanjur lekat dengan label, “setiap Tionghoa pastilah seorang pedagang”. Istimewanya, film ini tidak menafikan pelabelan itu, tetapi malah kemudian mengarahkan resolusi konfliknya lewat jalur komunikasi terbuka. Dan untuk mencapai semua itu, penghadiran berbagai karakter yang dihidupkan oleh aktor drama berhasil menyampaikannya.

Bisa dipahami bila ada pandangan bahwa karakter Ayu milik Adinia Wirasti disia-siakan dalam film ini. Padahal tidak. Adinia Wirasti sebenarnya merupakan kunci sentral dalam mengarahkan win-win solusi, meski dalam penghadiran yang sangat subtil dan halus.

Adinia Wirasti, salah satu aktris berbakat dengan sensitifitas luar biasa, juga memiliki peran yang sama di AADC2 di mana karakternya menjadi penyeimbang dan sekaligus pemicu. Di Cek Toko Sebelah, karakternya ditampilkan sebagai sosok yang tenang dan dewasa. Tipikal karakter seorang sahabat yang selalu menjadi pilihan utama kita bila sedang ingin berbagi keluh kesah. Setiap line dialognya disampaikan dengan hati-hati dan diperkuat dengan bagaimana gesture tubuh dan muka, atau intonasi suaranya bekerja. Dia menjadi sandingan sepadan untuk karakter Koh Yohan. Lebih jauh, Ayu milik Adinia Wirasti berfungsi seperti oase.

Di sisi lain, karakter Koh Yohan milik Dion Wiyoko adalah penggambaran karakter anak tertua yang salah dimengerti. Dalam konteks ini, Dion Wiyoko bermain amat bagus. Saya bisa melihat bagaimana dia meredam antusiasme menggebu dari karakternya untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Interaksi antara Dion dan Chew Kin Wah sebagai ayahnya, terasa “menyakitkan”. Saat mereka bertukar dialog, ada ketegangan dalam keheningan yang suatu saat siap meledak. Saat momen itu tiba, kita bisa merasakan rasa sakit antar keduanya. Rasa sakit yang muncul akibat terlalu lama memendam gundah. Saat konklusi dan rekonsiliasi menemukan jalannya, saya juga sesak. Sesak akibat haru melihat keduanya bisa mengalahkan ego pribadi.

Naskah karya Ernest Prakasa (yang di credit disebutkan mendapat bantuan konsultasi dari Jenny Jusuf, Filosofi Kopi, Wonderful Life) seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya berhasil secara rapi menjaga pengembangan karakternya. Kita sebagai penonton diajak untuk mengupas, mengenali dan mengumpulkan kepingan informasi mengenai karakternya lewat dialog. Seperti halnya materi komedi stand up, Cek Toko Sebelah memang dipenuhi dengan dialog dan percakapan. Dan karena aspek itu pula, kemungkinan besar tidak dipahami oleh penonton asing atau yang tidak paham dengan dialog yang diucapkan, sehingga mengurangi sifat universalnya. Dalam satu momentum, saya melihat penghormatan terhadap gaya penuturan Quentin Tarantino dalam film ini.

Salah satu yang paling kentara adalah di adegan bermain kartu capsa yang melibatkan Koh Yohan dan tiga orang temannya: satu orang keturunan Tionghoa bertubuh kurus; satu karakter perwakilan dari bagian timur Indonesia; dan satu keturunan Tionghoa bertubuh gembul dan berambut mohawk bernama Aming yang selalu berteriak saat berkomunikasi dengan ibunya yang tak pernah diperlihatkan di layar. Seperti penggambaran hubungan antara karakter Howard Wolowitz dan ibunya di serial komedi The Big Bang Theory.

Dalam adegan itu, keempat karakter ini bermain kartu sembari mengobrol ngalor-ngidul tentang hal remeh temeh. Seperti obrolan mengenai perbedaan perspektif mereka tentang apakah tomat dan mentimun itu termasuk golongan buah atau sayur. Adegan ini berfungsi sebagai intermezzo, tetapi juga dipakai sebagai framing device untuk menjelaskan hubungan karakter Koh Yohan dengan keluarganya. Mengingatkan saya kepada dialog di film Tarantino, seperti percakapan mengenai lagu Like A Virgin milik Madonna di film Reservoir Dogs. Adegan main kartu ini sangatlah kocak dan jenaka, serta pengaturan mise-en-scene-nya bisa dieksekusi dengan sangat baik.

Cek Toko Sebelah sangat kentara memiliki peningkatan yang amat signifikan sebagai karya penyutradaraan feature kedua. Meski dalam beberapa momentum terlihat kekurangan stock shot (terasa dalam beberapa transisi yang sedikit kasar), Ernest terlihat semakin mampu dan percaya diri dalam mewujudkan visinya. Saya tidak berani berasumsi apakah film ini merupakan karya personal seorang Ernest, tetapi dari energi yang disampaikan jelas film ini adalah buah dari hasil observasi sebuah topik yang dekat dengan kehidupannya.

Yang saya apresiasi tinggi adalah bagaimana film ini menghadirkan konklusinya. Meski jalan menuju ke sana di third act memang komikal (biar bagaimanapun ini adalah film komedi), konklusi berhasil menghadirkan solusi terbaik bagi semua pihak yang memang menjadi elemen utama sebuah film hiburan untuk keluarga, namun bisa menghindari jebakan klise. Amat mengesankan bahwa film ini menjadikan tradisi ziarah makam sebagai sebuah medium napak tilas dan merenungi jati diri, untuk kemudian mencapai sebuah rekonsiliasi. Sebuah pilihan kreatif yang juga berhasil membuat saya terkesan di film komedi satire Finding Srimulat (2012).

Setiap keluarga memiliki masalah, tapi masalah tersebut akan bisa diselesaikan bila duduk dan mengobrol bersama. Menarik untuk melihat lagu tema serial televisi lawas “Keluarga Cemara” (yang menjadi salah satu gimmick komedi paling jenaka lewat karakter Astri Welas) sebagai semangat film ini. Bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga dan itu saya setujui.

Menggabungkan tawa dan drama, saya senang dengan keputusan saya untuk Cek Toko Sebelah.

(4/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Desember 28, 2016.

Running time: 104 minutes

A Starvision presentation

Executive producers: Riza Reza Servia, Mithu Nisar

Producers: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Line producer: Raymond Handaya

Director: Ernest Prakasa

Co-director: Adink Liwutang

Screenplay: Ernest Prakasa

Scenario consultant: Jenny Jusuf

Comedy consultant: Bene Dion Raja Gukguk

Story development: Meira Anastasia

Cinematography: Dicky R. Maland

Editor: Cesa David Lukmansyah

Sound designer: Khikmawat Santosa, Mohammad Ikhsan Sungkar

Art director: Windu Arifin

Sound recordist: Madunazka

OST by GAC, The Overtunes.

Casts: Dion Wiyoko, Chew Kin Wah, Ernest Prakasa, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti, Yeyen Lidya, Nino Fernandez, Kaesang Pangarep.

Hangout Review : Ngerepiew Sambil Nge-Hangout

“Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.”




Hari Kamis, tanggal 22 Desember 2016 pukul 19:00 BBWI (bagian barat waktu Indonesia).

Di studio 5 bioskop Lotte Avenue di kawasan dagang padat karya dan padat penghuninya (kayak lirik lagu Gang Kelinci-nya Lilis Suryani)  Ciputra Kuningan, Jakarta Selatan, penonton memenuhi jam keempat penayangan Hangout, film Indonesia terbaru dari Raditya Dika, seorang pemuda dengan jumlah followers Twitter hingga 14,7 juta jiwa (atau akun lebih tepatnya) yang punya seabrek profesi. Mulai dari penulis, komika, pembicara, bintang iklan, bintang film, hingga sutradara.

Penonton Hangout penuh hingga ke baris terdepan studio yang berkapasitas kira-kira 300-an tempat duduk itu alias sold-out. Memang di hari pertama penayangan film, kabar bahwa tiket film ini ludes terjual di mana-mana jadi bahan gosipan utama di berbagai grup, mulai grup watsapp, telegram (aplikasi ya! Bukan layanan pesan singkat tertulis zaman baheula dari Kantor Pos Indonesia), hingga ke grup arisan ibu-ibu (yang ini lebay, sih).

