Hangout Review : Ngerepiew Sambil Nge-Hangout

“Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.”




Hari Kamis, tanggal 22 Desember 2016 pukul 19:00 BBWI (bagian barat waktu Indonesia).

Di studio 5 bioskop Lotte Avenue di kawasan dagang padat karya dan padat penghuninya (kayak lirik lagu Gang Kelinci-nya Lilis Suryani)  Ciputra Kuningan, Jakarta Selatan, penonton memenuhi jam keempat penayangan Hangout, film Indonesia terbaru dari Raditya Dika, seorang pemuda dengan jumlah followers Twitter hingga 14,7 juta jiwa (atau akun lebih tepatnya) yang punya seabrek profesi. Mulai dari penulis, komika, pembicara, bintang iklan, bintang film, hingga sutradara.

Penonton Hangout penuh hingga ke baris terdepan studio yang berkapasitas kira-kira 300-an tempat duduk itu alias sold-out. Memang di hari pertama penayangan film, kabar bahwa tiket film ini ludes terjual di mana-mana jadi bahan gosipan utama di berbagai grup, mulai grup watsapp, telegram (aplikasi ya! Bukan layanan pesan singkat tertulis zaman baheula dari Kantor Pos Indonesia), hingga ke grup arisan ibu-ibu (yang ini lebay, sih).

Penonton Hangout di jaringan bioskop ternama di Lotte Avenue itu terlihat dari berbagai demografi. Mulai dari ABG, pekerja kantoran, bapak-bapak yang sudah mulai ubanan, hingga ke ibu-ibu. Salah dua dari penonton tersebut adalah dua blogger film Indonesia yang punya ambisi nge-gantiin almarhum Roger Ebert (ambisi yang kelewat muluk, jujur aja): Picture Play (akun Twitter-nya @PICture_Play), berusia 20’an ; dan Vincent Jose (akun Twitter-nya @VincentJose), juga berusia 20’an, asal Surabaya dan baru saja menjadi bagian program urbanisasi ke Jakarta. Harap dimaklumi bahwa sebenarnya memang nggak penting-penting amat mencantumkan akun Twitter mereka. Pencantuman itu cuma bermaksud agar yang ngebaca tulisan ini segera nge-follow mereka (Oke?Sip!).

Dua blogger yang baru merintis karir ini duduk samping-sampingan di deretan B. Mereka nggak cuma nonton, tapi juga ngamatin reaksi penonton yang tertawa dan tampaknya puas ngikuti jalan cerita film. Si Picture Play malah sambil fokus nonton, sambil sesekali nyatet adegan  atau dialog yang menurutnya penting untuk dicatet di notebook-nya. Entah kurang kerjaan, kelebihan energi, atau emang punya ambisi terpendam jadi juru tulis di kantor kecamatan. Bayangin aja nulis di keadaan bioskop yang gelap-gelapan jadinya seperti siluman (ngutip lirik lagu dangdutnya Rita Sugiarto). Sementara si Vincent Jose matanya fokus aja ke layar bioskop. Sesekali dua blogger ini ngobrol bisik-bisikan ngomentari film, sementara penonton lain ketawa-ketiwi sambil sesekali ngemil. Dua blogger ini emang lebih milih ngobrol bisik-bisik dan nggak ngemil. Bukan karena mereka kaum intelektual, tapi lebih karena lagi bokek tanggal tua.

Singkat cerita, sampai filmnya habis, reaksi penonton tetap heboh. Pas filmnya kelar, penonton pada keluar dan lampu sudah dihidupkan, dua blogger film kita ini saling ngeliat satu sama lain penuh arti. Reaksi mereka seperti kaget campur senang.

Reaksi mereka kurang lebih sama.

Nggak nyangka, ya? Filmnya sesuatu banget, “ batin mereka.

—- 10 Menit Kemudian — (balik ke mode penceritaan orang pertama)

Gue ama ViJo lalu nongkrong di sebuah pusat pecel lele di daerah Kuningan yang gue tau emang enak sambelnya, karena si ViJo udah laper katanya.

Sambil di jalan menuju ke sana dan kemudian sambil mengganyang pecel ayam, kita berdua membahas soal Hangout dan intinya kita bedua setuju kalo film itu spesial. Sespesial nasi lesehan Ibu Gendut di pelataran Blok M Square.

Betewe, gue jelasin dulu kenapa gaya bahasa review blog ini berubah. Bukan karena pengen keliatan gaul atau sok keren (padahal emang sebenarnya pengen banget. Sumpah!), tapi lebih karena menurut gue gaya bahasa ini yang paling mewakili spirit filmnya, tanpa kemudian kudu membocorkan plot twist atau elemen kejut (element of surprise) di film ini. Selain itu pengen penyegeran aja sekali-kali pake bahasa non-formal.

