Target Review: Komedi? Thriller? Tidak Kedua-duanya

“…Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.”




Target, film komedi ansambel terbaru yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika, mengikuti konsep film Hangout (baca ulasannya)—juga dari Raditya Dika—yang dirilis pada tahun 2016. Kedua film tersebut mengusung konsep “high concept comedy”, sebuah konsep dalam penceritaan yang lebih mengutamakan “plot” ketimbang mengedepankan pengembangan karakter. Kedua film Raditya Dika tersebut dibangun atas sebuah gagasan tentang “beberapa karakter yang terjebak bersama dalam sebuah situasi pelik yang memaksa mereka satu per satu harus menemui ajal”.

High concept comedy yang menggabungkan komedi dan thriller berhasil dieksekusi oleh Raditya dalam Hangout di mana menghasilkan sebuah film yang masih terasa memiliki “kedekatan personal” dengan dirinya, sementara di sisi lain dia bisa mengeksplorasi ranah sinematis baru. Hangout menjadi sebuah eksperimen yang menurut saya berhasil.

Lewat Target, Raditya Dika kembali berusaha mengulang formula yang sama di Hangout setelah sempat kembali kepada bentuk penceritaan yang lebih “konvensional” dan dekat dengan jenamanya sebagai sineas dan pencerita di The Guys (2017). Tetapi, sayang seribu sayang, Target membuktikan bahwa formula dan konsep boleh diulangi, namun hasil akhirnya tidak bisa menyamai.

Sama seperti Hangout, Target menceritakan tentang sembilan selebriti yang mengikuti sebuah undangan yang terkait satu proyek film. Bedanya, hanyalah medium undangan (di Hangout menggunakan surat, di Target menggunakan surel) dan juga sosok para selebriti yang dilibatkan.

Dalam Target, kesembilan pesohor itu adalah: Raditya Dika sendiri; Hifdzi, komika berbadan subur; Cinta Laura Kiehl, mantan Radit yang mencoba mengejar karir di Amerika; Ria Ricis, Youtuber idola anak muda; Samuel Rizal, aktor lawas “macho” yang bahkan menyempatkan diri latihan beban sembari menyetir mobil; Willy Dozan, aktor laga lawas yang kini “ngondek” dan mengubah namanya menjadi “Wince”; Romy Rafael, seorang ilusionis; Abdur Arsyad, juga seorang komika; dan Anggika Bolsteri, seorang perempuan muda cantik yang, sejujurnya, saya tidak mengenal siapa dia sebelum ini. (Perkembangan terkini, setelah mencari tahu melalui Google, saya baru tahu kalau Anggika ini adalah seorang aktris sinetron).

Kesembilan orang ini kemudian berkumpul di sebuah lokasi (yang sepertinya terpencil) dan kemudian terjebak pada sebuah permainan hidup dan mati ala film waralaba Saw, yang dipimpin oleh seorang gamemaster. Mereka harus melewati beberapa fase permainan, di antaranya melibatkan Russian Roulette dan tebak-tebakan konyol. Peraturannya sederhana, peserta yang meninggal secara otomatis akan habis perannya.

Seperti Hangout, Target juga melibatkan sebuah plot twist yang diungkapkan melalui metodologi “parlor scene”, sebuah teknik penceritaan yang umum ditemui di film ber-genre thriller whodunit. Sebuah teknik yang dipopulerkan di sinema lewat, salah satunya, film klasik arahan Alfred Hitchcock, Psycho.

Target dibuka dengan sosok korban selamat yang mengenakan perban di seluruh tubuhnya dan dia lalu menceritakan kejadian yang dialami kepada dua orang polisi (salah satunya diperankan oleh Ence Bagus), melalui teknik framing device yang menciptakan ilusi nested stories, yaitu cerita dalam cerita. Contoh yang baik dalam penggunaan teknik ini bisa ditemukan dalam volume kedelapan novel Neil Gaiman, The Sandman, yang berjudul World’s End yang juga mengisahkan sekelompok pelancong yang terjebak dalam sebuah penginapan dan lalu saling menceritakan sebuah kisah satu dengan yang lain.

Contoh lain dari penggunaan framing device yang baik dan tepat guna dalam medium film adalah kisah wuxia yang dirilis tahun 2002, Hero, arahan Zhang Yimou.

Dalam Target penggunaan teknik framing device berfungsi sebagai interrogative frame di mana kisahnya dituturkan oleh salah satu aktor penting dalam kisahnya. Penggunaan teknik tersebut dalam kisah whodunit memiliki resiko karena, sesuai namanya, framing device berperan untuk mengarahkan kisah yang dituturkan agar sesuai dengan yang diharapkan oleh si penutur. Bila tidak memiliki setup yang dibangun secara cermat, maka teknik ini bisa memutus keterikatan pembaca (atau dalam Target, penonton) dengan cerita yang dituturkan. Lebih krusial, penonton akan dengan mudah mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya.

Dalam Target, framing device sayangnya menceritakan sebuah cerita justru bukan dari perspektif si penutur, melainkan dari sudut pandang Raditya Dika sebagai aktor utama dalam film. Keputusan artistik ini kemudian mengurangi suspension of disbelief yang sebenarnya menjadi tujuan utama kisah ini dituturkan karena bagaimana mungkin si tokoh menceritakan hal yang sejatinya tidak dia alami? Bayangkan skenarionya bila si penutur justru Raditya Dika sendiri, maka suspension of disbelief akan lebih bisa tercipta dan terjaga.