Penonton Hangout di jaringan bioskop ternama di Lotte Avenue itu terlihat dari berbagai demografi. Mulai dari ABG, pekerja kantoran, bapak-bapak yang sudah mulai ubanan, hingga ke ibu-ibu. Salah dua dari penonton tersebut adalah dua blogger film Indonesia yang punya ambisi nge-gantiin almarhum Roger Ebert (ambisi yang kelewat muluk, jujur aja): Picture Play (akun Twitter-nya @PICture_Play), berusia 20’an ; dan Vincent Jose (akun Twitter-nya @VincentJose), juga berusia 20’an, asal Surabaya dan baru saja menjadi bagian program urbanisasi ke Jakarta. Harap dimaklumi bahwa sebenarnya memang nggak penting-penting amat mencantumkan akun Twitter mereka. Pencantuman itu cuma bermaksud agar yang ngebaca tulisan ini segera nge-follow mereka (Oke?Sip!).

Dua blogger yang baru merintis karir ini duduk samping-sampingan di deretan B. Mereka nggak cuma nonton, tapi juga ngamatin reaksi penonton yang tertawa dan tampaknya puas ngikuti jalan cerita film. Si Picture Play malah sambil fokus nonton, sambil sesekali nyatet adegan  atau dialog yang menurutnya penting untuk dicatet di notebook-nya. Entah kurang kerjaan, kelebihan energi, atau emang punya ambisi terpendam jadi juru tulis di kantor kecamatan. Bayangin aja nulis di keadaan bioskop yang gelap-gelapan jadinya seperti siluman (ngutip lirik lagu dangdutnya Rita Sugiarto). Sementara si Vincent Jose matanya fokus aja ke layar bioskop. Sesekali dua blogger ini ngobrol bisik-bisikan ngomentari film, sementara penonton lain ketawa-ketiwi sambil sesekali ngemil. Dua blogger ini emang lebih milih ngobrol bisik-bisik dan nggak ngemil. Bukan karena mereka kaum intelektual, tapi lebih karena lagi bokek tanggal tua.

Singkat cerita, sampai filmnya habis, reaksi penonton tetap heboh. Pas filmnya kelar, penonton pada keluar dan lampu sudah dihidupkan, dua blogger film kita ini saling ngeliat satu sama lain penuh arti. Reaksi mereka seperti kaget campur senang.

Reaksi mereka kurang lebih sama.

Nggak nyangka, ya? Filmnya sesuatu banget, “ batin mereka.

—- 10 Menit Kemudian — (balik ke mode penceritaan orang pertama)

Gue ama ViJo lalu nongkrong di sebuah pusat pecel lele di daerah Kuningan yang gue tau emang enak sambelnya, karena si ViJo udah laper katanya.

Sambil di jalan menuju ke sana dan kemudian sambil mengganyang pecel ayam, kita berdua membahas soal Hangout dan intinya kita bedua setuju kalo film itu spesial. Sespesial nasi lesehan Ibu Gendut di pelataran Blok M Square.

Betewe, gue jelasin dulu kenapa gaya bahasa review blog ini berubah. Bukan karena pengen keliatan gaul atau sok keren (padahal emang sebenarnya pengen banget. Sumpah!), tapi lebih karena menurut gue gaya bahasa ini yang paling mewakili spirit filmnya, tanpa kemudian kudu membocorkan plot twist atau elemen kejut (element of surprise) di film ini. Selain itu pengen penyegeran aja sekali-kali pake bahasa non-formal.

Gue jujur aja nih, ngaku kalo awalnya gue underestimate sama Hangout. Soalnya gegara gaya penceritaan Raditya Dika yang sudah kebentuk banget, hingga pada satu poin, ceritanya udah bisa ketebak dan bikin jenuh *langsung-nyanyi-lagunya Rio Febrian (kalo istilah Enggresnya itu udah “square”). Bahkan kalo gue diminta ngebedain film-film Dika sebelum ini tanpa nge-Google, gue akan kesulitan bedain judul-judulnya. Terakhir kayak yang gue liat di filmnya Dika yang juga rilis tahun ini pas libur Lebaran yang judulnya “Koala Kumal”. Itu teteup film yang fun kok (senggaknya untuk fans dia), tapi udah “Raditya Dika banget nget nget”. Kisah semi-otobiografi dan lawakan yang ngolok-ngolok diri sendiri (self-deprecating jokes), tentang kejombloan, yang berakhir pada self-recovery. Nilai tata produksi (production value)-nya pun masih kayak FTV plus plus, yang salah satu ciri khasnya adalah kualitas antara para pemeran utama ama pendukung dan ekstranya jomplang banget yang kemudian gak naikin nilai filmnya.

Gue tertarik nonton Hangout abis ngeliat trailer pertamanya, yang seolah-olah ngejual film ini sebagai thrillerwhodunit  (atau kalau diibaratkan lagu itu kayak lagu jadul “Ai..Ai.. Siapa dia (pelakunya)?”) ala-ala kisah novel klasik misteri karangan Agatha Christie yang judulnya And Then There Were None yang sempat diadaptasi ke film jadul berjudul sama keluaran tahun 1945 dan film yang judulnya Ten Little Indians (1965). Masih banyak lagi sih adaptasinya, lo bisa Googling aja. Trus adegan di meja makannya juga ngingetin gue ke adegan di meja makan di film The Last Supper (1996) yang salah satu bintangnya itu Cameron Diaz.

Jeleknya kalo udah punya gambaran referensi cerita film pas mau nonton sebuah film, kita-kita biasanya udah punya patokan. Udah punya standar. Istilah kerennya “sudah punya ekspektasi”. Kalo pas nonton filmnya gak sesuai “standar” itu, kita bisa kecewa. Bisa misuh-misuh, bisa bad mood atau bahkan ada yang putusan ama yayangnya (ini lebay, sih). Tapi, beneran emang gak enak kalo nonton film yang kagak sesuai harapan di bioskop. Tiketnya udah mahal, belum lagi biaya jajannya (curcol).

Nah, yang bikin punya pengharapan ke Hangout itu berbahaya karena trailer-nya udah nge-set tone (apa ya terjemahan enaknya untuk tone?) yang berbeda dari kebiasaan film-filmnya Dika sebelumnya. Bayangin thriller cari-carian siapa pelakunya dicampur ama komedi gaya Dika. Kebayang, gak? Gak kan? Sama kok kayak gue awalnya.

Tapi, untungnya gue selaw pas nonton ini. Pikiran gue coba gue jembrengin segede mungkin, kayak buka jendela lebar-lebar biar udara bebas keluar masuk. Gue gak mau pikiran gue fokus ama gaya Agatha Christie itu.

Hasilnya? Gue suka filmnya.

Jadi inti cerita Hangout itu tentang sembilan artis beken yang nerima undangan misterius dari orang yang namanya Tonni P. Sacalu. Kayak judulnya, kesembilan orang ini diajak untuk hangout (ngumpul-ngumpul di luar sampe nge-hang). Tadinya gue pikir undangan pesta resepsi nikah, karena desainnya pake font berukir-ukir warna emas gitu. Ternyata undangan itu ngajak sembilan artis beken untuk ke sebuah pulau.

Nah, sembilan artis itu adalah: Raditya Dika, komika plus aktor segala bisa yang lagi kesulitan duit; terus ada Soleh Solihun, komika dan bintang film yang sekarang mandu acara tipi yang menurut dia nggak dia banget; terus ada Titi Kamal, ya Titi Kamal dari AADC itu; trus ada Gading Marten; Dinda Kanya Dewi, yang joroknya ampun-ampunan; Surya Saputra, yang kayaknya masih kebawa perannya di film Arisan; Mathias Muchus, aktor kawakan senior yang di sini kocak bingit; komika narsis yang kerjaannya bikin vlog dan punya logat Jawa medok, Bayu Skak; ampe yang terakhir dan paling imut, Prilly Latuconsina, artes mantan pemain sinetron hitzzzzz (z-nya musti banyak emang) Ganteng Ganteng Srilangka, eh Serigala.