Gue jujur aja nih, ngaku kalo awalnya gue underestimate sama Hangout. Soalnya gegara gaya penceritaan Raditya Dika yang sudah kebentuk banget, hingga pada satu poin, ceritanya udah bisa ketebak dan bikin jenuh *langsung-nyanyi-lagunya Rio Febrian (kalo istilah Enggresnya itu udah “square”). Bahkan kalo gue diminta ngebedain film-film Dika sebelum ini tanpa nge-Google, gue akan kesulitan bedain judul-judulnya. Terakhir kayak yang gue liat di filmnya Dika yang juga rilis tahun ini pas libur Lebaran yang judulnya “Koala Kumal”. Itu teteup film yang fun kok (senggaknya untuk fans dia), tapi udah “Raditya Dika banget nget nget”. Kisah semi-otobiografi dan lawakan yang ngolok-ngolok diri sendiri (self-deprecating jokes), tentang kejombloan, yang berakhir pada self-recovery. Nilai tata produksi (production value)-nya pun masih kayak FTV plus plus, yang salah satu ciri khasnya adalah kualitas antara para pemeran utama ama pendukung dan ekstranya jomplang banget yang kemudian gak naikin nilai filmnya.

Gue tertarik nonton Hangout abis ngeliat trailer pertamanya, yang seolah-olah ngejual film ini sebagai thrillerwhodunit  (atau kalau diibaratkan lagu itu kayak lagu jadul “Ai..Ai.. Siapa dia (pelakunya)?”) ala-ala kisah novel klasik misteri karangan Agatha Christie yang judulnya And Then There Were None yang sempat diadaptasi ke film jadul berjudul sama keluaran tahun 1945 dan film yang judulnya Ten Little Indians (1965). Masih banyak lagi sih adaptasinya, lo bisa Googling aja. Trus adegan di meja makannya juga ngingetin gue ke adegan di meja makan di film The Last Supper (1996) yang salah satu bintangnya itu Cameron Diaz.

Jeleknya kalo udah punya gambaran referensi cerita film pas mau nonton sebuah film, kita-kita biasanya udah punya patokan. Udah punya standar. Istilah kerennya “sudah punya ekspektasi”. Kalo pas nonton filmnya gak sesuai “standar” itu, kita bisa kecewa. Bisa misuh-misuh, bisa bad mood atau bahkan ada yang putusan ama yayangnya (ini lebay, sih). Tapi, beneran emang gak enak kalo nonton film yang kagak sesuai harapan di bioskop. Tiketnya udah mahal, belum lagi biaya jajannya (curcol).

Nah, yang bikin punya pengharapan ke Hangout itu berbahaya karena trailer-nya udah nge-set tone (apa ya terjemahan enaknya untuk tone?) yang berbeda dari kebiasaan film-filmnya Dika sebelumnya. Bayangin thriller cari-carian siapa pelakunya dicampur ama komedi gaya Dika. Kebayang, gak? Gak kan? Sama kok kayak gue awalnya.

Tapi, untungnya gue selaw pas nonton ini. Pikiran gue coba gue jembrengin segede mungkin, kayak buka jendela lebar-lebar biar udara bebas keluar masuk. Gue gak mau pikiran gue fokus ama gaya Agatha Christie itu.

Hasilnya? Gue suka filmnya.

Jadi inti cerita Hangout itu tentang sembilan artis beken yang nerima undangan misterius dari orang yang namanya Tonni P. Sacalu. Kayak judulnya, kesembilan orang ini diajak untuk hangout (ngumpul-ngumpul di luar sampe nge-hang). Tadinya gue pikir undangan pesta resepsi nikah, karena desainnya pake font berukir-ukir warna emas gitu. Ternyata undangan itu ngajak sembilan artis beken untuk ke sebuah pulau.

Nah, sembilan artis itu adalah: Raditya Dika, komika plus aktor segala bisa yang lagi kesulitan duit; terus ada Soleh Solihun, komika dan bintang film yang sekarang mandu acara tipi yang menurut dia nggak dia banget; terus ada Titi Kamal, ya Titi Kamal dari AADC itu; trus ada Gading Marten; Dinda Kanya Dewi, yang joroknya ampun-ampunan; Surya Saputra, yang kayaknya masih kebawa perannya di film Arisan; Mathias Muchus, aktor kawakan senior yang di sini kocak bingit; komika narsis yang kerjaannya bikin vlog dan punya logat Jawa medok, Bayu Skak; ampe yang terakhir dan paling imut, Prilly Latuconsina, artes mantan pemain sinetron hitzzzzz (z-nya musti banyak emang) Ganteng Ganteng Srilangka, eh Serigala.

Kesembilan artis ini dijanjiin bakal dapet duit gede, bahkan udah ada uang panjer segala, buat dateng ke sebuah pulau terpencil yang cuma bisa dijangkau dengan kapal pesiar yang jadwal singgahnya cuman 3 hari sekali. Mereka sih awalnya mikir kalo mereka bakal dikasih proyek film, meski ada yang ragu juga kok mau nyari pemain aja ribet kayak gini. Tapi, Om Muchus bilang kalo pas zaman dia dulu, juga ada produser yang modelnya kayak gini, karena emang kalo orang super tajir biasanya kelakuannya makin nyentrik. Jadi ilanglah keragu-raguan mereka.

Tapi, pas nyampe pulau, mereka kaget karena kagak disambut oleh siapapun. Pulaunya sepi pake banget kagak ada orang. Lebih kaget lagi (ini udah ada di trailer jadi kagak spoiler lagi), pas ada yang ninggal. Terus abis satu ninggal, ada yang lain lagi. Nah, kesembilan artes ini kemudian mesti nyari tau siapa sebenarnya dalang di balik pengundangan ini dan siapa sih yang ngundang itu?

