Target Review: Komedi? Thriller? Tidak Kedua-duanya

“…Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.”




Target, film komedi ansambel terbaru yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika, mengikuti konsep film Hangout (baca ulasannya)—juga dari Raditya Dika—yang dirilis pada tahun 2016. Kedua film tersebut mengusung konsep “high concept comedy”, sebuah konsep dalam penceritaan yang lebih mengutamakan “plot” ketimbang mengedepankan pengembangan karakter. Kedua film Raditya Dika tersebut dibangun atas sebuah gagasan tentang “beberapa karakter yang terjebak bersama dalam sebuah situasi pelik yang memaksa mereka satu per satu harus menemui ajal”.

High concept comedy yang menggabungkan komedi dan thriller berhasil dieksekusi oleh Raditya dalam Hangout di mana menghasilkan sebuah film yang masih terasa memiliki “kedekatan personal” dengan dirinya, sementara di sisi lain dia bisa mengeksplorasi ranah sinematis baru. Hangout menjadi sebuah eksperimen yang menurut saya berhasil.

Lewat Target, Raditya Dika kembali berusaha mengulang formula yang sama di Hangout setelah sempat kembali kepada bentuk penceritaan yang lebih “konvensional” dan dekat dengan jenamanya sebagai sineas dan pencerita di The Guys (2017). Tetapi, sayang seribu sayang, Target membuktikan bahwa formula dan konsep boleh diulangi, namun hasil akhirnya tidak bisa menyamai.

Sama seperti Hangout, Target menceritakan tentang sembilan selebriti yang mengikuti sebuah undangan yang terkait satu proyek film. Bedanya, hanyalah medium undangan (di Hangout menggunakan surat, di Target menggunakan surel) dan juga sosok para selebriti yang dilibatkan.

Dalam Target, kesembilan pesohor itu adalah: Raditya Dika sendiri; Hifdzi, komika berbadan subur; Cinta Laura Kiehl, mantan Radit yang mencoba mengejar karir di Amerika; Ria Ricis, Youtuber idola anak muda; Samuel Rizal, aktor lawas “macho” yang bahkan menyempatkan diri latihan beban sembari menyetir mobil; Willy Dozan, aktor laga lawas yang kini “ngondek” dan mengubah namanya menjadi “Wince”; Romy Rafael, seorang ilusionis; Abdur Arsyad, juga seorang komika; dan Anggika Bolsteri, seorang perempuan muda cantik yang, sejujurnya, saya tidak mengenal siapa dia sebelum ini. (Perkembangan terkini, setelah mencari tahu melalui Google, saya baru tahu kalau Anggika ini adalah seorang aktris sinetron).

Kesembilan orang ini kemudian berkumpul di sebuah lokasi (yang sepertinya terpencil) dan kemudian terjebak pada sebuah permainan hidup dan mati ala film waralaba Saw, yang dipimpin oleh seorang gamemaster. Mereka harus melewati beberapa fase permainan, di antaranya melibatkan Russian Roulette dan tebak-tebakan konyol. Peraturannya sederhana, peserta yang meninggal secara otomatis akan habis perannya.

Seperti Hangout, Target juga melibatkan sebuah plot twist yang diungkapkan melalui metodologi “parlor scene”, sebuah teknik penceritaan yang umum ditemui di film ber-genre thriller whodunit. Sebuah teknik yang dipopulerkan di sinema lewat, salah satunya, film klasik arahan Alfred Hitchcock, Psycho.

Target dibuka dengan sosok korban selamat yang mengenakan perban di seluruh tubuhnya dan dia lalu menceritakan kejadian yang dialami kepada dua orang polisi (salah satunya diperankan oleh Ence Bagus), melalui teknik framing device yang menciptakan ilusi nested stories, yaitu cerita dalam cerita. Contoh yang baik dalam penggunaan teknik ini bisa ditemukan dalam volume kedelapan novel Neil Gaiman, The Sandman, yang berjudul World’s End yang juga mengisahkan sekelompok pelancong yang terjebak dalam sebuah penginapan dan lalu saling menceritakan sebuah kisah satu dengan yang lain.

Contoh lain dari penggunaan framing device yang baik dan tepat guna dalam medium film adalah kisah wuxia yang dirilis tahun 2002, Hero, arahan Zhang Yimou.

Dalam Target penggunaan teknik framing device berfungsi sebagai interrogative frame di mana kisahnya dituturkan oleh salah satu aktor penting dalam kisahnya. Penggunaan teknik tersebut dalam kisah whodunit memiliki resiko karena, sesuai namanya, framing device berperan untuk mengarahkan kisah yang dituturkan agar sesuai dengan yang diharapkan oleh si penutur. Bila tidak memiliki setup yang dibangun secara cermat, maka teknik ini bisa memutus keterikatan pembaca (atau dalam Target, penonton) dengan cerita yang dituturkan. Lebih krusial, penonton akan dengan mudah mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya.

Dalam Target, framing device sayangnya menceritakan sebuah cerita justru bukan dari perspektif si penutur, melainkan dari sudut pandang Raditya Dika sebagai aktor utama dalam film. Keputusan artistik ini kemudian mengurangi suspension of disbelief yang sebenarnya menjadi tujuan utama kisah ini dituturkan karena bagaimana mungkin si tokoh menceritakan hal yang sejatinya tidak dia alami? Bayangkan skenarionya bila si penutur justru Raditya Dika sendiri, maka suspension of disbelief akan lebih bisa tercipta dan terjaga.

Bisa dimengerti bila keputusan melakukan framing device melalui salah satu karakter bertujuan untuk membuat ceritanya lebih efektif dan menimbulkan rasa penasaran penonton. Bagi yang awam akan teknik penceritaan, tentu saja detail ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang memahami, keputusan yang diambil oleh Raditya Dika dalam Target akan membuat twist yang dia coba bangun akan sangat mudah tertebak bahkan sejak sepertiga durasi film baru berjalan.