Bisa dimengerti bila keputusan melakukan framing device melalui salah satu karakter bertujuan untuk membuat ceritanya lebih efektif dan menimbulkan rasa penasaran penonton. Bagi yang awam akan teknik penceritaan, tentu saja detail ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang memahami, keputusan yang diambil oleh Raditya Dika dalam Target akan membuat twist yang dia coba bangun akan sangat mudah tertebak bahkan sejak sepertiga durasi film baru berjalan.

Seperti halnya Hangout, plot Target juga dibangun dari berbagai referensi film. Bila di Hangout, Raditya Dika menggunakan film This Is The End sebagai template (juga diulas dalam ulasan), maka untuk Target digunakan berbagai referensi film thriller di mana karakternya terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan mereka berkompetisi satu sama lain dalam sebuah permainan hidup-mati yang diatur oleh seorang gamemaster. Template ini bisa ditemukan dalam berbagai film seperti Battle Royale, The Hunger Games hingga ke Saw.

Namun saat menyaksikan Target ada satu judul film yang secara otomatis muncul dalam pikiran karena film ini menggunakan beat by beat plot utama kisahnya secara mirip. Mulai dari setting lokasi, penggunaan plot device, penyusunan konflik hingga jenis permainannya, meskipun memang ada beberapa modifikasi sesuai kebutuhan Target sebagai film komedi.

Film tersebut adalah sebuah film indie thriller berjudul Breathing Room, sebuah film rilisan tahun 2008 yang disutradarai oleh John Suits dan Gabriel Cowan. Dalam film tersebut juga menampilkan sejumlah karakter (13 karakter) yang tak saling kenal satu sama lain yang menemukan diri mereka terjebak dalam sebuah ruangan dan lalu harus mengikuti sebuah permainan mematikan di bawah arahan seorang gamemaster. Kemiripan antara Target dan Breathing Room tak bisa dielakkan karena desain lokasi yang mirip, penggunaan teknik pencahayaan yang juga mirip dan plot device berupa kalung yang memiliki aliran listrik di dalamnya. Bila Anda menyaksikan Breathing Room, maka Anda akan dengan mudah menebak siapa pelaku di Target karena juga memiliki pola penyusunan dan penggunaan konflik yang sangat mirip. Bahkan hingga ke karakter fisik sang pelaku.

Terlepas dari referensi film yang dipakai, Target menjadi kurang bisa dinikmati juga karena pilihan Raditya Dika menggunakan dialog dan caranya mengumpulkan berbagai karakternya ke dalam posisi yang menuntut mereka akhirnya harus bersama.

Dalam Hangout, Raditya Dika membangun kisahnya dengan membiarkan kita sebagai penonton merasakan proses mereka bersama sebelum akhirnya berada dalam sebuah posisi di mana mereka harus curiga satu sama lain. Hangout berhasil karena proses itu cukup lama dan mereka juga kenal satu sama lainnya, sembari menyisipkan satu konflik yang bisa meyakinkan kita sebagai penonton bahwa mereka bisa terpecah belah. Dalam hal ini konflik pribadi antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun sehingga plot twist yang disajikan (meskipun tertebak) masih bisa diterima karena tujuan filmnya sebagai komedi. Twist pun terasa relevan dan koheren dengan pembangunan cerita.

Dalam Target, Raditya Dika sebenarnya mencoba formula yang sama. Kita diberi tahu bahwa ada konflik pribadi di masa lalu antara dirinya dan Cinta Laura. Kita juga diberi gambaran interaksi antara Dika dengan beberapa karakter lain, seperti Romi Rafael, Hifzi dan juga Samuel Rizal. Pun ada adegan di mana Willy Dozan sebagai aktor senior yang menasihati Raditya Dika, mengingatkan akan adegan saat Mathias Muchus menasihati dirinya di Hangout.

Masalahnya adalah ketidakkonsistenan penanaman informasi tersebut. Target semestinya merupakan kisah di mana para karakternya sama sekali tidak mengenal satu sama lain dan sudah saling mencurigai dari awal. Sementara pilihan pembangunan karakter dan konflik di Target memperlihatkan bahwa mereka saling mengolok satu sama lain dan hal ini mengindikasikan bahwa mereka setidaknya sudah saling memaklumi masing-masing karakter.

Baiklah, bila kemudian selama menjalani proses permainan, para karakter di Target terserang rasa cemas dan panik yang kemudian membuat mereka harus memikirkan ego dan keselamatan masing-masing. Namun, mereka kemudian digambarkan begitu cepat untuk saling memaafkan dan memaklumi setiap kesalahan yang dilakukan salah satu karakter sehingga mereka kemudian cepat kembali bersama. Hal ini menyebabkan ketegangan tak benar-benar bisa dibangun. Target juga tidak benar-benar memiliki konflik yang membuat kita benar-benar terhubung dengan problematika yang ada. Dalam Hangout, misalnya, konflik antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun disebabkan oleh pertemanan yang merasa dikhianati. Konflik krusial yang juga meminjam pembangunan tensi di film This Is The End-nya Seth Rogen, di mana pertemanan Seth Rogen dan Jay Baruchel dirusak oleh keinginan Seth untuk diterima di kalangan teman selebritinya. Sebuah konflik yang kemudian bisa terhubung ke penonton karena sebagian besar orang pernah mengalami hal itu, perasaan dikhianati oleh teman karib.

Sementara di Target, tidak benar-benar ada konflik yang cukup kuat untuk membuat kita percaya bahwa masalah tersebut akan membuat para karakternya terpecah belah. Konflik antara Raditya Dika dan Cinta Laura lebih dikarenakan masalah asmara yang kemudian juga diklarifikasi di tengah situasi pelik. Sebuah konflik yang tidak membuat penonton benar-benar terhubung.