Kesannya serius dan serem, kan? Padahal kagak, sumpe! Film ini ringan dan tanpa beban. Kalo lo emang penggemar Dika, masih masuk ke film ini karena emang masih Dika banget. Yang bikin gue suka, film ini  fun tapi sekaligus nunjukin kalo Raditya Dika itu cinta ama medium storytelling dan bisa masukin berbagai referensi ke dalam becandaannya dia, tanpa keliatan pengen dianggap pinter. Dika masih pake gaya becandaannya dia (karena kayak biasanya Dika ya jadi “Dika” sendiri di film ini); mukanya yang minim ekspresi; sampe kerelaan dia jadi bahan olok-olok.

Ada tuh satu dialog pas Surya Saputra ngecengin Dika ke Om Muchus tentang “akting Dika yang lempeng-lempeng aja mulu dari film ke film”. Jujur aja, apa yang diucapin ama Surya ke Dika itu kayak ngewakili (yang gue yakin banyak banget) orang-orang yang punya pikiran kayak dia. Gue yakin banyak penonton yang punya pikiran kritis juga mikir kalo akting Dika itu gitu-gitu aja.

Tapi, gue mencoba berpikiran “fair” (bukan Jakarta Fair apalagi kosmetik yang pake tagline “fair and lovely”). Cara Raditya Dika berakting di film memang merupakan cara dia untuk ngebangun imejnya sebagai brand atau merek. Sedari awal, imej Dika memang dibangun sebagai (menurut ANAlisis sayaaa kalo kata sentilan-sentilun) pemuda yang galau, suka mengamati, punya pikiran kritis, agak-agak laid-back, nggak sungkan mengolok diri dewe, tapi pas ngomong orang-orang cenderung akan tertarik karena ada semacam enerji magnetis (alah bahasa gue). Gue punya teman kayak Dika pas SMA, yang gak jadi pusat perhatian (malah cenderung jadi outsider kalo lagi ngumpul), tapi ada daya tarik tersendiri dari dia. Kalo ngebanyol kadang jayus, tapi ekspresi wajahnya yang konyol-konyol lugu tetep paling nggak bikin orang senyum. Tipikal orang yang memang susah buat orang nganggap dia serius, tapi sebenarnya dia serius. Nah, Dika tuh menurut gue tipikal orang kayak gitu dan dia gak tertarik buat ngubah imejnya, meskipun pas tampil di film. Kalo menurut gue, Dika itu bukan aktor profesional karena basically dia jadi dirinya sendiri di film. Meskipun saya gak yakin apakah itu benar-benar dirinya yang di film atau cuma “meminjam” namanya aja sebagai personifikasi, sedangkan karakteristiknya disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Jadi wajar kalo kita (mungkin) gak akan nemuin Dika berakting ala “method actor” yang sampai mengubah gaya bicara atau jadi karakter di luar kebiasaannya.

Nah, apa yang diucapin Surya Saputra ke Dika itu ngingetin gue ke film This Is The Endnya Seth Rogen yang keluar tahun 2013. Di salah satu adegan awal film itu Seth Rogen, yang sedang ngejemput sahabatnya Jay Baruchel di airport Los Angeles, dihadang oleh seorang wartawan video yang nanyain dia tentang akting dan karakter Seth yang juga sama di setiap film. Wartawan video itu bahkan meminta Seth agar dia ngepraktekin cara ketawa dia yang khas banget itu. Gue ngeliat Dika itu (di film Hangout) kayak Seth Rogen, “aktor” yang sudah punya ciri khas yang gak mau dia ubah. Mereka juga sama-sama sering bikin film atau nulis naskah based on pengalaman dia pribadi, kan? Sama kayak Woody Allen juga.

Ngomongin This Is The End, Hangout itu sebenarnya make formula film yang ditulis dan disutradarai oleh Seth Rogen ama Evan Goldberg itu. Sama-sama make berbagai artis terkenal yang make nama mereka sendiri (bukan nama karakter hasil rekaan), sama-sama film komedi, sama-sama banyak inside jokes di kalangan selebritis, dan sama-sama banyak referensi ke film-film yang jadi bagian dari pop-culture.

Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film, biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.

Hangout punya lebih dari dua elemen yang menunjang dia sebagai meta film. Kayak di adegan pembuka, saat Raditya Dika digambarin sebagai bintang film eksyen yang sedang syuting sebuah proyek yang terkendala masalah finansial atau pendanaan. Di tengah-tengah istirahat syuting (shooting break), Dika juga dapat pertanyaan dari wartawan soal kesulitan finansial yang menimpa filmnya.

Juga ada dialog antara Dika dan Om Mathias Muchus di kamar saat mereka sudah sampai di villa tempat tujuan mereka. Om Muchus yang coba jadi penengah keles antara Dika dan Soleh Solihun gara-gara kasting sebuah proyek film, ngucapin satu kalimat yang bagus banget, “ Film itu masalah jodoh. Film yang cari kita, bukan kita yang cari film”.