Seperti halnya Hangout, plot Target juga dibangun dari berbagai referensi film. Bila di Hangout, Raditya Dika menggunakan film This Is The End sebagai template (juga diulas dalam ulasan), maka untuk Target digunakan berbagai referensi film thriller di mana karakternya terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan mereka berkompetisi satu sama lain dalam sebuah permainan hidup-mati yang diatur oleh seorang gamemaster. Template ini bisa ditemukan dalam berbagai film seperti Battle Royale, The Hunger Games hingga ke Saw.

Namun saat menyaksikan Target ada satu judul film yang secara otomatis muncul dalam pikiran karena film ini menggunakan beat by beat plot utama kisahnya secara mirip. Mulai dari setting lokasi, penggunaan plot device, penyusunan konflik hingga jenis permainannya, meskipun memang ada beberapa modifikasi sesuai kebutuhan Target sebagai film komedi.

Film tersebut adalah sebuah film indie thriller berjudul Breathing Room, sebuah film rilisan tahun 2008 yang disutradarai oleh John Suits dan Gabriel Cowan. Dalam film tersebut juga menampilkan sejumlah karakter (13 karakter) yang tak saling kenal satu sama lain yang menemukan diri mereka terjebak dalam sebuah ruangan dan lalu harus mengikuti sebuah permainan mematikan di bawah arahan seorang gamemaster. Kemiripan antara Target dan Breathing Room tak bisa dielakkan karena desain lokasi yang mirip, penggunaan teknik pencahayaan yang juga mirip dan plot device berupa kalung yang memiliki aliran listrik di dalamnya. Bila Anda menyaksikan Breathing Room, maka Anda akan dengan mudah menebak siapa pelaku di Target karena juga memiliki pola penyusunan dan penggunaan konflik yang sangat mirip. Bahkan hingga ke karakter fisik sang pelaku.

Terlepas dari referensi film yang dipakai, Target menjadi kurang bisa dinikmati juga karena pilihan Raditya Dika menggunakan dialog dan caranya mengumpulkan berbagai karakternya ke dalam posisi yang menuntut mereka akhirnya harus bersama.

Dalam Hangout, Raditya Dika membangun kisahnya dengan membiarkan kita sebagai penonton merasakan proses mereka bersama sebelum akhirnya berada dalam sebuah posisi di mana mereka harus curiga satu sama lain. Hangout berhasil karena proses itu cukup lama dan mereka juga kenal satu sama lainnya, sembari menyisipkan satu konflik yang bisa meyakinkan kita sebagai penonton bahwa mereka bisa terpecah belah. Dalam hal ini konflik pribadi antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun sehingga plot twist yang disajikan (meskipun tertebak) masih bisa diterima karena tujuan filmnya sebagai komedi. Twist pun terasa relevan dan koheren dengan pembangunan cerita.

Dalam Target, Raditya Dika sebenarnya mencoba formula yang sama. Kita diberi tahu bahwa ada konflik pribadi di masa lalu antara dirinya dan Cinta Laura. Kita juga diberi gambaran interaksi antara Dika dengan beberapa karakter lain, seperti Romi Rafael, Hifzi dan juga Samuel Rizal. Pun ada adegan di mana Willy Dozan sebagai aktor senior yang menasihati Raditya Dika, mengingatkan akan adegan saat Mathias Muchus menasihati dirinya di Hangout.

Masalahnya adalah ketidakkonsistenan penanaman informasi tersebut. Target semestinya merupakan kisah di mana para karakternya sama sekali tidak mengenal satu sama lain dan sudah saling mencurigai dari awal. Sementara pilihan pembangunan karakter dan konflik di Target memperlihatkan bahwa mereka saling mengolok satu sama lain dan hal ini mengindikasikan bahwa mereka setidaknya sudah saling memaklumi masing-masing karakter.

Baiklah, bila kemudian selama menjalani proses permainan, para karakter di Target terserang rasa cemas dan panik yang kemudian membuat mereka harus memikirkan ego dan keselamatan masing-masing. Namun, mereka kemudian digambarkan begitu cepat untuk saling memaafkan dan memaklumi setiap kesalahan yang dilakukan salah satu karakter sehingga mereka kemudian cepat kembali bersama. Hal ini menyebabkan ketegangan tak benar-benar bisa dibangun. Target juga tidak benar-benar memiliki konflik yang membuat kita benar-benar terhubung dengan problematika yang ada. Dalam Hangout, misalnya, konflik antara Raditya Dika dan Soleh Solikhun disebabkan oleh pertemanan yang merasa dikhianati. Konflik krusial yang juga meminjam pembangunan tensi di film This Is The End-nya Seth Rogen, di mana pertemanan Seth Rogen dan Jay Baruchel dirusak oleh keinginan Seth untuk diterima di kalangan teman selebritinya. Sebuah konflik yang kemudian bisa terhubung ke penonton karena sebagian besar orang pernah mengalami hal itu, perasaan dikhianati oleh teman karib.

Sementara di Target, tidak benar-benar ada konflik yang cukup kuat untuk membuat kita percaya bahwa masalah tersebut akan membuat para karakternya terpecah belah. Konflik antara Raditya Dika dan Cinta Laura lebih dikarenakan masalah asmara yang kemudian juga diklarifikasi di tengah situasi pelik. Sebuah konflik yang tidak membuat penonton benar-benar terhubung.

Penanaman informasi dan konflik menjadi penting untuk membuat motif dan twist yang dihadirkan tidak terkesan dipaksakan. Tidak telitinya menanamkan informasi dan konflik itulah yang kemudian membuat adanya pemaksaan motif dan twist di film Target.