Penanaman informasi dan konflik menjadi penting untuk membuat motif dan twist yang dihadirkan tidak terkesan dipaksakan. Tidak telitinya menanamkan informasi dan konflik itulah yang kemudian membuat adanya pemaksaan motif dan twist di film Target.

Bayangkan bila skenarionya diubah menjadi adegan dibuka dengan Raditya Dika dan rekan-rekannya terbangun dalam kondisi yang nihilisme, di mana mereka menemukan diri mereka berada dalam ruangan tersebut tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu pengenalan karakter dibangun melalui berbagai eksposisi yang menjelaskan kisah mereka masing-masing sebagai upaya menjalin kedekatan satu sama lain atas dasar senasib sepenanggungan. Hal ini memang beresiko akan membuat film akan berjalan dengan lebih pelan, tetapi akan membuat penonton lebih mudah mengobservasi kejadian dan mengembangkan syak wasangka. Keputusan itu juga akan membantu membuat dialog antarkarakter menjadi lebih mengalir dan juga berpotensi menciptakan guyonan yang lebih koheren.

Sebab lain yang membuat saya tidak bisa menikmati Target sebagai sebuah film adalah cara dialog disampaikan dalam film ini. Dalam Hangout, dialog antarkarakter terasa lebih mengalir. Dialog dalam Target terasa seperti kumpulan materi stand-up komedi yang tidak terhubung satu sama lain yang membuat dialog antarkarakter kerap kali terasa terputus.  Dalam Hangout, This Is The End, atau Superbad, misalnya, dialog lahir karena reaksi atas sebuah situasi atau dialog karakter lain. Punchline diselipkan di antaranya yang kemudian membuat humor menjadi segar. Hal ini tidak terasa di Target, di mana dialognya terasa terdiri atas sekumpulan materi atas berbagai topik yang acak tanpa disertai transisi yang membuat dialog antar karakter menjadi natural. Saat menonton Target, amatlah terasa bahwa terdapat cutting antar dialog. Masalah ini juga kemudian merembet kepada pace film secara keseluruhan. Terasa jelas pemotongan di beberapa adegan krusial yang membuat filmnya terasa “melompat”. Kesan “melompat” ini juga terjadi di adegan laga antara Samuel Rizal dan Arsyad. Jelas terasa ada beberapa pemotongan yang menyebabkan koreografi pertarungan oleh Yayan Ruhian menjadi janggal dan terputus. Tetapi hal ini bisa dimaklumi karena pertarungan ini memang didesain sebagai adegan komedi.

Memang ada beberapa humor yang bisa memancing tawa di Target. Mayoritas humor tersebut datang dari pencantuman referensi dan humor fisik. Di sinilah karakter seperti Hifdzi, Ria Ricis dan Cinta Laura menjadi menonjol. Hifzi beberapa kali menampilkan komedi fisik dan situasi yang tepat sasaran. Hifdzi pun menunjukkan bahwa dirinya memiliki bakat untuk bermain dalam film dramatis. Ada semacam kesan yang kuat bahwa humor yang dibangun Hifdzi datang dari ironi.

Sementara Ria Ricis menghadirkan komedi yang memang disengajakan untuk mengolok dirinya sendiri sebagai seorang YouTuber yang kerap bertingkah “jayus” dan “garing”. Keterkaitan seseorang terhadap sebuah humor memang dipengaruhi oleh referensi, tetapi Ria Ricis juga membuktikan bahwa dirinya tak sungkan bertingkah konyol sesuai konteks cerita. Sedangkan Cinta Laura mampu memperlihatkan dirinya sebagai seorang aktor yang berdedikasi. Dia kabarnya melakukan semua adegan laga dalam film ini seorang diri dan menolak untuk memakai stunt-in. Terlepas dari kabar tersebut, Cinta memiliki pesona dan kemampuan untuk meyakinkan penonton bahwa dia memang melakukan semua adegan itu sendiri. Lelucon yang melibatkan dialek dan logat “bule”-nya juga masih efektif, setidaknya, mengguratkan senyuman.

Target menjadi film Raditya Dika yang paling ambisius perihal desain produksi. Pemilihan warna dan set lokasi yang dibangun cermat menambah nilai tersendiri, ditambah dengan kerja kamera efisien arahan Muhammad Firdaus. Saya juga suka pilihan musik elektronik oleh Andhika Triyadi dalam film ini. Musik dalam opening sequence yang dirancang seperti sekuens pembuka film-film thriller klasik era 60’an juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Akan tetapi Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller dengan plot twist serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.

(2,5/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Friday, June 15th, 2018

Running time: 93 minutes

A Soraya Intercine presentation

Executive producer: Ram Soraya

Producer: Sunil Soraya

Co-producer: Rocky Soraya

Director: Raditya Dika

Screenplay: Raditya Dika

Director of photography: Muhammad Firdaus

Editor: Sastha Sunu

Art: Rico Marpaung

Music: Andhika Triyadi

Sound Editing: Khikmawan Santosa

Action choreographer: Yayan Ruhiyan

Casts: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan,  Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Rommy Rafael, Anggika Bolsterli, Ence Bagus.

 

 

 

Advertisements

Hangout Review : Ngerepiew Sambil Nge-Hangout

“Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.”




Hari Kamis, tanggal 22 Desember 2016 pukul 19:00 BBWI (bagian barat waktu Indonesia).

Di studio 5 bioskop Lotte Avenue di kawasan dagang padat karya dan padat penghuninya (kayak lirik lagu Gang Kelinci-nya Lilis Suryani)  Ciputra Kuningan, Jakarta Selatan, penonton memenuhi jam keempat penayangan Hangout, film Indonesia terbaru dari Raditya Dika, seorang pemuda dengan jumlah followers Twitter hingga 14,7 juta jiwa (atau akun lebih tepatnya) yang punya seabrek profesi. Mulai dari penulis, komika, pembicara, bintang iklan, bintang film, hingga sutradara.