Karakter Dinda Kanya Dewi (yang di film ini diliatin sebagai cewek yang jorook banget), juga ngucapin dialog yang sebenarnya merupakan sindiran atau curhat dari para bintang film/sinetron yang sering dianggap benar-benar mewakili karakter mereka di layar oleh penonton. Pas Gading Marten ngecengin dia yang aslinya gak kayak yang terlihat di film atau sinetron,  Dinda Kanya bilang gini, “ ..Di depan kamera itu, kita penuh kepalsuan. Kita memberikan citra yang publik inginkan.” Menurut gue dialog itu cerdas. Bukan karena kata-katanya yang puitis atau dramatis atau apa, tapi dialog itu sesuai konteks filmnya.

Masih kurang bukti kalo Hangout ini film meta? Karakter Bayu Skak yang digambarin sebagai orang yang demen banget dan keranjingan ngerekam dirinya sendiri untuk dokumentasi vlog-nya. Di sini, Bayu Skak sering berdialog dengan audiensnya melalui kamera smartphone-nya, seolah-olah dia ngajak ngobrol penonton. Atau istilahnya breaking the fourth wall. Nah, salah satu ciri meta film itu adalah ada momen yang memungkinkan karakternya untuk break the fourth wall. Di This Is The End pun ada adegan kayak yang Bayu Skak lakukan. Saat James Franco dan kawan-kawan merekam mereka sendiri lewat camera video, tentang karakter Danny McBride yang ngabisin makanan mereka. Dan sebenarnya masih banyak lagi elemen-elemen yang mendukung Hangout sebagai meta film yang akan bikin jari jemari gue kena encok kalo dituruti.

Kalo yang gue baca dari komentar-komentar orang yang udah nonton Hangout (entah itu dari Twitter atau grup-grup percakapan di hape), mereka kebanyakan sudah terperangkap ama apa yang ditampilkan di trailer, kalo film ini akan menyuguhkan cerita dalam treatment ber-genre thriller dalam plot ala-ala Agatha Christie. Artinya penonton sudah membentuk satu pengharapan kalo film ini bakal penuh misteri pelik dan rumit, yang akan membuahkan pada plot twist atau pelintiran cerita yang bakal bikin kita teriak, “WTF!!”

Hangout memang menyajikan plot twist , tentang siapa sebenarnya pembunuh di film itu. Tapi, jujur aja, gue udah bilang ke ViJo siapa penjahat di film ini bahkan sejak seperempat filmnya baru jalan. Sangat sangat ketebak. Tapi, Hangout bukanlah film yang disengaja untuk ngikuti film-filmnya Joko Anwar, Christopher Nolan, atau Park Chan-wook. Bukan sama sekali. Hangout lebih sebagai sebuah satire atau bahkan bisa disebut sebagai parodi. Persis sama kayak This is the End. Bedanya, kalo This Is The End memakai sub-genre scif-fi apocalypse sebagai frame cerita, Hangout pake sub-genre thriller whodunit sebagai frame-nya. Hanya sebagai frame, bukan sebagai pondasi utama cerita. Karena selebihnya, Hangout, kayak This Is The End, adalah film yang dikendalikan secara “seenaknya” oleh Raditya Dika sebagai penulis dan sutradara, serta didukung oleh kegilaan para aktor di dalamnya. Jadi, Hangout  ini bersenang-senang atas premise dan frame yang dipakainya.

Sama kayak This Is The End yang penuh referensi dan nods ke berbagai film dan budaya pop, mulai dari film-film John Carpenter, film-filmnya Set Rogen sendiri, film-film Steven Spielberg, Harry Potter, ampe ke Backstreet Boys, Hangout juga dipenuhi oleh referensi.

Kalo yang gue liat, ada referensi ke film-film mo lei tau-nya Stephen Chow di era 90-an. Itu film-film yang dulu sering banget diputer di tipi swasta kita saat masih suka muter film-film Hong Kong malem-malem. Film Stephen Chow ‘kan dipenuhi adegan slapstick lebay, tapi kocak luar biasa. Nah, yang gue lihat, referensi ke Stephen Chow itu ada di karakter Dinda Kanya Dewi. Pas pertama kali ngeliat Dinda di film ini, gue bilang ke ViJo kalo karakternya ngingetin gue ke Sandra Ng, aktris kocak yang sering kerja bareng ama Stephen Show. Di film-film Chow, Sandra Ng sering kali digambarin sebagai cewek norak, jelek dan sering jadi korban buat adegan lucu. Nah, Dinda Kanya Dewi itu mirip banget ama karakter Sandra Ng. Sampai di suatu titik, gue bisa nebak kapan Dinda bakal kena sial.

Referensi lain yang gue temukan di Hangout adalah ke AADC, sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, film horor Scream-nya Wes Craven, film horor I Know What You Did Last Summer, hingga ke musik yang sering pake cue music di film horror thriller 70 dan 80’an, hingga ke musik bergaya Baroque ala komposer Danny Elfman di film-filmnya Tim Burton.

Di salah satu grup percakapan, ada yang bilang kalo gue “overthinking” soal film Hangout. Gue sih gak merasa kalo gue overthinking. Overthinking itu, kalo menurut gue, adalah memaksakan berpikir secara berlebihan ke sebuah permasalahan (dalam hal ini film) yang kagak ada relevansi atau hubungan secara kontekstual ke hal yang dibahas atau yang dicermati.