Bayangkan bila skenarionya diubah menjadi adegan dibuka dengan Raditya Dika dan rekan-rekannya terbangun dalam kondisi yang nihilisme, di mana mereka menemukan diri mereka berada dalam ruangan tersebut tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu pengenalan karakter dibangun melalui berbagai eksposisi yang menjelaskan kisah mereka masing-masing sebagai upaya menjalin kedekatan satu sama lain atas dasar senasib sepenanggungan. Hal ini memang beresiko akan membuat film akan berjalan dengan lebih pelan, tetapi akan membuat penonton lebih mudah mengobservasi kejadian dan mengembangkan syak wasangka. Keputusan itu juga akan membantu membuat dialog antarkarakter menjadi lebih mengalir dan juga berpotensi menciptakan guyonan yang lebih koheren.

Sebab lain yang membuat saya tidak bisa menikmati Target sebagai sebuah film adalah cara dialog disampaikan dalam film ini. Dalam Hangout, dialog antarkarakter terasa lebih mengalir. Dialog dalam Target terasa seperti kumpulan materi stand-up komedi yang tidak terhubung satu sama lain yang membuat dialog antarkarakter kerap kali terasa terputus.  Dalam Hangout, This Is The End, atau Superbad, misalnya, dialog lahir karena reaksi atas sebuah situasi atau dialog karakter lain. Punchline diselipkan di antaranya yang kemudian membuat humor menjadi segar. Hal ini tidak terasa di Target, di mana dialognya terasa terdiri atas sekumpulan materi one-liners berbagai topik yang acak tanpa disertai transisi yang membuat dialog antar karakter menjadi tidak alamiah seperti yang terjadi kepada sekelompok orang yang sedang merasakan situasi yang sama. Saat menonton Target, amatlah terasa bahwa terdapat cutting antar dialog. Masalah ini juga kemudian merembet kepada pace film secara keseluruhan. Terasa jelas pemotongan di beberapa adegan krusial yang membuat filmnya terasa “melompat”. Kesan “melompat” ini juga terjadi di adegan laga antara Samuel Rizal dan Arsyad. Jelas terasa ada beberapa pemotongan yang menyebabkan koreografi pertarungan oleh Yayan Ruhian menjadi janggal dan terputus. Tetapi hal ini bisa dimaklumi karena pertarungan ini memang didesain sebagai adegan komedi.

Memang ada beberapa humor yang bisa memancing tawa di Target. Mayoritas humor tersebut datang dari pencantuman referensi dan humor fisik. Di sinilah karakter seperti Hifdzi, Ria Ricis dan Cinta Laura menjadi menonjol. Hifzi beberapa kali menampilkan komedi fisik dan situasi yang tepat sasaran. Hifdzi pun menunjukkan bahwa dirinya memiliki bakat untuk bermain dalam film dramatis. Ada semacam kesan yang kuat bahwa humor yang dibangun Hifdzi datang dari ironi.

Sementara Ria Ricis menghadirkan komedi yang memang disengajakan untuk mengolok dirinya sendiri sebagai seorang YouTuber yang kerap bertingkah “jayus” dan “garing”. Keterkaitan seseorang terhadap sebuah humor memang dipengaruhi oleh referensi, tetapi Ria Ricis juga membuktikan bahwa dirinya tak sungkan bertingkah konyol sesuai konteks cerita. Sedangkan Cinta Laura mampu memperlihatkan dirinya sebagai seorang aktor yang berdedikasi. Dia kabarnya melakukan semua adegan laga dalam film ini seorang diri dan menolak untuk memakai stunt-in. Terlepas dari kabar tersebut, Cinta memiliki pesona dan kemampuan untuk meyakinkan penonton bahwa dia memang melakukan semua adegan itu sendiri. Lelucon yang melibatkan dialek dan logat “bule”-nya juga masih efektif, setidaknya, mengguratkan senyuman.

Target menjadi film Raditya Dika yang paling ambisius perihal desain produksi. Pemilihan warna dan set lokasi yang dibangun cermat menambah nilai tersendiri, ditambah dengan kerja kamera efisien arahan Muhammad Firdaus. Saya juga suka pilihan musik elektronik oleh Andhika Triyadi dalam film ini. Musik dalam opening sequence yang dirancang seperti sekuens pembuka film-film thriller klasik era 60’an juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Akan tetapi Target berakhir menjadi sebuah ironi.  Dalam komedi, sebuah guyonan atau humor akan mencapai fungsinya bila diperlakukan seperti menulis naskah yang baik ataupun sulap yang membuat penonton terpana. Kesemua itu seringkali memerlukan “pengalihan perhatian” atau misderection. Arahkan penonton atau audiens untuk memikirkan satu hal atau poin dengan menyampaikan berbagai topik, lalu di saat yang tepat menjelang akhir topik, hantam penonton atau audiens dengan punchlines. Setelah penonton memahami dan tertawa, beri mereka twist di akhir guyonan yang membuat tawa mereka semakin kencang.

Intinya adalah tentang bagaimana menguasai dan mengatur ritme atau pace penonton. Target, ironisnya, tidak bisa menguasai apalagi mengatur ritme dan pemikiran penonton. Setidaknya saya.

Film ini meleset sebagai komedi, namun di sisi lain terlampau berusaha keras untuk menampilkan kesan sebagai film thriller dengan plot twist serius. Apa yang kemudian saya dapatkan?

Tidak kedua-duanya.