Penonton Hangout penuh hingga ke baris terdepan studio yang berkapasitas kira-kira 300-an tempat duduk itu alias sold-out. Memang di hari pertama penayangan film, kabar bahwa tiket film ini ludes terjual di mana-mana jadi bahan gosipan utama di berbagai grup, mulai grup watsapp, telegram (aplikasi ya! Bukan layanan pesan singkat tertulis zaman baheula dari Kantor Pos Indonesia), hingga ke grup arisan ibu-ibu (yang ini lebay, sih).

Penonton Hangout di jaringan bioskop ternama di Lotte Avenue itu terlihat dari berbagai demografi. Mulai dari ABG, pekerja kantoran, bapak-bapak yang sudah mulai ubanan, hingga ke ibu-ibu. Salah dua dari penonton tersebut adalah dua blogger film Indonesia yang punya ambisi nge-gantiin almarhum Roger Ebert (ambisi yang kelewat muluk, jujur aja): Picture Play (akun Twitter-nya @PICture_Play), berusia 20’an ; dan Vincent Jose (akun Twitter-nya @VincentJose), juga berusia 20’an, asal Surabaya dan baru saja menjadi bagian program urbanisasi ke Jakarta. Harap dimaklumi bahwa sebenarnya memang nggak penting-penting amat mencantumkan akun Twitter mereka. Pencantuman itu cuma bermaksud agar yang ngebaca tulisan ini segera nge-follow mereka (Oke?Sip!).

Dua blogger yang baru merintis karir ini duduk samping-sampingan di deretan B. Mereka nggak cuma nonton, tapi juga ngamatin reaksi penonton yang tertawa dan tampaknya puas ngikuti jalan cerita film. Si Picture Play malah sambil fokus nonton, sambil sesekali nyatet adegan  atau dialog yang menurutnya penting untuk dicatet di notebook-nya. Entah kurang kerjaan, kelebihan energi, atau emang punya ambisi terpendam jadi juru tulis di kantor kecamatan. Bayangin aja nulis di keadaan bioskop yang gelap-gelapan jadinya seperti siluman (ngutip lirik lagu dangdutnya Rita Sugiarto). Sementara si Vincent Jose matanya fokus aja ke layar bioskop. Sesekali dua blogger ini ngobrol bisik-bisikan ngomentari film, sementara penonton lain ketawa-ketiwi sambil sesekali ngemil. Dua blogger ini emang lebih milih ngobrol bisik-bisik dan nggak ngemil. Bukan karena mereka kaum intelektual, tapi lebih karena lagi bokek tanggal tua.

Singkat cerita, sampai filmnya habis, reaksi penonton tetap heboh. Pas filmnya kelar, penonton pada keluar dan lampu sudah dihidupkan, dua blogger film kita ini saling ngeliat satu sama lain penuh arti. Reaksi mereka seperti kaget campur senang.

Reaksi mereka kurang lebih sama.

Nggak nyangka, ya? Filmnya sesuatu banget, “ batin mereka.

—- 10 Menit Kemudian — (balik ke mode penceritaan orang pertama)

Gue ama ViJo lalu nongkrong di sebuah pusat pecel lele di daerah Kuningan yang gue tau emang enak sambelnya, karena si ViJo udah laper katanya.

Sambil di jalan menuju ke sana dan kemudian sambil mengganyang pecel ayam, kita berdua membahas soal Hangout dan intinya kita bedua setuju kalo film itu spesial. Sespesial nasi lesehan Ibu Gendut di pelataran Blok M Square.

Betewe, gue jelasin dulu kenapa gaya bahasa review blog ini berubah. Bukan karena pengen keliatan gaul atau sok keren (padahal emang sebenarnya pengen banget. Sumpah!), tapi lebih karena menurut gue gaya bahasa ini yang paling mewakili spirit filmnya, tanpa kemudian kudu membocorkan plot twist atau elemen kejut (element of surprise) di film ini. Selain itu pengen penyegeran aja sekali-kali pake bahasa non-formal.

Gue jujur aja nih, ngaku kalo awalnya gue underestimate sama Hangout. Soalnya gegara gaya penceritaan Raditya Dika yang sudah kebentuk banget, hingga pada satu poin, ceritanya udah bisa ketebak dan bikin jenuh *langsung-nyanyi-lagunya Rio Febrian (kalo istilah Enggresnya itu udah “square”). Bahkan kalo gue diminta ngebedain film-film Dika sebelum ini tanpa nge-Google, gue akan kesulitan bedain judul-judulnya. Terakhir kayak yang gue liat di filmnya Dika yang juga rilis tahun ini pas libur Lebaran yang judulnya “Koala Kumal”. Itu teteup film yang fun kok (senggaknya untuk fans dia), tapi udah “Raditya Dika banget nget nget”. Kisah semi-otobiografi dan lawakan yang ngolok-ngolok diri sendiri (self-deprecating jokes), tentang kejombloan, yang berakhir pada self-recovery. Nilai tata produksi (production value)-nya pun masih kayak FTV plus plus, yang salah satu ciri khasnya adalah kualitas antara para pemeran utama ama pendukung dan ekstranya jomplang banget yang kemudian gak naikin nilai filmnya.