Kesembilan artis ini dijanjiin bakal dapet duit gede, bahkan udah ada uang panjer segala, buat dateng ke sebuah pulau terpencil yang cuma bisa dijangkau dengan kapal pesiar yang jadwal singgahnya cuman 3 hari sekali. Mereka sih awalnya mikir kalo mereka bakal dikasih proyek film, meski ada yang ragu juga kok mau nyari pemain aja ribet kayak gini. Tapi, Om Muchus bilang kalo pas zaman dia dulu, juga ada produser yang modelnya kayak gini, karena emang kalo orang super tajir biasanya kelakuannya makin nyentrik. Jadi ilanglah keragu-raguan mereka.

Tapi, pas nyampe pulau, mereka kaget karena kagak disambut oleh siapapun. Pulaunya sepi pake banget kagak ada orang. Lebih kaget lagi (ini udah ada di trailer jadi kagak spoiler lagi), pas ada yang ninggal. Terus abis satu ninggal, ada yang lain lagi. Nah, kesembilan artes ini kemudian mesti nyari tau siapa sebenarnya dalang di balik pengundangan ini dan siapa sih yang ngundang itu?

Kesannya serius dan serem, kan? Padahal kagak, sumpe! Film ini ringan dan tanpa beban. Kalo lo emang penggemar Dika, masih masuk ke film ini karena emang masih Dika banget. Yang bikin gue suka, film ini  fun tapi sekaligus nunjukin kalo Raditya Dika itu cinta ama medium storytelling dan bisa masukin berbagai referensi ke dalam becandaannya dia, tanpa keliatan pengen dianggap pinter. Dika masih pake gaya becandaannya dia (karena kayak biasanya Dika ya jadi “Dika” sendiri di film ini); mukanya yang minim ekspresi; sampe kerelaan dia jadi bahan olok-olok.

Ada tuh satu dialog pas Surya Saputra ngecengin Dika ke Om Muchus tentang “akting Dika yang lempeng-lempeng aja mulu dari film ke film”. Jujur aja, apa yang diucapin ama Surya ke Dika itu kayak ngewakili (yang gue yakin banyak banget) orang-orang yang punya pikiran kayak dia. Gue yakin banyak penonton yang punya pikiran kritis juga mikir kalo akting Dika itu gitu-gitu aja.

Tapi, gue mencoba berpikiran “fair” (bukan Jakarta Fair apalagi kosmetik yang pake tagline “fair and lovely”). Cara Raditya Dika berakting di film memang merupakan cara dia untuk ngebangun imejnya sebagai brand atau merek. Sedari awal, imej Dika memang dibangun sebagai (menurut ANAlisis sayaaa kalo kata sentilan-sentilun) pemuda yang galau, suka mengamati, punya pikiran kritis, agak-agak laid-back, nggak sungkan mengolok diri dewe, tapi pas ngomong orang-orang cenderung akan tertarik karena ada semacam enerji magnetis (alah bahasa gue). Gue punya teman kayak Dika pas SMA, yang gak jadi pusat perhatian (malah cenderung jadi outsider kalo lagi ngumpul), tapi ada daya tarik tersendiri dari dia. Kalo ngebanyol kadang jayus, tapi ekspresi wajahnya yang konyol-konyol lugu tetep paling nggak bikin orang senyum. Tipikal orang yang memang susah buat orang nganggap dia serius, tapi sebenarnya dia serius. Nah, Dika tuh menurut gue tipikal orang kayak gitu dan dia gak tertarik buat ngubah imejnya, meskipun pas tampil di film. Kalo menurut gue, Dika itu bukan aktor profesional karena basically dia jadi dirinya sendiri di film. Meskipun saya gak yakin apakah itu benar-benar dirinya yang di film atau cuma “meminjam” namanya aja sebagai personifikasi, sedangkan karakteristiknya disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Jadi wajar kalo kita (mungkin) gak akan nemuin Dika berakting ala “method actor” yang sampai mengubah gaya bicara atau jadi karakter di luar kebiasaannya.

Nah, apa yang diucapin Surya Saputra ke Dika itu ngingetin gue ke film This Is The Endnya Seth Rogen yang keluar tahun 2013. Di salah satu adegan awal film itu Seth Rogen, yang sedang ngejemput sahabatnya Jay Baruchel di airport Los Angeles, dihadang oleh seorang wartawan video yang nanyain dia tentang akting dan karakter Seth yang juga sama di setiap film. Wartawan video itu bahkan meminta Seth agar dia ngepraktekin cara ketawa dia yang khas banget itu. Gue ngeliat Dika itu (di film Hangout) kayak Seth Rogen, “aktor” yang sudah punya ciri khas yang gak mau dia ubah. Mereka juga sama-sama sering bikin film atau nulis naskah based on pengalaman dia pribadi, kan? Sama kayak Woody Allen juga.

Ngomongin This Is The End, Hangout itu sebenarnya make formula film yang ditulis dan disutradarai oleh Seth Rogen ama Evan Goldberg itu. Sama-sama make berbagai artis terkenal yang make nama mereka sendiri (bukan nama karakter hasil rekaan), sama-sama film komedi, sama-sama banyak inside jokes di kalangan selebritis, dan sama-sama banyak referensi ke film-film yang jadi bagian dari pop-culture.

Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film, biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.

Hangout punya lebih dari dua elemen yang menunjang dia sebagai meta film. Kayak di adegan pembuka, saat Raditya Dika digambarin sebagai bintang film eksyen yang sedang syuting sebuah proyek yang terkendala masalah finansial atau pendanaan. Di tengah-tengah istirahat syuting (shooting break), Dika juga dapat pertanyaan dari wartawan soal kesulitan finansial yang menimpa filmnya.

Juga ada dialog antara Dika dan Om Mathias Muchus di kamar saat mereka sudah sampai di villa tempat tujuan mereka. Om Muchus yang coba jadi penengah keles antara Dika dan Soleh Solihun gara-gara kasting sebuah proyek film, ngucapin satu kalimat yang bagus banget, “ Film itu masalah jodoh. Film yang cari kita, bukan kita yang cari film”.

Karakter Dinda Kanya Dewi (yang di film ini diliatin sebagai cewek yang jorook banget), juga ngucapin dialog yang sebenarnya merupakan sindiran atau curhat dari para bintang film/sinetron yang sering dianggap benar-benar mewakili karakter mereka di layar oleh penonton. Pas Gading Marten ngecengin dia yang aslinya gak kayak yang terlihat di film atau sinetron,  Dinda Kanya bilang gini, “ ..Di depan kamera itu, kita penuh kepalsuan. Kita memberikan citra yang publik inginkan.” Menurut gue dialog itu cerdas. Bukan karena kata-katanya yang puitis atau dramatis atau apa, tapi dialog itu sesuai konteks filmnya.

Masih kurang bukti kalo Hangout ini film meta? Karakter Bayu Skak yang digambarin sebagai orang yang demen banget dan keranjingan ngerekam dirinya sendiri untuk dokumentasi vlog-nya. Di sini, Bayu Skak sering berdialog dengan audiensnya melalui kamera smartphone-nya, seolah-olah dia ngajak ngobrol penonton. Atau istilahnya breaking the fourth wall. Nah, salah satu ciri meta film itu adalah ada momen yang memungkinkan karakternya untuk break the fourth wall. Di This Is The End pun ada adegan kayak yang Bayu Skak lakukan. Saat James Franco dan kawan-kawan merekam mereka sendiri lewat camera video, tentang karakter Danny McBride yang ngabisin makanan mereka. Dan sebenarnya masih banyak lagi elemen-elemen yang mendukung Hangout sebagai meta film yang akan bikin jari jemari gue kena encok kalo dituruti.

Kalo yang gue baca dari komentar-komentar orang yang udah nonton Hangout (entah itu dari Twitter atau grup-grup percakapan di hape), mereka kebanyakan sudah terperangkap ama apa yang ditampilkan di trailer, kalo film ini akan menyuguhkan cerita dalam treatment ber-genre thriller dalam plot ala-ala Agatha Christie. Artinya penonton sudah membentuk satu pengharapan kalo film ini bakal penuh misteri pelik dan rumit, yang akan membuahkan pada plot twist atau pelintiran cerita yang bakal bikin kita teriak, “WTF!!”