(2,5/5)

Reviewed at Blok M Square XXI on Friday, June 15th, 2018

Running time: 93 minutes

A Soraya Intercine presentation

Executive producer: Ram Soraya

Producer: Sunil Soraya

Co-producer: Rocky Soraya

Director: Raditya Dika

Screenplay: Raditya Dika

Director of photography: Muhammad Firdaus

Editor: Sastha Sunu

Art: Rico Marpaung

Music: Andhika Triyadi

Sound Editing: Khikmawan Santosa

Action choreographer: Yayan Ruhiyan

Casts: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan,  Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Rommy Rafael, Anggika Bolsterli, Ence Bagus.

 

 

 

Advertisements

10 Cloverfield Lane Anaylisis : A Very Calculated Movie

by @Picture_Play

Warning : mengandung spoilers, dianjurkan menonton filmnya terlebih dulu.

“Film ini seperti sekumpulan plot device yang mengarahkan perspektif dan membentuk persepsi penonton, kemudian menghancurkannya dan membangunnya kembali. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang, memaksa penonton memiliki berbagai asumsi dan interpretasi terhadap film ini.”




Dalam suatu masa, akan muncul film yang menuntut Anda untuk menontonnya lebih dari sekali. Jenis film seperti ini memberikan Anda pemahaman baru saat menyaksikannya kembali. Suatu pemahaman yang luput dari mata Anda di pengenalan pertama.

10 Cloverfield Lane adalah jenis film seperti itu.

Bukan berarti 10 Cloverfield Lane mewakili definisi “great film” seperti yang pernah diutarakan oleh mendiang kritikus, Roger Ebert. Film ini seperti sekumpulan plot device yang mengarahkan perspektif dan membentuk persepsi penonton, kemudian menghancurkannya dan membangunnya kembali. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang, memaksa penonton memiliki berbagai asumsi dan interpretasi terhadap film ini.

Plot device dalam bidang komunikasi atau public relation memiliki fungsi seperti key message, untuk menjelaskan dan sekaligus mengarahkan mindset yang disasarnya agar memiliki pemahaman sama. Di public relation, terlalu banyaknya key message dalam sebuah materi promosi/kampanye (semisal siaran pers) adalah hal yang harus dihindari, karena akan membuat bingung sang penerima. Sementara banyaknya plot device dalam sebuah film—meski juga bisa membuat filmnya terasa membingungkan—terkadang bisa menjadi sebuah senjata untuk menjaga penonton menyimak filmnya hingga akhir dan kemudian membicarakannya seusai menonton. Film seperti ini memang sedari awal bertujuan untuk mengecoh penonton dan untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai plot device ditanamkan, direkat dan disatukan dengan kalkulasi yang cermat. 10 Cloverfield Lane masuk dalam kategori film yang dimaksud.

Menyaksikan film ini pertama kali pada Sabtu siang (09 April 2016) di sebuah bioskop di kawasan Senayan, kesan yang menyambangi saya kala itu adalah bahwa film ini tak lebih dari sebuah produk pop yang menghibur. Sebuah kesan yang tidak dimaksudkan dalam konotasi negatif, karena sejak usai menontonnya untuk pertama kali, sudah terlihat dan terasa bahwa film ini adalah sebuah presentasi yang diarahkan dan ditulis dengan baik.

Awal menontonnya, paradigma saya tergiring oleh keputusan studio mencantumkan judul Cloverfield, membuat saya berekspektasi bahwa film ini akan memberikan shocking value dan element of surprise, sama seperti film aslinya di tahun 2008 silam.

Ketika saya tidak mendapatkan shocking value yang saya harapkan, terutama di 1/3 akhir film, saya berada di suatu pemahaman bahwa kegagalan film ini terletak pada penggunaan brand “Cloverfield” di judulnya. Sebuah upaya marketing yang secara brilian menarik perhatian penikmat film, namun kemudian mengubur potensinya. Sama seperti yang terjadi di film Crouching Tiger Hidden Dragon : Sword of Destiny.

Saya juga “menyalahkan” berbagai tv series yang memberikan shocking value dan element of surprise yang terintegrasi dan terstruktur lebih baik. Seperti antologi miniseri produksi Inggris, Black Mirror, atau serial cyber-crime thriller Mr. Robot.

Di satu titik setelah menontonnya untuk pertama kali, saya berpikir bahwa 10 Cloverfield Lane hanyalah produk budaya pop yang hanya mengandalkan penyajian sensasi dan selepas menontonnya, sensasi itu akan berkurang dan gimmick yang ditawarkan akan tidak lagi bekerja untuk saat ditonton kedua kalinya. Karena segala misteri telah dilepas, tidak ada lagi hal yang patut dikupas.

Namun, 10 Cloverfield Lane terus mengganggu pikiran saya seusai menonton. Ada hal yang membuat saya tidak yakin dengan penilaian pertama. Salah satunya datang dari bagaimana kamera di film ini bekerja; bagaimana production designer membangun set bunker yang terasa hangat dan lengkap, sekaligus mencekat dan pengap, berhasil menjadi setup yang mendefinisikan bunker sebagai ruang penyedia suspense; atau bagaimana John Goodman membawakan karakter Howard miliknya ke sebuah teritori yang membuat saya merasa ngeri, namun sekaligus bersimpati.

Lalu saya putuskan untuk menonton ulang film ini di bioskop, dalam pikiran yang tidak terburu-buru, menanggalkan ekspektasi dan mengamati setiap detail yang tersaji.

Saya pun kemudian mendapati bahwa film ini lebih dari sekadar produk “jualan” dan eksploitasi budaya pop yang hanya sekadar menjalankan fungsinya sebagai penghibur. Film ini memiliki potensi lebih dari itu, meski kemudian memang ada kelemahan yang membuat 10 Cloverfield Lane urung mendapatkan status great. Tapi, jelas saya mengubah paradigma dalam memandang film ini dari hanya sekadar twisted thriller ke suspense thriller.