Di Hangout, gue menemukan dan menyadari berbagai hal itu benar-benar secara organik dan natural, di mana gue bisa menikmati filmnya dan tertawa, tapi bisa ngenalin lapisan-lapisan yang ada di film ini. Dan menurut gue di situlah letak kecerdasan Hangout. Filmnya fun, ringan, nyambung ke penggemar Dika, tapi bisa dinikmati juga oleh gue yang kebetulan bisa melihat apa yang ditawarkan Dika. Dia bisa masukin berbagai referensi itu tapi terasa koheren ama dunia yang dibangunnya.

Salah satu kelebihan Hangout dalam membawa filmnya dari awal sebagai metafilm adalah bahwa kita sebagai penonton tak bisa mempersoalkan kesahihan logika naratif di filmnya. Atau istilah kerennya kita dibuat untuk memakan dan mencerna dispension of disbelief. Sedari awal film ini sudah ngasih peringatan (yang gak kentara kalo di mata penonton awam, memang) kalo film ini adalah tentang film. Dan film adalah ilusi, atau bagi Dika ini adalah mediumnya untuk bersenang-senang atau hangout dengan kawan-kawannya. Jadi, sah-sah aja kalo di tengah-tengah film Dika, Surya, Gading, Soleh, ama Bayu Skak main drama-dramaan Bawang Putih Bawang Merah.

Dan yang patut juga gue sebut adalah gue ngerasa kalo di film ini, Dika terasa hangout sama medium storytelling di film.

Dika sebenarnya gak baru dalam masukin elemen metafilm dalam filmnya. Di Cinta Brontosaurus, dia juga jadi filmmaker dan ada salah satu scene di mana dia ngehadiri premiere sebuah film.

Yang bikin gue bilang Hangout sebagai film cerdas adalah di sisi bagaimana Dika masukin berbagai referensi dan olok-olok dalam dialog dengan halus dan sesuai konteks. Di Twitter dan grup percakapan, banyak yang mempermalasahin pengungkapan twist plot-nya yang gak haluslah, nggak meyakinkan secara logikalah, en des kaw en des kaw. Tapi, plot twist itu sesuai konteks. Gue gak akan ngasih tau, tapi gue akan kasih petunjuk yang mendukung alasan gue.

Kenapa plot twist itu gue bilang sesuai konteks? Karena memang sesuai dengan kelebayan karakter. Sudah itu aja. Jadi wajar kalo plot twist-nya kemudian lebay, karena memang sesuai dengan kelebayan si pelaku.

Cuma memang gue gak suka sama epilogue film yang mencoba membawa penonton ke konklusi permisif, seolah pengen minta maaf dan pengen ngasih “pesan moral” (jujur, gue rada-rada gadeg gimana gitu kalo nemu orang yang nanya, “Pesan moralnya apa?” pas abis nonton film). Meskipun masih masuk dengan semangat dan tema “persahabatan”, gue pikir akan lebih asoy geboy kalo emang dibawa aja sekalian gila epiloguenya. Jadi gak ada kesan untuk memasukkan “pesan moral” ke film.

Yang gue suka lagi dari Hangout adalah gimana film ini nunjukin sense of directing Dika yang selama ini sering diremehin (gue jujur aja termasuk yang ngeremehin). Di film ini, Dika tau gimana ngebangun suspensi lewat visual storytelling dan itu keliatan banget emang sebagai referensi ke berbagai film. Kayaknya Dika di sini nonton banyak film, terus tekniknya dipakai di Hangout.

Ada satu momen saat Dika make teknik “vertigo” atau “zolly” untuk ngehadirin ketegangan di salah satu karakter kunci. Juga gimana Dika ngambil berbagai shot dan ngerangkainya untuk ngebangun ilusi tempat terpencil. Shot di Hangout terasa mantap dan percaya diri.  Saat satu momen ada aerial shot diambil lewat drone, gambarnya pun mantap dan nggak pecah.

Yang istimewa juga dari Hangout adalah gimana Dika bisa ngejaga atmosphere suspense thriller-nya, sehingga perilaku karakternya yang ajaib mengundang tawa. Sama kayak karakter Dika yang gue tangkap di film ini, mencoba serius, tapi gak bisa dianggap serius. Atmosfirnya dijaga serius, tapi materi lawakan dan set-up-nya digeber hampir nonstop sepanjang film.

Aktor-aktor di film ini juga yahud. Gue sih kayak ngeliat mereka emang gak main film, tapi jadi diri sendiri. Meski istilah “jadi diri sendiri” juga gak tepat, karena mereka masih akting, kok. Bedanya mereka rileks.

Gue gak percaya kalo Dinda emang kayak gitu atau gak yakin ada artis yang joroknya minta ampun kayak gitu. Atau Surya Saputra yang masih kejebak ama karakternya di Arisan. Itulah nikmatnya Hangout. Kayak This Is The End, pilihan untuk para karakternya memakai nama mereka sesungguhnya membuat batasan antara ilusi dan kenyataan jadi kabur. Ada sentuhan realisme jadinya. Kayak para artis ini pengen ngeledekin dan ngolok-ngolok satu sama lain (atau mungkin juga nyindir orang lain), tapi dalam bingkai komedi satire. Kasian amat hidup lo, kalo lo gak bisa nerima komedi sebagai jokes dan nganggapnya kelewat serius.

