Amanda Knox Review : Balada Dan Elegi Untuk Peradilan Yang Dibangun Berdasarkan Asumsi

October 4, 2016

Amanda Knox adalah sebuah film dokumenter yang merunut, merekonstruksi, dan memaparkan berbagai fakta di balik kasus terkenal yang terjadi pada 1 November 2007. Disajikan lewat pendekatan thriller yang menghibur, sekaligus membuka mata. Tragis dan membuat miris.”




Amanda Knox, sebuah film feature dokumenter terbaru rilisan Netflix, dibuka dengan serangkaian shots. Menampilkan tokoh Amanda Knox, sang subjek penceritaan, menuturkan dengan lancar apa yang dia rasakan selama proses pahit yang dialaminya selama delapan tahun. Knox kini berusia akhir 20’an. Wajahnya tampak dewasa, rambutnya kini dipotong pendek sebahu. Tetapi matanya tampak lelah, terlihat seperti menanggung beban dan trauma yang tak berkesudahan.

If I’m guilty,” ujarnya dengan tenang sembari menghadap kamera yang statis, “it means that I am the ultimate figure to fear because I’m not the obvious one. But on the other hand, if I’m innocent it means that everyone is vulnerable. … Either I’m a psychopath in sheep’s clothing, or I am you.”

Amanda Knox adalah sebuah film dokumenter yang merunut, merekonstruksi, dan memaparkan berbagai fakta di balik kasus terkenal yang terjadi pada 1 November 2007. Disajikan lewat pendekatan thriller yang menghibur, sekaligus membuka mata. Tragis dan membuat miris. Tentang Amanda Knox yang kala itu berusia jelang 20 tahun dan sedang menuntut ilmu di Perugia, Italia, didakwa telah melakukan penyerangan seksual dan pembunuhan sadis terhadap rekan teman satu indekostnya, Meredith Kercher, mahasiswi asal Inggris.

Pembunuhan itu sadis dan menghebohkan. Adegan pembuka di film dokumenter ini yang diambil dalam estetika found footage, menyorot suasana kamar tempat kejadian perkara. Darah berceceran di mana-mana. Di lantai, di dinding, di wastafel. Jasad Meredith ditutupi oleh selimut tebal berwarna coklat. Kita tahu bahwa ini adalah sebuah kasus pembunuhan kelas berat.

Amanda Knox menjadikan tokohnya sebagai subjek dan sekaligus objek. Film ini membawa kita melihat perubahan sosok Amanda, dari seorang gadis muda cantik berambut pirang dengan mata berbinar yang terlihat antusias saat dokumentasi pribadinya memperlihatkan dia berceloteh riang, saat dia menyatakan ketidaksabarannya untuk segera pergi ke Italia demi melanjutkan studi.

Seiring berbagai footage dipaparkan ke hadapan kita—tentang tragedi, perjalanan cintanya atau saat dia mengikuti siding peradilan–, kita mengikuti bagaimana sosok Amanda yang ceria dan terlihat polos di awal film, berubah menjadi sosok yang terlihat pahit dan lelah. Mengajak kita mengamati bagaimana sebuah insiden mampu mengubah kepribadian dan cara pandangnya dalam memandang kehidupan.

“Diarahkan dan disusun oleh Rod Blackhurst dan Brian McGinn, Amanda Knox adalah sebuah film dokumenter yang terasa objektif. Laiknya sebuah karya jurnalistik.”



Objektif dan Komprehensif

Diarahkan dan disusun oleh Rod Blackhurst dan Brian McGinn, Amanda Knox adalah sebuah film dokumenter yang terasa objektif. Laiknya sebuah karya jurnalistik yang menceritakan subjeknya dengan runut dan asyik. Yang membuat film ini terasa seperti itu adalah karena Blackhurst dan McGinn tidak hanya menuturkan kisahnya melalui kacamata Amanda Knox. Film ini mengajak kita untuk menelaah kisahnya lewat tiga karakter kunci lain dalam kasus ini, yaitu : Raffaele Sollecito, kekasih baru Knox yang baru dikenalnya beberapa hari sebelum tragedi pembunuhan terjadi; Giuliano Mignini, kepala penyelidik dan jaksa penuntut umum wilayah Perugia yang menangani kasus tersebut; dan Nick Pisa, yang kala itu menjadi jurnalis Daily Mail–tabloid Inggris—yang kerap menulis berita sensasional terkait peristiwa yang dialami Knox.

Amanda Knox memberikan setiap karakter kunci kesempatan untuk menceritakan kembali kisah ini melalui sudut pandang mereka masing-masing. Mengajak kita kepada sebuah observasi dan pemahaman yang relatif komprehensif terhadap kasusnya, tanpa terlihat bermaksud untuk menghakimi.