DRAMATURGI SUSPENSE, PERTIMBANGAN MARKETING

10 Cloverfield Lane memang dibuat dalam struktur dramaturgi suspense dan film ini memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi film suspense thriller yang baik.

Hal ini kemudian yang menjelaskan bahwa secara filmis, 10 Cloverfield Lane bahkan mengungguli film aslinya. Karena filmnya memberi ruang bagi penonton untuk terhubung dengan karakternya; menjalani cara karakternya menjalani proses; dan memiliki simpati terhadap mereka. Terlepas dari istilah apa untuk  menyebut film ini, apakah side-quel, spin-off, atau berada di parallel universe dengan kisah film di tahun 2008. Meski opsi untuk menyebut Cloverfield Lane berbagai universe dengan film arahan J.J Abrams akan segera terbantahkan, karena karakter Michelle (diperankan oleh Mary Elizabeth-Winstead) memiliki telepon genggam yang lebih mewakili era kekinian.

Saya sendiri lebih senang menyebut bahwa 10 Cloverfield Lane sebagai upaya untuk mengembangkan brand Cloverfield ke dalam sebuah antologi. Bahwa film ini memiliki keterkaitan secara brand adalah sudah jelas, namun kemudian keterkaitannya lebih kepada tema dan bentuk teror yang muncul di ceritanya. Secara materi, film ini sesungguhnya berdikari.

Hal ini lantas terlihat sebagai upaya untuk membuat sebuah franchise dengan nama Cloverfield, J.J Abrams (produser d film ini di bawah payung perusahaan produksinya, Bad Robots) lebih menggunakan pendekatan ke serial Twilight Zone atau Black Mirror. Tetapi dalam format layar lebar. Bila pendekatan ini memang benar dipakai, segala materi yang menggunakan Cloverfield akan lebih fleksibel untuk diusung ke berbagai format. Baik itu layar lebar atau bahkan layar kaca.

Upaya itu terlihat jelas dari bagaimana Paramount menggunakan konsep open ending dan cenderung cliffhanger di 10 Cloverfield Lane. Mereka bisa membuat sekuel langsung atau menciptakan sebuah kisah baru, yang nantinya akan mempertemukan dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di sebuah film setelah melalui 3 atau 4 film.

Sebuah strategi bisnis yang brilian!

“Trachtenberg menggunakan 2 pendekatan teori narasi yang digambarkan oleh Aristoteles dalam The Poetics, yaitu mimetic dan diegetic. Cara film ini bekerja tidak hanya menjalankan fungsinya untuk showing, melainkan juga telling, bahkan lewat berbagai obyek kecil yang sengaja disorot oleh kamera.”



SUSPENSE & SURPRISE, SHOWING & TELLING

Penggunaan brand Cloverfield di 10 Lane, memang bagai perumpamaan racun dan obat. Keduanya akan berfungsi secara berbeda, tergantung pada sasaran yang menerima. Ada penonton yang merasa “tertipu” dengan pencantuman Cloverfield sebagai brand dan merasa kecewa. Pemahaman saya setelah menonton ulang film ini lantas memandang penggunaan label Cloverfield tak hanya digunakan sebagai materi marketing, melainkan pula sebagai salah satu plot device yang berfungsi sebagai petunjuk, alih-alih membocorkan rahasa (spoiler) perusak surprise. Bertugas sebagai lead information yang membangun framing cerita layaknya di film suspense.

Film ini memang menyandingkan dua elemen yang kerap membuat orang bingung mendefinisikannya;  surprise dan suspense. Karena penggunaan kata “Cloverfield”, mayoritas penonton mengharapkan sebuah surprise yang sama dengan filmnya di tahun 2008. Begitu mendapati surprise-nya tidak semengejutkan seperti di film pertama, mereka kecewa. Padahal sesungguhnya, sekali lagi, film ini lebih menawarkan suspense.

Lalu apa bedanya antara surprise dan suspense? Dalam buku yang ditulis dan disusun oleh sineas Perancis, François Truffaut yang berjudul Hitchcock om Hitchcock (Hitchcock about Hitchcock) rilisan tahun 1973 di halaman 52-53,  mendiang Alfred Hitchcock memiliki alegori tepat untuk menggambarkan perbedaan antara suspense dan surprise dalam sebuah narasi. Sang master of suspense memberikan dua skenario tentang adanya sebuah bom yang terletak di bawah sebuah meja, di mana ada beberapa karakter sedang bercakap-cakap di dekatnya.

Ada dua skenario yang ditawarkan oleh Hitchcock. Skenario pertama adalah penonton tidak ada yang tahu bahwa ada bom di bawah meja tersebut. Kemudian tetiba, “duarr!!” bom meledak dan menewaskan orang-orang yang sedang mengobrol di dekatnya. Penonton kaget, namun sebelum kejadian meledaknya bom, tidak ada adegan istimewa ataupun petunjuk bahwa beberapa menit kemudian akan terjadi ledakan. Menurut Hitchcock skenario ini menjelaskan apa yang disebut surprise dalam narasi. Sebuah kejadian yang memiliki shocking value.

Skenario kedua adalah bahwa penonton sudah mengetahui bahwa ada bom di bawah meja tersebut. Mungkin karena sebelumnya mereka melihat ada teroris yang menaruhnya atau ada petunjuk yang memberikan informasi tentang hal itu kepada penonton. Penonton bahkan tahu kapan bom itu akan meledak, karena ada pengatur waktu (timer) yang diperlihatkan kepada mereka. Di skenario ini, penonton justru menaruh perhatian kepada obrolan yang sama di skenario pertama. Penonton sudah mengantisipasi tentang adanya bom. Mereka justru dilibatkan secara emosi, yang kemudian membuat mereka geram dan berteriak ke layar, memperingatkan orang-orang yang mengobrol di dekat meja berbom, “Cepatlah beranjak dari situ! Ada bom di bawah meja kalian!”. Menurut Hitchcock skenario ini menjelaskan apa itu suspense. Ketegangan justru terjadi karena penonton sudah diberikan informasi tentang adanya bom. Suspense adalah bagaimana plot membangun kejadian sebelum ledakan.