Hangout memang menyajikan plot twist , tentang siapa sebenarnya pembunuh di film itu. Tapi, jujur aja, gue udah bilang ke ViJo siapa penjahat di film ini bahkan sejak seperempat filmnya baru jalan. Sangat sangat ketebak. Tapi, Hangout bukanlah film yang disengaja untuk ngikuti film-filmnya Joko Anwar, Christopher Nolan, atau Park Chan-wook. Bukan sama sekali. Hangout lebih sebagai sebuah satire atau bahkan bisa disebut sebagai parodi. Persis sama kayak This is the End. Bedanya, kalo This Is The End memakai sub-genre scif-fi apocalypse sebagai frame cerita, Hangout pake sub-genre thriller whodunit sebagai frame-nya. Hanya sebagai frame, bukan sebagai pondasi utama cerita. Karena selebihnya, Hangout, kayak This Is The End, adalah film yang dikendalikan secara “seenaknya” oleh Raditya Dika sebagai penulis dan sutradara, serta didukung oleh kegilaan para aktor di dalamnya. Jadi, Hangout  ini bersenang-senang atas premise dan frame yang dipakainya.

Sama kayak This Is The End yang penuh referensi dan nods ke berbagai film dan budaya pop, mulai dari film-film John Carpenter, film-filmnya Set Rogen sendiri, film-film Steven Spielberg, Harry Potter, ampe ke Backstreet Boys, Hangout juga dipenuhi oleh referensi.

Kalo yang gue liat, ada referensi ke film-film mo lei tau-nya Stephen Chow di era 90-an. Itu film-film yang dulu sering banget diputer di tipi swasta kita saat masih suka muter film-film Hong Kong malem-malem. Film Stephen Chow ‘kan dipenuhi adegan slapstick lebay, tapi kocak luar biasa. Nah, yang gue lihat, referensi ke Stephen Chow itu ada di karakter Dinda Kanya Dewi. Pas pertama kali ngeliat Dinda di film ini, gue bilang ke ViJo kalo karakternya ngingetin gue ke Sandra Ng, aktris kocak yang sering kerja bareng ama Stephen Show. Di film-film Chow, Sandra Ng sering kali digambarin sebagai cewek norak, jelek dan sering jadi korban buat adegan lucu. Nah, Dinda Kanya Dewi itu mirip banget ama karakter Sandra Ng. Sampai di suatu titik, gue bisa nebak kapan Dinda bakal kena sial.

Referensi lain yang gue temukan di Hangout adalah ke AADC, sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, film horor Scream-nya Wes Craven, film horor I Know What You Did Last Summer, hingga ke musik yang sering pake cue music di film horror thriller 70 dan 80’an, hingga ke musik bergaya Baroque ala komposer Danny Elfman di film-filmnya Tim Burton.

Di salah satu grup percakapan, ada yang bilang kalo gue “overthinking” soal film Hangout. Gue sih gak merasa kalo gue overthinking. Overthinking itu, kalo menurut gue, adalah memaksakan berpikir secara berlebihan ke sebuah permasalahan (dalam hal ini film) yang kagak ada relevansi atau hubungan secara kontekstual ke hal yang dibahas atau yang dicermati.

Di Hangout, gue menemukan dan menyadari berbagai hal itu benar-benar secara organik dan natural, di mana gue bisa menikmati filmnya dan tertawa, tapi bisa ngenalin lapisan-lapisan yang ada di film ini. Dan menurut gue di situlah letak kecerdasan Hangout. Filmnya fun, ringan, nyambung ke penggemar Dika, tapi bisa dinikmati juga oleh gue yang kebetulan bisa melihat apa yang ditawarkan Dika. Dia bisa masukin berbagai referensi itu tapi terasa koheren ama dunia yang dibangunnya.

Salah satu kelebihan Hangout dalam membawa filmnya dari awal sebagai metafilm adalah bahwa kita sebagai penonton tak bisa mempersoalkan kesahihan logika naratif di filmnya. Atau istilah kerennya kita dibuat untuk memakan dan mencerna dispension of disbelief. Sedari awal film ini sudah ngasih peringatan (yang gak kentara kalo di mata penonton awam, memang) kalo film ini adalah tentang film. Dan film adalah ilusi, atau bagi Dika ini adalah mediumnya untuk bersenang-senang atau hangout dengan kawan-kawannya. Jadi, sah-sah aja kalo di tengah-tengah film Dika, Surya, Gading, Soleh, ama Bayu Skak main drama-dramaan Bawang Putih Bawang Merah.

Dan yang patut juga gue sebut adalah gue ngerasa kalo di film ini, Dika terasa hangout sama medium storytelling di film.

Dika sebenarnya gak baru dalam masukin elemen metafilm dalam filmnya. Di Cinta Brontosaurus, dia juga jadi filmmaker dan ada salah satu scene di mana dia ngehadiri premiere sebuah film.

Yang bikin gue bilang Hangout sebagai film cerdas adalah di sisi bagaimana Dika masukin berbagai referensi dan olok-olok dalam dialog dengan halus dan sesuai konteks. Di Twitter dan grup percakapan, banyak yang mempermalasahin pengungkapan twist plot-nya yang gak haluslah, nggak meyakinkan secara logikalah, en des kaw en des kaw. Tapi, plot twist itu sesuai konteks. Gue gak akan ngasih tau, tapi gue akan kasih petunjuk yang mendukung alasan gue.

Kenapa plot twist itu gue bilang sesuai konteks? Karena memang sesuai dengan kelebayan karakter. Sudah itu aja. Jadi wajar kalo plot twist-nya kemudian lebay, karena memang sesuai dengan kelebayan si pelaku.

Cuma memang gue gak suka sama epilogue film yang mencoba membawa penonton ke konklusi permisif, seolah pengen minta maaf dan pengen ngasih “pesan moral” (jujur, gue rada-rada gadeg gimana gitu kalo nemu orang yang nanya, “Pesan moralnya apa?” pas abis nonton film). Meskipun masih masuk dengan semangat dan tema “persahabatan”, gue pikir akan lebih asoy geboy kalo emang dibawa aja sekalian gila epiloguenya. Jadi gak ada kesan untuk memasukkan “pesan moral” ke film.

Yang gue suka lagi dari Hangout adalah gimana film ini nunjukin sense of directing Dika yang selama ini sering diremehin (gue jujur aja termasuk yang ngeremehin). Di film ini, Dika tau gimana ngebangun suspensi lewat visual storytelling dan itu keliatan banget emang sebagai referensi ke berbagai film. Kayaknya Dika di sini nonton banyak film, terus tekniknya dipakai di Hangout.

Ada satu momen saat Dika make teknik “vertigo” atau “zolly” untuk ngehadirin ketegangan di salah satu karakter kunci. Juga gimana Dika ngambil berbagai shot dan ngerangkainya untuk ngebangun ilusi tempat terpencil. Shot di Hangout terasa mantap dan percaya diri.  Saat satu momen ada aerial shot diambil lewat drone, gambarnya pun mantap dan nggak pecah.

Yang istimewa juga dari Hangout adalah gimana Dika bisa ngejaga atmosphere suspense thriller-nya, sehingga perilaku karakternya yang ajaib mengundang tawa. Sama kayak karakter Dika yang gue tangkap di film ini, mencoba serius, tapi gak bisa dianggap serius. Atmosfirnya dijaga serius, tapi materi lawakan dan set-up-nya digeber hampir nonstop sepanjang film.

Aktor-aktor di film ini juga yahud. Gue sih kayak ngeliat mereka emang gak main film, tapi jadi diri sendiri. Meski istilah “jadi diri sendiri” juga gak tepat, karena mereka masih akting, kok. Bedanya mereka rileks.