Gue tertarik nonton Hangout abis ngeliat trailer pertamanya, yang seolah-olah ngejual film ini sebagai thrillerwhodunit  (atau kalau diibaratkan lagu itu kayak lagu jadul “Ai..Ai.. Siapa dia (pelakunya)?”) ala-ala kisah novel klasik misteri karangan Agatha Christie yang judulnya And Then There Were None yang sempat diadaptasi ke film jadul berjudul sama keluaran tahun 1945 dan film yang judulnya Ten Little Indians (1965). Masih banyak lagi sih adaptasinya, lo bisa Googling aja. Trus adegan di meja makannya juga ngingetin gue ke adegan di meja makan di film The Last Supper (1996) yang salah satu bintangnya itu Cameron Diaz.

Jeleknya kalo udah punya gambaran referensi cerita film pas mau nonton sebuah film, kita-kita biasanya udah punya patokan. Udah punya standar. Istilah kerennya “sudah punya ekspektasi”. Kalo pas nonton filmnya gak sesuai “standar” itu, kita bisa kecewa. Bisa misuh-misuh, bisa bad mood atau bahkan ada yang putusan ama yayangnya (ini lebay, sih). Tapi, beneran emang gak enak kalo nonton film yang kagak sesuai harapan di bioskop. Tiketnya udah mahal, belum lagi biaya jajannya (curcol).

Nah, yang bikin punya pengharapan ke Hangout itu berbahaya karena trailer-nya udah nge-set tone (apa ya terjemahan enaknya untuk tone?) yang berbeda dari kebiasaan film-filmnya Dika sebelumnya. Bayangin thriller cari-carian siapa pelakunya dicampur ama komedi gaya Dika. Kebayang, gak? Gak kan? Sama kok kayak gue awalnya.

Tapi, untungnya gue selaw pas nonton ini. Pikiran gue coba gue jembrengin segede mungkin, kayak buka jendela lebar-lebar biar udara bebas keluar masuk. Gue gak mau pikiran gue fokus ama gaya Agatha Christie itu.

Hasilnya? Gue suka filmnya.

Jadi inti cerita Hangout itu tentang sembilan artis beken yang nerima undangan misterius dari orang yang namanya Tonni P. Sacalu. Kayak judulnya, kesembilan orang ini diajak untuk hangout (ngumpul-ngumpul di luar sampe nge-hang). Tadinya gue pikir undangan pesta resepsi nikah, karena desainnya pake font berukir-ukir warna emas gitu. Ternyata undangan itu ngajak sembilan artis beken untuk ke sebuah pulau.

Nah, sembilan artis itu adalah: Raditya Dika, komika plus aktor segala bisa yang lagi kesulitan duit; terus ada Soleh Solihun, komika dan bintang film yang sekarang mandu acara tipi yang menurut dia nggak dia banget; terus ada Titi Kamal, ya Titi Kamal dari AADC itu; trus ada Gading Marten; Dinda Kanya Dewi, yang joroknya ampun-ampunan; Surya Saputra, yang kayaknya masih kebawa perannya di film Arisan; Mathias Muchus, aktor kawakan senior yang di sini kocak bingit; komika narsis yang kerjaannya bikin vlog dan punya logat Jawa medok, Bayu Skak; ampe yang terakhir dan paling imut, Prilly Latuconsina, artes mantan pemain sinetron hitzzzzz (z-nya musti banyak emang) Ganteng Ganteng Srilangka, eh Serigala.

Kesembilan artis ini dijanjiin bakal dapet duit gede, bahkan udah ada uang panjer segala, buat dateng ke sebuah pulau terpencil yang cuma bisa dijangkau dengan kapal pesiar yang jadwal singgahnya cuman 3 hari sekali. Mereka sih awalnya mikir kalo mereka bakal dikasih proyek film, meski ada yang ragu juga kok mau nyari pemain aja ribet kayak gini. Tapi, Om Muchus bilang kalo pas zaman dia dulu, juga ada produser yang modelnya kayak gini, karena emang kalo orang super tajir biasanya kelakuannya makin nyentrik. Jadi ilanglah keragu-raguan mereka.

Tapi, pas nyampe pulau, mereka kaget karena kagak disambut oleh siapapun. Pulaunya sepi pake banget kagak ada orang. Lebih kaget lagi (ini udah ada di trailer jadi kagak spoiler lagi), pas ada yang ninggal. Terus abis satu ninggal, ada yang lain lagi. Nah, kesembilan artes ini kemudian mesti nyari tau siapa sebenarnya dalang di balik pengundangan ini dan siapa sih yang ngundang itu?

Kesannya serius dan serem, kan? Padahal kagak, sumpe! Film ini ringan dan tanpa beban. Kalo lo emang penggemar Dika, masih masuk ke film ini karena emang masih Dika banget. Yang bikin gue suka, film ini  fun tapi sekaligus nunjukin kalo Raditya Dika itu cinta ama medium storytelling dan bisa masukin berbagai referensi ke dalam becandaannya dia, tanpa keliatan pengen dianggap pinter. Dika masih pake gaya becandaannya dia (karena kayak biasanya Dika ya jadi “Dika” sendiri di film ini); mukanya yang minim ekspresi; sampe kerelaan dia jadi bahan olok-olok.

Ada tuh satu dialog pas Surya Saputra ngecengin Dika ke Om Muchus tentang “akting Dika yang lempeng-lempeng aja mulu dari film ke film”. Jujur aja, apa yang diucapin ama Surya ke Dika itu kayak ngewakili (yang gue yakin banyak banget) orang-orang yang punya pikiran kayak dia. Gue yakin banyak penonton yang punya pikiran kritis juga mikir kalo akting Dika itu gitu-gitu aja.