Itulah yang bikin Hangout ini punya enerji yang nyenengin.

Aktor-aktor di sini emang penampilannya luwes-luwes. Tapi gue teteup punya favorit. Favorit gue si Soleh Solihun ama Bayu Skak. Soleh karena dia bisa nunjukin kalo dia punya dramatic side (gue yakin dia bisa dikasih peran serius setelah nonton film ini. Kayak pas Stephen Chow main di film CJ-7). Gue juga suka Bayu Skak karena dia bisa nunjukin akting nangis dan frustasi secara mengejutkan kecenya.

Ada beberapa momen memang di mana Hangout keliatan mengendur di pace dan ritme. Kayak pas adegan Dika dan Soleh saling curiga itu ada yang bisa di-cut tanpa ngeganggu filmnya. Tapi secara keseluruhan film ini berhasil jadi lucu, menyenangkan dan sekaligus cerdas.

Ada yang memang gak suka film ini. Itu tadi, kemungkinannya mereka gak bisa ngelepas brand-nya Raditya Dika. Mungkin juga karena udah kelanjur kemakan oleh asumsi film ini akan kayak Agatha Christi banget. Atau mungkin juga gak nangkep referensi atau olok-olok yang film ini coba lakukan.

Tapi, biarpun gitu, Hangout adalah bukti kalo Dika memang punya bakat yang gak bisa disepelein. Ini filmnya yang paling “bener” secara filmis (termasuk Cinta Dalam Kardus) dan di mana dia mau bereksperimen, tapi gak keluar dari core-nya. Kayak versi dodolnya Janji Joni, filmnya Joko Anwar, yang juga satire dan metacinema.

Gue sih ama ViJo ngerasa ngalamin pengalaman meta juga pas nonton  film ini. Gue hangout sambil nonton film Hangout.

(4/5)

Di repiew di Lotte Avenue XXI, pas tanggal 22 Desember 2016 barengan @ViJo

Untuk list crew dan casts, kali ini Googling aje-yee. Kemaren lupa nyatet, karena keburu keluar bioskop akibat kelaperan.

Advertisements

THE BEATLES : Eight Days A Week – The Touring Years Review

“Directed by an Oscar winning filmmaker, Ron Howard, Eight Days A Week is not only a collection of footages and images. It tries to unveil a mystery. A mystery of why The Beatles has emerged as the humongous undeniably most popular band on Earth. In the end, it doesn’t really unveil the mystery. But it brought us to an experience.”




“..At the beginning, things were really simple”, says Paul McCartney through his voice while the footage of The Beatles playing at ABC Cinema, Manchester in 1963, appeared on the screen. But all that they did was anything but simple. They created an epidemic called “The Beatles Maniac”. They created hysteria.

McCartney’s voice was attached to the montage of shrieking teenagers who were attending the gig. They were screaming at the top of their lungs, expressing their hysterical feeling on every single little action The Fab Fours members were doing on stage. These teenagers adored their hairdo, their singing style, their confidence and their fabulousness. They were thinking that The Beatles represented them. Sure, they did. And The Fab Four was singing “ She Loves You” to all those shrieking teenagers. Most of them were females. Of course, the song only brought more explosive effect to them. As every word was sung, the volume of their screaming was increasing. Louder and louder.

That was a brief illustration from Eight Days A Week, another documentary movies about The Beatles. The original Fab Four. It’s easy to see this movie as a glorification for the most popular band in the history of pop culture. It does glorify them. But I see it as more as the juxtaposition on a well-known fact. The fact of The Beatles is one of the most influential musicians of all time.

Directed by an Oscar-winning filmmaker, Ron Howard, Eight Days A Week is not only a collection of footages and images. It tries to unveil a mystery. A mystery of why The Beatles had emerged as the humongous undeniably most popular band on Earth. In the end, it doesn’t really unveil the mystery. But it brought us to an experience. An experience I, as the much younger generation, didn’t have an opportunity to be into. A cinematic experience that Ron Howard successfully delivers the images and footages tailored into a narrative. Like he did in Rush (2013), a biopic movie that showed us his perfection details in sound design. In that movie, we could hear every single detail of sounds of a Formula One engines burst into work. And the fact that the opening footages were taken from The Beatles concert in ABC Cinema, is an homage to cinema. A great start for the cinematic joy we’re about to witness.

Using the concept of ‘crowd sourcing”, the project itself, then, can be seen as a manifestation of love and admiration for The Beatles. Through the eyes of their fans, reflecting The Beatles as the fuel for their life as the inspiration. An inspiration that—later we will recognize—triggered some of important political and society events in history.



A Crowd Sourcing Project

Eight Days A Week began in 2002, when producers called out the hardcore fans for their own documentation of events related to The Beatles. Ron Howard then came on board in 2013 suggesting the idea of putting together those documentations into a movie that spans The Fab Four’s career until their final ticketed concert at San Fransisco’s Candlestick Park in August 1966. The era when they were touring 25 days in a month in 25 cities in the US alone.

Using the concept of ‘crowd sourcing”, the project itself, then, can be seen as a manifestation of love and admiration for The Beatles. Through the eyes of their fans, reflecting The Beatles as the fuel for their life as the inspiration. An inspiration that—later we will recognize—triggered some of important political and society events in history. The inspiration for some of the big names who voluntarily gave their testimonies. Big names like Sigourney Weaver, Howard Goodall, to Whoopi Goldberg.