Gue gak percaya kalo Dinda emang kayak gitu atau gak yakin ada artis yang joroknya minta ampun kayak gitu. Atau Surya Saputra yang masih kejebak ama karakternya di Arisan. Itulah nikmatnya Hangout. Kayak This Is The End, pilihan untuk para karakternya memakai nama mereka sesungguhnya membuat batasan antara ilusi dan kenyataan jadi kabur. Ada sentuhan realisme jadinya. Kayak para artis ini pengen ngeledekin dan ngolok-ngolok satu sama lain (atau mungkin juga nyindir orang lain), tapi dalam bingkai komedi satire. Kasian amat hidup lo, kalo lo gak bisa nerima komedi sebagai jokes dan nganggapnya kelewat serius.

Itulah yang bikin Hangout ini punya enerji yang nyenengin.

Aktor-aktor di sini emang penampilannya luwes-luwes. Tapi gue teteup punya favorit. Favorit gue si Soleh Solihun ama Bayu Skak. Soleh karena dia bisa nunjukin kalo dia punya dramatic side (gue yakin dia bisa dikasih peran serius setelah nonton film ini. Kayak pas Stephen Chow main di film CJ-7). Gue juga suka Bayu Skak karena dia bisa nunjukin akting nangis dan frustasi secara mengejutkan kecenya.

Ada beberapa momen memang di mana Hangout keliatan mengendur di pace dan ritme. Kayak pas adegan Dika dan Soleh saling curiga itu ada yang bisa di-cut tanpa ngeganggu filmnya. Tapi secara keseluruhan film ini berhasil jadi lucu, menyenangkan dan sekaligus cerdas.

Ada yang memang gak suka film ini. Itu tadi, kemungkinannya mereka gak bisa ngelepas brand-nya Raditya Dika. Mungkin juga karena udah kelanjur kemakan oleh asumsi film ini akan kayak Agatha Christi banget. Atau mungkin juga gak nangkep referensi atau olok-olok yang film ini coba lakukan.

Tapi, biarpun gitu, Hangout adalah bukti kalo Dika memang punya bakat yang gak bisa disepelein. Ini filmnya yang paling “bener” secara filmis (termasuk Cinta Dalam Kardus) dan di mana dia mau bereksperimen, tapi gak keluar dari core-nya. Kayak versi dodolnya Janji Joni, filmnya Joko Anwar, yang juga satire dan metacinema.

Gue sih ama ViJo ngerasa ngalamin pengalaman meta juga pas nonton  film ini. Gue hangout sambil nonton film Hangout.

(4/5)

Di repiew di Lotte Avenue XXI, pas tanggal 22 Desember 2016 barengan @ViJo

Untuk list crew dan casts, kali ini Googling aje-yee. Kemaren lupa nyatet, karena keburu keluar bioskop akibat kelaperan.

Bercermin Dari Sukses Komersil Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 (Bagian Pertama)

September 13, 2016

“Nostalgia tampaknya memang menjadi motor penggerak utama keberhasilan Warkop DKI Reborn dalam menarik minat penonton. Kata sifat tersebut dipadukan dengan keberhasilan strategi marketing Falcon Pictures dalam mempromosikan Warkop DKI Reborn, baik lewat above dan below the lines…”




Hari itu—Kamis, 8 September 2016—saya bergegas menuju sebuah bioskop, CBD Ciledug XXI. Jarak yang jauh dan kepadatan lalu lintas khas pinggiran kota perbatasan Jakarta Selatan dan Tangerang itu tak mengurungkan niat saya untuk pergi ke sana. Motivasi saya satu : menonton Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! Part 1 ( baca ulasannya)di hari pertama perilisannya untuk khalayak.

Saya sendiri gemar berpindah-pindah lokasi bioskop untuk menonton film Indonesia. Salah satu lokasi favorit saya tentu saja Blok M Square XXI yang selama ini selalu digadang sebagai sentra penonton film nasional. Saya senang menonton film lokal di bioskop-bioskop yang menjadi target utama film nasional yang secara statistik mengatakan ceruk pasar film kita adalah masyarakat menengah ke bawah. Harga tiket yang lebih terjangkau di bioskop-bioskop tersebut yang menjadi alasan utama mereka menonton di sana.

Dua dekade terakhir saat bioskop-bioskop independen lenyap dari tata distribusi dan eksibisi film yang lalu malih rupa menjadi satu grup Cineplex milik korporasi dengan modal kuat, memang harus diakui mengubah pola pikir masyarakat kita dalam memandang film sebagai sarana hiburan masal. Penempatan bioskop-bioskop jejaring cineplex di berbagai pusat perbelanjaan pun turut menjadi salah satu faktor bagaimana bioskop yang pada masa lampau ramai didatangi oleh penonton kelas menengah ke bawah, kini dipandang sebagai kebutuhan tersier. Bukan lagi sekunder. Pertimbangannya tentu saja kondisi ekonomi. Bila dahulu menonton ke bioskop hanya “untuk menonton”, kini godaan untuk menguras kantong pun semakin besar. Penempatan bioskop-bioskop di pusat perbelanjaan membuat konsumen semakin tergoda untuk berbelanja, di luar tujuan utama mereka untuk menonton. Terlebih untuk mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Menonton film di bioskop dalam sebuah mall, berarti mereka harus melebihkan anggaran untuk kepentingan turunan lainnya. Semisal : si anak tetiba merengek minta jajan atau dibelikan sesuatu saat mereka melewati satu gerai; kebutuhan untuk plesir berkeliling seharian di mall yang bersangkutan sembari makan di restoran; hingga membayar tiket parkir yang dihitung per jam. Kita asumsikan satu keluarga kecil dengan satu anak. Harga tiket bioskop sebesar IDR 25 ribu. Kalikan tiga, maka pengeluaran untuk menonton saja sudah IDR 75 ribu. Belum lagi uang jajan dan alokasi dana “mendadak” seperti yang saya sebutkan tadi. Sekali jalan pergi ke bioskop,  maka paling sedikit uang IDR 150 ribu harus mereka siapkan. Bayangkan bila satu keluarga kecil dengan ayah sebagai pencari penghidupan utama hanya memiliki penghasilan setara UMR sebesar IDR 3 jutaan, di mana rata-rata anggaran masyarakat Indonesia untuk pengeluaran hiburan sebesar 15 hingga 20% dari total pemasukan. Anggaran untuk menonton di bioskop pun tentunya juga akhirnya amat diperhitungkan.

Hal itu yang diungkapkan oleh Pak Imron (37), yang duduk di tepat di sebelah saya saat menonton Warkop DKI Reborn. Pak Imron yang tinggal cukup dekat dari CBD Ciledug XXI ini mengajak istri dan seorang anaknya, perempuan berumur 10 tahun. Menurut pengakuan beliau, dia dan keluarganya jarang menonton film di bioskop. Alasannya itu tadi, anggaran untuk leisure activity seperti ini sudah dipangkas demi kebutuhan sehari-hari. Warkop DKI Reborn adalah film kedua yang ditontonnya di bioskop tahun ini, selepas Rudy Habibie (baca ulasannya). Saya bertanya mengapa dia memutuskan untuk mengajak keluarganya dan mengeluarkan bujet untuk menonton Warkop DKI Reborn, jawabannya ternyata untuk bernostalgia dengan film-film Warkop yang menjadi bagian hidupnya di masa muda. Saat saya tanyakan lebih lanjut darimana dia mengetahui adanya film ini, jawabannya cukup mengejutkan dan tak saya sangka.

“Saya melihat novel grafis Warkop DKI Reborn dipajang di Gramedia. Sebelumnya, saya tidak mengetahui bahwa film ini bakal tayang. Dari situ saya memutuskan untuk menontonnya nanti di hari pertama. Itung-itung sekalian mengenang masa muda, “ begitu jawab Pak Imron.

Nostalgia tampaknya memang menjadi motor penggerak utama keberhasilan Warkop DKI Reborn dalam menarik minat penonton. Kata sifat tersebut dipadukan dengan keberhasilan strategi marketing Falcon Pictures dalam mempromosikan Warkop DKI Reborn, baik lewat above dan below the lines, hingga berhasil menciptakan rasa penasaran dan urgensi masyarakat untuk berbondong-bondong membeli tiket pertunjukkannya. Menciptakan suatu gerakan cultural event, di mana suatu prinsip bahwa, “Lu nggak gaul kalo nggak menonton film ini.”. Suatu gerakan yang memicu orang-orang untuk tidak ketinggalan topik pembicaraan di lingkaran pergaulan mereka.