Kita diajak untuk melihat bahwa Knox adalah contoh seorang gadis yang berperilaku salah, di tempat dan waktu yang salah. Kala itu, dia adalah seorang perempuan yang sedang di mabuk kepayang dengan seorang pria rupawan, di sebuah negara yang dikenal akan keeksotisan dan keromantisan panoramanya.

Knox dan Sollecito, masing-masing, bercerita bagaimana mereka bertemu. Bagaimana kemudian mereka menjalin hubungan. Bagaimana mereka menjalin sebuah hubungan seksual dan romansa penuh gairah jiwa muda. Mereka berdua, terutama Knox, diperlihatkan tidak malu mengekspresikan perasaan mereka. Tidak malu mengakui bahwa mereka menghisap rokok ganja. Berbagai dokumentasi pribadi terkait itu diperlihatkan, yang dipadukan dengan kumpulan establish shots yang menunjukkan betapa cantik dan romantisnya kota Perugia.

Saat kejadian pembunuhan terhadap Meredith Kercher terjadi, baik Knox ataupun Sollecito bercerita bahwa mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Sampai akhirnya, Meredith pulang ke kostnya dan mendapati temannya sudah tewas bersimbah darah dengan luka menganga di leher.

Giuliano Mignini dan tim polisi yang melakukan investigasi di tempat kejadian perkara, dengan cepat mencurigai Knox dan Sollecito. Alasannya, kelakuan kedua insan yang sedang dimabuk kepayang itu tak memperlihatkan perilaku layaknya orang yang sedang berduka. Lewat footage hasil rekaman asli kemudian diperlihatkan bahwa mereka saling mencium dan berdiri rapat berhadap-hadapan yang sebenarnya terlihat sebagai dua orang yang saling menenangkan satu sama lain.

Kecurigaan Mignini terutama kepada Knox juga muncul dari fakta di lapangan bahwa jasad Meredith yang telanjang bulat ditutup oleh selimut tebal. Seperti yang diungkapkan Mignini kepada pewawancara dalam bahasa Italia yang sudah diberi subtitle bahwa, “ A man would never think to do that.”

Amanda Knox membangun dan menyampaikan cerita lewat pergantian dokumentasi wawancara yang dilakukan oleh filmmaker yang berkelindan dengan footage rekaman dan dokumentasi surat kabar, serta televisi.

Mignini kemudian mengatakan bahwa dirinya adalah penggemar film-film bertema detektif, seperti Sherlock Holmes. Dia juga mengatakan bahwa dia berempati kepada sang korban, karena dia juga memiliki anak perempuan.

Cara filmmaker menampilkan Mignini dan sudut pandangnya lantas mengingatkan saya kepada karakter juri yang diperankan oleh Lee J. Cobb dalam film klasik 12 Angry Men (1957) arahan Sidney Lumet. Tentang seorang karakter yang memiliki kuasa atas nasib seorang tertuduh yang memandang kasus dan membangun keputusannya hanya karena asumsi. Hanya karena dia percaya apa yang ingin dia percayai. Bukan berdasarkan analisis mendalam terhadap fakta dan bukti yang terdapat di tempat kejadian perkara.

Apakah Mignini adalah sosok antagonis?

Meski Amanda Knox akan membawa kita kepada konklusi itu, film ini tidak terkesan menyudutkannya. Film ini memberikan ruang bagi Mignini untuk menjelaskan argumentasinya. Semakin dalam film ini bercerita, memang kita akan tahu bahwa terdapat sebuah kesalahan fatal saat Mignini dan tim forensik melakukan investigasi. Bahwa mereka gagal menciptakan lingkungan yang steril dan mereka luput memperhitungkan detail kecil yang amat krusial. Tetapi film ini juga menghadirkan sosok Mignini sebagai seseorang yang memiliki komitmen dan tanggung jawab atas pekerjaannya. Toh, Amanda Knox tidak tertarik untuk menghadirkan misteri atas sebuah kisah yang telah didokumentasikan dengan baik oleh media massa.

Ada satu lagi kesalahan fatal Mignini dan timnya. Yaitu, karena telah membentuk opini publik atas sebuah kasus yang bahkan belum disidangkan. Opini publik kadung mencap bahwa Amanda Knox adalah seorang sundal berperilaku bak iblis. Seorang gadis muda yang gemar dan kecanduan seks. Seorang perempuan cantik yang tak bermoral dan berbagai tuduhan misoginis lainnya.