Tapi, gue mencoba berpikiran “fair” (bukan Jakarta Fair apalagi kosmetik yang pake tagline “fair and lovely”). Cara Raditya Dika berakting di film memang merupakan cara dia untuk ngebangun imejnya sebagai brand atau merek. Sedari awal, imej Dika memang dibangun sebagai (menurut ANAlisis sayaaa kalo kata sentilan-sentilun) pemuda yang galau, suka mengamati, punya pikiran kritis, agak-agak laid-back, nggak sungkan mengolok diri dewe, tapi pas ngomong orang-orang cenderung akan tertarik karena ada semacam enerji magnetis (alah bahasa gue). Gue punya teman kayak Dika pas SMA, yang gak jadi pusat perhatian (malah cenderung jadi outsider kalo lagi ngumpul), tapi ada daya tarik tersendiri dari dia. Kalo ngebanyol kadang jayus, tapi ekspresi wajahnya yang konyol-konyol lugu tetep paling nggak bikin orang senyum. Tipikal orang yang memang susah buat orang nganggap dia serius, tapi sebenarnya dia serius. Nah, Dika tuh menurut gue tipikal orang kayak gitu dan dia gak tertarik buat ngubah imejnya, meskipun pas tampil di film. Kalo menurut gue, Dika itu bukan aktor profesional karena basically dia jadi dirinya sendiri di film. Meskipun saya gak yakin apakah itu benar-benar dirinya yang di film atau cuma “meminjam” namanya aja sebagai personifikasi, sedangkan karakteristiknya disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Jadi wajar kalo kita (mungkin) gak akan nemuin Dika berakting ala “method actor” yang sampai mengubah gaya bicara atau jadi karakter di luar kebiasaannya.

Nah, apa yang diucapin Surya Saputra ke Dika itu ngingetin gue ke film This Is The Endnya Seth Rogen yang keluar tahun 2013. Di salah satu adegan awal film itu Seth Rogen, yang sedang ngejemput sahabatnya Jay Baruchel di airport Los Angeles, dihadang oleh seorang wartawan video yang nanyain dia tentang akting dan karakter Seth yang juga sama di setiap film. Wartawan video itu bahkan meminta Seth agar dia ngepraktekin cara ketawa dia yang khas banget itu. Gue ngeliat Dika itu (di film Hangout) kayak Seth Rogen, “aktor” yang sudah punya ciri khas yang gak mau dia ubah. Mereka juga sama-sama sering bikin film atau nulis naskah based on pengalaman dia pribadi, kan? Sama kayak Woody Allen juga.

Ngomongin This Is The End, Hangout itu sebenarnya make formula film yang ditulis dan disutradarai oleh Seth Rogen ama Evan Goldberg itu. Sama-sama make berbagai artis terkenal yang make nama mereka sendiri (bukan nama karakter hasil rekaan), sama-sama film komedi, sama-sama banyak inside jokes di kalangan selebritis, dan sama-sama banyak referensi ke film-film yang jadi bagian dari pop-culture.

Sama kayak This Is The End, Hangout juga bisa disebut sebagai meta film atau metacinema, jenis film yang punya ciri: film itu sadar betul tentang dirinya. Eh, itu maksudnya gimana, sik? Maksudnya di sebuah meta film, biasanya ada adegan di mana karakter-karakternya ngobrolin proses pembuatan film. Entah itu proses syutingnya, proses marketing dan proses-proses kreatif di balik pembuatan sebuah film lainnya. Meta film itu membuat penontonnya masuk dalam ilusi kalau mereka jadi bagian dari sebuah komunitas atau gang si filmmaker yang sedang ngobrol atau ngerumpi tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai sineas.

Hangout punya lebih dari dua elemen yang menunjang dia sebagai meta film. Kayak di adegan pembuka, saat Raditya Dika digambarin sebagai bintang film eksyen yang sedang syuting sebuah proyek yang terkendala masalah finansial atau pendanaan. Di tengah-tengah istirahat syuting (shooting break), Dika juga dapat pertanyaan dari wartawan soal kesulitan finansial yang menimpa filmnya.

Juga ada dialog antara Dika dan Om Mathias Muchus di kamar saat mereka sudah sampai di villa tempat tujuan mereka. Om Muchus yang coba jadi penengah keles antara Dika dan Soleh Solihun gara-gara kasting sebuah proyek film, ngucapin satu kalimat yang bagus banget, “ Film itu masalah jodoh. Film yang cari kita, bukan kita yang cari film”.

Karakter Dinda Kanya Dewi (yang di film ini diliatin sebagai cewek yang jorook banget), juga ngucapin dialog yang sebenarnya merupakan sindiran atau curhat dari para bintang film/sinetron yang sering dianggap benar-benar mewakili karakter mereka di layar oleh penonton. Pas Gading Marten ngecengin dia yang aslinya gak kayak yang terlihat di film atau sinetron,  Dinda Kanya bilang gini, “ ..Di depan kamera itu, kita penuh kepalsuan. Kita memberikan citra yang publik inginkan.” Menurut gue dialog itu cerdas. Bukan karena kata-katanya yang puitis atau dramatis atau apa, tapi dialog itu sesuai konteks filmnya.

Masih kurang bukti kalo Hangout ini film meta? Karakter Bayu Skak yang digambarin sebagai orang yang demen banget dan keranjingan ngerekam dirinya sendiri untuk dokumentasi vlog-nya. Di sini, Bayu Skak sering berdialog dengan audiensnya melalui kamera smartphone-nya, seolah-olah dia ngajak ngobrol penonton. Atau istilahnya breaking the fourth wall. Nah, salah satu ciri meta film itu adalah ada momen yang memungkinkan karakternya untuk break the fourth wall. Di This Is The End pun ada adegan kayak yang Bayu Skak lakukan. Saat James Franco dan kawan-kawan merekam mereka sendiri lewat camera video, tentang karakter Danny McBride yang ngabisin makanan mereka. Dan sebenarnya masih banyak lagi elemen-elemen yang mendukung Hangout sebagai meta film yang akan bikin jari jemari gue kena encok kalo dituruti.