Hasilnya memang terlihat jelas. Antrian mengular di depan loket penjualan tiket. Tak hanya satu baris, tetapi hingga empat baris antrian terlihat menyemut di masing-masing konter.

Saya mengobrol dengan salah satu ibu yang ikut dalam antrian di sebelah saya. Ibu ini mengaku mengetahui tentang Warkop DKI Reborn lewat tayangan televisi, khususnya tayangan infotainment. Dia bahkan tahu persis (lewat televisi) bagaimana di berbagai bioskop, tiket film ini sudah ludes tak bersisa. Informasi tersebut lantas membuat dia rela berdesakan untuk membeli tiket. Ibu ini tak hanya membeli tiket untuk dirinya sendiri. Terlihat di pojok lobi bioskop, beberapa ibu-ibu dan sekelompok anak menunggu dia mengantri, demi mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Ibu ini membeli tiket untuk pertunjukan keempat, yakni sekitar pukul 19:00. Padahal antrian yang saya ada di dalamnya adalah untuk pertunjukan di jam pertama. Dari beberapa penonton yang saya ajak mengobrol, hanya ada 2 pasang muda-mudi yang membeli tiket untuk film lain, yaitu Don’t Breathe.

Benar saja, tiket pertunjukan di jam pertama di bioskop itu pun sudah nyaris ludes. Saya beruntung, karena masih mendapatkan tempat duduk strategis di jam tayang pertama.

Histeria masa menyongsong Warkop DKI Reborn memang bukan main-main. Keberhasilan strategi marketing yang diorkestrasi dengan baik oleh Falcon Pictures berhasil menarik minat masyarakat lintas demografi. Tak hanya seusia Pak Imron atau ibu tadi—yang saya asumsikan memang terpapar film Warkop di zamannya–, melainkan hingga ke remaja, bahkan kanak-kanak.

Buktinya disampaikan oleh seorang ibu lainnya yang saya ajak mengobrol mengatakan bahwa dia mengantri karena dorongan anak-anaknya yang mendesak dia untuk mengajak mereka menontoni Warkop DKI Reborn. Di lain waktu, saya mengobrol dengan sekelompok remaja pria berseragam sekolah. Dari usianya, mereka tentu saja bukanlah generasi yang mengalami langsung lawakan Dono-Kasino-Indro. Dari hasil obrolan kami didapatkan informasi bahwa mereka mengikuti film-film mereka lewat keping VCD atau streaming di YouTube. Para remaja ini mengetahui informasi tentang Warkop DKI Reborn pun dari media internet dan jejaring sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan metode long-tail marketing di era internet juga berdaya ampuh dalam menjadikan karakter dalam film sebagai sebuah jenama dan membuatnya lestari.

Ramainya antrian untuk menonton Warkop DKI Reborn dan film-film nasional komersil lainnya, jelas mendatangkan kebahagiaan bagi pemilik bioskop dan karyawannya.

Seorang penjaga keamanan pintu masuk teater bioskop tempat saya menonton film itu menceritakan bagaimana gembiranya dia menyaksikan kerumunan penonton yang berjubel. Saat hari pertama dirilis, Warkop DKI Reborn hanya diputar di satu teater dengan kapasitas tempat duduk maksimal berjumlah 310. Di jam pertunjukan yang saya ikuti, semuanya ludes terjual. Bahkan hingga ke baris tempat duduk paling depan, yang umumnya dihindari karena tidak memberikan kenyamanan saat menonton.

“Capek, tapi senang, Dik. Rame kayak gini kan nggak setiap hari. Film-film tertentu saja yang diserbu penonton seperti ini. Lebaran kemarin, bioskop ini bahkan memecahkan rekor penonton terbanyak. Sehari bisa 6.500 penonton. Bahkan ngalahin Blok M. Square yang katanya jadi bioskop film Indonesia paling rame, “ demikian ujar penjaga bioskop yang sempat mengobrol dengan saya.

Antusiasme terhadap film nasional seperti yang dialami oleh Warkop DKI Reborn jelas suatu pengaruh amat positif bagi kelangsungan industri film yang melibatkan ribuan tenaga kerja. Dalam sebuah artikel yang dilansir oleh Tribun Jambi, okupansi penonton di jaringan bioskop Cinemaxx bahkan melonjak hingga 200 persen.

“Ramainya antrian untuk menonton Warkop DKI Reborn dan film-film nasional komersil lainnya, jelas mendatangkan kebahagiaan bagi pemilik bioskop dan karyawannya.”



FILM NASIONAL BERLANDASKAN KEKUATAN JENAMA DAN GENRE SPESIFIK

Bila kita amati, film-film nasional yang berhasil meraup angka penjualan tiket di atas satu juta tahun ini memang berlandaskan atas kekuatan jenama. Kekuatan sebuah brand. Tak melulu berlandaskan sebuah sentimen nostalgia.

Kalendar 2016 dibuka oleh keberhasilan Comic 8 : Kasino Kings Part 2 yang berhasil meraup penjualan tiket sebanyak 1.835.644 lembar (data dari situs filmindonesia.or.id). Film tersebut adalah kelanjutan dari Comic 8 : Kasino Kings Part 1 di tahun 2015 yang berhasil mengoleksi 1.211.820 lembar tiket. Bukan kebetulan bila dua film ini juga diproduksi oleh Falcon Pictures, perusahaan produksi di balik Warkop DKI Reborn.

Falcon juga berjaya lewat satu film lainnya yang mereka rilis tahun ini, My Stupid Boss arahan Upi, serta dibintangi oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Film tersebut sukses meraup 3.052.657 lembar tiket hingga akhir theatrical run-nya. Bila digabungkan, Falcon Pictures lewat film-filmnya (bersama Warkop DKI Reborn yang telah berhasil terjual lebih dari satu juta lembar tiket hanya dalam kurun waktu kurang dari lima hari sejak dirilis per 12 September 2016) berhasil menjadi pemegang market share film nasional terbesar sepanjang 2016. Tidak berlebihan bila pandangan tersebut muncul, karena Warkop DKI Reborn masih amat berpeluang terus menambah pemasukan tiket.

Bila diperhatikan lebih jauh, film-film Falcon tersebut ber-genre komedi. Dalam sebuah survei yang dirilis oleh departemen Litbang Kompas di tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 33,4 persen dari 687 responden menyebut bahwa komedi adalah genre film favorit mereka. Selebihnya sebanyak 28,4 persen dan 18,4 persen secara berturut-turut lebih memilih genre percintaan (romance) dan aksi (action). Menilik dari hasil survei tersebut, kesuksesan komersil film-film yang diproduksi Falcon Picture tahun ini dapatlah dimengerti.

Film bergenre komedi memang mendominasi daftar sepuluh besar film nasional terlaris sampai bulan kesembilan di kalendar 2016 berdasarkan data di filmindonesia.or.id. Ada lima film komedi, yaitu : My Stupid Boss (peringkat kedua), Koala Kumal (peringkat keempat, 1.863.541 tiket), Comic 8 Kasing Kings Part 2 (peringkat kelima), Talak 3 (peringkat kesembilan, 567.917 tiket) dan Modus (peringkat kesepuluh, 382.342 tiket).

Jumlah masuknya film ber-genre komedi di daftar sepuluh besar film nasional terlaris di tahun ini mengalami peningkatan. Di tahun 2015 terdapat empat film komedi dan satu tahun sebelumnya hanya ada tiga (dengan Comic 8 memuncaki).

Film ber-genre drama percintaan pun tahun ini diwakili oleh tiga film : Ada Apa Dengan Cinta 2 (baca ulasannya)(peringkat pertama, 3.665.509 tiket), ILY from 38.000 ft (peringkat keenam, 1.574.576 tiket) dan London Love Story (peringkat ketujuh, 1.124.876 tiket). Unsur kisah percintaan sebenarnya juga terdapat di berbagai film komedi tanah air, meski memang tidak dominan seperti film-film yang secara lugas menempatkannya dalam porsi terbesar penceritaan.