Tudingan dan tuduhan yang melanggar asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) itu makin terbentuk oleh peran serta media massa. Salah satunya Daily Mail lewat tulisan-tulisan Nick Pisa, seorang jurnalis Inggris yang sengaja terbang ke Perugia untuk meliput kasus ini.

Nick Pisa pun diberikan kesempatan untuk membeberkan cerita dari sudut pandangnya. Dia beranggapan bahwa dirinya hanyalah seorang jurnalis yang bertugas menyampaikan berita berdasarkan informasi (atau yang menurutnya adalah fakta) yang didapat di lapangan. Dia membela diri bahwa ia hanya berupaya memberikan sebuah laporan yang ekslusif untuk media tempat ia bekerja. Sebuah laporan yang tak didapat oleh media lain.

Dalam satu kesempatan, Nick Pisa bercerita tentang bagaimana dia memberi label kepada Amanda Knox sebagai, “ Foxy Knoxy”, seorang perempuan cantik yang berperilaku layaknya rubah berbahaya. Pisa berkata bahwa pelabelan itu dia peroleh dari buku harian (diary) milik Amanda Knox. Saat ditanya bagaimana bisa dia mendapatkan materi pribadi itu, Pisa berkelit dengan berlindung etika jurnalistis bahwa dia harus melindungi sumber beritanya.

“Semakin jarang praktek konfirmasi ulang. Semakin langka pula etika jurnalistis yang mengutamakan investigasi menyeluruh demi menghadirkan sebuah berita faktual. Yang ada hanyalah sebuah cerita fiksi dari sumber tak jelas dan ditulis dalam diksi seperti bacaan stensilan.”



Ironi dan Sentilan Terhadap Etika Jurnalistis

Suatu ironi dan sentilan terhadap perilaku tak etis seorang jurnalis dihadirkan di sini. Lewat berbagai kipling artikel yang ditulis oleh Pisa, diperlihatkan bahwa artikelnya telah menulis sebuah cerita fiksi yang berbungkus berita karya jurnalistis. Di sana, Pisa menceritakan bahwa Knox kerap bergonta-ganti pria sebagai pasangan seksual dan bahkan telah terinfeksi virus HIV. Nantinya terbukti bahwa apa yang telah ditulis Pisa adalah sebuah cerita bohong. Saat ditanya oleh filmmaker, Pisa mengelak sembari tertawa pahit. Dia beralasan hanyalah menulis berdasarkan informasi yang ia dapat. Dia tak merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan atau konfirmasi ulang (double-check) atas informasi yang dia peroleh. Pisa berkata bahwa artikel fiksi yang dia tulis menarik minat pembaca. Dia bahkan mengakui bahwa dia mendapatkan serangan atas artikel miliknya itu. Namun, Pisa justru menyerang balik dengan berkata bahwa orang-orang yang menyerangnya, justru merupakan orang-orang yang terobsesi atas setiap berita yang telah ditulisnya.

Apa yang dilakukan Pisa ini mengingatkan saya kepada kasus “kopi bersianida” yang menempatkan Jessica Wongso sebagai tertuduh. Jessica juga mengalami apa yang Knox alami. Tentu masih lekat di ingatan kita berita-berita yang menyebut dan membahas secara rinci mengenai orientasi seksual Jessica, yang kemudian berujung pada sebuah pembentukan opini publik bahwa Jessica sudah pasti bersalah. Padahal, sidang pun belum berjalan. Masyarakat sudah terlanjur memiliki suatu pendapat yang menilai Jessica sebagai yang bersalah dan tindakannya dilandaskan motivasi sikap cemburu kisah romansa sesama jenis. Suatu bentuk produk jurnalisme yang sudah terkikis oleh sifat korup dan ambisi untuk meraih “click-bait” atau oplah. Semakin jarang praktik konfirmasi ulang. Semakin langka pula etika jurnalistis yang mengutamakan investigasi menyeluruh demi menghadirkan sebuah berita faktual. Yang ada hanyalah sebuah cerita fiksi dari sumber tak jelas dan ditulis dalam diksi seperti bacaan stensilan.

Amanda Knox juga menghadirkan kritik terhadap obsesi manusia moderen dengan popularitas. Dalam satu sesi wawancara Pisa menjelaskan bagaimana petugas forensik yang semestinya tak boleh membagi bukti acara pemeriksaan dan hasil investigasi yang masih bersifat premature kepada para wartawan, terlihat menikmati perhatian media yang diterimanya. Bahwa petugas itu suka dengan popularitas yang diterimanya dan menjadikannya tampil di media. Bak seorang selebritas.