Kalo yang gue baca dari komentar-komentar orang yang udah nonton Hangout (entah itu dari Twitter atau grup-grup percakapan di hape), mereka kebanyakan sudah terperangkap ama apa yang ditampilkan di trailer, kalo film ini akan menyuguhkan cerita dalam treatment ber-genre thriller dalam plot ala-ala Agatha Christie. Artinya penonton sudah membentuk satu pengharapan kalo film ini bakal penuh misteri pelik dan rumit, yang akan membuahkan pada plot twist atau pelintiran cerita yang bakal bikin kita teriak, “WTF!!”

Hangout memang menyajikan plot twist , tentang siapa sebenarnya pembunuh di film itu. Tapi, jujur aja, gue udah bilang ke ViJo siapa penjahat di film ini bahkan sejak seperempat filmnya baru jalan. Sangat sangat ketebak. Tapi, Hangout bukanlah film yang disengaja untuk ngikuti film-filmnya Joko Anwar, Christopher Nolan, atau Park Chan-wook. Bukan sama sekali. Hangout lebih sebagai sebuah satire atau bahkan bisa disebut sebagai parodi. Persis sama kayak This is the End. Bedanya, kalo This Is The End memakai sub-genre scif-fi apocalypse sebagai frame cerita, Hangout pake sub-genre thriller whodunit sebagai frame-nya. Hanya sebagai frame, bukan sebagai pondasi utama cerita. Karena selebihnya, Hangout, kayak This Is The End, adalah film yang dikendalikan secara “seenaknya” oleh Raditya Dika sebagai penulis dan sutradara, serta didukung oleh kegilaan para aktor di dalamnya. Jadi, Hangout  ini bersenang-senang atas premise dan frame yang dipakainya.

Sama kayak This Is The End yang penuh referensi dan nods ke berbagai film dan budaya pop, mulai dari film-film John Carpenter, film-filmnya Set Rogen sendiri, film-film Steven Spielberg, Harry Potter, ampe ke Backstreet Boys, Hangout juga dipenuhi oleh referensi.

Kalo yang gue liat, ada referensi ke film-film mo lei tau-nya Stephen Chow di era 90-an. Itu film-film yang dulu sering banget diputer di tipi swasta kita saat masih suka muter film-film Hong Kong malem-malem. Film Stephen Chow ‘kan dipenuhi adegan slapstick lebay, tapi kocak luar biasa. Nah, yang gue lihat, referensi ke Stephen Chow itu ada di karakter Dinda Kanya Dewi. Pas pertama kali ngeliat Dinda di film ini, gue bilang ke ViJo kalo karakternya ngingetin gue ke Sandra Ng, aktris kocak yang sering kerja bareng ama Stephen Show. Di film-film Chow, Sandra Ng sering kali digambarin sebagai cewek norak, jelek dan sering jadi korban buat adegan lucu. Nah, Dinda Kanya Dewi itu mirip banget ama karakter Sandra Ng. Sampai di suatu titik, gue bisa nebak kapan Dinda bakal kena sial.

Referensi lain yang gue temukan di Hangout adalah ke AADC, sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, film horor Scream-nya Wes Craven, film horor I Know What You Did Last Summer, hingga ke musik yang sering pake cue music di film horror thriller 70 dan 80’an, hingga ke musik bergaya Baroque ala komposer Danny Elfman di film-filmnya Tim Burton.

Di salah satu grup percakapan, ada yang bilang kalo gue “overthinking” soal film Hangout. Gue sih gak merasa kalo gue overthinking. Overthinking itu, kalo menurut gue, adalah memaksakan berpikir secara berlebihan ke sebuah permasalahan (dalam hal ini film) yang kagak ada relevansi atau hubungan secara kontekstual ke hal yang dibahas atau yang dicermati.

Di Hangout, gue menemukan dan menyadari berbagai hal itu benar-benar secara organik dan natural, di mana gue bisa menikmati filmnya dan tertawa, tapi bisa ngenalin lapisan-lapisan yang ada di film ini. Dan menurut gue di situlah letak kecerdasan Hangout. Filmnya fun, ringan, nyambung ke penggemar Dika, tapi bisa dinikmati juga oleh gue yang kebetulan bisa melihat apa yang ditawarkan Dika. Dia bisa masukin berbagai referensi itu tapi terasa koheren ama dunia yang dibangunnya.

Salah satu kelebihan Hangout dalam membawa filmnya dari awal sebagai metafilm adalah bahwa kita sebagai penonton tak bisa mempersoalkan kesahihan logika naratif di filmnya. Atau istilah kerennya kita dibuat untuk memakan dan mencerna dispension of disbelief. Sedari awal film ini sudah ngasih peringatan (yang gak kentara kalo di mata penonton awam, memang) kalo film ini adalah tentang film. Dan film adalah ilusi, atau bagi Dika ini adalah mediumnya untuk bersenang-senang atau hangout dengan kawan-kawannya. Jadi, sah-sah aja kalo di tengah-tengah film Dika, Surya, Gading, Soleh, ama Bayu Skak main drama-dramaan Bawang Putih Bawang Merah.

Dan yang patut juga gue sebut adalah gue ngerasa kalo di film ini, Dika terasa hangout sama medium storytelling di film.

Dika sebenarnya gak baru dalam masukin elemen metafilm dalam filmnya. Di Cinta Brontosaurus, dia juga jadi filmmaker dan ada salah satu scene di mana dia ngehadiri premiere sebuah film.