Bila ditelaah secara genre dan merujuk pada hasil survei litbang Kompas tadi ; komedi, percintaan dan aksi memang merupakan tiga jenis film yang selaras dengan tujuan utama film sebagai produk budaya masal sebagai sarana eskapisme. Bersama horor, ketiga genre tersebut sudah memberi penonton bayangan jelas akan apa yang mereka dapatkan saat membeli tiketnya. Dengan kata lain, ketiga genre itu sudah membentuk jenama mereka sendiri. Dalam sebuah film komedi, penonton tentu mengharapkan dapat melepas tawa sehabis beraktivitas sehari-hari. Lewat cerita romansa, penonton berharap dapat terbuai dengan kisah mengharu biru yang akan membawa mereka kepada sebuah ilusi yang indah-indah. Melalui film aksi, penonton dapat menyalurkan amarah dan ekspresi anarkis mereka lewat adegan-adegan bak-bik-buk dan destruktif yang umumnya didapat lewat genre ini. Di film horor, ketakutan dan paranoia menjadi komoditas utama.

“Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah karena film horor nasional sudah terlanjur identik dengan “film murahan”….Meski memang nilai intelektual sebuah karya seni (termasuk film) sedikit hubungannya dengan intelektualitas orang yang menikmatinya.”



HOROR TAK LAGI JADI PRIMADONA, MARKETING “MISTERI”

Menarik bila ditelisik bahwa film nasional bergenre horor tak satu pun menempati daftar film terlaris sejak tahun 2013. Terakhir film horor produksi nasional yang berhasil melakukannya adalah 308, arahan Jose Purnomo (produksi Soraya Intercine Films), dan film Taman Lawang arahan Aditya Gumay. Kedua film tersebut di tahun 2013 berturut-turut menduduki peringkat kesembilan dan keenam dalam sepuluh besar film terlaris di tahun itu dengan membukukan penjualan tiket, masing-masing, sebesar 358.507 dan 526.761 lembar tiket.

Taman Lawang pun tak murni horor. Film itu menyelipkan elemen komedi yang kental di dalamnya. Nama almarhum Olga Syahputra yang identik dengan lawakan dan memiliki basis penggemar kuat merupakan faktor utama tingginya angka penjualan, bila dibandingkan dengan ongkos produksi. Penonton tahu apa yang diharapkan dari jenama Olga Syahputra yang sudah dibangunnya bertahun-tahun.

Menarik memang bila dianalisis lebih lanjut mengapa film horor nasional tak lagi menduduki peringkat sepuluh besar film terlaris, digantikan oleh komedi. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah karena film horor nasional sudah terlanjur identik dengan “film murahan”. Hanya mengandalkan kisah horor supranatural dan elemen jump-scares yang seringkali malah sosok mistis yang menjadi karakter antagonis kelewat dieksploitasi, tanpa memperdulikan kekuatan penceritaan, elemen teknis dan production value. Film horor memang relatif lebih murah dalam ongkos produksi karena genre ini sudah kuat sebagai sebuah jenama dan memiliki segmen penonton sendiri, maka keuntungan pun diperoleh berlipat-lipat. Kemalasan dan jiwa pedagang kelontong para produser pun lantas membuat minat penonton terhadap film horor nasional mencapai titik nadir. Tak lagi mengindahkan kekuatan naskah, pengadeganan dan tata produksi. Fakta menunjukkan, tak lagi ada film horor selepas tahun 2013 yang masuk dalam daftar film terlaris. Mengindikasikan bahwa penonton sudah malas dan jenuh, serta tidak percaya dengan film horor nasional sebagai sebuah jenama.

Bergantilah minat para penonton film Indonesia ke film-film komedi.

Padahal rasa takut yang menjadi komoditas utama film horor itu bersifat universal. Beda dengan komedi yang bersifat subjektif. Orang-orang memiliki definisi yang sama terhadap rasa takut, yaitu dalam menghadapi sesuatu yang tidak mereka kenal atau memiliki wujud fisik menyeramkan. Komedi, di sisi lain, memiliki kaitan dengan budaya, intelektual dan cita rasa. Meski memang nilai intelektual sebuah karya seni (termasuk film) sedikit hubungannya dengan intelektualitas orang yang menikmatinya. Tapi latar belakang intelektualitas seseorang akan berpengaruh pada cara pandangnya terhadap sebuah materi komedi. Itu sebabnya, kebanyakan film-film komedi amat jarang dalam mencapai suatu konsensus kesepakatan yang universal. Kebanyakan film komedi memecah belah penonton : antara suka dan tidak.

Namun, yang hilang dari film horor nasional adalah unsur misteri. Suatu elemen yang semestinya diperhatikan dalam penyampaian cerita atau strategi marketing. Ironisnya, unsur misteri ini yang menjadi salah satu faktor yang membuat Warkop DKI Reborn menarik minat penonton.

Kita bisa tengok ke belakang saat pertama kali isu bahwa film tentang Warkop DKI akan diproduksi. Lewat internet berseliweran foto (yang lebih menyerupai sebuah konsep teaser poster) tampak punggung tiga orang dalam busana montir warna-warni yang di punggung mereka masing-masing bertuliskan “ Dono. Kasino. Indro” di sekitar bulan April atau Mei 2016. Bagi yang akrab dengan film-film Warkop, kostum montir warna-warni itu mengingatkan pada kostum serupa yang mereka gunakan di film IQ Jongkok (1981) di mana trio komedian itu berburu harta karun.

Tentu saja pelepasan teaser poster itu adalah bagian dari orkestrasi rencana marketing dan sebagai sebuah materi promosi awal yang memang ditujukan untuk “menggoda”, serta mengukur respon penonton. Rencana itu berhasil dan brilian. Dibantu oleh media buying yang dilakukan Falcon Pictures untuk memberitakan berbagai artikel terkait, strategi marketing itu berjalan mulus. Terlepas sentimen negatif atau positif yang dilepaskan ,orang-orang mulai bereaksi dan membicarakannya. Mereka lantas mencari tahu dan mengikuti segala pemberitaan terkait produksi film ini, terutama terkait siapa yang akan memerankan Dono-Kasino-Indro dan Falcon Pictures tinggal menjaga ritme dan tempo pemberitaan.

Sentimen negatif dan sikap skeptis memang mengiringi berbagai pemberitaan terkait Warkop DKI Reborn. Khususnya mengenai sutradara dan tentang keputusan “menghidupkan kembali” trio komedian ini ke layar lebar. Memang bukan hal yang mengagetkan bila sikap skeptis terhadap Anggy Umbara sebagai sutradara tercipta. Opini para penikmat film terhadap karya-karya feature-nya memang terpecah, di mana hal itu bisa terlihat lewat reaksi terhadap seri Comic 8 dan 3 Alif Lam Mim.

Reaksi negatif dan sikap skeptis terhadap Warkop DKI Reborn juga muncul dari penggemar berat trio komedian ini. Mayoritas mereka beranggapan bahwa sosok ketiganya tak tergantikan. Bagi mereka, Dono-Kasino-Indro ya Dono-Kasino-Indro. Suatu keputusan yang absolut dari para penggemar. Reaksi ini makin keras saat format penceritaan dan aktor-aktor yang memainkan ketiga tokoh tersebut sudah diumumkan. Beberapa rekan saya yang merupakan penggemar berat Warkop, bahkan sudah membulatkan tidak akan menonton film ini.

“Bagi saya Warkop ya Warkop. Seberapa hebat make-up dan efek untuk “melahirkan” mereka kembali di film, saya tidak akan menonton,” begitu ujar salah satu rekan yang menolak disebutkan namanya.

Reaksi para penggemar Warkop garis keras itu bisa dimaklumi. Grup lawak tersebut memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Ada ikatan emosional yang sudah kuat terjalin antara Warkop dan para penggemar jenis ini. Hubungan mereka tak lagi antara sebuah jenama dengan konsumennya. Lebih dari itu karena sudah melibatkan rasa percaya.