Dalam 10 of Cloverfield Lane, brand Cloverfield” berfungsi sebagai bom dalam perumpaan Hitchcock. Penonton sudah diberi informasi bahwa film ini akan berbagi “teror” yang sama dengan film arahan J.J Abrams keluaran tahun 2008 tersebut. Atau bahkan memiliki keterkaitan. Pertanyaannya adalah bagaimana ceritanya dibangun menjelang munculnya sang “teror”. Sang bom. Atau bagaimana bentuk keterkaitannya.

Cerita dan naskah yang ditulis oleh Josh Campbell dan Matt Steucken, lalu kemudian kabarnya dirombak secara radikal oleh Damien Chazelle (penulis/sutradara film suspense musical, Whiplash), menghadirkan berbagai sub-genre dan tema ke dalam film ini, serta menyusunnya menjadi lapisan demi lapisan. Ada psychological thriller, claustrophobic thriller, hingga ke isu feminisme seperti di film Room yang dihadirkan lewat sosok karakter Michelle.

Lalu sutradara debutante, Dan Trachtenberg, mengarahkan naskahnya dengan penuh sensitifitas dan sekaligus playful. Dia membuat kamera diarahkan untuk menyorot berbagai detail dengan tujuan untuk memberi petunjuk, sekaligus menggoda dan memainkan imajinasi penonton yang akhirnya membuat berbagai asumsi. Berbagai godaan dihadirkan lewat beraneka benda remeh temeh, gesture para aktor, hingga ke dialog yang diucapkan. Film ini membuat penonton merangkai berbagai asumsi dan membentuk sebuah teori konspirasi. Yang memang bisa menyesatkan dan membuat penonton merasa belingsatan; atau justru “mencerahkan” dan memberikan penonton ke sebuah pemahaman.

Saya menduga bahwa Trachtenberg adalah seorang genre aficionado, seseorang yang amat menggemari film-film genre, terutama suspense thriller atau horor. Karena terasa ada banyak referensi yang digunakan dalam film ini, mulai dari berbagai karya Alfred Hitchcock (terutama Psycho dan The Birds), film klasik H.G Wells, horor klasik The Shining milik Stanley Kubrick, hingga ke psychological thriller The Misery yang memberikan aktris Kathy Bates Piala Oscar. Serta terasa ada pengaruh anthology televisi produksi Inggris, Black Mirror.

Berbagai tema dan referensi film tersebut kemudian dirangkaikan dan dijahit menjadi satu, dengan penempatan yang tepat. Menjadikan mereka sebagai lapisan yang membungkus cerita, serta membuatnya terasa menyegarkan. Bagi yang telah menonton berbagai referensi yang disebut di atas akan mengenalinya di Cloverfield Lane, sebagai penghormatan (homage), bukan sekedar imitasi yang basi.

Kamera juga efektif dalam mempermainkan perspektif penonton. Di awal film, kamera diperlihatkan mengikuti mobil karakter Michelle (diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead) menyusuri jalan raya dan melewati wilayah pedesaan, melalui aerial shots dan bird’s view. Menangkap luasnya dunia, sebelum akhirnya kamera mulai menggiring perspektif penonton ke komposisi framing yang padat dan lebih sempit. Mengikuti Michelle melalui close-up shots di dalam mobilnya.

Adegan selanjutnya saat Michelle sudah berada di bunker milik karakter Howard (diperankan dengan sangat baik oleh John Goodman) dalam keadaan terluka; tangan diborgol; serta mendapat cairan infus, kamera kembali berusaha menggiring perspektif penonton dan mengajak mereka mengenali secara perlahan seperti apa bunker tersebut.

Penonton diberitahu bahwa bunker tempat Michelle sekarang berada adalah ruang sempit, namun tertata rapi. Pengenalan ruang seperti ini jamak dilakukan di film thriller yang berseting di tempat sempit (claustrophobic thriller) bagus, seperti di Panic Room arahan David Fincher. Menanamkan sugesti kepada penonton dengan memperlihatkan batas-batas sebuah ruangan. Memberikan ilusi bahwa kini Michelle tidak lagi hidup bebas. Hidupnya sudah terkungkung.

Kamera mengajak penonton mengenali ruangan, sembari sesekali memberikan petunjuk tentang benda-benda yang menggiring asumsi penonton, akan berguna untuk melawan sang teror nanti. Meski banyak juga yang akan berfungsi sebagai apa yang disebut dalam teknik penceritaan dengan red harring. Benda yang hanya menjadi pengalihan cerita.

Ketegangan dan efek mengerikan dalam 10 Cloverfield Lane memang muncul karena betapa seringnya persepsi dan imajinasi penonton digiring ke suatu persepsi, namun kemudian diubah kembali. Menciptakan suatu keambiguan, tak hanya dalam plotnya, melainkan juga ke karakternya.

Dalam film ini, berulang kali karakter Howard mengungkapkan bahwa Michelle haruslah berterima kasih karena ia telah menyelamatkan sang perempuan muda dan membawanya ke tempat aman. Di bunker milik Howard. Pria berusia baya dengan postur tubuh besar tinggi ini menganggap dirinya sebagai deus ex machina, meski kemudian ia mengakui bahwa mobilnya menabrak mobil Michelle di tengah jalan raya, setelah dirinya mendengar ledakan besar yang ia percaya sebagai suatu ancaman bagi umat manusia. Mengingatkan akan tema hubungan antara sang penculik dengan korbannya, seperti yang diusung di film nomine Oscar, Room.