Yang bikin gue bilang Hangout sebagai film cerdas adalah di sisi bagaimana Dika masukin berbagai referensi dan olok-olok dalam dialog dengan halus dan sesuai konteks. Di Twitter dan grup percakapan, banyak yang mempermalasahin pengungkapan twist plot-nya yang gak haluslah, nggak meyakinkan secara logikalah, en des kaw en des kaw. Tapi, plot twist itu sesuai konteks. Gue gak akan ngasih tau, tapi gue akan kasih petunjuk yang mendukung alasan gue.

Kenapa plot twist itu gue bilang sesuai konteks? Karena memang sesuai dengan kelebayan karakter. Sudah itu aja. Jadi wajar kalo plot twist-nya kemudian lebay, karena memang sesuai dengan kelebayan si pelaku.

Cuma memang gue gak suka sama epilogue film yang mencoba membawa penonton ke konklusi permisif, seolah pengen minta maaf dan pengen ngasih “pesan moral” (jujur, gue rada-rada gadeg gimana gitu kalo nemu orang yang nanya, “Pesan moralnya apa?” pas abis nonton film). Meskipun masih masuk dengan semangat dan tema “persahabatan”, gue pikir akan lebih asoy geboy kalo emang dibawa aja sekalian gila epiloguenya. Jadi gak ada kesan untuk memasukkan “pesan moral” ke film.

Yang gue suka lagi dari Hangout adalah gimana film ini nunjukin sense of directing Dika yang selama ini sering diremehin (gue jujur aja termasuk yang ngeremehin). Di film ini, Dika tau gimana ngebangun suspensi lewat visual storytelling dan itu keliatan banget emang sebagai referensi ke berbagai film. Kayaknya Dika di sini nonton banyak film, terus tekniknya dipakai di Hangout.

Ada satu momen saat Dika make teknik “vertigo” atau “zolly” untuk ngehadirin ketegangan di salah satu karakter kunci. Juga gimana Dika ngambil berbagai shot dan ngerangkainya untuk ngebangun ilusi tempat terpencil. Shot di Hangout terasa mantap dan percaya diri.  Saat satu momen ada aerial shot diambil lewat drone, gambarnya pun mantap dan nggak pecah.

Yang istimewa juga dari Hangout adalah gimana Dika bisa ngejaga atmosphere suspense thriller-nya, sehingga perilaku karakternya yang ajaib mengundang tawa. Sama kayak karakter Dika yang gue tangkap di film ini, mencoba serius, tapi gak bisa dianggap serius. Atmosfirnya dijaga serius, tapi materi lawakan dan set-up-nya digeber hampir nonstop sepanjang film.

Aktor-aktor di film ini juga yahud. Gue sih kayak ngeliat mereka emang gak main film, tapi jadi diri sendiri. Meski istilah “jadi diri sendiri” juga gak tepat, karena mereka masih akting, kok. Bedanya mereka rileks.

Gue gak percaya kalo Dinda emang kayak gitu atau gak yakin ada artis yang joroknya minta ampun kayak gitu. Atau Surya Saputra yang masih kejebak ama karakternya di Arisan. Itulah nikmatnya Hangout. Kayak This Is The End, pilihan untuk para karakternya memakai nama mereka sesungguhnya membuat batasan antara ilusi dan kenyataan jadi kabur. Ada sentuhan realisme jadinya. Kayak para artis ini pengen ngeledekin dan ngolok-ngolok satu sama lain (atau mungkin juga nyindir orang lain), tapi dalam bingkai komedi satire. Kasian amat hidup lo, kalo lo gak bisa nerima komedi sebagai jokes dan nganggapnya kelewat serius.

Itulah yang bikin Hangout ini punya enerji yang nyenengin.

Aktor-aktor di sini emang penampilannya luwes-luwes. Tapi gue teteup punya favorit. Favorit gue si Soleh Solihun ama Bayu Skak. Soleh karena dia bisa nunjukin kalo dia punya dramatic side (gue yakin dia bisa dikasih peran serius setelah nonton film ini. Kayak pas Stephen Chow main di film CJ-7). Gue juga suka Bayu Skak karena dia bisa nunjukin akting nangis dan frustasi secara mengejutkan kecenya.

Ada beberapa momen memang di mana Hangout keliatan mengendur di pace dan ritme. Kayak pas adegan Dika dan Soleh saling curiga itu ada yang bisa di-cut tanpa ngeganggu filmnya. Tapi secara keseluruhan film ini berhasil jadi lucu, menyenangkan dan sekaligus cerdas.

Ada yang memang gak suka film ini. Itu tadi, kemungkinannya mereka gak bisa ngelepas brand-nya Raditya Dika. Mungkin juga karena udah kelanjur kemakan oleh asumsi film ini akan kayak Agatha Christi banget. Atau mungkin juga gak nangkep referensi atau olok-olok yang film ini coba lakukan.

Tapi, biarpun gitu, Hangout adalah bukti kalo Dika memang punya bakat yang gak bisa disepelein. Ini filmnya yang paling “bener” secara filmis (termasuk Cinta Dalam Kardus) dan di mana dia mau bereksperimen, tapi gak keluar dari core-nya. Kayak versi dodolnya Janji Joni, filmnya Joko Anwar, yang juga satire dan metacinema.

Gue sih ama ViJo ngerasa ngalamin pengalaman meta juga pas nonton  film ini. Gue hangout sambil nonton film Hangout.

(4/5)

Di repiew di Lotte Avenue XXI, pas tanggal 22 Desember 2016 barengan @ViJo

Untuk list crew dan casts, kali ini Googling aje-yee. Kemaren lupa nyatet, karena keburu keluar bioskop akibat kelaperan.