The appearance of Whoopi Goldberg giving her testimony in Eight Days A Week, brings such a delicate joy to me. There’s a little bit of “ Sister Act connection” here. I remember watching Sister Act (1992), a musical movie whom Goldberg starred in, back then when I was a little kid. There’s scene when little Dolores, a character Goldberg played in that movie, answered a question from her teacher. The teacher asked her who Jesus’ apostles are. The little Dolores then named “John, Paul, George and Ringo”, instead of naming the actual apostles. I burst into laugh to that scene. A brief scene that introduced me to the knowledge of how influential The Beatles really was.

Whoopi Goldberg provides her commentary from another perspective. The perspective of people of colors. A commentary from people who experienced an era when the United States practiced the “segregation policy”. A policy that would not allow African Americans be in the same venue with the white citizens. At one scene, Goldberg said that, “… The Beatles were colorless”. An African-American historian, Kitty Oliver who also provides her testimony, recalled her memory being able to attend their un-segregated concert in Jacksonville, Florida, on September 11, 1964, without having a concern about “ being a black teenage girl among white girls”. Their music gave her hopes. The music without limits and boundaries. A music sans frontiers.

In reviewing a documentary about a fascinating subject like The Beatles, it’s so easy for us being trapped in our subjectivity. I, myself, am familiar with their songs. I even follow their story. Mostly through their songs. Put all the subjectivities aside, Ron Howard successfully recaptures the atmosphere and the ambiance of events that’s been separated by decades from us. I can feel the crowd. I can sense the heat in the stadium where thousands of people gathered cheering and applauding. At some moments, I even can feel the sweat Paul McCartney produced in that famous suit. I can feel the hysteria. I can feel the massive amount of stress (and overwhelming feeling) The Beatles members were experiencing when they were performing.

It’s all due to the quality of storytelling.

“But what is more astonishing about Ron Howard’s documentary is the way he put a full respect to the original material. He understands that all of those documentations are too precious to be presented in such a raw concept. Instead, he enhances them.”



The Powerful Cinematic Experience That Celebrates A Good Life

The quality that emerges from how diligent the editor was in tailoring thousands of footages and images into a relatively comprehensive story. Some documents are precious and never-before-seen. We will see a Super 8 shot from a woman who attended their concert at Candlestick Park in November 1966. We will see some casualties in their concert where young female teenagers got passed out and bleeding when they attempted to break the barricades. We even will see the young Sigourney Weaver was shot by a camera when she attended one of their concerts. The footages are precious. The editing should be cherished.

Under Howard supervision, they filmmakers perfectly attached recorded voices of The Beatles members when they were doing interviews. Or when they were in the famous Abbey Road studio recording their albums. We can hear how cheeky and playful they were. Young spirits who just happened to do what they love to do. Created hundreds of songs that later will be regarded as some of the best. Songs that coincidently enhances the moments we will watch on screen.

Ron Howard was smart enough in presenting the footages of The Beatles in tandem with political events. The day John F. Kennedy was shot; The moment when there were a riot and demonstration from black people. It would give us a view of their music relevance to the political movement. The recorded interview that will lead us to the knowledge that Beatles themselves was against the segregation policy.

“It just seemed mad to me,” John Lennon said.

But, Ron Howard still gives room for their egotistical side. We can hear Paul McCartney’s admission that, “…we were more in our heads,”. Withal, they were just a bunch of young boys who enjoying their overwhelmingly popularity.

We can also see Paul McCartney and Ringo Starr, the only two key members of The Beatles who still alive, as they speak about what they felt during the hectic era. Howard assembles a hearty set of talking heads in this documentary, recalling their collective memories in series of engaging interviews about witnessing themselves as the biggest band in the world.

Ron Howard also didn’t forget to bring us back to the core of The Beatles. The core is a man  whose name is Brian Epstein, a legendary manager who brought them to the peak of their career. We are provided a glimpse of his contribution. But he forgets to bring the ex-members like Pete Best and Stu Sutcliffe to the plate. They are completely dismissed and ignored. It’s an ironic eventually since they also contributed a huge part to The Beatles in the early of their career.

But, there’s a little bit of humor too. The moment when an American journalist had mistaken John Lennon with “Erick”. Or when George Harrison used John Lennon’s head as the ashtray. And Howard also brings the cinematic tribute, as we can see the appearance of Richard Lester, a filmmaker behind The Beatles movies,  A Hard Day’s Night (1964) and Help! (1965). Combined with clips from those movies, Lester recalled the chaotic moments he experienced when filming them.

We get a little knowledge (once again) when Ringo says they actually didn’t earn much money from their albums. Albeit, they collected greens from their vinyl sales.

If you’re a huge fan of The Beatles, there are nothing much more revealing facts in Eight Days A Week actually. You would probably know all the facts and information Ron Howard was trying to serve. We all know the out-of-context “The Beatle is more popular than Jesus” John Lennon was once said in an interview. You would also probably know that later in 1966, they decided that they were already enough. Or the fact that, later, they shifted their music into a more spiritualism one. As we can find in their “Revolver” album (my most favorite and their real “magnum opus”), when they put India sitar melody into some of their songs.