Michelle sendiri tidak begitu mempercayai ucapan Howard. Hal yang wajar karena apa yang ditunjukkan Howard melalui gesture, bahasa tubuh, dan intonasinya, memberikan sinyal bahwa ia adalah seorang penculik dan penyiksa. Hal ini diperparah dengan kondisi psikologi Michelle yang baru saja melarikan diri dari tunangannya. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dari cara kamera menyorot cincin pertunangan yang ditinggalkan Michelle di atas meja; botol berisi minuman keras yang dia bawa; hingga cara dia memutuskan pembicaraan telepon dengan kekasihnya, ada implikasi bahwa secara psikologis Michelle sedang mengalami trauma.

Apa yang terjadi kemudian adalah hubungan antara Howard dan Michelle dilandasi oleh sikap saling curiga dan paranoia. Michelle sulit menerima semua itikad baik yang coba diucapkan dan dilakukan Howard, sementara Howard yang memang seorang paranoid selalu berusaha waspada dengan setiap apa yang dilakukan Michelle.

Hubungan saling curiga mencurigai ini kemudian yang memberikan kedalaman lebih antara mereka. Bukan sekadar antara korban dan pelaku, seperti yang terjadi di film klasik Psycho dan film thriller Misery. Michelle sedari awal sudah waspada, sedang Howard selalu siaga.

Sampai di sini arahan Trachtenberg terus memancing persepsi dan asumsi penonton. Setiap kali kamera memberikan petunjuk baru, Trachtenberg merontokkannya dan menggantikannya dengan informasi baru. Akan tetapi, Trachtenberg tetap menjaga asumsi penonton pada satu muara, bahwa Howard adalah orang (yang sepertinya) jahat, Michelle akan selamat, dan monster seperti di Cloverfield akan muncul (meskipun bukanlah sama persis)

Trachtenberg dan naskahnya memang selalu menjaga ketegangan penonton bahwa film ini akan memiliki keterkaitan dengan Cloverfield. Hentakan di atas bunker, penjelasan bahwa terjadi “serangan hebat dan dahsyat” di dialog, hingga ke petunjuk kecil amplop yang bertuliskan alamat perusahaan Tagrouto Corporation, sebuah perusahaan yang disebut secara gamblang di film tahun 2008.

Naskahnya dan arahan Trachtenberg yang penuh kalkulasi, kemudian menyelaraskan suspense terkait Cloverfield, dengan sub-plot psychological thriller. Inilah yang membuat film ini terasa memiliki ketegangan menyentak, sekaligus terasa lebih segar.

Untuk menjaga tempo, naskah kemudian menambahkan satu karakter bernama Emmet ( John Galagher Jr.). Dia sudah lebih dahulu ada di bunker sebelum Michelle. Dari dialognya, penonton diberitahu bahwa ia sudah mengenal Howard dan bahkan membantunya membangun bunker tersebut. Ia memaksa Howard menerimanya di bunker, karena ia menyaksikan sendiri serangan dahsyat dan ia mempercayai teori Howard.

Karakter Emmet berfungsi untuk menambah ambiguitas dan suspense. Ia seperti penyeimbang antara kecurigaan Michelle dan Howard. Kehadiran Emmet juga sekaligus memungkinkan naskah untuk memberi ruang bernafas. Dia bagaikan alibi untuk Howard, sekaligus pemicu bagi Michelle untuk meloloskan diri. Dalam istilah naratif karakter seperti Emmet berfungsi sebagai false protagonist.

Trachtenberg dengan pawai memainkan tempo dan pace. Dia menyelipkan humor lewat detail kecil (gambar gorden di bathtub, adegan saat Howard berjoget diiringi lagu Tell Him dari The Exciters) dan adegan di mana ketiga karakter berlagak seperti sebuah keluarga bahagia yang berfungsi sebagai intermitten, sebagai pelepas ketegangan, sebelum kemudian membangunnya kembali.

10 Cloverfield memang menjadi efektif berkat arahan Trachtenberg. Dia tahu apa yang mesti dia perbuat dan dalam mengarahkan editor, sinematografer, hingga ke penggunaan score dan musik, dan menyatukannya dengan baik.

Trachtenberg juga pintar dalam mengarahkan ketiga pemainnya dan memperlakukan mereka bak pion dalam permainan catur. Ia tahu bagaimana membuat pemainnya menerjemahkan naskah menjadi akting dan membuat sinematografer menangkap hingga ke detail terkecil perubahan bahasa tubuh dan ekspresi wajah mereka.

John Goodman membawakan karakter Howard dengan segala pesona dan kepiawaiannya. Dia memberi dimensi humanis ke dalam karakter yang oleh aktor mediocre akan dibawakan menjadi stereotipikal. Goodman memberikan nuansa humor saat menggoyangkan badan diiringi musik jukebox, mengundang rasa simpati saat adegan permainan “tebak-tebakan”, dan menyebarkan teror mengintimidasi saat kehendaknya tak dituruti. Dimensi humanis ini lantas membuat karakter Howard yang dibawakan Goodman masuk ke dalam area abu-abu. Benarkah dia benar-benar jahat dan psikopat? Ataukah dia hanya pria tua malang pencuriga yang merindukan kehangatan keluarga dan disalahmengertikan?