Adegan ini kembali mengingatkan saya kepada kasus Jessica Wongso. Bagaimana petugas penting di kepolisian dengan bangga dan jumawa membagi hasil investigasi yang masih prematur kepada puluhan wartawan: baik cetak, daring atau televisi. Petugas kepolisian dan aparat hukum yang tak segan menunjukkan sifat narsistis. Tak mempedulikan etika profesi. Sebuah kesalahan fatal yang justru mencoreng pandangan masyarakat terhadap fungsi aparat hukum. Menghilangkan rasa hormat dan rasa percaya kepada institusi hukum, karena pembeberan data prematur yang ahirnya ditulis oleh para jurnalis pemalas, justru merugikan sang tertuduh yang statusnya belum menjadi terdakwa.

Kesan objektif Amanda Knox juga hadir saat Knox tak malu mengakui bahwa dia juga melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan fatal saat dia justru membuat sebuah cerita bohong yang melemparkan kecurigaannya kepada rekan kerjanya, yang akhirnya juga turut terseret. Meski memang Knox mengklaim bahwa perkataan bohong yang dikeluarkannya terjadi karena tekanan dan siksaan polisi yang menginterogasi. Proses interogasi yang tak disertai oleh pengacara untuk tertuduh. Juga karena kesalahpahaman translasi bahasa.

Sollecito pun mengalami tekanan dan siksaan serupa, yang akhirnya malah membuat dia tak mengakui kebersamaannya dengan Knox di malam kejadian.

Di sini, Amanda Knox memperlihatkan celah yang patut dikritisi.

Film ini menunjukkan bagaimana efek atas kebohongan terhadap hubungan Knox dan Sollecito. Tetapi, film ini luput menghadirkan efek serupa dari kebohongan yang dilakukan Knox terhadap rekan kerjanya, seorang pria keturunan Afrika, satu ras yang juga kerap menjadi tudingan sebagai pihak yang memiliki catatan kriminal. Film ini alpa dalam menghadirkan sudut pandang pria itu. Menjadikan keobjektifan dan sifat komprehensif filmnya terkikis.

Amanda Knox memang berfokus pada proses pembuktian tak bersalahnya Knox lewat proses pengadilan yang harus dilaluinya selama delapan tahun, hingga akhirnya dia diputus bebas murni pada akhir tahun 2015.

Bagaimana dia dan Sollecito sempat diputus penjara selama 26 tahun, lalu kemudian dibebaskan setelah empat tahun; lalu bagaimana dia berusaha untuk mengajukan pembersihan namanya; dan bagaimana kemudian pengadilan memutus dia bebas karena tak ditemukan jejak DNA dirinya yang terkait pembunuhan.

Kita juga diberitahu bahwa ada karakter bernama Rudy Guede, pria keturunan Afrika yang kemudian didakwa sebagai pelaku pembunuhan.

“Film ini menjadi sebuah pengingat, bahwa apa yang dialami oleh Knox bisa dialami oleh kita semua. Bisa dialami oleh Anda, saya dan siapapun. Terutama di sebuah negara yang sistem pengadilannya masih dipenuhi oleh jiwa-jiwa korup dan tata peradilan yang masih berantakan.”



Pengingat Bagi Kita Semua

Saya cukup mengikuti kasus Amanda Knox dan fokus film ini dalam menghadirkan kisahnya lewat karakter yang menjadi judul, juga luput menghadirkan sudut pandang Guede. Film ini juga tak menghadirkan tentang sudut pandang saksi kunci—seorang pecandu heroin—yang mengatakan bahwa dia melihat Knox dan Sollecito berada di tempat kejadian, yang kemudian memicu berita bahwa kasus pembunuhannya akibat pesta seks dan narkoba.

Amanda Knox juga gagal menyentil isu yang sebenarnya penting untuk menghadirkan karakter Knox secara utuh. Yaitu isu tentang bahwa Knox dilaporkan menerima 4 juta dollar sebagai kompensasi material atas kisahnya yang dijadikan sebuah memoar. Hanya dihadirkan sedikit footage yang menampilan ayah Knox yang diwawancara para jurnalis terkait isu ini. Sebuah pertanyaan yang kemudian menimbulkan reaksi defensif sang ayah.

Juga luput dari penceritaan mengenai detail laporan investigasi terbaru yang kemudian membuat Knox kembali harus menjalani persidangan. Laporan setebal 300 halaman yang dirilis oleh pengadilan tinggi Italia.

Tetapi saya memuji keputusan Amanda Knox dalam menghadirkan epilogue penutup dari keempat karakter kuncinya, yang terpengaruh secara mental dan psikologis dari kasus pembunuhan ini.