But what is more astonishing about Ron Howard’s documentary is the way he put a full respect to the original material. He understands that all of those documentations are too precious to be presented in such a raw concept. Instead, he enhances them. The color and sound are crystal clear. The result is vividly coming from the process of restoration. It feels like all of those footages and images and sounds are just taken recently. For this kind of quality, I also see Eight Days A Week as a celebration of highest achievement in technology. A celebration to the treasure in our culture history.

I said this in aforementioned paragraphs that Eight Days A Week doesn’t really unveil the mystery. The mystery that’s been surrounding what made them so wildly popular until today. But it does bring us to another understanding.

“Why do they scream?” a reporter asked the Fab Four in a footage. John Lennon and all of his fellow spontaneously answered, “ I don’t know!”. The expression was not only coming from their mouths but also from their gestures. There’s such a genuine & spontaneous honesty from the way they answered it. I believe they didn’t know. We still don’t know either.

In an interview, Howard Goodall (composer, Mr. Bean) says that volume isn’t really what The Beatles all about. The extraordinary thing about The Beatles is the amount of great melodious songs they’ve produced.  Among their hundreds of songs, around a hundred of them are great. Goodall later compares The Beatles to Mozart. It is not an exaggeration. It is a fact. And I agree on it.

All great songs The Beatles has produced that unites people. No matter where they are coming from. No matter what’s age. No matter what’s era. In Eight Days A Week we will see thousands of audiences in a footage taken from a football match in Anfield Stadium, in Liverpool, on April 16, 1964. They were all men united in one single harmonic voice singing “She Loves You”, the same song that brought hundreds of female teenagers into a mass hysteria at the beginning of the movie.

That footage was a huge contrast. A huge contrast that shows how The Beatles could bring thousands of people in a togetherness. It shows what a good music can do.

“ A lot of people thought we were an overnight sensation. We weren’t. People didn’t realize we all had this development. The just saw before…things. … and these all that we’ve been just doing. All these years. Previously, “ McCartney says again from the footage we previously saw when they performed at ABC Cinema. We are witnessing how powerful of Fab Four was. And still is. More than four decades after the gig, The Beatles has become a part of history. They are the phenomenon. Their songs will always speak about something. Their songs are still powerful and sung over and over again. Their music is universal and timeless. Newer generation relates to their songs. They still speak and represent a story. The Beatles isn’t just an overnight sensation. They are not only a bunch of attractive male teenagers who played music. They all are a group of talented musicians who worked hard and had discipline. They played something that they loved and they knew. They’ve created a culture. They’ve set the bar.

It’s kind of odd enough after watching Eight Days A Week, I’m thinking that it actually has a relevance to how we see young pop stars in the making today. It also works as a social commentary on how we–people who proclaim ourselves as the much better generation in terms of music–like most critics and media saw The Beatles when they first arose as a music sensation. They were underestimated. The same case with most of us cynically undervalued Justin Bieber, Miley Cyrus and other young pop sensations. In fact, we’ll never know where the wind is going to blow. Perhaps, someday today young artists will establish themselves as legends in the future. No one will ever know. We only have to wait. Wait for the times will tell if they will continue producing some other great works.

The film was closed by the footage of them playing “Don’t Let Me Down” from The Black Album. They performed it at the rooftop of their office. But, the 3o minutes of their restored concert footage in Shea Stadium, New York, in 1963 is the true gem. As the final credits rolls, you can hear McCartney’s and Harrison’s harmony backing Lennon on “Help!”, as well as Harrison’s guitar playing through in between. You can even saw the playfulness from Lennon, as he played the organ with his elbows. The audio and sound are remarkably wonderfully clear. It’s the real gem we’re, as the newest generation, experiencing.

And we couldn’t celebrate more like we can do with Eight Days A Week. She loves them. He loves them. We still love them. Like McCartney said, “ It’s not a culture. It’s a good life,”

Yeah, the movie will make us to value history, great songs and a good life. Yeah, yeah, yeah!

(4/5)

Reviewed at Cinemaxx Theater on October 20, 2016

Running time : 138 minutes

Imported and distributed for Indonesia market by PT. Athali Sukses Makmur.

A Hulu Documentary Films (in U.S.)/Studiocanal (in U.K.) release of a The Beatles’ Apple Corps Limited/Studiocanal/PolyGram Entertainment presentation of a White Horse Pictures, Imagine Entertainment production, in association with Diamond Docs.

 Producers: Brian Grazer, Ron Howard, Nigel Sinclair, Scott Pascucci.

Executive producers: Jeff Jones, Guy East, Jonathan Clyde, Nicholas Ferrall, Michael Rosenberg, Paul Crowder, Mark Monroe.

Co-producers: Matthew White, Stuart Samuels, Bruce Higham.

Director: Ron Howard.

Writer: Mark Monroe

Camera (color): Michael Wood.

Editor : Paul Crowder.

With : Paul McCartney, Ringo Starr, Larry Kane, Whoopi Goldberg, Elvis Costello, Richard Curtis, Eddie Izzard, Sigourney Weaver, Neil Aspinall, Richard Lester, Kitty Oliver, Derek Taylor, Howard Goodall, Jon Savage, Ed Freeman.