Marry Elizabeth-Winstead bermain apik sebagai Michelle, perempuan muda yang sedang lari dari masalah. Wajahnya menunjukkan kelembutan dan kecantikan, namun matanya menyerikan kecerdasan dan rasa ingin tahu. Dia perempuan yang menolak untuk menjadi korban, seperti karakter Marion Crane di film Psycho. Dia lebih seperti karakter Meg Alman milik Jodie Foster di Panic Room, atau karakter Ripley milik Sigourney Weaver di Alien. Ketegasan karakternya sudah diperlihatkan dari awal, saat ia meninggalkan cincin pertunangannya di atas meja dan memutuskan percakapan telepon dengan kekasihnya. Winstead terlihat membangkitkan rasa trauma di dirinya sendiri dan lewat salah satu dialog, karakternya menunjukkan hal itu. Ia menolak untuk mengulang rasa bersalah dan penyesalannya. Winstead berhasil membawa apa yang dirasakan oleh karakternya ke wilayah pelik; apakah tindakannya benar? Ataukah yang dilakukannya terhadap Howard adalah hanya bentuk rasa paranoidnya saja?

Trachtenberg menggunakan 2 pendekatan teori narasi yang digambarkan oleh Aristoteles dalam The Poetics, yaitu mimetic dan diegetic. Cara film ini bekerja tidak hanya menjalankan fungsinya untuk showing, melainkan juga telling, bahkan lewat berbagai obyek kecil yang sengaja disorot oleh kamera.

Hanya saja mesti diakui, bahwa film ini begitu terasa dikalkulasikan. Trachtenberg terasa begitu mengkondisikan filmnya lewat serangkaian teknik kamera dan pengadeganan. Tak dipungkiri bila teknik dalam film ini terasa mumpuni, namun karena terlalu dikalkulasi dan dikondisikan, membuatnya kehilangan rasa organiknya. Seperti mendengar seorang penyanyi lulusan sekolah musik ternama yang menguasai teknik tarik suara, namun tidak menyertakan soul dan rasa saat menyanyikan lagunya. Sehingga di beberapa bagian terasa hambar.



FEMINISME SEBAGAI INTI CERITA

Saya kemudian berpikir dan berhandai-handai, apa yang terjadi bila film ini berdiri sendiri, tanpa memakai embel-embel judul “Cloverfield”. Kemungkinan untuk tetap mendapatkan ketegangan dan suspense, masih akan besar. Mengingat sebenarnya perpindahan antara dari act 1 dan act 2 ke final act , sebenarnya tidak terlalu mulus dalam transisi.

Inti dan spirit  10 Cloverfield Lane sebenarnya merupakan kisah feminisme, kisah tentang seorang perempuan yang berjuang, dari yang biasanya melarikan diri dari konflik menjadi perempuan yang berani menghadapi konflik.

Dalam suatu dialog, Michelle menjelaskan tentang penyesalan terbesarnya di masa lampau, tatkala ia tidak berani menolong seorang anak yang butuh bantuan. Waktu itu ia lebih memilih lari, ketimbang berkonfrontasi. Bahkan di awal film, ia juga digambarkan lebih memilih lari dari tunangannya, ketimbang duduk dan bertemu untuk berbicara. Ia memilih menutup telepon, daripada berdiskusi dan mendengarkan.

Bila dikembangkan menjadi sebuah film yang murni dikembangkan sebagai film thriller tentang seorang perempuan yang menghadapi penculiknya, film ini tetap akan menarik. Tapi kemudian pertanyaanya adalah, seberapa besar film ini tanpa menggunakan embel-embel Cloverfield? Apakah film ini tetap akan terasa segar tanpa penambahan brand tersebut?

Keputusan menggunakan judul 10 Cloverfield Lane memang tepat. Film ini akan menjadi biasa bila hanya dikembangkan menjadi berdasarkan pyhscological thriller, seperti yang telah diuraikan di atas.

Monster dalam film juga tidak hanya berfungsi sebagai “penghubung” dengan Cloverfield. Tetapi juga sebagai metafora yang sesuai dengan tagline film “monsters come in many forms”. Bahwa monster bisa berwujud dalam bentuk apapun. Monster dalam final act di film ini juga berfungsi sebagai metafora, bahwa Michelle harus berhadapan dengan tantangan baru. Masalah dan persoalan baru.

Ending yang menunjukkan Michelle berada di persimpangan dan sempat meragu ingin memilih arah mana adalah epilogue tepat guna. Dia mendengarkan permintaan tolong lewat saluran radio amatir yang menjelaskan bahwa tenaganya dibutuhkan. Tenaga seseorang yang pernah bertarung, sepertinya. Permintaan tolong melalui radio tersebut selain mengingatkan pada ending Cloverfield di mana karakter saling bicara di walkie talkie, juga sebagai plot device yang menegaskan karakter Michelle saat itu. Ia lalu memilih mengambil jalan ke Houston dan menolong para korban lainnya.

Kamera kembali menyorot mobil Michelle melalui aerial shots seperti di awal film. Namun, kali ini dalam gelap dan temaramnya sang malam, serta perempuan di dalam mobil tersebut sekarang telah menjelma menjadi seorang perempuan tangguh dan berani dalam menghadapi segala “monster” dalam rupa apapun.

(4/5)

Now playing in theaters

Running time : 103 minutes

Production Company : Paramount, Bad Robots

Produced by : J.J Abrams, Lindsey Weber

Executive producers  : Bryan Burk, Drew Goddard, Matt Reeves.

Directed by : Dan Trachtenberg

Screenplay: Josh Campbell, Matthew Stuecken

Story : Josh Campbell, Matthew Stuecken, Damien Chazelle

Cinematographer : Jeff Cutter , camera Deluxe Color, Panavision widescreen

Editor : Stefan Grube

Music : Bear McCreary

Production designer : Ramsey Avery

Set designer : Trinh Vu, Dave Kelsey

Starring : John Goodman, Mary Elizabeth Winstead, John Gallagher Jr