Bagaimana kini Amanda Knox menilai bahwa setiap manusia gemar mencari-cari “sosok monster” di individu lain. Bahwa saat mereka sudah menemukannya, maka akan menjadi bahan untuk menghakimi dank arena itu kini Knox memutuskan untuk membantu para korban salah dakwaan lain; bagaimana Sollecito menyesali kebohongannya dan masih berharap menjalin hubungan dengan Knox, serta kini dia menjadi populer di negaranya; bagaimana Nick Pisa tidak pernah menyesali apa yang pernah ia tulis; dan bagaimana Giuliano Mignini pernah dianggap sebagai sosok “iblis” atas kesalahan yang ia lakukan. Mignini juga mengatakan bahwa bila Knox dan Solliceto tidak bersalah, dia berharap agar keduanya bisa melupakan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup. Dan apabila mereka pelakunya, maka Mignini percaya pada penghukuman akhir dari Tuhan. Sebagai orang yang relijius, Mignini percaya bahwa penghukuman akhir dari Tuhan tidak akan pernah salah. Selaras dengan pendapat Mignini, kamera menyorot langit-langit sebuah katedral di Italia. Menunjukkan bahwa pengadilan Tuhan nantinya yang Maha Benar dan tak bisa direvisi.

Amanda Knox juga menghadirkan pernyataan ibunda si korban, Meredith Kercher. Seorang perempuan lanjut usia yang jalannya sudah tertatih yang hanya pasrah menerima keputusan. Ekspresinya yang masih memendam sedih tak terperi, hanya menanyakan mengapa sebuah proses pengadilan yang berlangsung selama delapan tahun tak memberikan sebuah keadilan hakiki.

Amanda Knox akhirnya tak benar-benar memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan siapa pembunuh Meredith yang sebenarnya. Kasusnya masih berjalan, pertanyaan tentang kemungkinan siapa pembunuhnya masih terbuka.

Film ini menjadi sebuah pengingat, bahwa apa yang dialami oleh Knox bisa dialami oleh kita semua. Bisa dialami oleh Anda, saya dan siapapun. Terutama di sebuah negara yang sistem pengadilannya masih dipenuhi oleh jiwa-jiwa korup dan tata peradilan yang masih berantakan.

Saya juga teringat pada liputan investigasi di MetroTV dalam program News Story Insight (NSI) yang dipandu oleh Aviani Malik. Dalam salah satu edisi beberapa bulan lalu, program ini mengupas secara dalam mengenai korban salah tangkap. Tentang para orang tak bersalah yang kemudian dipaksa oleh aparat keamanan untuk mengakui sebuah perbuatan kriminal yang tak mereka lakukan .

Sebuah tayangan investigasi yang amat bagus dan penting.

Tayangan NSI , film Amanda Knox, dan seri dokumenter Making A Murderer (amat saya rekomendasikan) adalah contoh bagaimana tindakan dari aparat berjiwa korup kerap terjadi. Sebuah kesalahan fatal dan melanggar hak asasi manusia yang bisa memiliki efek domino terhadap psikologis para korban.

Amanda Knox , Tabloid (dokumenter rilisan tahun 2010) dan kasus Jessica Wongso juga menjadi pengingat tentang bagaimana sebuah keputusan hanya dibangun oleh asumsi. Dan bagaimana media yang tak kalah berjiwa korupnya turut menggiring opini terhadap tertuduh yang belum diputuskan oleh pengadilan. Tentang bagaimana sifat transparansi dan kebebasan berekpresi media menjadi salah kaprah. Media massa yang seharusnya menjadi pihak netral, justru menjadi hakim. Nick Pisa dan Daily Mail dalam film ini hanyalah salah satu contoh dari “gejala” kemerosotan kualitas produk jurnalistik modern.

Menonton Amanda Knox membuat saya tersadar pentingnya untuk melek dan paham hukum. Karena seperti yang diucapkan Knox, kisahnya bisa terjadi kepada Anda, saya dan kita semua.

Sebuah kisah mengenai balada dan elegi untuk peradilan yang dibangun hanya berdasarkan asumsi. Sebuah kisah yang teramat mengerikan dan Amanda Knox, serta para filmmaker di baliknya telah berbaik hati untuk menceritakannya untuk kita.

(4/5)

Running time : 91 minutes

Available on Netflix

A Netflix original presentation

Executive producers : Adam Del Deo, Ben Cotner, Lisa Nishimura

Directed and produced by Rod Blackhurst, Brian McGinn

Produced by Mette Heide, Stephen Robert Morse

Written by Matthew Hamachek, Brian McGinn

Director of photography : Rod Blackhurst

Edited and co-produced by Matthew Hamachek

Original music : Saunder Jurrians, Danny Bensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s