Menumbuhkan rasa percaya di kalangan penggemar setia Warkop DKI memang menjadi tugas terberat Falcon Pictures. Dari segi usia, para penggemar tersebut sudah berusia matang, bahkan banyak di antara mereka yang sudah memiliki profesi dan status berpengaruh di masyarakat. Oleh sebab itu, maka  istilah komunikasi untuk memperhalus “penyajian kembali “ Warkop DKI ke layar lebar adalah sebagai upaya tribute. Sebuah penghormatan.

“Peremajaan jenama (brand rejuvenation) dan pelanjutannya (brand continuation) sebenarnya juga dilakukan oleh Ada Apa Dengan Cinta 2 produksi Miles Film. “



PEREMAJAAN JENAMA (BRAND REJUVENATION)

Padahal sebenarnya yang dilakukan oleh Falcon Pictures terhadap Warkop DKI adalah bentuk peremajaan jenama (brand rejuvenation), yaitu suatu proses memperbaharui tampilan dan rasa dari suatu merek, tanpa mengotak-atik pondasi utamanya. Peremajaan jenama ini kemudian berujung pada upaya melanjutkannya (brand continuation) ke target konsumen generasi baru. Hal yang wajar dalam bisnis apa pun, termasuk film. Terlebih Warkop DKI sebagai sebuah merek dagang, sudah lebih dari satu dekade “tertidur”.

Peremajaan jenama (brand rejuvenation) dan pelanjutannya (brand continuation) sebenarnya juga dilakukan oleh Ada Apa Dengan Cinta 2 produksi Miles Film. Warkop dan AADC sebagai punya kesamaan, yaitu : punya basis penggemar kuat, sama-sama menjadi bagian kultur populer dan sudah “tertidur” selama satu dekade lebih. Ketiga unsur tersebut pula yang berhasil membuat kedua filmnya menciptakan sentimentil nostalgia dan berimbas pada penjualan tiket yang tinggi.

Tapi ada hal penting yang membedakan keduanya, yaitu bagaimana para pemeran yang menghidupkan jenama kedua film itu melakukan personifikasi terhadap karakter mereka di film.

Memang karakter Cinta dan Rangga sudah terlampaui identik dengan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Kelekatan imej kedua karakter fiktif dengan kedua aktor itu pulalah yang membuat upaya pengembangan kisah AADC ke bentuk sinetron mengalami kegagalan. Hanya saja, setidaknya, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra mencoba berbagai peran lain selepas AADC pertama hingga kedua. Bentang waktu lebih dari satu dekade, sudah cukup bagi para penonton untuk menyadari bahwa karakter Cinta bukanlah diri sebenarnya Dian Sastro. Pun karakter Rangga bukanlah Nicholas Saputra yang sesungguhnya.

Karakter Dono-Kasino-Indro justru kebalikannya.

Mereka sudah identik dengan tiga anggota Warkop selama berpuluh-puluh tahun, menciptakan personifikasi abadi dan saklek atas orang-orang yang memainkannya. Para penggemar sudah kadung tak bisa memisahkan antara Drs. H. Wahyu Sardono yang seorang dosen dan akademisi dengan Dono di Warkop; tak bisa membedakan antara Drs. Kasino Hadiwibowo dengan karakter Kasino Warkop; serta tak dapat mengenali mana Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro dengan Indro Warkop yang kerap berlogak Batak dalam perannya.

Para penggemar kadung melihat trio Warkop dan karakter panggung mereka sebagai satu kesatuan sehari-hari. Mereka tak bisa membedakan antara mana yang “permainan karakter di film” dan “mana yang asli”. Karena mereka memang memainkan lakon yang sama selama berpuluh tahun, tanpa mencoba variasi lain, dan itulah yang dilihat masyarakat. Hal yang sama juga terjadi di banyak komedian dari grup, seperti Tessy atau Gogon Srimulat.

“Karena itulah kunci keberhasilan suatu produk seni seperti film terletak pada pondasi fundamental yang melibatkan rasa percaya (trust).”



PRODUK KESENIAN SEPERTI FILM BERLANDASKAN RASA PERCAYA (TRUST)

Maka tak mengherankan bila kemudian ada barisan penggemar fanatik Warkop yang kemudian menolak ide peremajaan jenama ini. Bagi mereka, bila ada upaya untuk memfilmkan Warkop yang paling layak adalah format film biografi. Padahal Warkop bukanlah soal almarhum Wahyu Sardono, almarhum Kasino Hadiwibowo dan Indrodjojo Kusumonegoro. Warkop sebagai jenama adalah tentang karakter panggung mereka dan bentuk lawakan yang mereka ciptakan. Itulah yang membuat upaya Falcon Pictures untuk “menghidupkan” mereka kembali, secara bisnis, amatlah masuk akal.

Upaya mengembangkan sebuah film menjadi satu jenama memang lebih kompleks dan tak sesederhana menciptakan suatu merek dagang di produk lain, seperti makanan atau elektronik. Dalam film dan produk kesenian lainnya, dilibatkan sebuah penceritaan (storytelling) yang melibatkan sisi kejiwaan dan emosional. Karena itulah kunci keberhasilan suatu produk seni seperti film terletak pada pondasi fundamental yang melibatkan rasa percaya (trust). Ketika kita membaca sebuah buku, mendengarkan album musik, atau duduk di ruangan gelap saat menonton sebuah film di bioskop, kita harus mempersiapkan diri untuk menyerahkan jiwa, emosi dan pemikiran demi masuk ke dunia yang dibangun oleh para insan kreatif yang menciptakannya. Menyerahkan diri kita kepada lantunan irama musik dan rangkaian cerita yang datang dari otak dan pemikiran orang lain yang tidak kita kenal secara personal. Saat kita menonton sebuah film, kita dalam sebuah situasi di mana kita akan memasrahkan dan bersiap untuk masuk ke sebuah ilusi berbentuk realita di layar, yang kita relatif tidak punya kuasa terhadap hasil akhirnya. Atau, setidaknya dalam konteks film yang sudah menjadi jenama seperti milik Warkop, kita mencoba memahami interpretasi orang lain atas sebuah bentuk sajian naratif yang kita sudah akrab.

Sebagai sebuah produk, film juga memiliki keterbatasan dalam hal bentang waktu (window of exhibition). Terlebih di era digital di mana proses produksi menjadi relatif lebih cepat yang membuat lahirnya film-film baru dalam satu pekan di bioskop menjadi lebih banyak. Saat ini sebuah film rata-rata hanya bertahan di bioskop dalam kurun waktu selama dua hingga tiga pekan. Unsur kepercayaan yang kemudian membuat penonton akhirnya memutuskan untuk membeli tiket sebuah film. Mereka akan menyaksikan kisah yang mereka kenal dan merasa tertarik terhadapnya. Untuk itulah suatu upaya promosi dan marketing yang efektif, serta seringkali masif, ke semua lini dan target market menjadi amat penting. Masalah yang kemudian timbul adalah mahalnya biaya promosi dan marketing tadi. Seorang produser tentunya memiliki perhitungan tersendiri dalam menilai potensi komersil sebuah film yang diproduksinya. Oleh karena itu, maka tak mengherankan, bila produser yang ingin agar filmnya mencapai nilai balik investasi (return of investment) cenderung lebih suka memproduksi film-film yang sudah memiliki basis penggemar kuat atau sudah menjadi sebuah jenama.

Itulah sebabnya praktik yang disebut remake, reboot, sekuel, adaptasi buku atau materi yang sudah dirilis sebelumnya menjadi suatu keniscayaan. Hal Itu karena, paling tidak, tim marketing  lebih menghemat tenaga dan biaya dalam upaya mereka memperkenalkan sebuah film. Tinggal bagaimana mereka memilih materi awal yang tepat dalam memulai sebuah kampanye promosi untuk menciptakan rasa penasaran. Seperti yang terjadi dalam Warkop DKI Reborn atau AADC 2.

*Art-icle(s) ini akan berlanjut ke bagian kedua yang akan membahas lebih lanjut mengenai apa yang membuat film-film seperti Warkop DKI Reborn bisa meraih pencapaian komersil, beberapa contoh nostalgia yang gagal,  apa pengaruhnya terhadap industri secara keseluruhan dan pentingnya resensi (kritik film) terhadap keseimbangan di industrinya.

(by @Picture_Play)